Kamis, 23 Januari 2014

Candi Sambisari


Tujuan pertama dari agenda gowes Tour De’ Candi jilid kedua ini terletak di Desa Sambisari,, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Untuk menuju lokasi candi ini rutenya terbilang mudah dan bisa dilalui semua kendaraan. Jika kita start dari Yogyakarta menuju arah Prambanan (timur) melewati jalan Jogja-Solo, maka di sekitar km 10 ada papan penunjuk arah menuju candi di sisi kiri jalan, setelah masuk mengikuti arah yang ditunjukkan, terus lurus saja sampai bertemu Selokan Mataram, menyeberang Selokan Mataram, masuk melalui jalan pemukiman warga kemudian belok kanan sampai bertemu jalan aspal utama, kemudian belok kiri (utara), nanti akan terlihat gapura desa sambisari, Candi Sambisari berada tepat diutara dari jalan masuk tersebut.


Dengan harga tiket masuk untuk orang dewasa sebesar Rp. 2.000,- dan anak-anak Rp. 1.000,- , lokasi candi ini juga sering dijadikan area camping ground dan kegiatan outbond sehingga masyarakat diharapkan semakin menyadari dan menghargai cagar budaya bersejarah peninggalan zaman Kerajaan Mataram Kuno ini


Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, candi ini awalnya ditemukan pertama kali pada tahun 1966 oleh seorang petani bernama Karyowinangun saat ia sedang mencangkul di sawahnya ketika tanpa sengaja mata cangkulnya mengenai sebuah batu besar yang mempunyai pahatan seperti relief, karena diduga batu tersebut merupakan bagian dari sebuah candi, maka ia bersama warga sekitar pun melaporkan hasil temuan tersebut kepada Dinas Kepurbakalaan

Dinas Kepurbakalaan melalui Balai Arkeologi Yogyakarta pun akhirnya menindaklanjuti temuan tersebut pada bulan Juli tahun 1966, dan akhirnya menetapkan areal sawah milik Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan dan diduga merupakan bagian dari sebuah candi yang terkubur dibawah areal sawah pun selanjutnya mulai digali lebih dalam, hingga akhirnya ditemukanlah ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno yang semakin memantapkan kesimpulan bahwa ada sebuah kompleks atau situs candi dilokasi tersebut yang telah terkubur selama ratusan tahun, terpendam oleh timbunan pasir dan batu yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi pada awal abad ke-11 atau sekitar tahun 1006, penamaan nama candi pun dilakukan sesuai dengan nama desa tempat candi ini berada

Setelah itu dimulailah proses rekonstruksi reruntuhan kompleks candi yang runtuh karena goncangan dan terpendam oleh material vulkanik dari letusan Gunung Merapi ini. Pemugaran dan rekonstruksi ulang terhadap kompleks candi sendiri baru dapat diselesaikan pada tahun 1987, dengan posisi candi berada pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah sekitar. Sehingga candi ini sering disebut sebagai candi pendem atau candi bawah tanah Tetapi sebagian ahli arkeologi mempirkirakan bahwa dahulu kemungkinan situs candi berada sama tingginya dengan permukaan tanah, seperti halnya candi-candi lainnya. Pintu masuk menuju kompleks candi ini terdapat di ke empat sisi bujur sangkar dengan menuruni tangga

Ketika diadakan penggalian ditemukan juga benda-benda bersejarah lainnya seperti tembikar, perhiasan, cermin logam, serta prasasti lempengan emas


Candi Sambisari yang merupakan Candi Hindu ini dibangun pada abad ke-9 (812-838 M) pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung dari Dinasti Syailendra di zaman kerajaan mataram kuno. Candi ini dibangun untuk memuja Dewa Syiwa (Syiwaistis)


Dengan ketinggian candi induk yang hanya sekitar 7,5 m dan posisi candi yang berada dibawah permukaan tanah sedalam 6,5 m, maka jika dilihat dari samping, candi ini seakan berukuran kecil. Bagian bawah candi induk berukuran bujur sangkar dengan ukuran 13,65 m x 13,65 m, sedangkan badan candi berukuran 5 m x 5 m. Kondisi candi utama yang menghadap ke arah barat ini pun relatif masih tampak utuh

Tubuh candi berdiri diatas batur yang berdenah dasar bujur sangkar dan mempunyai tinggi 2 m. Selisih luas batur dengan tubuh candi membentuk selasar selebar 1 m yang mengelilingi badan candi dilengkapi langkan setinggi sekitar 1,2 m. Tingginya langkan menyebabkan tubuh candi tidak terlihat dari luar, hanya atapnya saja yang terlihat menyembul keatas sehingga menimbulkan kesan tambun


Selasar yang berada mengelilingi badan candi



Kaki candi induk terlihat polos tanpa hiasan, namun bagian luar dinding langkan dihiasi sederet pahatan bermotif bunga dan sulur-sulur


Tangga untuk masuk pada candi induk berada disisi barat, tepat didepan didepan pintu bilik tubuh candi, tangga ini dilengkapi dengan pipi (dinding tangga) yang dihiasi pahatan sepasang kepala naga (makara; hewan ajaib dalam mitologi Hindu) dengan mulut menganga dan terdapat singa didalam mulutnya. Batu dibawah masing-masing kepala naga dihiasi pahatan berupa Gana dalam posisi berjongkok dengan kedua tangan diangkat keatas, seolah-olah menopang kepala naga diatasnya. Gana atau sering juga disebut Syiwaduta adalah makhluk kecil pengiring Dewa Syiwa. Pahatan berbentuk Gana juga terdapat di pintu masuk candi-candi besar di kompleks Candi Prambanan




Di puncak tangga terdapat gerbang Paduraksa dengan bingkai dihiasi pahatan, pada kaki bingkai dihiasi pahatan kepala naga yang mengadap keluar dengan mulut menganga. Hiasan yang sama juga terdapat di pintu masuk ke ruangan dalam, namun diambang pintu ruangan terdapat pahatan berupa Kalamakara tanpa rahang bawah



Pada masing-masing sisi dinding luar tubuh candi terdapat relung berisi arca. Pada relung di dinding sisi selatan terdapat arca Agastya atau Syiwa Mahaguru dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan dilehernya, di dinding sisi timur terdapat arca Ganesha, dan di dinding sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini

Arca Agastya


Pada arca Syiwa yang terdapat pada bilik bersama dengan lingga yoni berukuran besar digambarkan sebagai sosok pria bertangan dua dan berjenggot sedang berdiri di atas padma. Di sebelah kanannya terdapat sebuah trisula atau tombak bermata tiga yang merupakan senjata Syiwa. Bentuk arca ini mirip dengan arca Syiwa Mahaguru yang terdapat di kompleks candi Prambanan (saat ini arca tersebut disimpan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala)

Arca Ganesha (anak Dewi Durga) yang terdapat pada relung dinding sisi timur digambarkan dalam posisi bersila diatas padmasana (singgasana bunga teratai) dengan kedua telapak kaki saling bertemu, telapak tangan kanan pada arca ini menumpang diatas lutut dalam posisi tengadah, sementara telapak tangan kirinya menyangga sebuah mangkok. Ujung belalai Ganeha seolah sedang menghisap sesuatu dari dalam mangkok

Arca Ganesha


Pada relung dinding sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini (istri Dewa Syiwa), yaitu Durga sebagai Dewi Kematian. Durga digambarkan sebagai Dewi bertangan delapan dalam posisi berdiri diatas Lembu Nandi. Satu tangan kananya dalam posisi bertelekan pada sebuah gada, sedang ketiga tangan lainnya masing-masing memegang anak panah, pedang dan cakram. Satu tangan kirinya memegang kepala Asura, sedangkan ketiga tangan lainnya memegang busur, perisai dan bunga. Berbeda dengan yang terdapat di Candi Syiwa, Asura atau makhluk kerdil pengiring Durga pada relief Candi Sambisari digambarkan dalam posisi berlutut. Durga di candi sambisari sendiri juga digambarkan lebih sensual dilihat dari posisi berdirinya, kain penutup pinggul yang pendek sehingga memperlihatkan pahanya, bentuk payudara yang lebih menonjol, serta senyum yang menghiasi bibirnya

Arca Durga


Diperkirakan ada dua patung penjaga pintu yaitu Mahakala dan Nadisywara dikanan-kiri pintu namun sayangnya saat ini arca tersebut tidak diketahui berada dimana, entah hilang atau masih disimpan

Didalam bilik tubuh candi induk berukuran sekitar 4,8 m x 4,8 m terdapat sebuah Lingga Yoni berukuran cukup besar, keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Yoni terbuat dari batu berwarna putih, sedangkan Lingga terbuat dari batu berwarna hitam yang sangat keras dan mengkilap. Disepanjang tepi Yoni terdapat alur untuk menampung air suci persembahan yang diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati alur kecil yang berada pada yoni yang ujungnya berhiaskan kepala ular untuk kemudian ditampung dalam wadah



Selain candi induk, dikompleks candi ini juga terdapat 3 buah candi perwara (pendamping) berukuran 4,8 m x 4,8 m dan tinggi 5 m yang berada didepan candi induk (menghadap kearah berlawanan, menghadap candi induk). Candi-candi perwara tersebut hingga kini belum dipugar sempurna. Di sekeliling candi terdapat pagar tembok batu putih berukuran 50 m x 48 m, saat ini saluran pembuangan air pun telah selesai dibangun sehinga selama musim hujan kompleks candi ini tidak terbenam oleh air, lahan disekeliling candi pun telah digali dan ditata membentuk lapangan persegi dengan tangga di keempat sisinya. Sebagai pembatas terdapat 8 buah patok yang tersebar di setiap arah mata angin

Candi perwara yang berada di sisi paling selatan



Yoni yang berada didepan candi perwara sisi selatan


Candi perwara yang berada di tengah


Candi perwara yang berada di sisi utara


pagar yang mengelilingi kompleks candi



Ada dugaan bahwa candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tidak ditemukan batu-batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah dan utara memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan pamasana (bunga teatai) berbentuk bulat cembung diatasnya. Kemungkinan padmasana dan lapik digunakan sebagai tempat menaruh arca atau sesajen

Lapik bujur sangkar yang berada didalam candi perwara tengah dan utara




Diperkirakan kompleks candi bisa lebih luas lagi jika diadakan penggalian lebih lanjut, tetapi dikhawatirkan nantinya tidak dapat menyalurkan air untuk dibuang, karena posisinya lebih rendah daripada sungai yang ada disebelah baratnya

Bangunan candi induk Sambisari cukup unik karena tidak mempunyai pondasi alas atau pilar penyangga candi seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah, dengan bagian kaki candi dibiarkan polos tanpa relief apapun. Beragam hiasan baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar

Tambahan sumber referensi :
- http://candi.pnri.go.id/jawa_tengah_yogyakarta/sambisari/sambisari.htm
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sambisari
- http://candidiy.tripod.com/sambisari.htm
- http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/sambisari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar