Sabtu, 11 Januari 2014

Candi Abang

“Nanti kita menuju Candi Abang saja dulu, baru lanjut lagi ke tempat lainnya”! kata salah seorang rekan Gowes Wisata yang kebetulan sudah hapal dengan urutan rute gowes kali ini (kemampuan navigasinya sepertinya melebihi googlemaps hehe…:P)

Hmm…Candi Abang, yang terbersit di pikiran saya saat itu pasti candi ini hanya sebuah candi biasa berupa tumpukan batu-batu yang disusun layaknya candi-candi lain yang sudah pernah saya kunjungi, yang entah berlokasi di dusun abang (maklum biasanya nama candi disesuaikan dengan nama lokasi desa atau dusunnya) atau candi berwarna merah (dalam bahasa Jawa, warna merah berarti “abang”)

Setelah sebelumnya mengunjungi Gua Sentono (ada di post sebelumnya), maka lokasi Candi Abang ini pun terletak tidak jauh dari lokasi Gua tersebut, kira-kira 200m kearah atas

Dari Gua Sentono belok kiri melewati jalan kampung yang lagi-lagi menanjak (maklum karena lokasi Candi Abang kebetulan berada di puncak bukitnya), papan petunjuk lokasi Candi Abang pun mulai terlihat (akhirnya), tetapi jangan langsung senang dulu karena dari tempat papan petunjuk tadi, kita masih harus berjalan (karena kami membawa sepeda maka harus menuntun sepeda) sekitar 100m dengan medan yang berbatu dan menanjak lagi sampai tiba disebuah lapangan rumput yang luas, puncak bukit pun sudah mulai terlihat dan kami mulai mencari lokasi yang nyaman untuk memarkir sepeda

Papan Penunjuk lokasi Candi Abang


Kondisi medan yang harus dilalui menuju lokasi Candi Abang


Sesampainya di atas, saya pun bingung dan mencari dimana candinya? Karena disekeliling tidak ada tumpukan batu yang disusun layaknya candi pada umumnya, yang ada hanyalah gundukan tanah seperti bukit kecil (kalau masih ingat wallpaper yang ada di Windows XP maka seperti itulah gundukan bukit yang ada dihadapan kami)


Saya pun lalu bertanya kepada rekan Gowes Wisata yang menjadi navigator perjalanan kali ini “dimana candinya?”, “Ya itu candinya”, katanya sambil menunjuk gundukan bukit yang ada dihadapan kami semua. Antara bingung namun senang (karena akhirnya sampai juga dilokasi ini) , saya pun mulai mengamati bentuk gundukan bukit ini dari kejauhan, mencoba membayangkan kemiripannya dengan bentuk-bentuk candi yang pernah saya kunjungi, memang ada beberapa undakan seperti tangga dan cerukan diatasnya, sepertinya terdiri dari dua atap candi, tetapi secara keseluruhan candi ini tertutup oleh rerumputan hingga membentuk gundukan tanah atau seperti bukit kecil (sama seperti kasus situs gunung padang)

Cerukan yang terdapat pada gundukan bukit (Candi Abang)



Mungkin supaya pembaca lebih memahami keunikan dan fakta historis mengenai candi ini, maka saya akan menjelaskan beberapa informasi terkait Candi Abang yang semoga dapat menambah pengetahuan kita semua akan kayanya negeri ini, hingga pada akhirnya mendapat julukan Negeri seribu Candi

Candi Abang adalah sebuah candi Hindu, diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-9 dan ke-10 zaman Kerajaan Mataram Kuno, meskipun demikian candi ini diperkirakan mempunyai usia yang lebih muda dari candi-candi Hindu lainnya.


Candi yang berlokasi di Dusun Sentonorejo, Kelurahan Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini berada tidak jauh dengan kompleks Candi Banyunibo dan Candi Barong, bahkan dari atas puncak bukit Candi Abang kita juga dapat melihat Bandara Adi Sucipto

Dinamakan Candi Abang karena candi ini terbuat dari batu bata merah (hal ini bisa dilihat dari ditemukannya sisa-sisa puing candi berupa batu bata merah disekitar lokasi). Bentuk candi ini berupa segi empat dengan ukuran 36 m x 34 m. Pada waktu pertama kali ditemukan, di dalam candi ini terdapat arca dan alas yoni lambang Dewa Siwa, berbentuk segi delapan (tidak berbentuk segi empat seperti pada umumnya) dengan sisi berukuran 15 cm

Batu bata merah yang ditemukan berada disekitar lokasi


Beberapa orang mempercayai bahwa di dalam Candi Abang tersimpan harta karun peninggalan zaman dahulu kala, oleh karena itu kemudian banyak pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mencoba melakukan penggalian dan perusakan dengan tujuan mencuri harta karun peninggalan bersejarah dan barang berharga lainnya yang diperkirakan ada di dalam candi tersebut. Hal tersebut pernah terjadi pada bulan November tahun 2002 lalu

Menurut mitos yang beredar di masyarakat sekitar, Candi Abang dijaga oleh sosok seorang tokoh yang dituakan dan dihormati, bernama Kyai Jagal, yang bertubuh besar dan berambut panjang. Kyai Jagal diyakini merupakan pelindung dari segala kerusakan yang akan menimpa daerah tersebut, sehingga pada masa kependudukan Jepang di bumi Nusantara ini, masyarakat sekitar sering berlindung di candi tersebut karena ada kepercayaan bahwa Kyai Jagal akan melindungi mereka. Kepercayaan terhadap Kyai Jagal sangat besar, sehingga ada kisah tentang sebongkah emas sebesar anak kerbau yang dipercaya berada didalam tubuh candi abang, namun tidak ada masyarakat sekitar yang berani mengusik maupun membuktikannya


Perjalanan masih panjang, dan petualangan Gowes Wisata masih harus berlanjut, sembari beranjak dari lokasi Candi Abang dengan segala kisah mitos dan sejarah yang menyertainya, kami berpikir sampai sejauh mana mitos tentang Candi Abang ini mampu menjaga lokasi ini dari imbas negatif modernisasi dan budaya kapitalisme yang semakin hari seakan semakin meminggirkan budaya dan perilaku kearifan lokal yang dahulu menjadi ciri khas dan dimiliki oleh masyarakat kita, biarlah kelak waktu yang akan menjawab semua pertanyaan itu…


Tambahan sumber referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Abang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar