Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Saturday, 20 January 2018

CHAPTER 26; SURGA YANG TERANCAM DI LABANGKA

Minggu, 31 Januari 2016,
Sembari beristirahat dan menunggu perkembangan kondisi cuaca mulai membaik di wilayah sekitar Kecamatan Plampang, Pulau Sumbawa ini, tentunya kami juga tidak betah jika hanya berdiam diri di kamar tanpa melakukan apa-apa, oleh karena itulah dihari kedua kami berada disini lebih baik kami memanfaatkan waktu dengan mencoba mencari tahu keunikan dan potensi apa saja yang ada disekitar wilayah Plampang ini

Dari hasil perbincangan kemarin dengan para pekerja bangunan di tempat kami menumpang beristirahat, barulah kami ketahui jika di dekat sini ada beberapa titik pantai yang kondisinya masih alami dan belum dikelola secara maksimal, baik oleh pemda setempat maupun oleh warga sekitar yang berdomisili di wilayah tersebut, lokasi pantai-pantai itu sendiri terbagi menjadi 5 buah mengikuti nama lokasi desa dari masing-masing pantai tersebut berada, jaraknya kurang lebih sekitar 15-20km di sisi selatan wilayah Plampang, tepatnya berada di Desa Labangka

Mendengar nama Pulau Sumbawa saja mungkin sebagian besar orang masih belum terlalu akrab, apalagi ketika ditanyakan tentang Desa Labangka. Namun ternyata wilayah Labangka yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Plampang ini diam-diam menyimpan potensi pariwisata yang cukup menjanjikan, terutama dari sektor wisata alam berupa keindahan pantai-pantainya, dan wisata agronya, karena di tempat ini banyak sekali terdapat ladang-ladang jagung yang mana ketika musim panen tiba maka sebagian besar hasil produksi jagung di tempat ini kemudian akan dikirim ke beberapa wilayah lain di seluruh Indonesia. Para warga yang menghuni wilayah ini pun mayoritas berasal dari Pulau Lombok dan Bali, karena wilayah Labangka sendiri pada awalnya merupakan salah satu lokasi tujuan program transmigrasi pemerintah, sehingga mayoritas warga disini merupakan para transmigran yang kini berprofesi sebagai petani atau buruh kasar

Untuk menuju ke Desa Labangka sendiri kalian harus cukup jeli karena tidak ada petunjuk arahnya, satu-satunya yang bisa dijadikan patokan adalah jika kalian datang dari arah Kota Sumbawa Besar menuju ke timur, maka begitu memasuki wilayah Plampang km62, tidak jauh dari situ kira-kira 1km kemudian kalian akan melihat Pasar Plampang di sisi kanan jalan, disini kalian masih terus sedikit nanti setelah jalanan mulai menikung ada Kantor Polsek di sisi kiri jalan, perhatikan dengan seksama nanti di sisi kanan (tepat di perempatan kecil) terdapat gapura atau gerbang masuk menuju kota mandiri terpadu Labangka, nah kalian tinggal masuk dan ikuti rute jalan beraspalnya saja.


Disepanjang rute jalan beraspal yang memiliki kontur "aduhai" alias rolling naik-turun ini kalian akan disuguhi pemandangan berupa ladang jagung dimana-mana serta bukit-bukit yang khas wilayah Sumbawa, sedangkan untuk urusan perut jika kalian kelaparan ada baiknya membawa bekal sendiri karena walaupun disini ada warung-warung nasi berskala kecil tetapi untuk jumlahnya sendiri masih belum terlalu banyak




Kira-kira 13km sejak kalian memasuki gapura kota mandiri terpadu Labangka tadi, kalian akan melihat gapura berikutnya yang menuju lokasi Pantai Labangka 1, tepatnya berada di Jalan Liang Dewa, letak gapuranya sendiri berada tepat di belokan jalan beraspal namun sayangnya belum ada papan penunjuk arah atau keterangan menuju Pantai Labangka 1 atau masyarakat di sekitar sini biasa menyebutnya Pantai Dewa, begitu kalian memasuki gapura ini kondisi jalannya belum diaspal, rutenya masih berupa batu-batu pengerasan (sebagian lagi bahkan masih jalan tanah), dari sini kalian tinggal ikuti jalan saja sekitar 3km sampai nantinya kalian akan melihat semacam gerbang di sisi kanan jalan (awalnya kami juga sempat bingung ini gerbang menuju lokasi pantai atau gerbang masuk komplek perumahan yang belum jadi)



Karena ketiadaan papan penunjuk arah dan sepinya suasana di sekitar lokasi, awalnya kami mengambil jalan yang lurus (tidak masuk ke gerbang di sisi kanan) namun ternyata jalan lurus tersebut buntu, tetapi akhirnya kami diperbolehkan masuk melalui pintu akses menuju lokasi tambak-tambak udang (jalan masuk ini juga sering digunakan oleh warga sekitar yang berprofesi sebagai petambak), dan lagi-lagi setelah sampai di lokasi tambak-tambak tersebut kami “tetap” bingung bagaimana cara menuju ke pantainya karena aksesnya tertutup oleh tanggul-tanggul tambak, sekalinya kami menemukan jalan menuju pantai tetapi jarak antara bibir pantainya terlalu mepet ke pagar pembatas tanggul, sepertinya kami sudah salah jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar balik dan mencoba untuk masuk melalui "gerbang yang tidak terawat" tadi.




Sambil memutar balik tidak lupa kami juga mendokumentasikan suasana di sekitar tambak-tambak udang tersebut, oya disini kami juga sempat melihat banyak kelelawar berukuran besar (dengan bentang sayap mencapai 1 meter) yang terbang dan bergantungan di pohon-pohon yang ada di sekitar tambak, sayangnya keterbatasan kamera pocket membuat kami sulit mengambil gambarnya (ya sudahlah biarkan mata dan memori kami saja yang menangkap momen indah ini hehe…)


Akhirnya setelah kembali di “gerbang tanpa nama” tadi kami pun mencoba untuk masuk dan menyusurinya sampai kemudian kami melihat ada sebuah penanda berbentuk bola bertuliskan kota mandiri terpadu (rupanya bangunan-bangunan yang ada di sekitar sini merupakan pembangkit listrik tenaga surya, tetapi sayangnya masih belum berfungsi), dari penanda berbentuk bola tadi kalian tinggal belok ke kiri dan ikuti jalan lurus saja, tetapi lagi-lagi karena ketiadaan papan penunjuk arah membuat kami harus bertanya kepada warga sekitar yang sedang meladang kemanakah arah menuju ke Pantai Dewa, oleh warga tersebut kami dianjurkan untuk memotong jalur melalui jalan ladang (jalan tanah 1 jalur yang biasa digunakan oleh warga untuk berladang atau mengangkut hasil ladang dengan gerobaknya) kami pun sempat bingung kira-kira kedepannya nanti jika ada orang atau pengunjung lain yang hendak berwisata ke pantai ini apakah semuanya harus melalui jalan ladang ini? Karena memang sampai saat ini belum ada akses jalan lain yang menuju ke pantai selain melalui jalan ladang ini (untuk yang bawa mobil dijamin mumet parkirnya karena jalan kakinya jauh)




Dan akhirnya kami pun sampai juga di Pantai Labangka 1 atau dikenal dengan nama Pantai Dewa, suasana di pantai ini benar-benar masih terasa alami dan sepi (hanya kami berdua saja pengunjung yang ada di pantai ini), dengan pasirnya yang berwarna putih dan halus seperti merica serta warna lautnya yang hijau kebiruan sepertinya potensi pantai ini kedepannya tidak akan kalah dengan pantai-pantai lainnya yang sudah lebih dulu populer





Di pantai ini juga terdapat sebuah Goa yang terbentuk dari dinding karang besar yang memiliki rongga atau lubang berbentuk ruangan, masyarakat sekitar menyebutnya dengan sebutan pure liang dewa, ada dua ruang utama di Goa ini, salah satu ruangnya mempunyai tempat peribadatan umat Hindu sedangkan di bagian depan Goa, tepat di bibir pantainya terdapat tempat untuk menaruh sesaji, di kejauhan juga tampak sebuah menara suar yang berfungsi memberi penanda bagi kapal-kapal yang melintas di malam hari










Ombak di Pantai Dewa dan sepertinya hampir di seluruh pantai wilayah Labangka ini mempunyai karakteristik yang sama, yaitu memiliki ombak yang besar dan kuat, sehingga tidak disarankan untuk berenang dipantai ini, jika pun kalian ingin bermain di bibir pantainya maka sebaiknya kalian tetap harus ekstra hati-hati karena tarikan arus balik dari ombaknya sendiri juga cukup kuat, dengan karakter ombak yang besar dan tinggi seperti ini tentunya akan sangat menarik bagi penggemar olahraga surfing, tetapi dengan arah ombak yang tidak menentu seperti disini entahlah kami pun tidak tahu apakah olahraga surfing bisa dilakukan di pantai ini atau tidak

Karena pantai-pantai yang ada di wilayah Labangka ini belum dikelola secara profesional maka tidak mengherankan jika belum ada fasilitas apa pun di sekitar lokasi pantai, jangankan toilet umum, bahkan pedagang atau warung yang biasanya ada dan bertebaran dihampir semua obyek wisata, kali ini benar-benar tidak ada sama sekali disini, pokoknya suasananya benar-benar sepi (sehingga bagi yang ingin berbasah-basahan main air jangan lupa untuk mempertimbangkan bagaimana mandi dan ganti bajunya ya)

Faktor pemeliharaan kebersihan area pantai juga menjadi kendala dalam mengembangkan wisata Pantai Labangka ini, karena hampir disepanjang garis pantainya beberapa sampah plastik dari aliran sungai yang mengarah ke laut juga ikut hanyut dan terdampar di sekitar bibir pantai. Salah satu hal menarik disini hingga detik ini saat kami berkunjung adalah disepanjang garis pantai nyaris tidak ada bangunan-bangunan komersiil seperti hotel, resort, cafe, bar dan lainnya, yang ada hanyalah hamparan hijau savana dan ladang-ladang jagung milik warga sehingga menjadikan suasana di pantai ini layaknya sebuah hidden paradise atau surga tersembunyi yang jauh dari hingar bingar perkotaan




Masih belum puas dengan hanya berkunjung ke Pantai Dewa atau Labangka 1? Jangan kuatir disini masih ada 4 pantai lagi. Karena waktu juga masih siang maka kami pun menyempatkan untuk berkunjung ke Pantai Labangka 4 (dan seperti biasa karena ketiadaan papan penunjuk arah atau keterangan lainnya maka kami harus bertanya kepada warga sekitar, tenang saja warga disini ramah-ramah kok), oya disini penomoran pantai-pantainya tidak berurut ya, jadi setelah Labangka 1 kemudian adalah Labangka 3, setelah itu Labangka 4, Labangka 2, dan terakhir adalah Labangka 5, jarak antar pantai-pantainya pun hanya berkisar 3-5km saja (tetapi semuanya tetap belum ada penunjuk arahnya)

Di Pantai Labangka 4 ini patokan jalan masuknya berada tepat disamping tempat penjemuran jagung (bentuk bangunannya seperti gudang pabrik), akses masuknya berupa jalan kecil (1 mobil) dan masih berupa jalan berbatu dan jalan tanah, jadi kalau mau kesini jangan pakai mobil jenis sedan ya hehe...), kira-kira 2,5km setelah masuk dari jalan beraspal tadi sampailah kita di Pantai Labangka 4


Di Pantai Labangka 4 ini yang membedakan dengan keempat pantai lainnya adalah ditempat ini terdapat muara sungai yang mengarah langsung ke laut namun disaat laut sedang tenang maka antara muara sungai dengan lautnya terpisah oleh pasir pantai yang seakan menjadi jalan dan pembatas antara keduanya. Disinilah terjadi pertemuan antara air sungai yang tawar dengan air laut yang asin namun keduanya tidak bercampur







Dengan tebing karang yang tinggi dan diatasnya merupakan padang savana yang luas, serta masih banyaknya pepohonan besar yang ada di sepanjang aliran sungainya menjadikan di lokasi ini kerap ditemui monyet-monyet liar dan babi hutan (oleh karena itulah disekitar lokasi ladang terkadang juga dijumpai tenda-tenda yang digunakan oleh warga untuk menjaga ladangnya dari serangan hewan liar)









Sayangnya kami tidak tahu sampai kapan semua keindahan alam tersebut dapat terus bertahan, karena di sepanjang perjalanan menuju ke pantai-pantai Labangka ini kami melihat banyak spanduk-spanduk yang dipasang di pagar dan pepohonan bertuliskan "hentikan pengeboran dan perusakan yang membuat amblas", selidik punya selidik dari keterangan beberapa warga kami akhirnya mengetahui bahwa di daerah Sumbawa Barat rupanya terjadi pengeboran dan penggalian sumber daya alam berupa emas, tembaga, dan mineral lainnya yang dilakukan oleh PT. N*****t, pengeboran dan penggalian tersebut pun kian meluas hingga ke wilayah Dodorinti yang letaknya tidak jauh dari Labangka, efeknya terhadap Desa Labangka dan Pulau Sumbawa sendiri tentunya adalah masalah kerusakan lingkungan berupa pembuangan limbah mercury yang berbahaya dan penggerusan di dalam tanah yang berpotensi membuat kondisi tanah menjadi rawan amblas, sebagai upaya memuluskan kontrak pengeboran tersebut pihak PT. N*****t pun bersedia membuat dan memperbaiki akses jalan berupa pengaspalan di beberapa wilayah Sumbawa, dimana ujung-ujungnya akses jalan tersebut juga akan digunakan untuk kepentingan perusahaan tersebut dalam mempermudah proses distribusi pengangkutan hasil tambangnya

Dan ironisnya disaat kemudian terjadi bencana alam di Indonesia kemudian ada beberapa negara asing memberi bantuan kepada kita, tanpa kita sadari sebenarnya donasi yang mereka berikan merupakan hasil kekayaan alam negeri kita yang telah dieksploitasi oleh mereka untuk membangun negaranya, dan kita pun “berterimakasih” ketika menerima donasi tersebut, ketika sumberdaya alam kita telah habis dan lingkungan telah rusak maka mereka pun segera berpindah mencari “lahan subur” lainnya untuk dihisap, efek jangka panjangnya tentu saja anak cucu kita yang akan menanggung dan merasakan, mereka hanya akan mengetahui kekayaan negeri kita melalui cerita-cerita yang ada di buku atau kisah dari para leluhur saja, semua kejayaan tersebut hanya akan menjadi sebuah dongeng masa lalu jika kita tidak segera memperbaiki keadaan yang semakin mencemaskan ini .

Beginilah ironi yang terjadi di negeri tercinta kita, Indonesia, dimana bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat seperti yang termaktub didalam UUD 45 pasal 33 nyatanya kini sumber-sumber kekayaan alam kita dikuasai oleh pihak asing, sedangkan rakyatnya tetap hidup dalam kesulitan, walaupun disatu sisi pihak asing pun sebenarnya tidak melakukan kecurangan (karena mereka membeli aset-aset tersebut dari masyarakat lokal secara sah berdasarkan hukum) sehingga sesuai logika pasar saja mereka membeli karena melihat ada keuntungan dan ada penawaran, sedangkan masyarakat kita terus dibuai dengan tayangan-tayangan sinetron dan film yang menyuguhkan mimpi-mimpi cepat kaya secara instan sehingga pada akhirnya mereka tergiur dan terbawa dengan gaya hidup hedonis dan konsumtif (sampai-sampai banyak anak muda sekarang yang tidak mau sekolah jika tidak dibelikan motor, karena di televisi mereka melihat gaya hidup pelajar di kota-kota besar yang "terlihat keren" dengan sepeda motornya)

Oleh karena itulah ditengah semakin menurunnya kualitas tayangan media yang edukatif, pada akhirnya membuat kami dari goweswisata.blogspot.co.id ini pun mulai berhenti mengonsumsi mentah-mentah pemberitaan media lokal dan nasional kita, untuk kemudian turun langsung melakukan perjalanan ini, menyaksikan dan merasakan sendiri kondisi Indonesia saat ini, sehingga membuat perjalanan bersepeda yang kami lakukan ini bukanlah sebuah perjalanan wisata atau perjalanan yang men-dewakan merk sepeda semata, tetapi lebih dari itu semua yaitu untuk mulai membuka hati dan pikiran kita untuk bersama-sama membangun, mewujudkan, serta menjaga bumi nusantara tercinta kita, Indonesia.

Berhentilah menggantungkan dan melimpahkan semua kesalahan hanya kepada figur pemerintah saja, kita tidak dapat menutup mata dan mengakui bahwa memang masih ada kekurangan dalam sistem pemerintahan kita saat ini, namun semua itu tidak akan berubah jika kita hanya menjadi generasi yang hanya bisa nyinyir tanpa membawa solusi, karena jika kita ingin semua berubah menjadi lebih baik maka bukankah lebih baik jika kita juga mulai belajar untuk berubah menjadi individu manusia yang lebih baik lagi? Karena walaupun kita tidak tahu apakah surga akhirat itu ada, bagaimana bentuknya, atau apakah kita dapat merasakannya bukankah lebih baik jika selama saat kita masih diberi kesempatan untuk hidup didunia ini kita bersama-sama mulai membangun dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, menjadi surga dunia yang indah untuk dapat kita nikmati dan kita wariskan kepada generasi pendatang setelah kita

“berpikir tentang kehidupan surga yang kekal di akhirat itu boleh untuk memotivasi kita menjadi manusia yang lebih baik, namun jangan lupa bahwa selama kamu bisa membaca tulisan ini berarti kamu masih hidup di dunia nyata, apakah saat ini kamu sudah berhasil menciptakan surga dikehidupan duniamu sendiri?”

“kita sering mencibir Negara-negara maju dengan sebutan Negara kafir, tetapi mereka tetap fokus dan rajin berusaha untuk memajukan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik di negaranya serta bermanfaat untuk semua. Disisi lain kita menjadi orang yang malas dan tidak mau berusaha serta hanya terus mencibir sembari bermimpi mengharapkan surga akhirat, padahal surga dimanapun itu tidak akan dapat kita raih hanya dengan kemalasan”


Pengeluaran hari ini :

- 2 porsi nasi campur = Rp 20.000,-
- 2 botol teh pucuk = Rp 10.000,-
- 4 gelas ale-ale = Rp 4.000,-
- 2 es orson = Rp 4.000,-

Total = Rp 38.000,-

Total jarak tempuh hari ini : 54,49 km

Sunday, 14 January 2018

CHAPTER 25; THE PERFECT JOURNEY IS NEVER FINISHED

Kamis, 28 Januari 2016
Hari ini kami kembali off bersepeda dan berencana untuk menikmati sejenak suasana Kota Sumbawa Besar menggunakan kendaraan umum dan berjalan kaki, lagipula masa sudah jauh-jauh bersepeda dari Jogja hingga ke Sumbawa hanya numpang melintas saja kan rasanya sayang hehe…:), lebih baik mencoba menjelajah dan menikmati detail kota yang belum pernah kami singgahi sebelumnya ini sehingga kami bisa menangkap perbedaan pola aktivitas masyarakat dan budayanya dibandingkan dengan tempat asal kami.

Rencana hari ini adalah mencoba menanyakan penyeberangan menuju ke Pulau Moyo yang terkenal dengan obyek wisata air terjun Mata Jitu nya, menurut info dari Mas Samawaholic biasanya jika cuaca cerah dan ombak di laut sedang tenang maka penyeberangan menuju Pulau Moyo bisa dilakukan di Labuan Sumbawa yang berada tidak jauh dari Pantai Jempol, namun terkadang penyeberangan juga sering dilakukan di Pantai Goa yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kami stay sekarang, baiklah mari kita mencoba ke Labuan Sumbawa saja dulu karena jaraknya yang relatif dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sambil berjalan kaki menuju Labuan Sumbawa cuaca di langit tampak mulai mendung, dan benar saja tidak berapa lama kemudian gerimis pun turun. Sesampainya di Labuan Sumbawa kami pun mulai bertanya kepada para pemilik kapal seputar ada tidaknya penyeberangan hari ini yang menuju ke Pulau Moyo, sayangnya dikarenakan cuaca sedang buruk dan ketinggian ombak yang mulai pasang serta berbahaya maka menurut beberapa pemilik kapal mereka menghentikan sementara kegiatan operasional pelayaran selama beberapa hari dengan alasan keamanan, namun mereka juga menyarankan kepada kami untuk coba pergi ke Pantai Goa dan bertanya lebih lanjut mengenai penyeberangan disana saja karena biasanya aktivitas penyeberangan lebih ramai dilakukan di Pantai Goa

Akhirnya kami pun pergi menuju ke Pantai Goa menggunakan becak motor (tentunya setelah melalui proses perundingan harga terlebih dahulu), disepanjang perjalanan saya mengamati sepertinya sangat sedikit armada bus antar kota antar propinsi yang trayeknya melintasi Pulau Sumbawa ini, satu-satunya armada yang familiar yang saya lihat hanyalah armada bus milik Safari Dharma Raya itupun sepertinya jumlahnya hanya sedikit, sedangkan armada milik perusahaan lainnya justru tidak terlihat sama sekali, selebihnya hanya bus-bus yang melayani trayek lokal dalam Pulau Sumbawa saja

Becak motor yang kami tumpangi pun perlahan mulai memasuki area wisata Pantai Goa, didalam area ini justru terlihat ada terminal angkutan umum padahal disepanjang perjalanan menuju ke tempat ini kami bahkan tidak melihat atau berpapasan dengan angkutan umum (sejenis koasi atau mikrolet) yang ada diterminal ini.

Suasana di Pantai Goa terlihat sangat sepi, entahlah apakah memang setiap hari kondisinya memang sepi seperti ini ataukah dikarenakan cuaca yang sedang buruk yang pada akhirnya membuat orang-orang menjadi enggan bepergian atau berwisata ke tempat ini, beberapa warung yang ada disekitar terminal pun terlihat ada beberapa yang buka namun sebagiannya lagi terlihat tutup


Kami pun kemudian menuju kearah Dermaga, tampak beberapa orang terlihat sedang memancing, tapi kami tidak melihat ada satu kapal pun yang bersender, tidak terlihat adanya aktivitas pelayaran yang seharusnya ramai seperti ketika kami berada di Pelabuhan Bangsal Pulau Lombok sewaktu kami hendak menuju ke Gili Trawangan. Menurut beberapa pemancing yang kami tanya biasanya penyeberangan menuju Pulau Moyo tidak selalu dilakukan setiap harinya terlebih ketika cuaca sedang buruk seperti pada bulan ini namun kata mereka lebih baik kami coba untuk menunggu saja hingga siang, jika sampai siang nanti tetap tidak ada penyeberangan maka itu berarti memang tidak ada penyeberangan sama sekali untuk hari ini, karena setelah lewat siang biasanya kabut akan mulai turun menuju perairan dan membuat kapal-kapal yang sedang berlayar menjadi sulit untuk melihat arah dan suasana sekitar, oleh karena itulah biasanya penyeberangan hanya dilakukan hingga siang hari saja.


Akhirnya kami pun menunggu di sebuah pelataran yang biasanya menjadi tempat para nelayan mengumpulkan ikan hasil melaut, rintik gerimis yang sedari pagi menemani perjalanan kami kini mulai berubah menjadi lebih deras, sepertinya jika cuaca terus seperti ini maka bisa dipastikan bahwa hari ini tidak akan ada aktivitas penyeberangan sama sekali, ya sudahlah toh kami hanya bisa berencana dan selebihnya Yang Maha Kuasa yang menentukan, itupun mungkin memang yang terbaik bagi kami berdua dibandingkan kami harus memaksakan diri dengan mengabaikan faktor keselamatan, semua selalu ada hikmahnya jadi ambil sisi positifnya saja

Hingga siang hari tetap tidak nampak adanya aktivitas penyeberangan dan pelayaran, suasana justru semakin sepi karena beberapa orang yang tadi sedang memancing kini sudah beranjak pulang, kami pun memutuskan untuk berkeliling sebentar sebelum kembali pulang menuju kediaman Mas Samawaholic

Tempat ini dinamakan Pantai Goa dikarenakan pada salah satu sisi tebingnya terdapat sebuah cerukan menyerupai Goa, panjang terowongan didalam Goa kurang lebih sekitar 20 meter dengan tinggi sekitar 160 cm, Goa ini sepertinya merupakan buatan manusia, entah apa alasan pembuatannya, apakah sebagai shelter atau tempat berlindung? Namun berlindung dari apa? Jika tempat ini merupakan tempat berlindung dari serangan musuh seharusnya ada penanda lokasi cagar budaya layaknya tempat-tempat bersejarah lainnya seperti Goa Jepang. Pantai ini juga digunakan sebagai dermaga dan aktivitas perniagaan para nelayan setempat, kondisi dan bibir pantai disini kurang cocok bagi kalian yang ingin berenang dilaut karena selain pasir yang ada dibibir pantai ini cenderung kasar, bagian tepi pantainya juga agak dalam



Untuk kembali pulang kali ini kami memilih untuk mencoba naik angkutan umum yang ada diterminal Pantai Goa, untungnya karena suasana ditempat ini sepi sehingga angkot yang kami tumpangi tidak pakai acara nge-tem, pokoknya begitu ada penumpang ya langsung berangkat, para penumpang lainnya yang diangkut kebanyakan justru yang berada di sepanjang rute trayek mereka, jarang sekali yang diangkut melalui terminal, kira-kira 30 menit kemudian kami pun akhirnya sampai di Masjid yang berada tidak jauh dari Pantai Jempol

Mumpung cuaca sedang tidak hujan hanya sedikit berawan saja, kami pun memutuskan untuk bersepeda keliling kota lagi sembari mencari makan siang dan melengkapi perbekalan, setidaknya ini adalah hari terakhir bagi kami untuk menikmati suasana Kota Sumbawa Besar ini karena keesokan harinya kami akan kembali melanjutkan perjalanan lagi menuju wilayah Plampang.

Walaupun pada petualangan kali ini kami tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke Pulau Moyo, namun kami yakin jika memang sudah tiba waktu yang tepat kami pasti dapat kembali mengunjungi tempat ini lagi, bertemu sahabat-sahabat dan melihat bagaimana perkembangan suasana di Pulau ini, petualangan masih akan terus berlanjut dan tidak akan pernah berhenti karena selalu ada tempat yang belum pernah kami jelajahi, selalu ada cerita yang siap ditulis kedalam lembaran buku kehidupan kami

“The perfect journey is never finished, the goal is always just across the next river, round the shoulder of the next mountain. There is always one more track to follow, one more mirage to explore”

Pengeluaran hari ini :

- tarif becak motor Labuan Sumbawa-Pantai Goa = Rp 20.000,-
- tarif angkot Pantai Goa-Pantai Jempol= Rp 14.000,-
- 2 porsi gado-gado = Rp 20.000,-
- jajan cemilan = Rp 10.000,-
- roti = Rp 8.500,-

Total = Rp 72.500,-
========================================================================================

Jum’at, 29 Januari 2016
Fajar mulai menyingsing, hari ini sesuai rencana kami akan kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah Plampang, disana nanti kami akan menumpang beristirahat di kediaman Dokter gigi Adi, salah seorang teman baru yang direkomendasikan oleh teman-teman pesepeda di Sumbawa, kami diberikan nomer kontak Mas Adi untuk mempermudah jika ingin bertanya patokan lokasinya, Mas Adi pun telah diberitahukan perihal kedatangan kami berdua, ia tidak keberatan dan memberikan patokan-patokan sesuai rute yang kami lalui supaya mempermudah kami dalam menemukan lokasinya

Setelah mempacking semua perlengkapan kedalam pannier dan memasangnya keatas rak sepeda, kami pun bersiap untuk mulai start, sayangnya kami tidak sempat berpamitan dengan Mas Samawaholic beserta keluarganya karena ia telah berangkat bekerja dan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah sejak pagi, ia hanya berpesan untuk berhati-hati dan semoga selamat sampai ke tujuan, sebenarnya kami sudah mencoba berpamitan kepada istri beliau yang kebetulan ada dirumah namun ketika kami panggil-panggil ia tidak mendengar (mungkin sedang tidur), oleh karena itu setelah membersihkan dan merapikan kamar tempat kami beristirahat dan menutup semua pintu, saya pun mengirimkan pesan singkat kepada Mas Samawaholic untuk mengabarkan jika kami sudah akan berangkat dan mengucapkan banyak terimakasih untuk segala bantuan dan keramahannya

Rute yang kami lalui cukup mudah karena hanya ada satu jalur perlintasan utama dari Kota Sumbawa Besar yang menuju Plampang, sedangkan tantangan untuk hari ini adalah beberapa titik tanjakan yang akan kami hadapi disepanjang rute nanti, tanjakan pertama berada tepat setelah melewati Pasar (saya lupa nama pasarnya), medan tanjakannya kurang lebih mirip dengan tanjakan Pathuk yang ada di Jogja, bedanya hanya tanjakan disini tidak berkelok-kelok melainkan lurus dan aspalnya terasa lengket sekali, dititik ini juga Mas Samawaholic menyempatkan diri untuk menemui kami yang sedang beristirahat disalah satu spot tanjakan setelah sebelumnya ia minta ijin keluar sebentar dari kantornya

Setelah cukup beristirahat kami pun kembali melanjutkan menghadapi medan tanjakan ini hingga akhirnya sampai juga di bagian puncaknya, kini saatnya menikmati turunan yang cukup panjang setelah itu selebihnya rute didominasi oleh medan yang datar, sesekali kami hanya menghadapi tanjakan-tanjakan yang tidak separah seperti sebelumnya.

Kondisi jalan yang hanya lurus dan sepi membuat kami bisa menghemat tenaga dan memaksimalkan kecepatan waktu tempuh, terlebih ketika kami melihat dikejauhan langit tampak sudah mulai gelap karena mendung, aroma angin hujan pun juga sudah mulai terasa, perlahan tapi pasti akhirnya rintik hujan mulai turun dan tidak berapa lama kemudian gerimis kecil pun mulai berubah menjadi hujan yang sangat deras, kami pun mulai berpacu dengan awan hujan yang mengikuti kami dengan iringan kilatnya yang saling menyambar, terlebih disepanjang rute ini tidak ada hunian perkampungan lagi, SPBU terdekat yang berjarak sekitar 30km selepas Pasar Sumbawa pun juga sudah kami lewati tadi, kondisi rute kami saat ini kebanyakan masih berupa padang rumput terbuka disepanjang sisi jalan, karena perkampungan sebelumnya sudah kami lewati ketika hujan belum mulai turun sederas sekarang







Akhirnya setelah bersepeda dibawah guyuran hujan yang sangat deras kami pun tiba di rumah sekaligus tempat praktek Dokter gigi Adi, setelah saling berkenalan ia pun menunjukkan ruangan dimana kami bisa beristirahat nantinya, ia juga menyarankan supaya kami beristirahat selama beberapa hari dulu ditempatnya sembari menunggu cuaca buruk usai, ia mengatakan “wah kalau hujannya deras seperti ini lebih baik jangan bersepeda atau keluar rumah dulu mas, soalnya baru saja kemarin ada yang meninggal tersambar petir”, nah lho padahal tadi kami berdua baru saja bersepeda berpacu dengan awan hujan dan sambaran kilat, apalagi sepeda yang kami gunakan juga masih sepeda dengan material besi yang notabene merupakan konduktor listrik yang baik, untunglah hari ini semua berjalan dengan aman.

Kediaman Mas Adi masih dalam tahap pembangunan, oleh karena itulah dirumah ini juga terdapat 2 orang pekerja yang berasal dari Lombok Timur, mereka mengikuti program transmigrasi dari pemerintah dan kini menetap di wilayah Plampang, tepatnya daerah Labangka, kondisi ruangan yang kami gunakan juga baru saja selesai tahap plesteran sehingga belum dicat, bahkan untuk jendela pun juga belum terpasang, sementara waktu lubang bukaan jendela hanya ditutupi dengan beberapa lembar triplek saja, begitupun dengan kamar mandinya, pintu belum terpasang sehingga kami harus menggeser daun pintu untuk menutup kamar mandi ketika sedang digunakan


Mas Adi bercerita sebenarnya ia juga berasal dari Yogyakarta namun kini ia bekerja dan menetap di Pulau Sumbawa, tepatnya didaerah Plampang ini, disini ia berinvestasi dengan membeli sebidang tanah yang cukup luas dan mulai membangun rumah sekaligus membuka tempat prakteknya, istrinya saat ini masih berada di Jogja karena sedang menunggu masa kelahirannya, ia pun rencananya besok juga akan berangkat kembali ke Jogja untuk menemani istrinya selama proses kelahiran, oleh karena itu sembari berpamitan sejenak ia pun menyarankan kepada kami untuk beristirahat saja dulu daripada memaksakan diri kembali melanjutkan perjalanan di tengah cuaca buruk seperti ini, “pokoknya santai-santai saja dulu disini mas, tidak merepotkan kok karena memang tidak ada siapa-siapa disini, nanti kalau butuh apa-apa bisa tanya atau minta tolong ke tukang”, kata Mas Adi

Mas Adi juga menanyakan rencana dan rute tujuan kami berikutnya serta alasan mengapa kami melakukan perjalanan dan petualangan ini, setelah berbincang-bincang dengan santai kami juga bertanya kira-kira apa yang menarik dan unik di wilayah Plampang ini, apakah sekiranya ada lokasi yang bisa atau perlu kami lihat karena keunikannya, menurut para pekerja mereka mengatakan bahwa kami bisa mencoba main ke wilayah mereka di Labangka karena disana terdapat banyak pantai-pantai yang belum populer dan sekaligus juga merupakan salah satu lokasi para transmigran,hmm… sepertinya usul yang menarik untuk menjelajah sebuah lokasi yang berada diluar jalur perlintasan utama, baiklah semoga saja besok cuaca sedang bersahabat sehingga kami bisa menjelajah wilayah Labangka

Sepertinya petualangan tidak akan pernah selesai karena selalu saja ada lokasi baru untuk dijelajahi, ingin tahu seperti apa keunikan yang dimiliki oleh wilayah Labangka dengan pantai-pantainya? Tetap ikuti cerita petualangan goweswisata.blogspot.co.id berikutnya ya :)

Pengeluaran hari ini :

- belanja alfamart = Rp 22.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 12.000,-

Total = Rp 34.000,-

Total jarak tempuh hari ini : 66,19km