Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Sunday, 23 April 2017

CHAPTER 4; SANG PENGAYOM MASYARAKAT

Minggu, 20 Desember 2015,

Minggu pagi merupakan waktu yang paling pas untuk beristirahat (bahasa asyiknya yaitu leyeh-leyeh kalau kata orang Jawa), trus nonton Doraemon, namun justru tepat di hari inilah waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh warga Dusun Trinil terutama kepada para pengurus Museum Trinil (Pak Agus, Pak Catur, Pak Sumadi dan Mas Tarmudji) yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap dan belajar banyak hal seputar dunia arkeologi, Museum, dan nilai kehidupan yang kami dapatkan dari orang-orang baik yang ada disini

Setelah (seperti biasa) menumpang mandi dirumah salah seorang pengurus, kami pun mulai mempacking semua panniers, cek… cek…cek… ok, tidak ada yang tertinggal, sembari berpamitan kami pun mendokumentasikan “acara foto bersama” hehe… oya disini ada hal menarik yang sampai sekarang masih terngiang diingatan kami berdua yaitu ketika kami mengucapkan terimakasih sekaligus bertanya alasan apa yang membuat Pak penjaga serta semua pengurus Museum mengijinkan kami menginap di dalam area Museum sedangkan kami berdua bukanlah pengunjung dalam artian spesifik yang benar-benar datang untuk berkunjung ke suatu obyek wisata, maksudnya kedatangan kami berdua ini sebenarnya kurang lebih sama seperti musafir yang sedang mencari tempat beristirahat sementara, oleh karena itulah ada rasa penasaran yang menggelitik benak kami untuk bertanya apa alasan yang membuat mereka percaya kepada kami (hari gini jarang-jarang lho ada orang yang benar-benar percaya kepada orang asing alias musafir atau pengembara, kalo kami ternyata maling Museum gimana hehe…), dan jawabannya wow sungguh bijak sekali, adem rasanya mendengar jawabannya, ia mengatakan seperti ini,” Mas, Mbak, kalau saya menolong orang itu pada dasarnya saya ikhlas-ikhlas saja semampu saya, saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa, biar Gusti Allah saja yang membalasnya, lagipula saya juga yakin kalau saya berbuat hal yang baik nantinya pasti anak-anak saya yang akan menerima hasilnya jika suatu saat mereka sedang dalam kesusahan, pasti nantinya ada hal baik yang akan memudahkan mereka”. Jadi intinya ia melakukan hal baik seperti ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri saja melainkan juga untuk orang lain (dalam hal ini anak-anak dan lingkungan sekitarnya), nah bayangkan pemikiran sesederhana itu ternyata masih ada dan kami dapatkan dari orang yang mungkin di mata masyarakat pada umumnya bukanlah sosok yang berpengaruh, ia hanyalah orang biasa dari kalangan ekonomi menengah, bukan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat professor, ia hanya sosok warga dusun sederhana biasa yang berprofesi sebagai seorang penjaga Museum dan petani, namun justru dengan jawaban seperti itulah maka ia terasa istimewa sekali bagi kami, sangat kontras dengan apa yang sering kami lihat di Media dan lingkungan masyarakat perkotaan dimana banyak orang yang berpendidikan tinggi namun bukannya mencerdaskan lingkungannya malah “minteri orang sekitarnya alias menipu”, ia pun bukanlah orang yang hidupnya berkecukupan tetapi mencukupkan dirinya dengan rejeki yang sudah menjadi haknya.


Disaat seperti inilah kadang membuat kami bertanya-tanya tentang sistem pendidikan seperti apakah yang berjalan di negeri ini, apakah sistem pendidikan yang membangun moral dan jiwa manusianya ataukah sistem pendidikan yang hanya membangun tampilan fisik atau raga manusianya, karena banyak orang-orang bertitel hebat diluar sana dengan sederet gelar akademis yang panjangnya kaya gerbong kereta api namun justru berakhir dalam bui karena tertangkap merugikan Negara dan mengambil hak orang lain, atau tidak membawa manfaat apapun bagi lingkungan sekitarnya, dan jujur saja di wilayah Dusun Trinil ini tidak ada bangunan sekolah yang mentereng dan mempunyai fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah yang ada kota besar, semua tatakrama dan nilai kehidupan yang dipegang masyarakat disini kebanyakan malah dibangun dan didapat dari lingkungan keluarganya masing-masing (kalau di kota besar malah kebalikannya, mayoritas lingkungan keluarga menyerahkan pendidikan anak kepada pihak luar seperti sekolah atau tempat les, sehingga orangtua hanya tahu beres saja, yang penting anak sudah sekolah dan harus pintar mengerti semuanya, dapat nilai bagus, lulus, dapat titel, dan lainnya) Hmmm… sesaat jadi teringat dengan lirik lagu Nasional kita yang mengatakan “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, dimana kata “Jiwa” berada diawal atau lebih dulu dibanding kata “Badan”, mungkin inilah yang dimaksud oleh sang penulis lirik supaya Indonesia nantinya menjadi Bangsa yang besar, semoga nantinya cita-cita besar itu dapat terwujud :)

Selepas keluar dari jalan masuk Dusun Trinil kami kembali harus melalui deretan Hutan Jati yang ada di sepanjang sisi jalan, kontur jalannya kebanyakan datar tetapi kondisinya hmmmm… ya begitu deh (tanpa saya jelaskan secara detail tentunya kalian sudah paham kan maksudnya hehe), cuaca hari ini pun cukup cerah, terlalu cerah malah alias panas terik, sehingga kami dihajar panas terik dari atas (sinar matahari) dan dari bawah (pantulan panas aspal) hingga akhirnya goodbye Kota Ngawi


Gara-gara cuaca panas yang aduhai tersebut akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi energi dengan makan siang (dirapel dengan sarapan), cara memilih menunya tentu saja dengan melihat deretan angka-angka yang ada di bagian kanan daftar menu terlebih dulu, kalau nominal angkanya bersahabat baru deh kami melihat ke keterangan yang ada di sebelah kirinya (alias nama menunya huehehe) akhirnya terpilihlah menu seperti ini jreng… jreng… (tuh liat karena judulnya petualangan bersepeda maka gelas minumnya saja sampai ada hubungannya dengan dunia persepedahan)


Setelah selesai makan harusnya energi kembali penuh (harusnya) tetapi yang ada malah jadi ngantuk, maklum cuacanya panas bener, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, selesai tidak selesai harus dikumpulkan (lho?), maksudnya the journey must go on, harus tetap dimulai gowesnya walau pelan yang penting bisa maju dikit-dikit sampai akhirnya…


Walau sudah memasuki Kabupaten Madiun tetapi kami memilih tidak masuk menuju Kotanya karena rutenya tidak searah dengan rute awal kami yang hendak menuju Saradan. Dan masih dalam episode ngantuk sebelumnya ditambah bonus cuaca yang panas akhirnya membuat kami beristirahat (lagi), daripada dipaksain ntar malah ngadat mending sesuka hati dan dengkul saja pola gowesnya hehe…


Karena kelamaan istirahat akhirnya menjelang sore hari kami baru tiba di Daerah Saradan, tepatnya sebelum memasuki kantor polisi Saradan yang dekat dengan perumahan tentara, tadinya kami hendak lanjut namun semakin sore ternyata lalu lintas di ruas jalan ini cukup berbahaya, selain karena ruas jalan yang sempit dan bergelombang juga karena banyak bus besar dan truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi kami juga tidak tahu seberapa panjang jarak ruas jalan yang melalui area hutan ini.

Melihat kondisi lalu lintas yang berbahaya dan waktu yang semakin sore menjelang maghrib akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di etape ini, tengok kiri-kanan mencari tempat yang pas untuk bermalam tapi tidak terlihat ada bangunan masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya sekiranya kami diijinkan bermalam atau mendirikan tenda di dekat kompleks perumahan tentara, namun karena tidak ada pihak yang bisa dimintai ijin dan daripada semakin malam akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba meminta ijin bermalam di kantor polisi Saradan yang kami lewati sebelumnya (yak putar arah lagi)

Sesampainya di kantor polisi jantung langsung berdegup kencang (maklum ini baru pertama kalinya kami mencoba minta ijin bermalam di kantor polisi yang lumayan besar seperti ini),kalau dulu mah ke kantor polisi biasanya cuma buat ngurus SKCK, untungnya ada polisi yang sempat melihat kami sewaktu melintas sebelumnya, ia pun bertanya asal dan tujuan kami, setelah menjelaskan asal dan tujuan kami serta maksud kedatangan kami untuk minta ijin bermalam, kami pun di perbolehkan menginap di salah satu bangunan bhayangkari yang biasa digunakan untuk mengurus administrasi warga. Buat yang sedang touring dan bingung tata cara minta ijin menginap di kantor polisi nah ini dia tipsnya ala goweswisata :

1. Datanglah ke kantor polisi yang menjadi tujuan menginap, jangan ke kantor yang lain
2. Pasang ekspresi senyum (walau jantung dag dig dug)
3. Tanya ke petugas jaga yang ada di bagian depan, jelaskan maksud kedatangan secara sopan, nanti petugas akan meminta kartu
identitas anda untuk disimpan diruang piket tapi bisa diambil lagi besok pagi saat kalian mau berangkat
4. Tanyalah diruang mana sekiranya kalian bisa menginap (biasanya sih di Mushalla atau di bangunan serbaguna kalau ada), jangan
lupa sekalian tanya kamar mandinya dimana
5. Bagi yang sedang touring berpasangan selain kartu identitas lebih baik jika kalian juga membawa fotocopy buku nikah, kalau
ada surat jalan lebih bagus tapi jika tidak ada juga tidak apa-apa (kami juga tidak pakai surat jalan kok)
6. Jangan nyampah diruangan yang kalian gunakan untuk tidur, tetap jaga kebersihan ya

Nah mudah kan caranya, dan jauh lebih aman dibandingkan jika kalian menginap di SPBU karena disini barang-barang kalian aman dijagain sama polisinya (bahkan sepeda-sepeda kami saja malah disuruh taruh didalam ruangan sekalian biar aman), selain itu boleh minta refill air minum pula hehe. Pokoknya segala kesan seram tentang sosok polisi seketika lenyap (tapi kurang tau kalau polisi di kota besar sama atau tidak, kalau polisi-polisi yang ada di daerah biasanya malah lebih baik dan asyik), disini kami juga diajak ngobrol dan makan oleh para polisinya, mereka justru tertawa saat kami bilang kirain polisi itu galak-galak, mereka bilang kalau di daerah mah beda mas, disini karena ruang lingkupnya kecil dan yang dilayani kebanyakan adalah masyarakat sekitar jadi pola yang diterapkan adalah ngemong atau menjadi pengayom warga, lagipula disini biasanya antar warga saling kenal karena sering bertemu, tapi kurang tau dengan pola yang diterapkan kepolisian di kota besar atau pusat.

Kantor Polisi Saradan


Bangunan tempat kami bermalam



Selain itu banyak pula anggota yang lain yang ujung-ujungnya malah curcol ketika bercerita tentang suka dukanya menjadi anggota polisi, terlebih dengan imej miring tentang polisi yang disebabkan kelakuan beberapa oknum kepolisian yang bertindak “nakal”, namun walaupun begitu hal tersebut tidak mengurangi kebanggaan dan tanggungjawab mereka saat memutuskan untuk menjadi petugas polisi yang ingin mengabdi dan melayani masyarakat, justru sebaliknya mereka yang benar-benar ingin bekerja dan mengayomi masyarakat kini berusaha keras menepis tudingan miring tersebut dengan benar-benar menjadi pengayom masyarakat, karena mereka percaya bahwa “oknum nakal” itu pasti ada di semua jenis profesi apapun itu, sedangkan pilihan untuk memegang teguh sumpah dan kode etik profesi berpulang kepada individu masing-masing, ia yang memilih apakah akan menjadi orang yang baik ataukah menjadi orang yang jahat, dan sebaik apapun profesi tersebut dijalankan pasti akan selalu ada pro dan kontra dari pihak-pihak luar yang melihatnya.

Beberapa anggota yang lain malah bercanda dengan menanyakan apakah kami berdua kabur dari rumah, sepertinya mereka tidak percaya jika kami berdua sudah menikah, yah beginilah resikonya punya wajah awet muda kyahahaha… mereka pun berkali-kali bertanya ini beneran gowes pake sepeda dari Jogja sampai sini, tidak numpang dimobil pick up atau bus, walah pak kalau bawaannya segini banyak, bus juga mikir-mikir buat kami tebengin gratis, dan berbagai pertanyaan standart lainnya seperti “apa tidak capek?”, ya jelas capek atuh, kalau cape ya istirahat dulu ntar baru lanjut lagi, kami kan bukan robot, bukan pula maniak gowes, kebetulan saja kami punyanya hanya sepeda, dan kami memang pingin jalan-jalan, piknik, tamasya, traveling tapi budgetnya terbatas, solusinya ya manfaatkan saja apa yang dipunya secara maksimal (dan mumpung usia serta tenaga masih sanggup), dan terbukti bertualang dengan cara seperti ini pada akhirnya membuat kami belajar banyak hal-hal baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang beraneka ragam, dan satu hal yang pasti perjalanan ini bukan hanya sekedar mengenai total jarak tempuh yang dilalui melainkan bagaimana perjalanan ini membawa perubahan terhadap cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan

Pengeluaran hari ini :
- Air Mineral 1,5L = Rp 5.200,-
- 2 Teh botol = Rp 5.000,-
- Toilet SPBU = Rp 2.000,-
- 2 porsi nasi sayur asem + 2 gorengan + 3 gelas es teh = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi sayur lodeh + 3 gelas es teh = Rp 16.000,-
- Roti = Rp 6.500,-
- 2 gelas teh manis = Rp 4.000,-
Total = Rp 52.700,-

Total jarak tempuh hari ini : 57,03km

Wednesday, 12 April 2017

CHAPTER 3; MUSEUM TRINIL


Jika kalian pernah tahu atau menonton sebuah film komedi box office berjudul “Night at Museum” yang dibintangi oleh Ben Stiller, dimana dalam film tersebut bercerita tentang seorang petugas jaga malam di sebuah Museum yang mengalami kejadian luar biasa dalam hidupnya saat ia mengetahui bahwa semua artifak sejarah yang ada didalam Museum yang dijaganya tersebut berubah menjadi hidup saat malam tiba, maka di malam kedua petualangan bersepeda kami, tiba-tiba ingatan tentang adegan dalam film tersebut kembali terlintas dalam pikiran.

Dengan suasana sekitar yang kurang lebih mirip dengan setting yang terjadi dalam film tersebut, yaitu saat ini kami bermalam di sebuah Museum yang menyimpan artefak dan fosil-fosil tulang belulang manusia serta hewan dari jaman prasejarah, tentunya akan sangat konyol sekali jika semua fosil tersebut kembali hidup seperti kejadian dalam film tersebut.

Setelah selesai bersih-bersih dan menggelar matras serta sleeping pad di pojok ruangan, sembari beristirahat saya pun menulis catatan singkat tentang apa saja yang terjadi diperjalanan hari ini, sedangkan diruang tengah tampak beberapa pekerja bangunan sedang asyik menonton tayangan televisi.

Jarum jam di dinding ruangan kantor menunjukkan pukul 8 malam, selagi asyik menulis seketika saya teringat jika malam ini perut kami belum terisi asupan makanan sedangkan sisa cemilan yang ada di pannier kami juga sudah habis, nah lho mana disekitar Museum juga tidak ada warung makan yang buka pula karena sudah malam. Untunglah disaat perut kami berdua sedang bersiap menggelar “orchestra kruyukan” tiba-tiba salah seorang pekerja bangunan menghampiri kami berdua sembari menawarkan makanan, Alhamdulillah benar-benar moment yang sangat tepat, ternyata Tuhan memang sangat penuh kasih terhadap hambanya yang tengah kelaparan ini.

Setelah perut terisi kini saatnya bagi kami untuk beristirahat, rencananya besok kami masih akan tetap berada di Museum Trinil ini, selain untuk memulihkan tenaga, kami juga ingin belajar tentang apa saja yang ada di Museum ini dan lokasi sekitarnya, baiklah selamat malam semua :)

Pagi menjelang diiringi sinar mentari yang perlahan mulai masuk kedalam ruangan kantor tempat kami menginap melalui sela-sela kisi jendela, huaaahhh… badan rasanya terasa segar setelah semalam tidur kami cukup nyenyak, baiklah saatnya beraktivitas mengisi hari ini, oya karena kamar mandi di bangunan kantor yang baru ini belum selesai proses finishingnya maka kami pun menumpang mandi dan mencuci baju di rumah salah seorang warga yang kebetulan juga bertugas menjadi pengurus museum.

Setelah proses bersih-bersih selesai kini saatnya menjelajahi area kompleks Museum Trinil ini dengan lebih leluasa dan jelas, area outbond yang kemarin rencananya menjadi tempat bermalam kami kini juga tampak lebih jelas (pantas saja kemarin kami diperbolehkan menginap di salah satu ruangan kantor karena fasilitas outbond dan camping ground yang ada belumlah selesai dibangun semuanya)


Secara garis besarnya area kompleks Museum Trinil ini terbagi menjadi beberapa zona, antara lain zona parkir kendaraan, zona aktivitas outbond dan bumi perkemahan yang sedang dibangun, bangunan kantor utama (termasuk ruang rapat tempat kami menginap, ruang tunggu, kamar mandi, janitor, dan 2 buah kamar sewa yang bisa digunakan bagi pengunjung yang ingin menginap), bangunan display Museum, Bangunan mushalla, pendopo, serta ruang laboratoriom dan audio visual yang saat kami berkunjung sedang dalam proses pembangunan supaya nantinya pengunjung dapat lebih tertarik untuk belajar tentang kegiatan arkeologi penemuan fosil dan sejarahnya.

Patung Gajah Purba yang menyambut pengunjung di pintu masuk area Museum


Bangunan Pendopo yang biasa digunakan sebagai tempat beristirahat


Bangunan Kantor Utama dimana kami menginap


Di ruang rapat inilah kami beristirahat


Bangunan Museum tempat display koleksi fosil


Seperti inilah isi bagian dalam ruang display Museum Trinil






Beberapa koleksi fosil yang dipamerkan





Kami juga dijelaskan mengenai awal proses penemuan fosil-fosil yang kini berada di dalam ruang display ini, kebanyakan penemuan fosil-fosil tersebut ditemukan oleh warga sekitar berada di aliran lembah Sungai Bengawan Solo Purba, sebagian masih tertimbun dalam tanah atau endapan lumpur namun ada juga yang berada di permukaan dalam bentuk fosil yang telah membatu. Oleh salah seorang warga bernama Wirodihardjo (lebih dikenal dengan sebutan Wirobalung) sejak tahun 1967 ia mengkoleksi dan menyimpan semua fosil temuannya tersebut dirumahnya, bahkan hampir sepertiga rumahnya terisi oleh fosil-fosil koleksinya, sehingga pada tahun 1980/1981 oleh Pemda setempat akhirnya didirikanlah sebuah Museum mini untuk menampung fosil-fosil koleksi Alm. Wirodihardjo tersebut, hingga akhirnya pada Tahun 1991 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur diresmikanlah Museum Trinil bertepatan dengan peringatan 100 tahun ditemukannya Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera berdiri tegak) oleh Eugene Dubois, seorang arkeolog asal Belanda yang hasil temuannya berupa fosil tulang paha, kepala dan berbagai fosil Binatang Prasejarah lainnya di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo Purba tersebut telah mendapatkan perhatian dari kalangan arkeolog internasional dan membuat nama Desa Trinil mendunia. Pembangunan Museum ini pun diharapkan dapat memberi manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, tempat rekreasi dan mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat sekitar

Setelah puas menjelajahi area kompleks Museum kini saatnya berjalan-jalan ke perkampungan yang ada di sekitar lokasi sembari mencari makan siang, di wilayah ini pula kami masih menemukan ada yang menjual nasi pecel seharga 3 ribu perak dan segelas teh manis hangat seharga 500 perak, yup kalian tidak salah membaca (dan saya juga tidak salah menulis hehe…) di tempat ini harganya bikin tercengang bayangkan ditahun 2015 ini masih ada tempat makan yang menjual segelas teh manis hangat seharga 500 perak, oohhh indahnya dunia hehe...:)

Suasana di dusun sekitar


Petuah bijak yang terpasang di dinding Masjid :)


Setelah makan “dengan bahagia”, kami lanjut lagi berjalan kaki santai menyusuri wilayah dusun sekitar, kehidupan disini masih sangat tenang (kelewat tenang malahan menurut saya alias sepiiii bingittt), ada sih beberapa warung tapi pembelinya ya tidak jauh dari anak-anak setempat, bagi beberapa pengunjung dari luar kota yang kebetulan ingin datang berkunjung ke Museum Trinil ini kalian mesti siap-siap membawa makanan dan minuman sendiri ya karena jarak antar warung disini lumayan jauh dan tidak ada angkot

Setidaknya perjalanan kali ini benar-benar membawa pengalaman baru dalam hidup kami berdua, mulai dari bertemu orang-orang baru, mempelajari hal-hal baru secara langsung, dan mulai percaya bahwa rencana Tuhan itu pasti indah hanya saja kita belum mengetahui akan seperti apa kejutan-kejutan berikutnya, namun yakinlah karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita

Besok saatnya memulai perjalanan dan petualangan baru berikutnya, apa yang akan terjadi kedepannya entahlah yang penting perjalanan ini belum akan berakhir, we still have a lot of stories to share, so keep following us

Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi sayur pecel + 2 gelas the manis + gorengan 6 buah = Rp 10.000,-
- 2 porsi soto ayam + 2 gelas es jeruk = Rp 16.000,-
- Air mineral 1,5L = Rp 5.000,-
Total = Rp 31.000,-

Tuesday, 3 January 2017

BENTENG VREDEBURG

Selamat Tahun Baru 2017 :) semoga di tahun yang baru ini segala sesuatunya akan menjadi lebih baik lagi.

Libur tahun baru pastinya identik dengan kegiatan berwisata, nah bagi kalian yang hendak mengunjungi Kota Yogyakarta namun masih bingung merencanakan mau kemana dan apa saja destinasi yang bisa dikunjungi di Yogyakarta mengingat di Propinsi Istimewa ini terdapat banyak sekali spot wisata yang sudah ada maupun yang baru bermunculan, coba deh masukkan Museum Benteng Vredeburg ke dalam susunan rencana perjalanan kalian selama berada di Yogyakarta.




Ada banyak alasan mengapa Museum Benteng Vredeburg harus dimasukkan kedalam susunan rencana perjalanan kalian, salah satunya adalah karena lokasi Museum ini yang sangat strategis. Museum Benteng Vredeburg berada di Jl. Ahmad Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122, dengan lokasinya yang ada di pusat kota yaitu tepat di titik nol km Kota Yogyakarta menjadikan akses untuk menuju Museum ini sangatlah mudah, jika kalian datang dengan menggunakan kereta api dari arah Stasiun Tugu, maka kalian tinggal berjalan kaki kearah Selatan menyusuri pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro sambil melihat dan merasakan suasana serta aktivitas perekonomian masyarakat sekitar, atau mencicipi aneka jajanan pasar yang ada di Pasar Beringharjo


Alasan lainnya berkaitan dengan keberadaan lokasi Museum ini yang strategis adalah disini selain berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa sekalian berkeliling ke berbagai spot lainnya yang ada tidak jauh dari lokasi Museum, antara lain Pasar Beringharjo yang letaknya bersebelahan di sisi utara Museum, di Pasar yang juga merupakan pasar tertua di Yogyakarta dan merupakan Bangunan Cagar Budaya ini kalian bisa menikmati aneka jajanan pasar dan makanan khas Jogja atau mencari souvenir seperti kreasi Batik dan lainnya. Selain itu bagi penggemar wisata belanja maka kalian juga bisa berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro untuk melihat dan mencari berbagai cenderamata khas Jogja. Dan jika kalian lelah sehabis berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro maka tidak perlu kuatir karena kini di sepanjang jalur pedestriannya telah disediakan banyak bangku-bangku untuk beristirahat.

Tidak hanya Pasar Beringharjo dan Malioboro saja yang menjadikan lokasi Museum Benteng Vredeburg ini strategis, karena tepat diseberang pintu masuk Benteng terdapat Bangunan Gedung Agung, yaitu bangunan yang kini digunakan sebagai Istana Presiden. Sedangkan diseberang Selatan Museum juga terdapat banyak bangunan Cagar Budaya bergaya arsitektur kolonial yang menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Dengan kata lain jika kalian mengunjungi Museum ini maka kalian juga bisa sekaligus menikmati banyak spot lainnya yang terdapat di sekitar area Benteng.



Dengan harga tiket masuk Museum yang relatif murah yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.000,- untuk anak-anak,serta jam buka Museum antara pukul 07.30 - 16.00 WIB kecuali pada hari senin dan hari libur nasional karena tutup maka tidak ada salahnya jika kalian menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat ini, selain sambil berekreasi kalian juga bisa sekaligus berwisata sejarah menambah pengetahuan dan wawasan

Benteng yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton awalnya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng Peristirahatan' kemudian berganti namanya pada tahun 1867, ketika di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg pun segera mengadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti 'Benteng Perdamaian'. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu





Didalam area Museum Benteng Vredeburg ini terdapat 2 bangunan utama yang berisi diorama dan foto-foto serta barang-barang peninggalan sejarah perjuangan para pahlawan bangsa ketika menghadapi masa penjajahan kolonial Belanda, yang menarik adalah disini juga disediakan fasilitas layar sentuh yang berisi keterangan singkat seputar diorama atau sejarah dari suatu peristiwa masa perang dahulu supaya pengunjung Museum mengerti apa yang terjadi di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran dimasa kini, terutama bagaimana menghargai hasil jerih payah para pejuang yang rela mengorbankan hidupnya supaya Indonesia bisa menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat sebagai satu kesatuan yang walau terdiri dari banyak suku, agama dan ras namun masing-masing bersedia berjuang dan melebur menjadi satu kesatuan.



Fasilitas layar sentuh yang berisi informasi peristiwa sejarah




Sculpture peristiwa ketika Ibu Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan






Disediakan juga game interaktif bagi pengunjung


Selain melihat isi bangunan utama dalam Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa berkeliling Benteng atau naik menyusuri tembok Pagar Benteng yang dahulu digunakan sebagai sebagai area patroli dan pertahanan


Saat ini bangunan Benteng Vredeburg sendiri selain digunakan sebagai Museum juga banyak digunakan sebagai latar pemotretan, karena dengan gaya arsitektur kolonialnya yang khas menjadikan banyak penikmat fotografi tertarik untuk mengabadikannya




Jadi tidak ada salahnya kan sesekali berwisata Museum? Karena dengan begini maka kita juga bisa belajar menghargai jasa para pejuang kemerdekaan, sekaligus juga kita akan tertantang untuk mengisi masa setelah kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan produktif, yang bisa menjadikan diri dan lingkungan sekitar kita lebih baik lagi

Monday, 26 December 2016

TEBING BREKSI

(25/12/2016) Bertepatan Dengan libur Natal kali ini yang jatuh di Hari Minggu, kami mencoba melakukan test ride sepeda lipat masing-masing dengan melakukan gowes wisata ke obyek wisata baru yang sedang popular yaitu Taman Tebing Breksi.

Lokasi Taman Tebing Breksi



Alasan pemilihan menggunakan sepeda lipat pun sebenarnya masih berhubungan dengan hobby kami yang suka traveling, dimana jika sepeda lipat yang kami gunakan saat ini ternyata cukup nyaman dan tangguh untuk dibawa dan digunakan saat bepergian maka kedepannya mungkin kami akan menggunakannya lagi supaya mobilitas di destinasi yang kami tuju juga akan menjadi lebih fleksibel
Taman Tebing Breksi sendiri sebenarnya dulu sudah pernah saya lewati saat melakukan goweswisata ke Candi Ijo, namun dahulu lokasi ini belumlah sepopuler seperti sekarang. Terlebih saat ini di Yogyakarta sendiri semakin banyak obyek wisata baru yang bermunculan yang dibuat oleh warga sekitar dengan menata lingkungan sekitarnya secara kreatif menjadi semacam Desa Wisata ataupun dengan mempercantik spot yang ada disekitarnya terutama yang memiliki keindahan panorama alam

Lokasi Tebing Breksi berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, tempat ini sendiri diresmikan sebagai tempat wisata umum pada tanggal 30 Mei 2015 lalu oleh Gubernur DIY. Untuk menuju kesana kita bisa memilih melalui Jalan Berbah atau Jalan Jogja-Solo yang mengarah menuju Prambanan lalu belok ke Selatan di Traffic light setelah jembatan atau sebelum Gapura Perbatasan Jogja-Jawa Tengah, panduan rutenya juga terbilang mudah karena kalian juga bisa mencarinya menggunakan fitur peta yang ada di smartphone atau GPS

Selain berkunjung ke Tebing Breksi, disini kalian juga bisa sekalian mengunjungi obyek-obyek wisata lainnya yang ada di sekitar lokasi ini, karena disepanjang rute menuju Tebing Breksi ini sendiri ada beberapa spot wisata lainnya seperti Candi Ijo, Batu Papal, Candi Barong, dan situs Arca Gupolo.

Untuk kondisi jalannya sendiri lebih baik kalian melakukan persiapan dan pengecekan kendaraan terlebih dahulu sebelum berangkat dikarenakan medannya lumayan menanjak curam, dan dengan lebar jalan yang hanya muat untuk dua buah kendaraan roda empat yang berpapasan serta terdapat beberapa titik jalan yang mengalami kerusakan maka akan lebih aman dan tenang jika kendaraan yang kalian gunakan berada pada kondisi yang prima terutama bagian remnya.

Di lokasi Tebing Breksi ini tidak ada tiket masuk, kalian hanya perlu membayar untuk retribusi parkir saja (motor Rp 2.000,- dan mobil Rp 5.000,-), dan karena kami berdua menggunakan sepeda maka seperti biasa tentu saja digratiskan hehe…

Bagian tersulit dari rute menuju Tebing Breksi ini tentu saja pada bagian tanjakannya, jarak tanjakannya sendiri sekitar 2km dari mulai bawah hingga menuju lokasi Tebing Breksi, sedangkan jika kalian ingin sekalian mengunjungi Candi Ijo yang berada di lokasi atasnya lagi, maka kalian tinggal berjalan kaki saja sekitar 200m

Antrian kendaraan yang hendak memasuki lokasi Taman Tebing Breksi


Spot parkir kendaraan yang cukup luas


Kesan awal yang saya dapat ketika menggunakan sepeda lipat untuk menanjak adalah di beberapa titik jalan yang memiliki derajat kemiringan cukup curam maka lebih baik bagian handlepost diturunkan supaya posisi tubuh menjadi menunduk, hal ini untuk mengurangi posisi roda depan terangkat, memang merepotkan karena harus berulangkali mengubah setting ketinggian handlepost sesuai kontur jalan yang dilalui tetapi setidaknya demi faktor keamanan maka repot sedikit tidak mengapa, solusi bagi kalian yang tidak ingin repot adalah dengan menuntun sepedanya atau meloading sepedanya ke kendaraan pick up yang lewat hehe…

Taman Tebing Breksi sendiri awalnya adalah lokasi penambangan batu Breksi, tebing batu ini sendiri sejatinya sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu terbentuk dari endapan abu vulkanik gunung api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul, namun karena bentuk tebing bebatuannya yang berwarna putih dan cukup tinggi membentang layaknya sebuah Benteng maka banyak wisatawan setempat yang tertarik untuk berfoto sebelum mereka mengunjungi Candi Ijo, oleh karena itulah kemudian warga disekitar lokasi ini berinisiatif untuk mencoba mengembangkan dan menata lokasi ini menjadi sebuah destinasi wisata yang baru dengan membuat ukiran-ukiran pada dinding tebing dan membuat semacam bangku-bangku yang membentuk lingkaran mengelilingi sebuah panggung pertunjukan yang biasa digunakan untuk mementaskan acara kesenian


Ukiran-ukiran yang dibuat pada dinding tebing


Karena kami berkunjung pada musim libur Natal dan Tahun Baru maka beginilah situasinya, ramai sekali


Dari atas Tebing Breksi kita bisa melihat view panorama Kota Jogja dan Bayangan Gunung Merapi




Bangku-bangku dan panggung yang digunakan saat ada pementasan acara kesenian (Tlatar Seneng)


Salah satu bentuk ukiran yang ada di dinding tebing



Bahkan disediakan pula spot yang khusus untuk berfoto


Ayo 1.. 2.. 3.. senyum.. cekrek


Setelah puas mengambil beberapa foto ditempat ini, kami pun beranjak untuk pulang karena hari semakin beranjak siang dan panas. Di perjalanan pulang kami pun tidak lupa menyempatkan untuk mampir ke Situs Arca Gupolo karena penasaran seperti apa tempatnya


Dalam lokasi Situs Arca Gupolo ini berisi 3 buah Patung atau Arca, terdiri dari dua buah arca orang yang sedang duduk bersila (seperti arca Buddha), dan satu lagi arca manusia yang berdiri tegak dengan menggenggam senjata tombak trisula (seperti arca Dewa pada Candi-candi Hindu), sayangnya di sekitar lokasi ini tidak ditemui keterangan informasi apapun mengenai keberadaan arca-arca tersebut, satu-satunya informasi yang ada hanyalah papan penanda bahwa lokasi ini merupakan cagar budaya



Setelah selesai berkeliling di sekitar Situs Arca Gupolo ini kini saatnya kembali pulang dan menulis catatan gowes hari ini, apakah tantangan sudah berakhir? Tentu saja tidak, tantangan berikutnya adalah menuruni rute yang memiliki derajat kemiringan curam ini hehe… hmm… sepertinya sepeda lipat ini bisa dipertimbangkan untuk dibawa menjelajah destinasi-destinasi berikutnya, hanya saja perlu penyesuaian sedikit lagi, namun untuk menjelajah di medan-medan yang sulit dan keras sepertinya memang sepeda berukuran roda 26” memang yang paling sesuai, namun apapun jenis sepedanya petualangan goweswisata pastinya masih akan terus berlanjut, simak terus petualangan kami ya :)