Sunday 23 April 2017

CHAPTER 4; SANG PENGAYOM MASYARAKAT

Minggu, 20 Desember 2015,

Minggu pagi merupakan waktu yang paling pas untuk beristirahat (bahasa asyiknya yaitu leyeh-leyeh kalau kata orang Jawa), trus nonton Doraemon, namun justru tepat di hari inilah waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh warga Dusun Trinil terutama kepada para pengurus Museum Trinil (Pak Agus, Pak Catur, Pak Sumadi dan Mas Tarmudji) yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap dan belajar banyak hal seputar dunia arkeologi, Museum, dan nilai kehidupan yang kami dapatkan dari orang-orang baik yang ada disini

Setelah (seperti biasa) menumpang mandi dirumah salah seorang pengurus, kami pun mulai mempacking semua panniers, cek… cek…cek… ok, tidak ada yang tertinggal, sembari berpamitan kami pun mendokumentasikan “acara foto bersama” hehe… oya disini ada hal menarik yang sampai sekarang masih terngiang diingatan kami berdua yaitu ketika kami mengucapkan terimakasih sekaligus bertanya alasan apa yang membuat Pak penjaga serta semua pengurus Museum mengijinkan kami menginap di dalam area Museum sedangkan kami berdua bukanlah pengunjung dalam artian spesifik yang benar-benar datang untuk berkunjung ke suatu obyek wisata, maksudnya kedatangan kami berdua ini sebenarnya kurang lebih sama seperti musafir yang sedang mencari tempat beristirahat sementara, oleh karena itulah ada rasa penasaran yang menggelitik benak kami untuk bertanya apa alasan yang membuat mereka percaya kepada kami (hari gini jarang-jarang lho ada orang yang benar-benar percaya kepada orang asing alias musafir atau pengembara, kalo kami ternyata maling Museum gimana hehe…), dan jawabannya wow sungguh bijak sekali, adem rasanya mendengar jawabannya, ia mengatakan seperti ini,” Mas, Mbak, kalau saya menolong orang itu pada dasarnya saya ikhlas-ikhlas saja semampu saya, saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa, biar Gusti Allah saja yang membalasnya, lagipula saya juga yakin kalau saya berbuat hal yang baik nantinya pasti anak-anak saya yang akan menerima hasilnya jika suatu saat mereka sedang dalam kesusahan, pasti nantinya ada hal baik yang akan memudahkan mereka”. Jadi intinya ia melakukan hal baik seperti ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri saja melainkan juga untuk orang lain (dalam hal ini anak-anak dan lingkungan sekitarnya), nah bayangkan pemikiran sesederhana itu ternyata masih ada dan kami dapatkan dari orang yang mungkin di mata masyarakat pada umumnya bukanlah sosok yang berpengaruh, ia hanyalah orang biasa dari kalangan ekonomi menengah, bukan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat professor, ia hanya sosok warga dusun sederhana biasa yang berprofesi sebagai seorang penjaga Museum dan petani, namun justru dengan jawaban seperti itulah maka ia terasa istimewa sekali bagi kami, sangat kontras dengan apa yang sering kami lihat di Media dan lingkungan masyarakat perkotaan dimana banyak orang yang berpendidikan tinggi namun bukannya mencerdaskan lingkungannya malah “minteri orang sekitarnya alias menipu”, ia pun bukanlah orang yang hidupnya berkecukupan tetapi mencukupkan dirinya dengan rejeki yang sudah menjadi haknya.


Disaat seperti inilah kadang membuat kami bertanya-tanya tentang sistem pendidikan seperti apakah yang berjalan di negeri ini, apakah sistem pendidikan yang membangun moral dan jiwa manusianya ataukah sistem pendidikan yang hanya membangun tampilan fisik atau raga manusianya, karena banyak orang-orang bertitel hebat diluar sana dengan sederet gelar akademis yang panjangnya kaya gerbong kereta api namun justru berakhir dalam bui karena tertangkap merugikan Negara dan mengambil hak orang lain, atau tidak membawa manfaat apapun bagi lingkungan sekitarnya, dan jujur saja di wilayah Dusun Trinil ini tidak ada bangunan sekolah yang mentereng dan mempunyai fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah yang ada kota besar, semua tatakrama dan nilai kehidupan yang dipegang masyarakat disini kebanyakan malah dibangun dan didapat dari lingkungan keluarganya masing-masing (kalau di kota besar malah kebalikannya, mayoritas lingkungan keluarga menyerahkan pendidikan anak kepada pihak luar seperti sekolah atau tempat les, sehingga orangtua hanya tahu beres saja, yang penting anak sudah sekolah dan harus pintar mengerti semuanya, dapat nilai bagus, lulus, dapat titel, dan lainnya) Hmmm… sesaat jadi teringat dengan lirik lagu Nasional kita yang mengatakan “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, dimana kata “Jiwa” berada diawal atau lebih dulu dibanding kata “Badan”, mungkin inilah yang dimaksud oleh sang penulis lirik supaya Indonesia nantinya menjadi Bangsa yang besar, semoga nantinya cita-cita besar itu dapat terwujud :)

Selepas keluar dari jalan masuk Dusun Trinil kami kembali harus melalui deretan Hutan Jati yang ada di sepanjang sisi jalan, kontur jalannya kebanyakan datar tetapi kondisinya hmmmm… ya begitu deh (tanpa saya jelaskan secara detail tentunya kalian sudah paham kan maksudnya hehe), cuaca hari ini pun cukup cerah, terlalu cerah malah alias panas terik, sehingga kami dihajar panas terik dari atas (sinar matahari) dan dari bawah (pantulan panas aspal) hingga akhirnya goodbye Kota Ngawi


Gara-gara cuaca panas yang aduhai tersebut akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi energi dengan makan siang (dirapel dengan sarapan), cara memilih menunya tentu saja dengan melihat deretan angka-angka yang ada di bagian kanan daftar menu terlebih dulu, kalau nominal angkanya bersahabat baru deh kami melihat ke keterangan yang ada di sebelah kirinya (alias nama menunya huehehe) akhirnya terpilihlah menu seperti ini jreng… jreng… (tuh liat karena judulnya petualangan bersepeda maka gelas minumnya saja sampai ada hubungannya dengan dunia persepedahan)


Setelah selesai makan harusnya energi kembali penuh (harusnya) tetapi yang ada malah jadi ngantuk, maklum cuacanya panas bener, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, selesai tidak selesai harus dikumpulkan (lho?), maksudnya the journey must go on, harus tetap dimulai gowesnya walau pelan yang penting bisa maju dikit-dikit sampai akhirnya…


Walau sudah memasuki Kabupaten Madiun tetapi kami memilih tidak masuk menuju Kotanya karena rutenya tidak searah dengan rute awal kami yang hendak menuju Saradan. Dan masih dalam episode ngantuk sebelumnya ditambah bonus cuaca yang panas akhirnya membuat kami beristirahat (lagi), daripada dipaksain ntar malah ngadat mending sesuka hati dan dengkul saja pola gowesnya hehe…


Karena kelamaan istirahat akhirnya menjelang sore hari kami baru tiba di Daerah Saradan, tepatnya sebelum memasuki kantor polisi Saradan yang dekat dengan perumahan tentara, tadinya kami hendak lanjut namun semakin sore ternyata lalu lintas di ruas jalan ini cukup berbahaya, selain karena ruas jalan yang sempit dan bergelombang juga karena banyak bus besar dan truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi kami juga tidak tahu seberapa panjang jarak ruas jalan yang melalui area hutan ini.

Melihat kondisi lalu lintas yang berbahaya dan waktu yang semakin sore menjelang maghrib akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di etape ini, tengok kiri-kanan mencari tempat yang pas untuk bermalam tapi tidak terlihat ada bangunan masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya sekiranya kami diijinkan bermalam atau mendirikan tenda di dekat kompleks perumahan tentara, namun karena tidak ada pihak yang bisa dimintai ijin dan daripada semakin malam akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba meminta ijin bermalam di kantor polisi Saradan yang kami lewati sebelumnya (yak putar arah lagi)

Sesampainya di kantor polisi jantung langsung berdegup kencang (maklum ini baru pertama kalinya kami mencoba minta ijin bermalam di kantor polisi yang lumayan besar seperti ini),kalau dulu mah ke kantor polisi biasanya cuma buat ngurus SKCK, untungnya ada polisi yang sempat melihat kami sewaktu melintas sebelumnya, ia pun bertanya asal dan tujuan kami, setelah menjelaskan asal dan tujuan kami serta maksud kedatangan kami untuk minta ijin bermalam, kami pun di perbolehkan menginap di salah satu bangunan bhayangkari yang biasa digunakan untuk mengurus administrasi warga. Buat yang sedang touring dan bingung tata cara minta ijin menginap di kantor polisi nah ini dia tipsnya ala goweswisata :

1. Datanglah ke kantor polisi yang menjadi tujuan menginap, jangan ke kantor yang lain
2. Pasang ekspresi senyum (walau jantung dag dig dug)
3. Tanya ke petugas jaga yang ada di bagian depan, jelaskan maksud kedatangan secara sopan, nanti petugas akan meminta kartu
identitas anda untuk disimpan diruang piket tapi bisa diambil lagi besok pagi saat kalian mau berangkat
4. Tanyalah diruang mana sekiranya kalian bisa menginap (biasanya sih di Mushalla atau di bangunan serbaguna kalau ada), jangan
lupa sekalian tanya kamar mandinya dimana
5. Bagi yang sedang touring berpasangan selain kartu identitas lebih baik jika kalian juga membawa fotocopy buku nikah, kalau
ada surat jalan lebih bagus tapi jika tidak ada juga tidak apa-apa (kami juga tidak pakai surat jalan kok)
6. Jangan nyampah diruangan yang kalian gunakan untuk tidur, tetap jaga kebersihan ya

Nah mudah kan caranya, dan jauh lebih aman dibandingkan jika kalian menginap di SPBU karena disini barang-barang kalian aman dijagain sama polisinya (bahkan sepeda-sepeda kami saja malah disuruh taruh didalam ruangan sekalian biar aman), selain itu boleh minta refill air minum pula hehe. Pokoknya segala kesan seram tentang sosok polisi seketika lenyap (tapi kurang tau kalau polisi di kota besar sama atau tidak, kalau polisi-polisi yang ada di daerah biasanya malah lebih baik dan asyik), disini kami juga diajak ngobrol dan makan oleh para polisinya, mereka justru tertawa saat kami bilang kirain polisi itu galak-galak, mereka bilang kalau di daerah mah beda mas, disini karena ruang lingkupnya kecil dan yang dilayani kebanyakan adalah masyarakat sekitar jadi pola yang diterapkan adalah ngemong atau menjadi pengayom warga, lagipula disini biasanya antar warga saling kenal karena sering bertemu, tapi kurang tau dengan pola yang diterapkan kepolisian di kota besar atau pusat.

Kantor Polisi Saradan


Bangunan tempat kami bermalam



Selain itu banyak pula anggota yang lain yang ujung-ujungnya malah curcol ketika bercerita tentang suka dukanya menjadi anggota polisi, terlebih dengan imej miring tentang polisi yang disebabkan kelakuan beberapa oknum kepolisian yang bertindak “nakal”, namun walaupun begitu hal tersebut tidak mengurangi kebanggaan dan tanggungjawab mereka saat memutuskan untuk menjadi petugas polisi yang ingin mengabdi dan melayani masyarakat, justru sebaliknya mereka yang benar-benar ingin bekerja dan mengayomi masyarakat kini berusaha keras menepis tudingan miring tersebut dengan benar-benar menjadi pengayom masyarakat, karena mereka percaya bahwa “oknum nakal” itu pasti ada di semua jenis profesi apapun itu, sedangkan pilihan untuk memegang teguh sumpah dan kode etik profesi berpulang kepada individu masing-masing, ia yang memilih apakah akan menjadi orang yang baik ataukah menjadi orang yang jahat, dan sebaik apapun profesi tersebut dijalankan pasti akan selalu ada pro dan kontra dari pihak-pihak luar yang melihatnya.

Beberapa anggota yang lain malah bercanda dengan menanyakan apakah kami berdua kabur dari rumah, sepertinya mereka tidak percaya jika kami berdua sudah menikah, yah beginilah resikonya punya wajah awet muda kyahahaha… mereka pun berkali-kali bertanya ini beneran gowes pake sepeda dari Jogja sampai sini, tidak numpang dimobil pick up atau bus, walah pak kalau bawaannya segini banyak, bus juga mikir-mikir buat kami tebengin gratis, dan berbagai pertanyaan standart lainnya seperti “apa tidak capek?”, ya jelas capek atuh, kalau cape ya istirahat dulu ntar baru lanjut lagi, kami kan bukan robot, bukan pula maniak gowes, kebetulan saja kami punyanya hanya sepeda, dan kami memang pingin jalan-jalan, piknik, tamasya, traveling tapi budgetnya terbatas, solusinya ya manfaatkan saja apa yang dipunya secara maksimal (dan mumpung usia serta tenaga masih sanggup), dan terbukti bertualang dengan cara seperti ini pada akhirnya membuat kami belajar banyak hal-hal baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang beraneka ragam, dan satu hal yang pasti perjalanan ini bukan hanya sekedar mengenai total jarak tempuh yang dilalui melainkan bagaimana perjalanan ini membawa perubahan terhadap cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan

Pengeluaran hari ini :
- Air Mineral 1,5L = Rp 5.200,-
- 2 Teh botol = Rp 5.000,-
- Toilet SPBU = Rp 2.000,-
- 2 porsi nasi sayur asem + 2 gorengan + 3 gelas es teh = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi sayur lodeh + 3 gelas es teh = Rp 16.000,-
- Roti = Rp 6.500,-
- 2 gelas teh manis = Rp 4.000,-
Total = Rp 52.700,-

Total jarak tempuh hari ini : 57,03km

No comments:

Post a Comment