Showing posts with label Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan. Show all posts

Saturday, 20 October 2018

CHAPTER 48; TIME TO GO HOME

1 April 2016,
Tepat di hari ke-107 perjalanan bersepeda gowes wisata, akhirnya kami berdua memutuskan bahwa inilah saatnya untuk kembali pulang ke Yogyakarta, hal ini bukanlah sekedar candaan April Mop, keputusan untuk kembali pulang ke Jogja ini kami ambil dengan beberapa pertimbangan, faktor pertama adalah karena akan datangnya Bulan Ramadhan, dimana hal ini otomatis akan sangat mempengaruhi faktor berikutnya yaitu berubahnya pola perjalanan ini, karena kami harus mengatur ulang pola waktu dan jarak tempuh yang biasa kami lakukan selama ini dengan memperhitungkan faktor stamina selagi berpuasa, dan hal ini jelas akan sangat merepotkan, kemudian faktor terakhir yang paling penting adalah menyangkut faktor budget atau anggaran perjalanan, karena biasanya pada saat Bulan puasa harga-harga kebutuhan pokok akan sedikit meningkat, dan tak hanya harga kebutuhan pokok saja, harga transportasi (tiket kapal, bus, kereta api dan pesawat) biasanya juga akan melonjak terutama mendekati minggu terakhir bulan puasa atau menjelang Hari Raya Iedul Fitri

Atas dasar faktor-faktor tersebutlah akhirnya kami pun memutuskan untuk bersiap kembali pulang ke Yogyakarta sebelum memasuki Bulan Ramadhan. Beberapa persiapan pun segera kami lakukan mulai dari memesan tiket penerbangan secara online (karena jauh lebih murah), mempreteli sepeda-sepeda kami supaya lebih mudah dipacking kedalam kardus, dan menyortir beberapa barang bawaan yang sudah tidak kami gunakan lagi

Untungnya Mas Danang turut membantu kami menyiapkan semua hal ini dengan menyediakan kardus-kardus untuk mempacking sepeda kami serta membantu pemesanan tiket pesawat secara online sehari sebelumnya.


Bagi kami berdua hal ini jelas merupakan pengalaman baru, karena seingat saya terakhir kali saya naik pesawat adalah sewaktu SMU, mungkin kira-kira sudah 20 tahun yang lalu, sedangkan bagi Agit sendiri, naik pesawat adalah hal yang pertama kali baginya, jadi bayangkan saja bagaimana senangnya dia ketika mengetahui bahwa kami akan pulang menggunakan pesawat terbang, oleh sebab itu ketika sehari sebelumnya Mas Danang mengajak kami ke Bandara Sepinggan Balikpapan untuk menunjukkan (mengajari) kami berdua perihal prosedur yang harus kami lalui esok hari, kami pun seketika berasa menjadi “wong Ndeso” hehe…:)

Setelah puas berkeliling melihat Bandara Sepinggan yang merupakan Bandara terbaik di Indonesia ini kami pun segera kembali ke tempat Pak Topo untuk mulai melakukan packing sepeda-sepeda

Dan akhirnya tibalah hari keberangkatan kami, setelah kemarin kami sudah berpamitan kepada Mas Danang dan keluarganya, kini kamu pun berpamitan kepada Pak Topo yang telah banyak membantu sejak pertama kali kami tiba dan selama berada di Kota Balikpapan ini, kami pun diantarkan sampai ke Bandara Sepinggan oleh Beliau

Di Bandara Sepinggan ini kami mulai melakukan prosedur pertama yaitu menimbang semua bawaan kami yang ternyata hasilnya membuat kami terkejut, karena setelah ditimbang ternyata semua barang bawaan kami melebihi batas yang diperbolehkan (per orang hanya mendapat bebas bagasi untuk 20kg), atau dengan kata lain kami terkena over bagasi dan harus membayar kelebihan berat tersebut, kami pun juga harus mempacking ulang beberapa barang supaya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untungnya kami sudah tiba di Bandara ini jauh lebih awal daripada jadwal keberangkatan pesawat yang akan kami naiki sehingga kami tidak terlalu panik dan terburu-buru



Setelah selesai mempacking dan menimbang ulang semua bawaan serta membayar denda kelebihan bagasi kini kami hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan kami saja

Begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara jika pesawat yang kami naiki telah siap di landasan dan semua penumpangnya dipersilahkan untuk memasuki pesawat, kami pun bersiap untuk menaiki pesawat, dari balik jendela ruang tunggu kami juga sempat melihat barang bagasi penumpang lainnya yang sedang diatur masuk kedalam pesawat

Didalam pesawat para pramugari terlihat sibuk membantu penumpang mencari nomer bangkunya sembari menjelaskan prosedur keselamatan di dalam pesawat jika sewaktu-waktu terjadi kejadian darurat, kami pun mendengarkannya sambil melihat pemandangan dari balik jendela pesawat sampai akhirnya pesawat pun mulai take off menuju ke Yogyakarta

Waktu tempuh perjalanan menggunakan pesawat dari Kota Balikpapan menuju ke Kota Yogyakarta terbilang relatif singkat, yaitu hanya sekitar 45 menit sampai satu jam saja padahal jarak antara keduanya terpisah oleh pulau yang berbeda yaitu Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa, sewaktu pesawat mulai mengudara dan berada diketinggian kami sempat melihat daratan Pulau Kalimantan yang terlihat semakin mengecil ketika pesawat mulai melintasi lautan dan terbang semakin tinggi hingga berada diantara awan sampai kemudian pesawat mulai merendah begitu memasuki wilayah udara Pulau Jawa, dan mulai melakukan proses landing setibanya di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Ya, akhirnya kini kami telah sampai kembali di Kota awal dimana kami berdua memulai perjalanan bersepeda jarak jauh gowes wisata ini



Lalu apakah perjalanan dan petualangan bersepeda gowes wisata ini telah berakhir? Apakah semuanya telah selesai? Tentu saja tidak, karena sebuah petualangan yang sempurna tidak akan pernah berakhir, ia mungkin dapat dimulai namun ia tidak akan pernah berakhir, disaat satu seri petualangan telah usai selalu saja ada seri petualangan berikutnya untuk dimulai, selalu ada tempat dan keunikan-keunikan baru untuk dijelajahi dan diceritakan. Jika kalian menyukai cerita-cerita petualangan yang kami sajikan pada website goweswisata.com ini maka pastikan kalian tetap terus mengikuti dan mensupport petualangan kami dengan cara memfollow, like, subscribe ataupun sekedar comment pada akun sosial media yang kami kelola, karena semua hal tersebut menjadi “tenaga” dikala kami sedang lelah dan berusaha mencari serta menyajikan informasi-informasi seputar pariwisata kepada kalian semua :)

Pengeluaran hari ini :

- 2 tiket pesawat lion air = Rp 891.136,-
- taxi bandara balikpapan = Rp 60.000,-
- packing = Rp 70.000,-
- over bagasi = Rp 750.000,-
- 2 porsi makan = Rp 12.000,-
- minum+jajan = Rp 7.000,-

Total = Rp 1.790.136,-

Wednesday, 19 September 2018

CHAPTER 47; HUTAN MANGROVE MARGO MULYO

Masih di hari yang sama seperti pada chapter sebelumnya, jika tadi kita sudah puas berkeliling sekaligus belajar mengenai hewan reptil yaitu buaya di Penangkaran Buaya Teritip, maka kali ini kami kembali melanjutkan acara jalan-jalan di Kota Balikpapan dengan mengunjungi spot wisata berikutnya yaitu menuju ke kawasan konservasi Mangrove Margo Mulyo, seperti apa ya tempatnya? Yuk kita c’mon let’s go

Berlokasi di belakang sebuah Sekolahan, tepatnya SMUN 8, di Jalan AMD Gunung 4, RT 42, Kelurahan Margo Mulyo, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur, kawasan konservasi Mangrove seluas 16,8 ha yang pembuatannya diprakarsai oleh warga sekitar, yaitu Kelompok Tani Tepian Lestari bekerjasama dengan Balai Lingkungan Hidup pada Tahun 2006 ini, kini telah menjadi sebuah lokasi kawasan konservasi tumbuhan bakau yang sekaligus juga berfungsi sebagai kawasan taman kota, wisata alam, wisata pendidikan, tempat penelitian dan pengembangan, serta habitat bagi beberapa flora dan fauna seperti kepiting, burung raja udang, monyet bekantan, dan masih banyak lagi lainnya


Jika kalian ingin mengunjungi lokasi konservasi Mangrove Margo Mulyo yang berjarak sekitar 9 km dari pusat Kota Balikpapan ini, maka cara termudahnya selain menaiki kendaraan pribadi adalah kalian bisa naik ojek dari depan Pasar Inpres Kebun Sayur, dikarenakan sejauh ini belum ada angkutan umum yang rutenya melewati tempat ini

Nanti setibanya di depan SMUN 8 kalian hanya tinggal masuk saja melalui gang yang berada disamping gedung SMU tersebut, akses jalannya berupa jembatan kayu, oya ditempat ini belum ada tarif retribusi resmi yang dikenakan alias masih gratis, kalian hanya tinggal membayar seikhlasnya saja kepada warga yang memegang kunci masuk kawasan Mangrove ini, sedangkan untuk jam operasionalnya sendiri tempat ini buka mulai dari jam 08.00 – 17.30 WITA

Setelah Mas Danang memarkirkan kendaraannya disamping Gedung SMUN 8, kami berempat mulai menapaki jembatan kayu yang merupakan akses untuk masuk menuju ke kawasan konservasi Mangrove ini, namun begitu kami sampai di depan pintu masuknya ternyata pintu sudah dalam keadaan tetutup dan terkunci, padahal waktu masih menunjukkan sekitar pukul 16.00 WITA, memang sih kedatangan kami agak kesorean sehingga mungkin karena sudah sepi dan dikira tidak bakal ada pengunjung lagi akhirnya oleh warga yang bertugas menjaga pintunya pun ditutup, untungnya kali ini bukan hanya kami berempat saja yang datang ke kawasan mangrove ini, selain kami berempat tampak juga beberapa pengunjung lain yang sepertinya merupakan kelompok pengguna jasa tour travel, akhirnya salah seorang dari mereka yang sepertinya merupakan tour guidenya menelepon seseorang dan tak berapa lama kemudian datanglah seorang warga yang membawa kunci dan membuka pintu masuk kawasan ini, bersama-sama kami pun mulai memasuki kawasan mangrove Margo Mulyo ini




Dengan jalur sirkulasi berupa jembatan kayu yang diapit oleh tanaman bakau disepanjang sisinya kami pun mulai berkeliling masuk ke dalam kawasan ini, dibeberapa sudut akar bakau kami melihat beberapa kepiting kecil yang bergerak masuk kedalam liang-liang yang mereka buat, disini kami juga sempat melihat seekor monyet bekantan yang sedang asyik duduk di puncak salah satu pohon, namun karena keterbatasan fitur kamera kami tidak dapat mengambil gambarnya





Sayangnya dibeberapa titik kawasan ini masih banyak terlihat sampah yang tersangkut diakar-akar tanaman bakau, selain tidak sedap dipandang mata, keberadaan sampah-sampah yang semakin banyak ini dikuatirkan dapat mengganggu habitat flora dan fauna yang ada dikawasan ini, oleh karena itu jika kalian berwisata ke tempat ini tetap ingat untuk membantu menjaga kebersihannya ya, salah satunya dengan cara tidak membuang sampah secara sembarangan








Semakin masuk kedalam kawasan ini kami juga melihat ada beberapa pos dan menara pengawas yang sepertinya digunakan untuk kegiatan penelitian hewan-hewan dan ekosistem dikawasan ini, dan bagi kalian yang sedang asyik menyusuri kawasan ini sembari mendokumentasikan atau berselfie-ria tetap berhati-hati dan perhatikan jalan ya, supaya kepala kalian tidak terantuk dahan dan ranting pepohonan yang terkadang membentang rendah







Setelah puas berkeliling menyusuri dan mendokumentasikan pemandangan yang ada di kawasan mangrove Margo Mulyo, kini saatnya kami untuk kembali ke kost tempat kami menetap sementara di Kota Balikpapan, di perjalanan pulang kami sempat diajak berkeliling sejenak oleh Mas Danang melewati beberapa ruas jalan utama Kota Balikpapan, karakter dari sebuah kota modern industri hasil tambang tampak terasa, dengan ruas jalan yang lebar, rapi, dan bersih serta tidak begitu padat layaknya Jakarta, namun aktivitas dan semangat yang dimiliki warga kota ini dalam menjaga dan membangun wilayahnya terasa kuat, walaupun masih ada beberapa kekurangan seperti seringnya terjadi mati listrik dan sulitnya pasokan air namun seiring kerja keras yang dilakukan segenap elemen masyarakat dan pemerintah daerahnya niscaya kedepannya semua masalah-masalah tersebut pasti dapat teratasi, tak heran jika Kota Balikpapan pada akhirnya telah beberapa kali terpilih menjadi Kota Terbersih dan menyabet beberapa penghargaan bertaraf internasional

Ada cerita apa lagi di chapter berikutnya? terus ikuti kisah petualangan kami dan support terus petualangan goweswisata, bukan tidak mungkin kedepannya kalianlah yang akan terus melengkapi detail cerita ini seiring kalian memulai cerita perjalanan masing-masing, karena maybe Indonesia it’s not perfect but Indonesia is awesome for sure, jelajahi dan kenalilah negerimu serta cintailah negerimu, yuk kita bangun Indonesia menjadi lebih baik dan menjadi generasi yang memberi solusi, bukan menjadi generasi yang hanya bisa mencaci dan menyinyir :)

Tuesday, 4 September 2018

CHAPTER 46; PENANGKARAN BUAYA TERITIP

Memulai petualangan goweswisata hari pertama di Kota Balikpapan ini enaknya ngapain ya? Oya di Kota ini kami juga mendapat seorang sahabat baru sesama rekan pesepeda, dimana perkenalan antara kami dengan Beliau yang bernama Mas Danang ini berawal dari sosial media yang akhirnya setibanya kami di Kota Balikpapan ini perkenalan dari dunia maya itu pun berlanjut menjadi kopdar, nah pada petualangan kali ini Beliaulah yang menjadi guide kami menjelajahi seluk-beluk Kota Balikpapan

“Di Balikpapan mah tidak ada obyek wisata Mas, makanya jarang dan aneh kalau mendengar orang pergi ke Kota Balikpapan ini dengan tujuan berwisata”, Hah masa sih? Begitu pikir saya ketika Mas Danang menjelaskan seputar Kota Balikpapan, ia sendiri sebenarnya bukanlah warga asli Kalimantan, melainkan orang Jawa yang kebetulan tinggal di Kota Balikpapan karena berhubungan dengan pekerjaannya, masa iya ada suatu daerah di Indonesia ini yang sama sekali tidak memiliki obyek wisata? Benar-benar tidak ada lokasi atau semacam spot yang menarik apa gitu?

Sebenarnya kata-kata bahwa Kota Balikpapan tidak memiliki obyek wisata sudah kami dengar sebelumnya dari Pak Topo, pemilik kost tempat kami menumpang selama berada di kota ini, tetapi kami berpikir bahwa mungkin Pak Topo-nya saja kali yang kurang piknik jadi tidak tahu obyek wisata apa saja yang ada di Balikpapan, eladalah sekarang kata-kata tersebut kami dengar lagi dari seseorang yang hobbynya bersepeda menjelajah, tapi masa iya sih di Indonesia ada tempat yang nihil lokasi wisatanya? Rasanya tidak mungkin ah, apalagi orang Indonesia kan hobbynya narsis, jadi pasti adalah tempat atau semacam spot keren buat ber-narsis ria

Kota Balikpapan sendiri lebih dikenal oleh khalayak sebagai Kota pertambangan dengan biaya hidup yang relatif tinggi di Indonesia, sebenarnya wajar saja jika biaya hidup didaerah ini cukup tinggi karena walaupun terkenal kaya dengan hasil tambangnya, yang mana hal ini otomatis akan relevan dengan besaran pendapatan masyarakatnya, namun untuk memenuhi ketersediaan barang-barang kebutuhannya sebagian besar masih bergantung dan mendatangkannya dari wilayah lain di luar Pulau Kalimantan, semisal untuk bahan makanan pokok seperti beras dan lainnya kebanyakan masih dikirim dari Sulawesi, lalu untuk kebutuhan produk sandangnya kebanyakan masih mengandalkan kepada Pulau Jawa, nah hal-hal seperti inilah yang menyebabkan harga-harga kebutuhan masyarakat di wilayah ini menjadi cukup tinggi

Biaya hidup yang cukup tinggi ini pulalah yang pada akhirnya membuat kami berdua juga menjadi sedikit mumet, karena hal ini otomatis berimbas kepada budget anggaran harian perjalanan kami, apalagi jika melihat dari faktor pendapatan daerah dimana kami berdua berasal, yaitu dari suatu daerah di Indonesia dengan Tingkat UMR terendah dan biaya hidup termurah, yaitu Yogyakarta, dan kini berkunjung ke suatu daerah yang memiliki tingkat pendapatan terbesar dan biaya hidup tinggi, yaitu Kota Balikpapan, nah njomplang kan jadinya, oleh karena itulah kami berusaha mencari strategi untuk mensiasati pengeluaran harian kami, terutama budget untuk memenuhi kebutuhan pangan

Terlepas dari itu semua, hari ini rencananya Mas Danang akan mengajak kami mengunjungi suatu tempat yang beberapa waktu lalu sempat diliput oleh salah satu stasiun tv swasta untuk program acara travelingnya, katanya sih semenjak tempat tersebut diliput kini lokasinya rada nge-hits gitu, okelah kita mah manut wae

Berempat (kami berdua serta Mas Danang dan Istrinya) akhirnya meluncur menuju ke lokasi tersebut menggunakan kendaraan pribadi milik Mas Danang, selain karena cuaca hari ini di Kota Balikpapan yang mendung dan gerimis, juga dikarenakan lokasinya sendiri yang cukup jauh, sekitar 25km dari pusat kota

Setelah sempat sedikit tersasar akhirnya kendaraan yang membawa kami berempat pun mulai memasuki lokasi “yang katanya semacam spot wisata” ini, yaitu sebuah Penangkaran Buaya terbesar yang ada di Kota Balikpapan, tempat ini sendiri lebih populer atau dikenal dengan nama Penangkaran Buaya Teritip dikarenakan lokasinya yang berada di Jalan Mulawarman no.60, Desa Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur. Letaknya sendiri tak jauh dari Pantai Manggar dan Pantai Lamaru




Ditempat yang memiliki luas area sekitar 5ha dan dikelola oleh CV. Surya Raya ini terdapat lebih dari 1500 ekor buaya yang ditangkarkan, terdiri dari buaya muara, buaya air tawar, dan buaya supit, dimana untuk kandang-kandang buaya itu sendiri dikelompokkan menjadi 4 kategori, antara lain kandang anakan, kandang penggemukan, kandang remaja, dan kandang induk




Tempat ini biasanya buka mulai pukul 08.00-17.00, setelah membayar tiket masuk lokasi sebesar 15ribu rupiah per orang untuk dewasa, atau 10ribu rupiah per orang untuk anak-anak, kami pun mulai diajak untuk berkeliling oleh petugas penangkaran, ditempat ini kalian bisa melihat buaya-buaya berukuran besar, terutama yang berada di kandang indukan dari jarak dekat, sesekali petugas yang memandu juga mengingatkan pengunjung untuk tidak terlalu dekat dengan dinding tembok pembatas, karena walaupun kandang-kandang tersebut dibatasi oleh dinding tembok setinggi 1,5 meter sampai 2 meter namun terkadang buaya-buaya tersebut juga dapat berdiri vertikal menggunakan kekuatan ekornya



Tidak hanya sekedar melihat saja, disini pengunjung juga dapat menyaksikan proses pemberian makan untuk buaya-buaya yang dilakukan oleh para petugas penangkaran, biasanya pemberian makan tersebut dilakukan 2 kali dalam sehari, namun jika kalian ingin mencoba memberi makan langsung kepada buaya-buaya tersebut kalian juga bisa membeli seekor ayam seharga 10ribu rupiah yang disediakan disini untuk kemudian melemparkannya sendiri kedalam kandang buaya tersebut


Buaya-buaya yang ditangkarkan ditempat ini nantinya akan dijadikan bahan dasar berbagai produk olahan, seperti industri pengolahan kerajinan kulit buaya maupun berbagai industri lainnya, misalnya di bidang kuliner yaitu olahan daging buaya dan sate buaya, minyak dan tangkur buaya, serta lainnya


Penangkaran yang berawal dari hobby dan kecintaan sang pemilik terhadap satwa reptil ini mulanya hanyalah bersifat pribadi, dan beberapa waktu silam sempat akan ditutup, namun oleh warga sekitar mereka mengusulkan agar lokasi ini tetap dibuka sekaligus dijadikan objek wisata untuk umum, hingga akhirnya setelah melalui beberapa tahapan maka tempat yang dikelola oleh CV. Surya Raya ini pun semakin berkembang dan dapat memberi manfaat terhadap perekonomian warga disekitarnya


Setidaknya perjalanan kami berdua ke Kota Balikpapan ini tidaklah sia-sia karena akhirnya ada beberapa spot yang memiliki kisah menariknya sendiri, mungkin hal ini terlihat biasa dan lumrah saja bagi warga yang berdomisili disekitarnya, namun di mata seorang pendatang atau traveler, hal yang terlihat dan terdengar “biasa-biasa” saja itu dapat dikemas menjadi sebuah cerita yang menarik dan berkesan, oleh karena itu jika kalian sedang berwisata atau traveling jangan lupa untuk terus mengasah kejelian kalian dalam menangkap detail perjalanan yang kalian alami, karena kelak momen-momen tersebut akan menjadi bagian dari cerita perjalanan yang pasti akan kalian rindukan

Kemana lagi petualangan goweswisata setelah ini? tetap ikuti keseruan cerita goweswisata di Kota Balikpapan pada chapter berikutnya. Oya jangan lupa untuk terus mensupport perjalanan kami dengan cara memfollow, like, comment, atau share akun sosial media kami yang ada di FB, IG, dan Youtube ya, karena setiap dukungan dari kalian menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menyajikan beragam informasi yang menarik dari setiap destinasi perjalanan ini

Thursday, 30 August 2018

CHAPTER 45; SAMARINDA

Selamat datang di Kota Samarinda, kota yang menjadi ibukota dari Propinsi Kalimantan Timur ini ternyata suasananya kota banget Bro, berbeda dari apa yang selama ini kami pikirkan jika mendengar nama Pulau Kalimantan, dimana hal yang pertama terlintas di kepala pastilah tentang hutan yang lebat dimana-mana, rawa-rawa, nyamuk-nyamuk ganas, kemudian sungai yang besar dengan buaya-buaya liar yang berenang didalamnya, serta keberadaan suku-suku etnik yang kehidupannya masih primitif, yang ternyata semuanya itu salah, karena suasana di Kota Samarinda kini tak ubahnya seperti suasana kota-kota besar lainnya yang ada di Pulau Jawa, bedanya hanya disini Sungainya sangat lebar oleh karena itu masyarakat disekitar sini akhirnya memanfaatkan keberadaan Sungai Mahakam ini sebagai jalur transportasi air menggunakan jukung (perahu panjang tanpa mesin) atau cess (perahu bermesin)

Sekilas tentang sejarah keberadaan Kota Samarinda ini sendiri berawal dari kedatangan orang-orang Bugis-Wajo ke Kalimantan Timur pada awal Tahun 1668. Mereka ini tak lain adalah pengikut Sultan Hasanuddin (Raja Gowa) yang melarikan diri dari Sulawesi karena tidak mau tunduk kepada penjajah Belanda.

Rombongan yang kala itu dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona ini melabuhkan kapalnya di bagian Timur Pulau Kalimantan yang pada waktu itu masih merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai, singkat cerita mereka akhirnya diterima oleh Raja Kutai dengan syarat harus bersedia membantu Kerajaan Kutai dalam menghadapi serangan musuh-musuhnya

Setelah menerima persyaratan tersebut, para imigran dari Bugis-Wajo ini kemudian diberikan lahan sebagai tempat tinggal mereka di kawasan Kampung Melantai, namun sebagian lainnya merasa lebih senang tinggal di kawasan Muara Karang Semumus yang dikelilingi wilayah Pegunungan Selili, akhirnya mereka pun mulai membuka dan membangun hunian disekitar wilayah tersebut, ditempat ini rumah-rumah mereka dibangun sama tinggi dan sama rendah, baik yang berada diatas air maupun yang berada didaratan atau tepian sungai karena bagi mereka hal ini melambangkan kesetaraan dalam hidup atau sederajat

Dari sinilah kemudian dikenal istilah Samarenda (sama rendah) yang lambat laun pengucapan atau pelafalannya berubah menjadi Samarinda, nama inilah yang pada akhirnya digunakan oleh wilayah kampung yang berada disekitar tepian Sungai Mahakam tersebut hingga wilayah ini berkembang sampai sekarang. Berdasarkan fakta sejarah itulah hari jadi Kota Samarinda ditetapkan jatuh pertama kali pada Tanggal 21 Januari 1668 sebagai pengingat tonggak awal kedatangan orang-orang Bugis-Wajo di wilayah Kalimantan Timur

Kami sendiri akhirnya mulai menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kota yang juga dikenal sebagai wilayah pusat produksi dan perdagangan kayu dunia ini sekitar tengah hari, di hari ke-102 petualangan kami atau tepatnya Tanggal 27 Maret 2016, setelah kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Samarinda

Hal pertama yang kami pikirkan setelah berada di Kota ini tentu saja mencari tempat untuk mandi, makan, dan beristirahat, karena jika kami memaksakan untuk terus melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Balikpapan hari ini maka waktunya sudah tidak memungkinkan, ditambah lagi kami masih minim informasi mengenai kondisi rute yang menuju ke Kota Balikpapan

Begitu kami mulai keluar dari area Pelabuhan bersamaan dengan para penumpang kapal lainnya yang sedang menunggu jemputan, beberapa sorot mata dari orang-orang yang berada disekitar Pelabuhan tampak memandangi kami berdua dengan tatapan heran, hmmm…sepertinya di Pulau Kalimantan ini masih jarang dilintasi oleh para pesepeda jarak jauh, sehingga bagi mereka kedatangan kami yang menggunakan sepeda kayuh penuh gembolan ini tampak aneh dimata mereka

Perlahan kami mulai menyusuri ruas Jalan di Kota samarinda mengikuti garis tepian Sungai Mahakam, beberapa bangunan perkantoran, hotel-hotel mewah, restaurant, hingga aneka tempat kuliner dan bisnis lainnya tampak memenuhi sisi jalan dengan view yang menghadap kearah Sungai Mahakam, sampai kemudian di kejauhan kami melihat ada sebuah Jembatan besar dan panjang berwarna kuning, yaitu Jembatan Kertanegara yang bentuknya mirip seperti Jembatan Golden Gate di San Fransisco

Sebelum melintasi Jembatan ini kami sempat berhenti sejenak di Islamic Center Kota Samarinda, yaitu sebuah bangunan Masjid Agung berukuran besar untuk sekedar menumpang beristirahat dan bersih-bersih sembari mengatur rencana untuk hari ini, cuaca di Kota Samarinda sendiri hari ini terasa cukup panas dan menyengat oleh karena itu menyegarkan diri sejenak sambil beribadah sepertinya merupakan keputusan yang tepat





Setelah dirasa cukup beristirahat dan mengumpulkan informasi online seputar Kota ini kami memutuskan untuk kembali ke wilayah sekitar area Pelabuhan, karena berdasarkan hasil googling ternyata disekitar wilayah tersebut banyak terdapat penginapan dengan harga ekonomis jika dibandingkan dengan hotel atau penginapan lainnya yang ada di kawasan pusat kota

Setibanya disekitar kawasan tersebut maka perburuan penginapan dengan budget ekonomis pun dimulai, beberapa kali kami keluar masuk gang untuk sekedar bertanya harga penginapan, salah satu kendala disini adalah banyak dari penyedia jasa penginapan tersebut yang tidak mau menunjukkan kondisi kamarnya sebelum kami setuju untuk membayar (ini seperti membeli kucing dalam karung karena kami harus membayar terlebih dulu untuk fasilitas yang tidak kami ketahui seperti apa bentuknya), dan karena kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti waktu berada di Parepare maka kami pun akhirnya pergi dan mencari penginapan lainnya yang sesuai dengan budget kami namun memiliki fasilitas yang layak

Sampai akhirnya setelah kurang lebih 6 buah penginapan kami datangi, kami pun menemukan sebuah penginapan yang memiliki budget ekonomis dan fasilitas yang ditawarkan pun cukup layak serta higienis yaitu Penginapan Hidayah 2 dengan tarif per malam sebesar 100 ribu rupiah untuk jenis kamar single, sebenarnya pada awalnya kami tidak diperbolehkan untuk menyewa kamar single namun digunakan untuk dua orang, jadi mayoritas penginapan di Kota Samarinda ini memberlakukan harga sewa kamar sesuai jumlah tamunya, dengan kata lain kamar single hanya boleh untuk 1 orang tamu, jika lebih dari itu maka harus menggunakan kamar double, namun mungkin karena kebetulan penginapan tersebut juga sedang sepi pengunjung (dan mungkin juga kasihan melihat kami berdua yang lusuh hehe…) akhirnya kami pun diperbolehkan menyewa kamar single untuk digunakan berdua, kami pun menggunakan kamar yang berada di lantai atas, untungnya dilantai atas ini terdapat 2 kamar mandi luar yang bisa kami gunakan, kamar mandinya sendiri terhitung cukup bersih dan lega namun air hanya menyala sampai jam 7 malam saja, selebihnya jika kami ingin menggunakan kamar mandi harus menghubungi penjaga penginapan untuk menyalakan pompa air

Setelah menaruh semua barang bawaan kami ke dalam kamar (untuk sepeda-sepeda kami letakkan di lobby dekat meja penerima tamu), kami pun segera bersih-bersih menyegarkan diri dan bersiap jalan-jalan keluar untuk melihat suasana Kota di malam hari sekaligus mencari makan malam untuk kemudian kembali ke penginapan dan beristirahat karena rencananya besok kami akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota berikutnya yaitu Kota Balikpapan

Pengeluaran hari ini :

- 2 porsi makan siang = Rp 22.000,-
- belanja indomart = Rp 32.700,-
- penginapan hidayah 2 1malam = Rp 100.000,-
- 2 porsi makan malam = Rp 26.000,-

Total = Rp 180.700,-

Total jarak tempuh hari ini : 18,12km
============================================

Selamat pagi dari Kota Samarinda :), di hari ke-103 petualangan goweswisata ini tepatnya Tanggal 28 Maret 2016, seperti apa yang telah direncanakan sebelumnya maka hari ini kami akan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Balikpapan

Setelah proses beres-beres mempacking semua barang bawaan keatas sepeda dan melakukan check out dari Penginapan Hidayah 2, kini kami pun kembali menyusuri ruas jalan Kota Samarinda.

Dengan melalui rute yang sama seperti pada hari sebelumnya yaitu mengikuti jalan utama yang bersebelahan dengan tepian Sungai Mahakam, disepanjang sisi jalan kami melihat berbagai lokasi kuliner yang memajang keterangan sajian menu andalannya dimana hampir semuanya mengandalkan sajian menu seafood seperti Udang Galah dan beraneka menu seafood lainnya, bahkan berdasarkan informasi yang kami dapat secara online, di Kota Samarinda ini terdapat banyak tempat wisata kuliner lainnya yang menyajikan menu makanan ekstrem seperti sate buaya dan sop ular phyton, beberapa tempat bahkan menyajikan menu seperti telur penyu yang notabene hal tersebut dilarang karena telur penyu termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi, namun para pedagang tersebut mengatakan bahwa telur penyu yang mereka jual adalah legal karena berasal dari penangkaran yang didistribusikan secara terbatas kepada para pedagang sehingga masih dalam batas yang diperbolehkan, entahlah apakah kebenarannya memang seperti itu atau tidak

Perlahan kami telah melewati bangunan Masjid Islamic Center yang kemarin kami sambangi, kini kami pun mulai melintasi Jembatan Kertanegara, dan tepat di pertigaan setelah Jembatan tersebut kami mengambil arah ke Kanan mengikuti keterangan papan petunjuk arah yang bertuliskan arah menuju Kota Balikpapan, satu hal yang mulai kami cermati dan rasakan ketika mengayuh sepeda di Pulau Kalimantan ini adalah “ini jalannya kok banyak banget tanjakannya padahal masih dalam lingkup area Kota, sedangkan Pulau Kalimantan sendiri kan tidak ada Gunung Berapinya”, awalnya kami menganggap hal seperti ini sebagai pemanasan namun lambat laun derajat dan jumlah tanjakannya kok sepertinya mulai kebangetan, ambil contoh ketika sedang enak-enaknya jalan lurus dan datar tiba-tiba setelah tikungan 90 derajat medannya mendadak langsung menanjak curam, mana belum sempat atur shifting pula, akhirnya beberapa kali adegan mendorong sepeda pun terpaksa dilakukan

Karena kebanyakan adegan mendorong sepeda tanpa terasa waktu mulai merangkak menuju tengah hari, kini tantangan semakin bertambah karena selain menghadapi medan tanjakan kini kami juga harus menghadapi panasnya sengatan matahari, terlebih posisi Pulau Kalimantan tepat berada digaris ekuator sehingga panasnya sinar matahari terasa lebih nyelekit kala menyentuh kulit, dari atas tanjakan-tanjakan ini pula kami juga melihat beberapa lokasi bukit yang mulai gundul dan tandus karena ditambang


Ketika sedang beristirahat sejenak di sebuah kios yang tutup di pinggir jalan kami juga sempat ditraktir 2 gelas es cendol oleh pemilik sebuah kios seluler yang berada di sebelahnya, awalnya ia bertanya dari mana asal kami dan hendak kemana, setelah Beliau mendengar penuturan cerita petualangan kami maka Beliau pun langsung memanggil dan mentraktir kami es cendol yang kebetulan sedang lewat, dan ketika kami hendak melanjutkan perjalanan kembali Beliau pun langsung meneriakkan kata-kata “Semangat Mas Mbak, semoga selamat sampai di tujuan”, seraya tersenyum dan melambaikan tangan

Namun tantangan sepertinya belumlah berakhir karena setibanya kami di wilayah Kutai Kertanegara tiba-tiba Agit mengeluh karena merasa perutnya sakit, dan setelah dicek ternyata eh ternyata kejadian seperti yang kami alami sewaktu perjalanan di Pulau Sumbawa kembali terulang, yaitu mendadak Agit mengalami datang bulan, nah kalau sudah begini situasinya kembali menjadi rumit, karena kalau dilanjutkan untuk mengayuh atau mendorong sepeda kondisi fisik Agit sudah tidak memungkinkan karena merasa sakit, sedangkan perjalanan menuju ke Kota Balikpapan masih sangat jauh, terlebih posisi kami saat ini sedang berada di awal perjalanan memasuki area Bukit Soeharto yang terkenal panjang, sepi, dan penuh tanjakan yang berliku-liku, untuk menyelesaikan etape ini maka pilihan satu-satunya dan terakhir adalah dengan cara loading menggunakan kendaraan bermotor, masalahnya adakah kendaraan yang mau mengangkut sepeda-sepeda serta seluruh barang bawaan kami?

Berdasarkan informasi dari pemilik kios seluler yang mentraktir kami es cendol sebelumnya, tidak banyak kendaraan pengangkut seperti pickup disekitar wilayah ini, satu-satunya kendaraan bermotor yang mau mengangkut penumpang umum adalah taksi, yang mana sebenarnya adalah kendaraan milik pribadi namun digunakan layaknya angkutan umum, biasanya taksi yang beroperasi di wilayah ini adalah kendaraan sejenis MPV seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther, ataupun Avanza, itupun biasanya mereka mengambil penumpang di daerah Kukar dan entahlah apakah mereka mau mengangkut sepeda dan barang bawaan kami yang cukup banyak, daripada hanya menduga-duga lebih baik dicoba saja dulu

Karena “taksi” disini semuanya berplat hitam dan tidak ada ciri khusus yang menandakan kendaraan tersebut adalah taksi atau bukan, maka saya pun mencoba mengacungkan jempol ke setiap kendaraan jenis MPV yang sedang lewat, sampai akhirnya ada salah satu mobil yang mau berhenti dan menanyakan tujuan kami

Setelah saya bertanya kepada sang pengemudi berapa tarif yang dikenakan menuju ke Kota Balikpapan serta apakah ia bersedia mengangkut semua sepeda dan bawaan kami, akhirnya proses kesepakatan pun terjadi dan kami pun mulai mencoba untuk mengatur semua sepeda dan barang bawaan kami kedalam mobil tersebut, sepanjang petualangan goweswisata selama 103 hari, maka inilah pertama kalinya kami menggunakan jasa loading untuk menuju destinasi berikutnya


Selama perjalanan sang pengemudi yang bernama Pak Topo ini seperti biasa bertanya asal dan tujuan kami, dan seiring perbincangan tersebut lambat laun suasana pun mulai berubah menjadi lebih akrab. Ia pun mulai menceritakan tentang dirinya yang ternyata merupakan seorang Transmigran dari Pulau Jawa, ia datang ke Pulau Kalimantan ini berbekal ijazah SMU, kemudian seiring waktu ia pun mulai mengambil kesempatan untuk kuliah di sebuah Universitas Terbuka dan bekerja dibidang bangunan sebagai teknik sipil, namun karena profesinya sebagai teknik sipil tersebut mengharuskannya sering bepergian dan jarang pulang, maka setelah menikah dengan orang asli Kalimantan, istrinya yang berprofesi sebagai PNS menyarankannya untuk mencari pekerjaan lain, apa saja yang penting halal asalkan ia bisa memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga, berawal dari kegiatannya yang mengantar-jemput sang istri menuju tempat kerjanya akhirnya ia pun mulai mencoba profesi lain sebagai seorang pengemudi taksi hingga akhirnya sekarang ia kerap mendapat order antar-jemput dari beberapa orang yang telah menjadi pengguna setia jasanya, ia sendiri tidak menyangka bahwa kini dirinya bisa memiliki rumah dan kehidupan yang terbilang cukup layak untuk keluarganya di Pulau Kalimantan, Pulau dimana ia mulai membangun impian dan menata hidupnya seorang diri jauh dari tempat asalnya

Oleh karena itu begitu mengetahui bahwa kami juga berasal dari Pulau Jawa, dan setibanya di Kota Balikpapan nanti kami juga sedang mencari tempat yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat sementara, setidaknya selama 1 minggu maka Pak Topo pun menawarkan tempat miliknya yang ternyata juga memiliki kamar-kamar kost yang diperuntukkan bagi para karyawan atau para pendatang yang sedang bekerja di Kota Balikpapan, kami pun akhirnya setuju untuk menyewa salah satu kamar kost dikediaman Beliau dengan tarif sewa yang didiskon

Ditengah perjalanan rute Bukit Soeharto ini Pak Topo sempat berhenti sejenak untuk mengisi bensin sembari membeli beberapa makanan kecil untuk kami makan selama perjalanan ini (jika biasanya penumpang yang menawarkan makanan kepada sang pengemudi maka kini kondisinya berbalik, justru kami yang dibelikan jajanan oleh sang pengemudi), sambil berbincang-bincang saya pun mencermati kondisi rute di sepanjang Bukit Soeharto ini, dalam hati saya sempat bersyukur bahwa pilihan kami untuk menggunakan jasa loading ini ternyata merupakan keputusan yang tepat karena selain rute ini sangat panjang, sepi, penuh tanjakan dan turunan yang seakan tak ada habisnya serta beberapa kali masuk kedalam area hutan jati, sepertinya jika malam tiba maka situasi di jalur ini akan sangat gelap dan berbahaya karena ketiadaan lampu penerangan jalan, kalau sudah begitu bisa dibayangkan seperti apa repotnya jika sampai sore hari kami belum juga bisa keluar dari rute ini

Selepas wilayah Bukit Soeharto, Pak Topo bertanya bolehkah ia mampir sebentar ke suatu tempat untuk menengok lokasi dan proses pengerjaan rumah baru yang sedang ia bangun untuk anaknya, dan karena kami juga sedang tidak terburu-buru maka kami pun menjawab silahkan saja toh nantinya kami juga akan menyewa kamar kost di rumahnya, ditengah perjalanan ia pun berkata :” rumah yang baru saya bangun ini nantinya akan saya kasihkan ke salah satu dari dua orang anak saya, kalau nanti yang satunya bertanya kenapa hanya satu orang yang dibikinkan rumah ya nanti saya jawab, ojo misuh opo ngiri yo Le, karena rejeki anak kan beda-beda, kalau nanti yang satu lebih sukses atau mampu daripada yang satunya lagi setidaknya nanti yang kekurangan masih punya tempat hunian, tidak terlantar, sebagai orangtua setidaknya hanya ini yang bisa saya siapkan untuk bekal anak nantinya”, sungguh sebuah pemikiran jangka panjang dari seseorang yang mungkin diremehkan oleh orang lain dikarenakan profesinya, namun bagi kami berdua yang mendengarnya pemikiran dari Pak Topo ini terasa sangat bersahaja dan bijak sekali

Setelah selesai menengok progress pembangunan rumah barunya tersebut yang kondisinya sudah mencapai 60% dari hasil akhir nantinya, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman Pak Topo di Kota Balikpapan, setibanya di rumah Pak Topo dan menyelesaikan administrasi jasa taksi dan sewa kamar kami pun mulai meng-unpacking barang bawaan kami dan menaruhnya didalam kamar, hari ini terasa begitu berat, selain karena faktor fisik yang semakin lelah sepertinya kami juga harus menata kembali faktor mental yang merasa mulai jenuh dengan rutinitas dan perencanaan disetiap etape harian ini, hal ini terasa cukup wajar karena sudah 3 bulan lebih kami menjalani pola hidup nomaden seperti ini, bergerak berpindah-pindah mendatangi dan menjelajahi tempat-tempat baru yang belum pernah kami datangi sebelumnya, sebuah tempat baru dimana kami tidak memiliki sanak famili maupun orang-orang yang kami kenal sebelumnya, dimana hal seperti ini seharusnya semakin memicu semangat kami yang berpegang pada sebuah keyakinan “bahwa petualangan tidak akan pernah berakhir karena dimanapun dan kapanpun juga pasti selalu ada petualangan baru untuk dibuat, orang-orang baru untuk ditemui, dan hal-hal baru untuk dipelajari”.


Pengeluaran hari ini :

- loading dari kukar-Balikpapan = Rp 150.000,-
- kost pasutri 1 minggu = Rp 500.000,-
- 2 porsi makan malam = Rp 20.000,-

Total = Rp 670.000,-

Total jarak tempuh hari ini :25,10 km