Tuesday, 7 July 2026

RUTE BLUSUKAN GOWES WISATA DARI JOGJA KE WADUK ROWO JOMBOR KLATEN

Sabtu, 4 Juli 2026

Tak terasa sudah memasuki pertengahan Tahun 2026, setelah sekian lama disibukkan dengan padatnya rutinitas harian kini saatnya sesekali refreshing sembari menjaga semangat menjelajah dan memuaskan rasa penasaran terhadap hal-hal baru, salah satunya dengan mencari rute atau jalur bersepeda yang anti-mainstream hehehe… 😁


Tujuan Gowes Wisata kita kali ini ini yaitu kearah Timur, sesekali coba berwisata ke wilayah tetangga dari Jogja, yaitu Klaten, tepatnya ke obyek wisata Bendungan atau Waduk Rowo Jombor. Nah karena tujuan akhir atau titik finishnya sudah ditentukan yaitu Waduk Rowo Jombor maka tantangannya sekarang adalah mencari rute untuk menuju kesana, tentunya melalui jalur yang tidak biasa alias anti-mainstream, lewat mana ya? Yuk kita coba cari rutenya


Dari Basecamp Gowes Wisata (seputar JEC) cara termudah pastinya adalah melalui jalur aspalan biasa dulu (Jalan Raya Jogja-Solo) sampai tiba di pertigaan lampu merah Candi Prambanan (lampu merah timurnya perbatasan wilayah Jogja-Jawa Tengah), rute ini dipilih dengan pertimbangan untuk menghemat waktu dan tenaga, karena mayoritas kondisi jalur berupa medan aspal dan familiar arahnya (meminimalisir terbuangnya waktu akibat nyasar).


Setibanya di Traffic Light Candi Prambanan kemudian kalian tinggal menyeberang dan masuk mengikuti jalan yang ada disepanjang sisi rel kereta api ke arah Timur, lalu menyeberangi rel hingga tiba di Stasiun Banaran. Dari Stasiun Banaran ikuti saja jalan beraspal ke arah Selatan, melewati pemakaman dan masih terus ke Selatan sampai mentok tiba di pertigaan. Kemudian belok ke kiri dan ikuti jalan sampa tiba dii jembatan yang sekaligus merupakan akses masuk menuju ke Dusun Pereng Wetan. Masuk melalui gerbang desa dan tak berapa lama kemudian sampailah di pertigaan gerbang masuk menuju ke spot wisata Galpentjil Heritage (Warung Ndeso).




Dari sini kalian tinggal masuk menuju ke Galpentjil dan ikuti jalan melewati pemakaman kemudian nanjak sedikit sampai jalan desa, setelah menanjak lalu belok ke kiri dan terus saja ikuti jalan desa sampai kalian tiba di kondisi jalan seperti ini



Dari titik ini kondisi rutenya berupa kerikil lepas dan jalur tanah, cukup mengasyikkan untuk pengguna sepeda MTB atau Gravel (dan sangat menyiksa bagi pengguna sepeda lipat dan roadbike)



Tapi tenang saja selepas jalur tanah tadi kita akan kembali bertemu jalur aspal, ambil kearah kiri (Timur) ikuti jalan beraspal sampai nantinya kalian akan melewati Bumi Perkemahan Lindu Gedhe, dan masih terus ke Timur



Suasana disepanjang jalur ini relatif lebih sepi daripada jika kalian melewati jalan utama (Jalan Raya Jogja-Solo), sehingga kalian bisa bersepeda dengan lebih santai dan tidak terlalu banyak polusi, oya sedikit saran dari saya jika kalian ingin mencoba rute ini akan lebih baik jika kalian persiapkan minum dan snack seperlunya, karena semakin kearah Timur, terlebih saat mulai memasuki medan offroad single track nantinya maka keberadaan warung pun akan semakin sulit ditemui (yang pasti tidak ada warung disepanjang jalur single track) persiapkan juga kondisi sepeda dan jangan lupa membawa toolkit darurat, ban dalam cadangan serta pompa untuk mengantisipasi jika terjadi kendala teknis diperjalanan



Satu-satunya poin plus pada rute kali ini adalah terdapat beberapa gazebo, pos ronda, dan beberapa titik yang bisa dijadikan tempat beristirahat sesaat, setidaknya lumayanlah untuk sejenak berteduh dari sengatan matahari atau hujan jika cuaca sedang tidak mendukung



Setibanya di gapura Dukuh Soka, Desa Kragilan, Gantiwarno Kalten ini kalian tinggal menyeberangi jembatan yang berada persis didepannya dan ikuti jalan ke Timur (kanan) mengikuti jalan yang berada disepanjang sisi sungai




Patokannya cukup ikuti saja jalur yang ada disepanjang aliran sungai (yang kondisinya agak mengering) ini, hanya saja semakin ke Timur maka kondisi beberapa jalurnya berubah menjadi jalur tanah single track seperti ini, cukup  teduh dan pastinya sepi karena rute ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja (itu pun sangat jarang ada yang melewati jalur ini). Namun justru karena sepi inilah maka suasana disepanjang jalur ini sangat estetik untuk dijadikan sebagai latar berswafoto, kombinasi dari teduhnya suasana dijalur ini dan vegetasi yang ada disekitarnya menjadi perpaduan yang harmonis, sangat sayang jika kalian tidak mendokumentasikannya






Sayangnya di titik tertentu (saya tidak tahu persisnya di dusun mana karena tidak ada informasi penanda nama Dusun), ada jembatan yang kondisinya putus dan sedang diperbaiki, sehingga disini saya harus sedikit memutar balik dan mencari alternatif rute yang sekiranya bisa tersambung dengan jalur berikutnya



Untungnya tak jauh dari lokasi jembatan putus tersebut saat saya coba memutar balik ada jalan potong masuk ke perkampungan warga, jadi saya coba mengikuti jalan tersebut dengan berpatokan mengikuti rute yang searah dengan aliran sungai tersebut, jalan potong dadakan ini juga bisa jadi kesempatan bagi kalian untuk mencari warung jika kalian kehausan atau sekedar mencari camilan.



Akhirnya setelah melewati dan menikmati halusnya kondisi medan beraspal untuk sesaat kini saatnya kita kembali blusukan melalui jalur offroad yang dimulai saat kalian melewati jembatan ini (kondisi jembatannya sendiri sebenarnya cukup mencemaskan karena mengalami penurunan konstruksi, untungnya aliran sungainya sedang surut)




Pada jalur ini beberapa kali saya sempat sedikit tersesat karena disorientasi arah dan adanya percabangan jalan, jadi terpaksa saya coba satu-persatu hingga akhirnya memutuskan untuk memilih jalur yang sekiranya saya yakin terlihat benar (menurut keyakinan dan feeling saya hehehe…), kemudian sampailah saya di lokasi yang sepertinya merupakan area pasar lokal yang diadakan menurut hari pasaran Jawa (kalau tidak salah Pasar Legi), dimana saat saya tiba kebetulan kondisinya sedang kosong, hanya tampak beberapa gerobak dan los pasar yang kosong, dan saya gunakan untuk beristirahat sejenak



Setelah dirasa cukup beristirahat saya pun kembali melanjutkan perjalanan, tinggal ikuti saja jalan desa ini, oya sepertinya desa ini juga menjadi sentra produksi genteng dan kerajinan tembikar tanah liat karena terdapat banyak tungku dan genteng-genteng hasil produksi yang sedang dijemur. Sesekali saya berhenti sejenak untuk melihat posisi rute terkini melalui googlemaps dan terlihat ada semacam persinggungan jalan (2 jalan menjadi 1) yang salah 1 nya bisa menjadi jalan potong langsung menuju ke area Waduk Rowo Jombor, oke berarti patokannya cukup ikuti jalan desa ini sampai menemui percabangan atau persinggungan jalan ini lalu putar balik sedikit dan langsung ambil arah kiri kemudian lurus saja


Dan akhirnya sampailah saya di area Waduk Rowo Jombor, tinggal berkeliling mencari area penanda tulisan nama lokasi untuk digunakan sebagai latar dokumentasi perjalanan ini. Disekeliling area Waduk ini banyak terdapat warung kuliner yang menyajikan beragam aneka menu, beberapa bahkan membuka usaha kulinernya dalam bentuk warung apung yang unik untuk menarik para wisatawan yang ingin mencoba merasakan sensasi berwisata kuliner diatas perahu.




Waduk atau Bendungan Rowo Jombor sendiri dahulu merupakan area perkampungan yang berada di dataran rendah, dan sering tergenang air saat musim penghujan tiba, oleh karena itu semasa pemerintahan kolonial Belanda sekitar Tahun 1856 akhirnya perkampungan tersebut direlokasi dan bekas wilayahnya diubah serta dibangun menjadi waduk, dengan fungsi awal sebagai sarana irigasi untuk mengairi lahan-lahan persawahan yang ada didesa-desa sekitarnya.


Waduk Rowo Jombor sendiri tepatnya berada di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Berada sekitar 8km ke arah Tenggara dari pusat Kota Klaten. Waduk ini memiliki kedalaman kurang lebih 4,5m dengan beberapa titik mengalami sedimentasi. Dengan luas 198 hektar dan menampung sekitar 4 juta meter kubik air. Pada Tahun 2025 lalu dilakukan revitalisasi disekitar kawasan Waduk ini, dengan menata dan mengoptimalkan area waduk selain sebagai sarana irigasi juga menjadi kawasan wisata yang aman bagi pengunjung


Kawasan Waduk ini buka setiap hari selama 24jam, hanya saja operasional warung dan wisatanya biasanya dimulai pada pukul 09.00 sampai 21.00 WIB. Tidak ada tiket masuk untuk mengunjungi lokasi ini alias gratis, kalian hanya cukup membayar tarif parkir untuk kendaraan saja yaitu sebesar 2-3ribu rupiah untuk motor, dan 5 ribu rupiah untuk mobil. Disini selain bersantai menikmati panorama dan suasana sekitar Waduk, kalian juga bisa memancing, berwisata kuliner, wisata perahu dengan tarif 10 ribu rupiah per orang, naik speedboat dengan tarif 50 ribu sampai 80 ribu per kapal, atau mengelilingi waduk (berjarak 5,6 sampai 7,5km tergantung rute) menggunakan kereta kelinci (kereta odong-odong).


Di pagi hari biasanya kawasan disekliling area waduk ini sering dijadikan lokasi untuk jogging atau bersepeda, sedangkan waktu terbaik untuk mengabadikan keindahan panorama landscapenya adalah sore hari menjelang matahari terbenam. Beberapa kendala yang masih dihadapi hingga saat ini adalah pembersihan area sedimentasi supaya tidak terjadi pendangkalan dan penurunan kualitas air, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari sisa sampah pengunjung yang dibuang sembarangan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar.





Kurang lebih inilah cerita catatan perjalanan bersepeda Gowes Wisata kali ini, semoga bisa menjadi referensi tambahan bagi kalian yang sedang merencanakan agenda liburan atau petualangan bersepeda tetapi masih bingung mau kemana, Nah Waduk Rowo Jombor mungkin bisa kalian jadikan opsi pilihan destinasi wisata liburan kali ini, yang pasti tetap ingat untuk selalu menjaga kebersihan dari setiap lokasi wisata yang kalian kunjungi ya, selamat berwisata 🙂


Note : untuk kalian yang penasaran dan ingin mencoba rute ini bisa follow :

Via Komoot : Gowes Wisata

Via Strava   : Gowes Wisata


Disarankan menggunakan sepeda MTB atau Gravel

Saturday, 10 May 2025

PANTAI DAN MUARA PANDANSIMO

Kamis, 24 April 2025.

Postingan perdana di Tahun 2025 ini hehe… maaf lama tidak update cerita, bukannya berarti sejak awal tahun saya tidak gowes-gowes lagi, melainkan karena gowesnya hanya seputaran rumah yang dekat-dekat saja, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang ga jelas jadinya belum mencari atau nemu spot menarik lainnya untuk diulas.


Nah kali ini waktunya untuk bertualang rada jauh sedikit mumpung cuacanya sedang bersahabat (tidak terlalu panas namun juga tidak mendung), tujuan kali ini adalah ke Pantai Pandansimo yang beberapa pekan terakhir ini sempat viral dan ramai dikunjungi oleh para goweser dan wisatawan umum, bukan karena sekedar pantainya saja melainkan karena disekitar area Pandansimo ini ada sebuah lokasi atau muara tempat mengalirnya air sungai sebelum menuju ke lautan, yang bernama Muara Pandansimo (dinamai seperti itu karena lokasinya memang di area Pantai Pandansimo)



Lokasi Muara Pandansimo sendiri mudah kalian cari di googlemaps karena sudah di-pin dengan nama “Muara Pandansimo”, sehingga bagi kalian yang ingin berkunjung ketempat ini kalian bisa dengan mudah mengikuti rutenya lewat googlemaps. Muara Pandansimo sendiri lebih tepatnya berada di Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Berjarak sekitar 32km dari Kota Yogyakarta ke arah Selatan.


Rute termudah menuju ke lokasi ini adalah melalui Jalan Bantul dan Jalan Srandakan, medannya dominan aspal halus dengan elevasi yang terbilang biasa saja (tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim), cukup ikuti petunjuk jalan dan peta, dengan lama perjalanan jika kalian gowes santai mungkin hanya sekitar 2 jam saja.


Sesampainya di pos TPR atau retribusi kalian sudah bisa melihat proses pembangunan Jembatan baru Pandansimo yang nantinya akan menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo, dengan total panjang jembatan sekitar 1,9km, saat tulisan ini dibuat proses pembangunan dan pengerjaan Jembatan tersebut masih berlangsung, diperkirakan proses pengerjaannya baru akan selesai pada pertengahan atau akhir Bulan Mei 2025.


Akses masuk menuju Pantai Pandansimo sendiri berada tepat sebelum jalur jalan jembatan, karena saya menggunakan sepeda kayuh alias gowes maka tidak ada retribusi yang dikenakan, baik itu pada pos TPR maupun di area pantainya sendiri.





Karakteristik ombak di Pantai Pandansimo sendiri sangat besar dan berbahaya untuk aktivitas berenang, sehingga bagi kalian yang berwisata ke pantai ini bersama keluarga diharapkan untuk selalu mengawasi anggota keluarga kalian yang masih kecil ya, dilarang untuk bermain air di bibir pantai karena ombak dan arus baliknya sangat kuat sehingga dikuatirkan terseret arus balik jika kalian bermain terlalu dekat dengan bibir pantai.


Kebanyakan  pengunjung yang datang ke Pantai Pandansimo ini adalah pemancing, mereka kerap datang sambil membawa peralatan memancingnya. Dan jika kalian ingin menuju ke lokasi Muara Pandansimo maka kalian cukup ikuti akses jalan kecil yang berada tepat dibelakang deretan warung-warung disekitar area pantai ini, akses jalannya sendiri hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, karena untuk kendaraan roda 4 nantinya ada beberapa titik dimana tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 dan medannya sangat sempit untuk melakukan putar balik kendaraan.






Setibanya dilokasi Muara Pandansimo pemandangannya sangat indah sekali, perpaduan yang unik antara hamparan rumput hijau yang rapi dengan aliran muara sungai serta penampakan bangunan Jembatan Pandansimo dikejauhan, jika kalian sedang beruntung terkadang beberapa warga sekitar lokasi juga kerap menggembalakan hewan ternaknya seperti kambing di area ini, sehingga menjadikannya sebagai bagian detail fotografi yang menarik.





Disekitar lokasi ini juga sudah tersedia toilet umum, hanya saja tidak ada warung yang menjual makan atau minuman disekitar sini sehingga disarankan untuk membawa bekal piknik kalian masing-masing, dan jangan lupa untuk membersihkan dan membawa pulang sisa sampah kalian ya, tetap jaga kebersihan lokasi ini, karena kalian pun berwisata ketempat ini juga untuk menikmati pemanadangannya kan? 








Bagi kalian yang suka memancing, penghobby fotografi, ataupun sekedar ingin mencari ketenangan sembari menikmati pemandangan serta ditimpali dengan suara deburan ombak pantai, maka Muara Pandansimo ini mungkin bisa kalian jadikan salah satu tujuan berwisata kalian di Jogja. Selamat berwisata

Thursday, 7 November 2024

GOWES BLUSUKAN KE MBULAK WILKEL, LERENG SENTONO, SITUS MAKAM RATU MALANG, DAN KOTAGEDE

Minggu, 3 November 2024

Setelah sekian lama tidak gowes dan mengupdate cerita di blog, nah di Hari Minggu pagi yang cerah ini saya mencoba Gowes Wisata iseng mencari rute baru yang belum pernah saya lewati, selain itu alasan lainnya adalah karena sepertinya saya mulai kehabisan spot-spot baru yang belum pernah saya review hehe… 😅 ternyata cukup sulit mencari lokasi baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, suasananya fresh alias ga rame-rame banget, minim tanjakan kalaupun harus melewati tanjakan paling tidak jangan yang curam banget elevasinya, murah sukur-sukur gratis tanpa retribusi, ada warung buat jajan dan istirahat, serta memiliki view atau keunikan yang menarik untuk diceritakan.


Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut barulah mulai mapping lokasi berdasarkan arah mata angin beserta poin plus minusnya, sebagai contoh jika kita mengeksplor arah Utara sebenarnya ini termasuk yang paling enak karena hanya saat berangkatnya saja yang butuh usaha untuk nanjak tipis-tipis, tetapi ketika pulang sudah enak karena rutenya jadi turunan, (capenya sekalian). Jika ke arah Timur ini yang termasuk paling menyebalkan karena berangkatnya silau terkena sinar matahari, pulangnya juga sama saja kalau kesorean, dalam artian capenya jadi dobel. Arah Barat sebenarnya 60-40, karena 60 persennya menyenangkan dengan rute yang cenderung lurus dan datar, hanya menanjak jika tujuan kita kearah perbukitan Menoreh, dan pulangnya 40 persen jadi membosankan karena jaraknya jadi jauh mengingat lokasi rumah saya ada di sisi Timur Kota Jogja. Sedangkan untuk arah Selatan, berangkatnya sih enak karena rute elevasinya menurun, tetapi saat pulang malah jadi cape karena rutenya menanjak tipis-tipis apalagi kalau cuaca sedang cerah-cerahnya, dijamin mateng dijalan.


Awal gowes kali ini sebenarnya hanya ingin menyusuri lorong-lorong gang labirin di daerah Kotagede saja, tetapi ditengah perjalanan kok rasanya sayang ya, masa gowes hari ini deket banget apalagi cuaca sedang mendukung, akhirnya tujuan pun berubah, saya mulai mengarahkan kayuhan menuju ke wilayah Pleret melewati Kantor Kecamatan Banguntapan terus ke Selatan. Oya gowes kali ini saya sama sekali tidak mengandalkan googlemaps, Strava, ataupun Komoot, jadi loss saja, hanya mengikuti naluri, menikmati setiap kayuhan dan keingin tahuan terhadap apa saja yang bakal ditemui disepanjang rute ini, sesekali asyik juga tidak bergantung kepada teknologi pemetaan atau berfokus pada pencatatan data statistik saat bersepeda (toh saya juga bukan atlet), jadi cukup nikmati perjalanan ini karena senang bersepeda.


Di sepanjang Jalan Pleret pagi hari ini sudah banyak penjaja makanan dan snack tradisional yang menggelar dagangannya, termasuk melihat aktivitas masyarakat sekitar yang sedang berolahraga ataupun yang baru mulai membuka tempat usahanya. Sebagian titik ruas jalan yang dulunya bergelombang dan rusak kini kondisinya sudah diperbaiki dan diaspal ulang, semoga kali ini kondisinya bertahan lama ya.


Sebelum mendekati Pasar Pleret saya sempat melihat ada papan penunjuk arah menuju ke lokasi wisata Mbulak Wilkel, kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke lokasi ini sejak masa-masa viralnya sampai kini sudah tidak begitu booming lagi, jadi yuk lah kita coba melihat seperti apa suasananya saat ini. Mbulak Wilkel sendiri sebenarnya hanyalah sebuah lokasi ruas jalan yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pohon tinggi yang berjejer, dengan ranting-ranting pohonnya yang melengkung dan seperti membentuk semacam lorong pohon, suasananya yang rindang dan teduh terlebih berada diantara hamparan persawahan warga menjadikan viewnya cukup menarik untuk dijadikan latar ber-swafoto.




Dikarenakan pada waktu itu mulai banyak orang luar yang ber-swafoto disepanjang ruas jalan tersebut, maka warga sekitar pun berinisiatif menata lokasi tersebut dengan membuat semacam gapura papan nama dan mendirikan gazebo-gazebo estetik supaya pengunjung dapat  beristirahat sembari menikmati kuliner yang dijajakan oleh warga sekitar, setidaknya hal ini dapat membantu perekonomian warga sekitarnya. Pagi ini suasana di Mbulak Wilkel sendiri  terbilang cukup sepi, hanya sesekali saya melihat rombongan pesepeda yang sedang beristirahat  di gazebo-gazebo yang ada di pinggir jalan, dan sebagian lagi hanya melintas saja.


Setelah melewati lorong pohon yang ada di Mbulak Wilkel, saya pun terus mengarahkan kayuhan kearah Timur sampai akhirnya tiba di lokasi berikutnya yaitu Lereng Sentono, lokasi ini bersebelahan dengan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang. Lereng Sentono sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi yang berada di bagian lereng bukit tempat Makam Ratu Malang berada, area kosong pada lereng ini dimanfaatkan dengan membuat semacam taman, pendopo, dan warung kuliner, sehingga pengunjung yang sedang berziarah atau mengunjungi Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang bisa beristirahat sejenak disini. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara atau kegiatan gathering bersama keluarga atau komunitas, kalian tinggal menghubungi pihak warga yang mengelolanya saja, untuk fasilitas parkir kendaraan juga sudah disediakan area yang cukup luas disekitarnya.








Dari Lereng Sentono dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang, saya mulai melanjutkan perjalanan melalui jalan desa melewati area persawahan warga dan kembali ke ruas jalan utama yang menuju ke Pasar Plered, saya pun berbelok ke arah Barat tepat di belakang area Pasar, dari situ kayuhan terus saya arahkan ke Barat sampai melewati sebuah pertigaan yang jalan normalnya yaitu berbelok ke kanan, sedangkan jalan yang satunya lagi kearah lurus dan sedikit menurun, saya pun memilih jalan yang lurus karena viewnya kok terlihat lebih menarik, dikejauhan terlihat ada sebuah banner usang dan mulai robek yang menunjukkan nama tempat ini dulunya adalah sebuah pemancingan, memang sih terlihat dari adanya beberapa kolam yang kini kondisinya sudah mengering, tempat ini dulunya pasti pernah menjadi sebuah pemancingan yang cukup ramai, entahlah mengapa kini kondisinya dibiarkan terbengkalai begitu saja.



Sambil menyusuri area pemancingan tersebut saya melihat ada sebuah jalan kecil berkonblock yang berada disepanjang sisi aliran sungai, beberapa orang juga saya lihat sedang memancing di sungai tersebut, sepertinya sejak area pemancingan tersebut sepi kini warga pun akhirnya memancing ikan dari sungai yang berada tepat disekitar area pemancingan ini.



Kondisi rute jalan ber-konblock ini sepertinya asyik juga untuk dijadikan rute blusukan sepeda dikarenakan suasananya masih sepi dan teduh sekali, saya pun menyusuri rute tersebut sampai dihadapkan kesebuah persimpangan, sebuah pertigaan dengan pilihan mau terus mengikuti jalan berkonblock yang cukup lebar atau mencoba memasuki jalur tanah yang cukup sempit.



Berhubung rasa penasaran saya lebih condong menyuruh untuk mengikuti ruas jalan tanah yang kecil tersebut akhirnya saya pun memilih untuk mencobanya,, kalaupun nanti jalannya ternyata buntu atau kondisinya makin tidak jelas toh tinggal putar balik angkat sepeda saja hehehe…



Ternyata jalan tanah tersebut tembus ke area jalan kecil plesteran yang mengikuti sepanjang aliran sungai tadi, setidaknya aman lah ya kan masih ada jalan, jadi coba ikuti terus saja jalan ini. Ujung dari jalan plesteran ini ternyata mentok di sekitar lokasi pintu air akhir, namun tepat di pintu air tersebut juga ada jembatan atau jalan penghubung untuk menyeberang ke sisi sebelahnya, jadi otomatis saya pun menyeberang lalu kembali ambil arah kiri mengikuti sepanjang aliran sungai sampai akhirnya ternyata jalan kecil ini tembus ke ruas jalan raya aspal utama yang berada di daerah Jejeran, tak jauh dari sekolah dan lapangan yang berada dekat dengan perempatan lampu merah Jejeran Jalan Imogiri Timur, dari sini saya pun sudah langsung hafal dan mengenali arahnya, baiklah kali ini saatnya kembali kearah pulang melalui Jalan Imogiri Timur.



Diperjalanan pulang sempat terbersit ide apa nanti sekalian coba dilewatin kearah Kotagede ya? Paling tidak rutenya kan searah dan sesuai seperti rencana awal hari ini, setidaknya coba untuk memasuki salah satu gang di wilayah Kotagede, dan gang yang paling terkenal adalah lokasi dimana Rumah Pesik berada, baiklan kita coba saja, begitu memasuki area Kotagede saya pun mulai masuk menuju arah Rumah Pesik dan mencoba masuk ke salah satu gang yang menuju ke Omah UGM, dari sana saya mencoba masuk dan mengikuti jalan yang ada saja, dan berputar-putar entah sampai mana, yang pasti karena lebar jalannya cukup sempit sehingga saat berpapasan dengan motor saya terpaksa harus berhenti dan meminggirkan sepeda sampai menempel ke tembok, seru sih tapi cukup ribed, untungnya gowes kali ini saya hanya seorang diri saja, entahlah jika gowes kali ini membawa rombongan, pastinya akan super ribed dan bikin macet hehe… setiap sudut di lorong labirin Kotagede itu menarik untuk dijadikan latar berfoto karena nuansa klasik tempo dulunya masih sangat terasa, deretan pintu dan jendela berarsitektur jaman dulu, tembok-tembok yang retak dan menampilkan batu batanya, semua terlihat sangat estetik sebagai latar berfoto.




Dan begitulah cerita Gowes Wisata hari ini, tanpa tujuan pasti, semua serba spontan (uhuuyy), tanpa campur tangan googlemaps dan aplikasi lainnya, seru dan mengasyikkan, just trust your instinct and let the curiosity be your guide


Sampai jumpa di cerita Gowes Wisata berikutnya