Showing posts with label catatan gowes. Show all posts
Showing posts with label catatan gowes. Show all posts

Saturday, 10 May 2025

PANTAI DAN MUARA PANDANSIMO

Kamis, 24 April 2025.

Postingan perdana di Tahun 2025 ini hehe… maaf lama tidak update cerita, bukannya berarti sejak awal tahun saya tidak gowes-gowes lagi, melainkan karena gowesnya hanya seputaran rumah yang dekat-dekat saja, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang ga jelas jadinya belum mencari atau nemu spot menarik lainnya untuk diulas.


Nah kali ini waktunya untuk bertualang rada jauh sedikit mumpung cuacanya sedang bersahabat (tidak terlalu panas namun juga tidak mendung), tujuan kali ini adalah ke Pantai Pandansimo yang beberapa pekan terakhir ini sempat viral dan ramai dikunjungi oleh para goweser dan wisatawan umum, bukan karena sekedar pantainya saja melainkan karena disekitar area Pandansimo ini ada sebuah lokasi atau muara tempat mengalirnya air sungai sebelum menuju ke lautan, yang bernama Muara Pandansimo (dinamai seperti itu karena lokasinya memang di area Pantai Pandansimo)



Lokasi Muara Pandansimo sendiri mudah kalian cari di googlemaps karena sudah di-pin dengan nama “Muara Pandansimo”, sehingga bagi kalian yang ingin berkunjung ketempat ini kalian bisa dengan mudah mengikuti rutenya lewat googlemaps. Muara Pandansimo sendiri lebih tepatnya berada di Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Berjarak sekitar 32km dari Kota Yogyakarta ke arah Selatan.


Rute termudah menuju ke lokasi ini adalah melalui Jalan Bantul dan Jalan Srandakan, medannya dominan aspal halus dengan elevasi yang terbilang biasa saja (tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim), cukup ikuti petunjuk jalan dan peta, dengan lama perjalanan jika kalian gowes santai mungkin hanya sekitar 2 jam saja.


Sesampainya di pos TPR atau retribusi kalian sudah bisa melihat proses pembangunan Jembatan baru Pandansimo yang nantinya akan menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo, dengan total panjang jembatan sekitar 1,9km, saat tulisan ini dibuat proses pembangunan dan pengerjaan Jembatan tersebut masih berlangsung, diperkirakan proses pengerjaannya baru akan selesai pada pertengahan atau akhir Bulan Mei 2025.


Akses masuk menuju Pantai Pandansimo sendiri berada tepat sebelum jalur jalan jembatan, karena saya menggunakan sepeda kayuh alias gowes maka tidak ada retribusi yang dikenakan, baik itu pada pos TPR maupun di area pantainya sendiri.





Karakteristik ombak di Pantai Pandansimo sendiri sangat besar dan berbahaya untuk aktivitas berenang, sehingga bagi kalian yang berwisata ke pantai ini bersama keluarga diharapkan untuk selalu mengawasi anggota keluarga kalian yang masih kecil ya, dilarang untuk bermain air di bibir pantai karena ombak dan arus baliknya sangat kuat sehingga dikuatirkan terseret arus balik jika kalian bermain terlalu dekat dengan bibir pantai.


Kebanyakan  pengunjung yang datang ke Pantai Pandansimo ini adalah pemancing, mereka kerap datang sambil membawa peralatan memancingnya. Dan jika kalian ingin menuju ke lokasi Muara Pandansimo maka kalian cukup ikuti akses jalan kecil yang berada tepat dibelakang deretan warung-warung disekitar area pantai ini, akses jalannya sendiri hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, karena untuk kendaraan roda 4 nantinya ada beberapa titik dimana tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 dan medannya sangat sempit untuk melakukan putar balik kendaraan.






Setibanya dilokasi Muara Pandansimo pemandangannya sangat indah sekali, perpaduan yang unik antara hamparan rumput hijau yang rapi dengan aliran muara sungai serta penampakan bangunan Jembatan Pandansimo dikejauhan, jika kalian sedang beruntung terkadang beberapa warga sekitar lokasi juga kerap menggembalakan hewan ternaknya seperti kambing di area ini, sehingga menjadikannya sebagai bagian detail fotografi yang menarik.





Disekitar lokasi ini juga sudah tersedia toilet umum, hanya saja tidak ada warung yang menjual makan atau minuman disekitar sini sehingga disarankan untuk membawa bekal piknik kalian masing-masing, dan jangan lupa untuk membersihkan dan membawa pulang sisa sampah kalian ya, tetap jaga kebersihan lokasi ini, karena kalian pun berwisata ketempat ini juga untuk menikmati pemanadangannya kan? 








Bagi kalian yang suka memancing, penghobby fotografi, ataupun sekedar ingin mencari ketenangan sembari menikmati pemandangan serta ditimpali dengan suara deburan ombak pantai, maka Muara Pandansimo ini mungkin bisa kalian jadikan salah satu tujuan berwisata kalian di Jogja. Selamat berwisata

Thursday, 7 November 2024

GOWES BLUSUKAN KE MBULAK WILKEL, LERENG SENTONO, SITUS MAKAM RATU MALANG, DAN KOTAGEDE

Minggu, 3 November 2024

Setelah sekian lama tidak gowes dan mengupdate cerita di blog, nah di Hari Minggu pagi yang cerah ini saya mencoba Gowes Wisata iseng mencari rute baru yang belum pernah saya lewati, selain itu alasan lainnya adalah karena sepertinya saya mulai kehabisan spot-spot baru yang belum pernah saya review hehe… 😅 ternyata cukup sulit mencari lokasi baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, suasananya fresh alias ga rame-rame banget, minim tanjakan kalaupun harus melewati tanjakan paling tidak jangan yang curam banget elevasinya, murah sukur-sukur gratis tanpa retribusi, ada warung buat jajan dan istirahat, serta memiliki view atau keunikan yang menarik untuk diceritakan.


Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut barulah mulai mapping lokasi berdasarkan arah mata angin beserta poin plus minusnya, sebagai contoh jika kita mengeksplor arah Utara sebenarnya ini termasuk yang paling enak karena hanya saat berangkatnya saja yang butuh usaha untuk nanjak tipis-tipis, tetapi ketika pulang sudah enak karena rutenya jadi turunan, (capenya sekalian). Jika ke arah Timur ini yang termasuk paling menyebalkan karena berangkatnya silau terkena sinar matahari, pulangnya juga sama saja kalau kesorean, dalam artian capenya jadi dobel. Arah Barat sebenarnya 60-40, karena 60 persennya menyenangkan dengan rute yang cenderung lurus dan datar, hanya menanjak jika tujuan kita kearah perbukitan Menoreh, dan pulangnya 40 persen jadi membosankan karena jaraknya jadi jauh mengingat lokasi rumah saya ada di sisi Timur Kota Jogja. Sedangkan untuk arah Selatan, berangkatnya sih enak karena rute elevasinya menurun, tetapi saat pulang malah jadi cape karena rutenya menanjak tipis-tipis apalagi kalau cuaca sedang cerah-cerahnya, dijamin mateng dijalan.


Awal gowes kali ini sebenarnya hanya ingin menyusuri lorong-lorong gang labirin di daerah Kotagede saja, tetapi ditengah perjalanan kok rasanya sayang ya, masa gowes hari ini deket banget apalagi cuaca sedang mendukung, akhirnya tujuan pun berubah, saya mulai mengarahkan kayuhan menuju ke wilayah Pleret melewati Kantor Kecamatan Banguntapan terus ke Selatan. Oya gowes kali ini saya sama sekali tidak mengandalkan googlemaps, Strava, ataupun Komoot, jadi loss saja, hanya mengikuti naluri, menikmati setiap kayuhan dan keingin tahuan terhadap apa saja yang bakal ditemui disepanjang rute ini, sesekali asyik juga tidak bergantung kepada teknologi pemetaan atau berfokus pada pencatatan data statistik saat bersepeda (toh saya juga bukan atlet), jadi cukup nikmati perjalanan ini karena senang bersepeda.


Di sepanjang Jalan Pleret pagi hari ini sudah banyak penjaja makanan dan snack tradisional yang menggelar dagangannya, termasuk melihat aktivitas masyarakat sekitar yang sedang berolahraga ataupun yang baru mulai membuka tempat usahanya. Sebagian titik ruas jalan yang dulunya bergelombang dan rusak kini kondisinya sudah diperbaiki dan diaspal ulang, semoga kali ini kondisinya bertahan lama ya.


Sebelum mendekati Pasar Pleret saya sempat melihat ada papan penunjuk arah menuju ke lokasi wisata Mbulak Wilkel, kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke lokasi ini sejak masa-masa viralnya sampai kini sudah tidak begitu booming lagi, jadi yuk lah kita coba melihat seperti apa suasananya saat ini. Mbulak Wilkel sendiri sebenarnya hanyalah sebuah lokasi ruas jalan yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pohon tinggi yang berjejer, dengan ranting-ranting pohonnya yang melengkung dan seperti membentuk semacam lorong pohon, suasananya yang rindang dan teduh terlebih berada diantara hamparan persawahan warga menjadikan viewnya cukup menarik untuk dijadikan latar ber-swafoto.




Dikarenakan pada waktu itu mulai banyak orang luar yang ber-swafoto disepanjang ruas jalan tersebut, maka warga sekitar pun berinisiatif menata lokasi tersebut dengan membuat semacam gapura papan nama dan mendirikan gazebo-gazebo estetik supaya pengunjung dapat  beristirahat sembari menikmati kuliner yang dijajakan oleh warga sekitar, setidaknya hal ini dapat membantu perekonomian warga sekitarnya. Pagi ini suasana di Mbulak Wilkel sendiri  terbilang cukup sepi, hanya sesekali saya melihat rombongan pesepeda yang sedang beristirahat  di gazebo-gazebo yang ada di pinggir jalan, dan sebagian lagi hanya melintas saja.


Setelah melewati lorong pohon yang ada di Mbulak Wilkel, saya pun terus mengarahkan kayuhan kearah Timur sampai akhirnya tiba di lokasi berikutnya yaitu Lereng Sentono, lokasi ini bersebelahan dengan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang. Lereng Sentono sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi yang berada di bagian lereng bukit tempat Makam Ratu Malang berada, area kosong pada lereng ini dimanfaatkan dengan membuat semacam taman, pendopo, dan warung kuliner, sehingga pengunjung yang sedang berziarah atau mengunjungi Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang bisa beristirahat sejenak disini. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara atau kegiatan gathering bersama keluarga atau komunitas, kalian tinggal menghubungi pihak warga yang mengelolanya saja, untuk fasilitas parkir kendaraan juga sudah disediakan area yang cukup luas disekitarnya.








Dari Lereng Sentono dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang, saya mulai melanjutkan perjalanan melalui jalan desa melewati area persawahan warga dan kembali ke ruas jalan utama yang menuju ke Pasar Plered, saya pun berbelok ke arah Barat tepat di belakang area Pasar, dari situ kayuhan terus saya arahkan ke Barat sampai melewati sebuah pertigaan yang jalan normalnya yaitu berbelok ke kanan, sedangkan jalan yang satunya lagi kearah lurus dan sedikit menurun, saya pun memilih jalan yang lurus karena viewnya kok terlihat lebih menarik, dikejauhan terlihat ada sebuah banner usang dan mulai robek yang menunjukkan nama tempat ini dulunya adalah sebuah pemancingan, memang sih terlihat dari adanya beberapa kolam yang kini kondisinya sudah mengering, tempat ini dulunya pasti pernah menjadi sebuah pemancingan yang cukup ramai, entahlah mengapa kini kondisinya dibiarkan terbengkalai begitu saja.



Sambil menyusuri area pemancingan tersebut saya melihat ada sebuah jalan kecil berkonblock yang berada disepanjang sisi aliran sungai, beberapa orang juga saya lihat sedang memancing di sungai tersebut, sepertinya sejak area pemancingan tersebut sepi kini warga pun akhirnya memancing ikan dari sungai yang berada tepat disekitar area pemancingan ini.



Kondisi rute jalan ber-konblock ini sepertinya asyik juga untuk dijadikan rute blusukan sepeda dikarenakan suasananya masih sepi dan teduh sekali, saya pun menyusuri rute tersebut sampai dihadapkan kesebuah persimpangan, sebuah pertigaan dengan pilihan mau terus mengikuti jalan berkonblock yang cukup lebar atau mencoba memasuki jalur tanah yang cukup sempit.



Berhubung rasa penasaran saya lebih condong menyuruh untuk mengikuti ruas jalan tanah yang kecil tersebut akhirnya saya pun memilih untuk mencobanya,, kalaupun nanti jalannya ternyata buntu atau kondisinya makin tidak jelas toh tinggal putar balik angkat sepeda saja hehehe…



Ternyata jalan tanah tersebut tembus ke area jalan kecil plesteran yang mengikuti sepanjang aliran sungai tadi, setidaknya aman lah ya kan masih ada jalan, jadi coba ikuti terus saja jalan ini. Ujung dari jalan plesteran ini ternyata mentok di sekitar lokasi pintu air akhir, namun tepat di pintu air tersebut juga ada jembatan atau jalan penghubung untuk menyeberang ke sisi sebelahnya, jadi otomatis saya pun menyeberang lalu kembali ambil arah kiri mengikuti sepanjang aliran sungai sampai akhirnya ternyata jalan kecil ini tembus ke ruas jalan raya aspal utama yang berada di daerah Jejeran, tak jauh dari sekolah dan lapangan yang berada dekat dengan perempatan lampu merah Jejeran Jalan Imogiri Timur, dari sini saya pun sudah langsung hafal dan mengenali arahnya, baiklah kali ini saatnya kembali kearah pulang melalui Jalan Imogiri Timur.



Diperjalanan pulang sempat terbersit ide apa nanti sekalian coba dilewatin kearah Kotagede ya? Paling tidak rutenya kan searah dan sesuai seperti rencana awal hari ini, setidaknya coba untuk memasuki salah satu gang di wilayah Kotagede, dan gang yang paling terkenal adalah lokasi dimana Rumah Pesik berada, baiklan kita coba saja, begitu memasuki area Kotagede saya pun mulai masuk menuju arah Rumah Pesik dan mencoba masuk ke salah satu gang yang menuju ke Omah UGM, dari sana saya mencoba masuk dan mengikuti jalan yang ada saja, dan berputar-putar entah sampai mana, yang pasti karena lebar jalannya cukup sempit sehingga saat berpapasan dengan motor saya terpaksa harus berhenti dan meminggirkan sepeda sampai menempel ke tembok, seru sih tapi cukup ribed, untungnya gowes kali ini saya hanya seorang diri saja, entahlah jika gowes kali ini membawa rombongan, pastinya akan super ribed dan bikin macet hehe… setiap sudut di lorong labirin Kotagede itu menarik untuk dijadikan latar berfoto karena nuansa klasik tempo dulunya masih sangat terasa, deretan pintu dan jendela berarsitektur jaman dulu, tembok-tembok yang retak dan menampilkan batu batanya, semua terlihat sangat estetik sebagai latar berfoto.




Dan begitulah cerita Gowes Wisata hari ini, tanpa tujuan pasti, semua serba spontan (uhuuyy), tanpa campur tangan googlemaps dan aplikasi lainnya, seru dan mengasyikkan, just trust your instinct and let the curiosity be your guide


Sampai jumpa di cerita Gowes Wisata berikutnya

Friday, 10 May 2024

BIKECAMPING DI WADUK SERMO BERSAMA RODALINK JOGJA

Sabtu-Minggu, (27-28 April 2024).

Hai sobat Gowes Wisata, postingan kali ini sebenarnya merupakan late post yang seharusnya saya ulas di Bulan April lalu, namun dikarenakan adanya faktor aktivitas lain serta menunggu ide penulisan yang (sampai saat ini) masih tergantung mood barulah cerita lengkapnya saya tulis sekarang hehe… Nah jika kalian sudah mengikuti cerita-cerita perjalanan di blog ini sejak awal sepertinya hafal jika kegiatan bikecamping akhir-akhir ini terbilang jarang saya lakukan (bikecamping terakhir sepertinya saya lakukan sebelum touring jauh Tahun 2015-2016 lalu). Daripada berlama-lama yuk simak kisah lengkap cerita catatan perjalanan goweswisata bikecamping bersama Rodalink Jogja kali ini.



Seingat saya informasi mengenai agenda acara kegiatan bikecamping ini baru saya terima 4 hari sebelumnya, ketika tiba-tiba salah seorang dari Rodalink mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, menanyakan apakah saya tertarik untuk ikut kegiatan bikecamping kali ini. Cukup mendadak sih sebenarnya karena untuk melakukan kegiatan bersepeda overnight alias bikecamping ini saya mempunyai kebiasaan untuk mempersiapkan semua peralatannya sedetail mungkin, mulai dari mengecek kondisi camping gear (sleep system) supaya nantinya bisa digunakan dengan nyaman saat beristirahat, kondisi sepeda, serta kebutuhan sandang dan elektronik device, yah kurang lebih miriplah seperti sewaktu saya mempersiapkan untuk touring jauh, hanya saja untuk kegiatan bikecamping yang biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat 2 harian tentunya tidak terlalu dibutuhkan bawaan sebanyak untuk touring jauh, yang mana ketika melakukan touring jarak jauh dan berdurasi lama maka peluang untuk pulang dan mengambil barang yang diperlukan akan sangat merepotkan.


Pihak Rodalink sendiri sebenarnya sudah beberapa kali mengadakan kegiatan bikecamping seperti ini dengan mengambil tajuk “Bikepackers” (lebih merujuk kepada orangnya), walaupun bagi saya pribadi sepertinya istilah yang tepat adalah “bikecamping” karena lebih menekankan kepada aktivitasnya, tapi yah intinya sih sama saja tujuannya, saya pun membebaskan kepada yang membuat acara karena kehadiran saya hanyalah sebagai peserta alias goweser penggembira saja hehe…


Untuk event-event Bikepackers Rodalink sebelumnya saya sendiri sih belum pernah mengikuti (dikabari via dm tapi saya tidak bergabung) karena bagi saya yang rada “introvert” ini mengikuti kegiatan camping ramai-ramai dimana ada banyak peserta biasanya cenderung memusingkan, karena ada saatnya ketika saya sudah lelah alias mengantuk namun masih ada saja rundown acara berupa sesi games atau talkshow, nah inilah yang bikin mumet, kalau saya memilih langsung pergi ke tenda untuk tidur nanti dibilang anti-sosial, namun kalau dipaksakan melek malah pikiran saya yang sudah jalan-jalan duluan ke dunia mimpi, intinya bagi saya pribadi untuk mengikuti acara berjangka waktu lama dengan banyak orang sama artinya dengan ribed, oleh karena itu sedari dulu kebanyakan di cerita petualangan perjalanan gowes wisata ini mayoritas saya lakukan seorang diri, kalaupun melakukan perjalanan berhari-hari biasanya saya lakukan berdua saja dengan istri (bikecamping dan sewaktu touring jauh selama 3,5 bulan) karena tidak banyak kepala otomatis tidak terlalu banyak benturan keinginan.


Lalu kenapa pada kegiatan Bikecamping kali ini saya meng-iyakan tawaran dari Rodalink? Well jawabannya sih sederhana yaitu karena saya lagi gabut hehe… alias lagi ingin liburan tapi bingung mau kemana, nah mumpung ada yang nawarin dan ditambah lagi tempat tujuannya saya juga belum pernah kesana jadi ya sudah sekalian iya-in saja, toh karena ini adalah kegiatan bikecamping alias gowes nginep maka pastinya perjalanan juga akan menjadi lebih santai karena tidak diburu oleh waktu jika dibandingkan dengan perjalanan one day trip alias pergi-pulang dalam 1 hari yang notabene akan lebih cape, diburu waktu, dan malah tidak sempat menikmati pemandangan atau detail perjalanan.


Baiklah setelah menerima tawaran ini artinya sekarang saatnya melakukan persiapan barang bawaan, yang sudah pasti wajib dibawa adalah sleep system (tenda-sleeping pad-air pillow-sleeping bag), lalu kebutuhan sandang cukup membawa 2 set saja termasuk jaket dan jas hujan, sandal, peralatan mandi atau toiletris, charger handphone dan kamera, lampu tenda, obat-obatan pribadi, serta beberapa cemilan (biasanya saya bawa cokelat untuk mengisi kadar gula dan pengganti energi yang terpakai saat bersepeda), untuk urusan makan saya sengaja tidak membawa nesting, kompor dan cooking set lainnya dengan pertimbangan ini adalah kegiatan bikecamping 1 malam saja, lalu tujuannya adalah destinasi wisata Waduk Sermo, nah kata-kata “Obyek Wisata” biasanya identik dengan banyak warung jajanan terlebih ini juga masih di Jogja (Pulau Jawa) dimana warung makan dan angkringan ada dimana-mana, sehingga urusan makan pastinya relatif mudah. Pihak Rodalink sendiri juga sudah mengonfirmasi jika nantinya urusan makan malam dan sarapan sudah tersedia (disiapkan oleh pihak pengelola tempat camping).


Setelah semua persiapan dan pengecekan kondisi sepeda sudah beres, semua bawaan juga sudah terpasang dalam pannier sepeda, saatnya tidur lebih awal supaya besoknya bisa bangun lebih pagi dan mulai gowes menuju titik kumpul pemberangkatan yaitu ke Rodalink Jogja Barat yang berada di Jalan Jogja-Wates.



Pagi pun tiba, sekitar pukul 5.30 WIB saya pun mulai mengayuh pedal sepeda dari basecamp Gowes Wisata menuju ke Rodalink Jogja Barat, udara pagi yang masih terasa dingin dan sejuk berubah menjadi sedikit berpolusi selepas melewati titik nol km menuju ke Ringroad dan wilayah Gamping yang pagi itu mulai dipenuhi oleh bus-bus antar kota yang sedang nge-tem serta keriuhan aktivitas para pedagang disekitar Pasar Gamping. Sambil mengayuh dan menikmati perjalanan saya pun merasa sedikit familiar dengan momen ini, ya momen dimana saya mengayuh sepeda sembari membawa pannier yang dikaitkan pada rak sepeda dipagi hari melewati ruas jalan sambil sesekali berpapasan dengan bus-bus antar kota serta kendaraan pribadi yang berseliweran, ingatan dan rasa yang sama dengan momen ketika kami (saya dan istri) melakukan perjalanan touring jauh ke arah Timur selama 3,5 bulan, ahhh…rasanya rindu sekali dengan momen-momen seperti waktu itu.


Setibanya di Rodalink Jogja Barat, saya pun beristirahat sejenak di dalam sembari menunggu kedatangan perserta lainnya yang mengikuti kegiatan bikecamping kali ini, rencananya start gowes menuju ke Waduk Sermo akan dimulai pada pukul 08.00 WIB


Tanpa terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB kami pun mulai bersiap untuk start menuju ke Waduk Sermo melalui rute blusukan pedesaan yang minim traffic melewati terowongan Rewulu dan jalur pinggir rel kereta api sampai tiba di wilayah Sentolo dan lanjut menuju ke arah Pengasih. Disekitar Lapangan Pengasih rombongan kami pun berhenti sejenak untuk sarapan mengisi perut dengan seporsi soto ayam yang segar sembari beristirahat, namanya juga gowes santai jadi ya berhentinya sesuka kita saja, kalau mulai terasa lelah ya tinggal minggir sejenak, tidak perlu memaksakan diri karena disini kami semua bukanlah atlet melainkan hanya pesepeda yang mencari kesenangan.




Jalur Pengasih yang medan rolling naik-turunnya cukup banyak membuat kami berhenti untuk beristirahat beberapa kali, untunglah disepanjang rute ini tidak banyak dilewati oleh kendaraan bermotor sehingga suasana dan udaranya masih cukup sejuk, tidak pengap oleh polusi. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit kami mulai memasuki kawasan margasatwa Sermo, ini artinya tujuan Waduk Sermo sudah tidak terlalu jauh lagi (namun tetap saja medannya menanjak), ayo tetap semangat dan santai hehe…





Selepas perempatan kawasan Margasatwa Sermo kami pun mengambil belokan ke kanan menuju ke Waduk Sermo, disini kondisi jalannya agak rusak sehingga walaupun medannya menurun namun kalian jangan terlena dan tetap harus berhati-hati, sehabis turunan yang panjang ini kami lalu mengambil belokan ke kiri yang menuju ke arah Waduk, disini medannya langsung menanjak drastis membelah bukit dengan gradient kemiringan yang cukup menyebalkan. Sehabis tanjakan ini kami pun berhenti sejenak untuk beristirahat disebuah warung, menurut Ibu pemilik warung lokasi camping groundnya masih sekitar 2km lagi, nantinya setelah melewati jembatan yang cukup panjang tinggal ambil arah yang ke kiri dari situ sudah tidak terlalu jauh lagi. Oya lokasi camping ground kami kali ini mengambil tempat di Bukit Semar (Googlemaps “Bukit Semar Waduk Sermo”).





Dan setelah mengikuti ruas jalan yang sepertinya dibuat mengitari sekeliling Waduk Sermo ini sampailah kami di lokasi camping ground Bukit Semar Waduk Sermo. Lokasi camping ground ini cukup menarik dengan hamparan lahan rerumputan yang datar dan dinaungi oleh pohon-pohon kelapa serta view pemandangan Waduk yang tenang dan indah, disini juga terdapat ayunan, spot yang bisa digunakan untuk memancing, parkir kendaraan roda dua dan empat, toilet umum, serta Mushalla kecil. Menurut informasi yang tertera retribusi untuk camping sendiri adalah sekitar 15rb per orang jika kalian membawa tenda sendiri, namun juka kalian malas membawa peralatan camping maka kalian juga bisa menyewa tenda langsung dilokasi ini, untuk tenda berkapasitas 4 orang dikenakan biaya 50 ribu rupiah, sedangkan untuk tenda berkapasitas 2 orang dikenakan biaya 30 ribu rupiah, sedangkan untuk matras, alat masak, meja dan kursi juga disewakan dengan harga yang relatif terjangkau, bahkan jika kalian malas memasak maka bisa juga memesan langsung kepada warga sekitar untuk dibawakan atau disiapkan sesuai waktu yang kalian inginkan seperti yang dilakukan oleh pihak Rodalink yang mengatur urusan makan peserta langsung kepada pihak pengelola dan warga sekitar supaya tidak repot, tidak perlu kuatir akan rasanya karena enak dan maknyuss terutama ayam dan sambalnya T.O.P.






Pihak panitia dari Rodalink sepertinya juga menyewa tenda untuk mereka karena setibanya disana sudah ada 2 tenda berkapasitas 4 orang yang sudah terpasang, sedangkan bagi peserta silahkan memilih mau bawa tenda sendiri atau sewa langsung dilokasi, kalau saya sudah jelas membawa tenda sendiri, lumayanlah sudah lama saya tidak menggelar tenda ini setelah touring yang lalu, tenda merk Naturehike berkapasitas 2p ini ternyata masih cukup tangguh dan nyaman walaupun sudah hampir 10 Tahun berlalu, hanya terlihat beberapa titik kondisi seal seamnya yang mulai getas, rencananya setelah acara ini selesai saya baru akan mengganti semua seal seamnya dengan seal tape baru, baiklah tenda, footprint, dan pasaknya sudah terpasang, sleeping pad dan air pillow juga sudah ditiup, seleeping bag juga sudah digelar, lampu tenda sudah dicantol ke pengait atas di dalam tenda. Jika melihat persiapan dan kondisi tenda sewa dari peserta yang ada disini sepertinya nanti malam sayalah yang bakal beristirahat paling nyaman karena pada tenda sewaan peserta yang lainnya hanya tersedia matras tipis biasa dan tanpa sleeping bag (pengalaman saya biasanya jika hanya beralas matras tipis saja maka saat malam tiba orang di dalam tenda akan mulai kedinginan dan badan terutama punggung akan pegal-pegal keesokan harinya), bahkan saya juga membawa kursi lipat sendiri dengan model seperti milik helinox yang cukup nyaman, karena bagi saya pribadi waktu off from the bike adalah saat yang paling tepat untuk memulihkan kondisi tubuh yang letih setelah seharian gowes melewati tanjakan disiang hari yang terik supaya keesokan harinya bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan bugar, tentunya persiapan seperti ini juga hasil dari pengalaman dan percobaan trial and error dari beberapa gear yang ada hingga akhirnya menemukan management packing yang sekiranya terbaik dan tepat untuk dibawa.



Setelah semua beres kini saatnya untuk mandi menyegarkan diri mumpung suasananya belum terlalu ramai, hmmm…sepertinya nanti malam akan ada tambahan beberapa orang lagi (umum) yang juga akan melakukan kegiatan camping disini, terlihat dari pemasangan beberapa tenda sewa tambahan di sekitar lokasi ini. Sehabis mandi badan pun menjadi segar kembali (dan lapar) untunglah tidak beberapa lama datang makanan yang telah disiapkan oleh warga sekitar, kami pun beramai-ramai mulai menyantap hidangan kali ini (nasi, ayam, kerupuk, bihun, lalapan, dan sambal), ahh memang paling enak tipe kegiatan bersepeda adalah yang seperti ini, yaitu bikecamping atau bike overnight karena disini kita masih bisa menikmati suasana disekitar tanpa diburu oleh waktu, kalau saja ini adalah kegiatan one day trip maka bisa dipastikan saya akan menolaknya karena tidak dapat apapun selain capenya, dan detail perjalanan yang seharusnya bisa saya dapatkan bisa dipastikan akan terlewatkan karena diburu oleh waktu.





Semakin sore suasana disekitar camping ground ini justru malah semakin ramai, ada beberapa rombongan pelajar dari sebuah sekolah juga ikut melakukan camping disini, di bagian atas juga sepertinya ada rombongan lainnya yang juga mulai mengeluarkan peralatan pikniknya. Sisi positifnya mungkin adalah suasana disekitar tempat ini menjadi tidak menakutkan saat malam tiba, karena selain sudah adanya penerangan disini, keberadaan dan canda tawa dari beberapa peserta lain juga turut meramaikan suasana disekitar lokasi camping ini, beberapa dari mereka bahkan ada yang membakar jagung dengan api unggun, ngobrol-ngobrol, bahkan memancing ikan di beberapa spot yang ada. Sedangkan bagi saya pribadi yang mulai merasa mengantuk tinggal masuk ke tenda dan mulai tidur dengan hangat dan nyaman hehe…


Pagi pun tiba, mungkin lebih tepatnya dini hari karena saya terbangun sekitar pukul 04.00 WIB (karena sudah terbiasa), sepertinya rombongan pelajar sekolah yang di tenda sebelah benar-benar tidak tidur semalaman alias begadang sampai pagi karena ketika beberapa kali saya terbangun (sekitar pukul 02.00 WIB dini hari masih saja terdengar suara tertawa dan obrolan dari dalam tenda mereka), sambil membereskan sleeping bag dan beberapa peralatan lainnya saya pun mulai keluar tenda, kabut pagi yang tipis tampak menyelimuti suasana sekitar Waduk Sermo, tenda dan sepeda-sepeda pun tampak basah oleh embun pagi, suasana sangat tenang dan damai disini, cocok sekali untuk sejenak menyepi dari hingar-bingar keriuhan aktivitas perkotaan, saya pun mulai memasang kursi lipat dan duduk meghadap ke arah Waduk, menikmati ketenangan dan sejuknya suasana pagi ini.




Orang-orang dari Rodalink juga tampaknya masih tertidur dalam tenda masing-masing, beberapa bahkan ada yang tidur di luar tenda hanya beralaskan matras saja, mumpung suasananya cukup syahdu sepertinya saat yang tepat untuk mengambil detail dokumentasi suasana sekitar yang estetik.









Sekitar pukul 05.30 WIB beberapa orang dari tenda lainnya juga sudah bangun dan ada yang mulai beres-beres bersiap untuk pulang, hal yang paling unik sekaligus lucu disini adalah ketika melihat aktivitas dari para penghuni tenda lainnya yang ada disini, di tenda milik orang-orang Rodalink sebagian baru mulai bangun, sebagiannya lagi masih tidur, di Tenda milik rombongan pelajar laki-laki dari sekolah SMU karena tampaknya mereka memang begadang sampai pagi kini sedang asik memancing, di sebelahnya lagi pada tenda rombongan pelajar wanita sekolah Islam serta gurunya tampak sedang mengaji, dan di bagian atas sepertinya rombongan pekerja kantoran tampak sedang berkemas dan berfoto-foto sebelum pulang.


Sekitar pukul 08.00 WIB setelah membereskan tenda dan bersih-bersih mandi, akhirnya sarapan pun datang, saatnya mengisi energi dulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Rodalink Jogja Barat, beberapa games adu tanjakan juga dilakukan oleh beberapa pesepeda, sebagian juga masih ada yang memancing dan berswafoto. Kurang lebih sekitar pukul 09.00 WIB kami pun bersiap untuk pulang, setelah mengucapkan terimakasih kepada pengelola camping ground dan warga sekitar yang sudah menyiapkan makanan kami pun mulai melanjutkan perjalanan melalui rute yang sama seperti sewaktu menuju ke tempat ini, karena medannya rolling naik-turun maka walaupun kini rutenya dibalik hasilnya juga tetap sama saja alias tetap rolling naik-turun, capenya tetap sama hehe…




Sesampainya di dekat perempatan Lapangan Pengasih kami pun kembali berhenti sejenak untuk beristirahat sembari memesan minuman di warung yang ada, dari titik ini jaraknya sudah tinggal pertengahan lagi menuju ke Rodalink Jogja Barat, nikmati saja gowesnya yang penting sampai dengan selamat.



Sekitar pukul 11 siang kami semua pun akhirnya sudah berkumpul lagi di Rodalink Jogja Barat, dan selesailah agenda acara kegiatan event “Bikepackers” di Bulan April 2024 bersama Rodalink Jogja kali ini, secara keseluruhan acaranya terbilang sukses dan seru karena kegiatan gowesnya sendiri dilakukan secara santai tanpa diburu waktu sehingga saya secara pribadi pun masih bisa menikmati dan mendokumentasikan beberapa detail sepanjang perjalanan ini.


Ps : Terimakasih kepada pihak Rodalink Jogja yang telah mengundang saya dari Gowes Wisata untuk berpartisipasi meramaikan kegiatan ini, sukses selalu untuk kalian semua dan ditunggu agenda kegiatan gowes berikutnya ya.