Showing posts with label Wisata Pantai. Show all posts
Showing posts with label Wisata Pantai. Show all posts

Saturday, 10 May 2025

PANTAI DAN MUARA PANDANSIMO

Kamis, 24 April 2025.

Postingan perdana di Tahun 2025 ini hehe… maaf lama tidak update cerita, bukannya berarti sejak awal tahun saya tidak gowes-gowes lagi, melainkan karena gowesnya hanya seputaran rumah yang dekat-dekat saja, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang ga jelas jadinya belum mencari atau nemu spot menarik lainnya untuk diulas.


Nah kali ini waktunya untuk bertualang rada jauh sedikit mumpung cuacanya sedang bersahabat (tidak terlalu panas namun juga tidak mendung), tujuan kali ini adalah ke Pantai Pandansimo yang beberapa pekan terakhir ini sempat viral dan ramai dikunjungi oleh para goweser dan wisatawan umum, bukan karena sekedar pantainya saja melainkan karena disekitar area Pandansimo ini ada sebuah lokasi atau muara tempat mengalirnya air sungai sebelum menuju ke lautan, yang bernama Muara Pandansimo (dinamai seperti itu karena lokasinya memang di area Pantai Pandansimo)



Lokasi Muara Pandansimo sendiri mudah kalian cari di googlemaps karena sudah di-pin dengan nama “Muara Pandansimo”, sehingga bagi kalian yang ingin berkunjung ketempat ini kalian bisa dengan mudah mengikuti rutenya lewat googlemaps. Muara Pandansimo sendiri lebih tepatnya berada di Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Berjarak sekitar 32km dari Kota Yogyakarta ke arah Selatan.


Rute termudah menuju ke lokasi ini adalah melalui Jalan Bantul dan Jalan Srandakan, medannya dominan aspal halus dengan elevasi yang terbilang biasa saja (tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim), cukup ikuti petunjuk jalan dan peta, dengan lama perjalanan jika kalian gowes santai mungkin hanya sekitar 2 jam saja.


Sesampainya di pos TPR atau retribusi kalian sudah bisa melihat proses pembangunan Jembatan baru Pandansimo yang nantinya akan menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo, dengan total panjang jembatan sekitar 1,9km, saat tulisan ini dibuat proses pembangunan dan pengerjaan Jembatan tersebut masih berlangsung, diperkirakan proses pengerjaannya baru akan selesai pada pertengahan atau akhir Bulan Mei 2025.


Akses masuk menuju Pantai Pandansimo sendiri berada tepat sebelum jalur jalan jembatan, karena saya menggunakan sepeda kayuh alias gowes maka tidak ada retribusi yang dikenakan, baik itu pada pos TPR maupun di area pantainya sendiri.





Karakteristik ombak di Pantai Pandansimo sendiri sangat besar dan berbahaya untuk aktivitas berenang, sehingga bagi kalian yang berwisata ke pantai ini bersama keluarga diharapkan untuk selalu mengawasi anggota keluarga kalian yang masih kecil ya, dilarang untuk bermain air di bibir pantai karena ombak dan arus baliknya sangat kuat sehingga dikuatirkan terseret arus balik jika kalian bermain terlalu dekat dengan bibir pantai.


Kebanyakan  pengunjung yang datang ke Pantai Pandansimo ini adalah pemancing, mereka kerap datang sambil membawa peralatan memancingnya. Dan jika kalian ingin menuju ke lokasi Muara Pandansimo maka kalian cukup ikuti akses jalan kecil yang berada tepat dibelakang deretan warung-warung disekitar area pantai ini, akses jalannya sendiri hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, karena untuk kendaraan roda 4 nantinya ada beberapa titik dimana tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 dan medannya sangat sempit untuk melakukan putar balik kendaraan.






Setibanya dilokasi Muara Pandansimo pemandangannya sangat indah sekali, perpaduan yang unik antara hamparan rumput hijau yang rapi dengan aliran muara sungai serta penampakan bangunan Jembatan Pandansimo dikejauhan, jika kalian sedang beruntung terkadang beberapa warga sekitar lokasi juga kerap menggembalakan hewan ternaknya seperti kambing di area ini, sehingga menjadikannya sebagai bagian detail fotografi yang menarik.





Disekitar lokasi ini juga sudah tersedia toilet umum, hanya saja tidak ada warung yang menjual makan atau minuman disekitar sini sehingga disarankan untuk membawa bekal piknik kalian masing-masing, dan jangan lupa untuk membersihkan dan membawa pulang sisa sampah kalian ya, tetap jaga kebersihan lokasi ini, karena kalian pun berwisata ketempat ini juga untuk menikmati pemanadangannya kan? 








Bagi kalian yang suka memancing, penghobby fotografi, ataupun sekedar ingin mencari ketenangan sembari menikmati pemandangan serta ditimpali dengan suara deburan ombak pantai, maka Muara Pandansimo ini mungkin bisa kalian jadikan salah satu tujuan berwisata kalian di Jogja. Selamat berwisata

Wednesday, 16 September 2015

Perjalanan Menyusuri Pantai Selatan Yogyakarta

(12/09/15) Perjalanan goweswisata kali ini merupakan multiday trip alias dilakukan lebih dari satu hari. Ya pada post-post blog belakangan ini kami merasa lebih nyaman untuk melakukan perjalanan multiday, karena dengan waktu perjalanan yang lebih panjang dan fleksibel membuat kami merasa nyaman dan tidak diburu waktu, selain itu juga membuat kami merasa lebih bebas saat mengeksplor keunikan dari suatu wilayah yang kami kunjungi.

Kali ini yang menjadi tujuan goweswisata adalah menyusuri pesisir pantai-pantai yang berada di bagian Selatan Yogyakarta. Untuk Pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Pantai Depok sementara kami skip dulu karena ketiga pantai tersebut sudah terlalu populer dan sudah banyak blog lain yang mengulasnya (lebih baik kami memperkenalkan pantai-pantai lainnya di bagian Selatan Yogyakarta yang belum terlalu terpublikasi dan ramai pengunjung, sehingga nantinya kalian mempunyai alternatif tujuan tempat wisata pantai lain saat berkunjung ke Yogyakarta).

Setelah pada hari sebelumnya kami mempersiapkan perlengkapan apa saja yang perlu dibawa untuk perjalanan multiday trip ini, serta melakukan cek ulang untuk berjaga-jaga supaya tidak ada peralatan yang ketinggalan, maka tepat di hari Sabtu (12/09/15) ini kami melakukan start dari Basecamp Goweswisata sekitar pukul 06.30 WIB menuju arah Selatan, rencananya kami akan melalui Jalan Bantul, untuk rutenya sendiri cukup mudah, kalian hanya tinggal mengikuti jalan tersebut lurus saja mengarah ke Selatan sampai nantinya cukup ikuti petunjuk arah menuju lokasi pantai-pantai tersebut.

Beristirahat sejenak di Kabupaten Bantul, hal yang menarik disini adalah adanya separator pemisah jalan antara kendaraan bermotor dan tidak bermotor dengan lebar jalan yang cukup lega, sehingga nyaman sekali untuk bersepeda di wilayah ini, seandainya di setiap kota juga dibuat separator seperti ini :)


Selepas Jalan Bantul kami pun hanya tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Pantai Goa Cemara, petunjuk jalan yang ada juga sudah cukup jelas sehingga kalian tidak perlu takut akan tersesat. Semakin mendekat ke arah pantai perubahan suasana semakin terasa, ditandai dengan hembusan angin yang cukup kencang, khas angin pantai, hingga akhirnya tibalah kami di depan loket pembayaran retribusi untuk masuk ke areal komplek pantai.

Pembayaran tiket masuk di Gerbang loket retribusi ini sudah mencakup untuk seluruh pantai-pantai yang ada disekitar lokasi, antara lain Pantai Goa Cemara, Pantai Kuwaru, Pantai Baru, Pantai Pandansimo dan Pantai Samas (lumayan kan kalian tinggal memilih mau mengunjungi pantai yang mana terlebih dahulu).

Terimakasih kepada Bapak Wahadi selaku Marketing dari area komplek pantai-pantai ini yang memperbolehkan kami masuk secara gratis, bahkan Beliau juga menawarkan bantuan seandainya kami butuh tempat untuk beristirahat atau menginap di sepanjang area komplek pantai tinggal hubungi beliau saja (rejeki pasangan sholeh dan nyentrik sepertinya hehe…)


Kami pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Pantai Goa Cemara terlebih dahulu dengan pertimbangan sekaligus memulai dari yang terdekat dari gerbang loket.


Seperti namanya, di pantai ini banyak terdapat pohon-pohon cemara yang karena letaknya saling berdekatan sehingga antara pucuk-pucuknya membentuk lengkungan layaknya terowongan (atau Goa). Disini juga terdapat banyak tenda-tenda yang entah memang disewakan untuk pengunjung atau mungkin ada beberapa pengunjung yang membawa sendiri karena sudah merencanakan untuk bermalam atau camping di pantai ini.


Fasilitas lainnya yang terdapat di Pantai Goa Cemara ini adalah area parkir yang luas, camping ground, pendopo pertemuan, musholla, penyewaan ATV untuk berkeliling pantai (bahkan ada pemandu wisata), sedangkan untuk keperluan makan dan mandi, kalian tidak perlu kuatir karena disekitar lokasi banyak terdapat warung-warung makan serta toilet umum, dengan kata lain seandainya kalian berencana untuk melakukan camping atau kegiatan outbound di pantai ini kondisinya cukup aman kok, hanya tinggal minta ijin kepada pengelola saja :)

Setelah menemukan spot yang cukup strategis untuk memarkir sepeda-sepeda kami, maka saatnya bersiap untuk main air di sekitar pantai (oya karena karakter ombak di Pantai Selatan Jawa sudah terkenal dengan ombaknya yang besar maka bagi para pengunjung pantai dilarang untuk berenang disini, dan bagi yang membawa sanak famili atau anggota keluarga yang masih kecil harap untuk selalu diawasi ya demi keselamatannya)



Walau kami bersepeda namun saat berwisata ke pantai ya tetap harus gaya dong hehe…:D


Puas berkeliling di Pantai Goa Cemara maka kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi pantai berikutnya yaitu Pantai Baru Kuwaru. Kondisi jalan menuju ke lokasi pantai berikutnya sudah diaspal cukup halus dan suasananya juga relatif sepi dari kendaraan lainnya, maklumlah karena kebanyakan para wisatawan yang berkunjung Yogyakarta hanya tahu tentang Pantai Parangtritis saja jika ingin berwisata pantai

Alangkah asyiknya jika kondisi jalan beraspal di setiap daerah juga seperti ini


Di sisi kiri dan kanan jalan juga terdapat banyak tambak udang


Dan sampailah kami di lokasi pantai berikutnya, yaitu Pantai Baru Kuwaru


Hampir sama dengan di Pantai Goa Cemara, karakter pantai di Pantai Baru Kuwaru ini juga mempunyai ombak yang cukup besar sehingga pengunjung dilarang untuk berenang. Di sepanjang bibir pantai banyak terdapat perahu-perahu kecil milik nelayan yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, disekitar lokasi pun juga banyak terdapat warung-warung makan yang menawarkan jasa untuk memasak seafood, dimana untuk ikan atau menu makanan laut lainnya para pengunjung cukup memilih dan membeli langsung dari hasil tangkapan nelayan sehingga dijamin lebih segar dan murah (serta membantu perekonomian warga setempat)


Sejenak menyegarkan pikiran dari hingar-bingar suasana kota


Dari Pantai Baru Kuwaru ini kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke pantai berikutnya, di sepanjang jalan kami sempat melihat banyak kincir-kincir angin yang digunakan atau berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga angin dan matahari


Dengan kondisi alam Indonesia yang merupakan negara tropis dimana matahari bersinar setiap harinya serta dikaruniai jumlah pantai yang tersebar dimana-mana maka tentunya tenaga angin sudah selayaknya dijadikan sumber tenaga alternatif yang potensial untuk menyuplai kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang ramah lingkungan.


Jika saja hal tersebut (teknologi pembangkit listrik tenaga angin dan matahari) diterapkan secara merata di seluruh penjuru bumi nusantara ini maka kedepannya saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang berada di pulau-pulau lain tentunya juga dapat ikut merasakan dampak positif tersebut, yang diharapkan juga dapat meningkatkan perekonomian serta kesejahteraannya


Tidak jauh dari Pantai Kuwaru juga terdapat akses masuk menuju pantai lainnya yaitu Pantai Baru dan pantai Pandansimo, namun karena karakteristik pantai-pantai disini hampir sama semua maka kami pun memutuskan untuk melewatinya saja (hal inilah yang menjadi perbedaan antara pantai-pantai di wilayah ini dengan pantai-pantai yang berada di wilayah Gunung Kidul, walaupun secara garis besar semua pantai-pantai tersebut masih berada dalam satu garis pantai selatan yang sama namun setiap pantai-pantai di gunung kidul mempunyai perbedaan karakteristik yang menonjol dan cukup jelas antara masing-masing pantainya walaupun jarak antar pantai tersebut berdekatan)


Setelah selesai dengan Pantai Pandansimo, Pantai Baru, Pantai Kuwaru, serta Pantai Goa Cemara, maka tujuan berikutnya adalah menuju ke Mercusuar yang ada di Pantai Samas


Mercusuar ini mempunyai ketinggian sekitar 40 meter, untuk dapat naik hingga keatasnya maka kita harus menaiki satu persatu anak tangga yang ada sampai ke lantai 8, sedangkan untuk tiket masuk naik ke atas Mercusuar ini kita akan dikenakan biaya sebesar lima ribu rupiah per orang


Awalnya sempat terpikir hmmm… sepertinya ide yang bagus untuk naik hingga ke atas Mercusuar lalu mengambil gambar suasana pantai dari atas ketinggian


Namun di lantai 8 tiba-tiba situasi (perubahan anak tangga dari yang semula melingkar menjadi total vertikal) membuat seorang yang takut akan ketinggian menjadi panik hehe… ayo Agit semangat kamu pasti bisa


Dan akhirnya dengan penuh perjuangan (dan ditemani serta disupport) akhirnya sampai juga di puncak Mercusuar. Angin bertiup sangat kencang di atas sini namun pemandangan garis pantai serta suasana sekitarnya sangat indah



Tambak-tambak udang yang ada di sekitar area komplek pantai (oya kalian lihat penampakan bukit yang ada dalam foto? Nah setelah ini kami akan melanjutkan perjalanan goweswisata menuju bukit tersebut, ada apakah disana?)


Penasaran bagaimana kelanjutan perjalanan multiday trip Goweswisata setelah ini? Tunggu di post berikutnya ya :)

Note :
Bagi para pembaca yang ingin berkunjung ke Pantai Goa Cemara ini atau ingin melakukan kegiatan camping, outbound, melihat sekaligus belajar mengenai konservasi penyu, melakukan gathering, dan lainnya, bisa menghubungi :

Bapak Wahadi selaku pihak marketing
Contact : 0818-04197658
Email : wahadiarda@gmail.com
Patihan DK 16, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta

Monday, 5 January 2015

Bikecamping @Pantai Glagah Indah

Selamat tahun baru 2015 pembaca goweswisata semua, pada mengisi tahun baru dengan kegiatan apa nih hehe…

Agenda tim goweswisata pada tahun baru kemarin adalah dengan mengadakan bikecamping di Pantai Glagah Indah, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Pantai yang berjarak sekitar 44km dari pusat Kota Jogja ini merupakan salah satu pantai yang menjadi andalan pariwisata Kabupaten Kulonprogo dan bisa menjadi alternatif bagi para pecinta suasana pantai di Kota Jogja selain Pantai Parangtritis (yang sekarang terlalu ramai)

Rombongan bikecamping kali ini hanya diikuti oleh tiga orang (saya, Agitya Andiny, dan Emyr Namara), sebelumnya masing-masing dari kami telah mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk camping, bagi saya pribadi ini juga merupakan kesempatan untuk kembali mengetes beberapa peralatan camping dan survival yang saya miliki :)

Perlengkapan bersepeda, perlengkapan tidur, dan perlengkapan makan adalah bagian-bagian terpenting yang harus mendapat perhatian ekstra jika kita ingin mengikuti kegiatan-kegiatan bikecamping seperti ini, jangan sampai diperjalanan kita mengalami masalah dengan sepeda, atau setibanya ditempat tujuan, proses recovery yang dibutuhkan oleh tubuh kita setelah seharian menggowes malah menjadi makin pegal-pegal hanya karena perlengkapan tidur atau istirahat yang kita miliki tidak lengkap, begitupun halnya dengan perlengkapan makan, kita tidak mungkin hanya mengandalkan keberadaan warung-warung semata (terlebih jika pada malam harinya kita mendadak kelaparan dan warungnya tidak buka 24jam)

Start gowes dengan diiringi cuaca yang berawan dan gerimis kecil, selama perjalanan kami juga ditemani oleh salah seorang teman gowes dari sebuah komunitas sepeda lainnya, ia menunjukkan rute jalan potong yang relatif lebih sepi dan masuk melalui jalan desa dimana sepanjang rute ini kami disuguhi pemandangan persawahan warga disisi kanan dan kiri jalan. Rute yang kami tempuh yaitu melalui Jalan Bantul hingga tiba di perempatan besar kemudian belok ke kanan dan melalui jalan potong hingga nantinya tiba di jalan Srandakan (disini teman kami yang menunjukkan jalan pintas tadi kemudian berpisah karena ia hendak melanjutkan gowesnya ke tujuan yang berbeda), kemudian tinggal ikuti jalan dan rambu penunjuk arah menuju Pantai Glagah saja, rambunya cukup jelas dan mudah diikuti kok


Akhirnya tibalah kami bertiga di Pos retribusi area Pantai Glagah, untuk tiket masuknya per orang dan sepeda dikenai tarif 4rb, setelah membayar tiket masuk kami pun melanjutkan gowes menuju pantai (dari pos retribusi menuju kepantainya kira-kira berjarak 1 km)


Di Pantai Glagah ini kita dapat melihat bagian-bagian pantai yang mempunyai perbedaan karakteristik, di satu sisi terdapat area pantai yang dipenuhi tetrapod untuk memecah ombak pantai selatan yang terkenal besar, sedangkan dibagian lainnya terdapat area laguna yang lebih tenang, di laguna ini pengunjung dapat berkeliling dengan menaiki perahu kecil milik warga sekitar

Bagian pantai yang dipenuhi tetrapod pemecah ombak




Tujuan pertama kami tentu saja melihat area pantai yang dipenuhi tetrapod, huff…menuntun sepeda yang full beban di area yang berpasir ternyata berat banget. Untuk menuju area ini kami pun melewati deretan warung penjual makanan, buah-buahan, hingga kolam renang mini yang diperuntukkan untuk anak-anak (karena di Pantainya memiliki ombak yang besar sehingga sangat berbahaya untuk berenang)

jejeran warung yang berada disekitar pantai



Dengan sepeda dan bawaan yang seperti ini akhirnya kami pun menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya



Karena bertepatan dengan masa liburan akhir tahun maka suasana di pantai ini menjadi lumayan ramai oleh wisatawan yang didominasi oleh wisatawan domestik

Karena cuaca masih saja mendung dan angin yang cukup kencang maka kami pun berpindah menuju area laguna untuk mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda-tenda kami, setelah bertanya dan meminta ijin mendirikan tenda kepada pemilik warung sekitar, kami pun diperbolehkan mendirikan tenda didekat warung tersebut, bahkan pemilik warung juga menawarkan bahwa kami boleh menggunakan warungnya untuk bermalam saat warung tersebut sudah tutup malam harinya





Pada sore harinya cuaca sempat lumayan cerah sesaat, matahari mulai menampakkan sinarnya, waktu yang hanya sesaat ini pun kami pergunakan untuk memasak menggunakan nesting dan cooking set yang kami bawa, menu kali ini adalah sop (ayeeyyy makan-makan hehe...)



Selesai makan dan bersih-bersih, waktunya untuk beristirahat di tenda masing-masing, apalagi cuaca mendadak berubah menjadi mendung dan hujan pun turun tak lama kemudian

Memasuki waktu maghrib, hujan masih saja turun bahkan bertambah deras, saya pun mulai memantau situasi sekitar berharap cuaca kembali normal. Agit mengirimkan pesan singkat ke HP saya sekitar pukul 7 malam, ia ingin kekamar mandi namun lampu tendanya mati sehingga ingin meminjam lampu tenda saya, saya pun menemaninya dan menunggu di warung (warung sudah tutup namun untungnya pemilik warung tetap menyalakan lampu dalam warungnya sehingga suasana tidak terlalu gelap)

Sepertinya malam ini bukan sekedar hujan biasa yang kami hadapi, melainkan badai, karena dari kejauhan pun samar-samar kami dapat mendengar suara deburan ombak yang cukup keras menerjang tetrapod pemecah ombak, angin dan hujan pun semakin bertambah deras, saya pun menyorot situasi sekitar menggunakan senter yang saya bawa, tampaknya debit air di laguna pun mulai meningkat, bahkan disekitar lokasi warung dan tenda kami pun mulai tampak beberapa genangan, sepertinya situasi mulai tidak aman namun kami tetap mencoba untuk tenang dan waspada saat kembali masuk tenda masing-masing

Dugaan saya kali ini tidak meleset, tidak berapa lama kemudian agit pun memberitahu saya bahwa pada bagian atas tendanya air mulai merembes dan menggenangi lantai tenda, saya pun menyuruhnya untuk pindah kedalam tenda saya (tenda saya hanya berukuran 1p sehingga tidak mungkin menampung kami berdua) oleh karena itu kami pun kemudian berinisiatif menunggu hujan reda dengan pindah kedalam warung (setidaknya lebih aman dari kebocoran, walau tetap tidak melindungi kami dari angin), dari dalam warung kami melihat tenda-tenda kami, serta tenda milik rekan kami, Emyr Namara, dari kejauhan kami melihat nampaknya ia pun mengalami masalah dengan tendanya, sepertinya tendanya pun juga mengalami rembes, akhirnya saya pun mengatakan padanya untuk sementara kita semua menunggu di warung saja, oke sejauh ini hanya tenda milik saya saja yang masih aman

Pukul 10 malam, hujan tetap saja mengguyur dengan derasnya, bahkan bertambah deras, saya kembali memantau debit air di laguna yang sepertinya kembali naik, saya rasa situasi makin tidak aman untuk keberadaan tenda dan barang-barang kami, baiklah mungkin sudah waktunya memindahkan barang-barang sebelum semuanya terlambat, akhirnya setelah menggunakan jas hujan, saya pun bolak-balik antara tenda dan warung untuk memindahkan secara bertahap semua barang-barang yang ada dalam tenda kami masing-masing, pengosongan isi tenda mulai dilakukan

Setelah sekitar 1 jam kami berhasil memindahkan semua barang-barang (panniers) kedalam warung, dan saya melihat hujan yang tak kunjung reda, maka saya pikir dengan keadaan yang sudah terlanjur basah seperti ini lebih baik saya pindahkan saja tendanya sekalian, tenda yang saya pindahkan pertama kali adalah tenda milik saya karena ukurannya yang paling kecil dan ringan, setelah mencabut semua pasak dan guylines (tali pengikat) saya pun mengangkat tenda kepelataran depan warung (paling tidak untuk malam ini biarlah Agit tidur didalam tenda saya, karena hanya tenda sayalah yang dalamnya masih kering) sedangkan saya tidur di bangku depan warung

Suasana evakuasi malam hari



Saat saya berusaha menggeser tenda milik agit (setelah mencabut semua pasaknya) tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga tenda tersebut sempat terbalik, akhirnya saya dan Emyr pun berusaha menahan dan kembali menancapkan semua pasaknya setelah selesai menggeser posisi tenda lebih kebelakang menjauhi laguna. Hal yang sama pun dialami Emyr, awalnya ia tetap bertahan didalam tendanya, dan untuk mencegah air merembes, ia pun menaruh flysheet diatas tendanya sehingga seluruh tendanya terbungkus dengan flysheet, namun untuk tenda single layer yang ia miliki, ia lupa bahwa jika hanya dengan membungkus seperti itu maka seluruh area ventilasi juga tertutup sehingga tidak ada aliran udara yang bisa masuk ataupun keluar, sehingga suasana dalam tenda pun menjadi pengap, untuk menghindari hal terburuk akhirnya ia pun ikut pindah kedalam warung, sehingga kini hanya tenda milik Agit dan Emyr saja yang masih berada diluar, sepeda pun juga relatif masih aman karena kami memarkir sepeda di belakang tenda sehingga jaraknya masih jauh dari batas laguna. Akhirnya malam ini kami semua berlindung didalam warung (disaat seperti ini untunglah saya selalu membawa semua peralatan secara komplit, karena setelah basah-basahan saya pun masih membawa baju dan celana cadangan yang kering, sehingga bisa meminimalisasi resiko kedinginan)

Situasi malam ini akhirnya, Agit tidur didalam tenda saya yang sudah saya pindahkan kepelataran warung, saya tidur (walau terkadang harus berjaga) di bangku depan warung, sedangkan Emyr tidur di bangku dalam warung yang digabung menjadi satu, yah kita tentunya tidak bisa selalu mengharapkan situasi selalu baik namun setidaknya kita juga harus selalu mempersiapkan diri masing-masing untuk segala kemungkinan terburuk

Pagi hari, huaaahhhmmmm…hingga pukul 5 pagi gerimis masih saja turun, untunglah sekitar pukul 6 hujan sudah berhenti, saatnya berkeliling melihat kondisi sekitar dan mulai beres-beres



Warung yang menjadi shelter penyelamat kami


Bilas-bilas dulu sebelum pulang



Suasana setelah badai semalam


Berfoto dulu sebelum pulang


Setelah semua selesai dibersihkan seadanya dan dipacking maka kami pun bersiap melanjutkan perjalanan pulang, malam yang berat dengan tidur yang kurang membuat kami semua gowes dengan santai dan lebih menikmati pemandangan sekitar sembari berfoto-foto (karena saat berangkat hujan selalu mengiringi membuat saya malas mengeluarkan kamera hehe…)


Sekali-kali penulisnya ikut narsis hehe...


Suasana rute yang kami lalui di pagi hari


Siapa bilang Pulau Jawa identik dengan macet? asal pintar memilih rute maka kita bisa mendapat rute seperti ini



Ini asli di Indonesia lho, Jalur Pantai Selatan Pulau Jawa


Begitulah agenda gowes penutup tahun 2014 kali ini, setidaknya membuat kami juga jadi belajar untuk mempersiapkan peralatan sebaik mungkin (dan menjadi tahu mengenai kualitas dari berbagai peralatan camping dan survival yang kami miliki), serta melatih mental kami supaya tidak mudah panik serta mampu berbagi tugas dalam tim jika menghadapi situasi yang buruk, semoga di tahun 2015 ini semua menjadi lebih baik dan semakin banyak cerita petualangan baru yang menanti untuk dijalani di tahun ini