Showing posts with label Camping Gear. Show all posts
Showing posts with label Camping Gear. Show all posts

Friday, 16 September 2022

APA YANG HARUS DISIAPKAN SEBELUM MELAKUKAN PERJALANAN BERSEPEDA JARAK JAUH ; PANGAN DAN P3K

Baiklah pada post kali ini saya akan berbagi tips dan trick seputar bagaimana merencanakan dan mempersiapkan barang-barang bawaan sebelum kita melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh, oya tips ini juga bisa diterapkan untuk kalian yang suka traveling atau backpackeran lho sehingga tidak terbatas khusus untuk pesepeda saja. 🙂


Sebelum melangkah lebih jauh ada sedikit disclaimer bahwa set up pada postingan ini bukanlah merupakan sebuah aturan baku yang wajib diikuti secara saklek, karena masing-masing set up nantinya pasti akan berbeda antar individu sesuai dengan gaya dan karakter perjalanan masing-masing, beberapa mungkin ada yang membawa lebih banyak perlengkapan dan sebagian lagi mungkin ada juga yang membawa lebih sedikit, intinya semua tergantung fleksibilitas kalian masing-masing dalam beradaptasi dengan situasi yang nantinya akan kalian hadapi disepanjang perjalanan.


Untuk mempermudah pembahasan maka saya akan membagi perlengkapan-perlengkapan tersebut menjadi 5 kategori, antara lain :

- Sepeda dan toolkit

- Sandang dan toiletries

- Pangan dan P3K

- Papan dan outdoor gear

- Elektronik device


Masing-masing kategori nanti akan saya ulas secara bertahap dalam post yang terpisah supaya lebih detail dan terfokus. Dan untuk post kali ini kita akan memulainya dengan kategori “Pangan dan P3K”. Siap? Yuk kita mulai.


Management Packing


Sesuai dengan teori kebutuhan Maslow yang menjelaskan bahwa kebutuhan paling mendasar manusia adalah kebutuhan fisiologis, dimana didalamnya terdapat kebutuhan primer yaitu sandang, pangan, dan papan, maka tentu saja semua poin kebutuhan primer tersebut harus kita utamakan dalam mempersiapkan sebuah rencana perjalanan, karena perjalanan tersebut nantinya merupakan sebuah tantangan tersendiri dimana kita akan keluar dari zona nyaman pola rutinitas dan suasana yang asing, jauh berbeda dengan apa yang biasa kita alami sehari-hari, jadi tentunya sedikit banyak pasti akan ada mental shock ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak terlalu nyaman jika dibandingkan dengan kehidupan normal kita sehari-hari.


Pada awal-awal perjalanan mungkin hal tersebut tidaklah terlalu terasa karena biasanya kita masih terlalu excited atau bersemangat dengan petualangan tersebut, namun setelah beberapa hari dan setelah menempuh rute atau medan serta situasi yang cenderung sulit dan melelahkan barulah mental kita akan mulai diasah dan dilatih untuk beradaptasi dengan semua kesulitan tersebut.


Disaat semua rasa lelah tersebut mendera maka pastinya sebagai manusia biasa merupakan hal yang wajar bila kita cenderung mengalami ketidakstabilan emosional, entah itu rasa kesal, rasa ingin menyerah, mempertanyakan alasan kenapa kita melakukan hal ini, dan lain sebagainya. Semua luapan emosional tersebut jika tidak ditangani dengan baik bisa berujung kepada rasa depresi atau stress, terlebih jika kebutuhan primer kita tidak tertangani dengan baik, bayangkan saja sudah pikiran kita stress, badan lelah eh masih ditambah lagi dengan kondisi perut yang kosong, pakaian yang bau, dan shelter atau tempat beristirahat yang masih belum jelas akan stay dimana untuk hari ini?


Untuk itulah pengetahuan tentang management packing sangat diperlukan sebelum melakukan perjalanan seperti ini, apa saja yang harus dibawa? Seberapa banyak bawaan kita? Bagaimana mengemasnya kedalam tas atau pannier supaya tidak overload dan terlalu berat? Kualitas dari setiap barang yang dibawa untuk jangka panjang? Semua hal tersebut harus benar-benar kita pikirkan untuk meminimalisir kendala atau resiko kedepannya jika secara real-time kita dihadapkan pada situasi sesungguhnya.


Saya pun melakukan beberapa kali perubahan set-up bawaan sepanjang perjalanan petualangan goweswisata, mencoba mencari yang terbaik dan efisien sampai akhirnya tiba dititik postingan ini, dimana sepertinya set-up kali ini merupakan yang paling cocok dan sesuai dengan karakter perjalanan saya.


Pangan dan P3K



Keterangan Gambar :

1. Tabung Gas Canister 220gr

2. Kompor Ultralight

3. Korek Api Gas

4. Windshield

5. Teko

6. Nesting

7. Gelas Multifungsi

8. Plat Dudukan Teko/Nesting

9. Piring Kecil

10. Spatula

11. Sodet

12. Pot Gripper

13. Talenan

14. Centong Kecil

15. Pisau Dapur

16. Mangkok Lipat

17. Baskom Lipat

18. Lunch Box Lipat

19. Sendok, Garpu Lipat

20. Pisau Lipat

21. Perlengkapan Cuci Piring

22. Perlengkapan Cuci Piring

23. Lap

24. Gunting


Cooking set merupakan salah satu aspek terpenting dalam perjalanan ini, karena jika perut dalam keadaan kosong tentu akan membuat kita kesulitan untuk berpikir secara jernih, biasanya saat lapar justru rasa emosional akan meningkat sehingga keputusan yang diambil biasanya didominasi oleh faktor emosional sesaat tanpa pertimbangan logis jangka panjang.





Untuk perjalanan selama 1 mingguan biasanya saya hanya membawa 1 buah tabung gas canister 220gr saja, itu pun kebanyakan hanya dipakai untuk membuat teh saat malam hari sembari beristirahat, karena di Negara Indonesia ini (terutama Pulau Jawa,dan Bali) tidak terlalu sulit untuk mencari penjual makanan, hampir disetiap ruas jalan yang saya lalui pasti akan ada penjual makanan pinggir jalan, baik itu restoran, minimarket, warung makan, hingga angkringan, harganya pun cukup terjangkau dengan porsi yang bisa bikin kenyang, selain itu juga lebih efisien secara waktu. Kalaupun untuk melakukan perjalanan lebih dari 1 minggu (misal 1 bulan) saya biasanya membawa tambahan 1 buah tabung gas canister lagi, dan melakukan refill gas di toko oudoor yang menyediakan jasa isi ulang tabung gas.




Sedangkan untuk kompor yang saya gunakan saat ini adalah jenis ultralight merk hewolf, setelah mencoba beberapa jenis dan model kompor mini portable camping mulai dari yang menggunakan selang hingga yang versi murah meriah, akhirnya saya memutuskan menggunakan model ultralight seperti ini karena selain ukurannya yang cenderung lebih ringkas (hanya 6cm saat dilipat) dan ringan, model kompor tanpa tambahan selang gas ini juga lebih efisien saat digunakan di medan yang memiliki suhu dingin, cara pemasangan ke tabung gas canisternya pun juga cukup mudah, hanya tinggal memutar sesuai ulirnya, sedangkan jika kita menggunakan tabung gas model hicook yang banyak beredar dipasaran maka kita harus membeli adapter tambahannya supaya bisa cocok dengan kepala tabung gasnya, saat melakukan perjalanan yang lebih dari 1 minggu biasanya saya juga membawa adapter tambahannya untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sulit menemukan tempat pengisian ulang tabung gas canister, karena tabung gas model hicook relatif lebih mudah ditemukan dipasaran daripada menemukan tempat pengisian ulangnya.





Windshield atau penahan angin merupakan lembaran plat dengan ketinggian sekitar 24cm yang bisa dilipat saat dipacking, biasanya digunakan untuk melindungi nyala api kompor dari terpaan angin, supaya nyala api tetap stabil, terfokus dan makanan cepat matang.




Karena saya penikmat teh hangat maka teko menjadi salah satu bawaan wajib bagi saya untuk dibawa kala melakukan perjalanan jauh, rasanya badan dan pikiran menjadi lebih rileks kala menikmati teh hangat di malam hari sembari beristirahat sehabis melakukan gowes seharian. Saya membeli teko ini di salah satu swalayan karena tertarik melihat ukurannya yang cukup ringkas dengan diameter sekitar 14cm dan sudah dilengkap dengan saringan teh didalamnya, praktis bukan? harganya pun juga lebih murah dibandingkan dengan harga teko khusus camping yang banyak dijual di toko peralatan outdoor.



Peralatan nesting atau cooking pot saya menggunakan model DS-301 yang memiliki kapasitas cukup besar, bisa digunakan untuk memasak bagi porsi 3 orang, materialnya cukup bagus dan tidak lengket, dengan ukuran frying pan berdiameter 17cm, pot besar diameter 16cm, dan pot sedang berdiameter 14cm, biasanya saya menggunakannya untuk membuat nasi, sayur sop, dan telur dadar. Cara packingnya sendiri cukup ringkas, tinggal masukkan pot sedang kedalam pot besar, sedangkan frying pan menjadi alas bagi pot besar, biasanya didalam panci pot ukuran sedang saya masukkan gelas multifungsi berdiameter 7cm dengan ketinggian 7,5cm (biasa digunakan untuk mengocok telur) sekalian, dan terakhir tinggal letakkan piring kecil berdiameter 15cm dalam keadaan terbalik diatas tutup panci pot ukuran besar, lalu packing semuanya kedalam pouchnya.







Plat dudukan panci sebenarnya merupakan plat bekas dudukan kompor alcohol (alcohol stove) merk eiger, saya menggunakannya untuk menaruh teko teh atau panci yang sudah selesai digunakan dan masih panas sembari menggunakan kompor untuk memasak makanan lainnya, plat ini terdiri dari 3 buah bagian yang dapat dirangkai menjadi segitiga, cukup praktis dan berguna.




Spatula dan sodet saya menggunakan yang berbahan silicon tahan panas dan sudah BPA free atau food grade sehingga aman digunakan untuk memasak pada suhu tinggi, bentuknya juga cukup ringkas dengan panjang spatula sekitar 27cm, dan sodet 30cm, materialnya juga aman untuk nesting karena tidak menggerus lapisan nesting, jauh lebih efisien dan aman jika dibandingkan menggunakan spatula atau sodet berbahan stainless steel.



Pot gripper atau pegangan panci merupakan peralatan darurat untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu terjadi masalah pada pegangan panci bawaan, bentuknya cukup praktis mirip tang, bobotnya juga cukup ringan.



Talenan atau cutting board merupakan alas untuk memotong bahan makanan, kalian bisa menemukannya dengan mudah di berbagai swalayan terdekat, tinggal cari sesuai selera (harga, ukuran, dan warna) kalian masing-masing.



Centong mini merupakan bawaan dari nesting DS-301, bentuknya cukup ringkas untuk mengambil nasi dari dalam panci, sedangkan untuk sendok dan garpu selain menggunakan sendok dan garpu lipat merk 511, saya juga membawa 3 sendok rumahan biasa (1 sendok kecil panjang untuk mengocok telur, 1 sendok teh, dan 1 sendok biasa) dan 1 garpu biasa. Saya juga membawa 1 buah pisau dapur biasa selain juga membawa pisau lipat merk SOG yang saya letakkan terpisah (biasanya saya letakkan dalam tas yang mudah diakses bersama dengan lunch box, sendok dan garpu lipat 511).




Mangkok lipat menggunakan bahan silicon yang sudah food grade dan terdiri dari 3 buah mangkok yang berbeda-beda ukurannya, dimana mangkok besar berdiameter 17cm dengan tinggi 8cm, mangkok sedang berdiameter 13cm dengan tinggi 7cm, dan mangkok kecil berdiameter 10,5cm dengan tinggi  6cm. jika dipacking dalam keadaan terlipat ketiganya maka semua menjadi satu kesatuan dengan dimensi diameter 19cm dan tinggi hanya 5cm. saya biasanya menggunakan mangkok ini sebagai pengganti piring saat makan.





Baskom lipat merupakan produk dari brand Naturehike, saat dipacking besarnya hanya seukuran telapak tangan saja, biasanya saya menggunakannya untuk menampung air saat mencuci peralatan memasak.





Lunch box atau kotak tempat makan juga menggunakan bahan silicon foodgrade yang bisa dilipat saat sedang tidak digunakan, memiliki kapasitas 1200ml dengan ukuran saat tidak terlipat yaitu 21,7cm x 13,8cm x 6,5cm (PxLxT), biasanya saya menaruhnya secara terpisah dari perlengkapan cooking set lainnya.





Dan yang terakhir adalah peralatan mencuci yang terdiri dari botol sabun cuci piring, sabut cuci piring, dan kotak untuk wadah air yang sekaligus juga berfungsi sebagai wadah penyimpanannya saat sedang tidak digunakan.




Sebenarnya masih ada beberapa barang lagi yang seharusnya masuk kedalam list bawaan saya seperti gelas lipat, langsam dan kain tile untuk memasak nasi, serta gelas takar untuk beras. Saat ini saya belum memilikinya tetapi semuanya sudah menjadi target perlengkapan untuk dilengkapi secepatnya.


Sedangkan untuk wadah bahan makanan seperti telur, beras dan gula, saya juga membawa wadah toples masing-masing dengan kapasitas egg holder untuk 6 butir telur, 1kg beras dan gula (cukup untuk 1 mingguan), selebihnya seperti teh, garam, sambal, kecap, dan minyak goreng serta sayuran biasanya saya hanya menggunakan tas plastik kresek untuk mempackingnya.



Last but not least adalah P3K atau perlengkapan medis, biasanya yang sering saya bawa adalah hand sanitizer, salep untuk kram otot, minyak kayu putih, betadine, hansaplast, perban, dan obat-obatan pribadi.


Kurang lebih seperti itulah set-up kategori Pangan dan P3K yang biasa saya bawa, semua muat dalam 1 pannier kecil depan, sedangkan untuk beras dan gula biasanya saya letakkan kedalam pannier lainnya, dan untuk lunch box. Sendok garpu lipat, dan pisau lipat biasanya saya letakkan di keranjang sepeda atau tas frame yang mudah diakses.



Bagaimana cukup sederhana bukan set-up kali ini? pada akhirnya semua perlengkapan dasar ini sebenarnya sudah cukup untuk menunjang aktivitas di perjalanan kita sehari-hari, bahkan bisa diterapkan di keseharian (jika kita termasuk golongan anak kost atau pasangan muda yang masih berjuang di rumah kontrakan), seiring waktu saya pun mulai menyadari dan memahami bahwa sebenarnya dalam hidup ini apa yang kita butuhkan ternyata tidaklah sebanyak apa yang kita inginkan, keinginan adalah suatu hal yang lumrah tetapi apakah semua keinginan itu benar-benar kita butuhkan untuk menunjang kehidupan kita ataukah pada akhirnya semua keinginan tersebut justru akan memberatkan langkah kita dalam mencapai tujuan? Jawabannya ada pada keputusan kalian masing-masing.


Baiklah sekian dulu ulasan tentang management packing edisi “Pangan dan P3K”, untuk post berikutnya kita akan membahas kategori management packing yang lainnya, yang terpenting tetap persiapkan rencana perjalanan kalian sebaik mungkin, pelajari seluk beluknya, lalu lakukan, nikmati perjalanan serta petualangan kalian, rasakan setiap detail suasananya, jadilah traveler yang cerdas dan beretika, salam gowes wisata. 🙂

Wednesday, 21 September 2016

Gear Review; Sleeping Pad Naturehike

Bagi para penikmat kegiatan luar ruang atau outdoor adventure yang sudah sering berkelana kemana-mana dan mulai beranjak serius menekuni hobby yang satu ini tentunya kalian sudah sangat familiar dengan istilah sleeping pad atau air mattress, tetapi walaupun begitu bagi para pemula kegiatan outdoor yang hanya sekedar melakukan “kemping ceria” saja, penggunaan air mattress atau sleeping pad belumlah terlalu populer, keberadaannya masih terasa asing jika dibandingkan dengan sleeping bag dan matras, hal inilah yang menyebabkan sleeping pad seringkali tidak tercantum dalam list perlengkapan outdoor yang harus dibawa ketika hendak bepergian, lalu seberapa pentingnyakah fungsi sleeping pad serta bagaimana cara memilih sleeping pad yang baik? Hal ini akan kita bahas satu persatu :)

Ketika melakukan kegiatan luar ruang tentunya kondisi fisik kita akan menghadapi medan yang jauh dari kenyamanan, untuk itulah kondisi fisik yang prima menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebelum kalian memutuskan pergi bertualang

Selain tantangan dari alam berupa terpaan panas mentari serta dinginnya kabut dan hujan, fisik kita (terutama bagian pundak dan punggung) juga masih harus menanggung beratnya beban bawaan yang kita bawa, semakin lama kita menempuh perjalanan maka semakin terasa juga rasa lelah yang mendera tubuh, oleh karena itulah ketika pada akhirnya kalian tiba di destinasi akhir atau sekedar beristirahat semalam sebelum melanjutkan perjalanan di keesokan harinya maka satu-satunya hal yang terlintas di pikiran kalian dan memang dibutuhkan adalah kesempatan beristirahat yang maksimal untuk melakukan proses recovery tubuh, jika proses recovery ini tidak dimanfaatkan secara baik maka bisa dipastikan lambat laun tubuh kalian juga akan mengalami rasa fatique atau lelah yang teramat sangat dimana efek jangka panjangnya tentu saja akan berakibat negatif terhadap kondisi total kesehatan kita

Selama proses recovery atau beristirahat inilah maka tidur yang efektif dan efisien merupakan salah satu cara yang paling terasa manfaatnya di keesokan harinya, dengan tidur jugalah maka tubuh kalian akan merecovery seluruh sel yang rusak, meluruskan dan melemaskan syaraf yang sedari tadi dalam keadaan tegang akibat aktivitas fisik menjadi rileks, namun bagaimana caranya supaya tidur yang kita lakukan menjadi efektif dan efisien? Karena jika kita asal tidur saja tidak jarang di keesokan harinya justru badan kita akan mengalami rasa lelah yang jauh lebih terasa daripada sebelumnya dikarenakan posisi tidur atau kondisi tidur yang salah

Disinilah pentingnya penggunaan sebuah sleeping pad atau air mattress, karena jika kita hanya mengandalkan kepada matras dan sleeping bag saja maka hal tersebut belumlah cukup maksimal, terlebih dengan kontur topografi dimana kita mendirikan tenda yang tidak selalu datar, terkadang ada kontur yang tidak rata dan bahkan terasa keras atau berbatu, penggunaan matras saja sebagai alas tidur belumlah cukup untuk meminimalkan kerasnya kontur topografi yang terasa di bagian punggung kita, sedangkan fungsi sleeping bag hanyalah untuk menghangatkan, bukan untuk melembutkan alas tidur kita.

Dengan menggunakan sleeping pad maka ketika hendak beristirahat kita hanya tinggal meniup sleeping pad tersebut sehingga tidur kita pun akan menjadi nyaman tak ubahnya seperti tidur beralaskan kasur, kerasnya kontur topografi yang menjadi tempat dimana kita mendirikan tenda diatasnya pun menjadi tidak terasa, sehingga bagian punggung yang sejak awal menanggung beban berat tadi pun pada akhirnya dapat melakukan proses recoverynya secara maksimal

Selain untuk kegiatan outdoor penggunaan sleeping pad juga cukup berguna ketika kita melakukan traveling atau digunakan saat keadaan darurat lainnya, ketika kita tidak mendapatkan tempat bermalam atau penginapan yang kurang nyaman dikarenakan ketiadaan alas tidur maka kita tidak perlu mengeluh karena kita hanya tinggal meniup sleeping pad yang kita bawa tersebut

Lalu bagaimana cara memilih sleeping pad yang baik? Seberapa baik kualitas dari sebuah sleeping pad atau peralatan outdoor lainnya biasanya akan berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan, namun selain faktor kualitas material yang digunakan maka faktor brand atau merk terkadang juga turut memengaruhi harga yang ditawarkan tersebut, terlebih dengan embel-embel ultralight dimana para produsen berusaha untuk memangkas bobot dari barang supaya tidak terlalu berat ketika dibawa namun tetap dengan tidak mengurangi kualitas dari barang tersebut

Dipasaran barang-barang keperluan outdoor sendiri saat ini sudah banyak beredar beberapa jenis sleeping pad dari berbagai produsen, nama-nama besar brand oudoor seperti therm-a rest, big agnes, expeed, dan lainnya telah menawarkan berbagai varian sleeping pad sesuai yang kita butuhkan, namun tentu saja disini faktor hargalah yang menjadi salah satu kendala, walaupun produk mereka memang bagus dan berkualitas namun tetap saja dengan frekuensi penggunaan yang hanya sesekali di medan yang tidak terlampau ekstrem maka penggunaan barang-barang tersebut akan menjadi terlihat overprice

Lantas bagaimana cara memilih sleeping pad yang baik sesuai kebutuhan kita? Disini tentu saja kita harus memperhatikan beberapa faktor supaya apa yang kita beli kedepannya sudah tepat atau sesuai dengan apa yang memang benar-benar kita butuhkan. Faktor pertama adalah tentu saja adalah menyangkut urusan budget, berapa dana yang kita siapkan untuk membeli sleeping pad tersebut, normalnya kisaran harga sleeping pad kelas ekonomis namun dengan kualitas yang tidak mengecewakan adalah sekitar 700 ribu sampai 900 ribu rupiah, di range harga ini ada beberapa merk yang layak untuk dijadikan pilihan seperti Klymit dan Naturehike (untuk Klymit Static V sendiri sudah pernah saya buat reviewnya di post terdahulu), sedangkan untuk sleeping pad dengan harga dibawahnya (kisaran 300 ribu sampai 500 ribu rupiah) jujur saja saya tidak terlalu menganjurkannya dikarenakan sampai saat ini sleeping pad di range harga tersebut daya tahan dan kualitasnya tidak begitu bagus, bahkan cenderung menimbulkan banyak masalah kedepannya. Untuk itulah pada post kali ini saya akan mengulas tentang sleeping pad dari brand Naturehike sehingga bagi kalian yang berbudget ekonomis bisa mendapat gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan dari sleeping pad tersebut


Saya mendapatkan Sleeping pad Naturehike ini dari salah satu distributor brand Naturehike untuk Indonesia yaitu Pindon Outdoor yang mengirimkan sleeping pad tersebut untuk kami tes dan review, sleeping pad ini juga merupakan pengganti dari sleeping pad Naturehike versi sebelumnya yang berbeda, yang kami tes sewaktu melakukan petualangan bersepeda, namun pada versi awalnya sleeping pad tersebut ternyata mempunyai kekurangan yang sangat vital yaitu pada kualitas materialnya yang saya rasa terlalu tipis sehingga rentan berlubang dan pada akhirnya memang benar-benar bocor hanya karena gigitan semut, kelemahan ini tentu saja sangat mengecewakan karena bagaimana mungkin sebuah produk untuk aktivitas luar ruang nyatanya tidak tahan untuk digunakan di medan luar ruang yang sebenarnya, oleh karena itulah pada tes sleeping pad naturehike versi terbaru ini kami mempunyai ekspektasi yang setidaknya harus lebih baik daripada versi sebelumnya

Ketika pertama kali menerima paket kiriman sleeping pad ini hal yang terlintas dipikiran saya adalah excited karena ternyata sekarang dimensi packingnya lebih ringkas, jauh berbeda dari versi sebelumnya. Menurut deskripsi yang tertera di stuff sacknya sleeping pad ini memiliki ukuran dimensi terpacking yaitu 10,5 cm x 25 cm dan memang setelah saya ukur sendiri ternyata benar (dan bahkan bisa lebih kecil lagi menjadi 10 cm x 24,5 cm), dengan dimensi terpacking yang ringkas seperti ini nyatanya sleeping pad Naturehike ini kini hampir tidak jauh berbeda dengan dimensi terpacking dari sleeping pad Klymit Static V, hal ini menjadi nilai plus karena dengan dimensi yang kecil seperti ini memudahkan untuk dimasukkan kedalam tas untuk dibawa saat hendak traveling


Perbandingan dimensi terpacking antara NH dengan Klymit


Kelengkapan dari paket sleeping pad ini terdiri dari sleeping pad itu sendiri, sebuah airbag inflatable atau kantong drybag untuk memompanya, dan stuff sack.



Faktor berikutnya yang kami jadikan penilaian adalah bobot atau berat dari sleeping pad tersebut, dimana pada deskripsinya disebutkan berat dari sleeping pad naturehike ini adalah 550gr (mungkin jika yang ditimbang hanyalah sleeping padnya saja maka hal tersebut mungkin benar adanya), tetapi setelah saya timbang sendiri (Sleeping pad, stuff sack, dan airbag inflatablenya) ternyata berat totalnya adalah 600gr. Jika dibandingkan dengan berat dari sleeping pad Klymit static V maka beratnya hanya terpaut 50gr saja, dimana Sleeping pad Klymit static V beserta stuff sacknya setelah ditimbang ternyata menunjukkan angka 550gr, hasil ini menunjukkan bahwa berat total dari paket sleeping pad Naturehike ini tidaklah terlalu jauh dan masih bisa dikategorikan ultralight

Berat Sleeping Pad Naturehike



Berat Sleeping Pad Klymit Static V



Untuk cara memompanya sendiri, sleeping pad Naturehike ini menggunakan metode yang sama persis seperti halnya proses inflate sleeping pad dari brand expeed, yaitu menggunakan airbag inflatable atau seperti drybag dengan belalai dibagian bawahnya yang memiliki valve untuk memompa, sehingga kita hanya tinggal menyambungkan valve yang ada di ujung belalai airbag inflatable dengan lubang valve yang ada di sleeping pad, selanjutnya kita hanya tinggal membuka kantong airbag (drybag) tersebut untuk menangkap angin lalu perlahan-lahan menggulung airbag tersebut sambil menekannya sehingga udara langsung terpompa dari airbag menuju sleeping pad tersebut, lagi-lagi hal ini menjadi nilai plus karena kita tidak perlu bersusah payah meniup menggunakan mulut, setelah 4-5x pengisian maka sleeping pad tersebut sudah siap untuk kita gunakan, sangat mudah dan cepat

Valve yang terdapat pada airbag inflatable


Valve yang terdapat pada sleeping pad



Cara inflatenya


Dimensi dari sleeping pad naturehike ini sendiri dalam keadaan tergelar menurut deskripsi yang tertera adalah 60cm x 186cm, namun setelah saya ukur sendiri ternyata dimensinya berukuran 60cm x 184cm, tidak terpaut terlalu jauh dan dengan lebar 60cm itu sendiri saya rasa cukup pas dan nyaman dengan lebar bahu manusia kebanyakan, panjangnya yang 184-186cm itu sendiri saya rasa juga sudah cukup pas untuk ukuran tubuh orang asia kebanyakan sehingga bagian kaki kita juga tidak menggantung keluar dari sleeping pad tersebut


Dengan desain horizontal tube (disinilah perbedaannya dengan sleeping pad dari brand Expeed yang modelnya vertical tube) saya rasa justru lebih nyaman jika dibandingkan dengan model vertical tube, dan dengan lebarnya yang 60cm menjadikan tubuh tidak mudah tergelincir jatuh keluar sleeping pad ketika posisi tidur kita menghadap kearah samping. Sleeping pad ini juga sudah dilengkapi dengan bantal yang berada dibagian atas, namun saya rasa fungsi bantal ini sendiri tidak terlalu berpengaruh karena tetap saja kita harus menggunakan bantal tiup atau alas kepala lainnya supaya lebih nyaman, peletakkan bantal ini mungkin hanya sebagai penunjuk arah dimana bagian dari sleeping pad ini yang diperuntukkan untuk posisi kepala kita


Ketebalan dari sleeping pad ini juga cukup tebal menurut saya jika dibandingkan dengan sleeping pad Klymit static V. Pada sleeping pad naturehike ini ketebalannya sekitar 8,5cm sehingga jika disandingkan bersebelahan dengan sleeping pad Klymit static V maka akan terasa sekali perbedaan ketinggiannya. Letak valve yang berada di bagian bawah juga membuat keberadaanya tidak terlalu mengganggu ketika kita berbaring, namun karena posisi penutup valve yang ada di bawah ini pulalah maka ketika kita tidur dan sleeping pad bergesekan dengan matras atau alas lainnya seringkali membuat penutup valve terbuka (namun angin tidak akan keluar, karena yang terbuka hanyalah penutup valve untuk inflatenya saja)


Penggunaan material 40D yang lebih tebal dari versi pendahulunya membuat sleeping pad ini terkesan lebih kuat namun juga tetap nyaman ketika bergesekan dengan kulit kita, tidak berdecit dan panas. Nilai plus lainnya dari sleeping pad ini adalah proses deflatenya yang cukup mudah dan cepat karena kita tinggal membuka penutup valve deflatenya saja sambil menggulung sleeping pad tersebut, bukaan lubang valve deflate yang cukup besar ini juga membuat proses pengempesan menjadi lebih cepat, secara pribadi saya lebih menyukai proses inflate dan deflate dari sleeping pad naturehike ini dibandingkan dengan Klymit (yang walaupun proses inflatenya tergolong mudah juga hanya membutuhkan sekitar 15x tiupan mulut, namun proses deflatenya justru lebih susah dan memakan waktu lebih lama)

Tidak perlu kuatir dengan ketahanan sleeping pad ini saat menerima beban


Kesimpulannya adalah bagi kalian penikmat kegiatan luar ruang atau traveling maka sleeping pad Naturehike versi terbaru ini benar-benar worth to buy, dari segi beratnya yang ultralight, dimensi terpackingnya yang kecil, kemudahan proses inflate dan deflatenya, serta harganya yang sekitar 700rb-an membuat perlengkapan outdoor ini layak untuk dimasukkan dalam list kebutuhan perlengkapan kalian, karena dengan kesempatan dan proses beristirahat yang maksimal tentunya akan membuat kalian lebih menikmati setiap petualangan berikutnya kan? :)

Buatlah perjalanan dan petualangan kalian menjadi hal yang menyenangkan, bukan merupakan siksaan. Make it fun, don’t make it hard :)