Showing posts with label Review Sepeda. Show all posts
Showing posts with label Review Sepeda. Show all posts

Wednesday, 7 February 2024

REVIEW FIRST IMPRESSION SEPEDA GRAVEL POLYGON TAMBORA G7

Hai..hai sobat goweswisata, senangnya bisa berjumpa lagi dengan kalian semua di Bulan Februari ini. Nah topik kita kali ini masih dalam rangka mengulas atau mereview sebuah produk sepeda gravel keluaran terbaru dari Brand Polygon, yaitu Polygon Tambora G7, seperti apa hasil pengetesannya? Yuk simak ulasan lengkapnya dari goweswisata dibawah ini.



Jika pada postingan sebelumnya kita sudah mengulas first impression pengetesan sepeda gravel Polygon Bend V9X, kali ini saya berkesempatan untuk mencoba seri sepeda gravel lainnya dari Brand Polygon, yaitu Polygon Tambora G7, oya sekedar informasi tambahan bahwa jika kalian tertarik untuk mencoba bagaimana sih sensasi mengendarai (test-ride) sepeda ini maka kalian juga bisa langsung datang ke Toko Sepeda Rodalink terdekat yang ada dikota kalian lho, jika kebetulan sepeda ini sedang available di gudang mereka maka kalian bisa meminjamnya untuk melakukan test-ride sebelum memutuskan untuk membelinya berdasarkan size dan seri sepeda gravel mana yang dirasa paling cocok dan nyaman berdasarkan postur tubuh dan riding style kalian masing-masing.



Kembali lagi kepada pengetesan sepeda gravel Polygon Tambora G7, kali ini saya melakukan pengetesan sembari cek ulang rute yang nantinya akan dilalui untuk acara Gowes Bareng Rodalink yang rutin diadakan setiap 2 minggu sekali pada Hari Sabtu (Sabtu minggu ke-2 dan minggu ke-4), gowes kali ini saya pun tidak sendirian karena ditemani oleh 2 orang teman dari Rodalink Jogja Timur (Rodalink Janti).


Sepeda gravel Polygon Tambora G7 yang saya gunakan kali ini memiliki ukuran frame  size M, yang mana jika dilihat berdasarkan tabel geometri sepeda gravel dari Polygon seharusnya size M ini on size atau sesuai untuk postur tubuh saya yang memiliki tinggi 168cm dengan jangkauan lengan sekitar 60cm, namun saat saya mencobanya berkeliling area parkir sebentar rasanya size M sepeda ini lebih cocok bagi cyclist yang memiliki tinggi badan 172cm keatas, dikarenakan panjang dari toptube (seatpost) ke titik tengah head tube (handle stem) terasa kepanjangan walaupun panjang stem bawaan yang digunakan sebenarnya juga tidak terlalu panjang (walaupun misalnya kita mengganti dengan ukuran stem yang lebih pendek rasanya saya juga berpendapat bahwa pada kasus kali ini panjang toptube lah yang paling berpengaruh dan memang terlalu panjang untuk postur saya), tapi ya sudahlah kita coba saja dahulu yang size M ini, yuk let’s go.



Rute dan medan yang digunakan pada pengetesan kali ini sebenarnya sama dengan rute dan medan yang kemarin dilalui sewaktu saya melakukan pengetesan sepeda gravel Polygon Bend V9X, sehingga karena rute dan medan pengetesannya relatif sama tentunya akan memudahkan saya untuk membuat perbandingan first impression antara sepeda Polygon Bend V9X dengan sepeda Polygon Tambora G7.





Disepanjang perjalanan sembari mencoba mengenali dan merasakan karakter dari sepeda ini sepertinya satu hal yang sangat terasa adalah sepeda ini berkarakter race, karena untuk medan atau trek yang lurus, sepeda ini terasa sangat ringan dan responsif dikala melakukan sprint, bahkan ketika beberapa kali melibas tanjakan-tanjakan yang landai pun effort yang dibutuhkan pun terbilang masih santai. Hmmm… sepertinya faktor penggunaan material carbon pada frame dan fork cukup terasa membantu untuk memangkas bobot sepeda dan meningkatkan kecepatan, begitupun faktor grupset 1x12speed dari SRAM APEX terasa cukup presisi saat melakukan shifting dan range gearnya sudah cukup untuk melahap berbagai jenis medan.



Penggunaan seatpost carbon (non-adjustable) juga terasa cukup solid dan ringan, oya satu hal yang membedakan sepeda ini dari sepeda-sepeda lainnya adalah untuk mengunci posisi ketinggian seatpost tidak dilakukan pada bagian seatclamp melainkan pada baut yang berada dibawah toptube tepatnya dibagian segitiga depan frame dari seattube (lihat gambar), sehingga keunikan dari frame sepeda gravel Polygon Tambora G7 ini adalah tidak adanya seatclamp yang biasanya berada dibagian paling atas seattube.




Pada area segitiga depan frame ini sendiri setidaknya sudah terdapat 12 titik eyelet (5 titik pada bagian atas downtube, 2 titik dibagian bawah down tube, 2 titik pada seattube, dan 3 titik pada bagian bawah toptube), fungsi dari banyaknya jumlah eyelet ini selain untuk pemasangan cage biddon juga bisa digunakan untuk memasang frame bag yang memiliki sistem pemasangan model baut bukan strap Velcro sehingga tampilan frame bag saat terpasang nantinya akan terlihat lebih rapi. Di bagian atas toptube sendiri yang berada dekat dengan headtube juga terdapat 2 baut eyelet tambahan yang bisa difungsikan untuk memasang toptube bag atau tambahan cage biddon.



Laju sepeda yang loncer dan ringan tentunya juga akan membutuhkan sistem pengereman yang mumpuni demi keamanan, dan sepertinya hal tersebut sudah tertangani dengan baik berkat penggunaan rem hydrolic yang responsif dan pakem dari SRAM APEX beserta piringan rotornya dari SRAM PACELINE, semua jalur perkabelan juga sudah menggunakan internal routing yang dimasukkan melalui bagian atas area headtube sehingga tampilan sepeda secara keseluruhan terlihat cukup clean tanpa adanya kabel yang berseliweran.




Hub dan Freehub dari Novatech juga sudah cukup teruji dalam hal memperlancar kayuhan dan durabilitynya, selain itu penggunaan ban dari Vee Rail 700x40c juga terbilang cukup baik di medan aspal (tidak terlalu berat) dan medan tanah basah (masih bisa menggigit), bahkan pada medan gravel yang menjurus ke XC kali ini handling sepeda pun masih cukup bisa dikontrol dengan baik berkat penggunaan handlebar model dropbar flare yang lazim digunakan pada sepeda-sepeda gravel.



Secara general bisa disimpulkan bahwa sepeda gravel Polygon Tambora G7 ini sangat cocok dan sesuai bagi kalian penikmat medan gravel atau blusukan yang mendambakan kecepatan, sepeda ini dirancang untuk menemani petualangan bersepeda kalian melalui medan yang penuh rintangan dimana jika kalian dihadapkan pada situasi yang tidak memungkinkan untuk mengayuh maka untuk mengangkat atau memanggul sepeda ini pun tidak terlalu berat atau menyulitkan sehingga petualangan kalian masih bisa terus berlanjut.





Pilihan warna yang tersedia untuk seri ini hanyalah satu warna saja yaitu cream, namun yang pasti jika kalian tertarik untuk memilikinya lebih baik pastikan untuk mencobanya terlebih dahulu sebelum membeli karena dari hasil test-ride tersebut kalian bisa menentukan size frame yang mana yang dirasa paling sesuai, cocok, dan nyaman untuk postur dan riding style kalian, berikut ini saya lampirkan ringkasan spesifikasi dari Polygon Tambora G7.


Spesifikasi :

Frame : ACX GRAVEL

Fork : CARBON RIGID, TAPER 1-1/8” TO 1-1/2”

Headset : TOKEN TK155SP-36 W/ SEALED BEARING, IS 52/28.6 I IS 52/40

Stem : ALLOY 90mm (S,M) / 100mm (L,XL) OS 31,8mm 7 Derajat

Handlebar : ALLOY FLARE 16degree, W: 420mm (S,M) / 440mm (L,XL) OS 31,8mm R/D: 125mm BEND 77degree

Rear Derailleur : SRAM APEX XPLR 12-SPEED

Shifter : SRAM APEX 12-SPEED BRIFTER

Bottom Bracket : SRAM DUB T47

Crankset : SRAM APEX 1 WIDE 40T, MAX 42T, CRANK ARM 170mm

Sprocket : CASSETTE SRAM XPLR PG-1231 12-SPEED 11-44T

Chain : SRAM RIVAL 12-SPEED

Brake : SRAM APEX HYDRAULIC DISC

Brake Lever : SRAM APEX

Rotor : SRAM PACELINE 160mm CENTER LOCK

Wheelset : NOVATEC G24 DISC (28mm) W/ TUBELESS TAPE INSTALLED

Front Hub : NOVATEC D791 12x100mm 24H CENTER LOCK

Rear Hub : NOVATEC D792 12x142mm 24H CENTER LOCK FOR SPROCKET

Spokes & Nipples : STAINLESS 14G NDS : 282 & DS: 284 W/ NIPPLE BRASS (front), STAINLESS 14G NDS: 284 & DS: 282 W/ NIPPLE BRASS (rear)

Tire : VEE RAIL 700x40C 622x40 TLR

Saddle : SELLE ITALIA MODEL X, CR-MO 7mm

Seatpost : CARBON 27,2x300mm (S,M,L) / 27,2x 350mm (XL)

Seatclamp : 31,8mm BOLT

Extras : DROPOUT : UNIVERSAL DERAILLEUR HANGER

Speed : 1x12 Speed

Wheel Size : 700C

Warna : CREAM

Bobot : 14,6kg (Size M)

Harga : Rp 33.000.000 (last update Feb 2024)


Nah kurang lebih seperti itulah kesimpulan pengetesan sepeda gravel Polygon Tambora G7 kali ini, semua hasil penilaian murni menurut apa yang saya rasakan selama durasi pengetesan sehingga hasilnya sedikit subyektif karena berdasarkan pengalaman (mungkin dibeberapa orang penilaiannya juga akan berbeda tergantung pengalaman dan riding style dari masing-masing cyclistnya). Semoga informasi review sepeda dari goweswisata kali ini cukup membantu bagi kalian yang sedang mencari-cari dan masih bingung menentukan sepeda gravel seperti apa ya yang paling sesuai dengan kebutuhan kalian. Yang pasti jangan lupa tetap ikuti petualangan goweswisata ya, sampai jumpa lagi di postingan berikutnya.


Ps:

Terimakasih kepada Rodalink Jogja (Janti) dan Polygon atas supportnya

Wednesday, 24 January 2024

REVIEW FIRST IMPRESSION SEPEDA GRAVEL POLYGON BEND V9X

Rabu, 24 Januari 2024.

Hi sobat goweswisata apa kabarnya kalian semua? Wah tak terasa nih sekarang kita sudah memasuki Tahun 2024, lama sudah kita tak bersua alias sayanya yang jarang mengupdate website ini hehehe…😅 Nah di postingan perdana Gowes Wisata Tahun 2024 ini sepertinya asyik juga jika kita memulainya dengan mereview sepeda gravel buatan lokal dari brand Polygon, tepatnya seri Polygon Bend V9X.



Trend sepeda Gravel sepertinya memang sedang mencapai hypenya beberapa waktu terakhir ini, hal ini bisa kita lihat dari banyaknya seri-seri sepeda gravel yang diluncurkan oleh beberapa produsen sepeda, baik produsen lokal maupun luar, masing-masing memiliki keunggulan dari segi spesifikasi maupun target pasarnya sendiri, nah brand lokal kita yaitu Polygon yang kualitasnya telah diakui secara market internasional sepertinya juga tidak mau kalah dengan mengeluarkan beberapa line up kategori sepeda gravelnya seperti seri Polygon Bend dan yang terbaru yaitu seri Polygon Tambora. Dan dikesempatan kali ini saya dari Gowes Wisata supported by Rodalink selaku distributor resmi dari Polygon akan melakukan test ride alias mereview kesan pertama mencoba sepeda gravel Polygon Bend V9X, oya sekedar catatan walaupun kali ini saya disupport oleh Rodalink namun hasil penilaian review kali ini adalah murni dari kesan yang saya dapat setelah mencoba sepeda ini, tanpa campur tangan pihak lain termasuk Rodalink dan Polygon, jadi cukup fair.


(Model diperankan oleh orang Rodalink 😁)


Sepeda Polygon Bend V9X yang saya coba kali ini memiliki ukuran frame S, walaupun menurut tabel geometri dari Polygon seharusnya untuk tinggi badan saya yang kisaran 167-168cm ini disarankan untuk menggunakan size M, namun nyatanya justru saya nyaman-nyaman saja menggunakan frame size S, hal ini mungkin juga karena pada bagian dropbar alloy model flare 16 derajat bawaan sepeda ini memiliki reach yang cukup panjang sekitar 77mm serta penggunaan stem alloy OS dengan panjang 50mm dengan sudut 7 derajat sehingga saat menggunakan sepeda ini posisi postur riding dan jangkauan tangan saya terasa cukup pas (walaupun secara personal dan subyektif saya rasa dengan riding style saya akan terasa lebih nyaman lagi jika reach dari dropbar sekitar 65mm-70mm).




Selain itu karena sebelumnya saya terbiasa bersepeda menggunakan sepeda vintage bermaterial steel chromoly dengan segala macam rak depan dan belakang bermaterial steel juga maka saat mencoba Polygon Bend V9X ini, satu hal yang pasti dan sangat saya suka adalah bobot atau berat dari sepeda ini yang ternyata sangat enteng yaitu sekitar 11,04kg, dengan bobot sepeda yang relatif ringan ini tentunya akan sangat membantu dan memudahkan kita jika dihadapkan pada situasi atau medan yang mengharuskan kita untuk memanggul atau mengangkat sepeda, misalnya menyeberang sungai, trekking mendaki, bahkan ketika hendak meloading ke sarana transportasi lain.




Untuk bagian Grupsetnya sendiri pada Polygon Bend V9X ini menggunakan grupset 12speed dari SRAM, dimana pada bagian brifternya menggunakan SRAM Rival ETAP AXS 1x12 speed, sehingga selain melakukan fungsi pengereman maka tuas shifter kiri berfungsi untuk menurunkan atau memindahkan posisi RD menuju ke COG sprocket terkecil (10T), sedangkan tuas shifter kanan sebaliknya yaitu untuk memindahkan posisi RD menuju ke COG sprocket terbesar (52T), dan untuk lever rem selain untuk pengereman (menggunakan rem hydrolic dari SRAM Rival dengan rotor model centerlock dari SRAM Paceline berukuran 160mm) juga berfungsi untuk mengatur mode dari adjustable dropper seatpost.




Crank menggunakan single chainring dari SRAM rival 1 berukuran wide 40T dengan Bottom Bracket dari SRAM DUB BSA 68mm, digerakkan oleh rantai dari SRAM GX Eagle serta Rear Deraileur dari SRAM GX Eagle AXS 12speed, semua transmisi dioperasikan secara wireless lho alias tanpa kabel mekanis yang berseliweran seperti disepeda pada umumnya, sehingga yang patut kalian perhatikan sebelum kalian gowes adalah kondisi dari baterainya, pastikan sudah terisi full atau masih dalam kondisi aman, jangan kuatir karena baterainya sendiri juga terbilang awet kok dalam sekali pengisian sampai full bisa bertahan sampai berkali-kali gowes. Dibagian sprocketnya sendiri menggunakan model cassette dari SRAM XG 1275 12speed 10-52T yang cukup mumpuni untuk menaklukkan medan tanjakan maupun sprint di medan datar.


Dibagian Frame atau rangka  pada sepeda Polygon Bend V9X ini berbahan alloy dan dilengkapi dengan banyak eyelet sehingga frame ini juga cocok untuk dijadikan sepeda bikepacking dan touring, pada bagian atas toptubenya sendiri posisi  depan terdapat dua lubang eyelet yang bisa berfungsi untuk menaruh toptube bag model baut ataupun menambah jumlah bottle cage untuk biddon, selain itu di bagian bawah downtube juga terdapat dua lubang eyelet untuk meletakkan bottlecage biddon, sedangkan bagian sisi atas downtube terdapat empat buah lubang eyelet serta lubang untuk jalur kabel dropper seatpost.



Bagi penikmat aliran touring membawa gembolan juga tidak perlu kuatir karena tepat dibagian bawah clamp seatpost juga terdapat eyelet untuk pegangan tangkai rak belakang, sedangkan untuk bagian bawah tiang penopang rak belakang juga bisa dipasang menggunakan baut pada lubang eyelet diujung bawah belakang dekat segitiga pertemuan antara seatstay dan chainstay, sehingga untuk diadaptasi menjadi aliran touring membawa gembolan pannier jelas tidak masalah untuk sepeda ini.


Dibagian forknya menggunakan teknologi GRIP DAMPER FLOAT AIR SPRING FORK dari Fox TC 32 travel 40mm model Taper, dari hasil tesride fork ini sangat nyaman untuk melibas medan gravel jalan rusak maupun polisi tidur walaupun jika dilihat sekilas ukuran travelnya terlihat pendek dan terasa tidak meyakinkan namun ternyata sangat nyaman dan melebihi ekspektasi saya. Apalagi pada bagian tire clearance kaki-kaki sepeda ini juga telah dibekali dengan penggunaan ban luar dari Vee Rail 700x50c yang cukup gagah dan mampu meredam hambatan dari permukaan jalan yang tidak rata. Rims menggunakan Novatec G24 Disc dengan ruji berbahan stainless double butted yang terangkai ke bagian Hub dan freehub model TA dari Novatec 24hole.



Dibagian seatpostnya menggunakan model dropper dari REVERB AXS XPLR berukuran 27,2 x 400mm, oya model dropper seatpost ini juga wireless lho sehingga penampilan dari sepeda ini secara keseluruhan terlihat rapi karena tidak ada kabel yang berseliweran, untuk posisi baterainya sendiri berada tepat dibagian atas (bawah sadel), dan sadelnya menggunakan sadel dari FLUX2 dengan railing sadel berbahan cr-mo.



Berikut akan saya rangkum detail spesifikasi dari sepeda Polygon Bend V9X ini :


Genre : City, Gravel, Bikepacking, Touring

Teknologi : GRIP DAMPER FLOAT AIR SPRING FORK, BRAKE/SHIFTER ROUTE INTERNAL

Frame : ALX GRAVEL

Fork : FOX TC 32 40mm TRAVEL, TAPER 1-1/8” TO 1-1/2”

Headset : FSA NO.42 W/ SEALED BEARING. IS 42/28,6  IS 52/40

Stem : ALLOY 50mm OS 31,8 SUDUT 7 DERAJAT

Handlebar : ALLOY OS FLARE 16degree, LEBAR 420MM (S,M) / 440mm (L,XL), DROP 125mm, REACH 77mm

Rear Deraileur : SRAM GX EAGLE AXS 12-SPEED

Shifter : SRAM RIVAL ETAP AXS 12-SPEED BRIFTER

Bottom Bracket : SRAM DUB BSA 68mm

Crankset : SRAM RIVAL 1 WIDE 40T, MAX 42T, CRANK ARM 165mm (S, M) / 170mm (L, XL)

Cassette : SRAM XG 1275 12-SPEED 10-52T

Chain : SRAM GX EAGLE

Pedal : ONE PIECE PP FLAT

Brake :  SRAM RIVAL HYDRAULIC DISC

Brake lever : SRAM RIVAL

Rotor : SRAM PACELINE 160mm CENTERLOCK

Wheelset : NOVATEC G24 DISC (28mm) W/ TUBELESS TAPE INSTALLED

Front hub : NOVATEC D791 12x100mm 24H CENTERLOCK

Rear hub : NOVATEC D792 12x142mm 24H CENTERLOCK FOR XDR

Spokes & Nipples : STAINLESS DOUBLE BUTTED 14G NDS: 282mm (front), 284 (rear) W/ NIPPLE BRASS

Tire : VEE RAIL 700x50C 622x50 TLR

Sadel : FLUX2, CR-MO RAILING

Seatpost : REVERB AXS XPLR T: 75mm DROPPER, 27,2x400mm

Seatclamp : 31,8mm BOLT

Extras : DROPOUT

Speed : 1x12 speed

Warna : CHARCOAL

Weight : 11,04 kg (S), 11,49 (M), 11,9kg (L), 12,24 (XL)


Setelah mengulas detail spesifikasinya kini saatnya menginformasikan harga dari sepeda Polygon Bend V9X ini, harga dari sepeda ini per Januari 2024 adalah di kisaran 52 juta rupiah, terdengar atau terasa mahal? Mungkin saja, namun bagi para enthusiast sepeda tentunya harga  tersebut terbilang cukup layak mengingat berbagai fitur teknologi tercanggih telah disematkan  ke dalam isian sepeda ini untuk mengakomodir kenyamanan kalian disaat bersepeda menjelajah rute-rute menantang dan mengasyikkan. Oya pada foto-foto review sepeda ini aksesoris seperti bottlecage, biddon dan pedal tidak termasuk kedalam paket pembelian ya karena semua itu property pribadi saya yang sengaja dipasang untuk melengkapi kenyamanan testride kali ini.




Secara pribadi penilaian saya terhadap performa sepeda ini setelah melakukan testride di medan aspal, jalan tanah rusak dan becek, jalan berbatu, jalan berlumut, medan menanjak, dan medan turunan maka nilainya adalah 8/10, mengapa tidak nilai sempurna? Karena ada beberapa aspek yang saya rasa masih terasa mengganjal selama test ride kali ini yaitu, seatpost yang beberapa kali sempat sedikit turun (mungkin karena seatclampnya mulai kurang mencengkram setelah sering digunakan untuk testride oleh para pesepeda lainnya, intinya hanya masalah teknis semata), kemudian ada bunyi-bunyi mengganggu dari sekitar area seatpost (mungkin faktor pegas suspensi pada seatpost atau guncangan baterai), lalu grip knob pada ban yang kurang mencengkram di medan tanah basah (hanya masalah upgrade saja solusinya), dan reach dropbar yang terlalu panjang. Selebihnya tidak ada masalah atau kendala selama testride kali ini, frame cukup lincah dan ringan untuk bermanuver, fork cukup mumpuni meredam guncangan disegala kondisi medan, rem cukup pakem dan stopping powernya pas, shifting relatif smooth, ratio gear juga sudah pas.




Kurang lebih begitulah hasil review sepeda Polygon Bend V9X dari saya Gowes Wisata, jika kalian masih penasaran dengan sepeda ini maka kalian juga bisa melakukan test ride sepeda ini di Rodalink Shop terdekat yang ada di kota kalian.




Polygon Tambora & Polygon Bend V9X


Semoga postingan kali ini bisa membantu kalian yang sedang mencari sepeda berkualitas yang nyaman disegala medan ya, sampai jumpa lagi di episode Gowes Wisata berikutnya 🙂

Saturday, 29 July 2017

BAGAIMANA MEMBANGUN SEPEDA TOURING DENGAN BUDGET TERBATAS


Melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda tentu terdengar seru dan mengasyikkan, namun apa memang benar seperti itu realitanya? Seringkali kita mendengar seseorang yang mengeluh saat touring dikarenakan seluruh badannya terasa pegal serta mengalami kram dibagian tubuh tertentu setelah ia bersepeda dengan durasi yang cukup lama. 

Ketika melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh tentunya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu diatas sepeda, oleh karena itu faktor kenyamanan yang terkait dengan lamanya durasi saat kita bersepeda menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan dengan cermat supaya perjalanan kita nantinya menjadi menyenangkan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan atau rasa trauma secara psikologis.

Lantas sepeda seperti apa yang paling cocok untuk kita? Pertanyaan seperti ini tidak hanya berlaku untuk sepeda touring saja, melainkan juga untuk semua jenis sepeda tergantung minat dan jenis aliran bersepeda yang kita sukai, baik itu touring, commuting, XC, downhill, AM, lowrider, gravel, folding bike, roadbike dan lainnya.

Tidak jarang kita melihat banyak pesepeda yang pada akhirnya membeli atau merakit sebuah sepeda tidak didasarkan kepada kebutuhannya, melainkan lebih banyak karena terpengaruh kata teman, trend, prestise, dan gaya. Yang mana pada akhirnya sepeda yang mereka bangun menjadi overbudget, terlihat bagus secara penampilan namun fungsinya tidak digunakan secara maksimal. Alih-alih menghabiskan dana hanya untuk mengejar tampilan, saya justru lebih menyarankan kepada mereka yang baru memulai atau ingin merakit sebuah sepeda untuk menggunakan anggarannya secara cermat sehingga sisa dana yang ada bisa digunakan untuk melengkapi faktor keamanan si pesepeda ataupun bisa digunakan sebagai tambahan dana selama melakukan perjalanan bersepeda itu nantinya.

Kebutuhan VS Keinginan

Merk-merk terkenal yang sering kita lihat menempel di sebuah sepeda touring seperti Surly, Bike Friday, Salsa, Koga, Velotraum, Comotion, Dahon, Tern ataupun pada perlengkapan pendukungnya seperti Ortlieb, Vaude, Arkel, Tubus, Schwalbe, Brooks memang merupakan produk-produk yang bagus dan telah teruji ketangguhannya, namun balik lagi kepada faktor kenyamanan pengguna yang sejauh ini mayoritas masih bersifat subjektif karena kenyamanan si pengguna A tentunya akan berbeda dengan kenyamanan pengguna B, maka disinilah kita benar-benar harus bisa meredam ego saat hendak membangun ataupun membeli sebuah sepeda touring dan perlengkapan pendukungnya, pada kasus ini kita harus benar-benar bertanya kepada diri sendiri apakah kita memang benar-benar “membutuhkan” merk-merk tersebut yang tentu saja telah teruji namun bernilai mahal secara materi ataukah hanya semata-mata karena kita “menginginkan” nilai prestise dari merk atau brand tersebut, apakah kebutuhan kita memang memerlukan ketangguhan dari brand tersebut (rute perjalanan, destinasi, durasi, iklim) ataukah sebenarnya hanya karena kita ingin sepeda yang kita bangun nantinya “terlihat layaknya sebuah sepeda touring pada umumnya”, ini akan sama halnya ketika kita memutuskan menggunakan atau membeli sebuah tenda 4 musim hanya sekedar untuk camping ceria di pinggir pantai selama 1 hari supaya saat difoto nantinya kita akan terkesan layaknya seorang petualang.

Memang semua keputusan tersebut akan berpulang kepada si pesepeda itu sendiri, karena di dunia ini memang ada beberapa orang yang memiliki budget tak terbatas dalam membangun sebuah sepeda dan ia memang membangun sepeda tersebut hanya karena nilai prestisenya saja (mungkin juga karena ia adalah seorang kolektor), yang mana hal tersebut secara tidak langsung akan mengangkat status sosialnya dalam sebuah komunitas, hal tersebut memang tidak salah dan sah-sah saja, namun ada juga orang yang memaksakan budget yang dimilikinya hanya karena faktor trend dan sebatas karena rasa “ingin” saja, yang pada akhirnya ketika sepeda tersebut sudah jadi dan di tes, ia merasa kurang nyaman saat menggunakannya namun karena sugesti “kata teman saya merk tersebut adalah yang terbaik”, maka ia akan memaksakan dirinya untuk tetap memakai atau berada dalam ketidaknyamanan tersebut sembari berpikir “mungkin memang begini ya rasanya menggunakan merk tersebut”, tidak nyaman tetapi terlihat keren di lingkungannya

Menggunakan sebuah produk dari brand terkenal yang telah teruji memang akan meminimalkan masalah selama dalam perjalanan nantinya, namun bukan berarti semua produk tersebut akan benar-benar bebas dari masalah, begitu pula sebaliknya ketika menggunakan produk dari brand-brand kelas menengah, beberapa dari produk tersebut nyatanya juga cukup tangguh selama pengujian di lapangan, ditambah lagi dengan adanya bonus berupa penghematan anggaran yang bisa kita gunakan selama perjalanan nantinya.

Banyak dari kita yang mungkin tersugesti untuk menggunakan brand yang sama dengan orang-orang tertentu yang sering kita lihat fotonya muncul dibeberapa majalah, forum diskusi, dan televisi. Karena ia telah melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh, kita merasa “oh mungkin inilah sepeda yang terbaik dan harganya juga tidak terlalu mahal”, bahkan mungkin karena terlalu mengidolakannya kita juga akan membangun sepeda touring kita nantinya dengan menggunakan brand dan tipe yang sama, warna cat yang sama, spek yang sama, bahkan semua tempelan stikernya juga akan diusahakan semirip mungkin (mungkin jika sang idola tersebut melihat sepeda-sepeda yang mirip dengan sepedanya tersebut ia juga akan bingung mencari yang mana sepeda miliknya yang asli), namun apakah hanya dengan menggunakan sepeda yang sama persis dengan sepeda idola kita maka serta merta menjadikan kita mempunyai cerita petualangan yang sama dengan orang tersebut? Tentu saja tidak karena walaupun kita menempuh perjalanan dengan rute yang sama atau bahkan menempuh perjalanan bersamanya tetap saja kita akan mempunyai cerita yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda, nilai cerita yang berbeda, dan cerita yang terbaik adalah cerita yang dihasilkan oleh mereka yang menikmati perjalanannya karena keinginan dirinya untuk menjelajah, bukan cerita yang dihasilkan oleh mereka yang berusaha menjadikan dirinya mirip dengan si penjelajah idolanya selama di perjalanan.

Jika kita mau bersabar dan jeli maka saat ini kita bisa mulai menyusun daftar kebutuhan dalam proyek membangun sebuah sepeda touring supaya nantinya alokasi anggaran yang dibutuhkan tidak terlalu membengkak hanya karena kita “lapar mata” saat hendak membeli beberapa parts, dengan berpegang kepada list yang kita buat ini maka kita akan bisa mengerem keinginan kita dan mulai memprioritaskan apa yang paling penting dan dibutuhkan nantinya. Berikut ini saya akan mulai merinci dan menjelaskan poin-poin plus dan minusnya dari beberapa parts dengan mengambil contoh dari sepeda yang kemarin saya rakit sendiri dan telah digunakan untuk bersepeda jarak “yang tidak terlalu” jauh :)

Basic frame yang saya gunakan untuk sepeda ini awalnya saya kurang tahu apa merknya (belakangan barulah saya ketahui bahwa ini adalah frame sepeda Dignity velocity buatan Taiwan), mungkin merk ini bukanlah merk terkenal dan familiar bagi para pelaku aktivitas touring bersepeda karena frame ini notabene adalah sebuah vintage bike , namun biarlah setidaknya justru hal tersebut menjadikan sepeda ini “anti mainstream” dengan yang lainnya.

Frame Dignity dengan nomor seri 94UC6722 (nomor seri terletak di bagian bawah tempat bottom bracket) ini saya dapatkan seharga 135 ribu rupiah (frame, fork, seatpost) melalui sebuah iklan yang terpasang di situs jual beli online, pada awalnya kondisinya terlihat mengenaskan dengan warna orange dari cat semprot murahan serta ditutupi decal stiker merk sepeda lain, namun satu hal yang menjadikan frame ini terlihat bernilai di mata saya adalah karena frame sizenya yang pas dengan postur tubuh saya, selain itu frame ini mempunyai lug atau sambungan yang berada di bagian headtube, serta antara seat tube dengan top tubenya, hal ini cukup menegaskan bahwa setidaknya frame ini bukanlah frame asal-asalan, dan masih ditambah lagi dengan adanya RD hanger yang terletak di bagian drop outnya, ternyata prediksi saya tidaklah salah ketika memilih frame ini karena saat saya mulai mengerok catnya ternyata material tubing yang digunakan adalah chromoly yang notabene banyak digunakan sebagai bahan dasar tubing pada sepeda-sepeda touring merk terkenal, kesimpulannya adalah saya mendapatkan harta karun sebagai “jembatan” untuk mulai mewujudkan impian saya menjelajah bumi nusantara ini





Setelah urusan frame selesai, maka hal terpenting berikutnya saat membangun sebuah sepeda touring adalah menentukan jenis rak seperti apa yang nantinya akan digunakan untuk meletakkan pannier-pannier.

Rak haruslah terbuat dari material yang kuat namun tidak terlalu berat, dimensi dan desainnya pun harus tepat supaya saat menggantungkan pannier nantinya pannier tidak mudah terlepas atau bergesekan dengan roda atau tumit kaki. Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka pilihan pun jatuh ke rak bekas citybike untuk digunakan sebagai rak belakang (karena untuk menahan beban manusia hingga lebih dari 50kg saja sudah terbukti kuat), rak ini terbuat dari bahan besi solid, tubingnya tidak terlalu besar sehingga dibeberapa bagiannya saya lilitkan selang aquarium dan lakban supaya saat pannier digantung ke tubing rak maka bagian pengait dari pannier tidak mudah terlepas, dan supaya pannier tidak menyentuh bagian roda maka saya pun memodifikasi rak tersebut di tukang las dengan membuat sayap samping sesuai dimensi pannier belakang (harga rak belakang bekas Rp 20.000,- , biaya las Rp 15.000,-)



Untuk rak depan saya menggunakan rak yang terbuat dari material besi hollow dan dicustom seperti model rak depan milik Surly, saya menyukai model rak seperti ini karena selain bisa untuk menggantungkan pannier di sisi kiri dan kanannya, bagian atas rak bisa saya gunakan untuk menaruh toolkit di perjalanan, sehingga ketika terjadi masalah teknis saya tidak perlu membongkar isi pannier, melainkan cukup membuka drybag tempat toolkit yang saya ikat di bagian atas rak.

Untuk rak depan model ini tantangannya adalah saya harus membuat plat sebagai tempat mengunci baut rak dengan fork (yang saya letakkan di bagian baut caliper V-brake) supaya posisinya tidak bergeser, dan karena fork saya mempunyai tubing yang besar maka untuk posisi kuncian tambahan rak terhadap fork saya menggunakan clamp berbentuk U, dengan 2 kuncian penahan ini (plat dan U-clamp) maka sekarang posisi rak benar-benar tidak bergeser lagi dan kuat.



Berikutnya adalah bagian penggerak, bagian ini mempunyai pengaruh vital terhadap stamina kita ketika menghadapi rute atau kontur jalan yang kurang mulus atau menanjak, jika bagian ini berfungsi secara maksimal maka akan sangat membantu sekali untuk menghemat stamina dan mempercepat laju sepeda.

Karena frame Dignity hanya mempunyai sistem rem untuk jenis V-brake atau Cantilever Brake (tidak di disain untuk discbrake) maka untuk freehub saya menggunakan shimano RM-70 yang kompatible dengan sprocket 7-8-9 speed dan memang diperuntukkan untuk sepeda dengan sistem rimsbrake tersebut, sejauh ini freehub shimano RM-70 dengan jumlah klik atau POE (point of engagement) berjumlah 16 tersebut terbukti cukup tangguh dan perputarannya juga lancar sehingga sangat membantu mengoptimalkan putaran roda


Sedangkan untuk Hub depannya saya menggunakan dynamo hub dari shimano dengan tipe DH-2N30-E 36 hole yang mampu menghasilkan arus listrik AC sebesar 6V-2,4W yang kemudian saya gunakan untuk menyalakan lampu depan, namun dengan terlebih dahulu membuat sebuah inverter untuk mengubah arus AC tersebut menjadi DC, keuntungan dari menggunakan dynamo hub adalah kita tidak perlu kuatir jika batere telepon genggam atau beberapa peralatan elektronik kita habis maka kita tinggal menyambungkannya ke inverter saja (tentu saja dengan memodifikasi rangkaian inverter tersebut supaya kebutuhan outputnya sesuai dan bisa untuk men-charge batere telepon genggam kita)

Namun selain nilai plus dari dynamo hub tersebut, juga ada beberapa kendala ketika kita memutuskan untuk menggunakannya, antara lain perputarannya tidak akan selancar jika kita menggunakan hub biasa, selain itu kita juga harus mengikir atau senai panjang spoke karena dynamo hub menggunakan spoke yang lebih pendek dari spoke yang digunakan pada umumnya, dan untuk menggunakannya kita harus membuat sebuah inverter untuk mengubah arus AC menjadi DC, di pasaran memang ada yang menjual inverter seperti e-werk atau biologic seperti yang terpasang pada sepeda Dahon TR namun harganya sangat mahal sehingga solusinya adalah kita harus membuatnya sendiri



Untuk rims, saya menggunakan Araya TM 840F 36 hole double wall yang mempunyai brake line pada sisi sampingnya sesuai dengan system rem V-brake yang saya gunakan, dengan harga yang cukup ekonomis (160rb sepasang), rims dan spoke stainless steel (80rb untuk seluruh wheelset) ini terbukti cukup tangguh untuk menopang seluruh beban sepeda serta perlengkapan yang saya bawa selama perjalanan



Perjalanan yang jauh tentunya membutuhkan ban luar serta ban dalam yang kuat dan awet, untuk itulah maka saya menggunakan ban dalam kingland (Rp 12.500/buah) yang mempunyai ketebalan cukup penuh, serta untuk ban luarnya saya menggunakan Maxxis Overdrive 26x1.75 yang mempunyai pelindung dari Kevlar pada sidewallnya (optimum puncture protection), sejauh ini fitur Kevlar tersebut telah terbukti sanggup menahan goresan dari karang-karang tajam sewaktu saya berada di Pantai Liang Dewa, Labangka, Pulau Sumbawa. Keunggulan lainnya dari ban luar Maxxis overdrive ini adalah ia mempunyai reflective line yang melingkar di sepanjang sidewallnya, sehingga bagi penikmat touring tentunya fitur ini cukup melindungi ketika kita sedang bersepeda di kegelapan.

Alasan lainnya saya memilih ban luar Maxxis overdrive yang harganya terbilang cukup menguras kantong ini (bagi saya) adalah saya lebih baik menggunakan ban yang sesuai dengan peruntukannya dan dengan fitur yang memang didesain sesuai dengan medan dan durasi perjalanan touring yang umumnya memakan waktu lama baik itu selama total waktu perjalanan maupun durasi selama mengayuh sepeda per harinya sepanjang perjalanan daripada saya asal memilih ban “yang penting murah” namun pada akhirnya sepanjang perjalanan saya malah direpotkan dengan urusan mengganti ban dalam yang bocor atau mengganti ban luar yang karetnya getas atau sobek, karena selain hal tersebut pastinya menyebalkan juga melelahkan serta membuat kita rugi waktu dan biaya, oleh karena itu setidaknya untuk memulai sebuah perjalanan kita tidak bisa hanya bermodal nekat asal jalan saja melainkan juga harus mulai belajar mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan kebutuhan kita dalam perjalanan nantinya (bertanya pada forum diskusi atau membaca review dari pengguna lainnya)



Untuk sistem percepatan saya menggunakan sprocket shimano CS-HG20 9speed 11-34T. Menurut saya 9 speed sangat ideal untuk kebutuhan touring karena dengan ratio gear yang lebar memudahkan kita ketika berhadapan dengan medan menanjak (selama tanjakannya tidak terlalu ekstrem), namun karena sprocket 9speed CS-HG20 ini berada dalam kelas entry level maka kelemahannya adalah ia cepat menjadi kotor, tentunya akan berbeda jika saya menggunakan sprocket 9speed lainnya yang masuk kelas diatasnya seperti seri deore atau SLX


Sementara pada bagian rear deraileurnya saya menggunakan deore tipe lama M592 (mungkin sekarang setara dengan alivio 9speed M3100), RD ini saya dapatkan melalui situs jual beli online dengan harga yang menurut saya terhitung worth it (500rb untuk FD dan RD sudah termasuk ongkos kirim), RD, FD, Shifter, Crank dan rantai sudah dari dulu saya gunakan sewaktu saya masih menggunakan sepeda MTB XC dan hingga sekarang tidak ada masalah teknis yang berarti pada semua komponen tersebut, semua masih berfungsi normal dan lancar, untuk rantai sendiri saya menggunakan KMC yang memiliki conector link supaya memudahkan ketika saya ingin melepas dan membersihkan rantai tanpa perlu menggunakan alat pemotong rantai


Untuk Crank saya menggunakan seri deore juga (FC-M590) dengan chainring 44-32-22T yang kemudian saya beri pelindung bashguard supaya ketika saya bersepeda menggunakan celana panjang tetap aman, dan ujung bawah celana tidak ikut terlilit masuk terjepit gerigi dari chainring.

Sedangkan untuk bottom bracketnya saya menggunakan model outer BB dimana perawatannya lebih mudah dan lebih awet, selain itu perputaran ball bearingnya juga lebih lancar dan terasa signifikan bedanya jika dibandingkan ketika saya masih menggunakan BB model kotak (kecuali jika BB model kotaknya seperti merk Token yang terkenal sangat loncer)


Pada bagian pedal saya menggunakan model flat pedal dari exustar yang bertapak lebar (sebenarnya ini merupakan pedal untuk sepeda BMX namun terasa sangat nyaman sekali saat dikayuh). Pedal ini telah saya gunakan sejak saya mulai pertama kali merakit sepeda MTB XC hingga sekarang (kurang lebih sudah saya gunakan selama 5 tahun lamanya di segala jenis medan) dan tidak ada masalah sama sekali


Untuk caliper rem Vbrake saya menggunakan merk Logan, merk ini sebenarnya terhitung merk biasa dan murah (30rb sudah termasuk caliper rem, pad, noodles, dan brake levernya) namun disini saya hanya menggunakan bagian caliper dan noodlesnya saja, selebihnya sudah saya ganti, untuk padnya saya menggunakan merk viva dan brake levernya saya menggunakan avid fr5. Selama saya melakukan perjalanan 107 hari keliling sebagian wilayah Indonesia saya hanya 1x mengganti pad rem belakang karena sudah mulai tipis (itupun setelah saya sudah memakainya jauh sebelum perjalanan jauh tersebut dimulai)


Selama touring tentunya waktu kita akan lebih banyak dihabiskan dengan mengayuh sepeda yang artinya sebagian besar waktu kita akan lebih banyak digunakan untuk duduk di atas sadel sepeda, oleh karena itulah komponen ini pun memegang peran penting yang menentukan kenyamanan kita selama bersepeda, jika pilihan kita tidak tepat maka biasanya kita akan mengalami rasa kram di sekitar bagian pantat atau selangkangan.

Disini pilihan saya jatuh kepada sadel WTB Volt karena beberapa alasan, alasan pertama adalah karena sadel ini saya dapatkan secara gratis hehe…, Sadel yang bertipe kecil atau slim ini secara fisik memang kurang cocok bagi pesepeda yang memiliki bokong yang lebar, alasan lainnya adalah karena sadel ini minim perawatan karena menggunakan kulit sintetik sehingga walau sedang diterpa hujan atau panas kita tidak perlu membungkus sadel tersebut dengan plastik



Kebutuhan touring lainnya yang vital bagi pesepeda tentu saja kebutuhan akan air minum supaya tidak terkena dehidrasi, oleh karena itulah rata-rata sepeda touring memiliki tempat untuk menaruh biddon atau botol minum yang berjumlah lebih dari 1 buah (kebanyakan memiliki 2-3 buah), namun bagaimana jika sepeda kita hanya memiliki 1 buah tempat untuk menaruh biddon saja? Tidak perlu kecewa karena dengan sedikit kreativitas maka kita bisa memodifikasi frame sepeda kita supaya bisa membawa 3 buah biddon sekaligus seperti yang saya lakukan, solusinya pun cukup mudah dan murah yaitu dengan menggunakan clamp yang biasa kita gunakan untuk mengikat selang gas, namun supaya frame kita tidak tergores maka ada baiknya sebelumnya kita melilitkan ban dalam bekas pada bagian frame dimana kita akan memasang clamp tersebut nantinya

Menurut saya pribadi frame sepeda yang hanya memiliki 1 buah tempat untuk meletakkan biddon justru lebih menarik karena untuk memasang biddon berikutnya kita akan lebih fleksibel untuk meletakannya pada posisi yang sesuai dengan yang kita inginkan




Dengan bobot sepeda yang lumayan berat (baik itu kosongan maupun saat membawa seluruh perlengkapan) tentunya membutuhkan kickstand yang mumpuni untuk menopang seluruh beban tersebut (solusi lainnya tentu saja dengan menyenderkan sepeda saat sedang berhenti), oleh karena itulah saya memodifikasi kickstand adjust yang saya gunakan supaya posisinya tidak bergeser turun dengan memberi clamp kecil pada posisi adjustnya



Ketika kita memutuskan untuk mulai membangun sepeda touring tentunya satu hal yang harus kita sadari konsekuensinya adalah sebagian besar waktu kita selama di perjalanan nantinya akan lebih banyak berada di atas sepeda, oleh karena itu posisi tubuh saat sedang bersepeda tentunya harus diusahakan senyaman mungkin untuk menghindari rasa lelah yang berlebihan atau kram

Posisi tubuh cyclist saat sedang bersepeda touring tentunya akan berbeda dengan posisi tubuh cyclist pada aliran sepeda downhill, XC maupun roadbike. Pada aliran sepeda touring posisi tubuh biasanya akan lebih tegak atau upright, tidak terlalu merunduk seperti pada aliran roadbike, kurang lebih hampir mirip dengan bersepeda commuting. Untuk mendapatkan posisi tubuh yang nyaman tersebut biasanya akan terasa sulit jika kita menggunakan basic frame yang memang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk touring, namun hal tersebut jangan terlalu dianggap sebagai alasan untuk tidak memulainya dengan apa yang sudah kita miliki sebelumnya, solusinya cukup gunakan stem yang bisa diadjust derajat ketinggiannya atau memakai fork ekstender dan handlebar tipe high rise, apalagi sekarang sudah banyak jenis dan model stem adjust yang ada dipasaran, kita tinggal memilih dan menyesuaikannya sesuai selera kita


Untuk pemilihan model handlebar sebenarnya tergantung selera karena saat ini banyak pilihan yang tersedia, kalian bisa menggunakan model flatbar, butterfly bar, drop bar, mustache bar, atau lainnya. Namun pastikan bahwa jenis handlebar yang kalian pilih memiliki banyak variasi cara mengenggamnya sehingga telapak dan pergelangan tangan kalian juga tidak cepat terasa kram, saya pun menggunakan jenis risebar yang saya beri bar end dibagian ujungnya sehingga saat tangan terasa pegal maka saya tinggal mengubah posisi cara mengenggamnya.

Selain itu panjang handlebar yang kalian pilih juga akan berpengaruh terhadap kenyamanan kalian selama di perjalanan nantinya, jika terlalu lebar atau terlalu kecil maka lengan dan pundak juga akan cepat mengalami rasa lelah, oleh karena itulah system trial dan error harus sering dicoba hingga mendapatkan posisi yang nyaman karena rasa kenyamanan setiap orang akan bersifat subyektif


Apa saja yang menempel di bagian kokpit atau handlebar akan bervariasi pada setiap cyclist sesuai dengan kebutuhannya, namun umumnya yang sudah pasti adalah komponen handgrip, brake lever, shifter, bel, handlebar bag, dan cyclocomp, sisanya bagi beberapa cyclist akan menambahkan GPS, tempat untuk menaruh kamera, dan pernak-pernik lainnya sesuai dengan karakter mereka masing-masing


Pada akhirnya besar kecilnya budget yang dibutuhkan untuk membangun sebuah sepeda touring yang siap digunakan nantinya akan sangat tergantung kepada list alokasi anggaran yang sudah kita susun sebelumnya, dan hal ini pun bukan merupakan sebuah hal yang mutlak bahwa untuk melakukan perjalanan kita membutuhkan sepeda A dengan perlengkapan B, karena banyak juga yang melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda mini, Unicycle atau sepeda roda 1, ataupun jenis penny farthing seperti yang digunakan oleh Thomas Stevens pada tahun 1884.

Apakah semua jenis sepeda tersebut bisa digunakan untuk melakukan perjalanan? Jawabannya tentu saja ya bisa, namun seiring waktu dan pengalaman nantinya kita akan mengetahui plus dan minus dari sepeda yang kita pilih untuk melakukan perjalanan tersebut, dan jika kita kreatif maka kita juga akan bisa meminimalkan apa yang menjadi kekurangan sepeda kita dengan solusi yang murah namun awet, setidaknya hal tersebut lebih baik daripada kita hanya menunggu sampai segala sesuatunya siap, karena jika hal tersebut kita lakukan maka kemungkinan besar kita akan selamanya terus menunggu dan tidak akan pernah memulai perjalanan tersebut, sepedanya mungkin sudah sangat siap namun mental cyclistnya yang tidak akan pernah siap dan terus berusaha mencari alasan untuk siap


Nah dengan semua penjelasan yang sudah saya paparkan diatas kira-kira bisakah kalian semua menebak berapa total biaya yang telah saya keluarkan untuk membangun sepeda touring ini?


Setelah saya melihat rincian list yang dulu saya gunakan ternyata total biaya yang saya keluarkan untuk membangun sepeda dignity ini adalah Rp 4.650.000,- semua sudah termasuk cat ulang, merakit, membangun wheelset, dan modifikasi ini itu, nah dengan total biaya tersebut ternyata kini saya telah memiliki sarana transportasi yang sudah bisa membawa saya menjelajah kemanapun saya mau dan hingga kini tidak mengalami masalah berarti, sebagian besar parts dan komponen masih digunakan dan berfungsi sama dengan saat awal saya merakitnya


Mahal atau tidaknya itu semua bersifat relatif tergantung kepada mereka yang menilai, namun bagi saya pribadi sepeda saya saat ini bernilai mahal karena nilai kenangan perjalanan yang sudah kami tempuh dan lalui bersama, nilai materinya mungkin tidak terlalu mahal namun nilai kenangannya tidak akan pernah sanggup ditebus dengan nilai materi sebesar apapun, karena kita mungkin bisa membeli barang atau hal materinya namun kita tidak akan pernah mampu membayar untuk membeli kenangan, dan kenangan atau ingatan tersebutlah yang membuat kita benar-benar menjadi manusia, kita mungkin bisa membaca atau mendengar cerita kenangan orang lain namun kenangan terbaik adalah semua dan setiap kenangan yang kita ciptakan dan alami sendiri

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Dalai Lama ketika Beliau ditanya oleh seseorang mengenai hal apa yang paling membingungkan di dunia ini, Beliau menjawab “Manusia”. Karena dia “mengorbankan” kesehatannya “hanya demi uang”, Lalu dia “mengorbankan uang” nya hanya demi “kesehatan”. Lalu dia “sangat khawatir” dengan “masa depannya”, sampai dia “tidak menikmati masa kini”; akhirnya dia “tidak hidup di masa depan atau masa kini”; dia “hidup seakan-akan tidak akan pernah mati”, lalu dia “mati” tanpa “benar-benar menikmati” apa itu “hidup”.

Oleh karena itu kini mulailah menciptakan cerita petualangan kalian masing-masing, dan karena nantinya cerita petualangan tersebut juga akan menjadi bagian dari cerita perjalanan hidup kalian maka kalian harus membuat cerita tersebut menarik dan berharga dalam hidup kalian, bukan tidak mungkin cerita tersebut juga dapat menginspirasi orang lain untuk mulai melakukan suatu hal yang fantastis dan positif dalam hidupnya, dan yakinlah bahwa apapun sepeda yang kalian pilih untuk mulai melakukan perjalanan ini pasti merupakan sepeda yang terbaik

Nb : penampakan set-up sepeda saya terkini (2023), ada perubahan konsep atau penggabungan antara gaya touring tradisional dengan bikepacking/gravel. Total dana yang telah dikeluarkan untuk sampai ke titik tampilan terkini adalah sekitar 6,5 - 6,6 juta rupiah (sudah termasuk dengan semua tas yang menempel disepeda) 🙂