Showing posts with label Imogiri. Show all posts
Showing posts with label Imogiri. Show all posts

Thursday, 28 September 2023

LEMBAH SUNGAI OYA, KEDUNGJATI

Sabtu, 23 September 2023.

Halo para pembaca setia goweswisata, wah sudah lama ya ternyata saya tidak membuat postingan ulasan spot wisata hehe… maaf yah semuanya, karena ternyata semakin sulit mencari spot wisata di Jogja yang lokasinya dekat dari pusat kota, mudah dijangkau, belum terlalu viral, minim tanjakan, dan banyak kuliner murah disekitarnya. Yah walaupun Yogyakarta dikenal karena pariwisatanya se-abrek namun sebagian besar yang lokasinya dekat ternyata sudah pernah saya ulas, sisanya tinggal yang jauh-jauh (ini mesti ngumpulin niat dan tenaga dulu untuk gowes kesananya). 😅


Nah kali ini goweswisata berkolaborasi dengan tim dari Rodalink Jogja tepatnya Rodalink Janti akan melakukan gowes bareng menemani beberapa teman-teman perwakilan dari Rodalink Kelapa Gading Jakarta Utara dan komunitas Gowes Jakarta Utara yang kebetulan sedang berlibur di Jogja, dan karena requestnya adalah ingin bermain air sambil menikmati pemandangan yang indah maka tujuan yang pas sepertinya adalah wilayah Selopamioro, tepatnya menuju ke Kedung Parang. So tidak perlu berlama-lama lagi yuk lah kita gowesss.


Mengawali start dari Rodalink Janti sekitar pukul 07.00 WIB yang mana sebenarnya sudah terbilang kesiangan sih untuk berangkat gowes pada jam segitu, mengingat cuaca di Jogja sedang terang benderang puanasnya, namun karena harus menunggu teman-teman dari Jakarta yang baru datang pada jam tersebut sehingga jadwal pun akhirnya menyesuaikan dengan schedule mereka.


Setelah melakukan briefing singkat dan memastikan tujuan kali ini, kami pun mulai start dari Rodalink Janti melewati bawah Flyover Janti lalu memutar dan masuk melalui jalanan perumahan sampai tembus di samping Hotel Grand Rohan, dari situ tinggal menyeberang terus ke arah Selatan melalui jalan potong disamping Perpustakaan dekat JEC sampai nantinya tembus dekat PLN Gedongkuning, rencananya kami akan melalui wilayah Kotagede melewati Lapangan Karang, Rumah Pesik, dan Omah Indische sambil menunjukkan kepada mereka keindahan dan keunikan gang-gang kecil serta rumah-rumah kuno yang ada di wilayah Kotagede.


Setelah melewati wilayah Kotagede kami pun mengambil rute melewati Terminal Giwangan dan terus ke Selatan melalui Jalan Imogiri Timur menuju kearah Patung Kuda yang ada di pertigaan dekat Pasar Imogiri.


Rute ini sebenarnya terbilang mudah karena hanya tinggal lurus mengikuti jalan beraspal dan medannya pun enak karena berupa turunan landai (nanti saat pulangnya maka rute ini akan menjadi menyebalkan karena berbalik menjadi menanjak yang walau landai namun panjang). Dari pertigaan Patung Kuda kami pun berbelok ke kanan sedikit dan langsung ambil jalan yang ke kiri menuju kearah Jembatan yang  searah dengan lokasi menuju ke Goa Cerme, hanya saja jika ke Goa Cerme kita belok ke kanan dan menanjak, maka untuk menuju ke Selopamioro kita cukup lurus saja, nantinya tepat di pertigaan yang jika ke kanan menuju kearah Panggang atau Gunungkidul maka kita ambil jalan yang lurus menuju ke Selopamioro Adventure Park, dari sini kita hanya tinggal ikuti jalan utama saja sampai mentok tiba dilokasi.


Sambil menyusuri rute ini saya pun sedikit mengingat waktu awal-awal saya pertama kali ke tempat ini, saat itu Selopamioro terkenal dengan Jembatan Gantung berwarna kuningnya yang sering dijadikan sebagai salah satu spot berswafoto oleh para pengunjung, beberapa bahkan juga ada yang melakukan camping dipinggir sungainya. Namun saat banjir besar melanda Yogyakarta beberapa waktu silam maka Jembatan Gantung itu pun putus terkena ganasnya terjangan air bah yang membanjiri kawasan ini, dan kini jembatan baru yang permanen bernama Jembatan Kedungjati pun telah dibangun menggantikan jembatan gantung kuning tersebut.


Selain Jembatan Baru Kedungjati beberapa perubahan juga Nampak disepanjang rute aliran Sungai Oya ini, antara lain kini banyak dibangun warung-warung makan dengan gazebo-gazebo estetik di beberapa titik dekat aliran Sungai, kemudian kondisi jalan setelah Jembatan Kedungjati pun kini telah diperlebar untuk mempermudah akses kendaraan roda empat, walaupun pelebaran jalan tersebut tak ayal juga berimbas kepada hilangnya kesan alami dan teduh yang dulu ada. saat tulisan ini dibuat pun proses pelebaran dan pembuatan jalan pun masih terus berlangsung. Oya karena proses pelebaran jalan ini belum selesai maka bagi kalian yang kebetulan ingin berkunjung kesini dianjurkan untuk tetap berhati-hati ya karena ruas jalan beton ini sedikit licin tertutup oleh pasir, kerikil kecil dan tanah sehingga kendaraan roda dua rawan terpeleset, dibagian pinggir jalan yang bersisian dengan aliran sungai pun juga belum diberi pembatas dan lampu penerangan jalan.



Dan setelah melalui tanjakan yang cukup menyebalkan karena mendorong sepeda disiang hari bolong yang puanasnya poll akibat medan yang licin sampailah kami ke Lembah Sungai Oya, Kedungjati yang secara resmi dibuka sebagai spot wisata pada 28 Mei 2023 lalu. Lokasi tepatnya berada di wilayah Kedungjati, Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Kalian juga bisa melihat rute detailnya via googlemaps dengan keyword “Lembah Oya Kedungjati”.






Area Lembah Sungai Oya Kedungjati ini menawarkan keindahan panorama alam sekitarnya berupa lembah sungai Oya dengan aliran airnya yang jernih berwarna kehijauan diapit oleh deretan bukit karst (waktu terbaik berkunjung kesini adalah saat musim kemarau karena air terlihat jernih, jika kalian datang saat musim hujan maka airnya akan berwarna keruh kecoklatan), disini selain menikmati keindahan alamnya pengunjung juga bisa berwisata air bermain kano yang disewakan dengan tarif 10rb/orang, tidak perlu kuatir dengan faktor keamanannya karena saat melakukan aktivitas kano atau berenang kita juga diwajibkan untuk mengenakan rompi pelampung yang bisa disewa secara terpisah, jika kalian ingin mendapatkan foto-foto yang menarik disini juga disediakan jasa fotografer professional kok jadi untuk kebutuhan dokumentasi kalian tidak perlu cemas, selain kano pengunjung juga bisa berenang dibeberapa titik yang cukup aman, memancing ikan, melakukan susur sungai menggunakan perahu karet, ataupun sekedar duduk bersantai dipinggir sungai sembari menikmati kuliner yang dijajakan disini.





Sampai saat ini pengunjung yang datang kesini belum dikenakan tarif masuk alias masih gratis, satu-satunya biaya retribusi yang dikenakan hanyalah untuk parkir kendaraan saja yang terbilang cukup wajar (motor 3rb, mobil 5rb). Fasilitas lainnya yang ada disekitar lokasi ini adalah toilet, mushalla kecil, tempat sampah, area parkir kendaraan, warung-warung makan, dan beberapa bangku serta gazebo kecil.





Jam buka operasional tempat ini adalah mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB kecuali bagi kalian yang ingin camping disini maka tempat ini bisa buka 24 jam namun dilarang untuk melakukan kegiatan asusila atau hal-hal berbahaya lainnya, intinya tetap patuhi dan hargai peraturan setempat yang ada ya guys untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, selain itu tetap jaga kebersihan dari setiap spot wisata yang kalian kunjungi ya supaya kedepannya kelestarian tempat tersebut dapat terus kita nikmati. Jadi kapan nih kalian main kesini ke Lembah Sungai Oya Kedungjati? 🙂

Monday, 19 June 2023

WATU NGELAK

Minggu, 18 Juni 2023.

Hai semuanya, tujuan Gowes Wisata minggu ini sebenarnya sudah terlintas sejak kemarin saya selesai mengulas tentang Mbulak Among Tani, jadi begini ceritanya, setelah saya mengunjungi Mbulak Among Tani pada minggu lalu nah sewaktu diperjalanan pulang setelah menyeberangi Jembatan Karangsemut saya melihat ada papan penunjuk arah menuju ke sebuah spot wisata lainnya yang bernama Watu Ngelak, sebenarnya sih bisa saja kemarin saya sekalian mampir dan membuat dokumentasi di tempat ini, namun berhubung saat itu baterai di camera pocket saya sudah lowbat jadinya saya memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan Gowes Wisata berikutnya saja (untuk yang bertanya kan masih ada kamera HP kok ga sekalian? Ya memang indicator baterai di HP memang masih lumayan, namun hasil foto menggunakan kamera hp ketika dipreview melalui laptop ternyata resolusinya tidaklah setajam seperti menggunakan kamera pocket, apalagi jika perbandingannya dengan kualitas hasil kamera DSLR atau Mirrorless), oleh karena itulah pada Hari Minggu ini akhirnya saya kembali melalui rute yang sama namun kali ini menuju ke Watu Ngelak.


Watu Ngelak sendiri tepatnya berada di Desa Wisata Puton, Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, untuk melihat rute lebih jelasnya kalian juga bisa mencarinya via googlemaps dengan keyword “Watu Ngelak”. Patokan termudahnya adalah jika kalian datang dari arah Utara maka sebelum Jembatan Karangsemut ada jalan masuk ke kanan, nah ambil jalan yang aspal mendatar (jangan yang menurun menuju ke Kali Opak), ikuti saja jalan aspal tersebut sampai melewati Gapura Desa Puton, nanti di pertigaan kalian tinggal belok ke kiri, ikuti jalan dan tak berapa lama sampailah kalian di obyek wisata Watu Ngelak.



Watu Ngelak sendiri menurut informasi yang saya dapatkan setelah googling ternyata memiliki nilai sejarah berkaitan dengan jejak sejarah perjalanan Sultan Agung yang berjalan kaki menyusuri Kali Opak sewaktu Beliau hendak menuju ke Laut Selatan (untuk cerita detail mengenai sejarahnya kalian bisa mencari dan membacanya di beberapa media online yang mengulas sejarah tempat ini, sudah banyak yang menulis kisahnya dengan gaya dan susunan kalimat yang sama sehingga akan terkesan copy paste jika saya menuliskannya kembali disini hehe…)



Disini saya hanya akan mengulas potensi wisata yang ada ditempat ini berdasarkan hasil pengamatan saya sebagai pengunjung umum yang datang berkunjung secara langsung. Begitu kalian memasuki spot wisata Watu Ngelak kalian akan langsung memasuki area parkir kendaraan yang cukup luas, di sisi bagian kanan yang dekat dengan gundukan batuan besar kalian juga akan melihat ada semacam panggung yang sepertinya diperuntukkan jika sewaktu-waktu diadakan acara disini. Papan nama tempat ini terlihat butuh penyegaran karena cat pada tulisan yang ada sudah mulai using, begitu pun pada banner informasi yang menceritakan sejarah tempat ini, terlihat sudah terkikis oleh cuaca dan waktu.


Fasilitas pendukung lainnya seperti washtafel untuk cuci tangan, toilet, warung, kursi-kursi kayu, tempat sampah, ayunan juga sudah ada, oya disini belum ada tarif retribusi resmi sehingga untuk masuk masih gratis atau seikhlasnya saja. Dan jika dilihat dari beberapa pengunjung yang datang ke tempat ini sepertinya lokasi ini juga merupakan salah satu spot favorit para pemancing, karena walau hari masih pagi sudah terlihat ada beberapa orang yang datang untuk memancing di spot favorit mereka masing-masing.



Mungkin jika kalian bukan penghobby kegiatan memancing melainkan hanya sebagai wisatawan umum yang datang berkunjung maka spot yang mungkin menjadi favorit untuk berswafoto disini adalah di bagian ujung dermaga, namun untuk mendapatkan hasil foto terbaik akan lebih baik jika berkunjung kesini saat sore hari, sebab jika kalian datang pada pagi hari maka pengambilan foto rasanya akan sedikit sulit untuk dilakukan dikarenakan cahaya matahari yang backlight.




Selain berswafoto di dermaga, aktivitas lainnya yang menarik untuk dilakukan adalah mencoba kegiatan susur sungai menggunakan perahu yang ada dengan tarif sebesar 5 ribu rupiah per orang, nantinya kalian akan diajak berkeliling menyusuri aliran Sungai Opak menggunakan perahu, tak perlu takut sebab saat kalian menaiki perahu kalian juga akan memakai safety jacket untuk keselamatan.


Selebihnya hanya tinggal penataan kembali tempat ini supaya terlihat lebih tertata dan bersih layaknya sebuah obyek wisata lain yang memanfaatkan keindahan pemandangan dan suasana pinggir sungai, selain itu mungkin juga perlu diperhatikan pembuatan pagar pembatas disepanjang pinggir sungai dan penyediaan akses ramp untuk menuju ke Dermaga untuk memudahkan pengunjung yang menggunakan kursi roda, dan jika memang nilai sejarahnya juga ingin diangkat maka sebaiknya dibuat papan informasi berisi cerita sejarahnya serta pemeliharaan tempat sejarah tersebut supaya terlihat menarik dan informatif.




Jika kalian berkunjung kesini jangan lupa tetap jaga kebersihan disekitar lokasi ya dan awasi anggota keluarga kalian terutama yang masih kecil supaya acara wisata kalian bisa tetap berlangsung aman dan ceria, selamat berwisata. 🙂

Monday, 12 June 2023

MBULAK AMONG TANI

Sabtu, 10 Juni 2023.

Di Hari Sabtu pagi yang agak berawan ini enaknya kemana ya? (biasanya sepanjang bulan Juni ini hampir setiap paginya selalu terlihat mendung atau berawan tapi nanti siangnya pasti cerah) hmmm… sepertinya daerah Selatan termasuk yang paling jarang saya ulas dikarenakan rute berangkatnya sih enak, medannya menurun tetapi tidak sebaliknya saat hendak pulang, rutenya otomatis jadi tidak enak karena agak menanjak walau landai hehe… 😁


Seperti biasa target tujuan kali ini adalah sebuah spot yang tidak (belum) terlalu viral, rute dataran, dan jaraknya relatif tidak terlalu jauh dari tempat saya (sekitar 16km saja). Saya menemukan tempat ini saat sedang iseng scrolling IG dan melihat ada seorang pesepeda yang sedang berfoto dilokasi ini, dan sepertinya dari foto tersebut tempatnya terlihat cukup asyik juga, tidak terlalu ramai serta pemandangannya cukup segar karena berada disekitar area persawahan, jadi yuklah kita cuss kesana.



Mbulak Among Tani itulah nama tujuan kita kali ini, lokasinya berada di Pedukuhan Numpukan, Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Untuk mengetahui rutenya secara lebih detail kalian juga bisa mencarinya via googlemaps dengan keyword “Mbulak Among Tani”. Tempatnya sendiri berada tidak begitu jauh dari Pasar Imogiri, Jika kalian dari arah Utara maka setibanya di pertigaan patung kuda Imogiri kalian tinggal belok ke kiri ikuti jalan sampai nanti melihat lapangan (seberang Indomart), nah tepat disamping lapangan tersebut (atau persis diseberang Indomart) ada jalan masuk ke Selatan, nah kalian tinggal masuk ke Selatan dan ikuti Jalan saja sampai pertigaan berikutnya lalu belok ke kanan, ikuti jalan saja terus sampai nantinya kalian melihat Gapura besar Desa Karang Tengah, nah lokasi Mbulak Among Tani persis berada setelah Gapura tersebut, kalian akan melihat ada gazebo-gazebo ditengah area persawahan nah itulah lokasinya.




Saat ini lokasi Mbulak Among Tani masih terus dalam tahap pengembangan dan penataan, Akses jalan masuk, bangunan limasan, dan gazebo-gazebo yang sudah ada merupakan realisasi dari dana keistimewaan DIY yang diperuntukkan bagi desa-desa dalam upaya meningkatkan perekonomian warganya dengan memanfaatkan potensi yang ada diwilayah tersebut, nah dalam hal ini warga Desa Karang Tengah memanfaatkan lahan persawahan yang sudah ada diwilayah mereka tidak hanya sebagai lumbung pangan melainkan juga menata dan mengemasnya sedemikian rupa supaya terlihat estetik dan dapat menjadi spot wisata alternatif dengan konsep yang sebenarnya mirip dengan yang sudah ada di wilayah Nanggulan Kulonprogo.



Waktu terbaik untuk berkunjung ke tempat ini adalah saat pagi atau sore hari namun kalian juga harus memperhitungkan kapan masa tanam dan panen tiba supaya ketika kalian kesini momennya bertepatan dengan saat hamparan padi yang ada mulai menghijau dan sedang tinggi, sejauh ini belum ada retribusi ditempat ini dengan kata lain masih gratis untuk dikunjungi, mungkin kendalanya hanya bagi kalian yang membawa kendaraan roda empat sepertinya agak sulit untuk mencari tempat parkir kendaraan karena memang belum ada, begitupun fasilitas seperti tempat kuliner juga belum tersedia disekitar lokasi, mungkin kedepannya seiring penataan yang terus dilakukan akan ada beberapa fasilitas lainnya yang dibangun untuk memudahkan pengunjung saat berwisata ke tempat ini.



Last but not least, tetap jaga kebersihan dan kelestarian dari setiap tempat wisata yang kalian kunjungi ya, selamat berwisata. 🙂

Friday, 9 December 2022

BUKIT WATU GAGAK

Sabtu, 3 Desember 2022.

Masih dalam rangka mencari spot-spot wisata baru di Yogyakarta yang belum populer, kali ini kita akan mencoba ber-goweswisata menuju ke Bukit Watu Gagak yang berada di Dusun Singosaren, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Seperti biasa tujuan kali ini didapat dari hasil scrolling iseng googlemaps pada malam sebelumnya 😁, sekilas melihat jarak dan rutenya hmmm… boleh juga nih karena lokasinya yang hanya sekitar 14km saja dari basecamp Gowes Wisata, jadi daripada penasaran lebih baik yuk kita coba saja.



Untuk rutenya sendiri sebenarnya terbilang cukup mudah yaitu dari Perempatan Terminal Giwangan kita hanya tinggal terus saja ke Selatan, menyeberangi Ringroad, dan masih terus sampai melewati Jembatan Karangsemut, nanti setelah menyeberang Jembatan Karangsemut ada jalan masuk disebelah kiri yang berada tepat sehabis ujung Jembatan ini (menuju kearah Joglo Opak), masuk dan ikuti jalan saja sampai mentok pertigaan aspal (oya rute jalan ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, sedangkan untuk roda 4 sebenarnya juga bisa sih tetapi lebih baik melewati rute yang lain saja karena rute yang ini melewati akses jalan kampung), nanti setelah mentok pertigaan kita tinggal belok ke kanan sedikit kemudian langsung ambil kearah kiri menuju medan jalan yang menanjak dengan kondisi aspal yang masih baru, tenang saja derajat tanjakannya tidak terlalu curam kok, jaraknya ke lokasi pun juga sudah dekat, hanya tinggal sekitar 150 meter saja, yuk semangat yuk gowes nanjaknya.

Akhirnya sampai juga 🙂




Disekitar lokasi Bukit Watu Gagak ini sekarang sedang dibangun beberapa fasilitas penunjang seperti pembuatan area parkir kendaraan pengunjung, akses tangga masuk menuju ke puncak bukit (sayangnya belum ada jalur ramp disamping undakan tangga untuk mempermudah akses bagi pengunjung yang membawa kursi roda atau stroller), beberapa gubuk, warung, dan gazebo yang sebelumnya sudah ada namun terbengkalai pun saat ini mulai kembali diperbaiki, penambahan beberapa fasilitas seperti panggung dan toilet umum pun juga sudah mulai dikerjakan.






Saat saya baru tiba tampak beberapa kawan pesepeda lokal sudah berada di lokasi ini, beberapa ada yang sudah selesai dan hendak melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi baru saja berdatangan, berdasarkan pengalaman saya selama ini polanya hampir selalu sama, beberapa spot wisata yang baru bermunculan dan memiliki potensi untuk viral pasti selalu dan ramai dikunjungi oleh para pesepeda lokal, berkat foto-foto yang kerap diupload ke sosial media mereka masing-masing maka tidak butuh waktu lama setelah itu biasanya tempat tersebut akan mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan umum lainnya selain pesepeda.




Selain berfoto dengan latar pemandangan ternyata sepeda milik saya juga memiliki daya tarik sebagai obyek fotografi bagi para goweser lainnya 😅






Nantinya setelah tempat tersebut resmi dibuka menjadi sebuah destinasi wisata untuk umum maka kedepannya kita hanya tinggal melihat apakah tempat tersebut mampu bertahan ataukah hanya viral untuk sesaat namun kemudian kembali sepi dan meredup, tentunya semua itu tidak terlepas dari banyak faktor termasuk upaya pengelola tempat tersebut untuk berusaha bagaimana membuat spot wisata mereka dapat terus bertahan, misalnya dengan membuat inovasi-inovasi baru seperti rutin menyelenggarakan acara, menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas lokal, serta mengoptimalkan penggunaan internet dan sosial media sebagai media promosi.



Bukit Watu Gagak sendiri sebenarnya berada di dua wilayah dusun, yaitu Dusun Singosaren dan Dusun Sindet, serta berada di wilayah pegunungan seribu sebagai bagian dari Gunung Purba Sudimoro ribuan tahun yang lalu di wilayah Imogiri, lahan disini dan sekitarnya juga masih merupakan Sultan Ground. Sebetulnya sejak dulu tempat yang awalnya bernama Gunung Buthak ini kerap digunakan oleh warga sekitar untuk sekedar bersantai dan beristirahat sehabis mencari rumput untuk ternak mereka, pengubahan dan penamaan menjadi Watu Gagak sendiri pun tidaklah serta-merta tercetus melainkan dikarenakan latar historisnya dimana pada jaman dahulu warga sering melihat banyak burung gagak yang beterbangan dan hinggap pada salah satu batu yang ada dilokasi ini.


Saat ini seiring dengan program pemberdayaan potensi sumberdaya alam dan manusia yang dilakukan oleh Pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan warga maka tempat ini pun akhirnya mulai dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata alam perbukitan dimana dari atas puncak Bukit Watu Gagak ini pengunjung bisa menikmati keindahan panorama sekitar, semilir angin yang sejuk, dan view Gunung Merapi di kejauhan yang bisa dilihat jika cuaca sedang cerah, selain itu bagi para pemburu foto dan suasana matahari terbenam maka tempat ini juga sangat pas sekali untuk dikunjungi. Tempat ini juga relatif aman bagi pengunjung yang ingin mencoba mengenalkan wisata alam kepada buah hatinya ataupun hanya sekedar piknik bersama orang-orang terdekat walaupun untuk saat ini kalian harus membawa bekal sendiri karena belum ada warung kuliner di lokasi ini (masih dalam pengerjaan).


Yang pasti tetap ingat untuk selalu menjaga kebersihan dari setiap lokasi wisata yang kalian kunjungi ya, jangan membuang sampah sembarangan. Sampai jumpa lagi di petualangan Gowes Wisata berikutnya 🙂



Ps : terimakasih untuk Ka Avie dan Ka Ranti (duo pink) yang sudah menjadi model dadakan di cerita catatan perjalanan gowes wisata kali ini.

Thursday, 12 December 2013

Kebun Buah Mangunan, Imogiri, Yogyakarta

Kebun buah Mangunan terletak di ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut di gugusan pegunungan Imogiri, tepatnya di Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Lokasi ini berjarak sekitar 15 km dari ibukota Kabupaten Bantul, dan 35 km dari pusat Kota Yogyakarta.

Akses menuju lokasi Kebun buah Mangunan ini sangat mudah, apabila start dari Kota Yogyakarta, langsung saja menuju Jalan Imogiri Timur (terminal bus Giwangan) kemudian terus saja ke Selatan. Setelah sampai di Kecamatan Imogiri, ambil jalur Imogiri - Dlingo (lihat plang penunjuk jalan)


Ada berbagai penujuk arah menuju beragam obyek wisata yang terdapat disekitar lokasi ini, silahkan pilih saja hendak mengunjungi yang mana terlebih dahulu :)


narsis dulu mumpung kondisi masih seger hehe...


Sekitar 5 km kemudian akan dijumpai Balai Desa Mangunan, disitu ada petunjuk arah menuju lokasi Kebun Buah Mangunan, akses jalan menuju ke tempat ini sudah cukup baik. Dalam perjalanan kita akan menempuh medan jalan yang neik dan turun khas perbukitan, lembah, dan hutan-hutan.


di pertengahan jalan kita akan melihat gundukan bukit cukup tinggi yang menarik sebagai background obyek foto, teman-teman Gowes Wisata pun tidak lupa ikut bernarsis ria dengan sepeda tunggangan masing-masing (langsung lupa akan lelah akibat tanjakan hehe)



dari atas bukit kita bisa melihat pemandangan lembah serta rute jalan yang berliku-liku



Setelah puas foto-foto dan beristirahat sebentar, kami lanjut gowes lagi (lebih tepatnya TTB lagi karena rute jalan yang masih terus menanjak hehe)

ayo masbro TTB teruuusss semangat (perjalanan masih jauuhhh)


saat beristirahat, rupanya ada penghuni lokal yang tidak mau kalah numpang narsis juga :p


Ditengah perjalanan tiba-tiba gerimis pun turun, untungnya (memang kalau orang Indonesia itu banyak bersyukurnya walau tertimpa susah hehe) kami tepat berada di depan Kantor Kelurahan, sehingga kami pun numpang berteduh sekaligus istirahat (punten ya Pak Lurah)

Setelah gerimis dan hujan reda, maka kami pun bersiap melanjutkan perjalanan lagi


Setelah melewati belokan sesuai petunjuk arah tadi, Kami pun kembali menemui pertigaan yang tanpa petunjuk arah, kalau kekiri kondisi jalan menurun - kondisi jalan semen cor dan ada sekolah, akhirnya kami pun mengambil arah kanan yang jalan aspal (karena feeling saja, kalau kekiri pasti kearah Dlingo)

sembari cek cek GPS sudah sampai dimanakah kita


Akhirnya setelah mengikuti jalan, yang tidak seberapa jauh, sampailah kami tepat didepan Gerbang penanda lokasi Kebun Buah Mangunan (foto-foto dulu buat bukti hehe...)


Sebenarnya tidak jauh dari Gerbang penanda, juga terdapat lokasi wisata lain yaitu Goa Gajah, tetapi karena beberapa rekan ada yang kecapean dan mengingat waktu yang sudah terlalu siang, maka kami pun hanya melanjutkan menuju ke lokasi Kebun Buah Mangunan saja


Sayangnya banyak terdapat bukti vandalisme dari beberapa pengunjung yang tidak tahu artinya "menjaga keindahan" (tolong ya adek-adek, mas, mbak, untuk jangan corat-coret, kalian datang untuk menikmati keindahan alam kan?jadi mari sama-sama menjaganya)


Masuk Ke area Kebun buah jangan lupa bayar retribusi dulu sebesar Rp. 5000,- saja



Lokasi Kebun Buah Mangunan ini mulai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Kota Bantul pada Tahun 2003 diatas lahan seluas 23,3415 hektar, pada ketinggian 150-200m diatas permukaan laut. Karena berada pada titik ketinggian tersebut maka membuat kawasan ini memiliki udara yang sejuk serta pendangan yang indah diantara pegunungan seribu

Disini juga terdapat penangkaran Rusa Timur dan pembibitan tanaman organik



Bangunan sebagai tempat pembibitan tanaman organik



Untuk di area bawah sendiri, Kebun buah Mangunan memiliki fasilitas yang cukup beragam untuk melakukan kegiatan outdoor activity seperti : aula besar (300 orang), aula sedang (100 orang), Pendopo (2 tempat), Gazebo, Joglo, Musholla, Camping Ground (3 tempat), Kolam Pemancingan (1 tempat), Kolam renang anak-anak (2 Pool), area outbond, sarana outbond (flying fox, dll), Pondok inap (2 pondok), Kamar mandi, Lokasi parkir yang luas, aneka kebun buiah, peternakan dan arena bermain anak.

Untuk menikmati wahana flora dan fauna, Kebun buah Mangunan memiliki beberapa koleksi tanaman buah seperti : Durian, Jambu Air, Jeruk, Mangga, aneka tanaman buah dan organik lainnya serta ternak sapi yang bertujuan selain untuk menambah populasi ternak sapi, juga agar terjadi siklus yang berkesinambungan antara ternak sapi yang menghasilkan pupuk kandang untuk pemeliharaan tanaman buah yang ada di Kebun Buah Mangunan.

Disamping itu terdapat pula buah-buahan lain yang jumlahnya relatif sedikit seperti matoa, kelengkeng, jambu biji, cempedak, dan belimbing. Untuk menambah kesejukan selain tanaman buah terdapat pula tanaman jati, king grass, salak, dan pinus.

Bagi penggemar sepeda gunung, ada dua lintasan trek yang turut melengkapi keberadaan obyek wisata ini. Lintasan pertama sepanjang 2.300 m khusus untuk downhill dan lintasan kedua sepanjang 3.800 m untuk kelas cross country.

Dari situ kami menuju arah ke puncak yang lagi-lagi rutenya sangat menyiksa si seli tempur karena kondisi jalan menanjak yang penuh kerikil (langkah paling aman ya TTB saja lagi hehe)


Akhirnya sampailah kami bertiga di puncak, foto-foto lagi sembari menghirup segarnya hawa yang masih sejuk


trio Mas Kenthir (foto sumbangan dari Bro ayub,lha knapa jadi foto siluet begini kk hehe)


Lanjut lagi menuju ke Gardu Pandang (banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih maupun meratapi nasib jadi jomblo, mari kita ganggu supaya nantinya tidak jadi tempat mesum hehe...:p)



Saking niatnya bikin foto, tidak peduli selelah apapun kondisi fisik ayo panggul terus sepedanya hehe...


Keindahan pemandangan dari atas Gardu Pandang, kita bisa melihat lekukan Sungai Oyo yang berhulu di Pantai Parangtritis



Setelah puas menikmati pemandangan yang ada di lokasi Kebun Buah Mangunan maka kami pun beranjak pulang, kali ini kami mendapat bonus rute jalan pulang yang didominasi turunan, lumayan setelah awalnya kami banyak disuguhi tanjakan hehe...

tetapi tetap perlu waspada karena diturunan seperti ini kecepatan sepeda dapat menjadi sangat cepat, sehingga jangan lupa agar jari selalu berada dituas brake lever, mengingat juga banyak kendaraan bermotor lain yang berpapasan dengan kita.

Bagi para pengguna discbrake perlu dituntut kewaspadaan lebih mengingat rotor dapat menjadi sangat panas sehingga mengakibatkan rem menjadi tidak pakem, (beruntunglah bagi saya yang masih menggunakan V-brake sehingga tidak ada permasalahan dengan kondisi rem hehe)

bukti kecepatan yang berhasil dicapai si seli tempur saat menempuh turunan



Tambahan sumber referensi:
- aan ardian/kotajogja.com
- http://gudeg.net/id/directory/11/1846/Kebun-Buah-Mangunan-Yogyakarta.html#.UqkVlzfwzkU