Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts

Thursday, 7 November 2024

GOWES BLUSUKAN KE MBULAK WILKEL, LERENG SENTONO, SITUS MAKAM RATU MALANG, DAN KOTAGEDE

Minggu, 3 November 2024

Setelah sekian lama tidak gowes dan mengupdate cerita di blog, nah di Hari Minggu pagi yang cerah ini saya mencoba Gowes Wisata iseng mencari rute baru yang belum pernah saya lewati, selain itu alasan lainnya adalah karena sepertinya saya mulai kehabisan spot-spot baru yang belum pernah saya review hehe… 😅 ternyata cukup sulit mencari lokasi baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, suasananya fresh alias ga rame-rame banget, minim tanjakan kalaupun harus melewati tanjakan paling tidak jangan yang curam banget elevasinya, murah sukur-sukur gratis tanpa retribusi, ada warung buat jajan dan istirahat, serta memiliki view atau keunikan yang menarik untuk diceritakan.


Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut barulah mulai mapping lokasi berdasarkan arah mata angin beserta poin plus minusnya, sebagai contoh jika kita mengeksplor arah Utara sebenarnya ini termasuk yang paling enak karena hanya saat berangkatnya saja yang butuh usaha untuk nanjak tipis-tipis, tetapi ketika pulang sudah enak karena rutenya jadi turunan, (capenya sekalian). Jika ke arah Timur ini yang termasuk paling menyebalkan karena berangkatnya silau terkena sinar matahari, pulangnya juga sama saja kalau kesorean, dalam artian capenya jadi dobel. Arah Barat sebenarnya 60-40, karena 60 persennya menyenangkan dengan rute yang cenderung lurus dan datar, hanya menanjak jika tujuan kita kearah perbukitan Menoreh, dan pulangnya 40 persen jadi membosankan karena jaraknya jadi jauh mengingat lokasi rumah saya ada di sisi Timur Kota Jogja. Sedangkan untuk arah Selatan, berangkatnya sih enak karena rute elevasinya menurun, tetapi saat pulang malah jadi cape karena rutenya menanjak tipis-tipis apalagi kalau cuaca sedang cerah-cerahnya, dijamin mateng dijalan.


Awal gowes kali ini sebenarnya hanya ingin menyusuri lorong-lorong gang labirin di daerah Kotagede saja, tetapi ditengah perjalanan kok rasanya sayang ya, masa gowes hari ini deket banget apalagi cuaca sedang mendukung, akhirnya tujuan pun berubah, saya mulai mengarahkan kayuhan menuju ke wilayah Pleret melewati Kantor Kecamatan Banguntapan terus ke Selatan. Oya gowes kali ini saya sama sekali tidak mengandalkan googlemaps, Strava, ataupun Komoot, jadi loss saja, hanya mengikuti naluri, menikmati setiap kayuhan dan keingin tahuan terhadap apa saja yang bakal ditemui disepanjang rute ini, sesekali asyik juga tidak bergantung kepada teknologi pemetaan atau berfokus pada pencatatan data statistik saat bersepeda (toh saya juga bukan atlet), jadi cukup nikmati perjalanan ini karena senang bersepeda.


Di sepanjang Jalan Pleret pagi hari ini sudah banyak penjaja makanan dan snack tradisional yang menggelar dagangannya, termasuk melihat aktivitas masyarakat sekitar yang sedang berolahraga ataupun yang baru mulai membuka tempat usahanya. Sebagian titik ruas jalan yang dulunya bergelombang dan rusak kini kondisinya sudah diperbaiki dan diaspal ulang, semoga kali ini kondisinya bertahan lama ya.


Sebelum mendekati Pasar Pleret saya sempat melihat ada papan penunjuk arah menuju ke lokasi wisata Mbulak Wilkel, kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke lokasi ini sejak masa-masa viralnya sampai kini sudah tidak begitu booming lagi, jadi yuk lah kita coba melihat seperti apa suasananya saat ini. Mbulak Wilkel sendiri sebenarnya hanyalah sebuah lokasi ruas jalan yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pohon tinggi yang berjejer, dengan ranting-ranting pohonnya yang melengkung dan seperti membentuk semacam lorong pohon, suasananya yang rindang dan teduh terlebih berada diantara hamparan persawahan warga menjadikan viewnya cukup menarik untuk dijadikan latar ber-swafoto.




Dikarenakan pada waktu itu mulai banyak orang luar yang ber-swafoto disepanjang ruas jalan tersebut, maka warga sekitar pun berinisiatif menata lokasi tersebut dengan membuat semacam gapura papan nama dan mendirikan gazebo-gazebo estetik supaya pengunjung dapat  beristirahat sembari menikmati kuliner yang dijajakan oleh warga sekitar, setidaknya hal ini dapat membantu perekonomian warga sekitarnya. Pagi ini suasana di Mbulak Wilkel sendiri  terbilang cukup sepi, hanya sesekali saya melihat rombongan pesepeda yang sedang beristirahat  di gazebo-gazebo yang ada di pinggir jalan, dan sebagian lagi hanya melintas saja.


Setelah melewati lorong pohon yang ada di Mbulak Wilkel, saya pun terus mengarahkan kayuhan kearah Timur sampai akhirnya tiba di lokasi berikutnya yaitu Lereng Sentono, lokasi ini bersebelahan dengan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang. Lereng Sentono sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi yang berada di bagian lereng bukit tempat Makam Ratu Malang berada, area kosong pada lereng ini dimanfaatkan dengan membuat semacam taman, pendopo, dan warung kuliner, sehingga pengunjung yang sedang berziarah atau mengunjungi Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang bisa beristirahat sejenak disini. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara atau kegiatan gathering bersama keluarga atau komunitas, kalian tinggal menghubungi pihak warga yang mengelolanya saja, untuk fasilitas parkir kendaraan juga sudah disediakan area yang cukup luas disekitarnya.








Dari Lereng Sentono dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang, saya mulai melanjutkan perjalanan melalui jalan desa melewati area persawahan warga dan kembali ke ruas jalan utama yang menuju ke Pasar Plered, saya pun berbelok ke arah Barat tepat di belakang area Pasar, dari situ kayuhan terus saya arahkan ke Barat sampai melewati sebuah pertigaan yang jalan normalnya yaitu berbelok ke kanan, sedangkan jalan yang satunya lagi kearah lurus dan sedikit menurun, saya pun memilih jalan yang lurus karena viewnya kok terlihat lebih menarik, dikejauhan terlihat ada sebuah banner usang dan mulai robek yang menunjukkan nama tempat ini dulunya adalah sebuah pemancingan, memang sih terlihat dari adanya beberapa kolam yang kini kondisinya sudah mengering, tempat ini dulunya pasti pernah menjadi sebuah pemancingan yang cukup ramai, entahlah mengapa kini kondisinya dibiarkan terbengkalai begitu saja.



Sambil menyusuri area pemancingan tersebut saya melihat ada sebuah jalan kecil berkonblock yang berada disepanjang sisi aliran sungai, beberapa orang juga saya lihat sedang memancing di sungai tersebut, sepertinya sejak area pemancingan tersebut sepi kini warga pun akhirnya memancing ikan dari sungai yang berada tepat disekitar area pemancingan ini.



Kondisi rute jalan ber-konblock ini sepertinya asyik juga untuk dijadikan rute blusukan sepeda dikarenakan suasananya masih sepi dan teduh sekali, saya pun menyusuri rute tersebut sampai dihadapkan kesebuah persimpangan, sebuah pertigaan dengan pilihan mau terus mengikuti jalan berkonblock yang cukup lebar atau mencoba memasuki jalur tanah yang cukup sempit.



Berhubung rasa penasaran saya lebih condong menyuruh untuk mengikuti ruas jalan tanah yang kecil tersebut akhirnya saya pun memilih untuk mencobanya,, kalaupun nanti jalannya ternyata buntu atau kondisinya makin tidak jelas toh tinggal putar balik angkat sepeda saja hehehe…



Ternyata jalan tanah tersebut tembus ke area jalan kecil plesteran yang mengikuti sepanjang aliran sungai tadi, setidaknya aman lah ya kan masih ada jalan, jadi coba ikuti terus saja jalan ini. Ujung dari jalan plesteran ini ternyata mentok di sekitar lokasi pintu air akhir, namun tepat di pintu air tersebut juga ada jembatan atau jalan penghubung untuk menyeberang ke sisi sebelahnya, jadi otomatis saya pun menyeberang lalu kembali ambil arah kiri mengikuti sepanjang aliran sungai sampai akhirnya ternyata jalan kecil ini tembus ke ruas jalan raya aspal utama yang berada di daerah Jejeran, tak jauh dari sekolah dan lapangan yang berada dekat dengan perempatan lampu merah Jejeran Jalan Imogiri Timur, dari sini saya pun sudah langsung hafal dan mengenali arahnya, baiklah kali ini saatnya kembali kearah pulang melalui Jalan Imogiri Timur.



Diperjalanan pulang sempat terbersit ide apa nanti sekalian coba dilewatin kearah Kotagede ya? Paling tidak rutenya kan searah dan sesuai seperti rencana awal hari ini, setidaknya coba untuk memasuki salah satu gang di wilayah Kotagede, dan gang yang paling terkenal adalah lokasi dimana Rumah Pesik berada, baiklan kita coba saja, begitu memasuki area Kotagede saya pun mulai masuk menuju arah Rumah Pesik dan mencoba masuk ke salah satu gang yang menuju ke Omah UGM, dari sana saya mencoba masuk dan mengikuti jalan yang ada saja, dan berputar-putar entah sampai mana, yang pasti karena lebar jalannya cukup sempit sehingga saat berpapasan dengan motor saya terpaksa harus berhenti dan meminggirkan sepeda sampai menempel ke tembok, seru sih tapi cukup ribed, untungnya gowes kali ini saya hanya seorang diri saja, entahlah jika gowes kali ini membawa rombongan, pastinya akan super ribed dan bikin macet hehe… setiap sudut di lorong labirin Kotagede itu menarik untuk dijadikan latar berfoto karena nuansa klasik tempo dulunya masih sangat terasa, deretan pintu dan jendela berarsitektur jaman dulu, tembok-tembok yang retak dan menampilkan batu batanya, semua terlihat sangat estetik sebagai latar berfoto.




Dan begitulah cerita Gowes Wisata hari ini, tanpa tujuan pasti, semua serba spontan (uhuuyy), tanpa campur tangan googlemaps dan aplikasi lainnya, seru dan mengasyikkan, just trust your instinct and let the curiosity be your guide


Sampai jumpa di cerita Gowes Wisata berikutnya

Wednesday, 17 May 2023

WISMA DJEMBRANASARI

Lanjutan dari postingan sebelumnya 🙂

Setelah puas berkeliling disekitar lokasi Rumah Putih Sarjanawiyata Kaliurang dan mengambil beberapa dokumentasi pribadi untuk keperluan bahan tulisan saya sepertinya sekarang saatnya untuk lanjut ke lokasi berikutnya yaitu Wisma Djembranasari (Djembranasari Heritage Village) yang sebelumnya tadi sudah saya lewati (masih sama-sama dilokasi kawasan wisata Kaliurang).



Jarak dari Rumah Putih Sarjanawiyata ke Wisma Djembranasari tidaklah begitu jauh, mungkin hanya sekitar 1 km saja. Sedikit informasi yang saya dapatkan mengenai bangunan Wisma Djembranasari yang berada tepat di seberang Taman Rekreasi Kaliurang dan bersebelahan dengan Villa Jaran Jingkrak ini adalah bangunan ini sudah lama dibiarkan dalam keadaan kosong dan terbengkalai walaupun secara tampilan fisik bangunan ini masih terlihat cukup bagus, bersih tanpa coretan vandalisme, dan kokoh.



Wisma Djembranasari diperkirakan dibangun sekitar Tahun 1950-an (7 Oktober 1956) jika merujuk kepada tulisan angka yang terdapat di dinding luar bangunan ini. Menganut gaya arsitektur art deco tepatnya aliran streamline moderne (populer di Eropa sekitar Tahun 1910-1930), bisa dilihat dari ciri bangunan 2 lantai ini yang penuh dengan unsur melengkung tidak simetris sehingga mengesankan tampilan modern di jamannya, selain itu penggunaan material atapnya berupa dak beton, bukan menggunakan atap genteng seperti rumah-rumah tropis pada umumnya. Penggunaan dak beton ini juga cukup fungsional dalam memberi bentuk estetik di bagian balkon atas dengan banyak jendela kaca yang sekilas terlihat seperti sebuah anjungan kapal, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian banyak orang yang juga menyebut bangunan ini sebagai Rumah Kapal dikarenakan bentuknya tersebut. Penggunaan plester batu kali sebagai unsur dekoratif pada dinding luar bangunan ini juga cukup memberi penegasan identitas bahwa bangunan ini sangat bergaya kolonial atau merupakan rumah lndis.




Mengapa bangunan seindah ini dibiarkan terbengkalai begitu saja padahal lokasinya sangatlah strategis? berada dikawasan wisata Kaliurang yang notabene merupakan salah satu kawasan wisata yang selalu ramai dan menjadi tujuan wisata favorit para wisatawan saat mereka berlibur ke Jogja terlebih ketika musim liburan ataupun setiap weekend tiba. Nah ternyata usut punya usut dari berbagai sumber, permasalahannya ada 2, yaitu pertama, menyangkut sengketa ahli waris, ya benar sekali dikarenakan status bangunan ini masih menjadi sengketa antara para ahli waris maka diambillah jalan tengah dengan cara menon-aktifkan fungsi bangunan ini, yang mana dulunya selain digunakan sebagai rumah peristirahatan, bangunan ini juga kerap disewakan sebagai penginapan bagi para wisatawan di Kaliurang, dan tak sebatas tempat menginap saja lho, dikarenakan keindahan tampilan bangunan ini jugalah pada sekitar Tahun 2013 lalu tempat ini juga pernah disewa dan dijadikan sebagai lokasi syuting film “Keluarga Tak Kasat Mata”.


Permasalahan kedua adalah, dikarenakan status sengketa waris yang tak kunjung selesai yang mengakibatkan dikosongkannya bangunan ini sehingga keadaannya menjadi tidak terurus akhirnya sekitar Tahun 2019 silam (tepatnya 14 Maret 2019) terjadilah tragedi yang sempat menghebohkan warga disekitar kawasan wisata Kaliurang ini dengan ditemukannya jasad seseorang yang sudah tewas dalam keadaan tergantung dibawah tangga didalam bangunan ini. penemuan jasad ini pun baru diketahui setelah kurang lebih satu minggu kemudian oleh penghuni villa lain yang letaknya berdekatan dengan Wisma Djembranasari, awalnya mereka merasa curiga karena mencium aroma busuk yang menyengat bersumber dari dalam bangunan Wisma Djembranasari ini, setelah dilaporkan kepada petugas yang berwenang dan dilakukan pemeriksaan barulah terungkap bahwa aroma bau busuk itu bersumber dari sosok jasad yang ditemukan sudah dalam keadaan tewas tergantung dibawah tangga dengan kondisi sudah membusuk dan penuh belatung.




Setelah kejadian tersebut akhirnya imej bangunan Wisma Djembranasari yang semula merupakan bangunan kolonial yang cantik pun mulai berubah menjadi wisma kosong terbengkalai yang angker, horor, dan berhubungan dengan hal supranatural, bekas lokasi ruangan penemuan jasad itupun akhirnya ditutup dengan pintu dan setelahnya bangunan Wisma ini selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci sampai saat ini, seakan menutup diri dari keramaian dan keceriaan dunia diluarnya. sungguh sangat disayangkan bukan? Entah sampai kapan nantinya tempat ini bisa kembali lagi menjadi sebuah bangunan cantik dan ceria yang penuh dengan kehangatan para penghuninya yang berbondong-bondong kembali datang untuk menginap disini sembari menikmati sejuknya hawa pegunungan dikawasan wisata Kaliurang.

Monday, 13 February 2023

SENDANG NGEMBEL

Sabtu, 11 Februari 2023.

Selamat ber-weekend sobat Goweswisata, kali ini daripada kalian bingung menentukan enaknya gowes kemana nih disaat weekend seperti ini, nah Goweswisata akan mengulas sebuah tempat yang mungkin saja bisa kalian jadikan tujuan gowes bersama komunitas sepeda kalian ataupun bagi yang sekedar ingin gowes sendirian saja, yang pasti tujuan gowes wisata kali ini adalah sebuah tempat yang memiliki suasana sekitar yang cukup syahdu, sunyi dan tenang, tak perlu berlama-lama lagi yuk kita langsung saja menuju ke Sendang Ngembel.



Sendang Ngembel yang berlokasi di Dusun Beji Wetan, RT 03, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta (Google Maps = “Sendang Ngembel”) ini adalah sebuah sendang atau mata air alami yang dijadikan sumber irigasi untuk mengairi area persawahan yang ada disekitarnya.



Menurut sejarahnya sumber mata air di Sendang ini pertama kali ditemukan pada tanggal 15 besar bulan Jawa Tahun 1915 oleh Kiai Jalu Mampang. Sendang ini juga menjadi saksi sejarah dari Kerajaan Mataram Islam dimana pada bagian tengah Sendang terdapat sebuah pulau kecil berukuran 2,5m x 2,5m yang dipercaya sebagai penanda batas wilayah Mangir dan Kerajaan Mataram Islam yang diletakkan oleh Ki Ageng Mangir Wonobudoyo, hal ini tidaklah mengherankan karena sebenarnya tidak begitu jauh dari lokasi Sendang ini juga terdapat sebuah Desa Wisata bernama Mangir. Oleh karena itulah disetiap tanggal 15 bulan besar kalender Jawa ditempat ini selalu diadakan acara syukuran sebagai penghormatan dan rasa bersyukur atas berkah air yang terus mengalir walau saat musim kemarau sekalipun, yang digunakan untuk mengairi persawahan warga.




Seiring waktu keberadaan Sendang Ngembel pun juga mengalami modernisasi atau penataan layaknya sebuah tempat wisata, hal ini ditandai dengan diresmikannya Sendang Ngembel  sebagai salah satu destinasi wisata oleh Bupati Bantul pada Tahun 2015. Pembangunan beberapa fasilitas pendukung seperti area parkir kendaraan yang cukup luas, warung makan, akses jalan yang cukup bagus, toilet, mushalla, pendopo, gazebo, dan tempat sampah kini telah tersedia disekitar area Sendang, bahkan keberadaan pulau kecil yang ada ditengah kolam Sendang pun kini bisa dicapai melalui jalan setapak yang dibangun untuk menghubungkan pulau kecil tersebut dengan area tepi Sendang, area pulau kecil yang ada di tengah tersebut bahkan menjadi spot berswafoto yang paling diminati oleh para pengunjung.



Walaupun mengalami modernisasi namun tetap saja ada beberapa kearifan lokal yang terus dijaga dan dipertahankan oleh warga sekitar seperti tetap menjaga suasana tenang dan asri di area sekitar Sendang, oleh karena itu walaupun dulu pernah ada usulan untuk membuat perahu bebek-bebekan di area kolam Sendang dan menjadikan air Sendang sebagai fasilitas berenang untuk pengunjung maka usulan tersebut pun ditolak, jikapun suatu saat usulan tersebut ingin direalisasikan maka peletakkannya harus ada ditempat lain diluar area kolam Sendang, mungkin saja dengan penambahan atau pembuatan area kolam baru yang khusus untuk kegiatan hiburan tersebut, sedangkan untuk sumber airnya sendiri warga sekitar pun mempersilahkan jika ingin menggunakan air dari Sendang sebagai sumber airnya, yang penting area kolam utama Sendang harus tetap netral dari kegiatan hiburan dan tenang seperti apa adanya.



Disekitar area kolam Sendang yang memiliki diameter sekitar 50m dan dengan kedalaman antara 0,5-4m dan memiliki dasar berupa lumpur hitam (Ngembel/Mbel = lumpur dalam bahasa Jawa) ini juga terdapat sebuah cungkup berukuran 2x3m yang berada di area tepi telaga, cungkup ini kerap dijadikan tempat untuk menaruh sesaji atau digunakan sebagai tempat bertirakat bagi beberapa orang yang memiliki hajat atau keinginan, keberadaan cungkup ini juga dipercaya sebagai tempat kediaman dari ghaib penunggu Sendang yang  bernama Kiai dan Nyai Beji, selain itu pulau kecil yang ada ditengah kolam juga kerap dijadikan tempat untuk menaruh sesaji juga.





Sayangnya walaupun tempat ini cukup nyaman dan tenang untuk sekedar beristirahat dan menyepi namun disisi lain pemeliharaan area Sendang ini akhirnya kerap terlupakan, masalah sampah dan keruhnya air di kolam Sendang ini sering dikeluhkan oleh beberapa pengunjung yang datang dari dulu hingga saat ini, pengawasan disekitar area Sendang yang cukup sepi juga dikuatirkan dapat disalahgunakan oleh beberapa pasangan muda-mudi yang datang untuk melakukan hal asusila.


Jika kalian ingin mencoba berkunjung ketempat ini akses termudah adalah melalui Jalan Bantul sampai bertemu Masjid Agung Bantul, dari Masjid Agung Bantul kalian masih terus saja ke arah Barat ikuti jalan yang nanti agak belok ke kiri dan kalian akan bertemu perempatan lampu merah kemudian belok kanan melewati jembatan Bedog lalu ambil kiri, terus saja sampai melewati Lapas dan mulai menanjak hingga akhirnya bertemu SD Beji, dari SD Beji kalian tinggal belok ke kiri, lurus dan sampailah kalian di Sendang Ngembel.


Selepas dari Sendang Ngembel ini jika kalian ingin mencoba mengeksplorasi obyek wisata lain disekitar tempat ini kalian juga bisa mencoba antara lain ke Kopi Puncak Rindu, Desa Wisata Mangir Kopi Jipangan, Goa Selarong, Curug Pulosari, Kedung Pengilon, Curug Banyunibo Pajangan, Dewi Gumi, Taman Puspa Gading, Edum Park, dan Jembatan Gantung Tegaldowo.



Sedangkan saya sendiri setelah usai berkeliling mengamati suasana dan mengambil beberapa dokumentasi di sekitar Sendang Ngembel, saya pun melanjutkan perjalanan pulang sembari mencoba sekalian melewati Dewi Gumi (Desa Wisata Gunung Mijil), Taman Puspa Gading dan Edum Park, serta melewati Jembatan Gantung Tegaldowo.






Bagaimana apakah kalian tertarik untuk mencoba berkunjung kesini? Yang pasti tetap jaga kelestarian dan kebersihan dari setiap tempat wisata yang kalian kunjungi ya, selamat ber-Gowes Wisata.

Wednesday, 8 August 2018

CHAPTER 43; TANA TORAJA

Tana Toraja atau dalam bahasa asli masyarakat sekitar disebut juga dengan Masyarakat Negeri Tondok Lepungan Bulan Tana Matarik Allo, nama tempat yang satu ini sudah sangat populer tidak hanya ditingkat nasional saja melainkan sudah dikenal sampai taraf internasional, hal ini dikarenakan wilayah ini memiliki keunikan berupa wisata budayanya. Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di propinsi Sulawesi Selatan rasanya belum lengkap dan sangat disayangkan jika kami tidak mengunjunginya selagi kami masih berada di bumi celebes ini, jadi tunggu apa lagi? sekarang saatnya merancang agenda petualangan menuju Tana Toraja :)

Secara administratif berdasarkan UU No.28 Tahun 2008, Tana Toraja dimekarkan menjadi 2 bagian, yaitu Kabupaten Toraja Utara yang beribukota di Rantepao, dan Kabupaten Toraja Selatan yang beribukota di Makale, namun biasanya lokasi yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan ketika mereka berwisata ke Tana Toraja adalah wilayah Toraja Utara seperti Desa Ke'te Kesu (berada sekitar 4,5km dari Rantepao), Londa (26km dari Rantepao), serta Lemo.

Dari Parepare kami menggunakan bus umum untuk menuju ke Tana Toraja dengan harga tiket per orang sebesar 70ribu rupiah, sepeda-sepeda sengaja kami titipkan sementara waktu di rumah salah seorang teman di Parepare supaya setibanya di Toraja nanti kami lebih bebas berjalan kaki melihat dan menikmati keunikan yang ada di tempat tersebut

Perjalanan menggunakan bus dari Parepare menuju ke Toraja (tepatnya ke Rantepao) menghabiskan waktu tempuh sekitar 5-6jam melewati rute yang berkelok-kelok dan menanjak, setibanya di Rantepao kami kemudian turun di monumen tongkonan (sebuah bundaran kecil dengan hiasan berupa miniatur rumah adat tongkonan yang berada di perempatan jalan poros), berdasarkan hasil googling sebelumnya mengenai penginapan murah di Toraja, kami pun mendapati satu tempat penginapan yang banyak direkomendasikan oleh para backpacker, yaitu penginapan Wisma Maria 1 yang lokasinya berada tidak jauh dari monumen miniatur tongkonan tersebut (dari monumen tongkonan kalian tinggal belok kiri, berjalan kearah pos polisi atau patung pahlawan berkuda, lalu terus saja sampai pertigaan Indra Toraja Hotel, dari pertigaan tersebut kemudian belok ke kiri lagi kira-kira 50meter nanti ada papan nama Wisma Maria 1, letaknya tepat dikiri jalan)

Monumen Tongkonan



Memang setelah kami membandingkan dengan beberapa penginapan lainnya yang ada di Toraja maka Wisma Maria 1 ini adalah yang termurah (walaupun bagi kami tetap saja terasa mahal jika dibandingkan dengan fasilitas yang ditawarkan), sepertinya memang sulit mencari penginapan murah di Tana Toraja, di Penginapan Wisma Maria 1 ini pun akhirnya kami hanya menyewa kamar termurah yaitu single bed seharga 140ribu rupiah (harga Maret 2016) dengan fasilitas berupa ranjang berukuran single, meja, lemari, washtafel dan kamar mandi dalam dengan kloset duduk, padahal dengan kisaran harga tersebut jika di Pulau Jawa kita sudah bisa mendapatkan kamar dengan fasilitas dan kondisi yang lebih baik lagi, terlebih di penginapan ini tidak disediakan fasilitas pendingin ruangan seperti AC maupun kipas angin, hal ini dikarenakan kondisi geografis wilayah Rantepao yang berada di dataran tinggi dimana iklim disekitar wilayah ini cukup sejuk dan dingin, sehingga entahlah mengapa harga penginapan di wilayah ini mayoritas mahal, satu-satunya nilai plus dari penginapan Wisma Maria 1 ini adalah fasilitas free wifi dengan sinyal yang kuat dan kencang hehe... kami pun memanfaatkan jaringan wifi tersebut dengan mengupdate beberapa aplikasi dan mencari informasi online seputar tempat wisata di Tana Toraja, oya di penginapan ini juga disediakan sarapan berupa roti dan telur (sarapan ala orang Eropa) dan pilihan minuman yaitu teh hangat atau kopi toraja (silakan pilih), sedangkan waktu untuk check out di penginapan ini adalah pukul 12 siang)

Penginapan Wisma Maria I




Selain penginapan murah, hal lainnya yang sulit untuk ditemukan di Toraja adalah makanan halal (dan murah), rata-rata tempat makan disini menyajikan daging babi atau masakan lain yang digoreng menggunakan minyak babi (karena masyarakat disini mayoritas beragama Kristen), untunglah karena Agit mengenakan jilbab maka ketika kami sedang mencari makan, warga sekitar pun langsung menyarankan untuk mencari tempat dimana terdapat menu makanan halal atau rumah makan muslim, dan setelah berkeliling akhirnya kami pun menemukan sebuah warung makan muslim yang menyajikan nasi kuning campur seharga 8ribu rupiah per porsinya (setidaknya masih masuk dengan budget kami)

Dari penginapan kami kemudian berjalan kaki sejauh 4,4km menuju menuju patung sapi yang berada di wilayah Kecamatan Kesu (lumayanlah menghemat pengeluaran untuk ojek atau becak bermotor sembari menikmati pemandangan yang ada disini), dari patung sapi tersebut kemudian kami masih harus berjalan kaki lagi sejauh 1,5km masuk ke dalam menuju obyek wisata pertama yang kami temui yaitu Buntu Pune





Buntu Pune berlokasi di Desa Ba’Tang, Kecamatan Kesu, Kabupaten Toraja Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Tempat ini merupakan salah satu lokasi cagar budaya di wilayah Tana Toraja. Awalnya Buntu Pune merupakan kawasan milik pribadi dan keluarga, namun atas saran Pemda setempat akhirnya tempat ini pun dibuka untuk umum.

Mungkin karena mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja ini hanya tahu dan terfokus kepada cagar budaya yang berada di Desa Ke'te Kesu maka ketika kami berkunjung ke Buntu Pune ini suasananya terasa sepi, hanya kamilah satu-satunya wisatawan yang ada, selebihnya hanya ada warga dan pemilik rumah adat tongkonan saja



Padahal jika kalian berkunjung ke Buntu Pune ini bisa dipastikan kalian tidak akan menyesalinya, selain karena tidak ada biaya retribusi alias gratis, suasana dan view rumah adat tongkonan yang ada disini juga lebih alami dan asli, tidak hanya melihat rumah adat tongkonan saja, disini kami juga melihat lokasi kubur batu khas warga Toraja yang letaknya berada di tebing-tebing batu, selain itu disekitar area ini juga terdapat jalan setapak yang menuju ke atas bukit dimana diatasnya terdapat Benteng peninggalan Pongtiku, Beliau salah seorang tokoh pahlawan asal Toraja saat masa penjajahan melawan Belanda

Di Buntu Pune ini kami juga sempat bertanya kepada salah seorang warga dan sang pemilik rumah adat tongkonan mengenai keunikan budaya masyarakat Tana Toraja, oleh mereka kami kemudian dijelaskan mengenai filosofi rumah adat tongkonan, menurut mereka di Tana Toraja ini memang banyak rumah-rumah yang "bergaya atau memiliki bentuk" seperti tongkonan, padahal tidak semua rumah-rumah tersebut bisa disebut sebagai tongkonan


Tongkonan sendiri berasal dari kata "tongkon" atau duduk, sehingga suatu rumah adat hanya dapat disebut sebagai rumah tongkonan jika rumah tersebut mempunyai fungsi sosial di lingkungannya, misalnya rumah tersebut pernah digunakan sebagai rumah pertemuan atau musyawarah dimana banyak orang dapat duduk bersama membicarakan kepentingan sosialnya, jika rumah tersebut "hanya" bergaya atau mempunyai bentuk seperti rumah tongkonan namun tidak mempunyai fungsi sosial dilingkungannya melainkan hanya dibuat sebagai fungsi komersiil biasa maka rumah tersebut belum dapat disebut sebagai rumah adat tongkonan

Selain itu rumah adat tongkonan memiliki bentuk atap yang khas yang ternyata memiliki filosofi tersendiri, karena berdasarkan sejarah diperkirakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja berasal dari para pendatang asal Cina dan Gujarat maka bentuk dari atap-atap rumah dibuat menyerupai perahu untuk mengingatkan mereka akan cara kedatangan para nenek moyang dan leluhur mereka jaman dahulu


Syarat untuk mendirikan sebuah rumah adat tongkonan pun ada 3, selain fungsi sosial tadi, syarat lainnya adalah keberadaan rumah tongkonan harus berdekatan, berkaitan atau berhubungan dengan sawah, biasanya pemilik rumah adat tongkonan pasti memiliki lahan persawahan, syarat kedua adalah memiliki komplek kuburan yang berada ditebing-tebing, karena bagi masyarakat Toraja mereka berpendapat bahwa tanah lebih baik difungsikan untuk hal-hal yang produktif dan dapat digunakan untuk generasi berikutnya, berdasarkan alasan itulah maka akhirnya masyarakat Toraja memilih untuk meletakkan jasad para leluhurnya yang sudah meninggal diatas tebing, syarat terakhir adalah adanya rante atau pelataran duka yang digunakan untuk mengadakan hajatan besar seperti penyembelihan hewan saat berlangsung prosesi rambu solo’ atau prosesi pemakaman





Posisi dari rumah adat tongkonan sendiri selalu menghadap ke Utara-Selatan karena menurut kepercayaan masyarakat Toraja perlintasan matahari dari Timur ke Barat merupakan penunjuk arah yang tidak boleh “ditantang”, hal inilah yang menyebabkan pada akhirnya posisi rumah menghadap Utara-Selatan. Posisi Timur sendiri merupakan perlambang dari matahari yang dianggap sebagai penanda sesuatu yang awal seperti pagi atau kelahiran, sedangkan posisi Barat berarti bulan dan bintang yang melambangkan sebuah akhir seperti malam atau kematian



selain itu jika kita melihat hiasan berupa susunan tanduk-tanduk kerbau yang diletakkan secara vertikal di bagian depan sebuah rumah adat tongkonan maka hal itu melambangkan kegigihan sebuah keluarga dalam berhemat, menabung kerbau, bersatu padu sampai menunggu tibanya hari perhelatan upacara Rambu Solo’, selain itu hal ini juga menandakan jika rumah tersebut sudah melalui proses syukuran atau peresmian, jumlah tanduk kerbau yang diletakkan bersusun secara vertikal juga melambangkan status sosial dari sang pemilik rumah, semakin banyak jumlah susunan tanduk yang terpasang berarti semakin tinggi pula status sosial sang pemilik rumah, begitupun halnya dengan setiap ukiran yang ada pada dinding rumah adat tongkonan, masing-masing ukiran tersebut juga mempunyai arti filosofi sendiri seperti ukiran spiral yang melambangkan tumbuhan, ayam yang melambangkan keadilan, dan masih banyak lagi motif ukiran lainnya






Selain rumah adat tongkonan, ada sebuah bangunan lagi yang berbentuk seperti tongkonan namun berukuran lebih kecil, bangunan tersebut disebut juga alang atau lumbung padi yang digunakan untuk menyimpan padi hasil panen, dan setiap generasi pasti memiliki lumbungnya sendiri, padi-padi yang disimpan dalam lumbung tersebut selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga pemilik rumah juga dapat digunakan oleh masyarakat Toraja lainnya yang berada dalam lingkungan sosial tersebut yang kebetulan sedang mengalami gagal panen atau kekurangan beras

Toraja memang terkenal karena tradisi pemakamannya, bagi masyarakat Toraja sendiri kematian bukanlah sebuah akhir melainkan suatu awal yang baru bagi jasad yang meninggal, oleh karena itu ketika seseorang meninggal maka keluarga yang ditinggalkan akan memberi penghormatan terakhir dengan mengadakan prosesi pemakaman yang meriah (dan menelan biaya yang sangat besar) sebagai pertanda bahwa jasad tersebut sudah membawa bekal yang lengkap untuk menempuh "perjalanan hidup" berikutnya, selama prosesi tersebut belum dilaksanakan maka jenazah akan dianggap dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup namun sedang sakit

Sebelum menggelar perhelatan Upacara Rambu Solo’ biasanya pihak keluarga sudah memiliki “tabungan” berupa beberapa ekor kerbau, mereka akan berusaha menyediakan kerbau terbaik yang mereka miliki sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk menunjukkan status sosial keluarga almarhum. Kerbau-kerbau itu sendiri berharga cukup mahal (sekitar 250 juta/ekor) terutama yang disebut Tedong yaitu sejenis kerbau belang yang berwarna merah muda

Selanjutnya memasuki tahap Mantunu atau hari pengorbanan kerbau yang merupakan rangkaian dari upacara pemakaman Rambu Solo’, acara ini merupakan semacam persiapan sebelum mengantar jenazah ke Benuang Tang Merambu atau rumah tanpa asap alias makam. Sepanjang Upacara ini para tamu akan ditempatkan pada Lantang atau salah satu pondok non permanen dimana para kerabat akan duduk selama perhelatan upacara Rambu Solo’, kemudian saat keranda mulai ditandu menuju makam di Tebing Batu maka seluruh pengantar wajib bersukacita sebagai bentuk memuliakan yang wafat dengan rasa syukur bahagia karena meyakini bahwa kini perjalanan hidup sang jenazah sudah sempurna

Setelah semua prosesi pemakaman dilakukan maka jasad akan diletakkan didalam peti-peti kayu yang disebut erong yang kemudian akan diletakkan didalam goa atau liang-liang tebing, nantinya setelah menjadi tulang belulang maka erong atau peti-peti kayu tersebut akan dipindahkan menggantung di dinding tebing. Selain didalam erong biasanya ada juga jasad yang diletakkan didalam rumah-rumah makam yang disebut Patane, didepan patane dan di atas tebing-tebing tersebut juga akan diletakkan Tau-tau yaitu boneka personifikasi si jenazah atau replika yang dibuat menyerupai sosok orang yang sudah meninggal, Tau-tau tersebut nantinya juga akan dipakaikan baju seperti yang biasa dikenakan sang almarhum semasa hidup, beberapa perhiasan dan benda-benda yang dianggap memiliki ikatan emosional dengan orang yang sudah meninggal tersebut biasanya juga turut dimasukkan kedalam peti jenazah atau diletakkan di dalam liang-liang tebing, untuk mencegah pencurian artefak-artefak dan tau-tau tersebut maka kini tau-tau tersebut diletakkan dalam sebuah liang tebing yang terkunci







Setelah mendengar penjelasan dari sang pemilik rumah adat tongkonan di Buntu Pune tersebut kini setidaknya kami mulai mendapat gambaran seperti apa kebudayaan masyarakat Toraja. Keramahan warga disini sangat terasa dan seakan menganggap kami sudah seperti saudara yang datang dari jauh, kami bahkan juga disuguhi teh hangat dan kopi khas toraja yaitu kopi torabika (Toraja Arabica) selama perbincangan tadi


Dari Buntu Pune kami kemudian melanjutkan perjalanan sejauh kira-kira 2km kali ini menuju ke Desa Ke'te Kesu. Ditempat ini suasananya kurang lebih hampir sama dengan yang ada di Buntu Pune, perbedaannya hanyalah di Ke'te kesu terdapat lebih banyak jumlah rumah adat tongkonannya, selain itu disini juga lebih terkelola sebagai tempat wisata cagar budaya, ditandai dengan adanya tiket masuk sebesar 10ribu rupiah per orang, selain itu juga ada museum, penjualan souvenir khas Toraja, jumlah dan bentuk patane yang lebih bervariasi serta kuburan yang lebih besar, dalam 1 buah patane atau erong sanggup menyimpan hingga lebih dari 5 generasi, sehingga usia dari peti kayu tersebut hingga kini diperkirakan telah berusia sekitar 200tahun








Sebenarnya masih banyak lokasi wisata cagar budaya lainnya yang ada di Tana Toraja seperti di Londa dan Kambira (tempat dimana terdapat pohon tarra yang digunakan untuk meletakkan mayat bayi), pohon tarra yang terdapat di Kambira ini diperkirakan telah berusia sekitar 300tahun, disini bayi-bayi yang meninggal akan diletakkan didalam lubang-lubang yang dibuat dipohon tersebut dan kemudian ditutup dengan pelepah, posisi dari jasad bayi yang meninggal tersebut pun tidak boleh diletakkan menghadap ke rumah keluarga yang ditinggalkan

Jika waktu wisata kalian di Tana Toraja ini cukup panjang kalian sebaiknya tidak melewatkan untuk berkunjung ke dataran tinggi Batutumonga yang memiliki arti batu yang mendongak menghadap matahari, dari atas ketinggian dataran ini kalian bisa melihat panorama Toraja yang sangat indah dikelilingi oleh perbukitan disekitarnya

Sayangnya karena di Toraja ini selalu turun hujan saat mendekati sore hari maka kami pun terpaksa menyudahi petualangan disini, tetapi setidaknya dari perjalanan ini kami telah mendapat banyak pengetahuan baru mengenai keberagaman budaya dari suku-suku yang ada di bumi nusantara ini, menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah budaya tradisional dapat bertahan dari gempuran modernisasi



Dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia sendiri setidaknya kini hanya tinggal 4 daerah yang masih tersisa dengan ciri khas rumah adatnya, daerah-daerah tersebut antara lain di Padang dengan rumah gadangnya, Papua dengan rumah honainya, Flores tepatnya di Desa Wae Rebo dengan Mbaru Niangnya, dan yang terakhir adalah Tana Toraja dengan rumah tongkonannya, dan kami masih bersyukur karena setidaknya kami masih bisa berkunjung dan melihat secara langsung salah satu dari rumah adat yang masih difungsikan tersebut, tidak hanya melihat saja namun kami juga mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman baru

Jika kalian bingung memilih destinasi wisata untuk berlibur maka jangan lupa masukkan Tana Toraja ke dalam list tujuan kalian, karena hanya disinilah kalian akan mendapati perspektif baru tentang kematian, terdengar menyeramkan? Tidak juga, karena saat kalian melihatnya secara langsung maka bukan rasa takut yang akan kalian rasakan melainkan justru rasa takjub dengan prosesi perayaan dan pemaknaan sebuah kematian dalam lingkungan masyarakat Toraja, inilah Indonesia dengan beragam kekayaan budayanya jadi mulailah mengenal Negerimu dan banggalah menjadi orang Indonesia :)

Info tambahan seputar Tana Toraja :

- Untuk menuju ke Tana Toraja dari Kota Makassar kalian bisa menaiki bus tujuan Rantepao seperti Bus Litha dan Bus Bintang Timur
dengan tarif sebesar 80 ribu sampai 100 ribu per orang
- Waktu terbaik untuk berwisata ke Tana Toraja adalah sekitar Bulan April – Oktober karena banyak diselenggarakan berbagai acara
dan perayaan, mulai dari pemakaman Rambu Solo’ hingga perayaan potong padi
- Lokasi-lokasi wisata populer lainnya di Tana Toraja yang dapat kalian kunjungi antara lain adalah Londa, Lemo, dan Desa Kesu’
untuk melihat kubur batu, serta juga ada obyek wisata Batu-batu menhir raksasa di kompleks Megalith Kalimbuang Bori’, Kecamatan
Sesean
- Untuk wisatawan muslim yang suka berwisata kuliner tradisional maka perlu berhati-hati dan bertanya dulu sebelum kalian memesan
makanan di rumah makan yang ada, karena di Tana Toraja mayoritas masyarakatnya beragama Nasrani sehingga kebanyakan rumah makan
yang ada disini menyediakan makanan tradisional seperti Pa’piong yaitu sejenis masakan berbahan dasar daging ayam atau babi
yang
dibumbui rempah dan cacahan batang pisang muda yang dimatangkan dalam bambu