Showing posts with label Bikecamping. Show all posts
Showing posts with label Bikecamping. Show all posts

Friday, 10 May 2024

BIKECAMPING DI WADUK SERMO BERSAMA RODALINK JOGJA

Sabtu-Minggu, (27-28 April 2024).

Hai sobat Gowes Wisata, postingan kali ini sebenarnya merupakan late post yang seharusnya saya ulas di Bulan April lalu, namun dikarenakan adanya faktor aktivitas lain serta menunggu ide penulisan yang (sampai saat ini) masih tergantung mood barulah cerita lengkapnya saya tulis sekarang hehe… Nah jika kalian sudah mengikuti cerita-cerita perjalanan di blog ini sejak awal sepertinya hafal jika kegiatan bikecamping akhir-akhir ini terbilang jarang saya lakukan (bikecamping terakhir sepertinya saya lakukan sebelum touring jauh Tahun 2015-2016 lalu). Daripada berlama-lama yuk simak kisah lengkap cerita catatan perjalanan goweswisata bikecamping bersama Rodalink Jogja kali ini.



Seingat saya informasi mengenai agenda acara kegiatan bikecamping ini baru saya terima 4 hari sebelumnya, ketika tiba-tiba salah seorang dari Rodalink mengirimkan pesan whatsapp kepada saya, menanyakan apakah saya tertarik untuk ikut kegiatan bikecamping kali ini. Cukup mendadak sih sebenarnya karena untuk melakukan kegiatan bersepeda overnight alias bikecamping ini saya mempunyai kebiasaan untuk mempersiapkan semua peralatannya sedetail mungkin, mulai dari mengecek kondisi camping gear (sleep system) supaya nantinya bisa digunakan dengan nyaman saat beristirahat, kondisi sepeda, serta kebutuhan sandang dan elektronik device, yah kurang lebih miriplah seperti sewaktu saya mempersiapkan untuk touring jauh, hanya saja untuk kegiatan bikecamping yang biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat 2 harian tentunya tidak terlalu dibutuhkan bawaan sebanyak untuk touring jauh, yang mana ketika melakukan touring jarak jauh dan berdurasi lama maka peluang untuk pulang dan mengambil barang yang diperlukan akan sangat merepotkan.


Pihak Rodalink sendiri sebenarnya sudah beberapa kali mengadakan kegiatan bikecamping seperti ini dengan mengambil tajuk “Bikepackers” (lebih merujuk kepada orangnya), walaupun bagi saya pribadi sepertinya istilah yang tepat adalah “bikecamping” karena lebih menekankan kepada aktivitasnya, tapi yah intinya sih sama saja tujuannya, saya pun membebaskan kepada yang membuat acara karena kehadiran saya hanyalah sebagai peserta alias goweser penggembira saja hehe…


Untuk event-event Bikepackers Rodalink sebelumnya saya sendiri sih belum pernah mengikuti (dikabari via dm tapi saya tidak bergabung) karena bagi saya yang rada “introvert” ini mengikuti kegiatan camping ramai-ramai dimana ada banyak peserta biasanya cenderung memusingkan, karena ada saatnya ketika saya sudah lelah alias mengantuk namun masih ada saja rundown acara berupa sesi games atau talkshow, nah inilah yang bikin mumet, kalau saya memilih langsung pergi ke tenda untuk tidur nanti dibilang anti-sosial, namun kalau dipaksakan melek malah pikiran saya yang sudah jalan-jalan duluan ke dunia mimpi, intinya bagi saya pribadi untuk mengikuti acara berjangka waktu lama dengan banyak orang sama artinya dengan ribed, oleh karena itu sedari dulu kebanyakan di cerita petualangan perjalanan gowes wisata ini mayoritas saya lakukan seorang diri, kalaupun melakukan perjalanan berhari-hari biasanya saya lakukan berdua saja dengan istri (bikecamping dan sewaktu touring jauh selama 3,5 bulan) karena tidak banyak kepala otomatis tidak terlalu banyak benturan keinginan.


Lalu kenapa pada kegiatan Bikecamping kali ini saya meng-iyakan tawaran dari Rodalink? Well jawabannya sih sederhana yaitu karena saya lagi gabut hehe… alias lagi ingin liburan tapi bingung mau kemana, nah mumpung ada yang nawarin dan ditambah lagi tempat tujuannya saya juga belum pernah kesana jadi ya sudah sekalian iya-in saja, toh karena ini adalah kegiatan bikecamping alias gowes nginep maka pastinya perjalanan juga akan menjadi lebih santai karena tidak diburu oleh waktu jika dibandingkan dengan perjalanan one day trip alias pergi-pulang dalam 1 hari yang notabene akan lebih cape, diburu waktu, dan malah tidak sempat menikmati pemandangan atau detail perjalanan.


Baiklah setelah menerima tawaran ini artinya sekarang saatnya melakukan persiapan barang bawaan, yang sudah pasti wajib dibawa adalah sleep system (tenda-sleeping pad-air pillow-sleeping bag), lalu kebutuhan sandang cukup membawa 2 set saja termasuk jaket dan jas hujan, sandal, peralatan mandi atau toiletris, charger handphone dan kamera, lampu tenda, obat-obatan pribadi, serta beberapa cemilan (biasanya saya bawa cokelat untuk mengisi kadar gula dan pengganti energi yang terpakai saat bersepeda), untuk urusan makan saya sengaja tidak membawa nesting, kompor dan cooking set lainnya dengan pertimbangan ini adalah kegiatan bikecamping 1 malam saja, lalu tujuannya adalah destinasi wisata Waduk Sermo, nah kata-kata “Obyek Wisata” biasanya identik dengan banyak warung jajanan terlebih ini juga masih di Jogja (Pulau Jawa) dimana warung makan dan angkringan ada dimana-mana, sehingga urusan makan pastinya relatif mudah. Pihak Rodalink sendiri juga sudah mengonfirmasi jika nantinya urusan makan malam dan sarapan sudah tersedia (disiapkan oleh pihak pengelola tempat camping).


Setelah semua persiapan dan pengecekan kondisi sepeda sudah beres, semua bawaan juga sudah terpasang dalam pannier sepeda, saatnya tidur lebih awal supaya besoknya bisa bangun lebih pagi dan mulai gowes menuju titik kumpul pemberangkatan yaitu ke Rodalink Jogja Barat yang berada di Jalan Jogja-Wates.



Pagi pun tiba, sekitar pukul 5.30 WIB saya pun mulai mengayuh pedal sepeda dari basecamp Gowes Wisata menuju ke Rodalink Jogja Barat, udara pagi yang masih terasa dingin dan sejuk berubah menjadi sedikit berpolusi selepas melewati titik nol km menuju ke Ringroad dan wilayah Gamping yang pagi itu mulai dipenuhi oleh bus-bus antar kota yang sedang nge-tem serta keriuhan aktivitas para pedagang disekitar Pasar Gamping. Sambil mengayuh dan menikmati perjalanan saya pun merasa sedikit familiar dengan momen ini, ya momen dimana saya mengayuh sepeda sembari membawa pannier yang dikaitkan pada rak sepeda dipagi hari melewati ruas jalan sambil sesekali berpapasan dengan bus-bus antar kota serta kendaraan pribadi yang berseliweran, ingatan dan rasa yang sama dengan momen ketika kami (saya dan istri) melakukan perjalanan touring jauh ke arah Timur selama 3,5 bulan, ahhh…rasanya rindu sekali dengan momen-momen seperti waktu itu.


Setibanya di Rodalink Jogja Barat, saya pun beristirahat sejenak di dalam sembari menunggu kedatangan perserta lainnya yang mengikuti kegiatan bikecamping kali ini, rencananya start gowes menuju ke Waduk Sermo akan dimulai pada pukul 08.00 WIB


Tanpa terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB kami pun mulai bersiap untuk start menuju ke Waduk Sermo melalui rute blusukan pedesaan yang minim traffic melewati terowongan Rewulu dan jalur pinggir rel kereta api sampai tiba di wilayah Sentolo dan lanjut menuju ke arah Pengasih. Disekitar Lapangan Pengasih rombongan kami pun berhenti sejenak untuk sarapan mengisi perut dengan seporsi soto ayam yang segar sembari beristirahat, namanya juga gowes santai jadi ya berhentinya sesuka kita saja, kalau mulai terasa lelah ya tinggal minggir sejenak, tidak perlu memaksakan diri karena disini kami semua bukanlah atlet melainkan hanya pesepeda yang mencari kesenangan.




Jalur Pengasih yang medan rolling naik-turunnya cukup banyak membuat kami berhenti untuk beristirahat beberapa kali, untunglah disepanjang rute ini tidak banyak dilewati oleh kendaraan bermotor sehingga suasana dan udaranya masih cukup sejuk, tidak pengap oleh polusi. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit kami mulai memasuki kawasan margasatwa Sermo, ini artinya tujuan Waduk Sermo sudah tidak terlalu jauh lagi (namun tetap saja medannya menanjak), ayo tetap semangat dan santai hehe…





Selepas perempatan kawasan Margasatwa Sermo kami pun mengambil belokan ke kanan menuju ke Waduk Sermo, disini kondisi jalannya agak rusak sehingga walaupun medannya menurun namun kalian jangan terlena dan tetap harus berhati-hati, sehabis turunan yang panjang ini kami lalu mengambil belokan ke kiri yang menuju ke arah Waduk, disini medannya langsung menanjak drastis membelah bukit dengan gradient kemiringan yang cukup menyebalkan. Sehabis tanjakan ini kami pun berhenti sejenak untuk beristirahat disebuah warung, menurut Ibu pemilik warung lokasi camping groundnya masih sekitar 2km lagi, nantinya setelah melewati jembatan yang cukup panjang tinggal ambil arah yang ke kiri dari situ sudah tidak terlalu jauh lagi. Oya lokasi camping ground kami kali ini mengambil tempat di Bukit Semar (Googlemaps “Bukit Semar Waduk Sermo”).





Dan setelah mengikuti ruas jalan yang sepertinya dibuat mengitari sekeliling Waduk Sermo ini sampailah kami di lokasi camping ground Bukit Semar Waduk Sermo. Lokasi camping ground ini cukup menarik dengan hamparan lahan rerumputan yang datar dan dinaungi oleh pohon-pohon kelapa serta view pemandangan Waduk yang tenang dan indah, disini juga terdapat ayunan, spot yang bisa digunakan untuk memancing, parkir kendaraan roda dua dan empat, toilet umum, serta Mushalla kecil. Menurut informasi yang tertera retribusi untuk camping sendiri adalah sekitar 15rb per orang jika kalian membawa tenda sendiri, namun juka kalian malas membawa peralatan camping maka kalian juga bisa menyewa tenda langsung dilokasi ini, untuk tenda berkapasitas 4 orang dikenakan biaya 50 ribu rupiah, sedangkan untuk tenda berkapasitas 2 orang dikenakan biaya 30 ribu rupiah, sedangkan untuk matras, alat masak, meja dan kursi juga disewakan dengan harga yang relatif terjangkau, bahkan jika kalian malas memasak maka bisa juga memesan langsung kepada warga sekitar untuk dibawakan atau disiapkan sesuai waktu yang kalian inginkan seperti yang dilakukan oleh pihak Rodalink yang mengatur urusan makan peserta langsung kepada pihak pengelola dan warga sekitar supaya tidak repot, tidak perlu kuatir akan rasanya karena enak dan maknyuss terutama ayam dan sambalnya T.O.P.






Pihak panitia dari Rodalink sepertinya juga menyewa tenda untuk mereka karena setibanya disana sudah ada 2 tenda berkapasitas 4 orang yang sudah terpasang, sedangkan bagi peserta silahkan memilih mau bawa tenda sendiri atau sewa langsung dilokasi, kalau saya sudah jelas membawa tenda sendiri, lumayanlah sudah lama saya tidak menggelar tenda ini setelah touring yang lalu, tenda merk Naturehike berkapasitas 2p ini ternyata masih cukup tangguh dan nyaman walaupun sudah hampir 10 Tahun berlalu, hanya terlihat beberapa titik kondisi seal seamnya yang mulai getas, rencananya setelah acara ini selesai saya baru akan mengganti semua seal seamnya dengan seal tape baru, baiklah tenda, footprint, dan pasaknya sudah terpasang, sleeping pad dan air pillow juga sudah ditiup, seleeping bag juga sudah digelar, lampu tenda sudah dicantol ke pengait atas di dalam tenda. Jika melihat persiapan dan kondisi tenda sewa dari peserta yang ada disini sepertinya nanti malam sayalah yang bakal beristirahat paling nyaman karena pada tenda sewaan peserta yang lainnya hanya tersedia matras tipis biasa dan tanpa sleeping bag (pengalaman saya biasanya jika hanya beralas matras tipis saja maka saat malam tiba orang di dalam tenda akan mulai kedinginan dan badan terutama punggung akan pegal-pegal keesokan harinya), bahkan saya juga membawa kursi lipat sendiri dengan model seperti milik helinox yang cukup nyaman, karena bagi saya pribadi waktu off from the bike adalah saat yang paling tepat untuk memulihkan kondisi tubuh yang letih setelah seharian gowes melewati tanjakan disiang hari yang terik supaya keesokan harinya bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan bugar, tentunya persiapan seperti ini juga hasil dari pengalaman dan percobaan trial and error dari beberapa gear yang ada hingga akhirnya menemukan management packing yang sekiranya terbaik dan tepat untuk dibawa.



Setelah semua beres kini saatnya untuk mandi menyegarkan diri mumpung suasananya belum terlalu ramai, hmmm…sepertinya nanti malam akan ada tambahan beberapa orang lagi (umum) yang juga akan melakukan kegiatan camping disini, terlihat dari pemasangan beberapa tenda sewa tambahan di sekitar lokasi ini. Sehabis mandi badan pun menjadi segar kembali (dan lapar) untunglah tidak beberapa lama datang makanan yang telah disiapkan oleh warga sekitar, kami pun beramai-ramai mulai menyantap hidangan kali ini (nasi, ayam, kerupuk, bihun, lalapan, dan sambal), ahh memang paling enak tipe kegiatan bersepeda adalah yang seperti ini, yaitu bikecamping atau bike overnight karena disini kita masih bisa menikmati suasana disekitar tanpa diburu oleh waktu, kalau saja ini adalah kegiatan one day trip maka bisa dipastikan saya akan menolaknya karena tidak dapat apapun selain capenya, dan detail perjalanan yang seharusnya bisa saya dapatkan bisa dipastikan akan terlewatkan karena diburu oleh waktu.





Semakin sore suasana disekitar camping ground ini justru malah semakin ramai, ada beberapa rombongan pelajar dari sebuah sekolah juga ikut melakukan camping disini, di bagian atas juga sepertinya ada rombongan lainnya yang juga mulai mengeluarkan peralatan pikniknya. Sisi positifnya mungkin adalah suasana disekitar tempat ini menjadi tidak menakutkan saat malam tiba, karena selain sudah adanya penerangan disini, keberadaan dan canda tawa dari beberapa peserta lain juga turut meramaikan suasana disekitar lokasi camping ini, beberapa dari mereka bahkan ada yang membakar jagung dengan api unggun, ngobrol-ngobrol, bahkan memancing ikan di beberapa spot yang ada. Sedangkan bagi saya pribadi yang mulai merasa mengantuk tinggal masuk ke tenda dan mulai tidur dengan hangat dan nyaman hehe…


Pagi pun tiba, mungkin lebih tepatnya dini hari karena saya terbangun sekitar pukul 04.00 WIB (karena sudah terbiasa), sepertinya rombongan pelajar sekolah yang di tenda sebelah benar-benar tidak tidur semalaman alias begadang sampai pagi karena ketika beberapa kali saya terbangun (sekitar pukul 02.00 WIB dini hari masih saja terdengar suara tertawa dan obrolan dari dalam tenda mereka), sambil membereskan sleeping bag dan beberapa peralatan lainnya saya pun mulai keluar tenda, kabut pagi yang tipis tampak menyelimuti suasana sekitar Waduk Sermo, tenda dan sepeda-sepeda pun tampak basah oleh embun pagi, suasana sangat tenang dan damai disini, cocok sekali untuk sejenak menyepi dari hingar-bingar keriuhan aktivitas perkotaan, saya pun mulai memasang kursi lipat dan duduk meghadap ke arah Waduk, menikmati ketenangan dan sejuknya suasana pagi ini.




Orang-orang dari Rodalink juga tampaknya masih tertidur dalam tenda masing-masing, beberapa bahkan ada yang tidur di luar tenda hanya beralaskan matras saja, mumpung suasananya cukup syahdu sepertinya saat yang tepat untuk mengambil detail dokumentasi suasana sekitar yang estetik.









Sekitar pukul 05.30 WIB beberapa orang dari tenda lainnya juga sudah bangun dan ada yang mulai beres-beres bersiap untuk pulang, hal yang paling unik sekaligus lucu disini adalah ketika melihat aktivitas dari para penghuni tenda lainnya yang ada disini, di tenda milik orang-orang Rodalink sebagian baru mulai bangun, sebagiannya lagi masih tidur, di Tenda milik rombongan pelajar laki-laki dari sekolah SMU karena tampaknya mereka memang begadang sampai pagi kini sedang asik memancing, di sebelahnya lagi pada tenda rombongan pelajar wanita sekolah Islam serta gurunya tampak sedang mengaji, dan di bagian atas sepertinya rombongan pekerja kantoran tampak sedang berkemas dan berfoto-foto sebelum pulang.


Sekitar pukul 08.00 WIB setelah membereskan tenda dan bersih-bersih mandi, akhirnya sarapan pun datang, saatnya mengisi energi dulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Rodalink Jogja Barat, beberapa games adu tanjakan juga dilakukan oleh beberapa pesepeda, sebagian juga masih ada yang memancing dan berswafoto. Kurang lebih sekitar pukul 09.00 WIB kami pun bersiap untuk pulang, setelah mengucapkan terimakasih kepada pengelola camping ground dan warga sekitar yang sudah menyiapkan makanan kami pun mulai melanjutkan perjalanan melalui rute yang sama seperti sewaktu menuju ke tempat ini, karena medannya rolling naik-turun maka walaupun kini rutenya dibalik hasilnya juga tetap sama saja alias tetap rolling naik-turun, capenya tetap sama hehe…




Sesampainya di dekat perempatan Lapangan Pengasih kami pun kembali berhenti sejenak untuk beristirahat sembari memesan minuman di warung yang ada, dari titik ini jaraknya sudah tinggal pertengahan lagi menuju ke Rodalink Jogja Barat, nikmati saja gowesnya yang penting sampai dengan selamat.



Sekitar pukul 11 siang kami semua pun akhirnya sudah berkumpul lagi di Rodalink Jogja Barat, dan selesailah agenda acara kegiatan event “Bikepackers” di Bulan April 2024 bersama Rodalink Jogja kali ini, secara keseluruhan acaranya terbilang sukses dan seru karena kegiatan gowesnya sendiri dilakukan secara santai tanpa diburu waktu sehingga saya secara pribadi pun masih bisa menikmati dan mendokumentasikan beberapa detail sepanjang perjalanan ini.


Ps : Terimakasih kepada pihak Rodalink Jogja yang telah mengundang saya dari Gowes Wisata untuk berpartisipasi meramaikan kegiatan ini, sukses selalu untuk kalian semua dan ditunggu agenda kegiatan gowes berikutnya ya.

Saturday, 13 June 2015

Bikecamping @Kalikuning 2

(02/06/15 – 04/06/15)

“Slow down and enjoy life. It is not only the scenery you miss by going too fast, you also miss the sense of where you are going and why”

Day 1, (02/06/15) Semua selalu terasa berat di awal

Setelah pada beberapa minggu yang lalu kami melakukan bikecamping di Embung Nglanggeran, Patuk, maka tidak berapa lama kemudian kali ini kami melakukan kegiatan bikecamping lagi (sepertinya kami mulai ketagihan untuk bikecamping hehe…:)). Dan jika pada beberapa kegiatan bikecamping terdahulu yang kami lakukan hanyalah dalam waktu singkat (satu hari saja) maka pada bikecamping kali ini kami mencoba untuk melakukannya sedikit lebih lama (tiga hari) supaya kami bisa benar-benar menikmati perjalanan goweswisata kami, sekaligus juga untuk lebih mengeksplor keunikan dari tempat yang kami datangi

Awalnya sedikit bingung juga ketika menentukan tujuan bikecamping kali ini karena sangat sulit menemukan informasi camping ground yang ada di Yogyakarta, terutama yang gratis :) dan belum pernah kami datangi, tetapi akhirnya setelah mempertimbangkan faktor kemudahan dan keamanan maka lokasi Kalikuning pun kembali menjadi tujuan kami walaupun dulu kami sudah pernah melakukan bikecamping di tempat ini. Nah berhubung rentang waktu pada bikecamping kali ini lebih daripada satu hari, maka saya pun mempunyai ide untuk mencoba menggabungkannya dengan melakukan trekking di hari keduanya nanti, sehingga kami tidak hanya berkutat di seputar area camp ground saja melainkan juga lebih mengeksplor apa saja spot-spot asyik yang bisa dilihat di sekitar wilayah ini

Peserta bikecamping Goweswisata kali ini hanya diikuti oleh 3 orang saja (saya, pasangan saya Agitya Andiny, dan bocah petualang Tadeus Rian) karena seperti yang sudah pernah saya jabarkan dibeberapa post terdahulu bahwa saya cenderung lebih menikmati perjalanan jika pesertanya tidak terlalu banyak, entahlah mungkin faktor karakter dan hobby saya sebagai penulislah yang membuat saya lebih menyukai perjalanan tanpa rombongan besar, sekaligus juga membuat saya jadi lebih bisa menangkap detail selama perjalanan

Setelah mempersiapkan “peralatan perang” untuk dipacking kedalam pannier dan tidak lupa melakukan cek ulang kondisi sepeda pada malam sebelum kami berangkat akhirnya tibalah hari H nya. Mengawali start sekitar jam 07.30 WIB dari Basecamp goweswisata, kali ini kami juga mencoba melakukan dokumentasi dalam bentuk video perjalanan supaya lebih lengkap dan bervariasi (silahkan cek di fanpage FB Gowes Wisata), sehingga tidak sekedar dalam bentuk foto-foto saja (mencoba terus berinovasi)

Dan inilah penampakan kendaraan tempur kami hehe…:)



Seperti yang sudah diketahui bahwa jika menuju ke Kalikuning, Cangkringan, hingga Kinahrejo yang notabene berada di lereng Gunung Merapi maka otomatis rute yang akan ditempuh pastilah berupa tanjakan, dan namanya juga ke lereng gunung maka haruslah mempersiapkan mental, semangat dan fisik untuk terus gowes menanjak (sambil membawa beban) selama perjalanan sampai nantinya tiba ditujuan

Kami mengambil rute melalui Jalan Gejayan – terminal Condong Catur – kemudian belok kiri sebelum terminal Condong Catur mengambil jalan alternatif menuju Jalan Kaliurang, di sepanjang rute ini walaupun menanjak tetapi masih terasa landai sehingga tidak terlalu berat. Selepas pertigaan traffic light Pakem menuju kaliadem barulah tanjakan terasa mulai menjadi medium (mungkin juga terasa sedikit berat karena sebagian tenaga kami sudah terpakai untuk menanjak disepanjang Jalan Kaliurang), ya sudah nikmati sajalah hehe…:)

Untunglah situasi jalanan selepas Jalan Kaliurang cukup sepi dari kendaraan bermotor sehingga udara juga terasa lebih segar ketika kami masih harus menanjak



Pada perjalanan kali ini ada sedikit kendala teknis yang memakan “korban” yaitu kickstand pada sepeda Agit bengkok karena tidak kuat menahan beban sepeda beserta seluruh panniernya


Dan rupanya “korban” kali ini tidak hanya kickstand saja melainkan juga pengendaranya, kali ini menimpa Tadeus Rian yang sempat “jackpot alias muntah” saat kami beristirahat di sebuah Masjid selepas gerbang tiket Kalikuning. Dititik ini akhirnya waktu beristirahat saya buat menjadi lebih lama (sekitar 1 jam) dengan pertimbangan menunggu kondisi fisik Rian pulih dahulu (lumayanlah sambil beristirahat bisa cuci muka dan makan camilan)

Sebenarnya selepas gerbang tiket Kalikuning kita juga bisa menemukan lokasi camping ground lain yang biasa digunakan oleh masyarakat umum ketika mereka mengadakan kegiatan outbond atau acara Makrab yaitu di Plunyon (biasanya para pesepeda juga akan memilih tempat ini sebagai destinasi akhirnya ketika mereka gowes menuju Kalikuning) karena di Plunyon terdapat aliran air yang berasal dari gunung merapi dan ditambah lagi dengan pemandangan indah lembah Kalikuning (lihat post kalikuning terdahulu)

Namun jujur saja medan tanjakan terberat bagi saya secara pribadi justru dimulai selepas dari gerbang tiket hingga menuju lokasi camping kami nantinya di Cangkringan, tepatnya berada di areal persewaan Jip milik Grinata Adventure, dititik ini medan menanjak yang awalnya berupa aspal halus setelah pertigaan kaliadem mulai berubah menjadi jalan rusak dan derajat kemiringannya pun semakin menjadi (gowes menanjak tanpa membawa beban saja sudah terasa berat, apalagi bagi rombongan kami yang masing-masing membawa beban sekitar 20-30kg di pannier masing-masing), disinipun kendaraan- kendaraan yang berpapasan dengan kami hanyalah Jip lava tour, mobil pribadi, kendaraan travel, dan sepeda motor milik warga

Akhirnya tibalah kami di Pos milik Grinata Adventure (917mdpl)


Kami tiba dilokasi sekitar pukul 15.30 WIB, setelah meminta ijin kepada pengelola Grinata Adventure untuk camp maka kami pun menuju ke lokasi yang dulu juga kami gunakan saat melakukan bikecamping pertama kali di kalikuning. Melihat situasi campground kami tampaknya tidak ada yang melakukan camping di tempat ini sejak pertama kali kami menggunakannya, terlihat dari masih adanya susunan batuan yang dulu pernah kami buat untuk menyalakan api unggun (sepertinya hanya kamilah yang menggunakan area ini untuk camping sampai saat ini)

Sekitar pukul 16.30 WIB kabut mulai turun dan menyelimuti seluruh area camping serta lembah Kalikuning, padahal dahulu waktu pertama kali kami camping di tempat ini tidak ada kabut sama sekali yang turun di sore hari, untunglah semua tenda dan hammock sudah selesai kami dirikan sehingga hanya tinggal mandi dan bersih-bersih di toilet umum yang ada di seberang pos Grinata Adventure kemudian mencari makan saja sebelum akhirnya beristirahat di tenda masing-masing




Satu hal yang paling saya suka saat camping seperti ini adalah suasana tenang, alami, serta udara yang masih segar karena masih banyaknya pepohonan yang ada di sekitar lokasi ini. Untuk sesaat terkadang saya merasa kegiatan seperti ini perlu dilakukan oleh setiap individu untuk menyepi sejenak dari hingar-bingar perkotaan dan gaya hidup konsumtif atau hedonisme dimana biasanya semua individu saling membanggakan brand yang dipakainya, bahkan terkadang hal tersebut tidak jarang juga terjadi di kalangan goweser yang berulangkali menanyakan dan membanggakan tentang brand, atau merasa minder hanya karena sepedanya tidak berasal dari brand terkenal. Seorang teman saya, goweser dari Perancis pernah mengatakan bahwa selama perjalanan bersepedanya keliling dunia (dan kebetulan sempat singgah di Indonesia) ia merasa heran dengan banyaknya orang-orang Indonesia yang terlalu terfokus pada brand sepeda dan berbagai gear yang ia miliki dibandingkan dengan pengalaman bersepedanya menjelajahi berbagai negara di dunia dan keunikan dari masing-masing tempat tersebut, “Brand is useless if you’re doing cycling trip, the most important is enjoy your cycling trip because you like it, not because they like it”, bagaimana sebuah perjalanan itu membawa perubahan positif terhadap cara berpikirmu lah yang menjadikan perjalanan itu berarti, bukan untuk sekedar mendapatkan pengakuan hebat dari orang-orang.

Mungkin karena itu pulalah saya terkadang tidak terlalu memusingkan brand dari sepeda dan gear yang saya gunakan, selama saya merasa nyaman maka itulah yang saya gunakan, brand hanyalah sekedar penjamin atas quality dari produk yang mereka buat, dan sepeda hanyalah salah satu dari sekian banyak alat transportasi yang saya pilih untuk bertualang, sehingga saya tidak akan memaksakan diri untuk selalu mengambil foto saya dengan sepeda di suatu lokasi yang terlihat “keren”, dengan pertimbangan jika hal tersebut nantinya akan merusak atau mencemari lingkungan yang ada (aliran air, bebatuan air terjun, dan lainnya), alam terlalu berharga dan baik untuk dirusak demi sebuah foto yang dipaksakan supaya terlihat “keren” dimata orang, karena intinya sayalah yang menikmati semua perjalanan ini secara langsung :)

Dan berbagai pemikiran lainnya justru saya dapatkan saat saya melakukan kegiatan seperti ini tanpa terlalu banyak orang, mungkin sekali-kali kalian juga perlu mencoba untuk melakukan perjalanan tanpa diikuti terlalu banyak orang atau rombongan sehingga kalian juga bisa lebih meresapi perjalanan kalian

Menikmati berpikir tentang apapun di keheningan malam


Bebas itu saat kalian bisa mengekspresikan apa yang menjadi keinginan kalian



Dan pada akhirnya semua yang terasa berat di awal itu pun bisa kami lalui


Day 2, (03/06/15) Trekking menuju Puncak Kinahrejo

Setelah pada malam harinya hujan sempat turun disekitar lokasi camp kami dan membuat suhu disekitar turun menjadi lebih dingin, untunglah hujan tidak berlangsung lama, sekitar pukul 04.30 WIB suara kokok ayam mulai bersahutan diiringi suara adzan Subuh dari pengeras suara Masjid yang ada menandakan sang fajar akan segera menyingsing


Penghuni yang lain sepertinya masih terlelap, enggan beranjak dari peraduan mereka karena dinginnya udara sekitar


Saya pun mulai keluar dari tenda dan berjalan-jalan sebentar sembari melakukan gerakan senam ringan untuk menghangatkan tubuh, kabut juga masih tampak di beberapa bagian lereng Merapi menunggu sang surya untuk menghangatkannya


Suasana pagi yang tenang dan sejuknya hawa pegunungan serta ditimpali oleh kicauan burung setidaknya cukup membuat pikiran saya menjadi tenang. Sambil menunggu rekan-rekan yang lain bangun dari tidurnya lebih baik saya mengambil kamera dan mendokumentasikan suasana pagi hari di tempat ini




Puncak kubah Merapi tampak dari kejauhan


Lembah Kalikuning


Setelah semua sudah bangun dari tidurnya (kecuali Rian yang masih enggan beranjak dari Hammocknya) maka saya dan Agit pun berencana untuk melakukan Trekking, sedangkan karena Rian memilih untuk tetap di camp spot maka kami berdua pun menitipkan sepeda, tenda, dan barang-barang kepadanya, baiklah saatnya mandi dulu sebelum trekking :)

Selesai bersiap-siap dan memasukkan beberapa barang penting serta kamera ke dalam tas carrier maka sekarang saatnya trekking

Suasana di sekitar lokasi camp kami menuju ke atas saat ini terdapat banyak persewaan kendaraan dan pemandu untuk menuju lokasi lereng Merapi (wisata lava tour), sepertinya bencana erupsi dahsyat Gunung Merapi yang dahulu memporak-porandakan desa-desa di sekitar lereng Merapi kini telah berubah menjadi lokasi wisata yang menjadi mata pecaharian baru bagi warganya



Memasuki gerbang Desa Kinahrejo


Jika kalian malas berjalan kaki menanjak untuk menuju Puncak Kinahrejo, Kali Opak, Watu Tumpeng, hingga Museum (bekas lokasi rumah) Mbah Maridjan maka jangan kuatir disini juga terdapat sewa ojek dengan tarif sekitar 30 ribu rupiah. Tetapi karena kami ingin menikmati detail perjalanan ini maka kami pun memilih berjalan kaki (dan sekaligus menghemat uang hehe…:))


Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari gerbang desa Kinahrejo tetapi tanjakannya yang mungkin sedikit melelahkan (bagi kalian yang tidak terbiasa berjalan kaki tetap saja pasti terasa jauh)


Dari papan petunjuk tadi kami memutuskan untuk menuju ke Puncak Kinahrejo terlebih dulu, ayo nanjak lagi


Dan tibalah kami di Puncak Kinahrejo (ketinggian sekitar 1200mdpl)


Disini juga terdapat monumen peringatan untuk mengenang erupsi dahsyat Gunung Merapi yang terjadi pada 26 Oktober 2010 lalu, selain memuat nama-nama para korban, juga terdapat petuah untuk menjaga alam supaya alam tidak murka, intinya sebagai manusia maka sudah selayaknya kita menjaga dan hidup harmonis dengan alam dengan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan melainkan cukup memanfaatkan seperlunya saja


Dari Puncak Kinahrejo kami kemudian menuju sisa-sisa aliran Kali Opak yang rusak akibat erupsi Merapi, tampak juga disekitar lokasi ini bagaimana kondisi kerusakan jalan yang hingga saat ini belum juga diperbaiki


Tidak jauh dari situ kami melanjutkan menyusuri sisa aliran Kali Opak hingga tiba di Watu Tumpeng, yaitu sebuah batu yang berbentuk seperti gunungan tumpeng, tetapi sayangnya dipenuhi oleh coretan vandalisme tidak bertanggungjawab yang dilakukan oleh “manusia purba”



Puas mendokumentasikan suasana dan sisa-sisa kerusakan akibat erupsi Merapi, kami pun kemudian beranjak menuju lokasi rumah bekas kediaman Mbah Maridjan (juru kunci Merapi yang juga menjadi korban tewas akibat erupsi dahsyat Merapi) yang sekarang dijadikan Museum untuk mengenang Beliau






Selesai berkeliling kami kemudian memutuskan untuk kembali ke lokasi camp sekaligus mencari sarapan di warung-warung yang berada di dekat persewaan Jip

Aktivitas warga lokal yang mencari rumput untuk hewan ternaknya


Dan keuntungan dari berjalan kaki adalah secara tidak sengaja kami menemukan spot keren ini hehe…:) (makanya jangan malas berjalan kaki)


Setelah sarapan dan kembali ke campsite maka saatnya kami beristirahat serta membersihkan beberapa barang, dan kini gantian giliran Rian yang ingin berkeliling dengan sepedanya mencoba track-track XC yang ada di sekitar lokasi

Sembari beristirahat sekalian mendokumentasikan view lembah Kalikuning dari ketinggian



Menjelang siang saya dan Agit pun berinisiatif untuk kembali trekking, kali ini tujuan kami ke bawah menuju lembah Kalikuning melalui jalan setapak yang berada tidak jauh dari lokasi camping kami, setelah mempertimbangkan bahwa lokasi camp kami berada di spot yang terpencil dan cukup privat maka saya merasa cukup aman untuk meninggalkan barang-barang disekitar campsite, hanya barang-barang berharga serta kamera saja yang saya bawa

Warga lokal yang beraktivitas mencari rumput untuk makanan hewan ternaknya, dari bawah lembah Kalikuning ia harus menggotong semua rumput tersebut keatas melalui jalan setapak yang kami lewati (salut untuk staminanya)


View lembah Kalikuning yang dahulu sempat rusak akibat erupsi tetapi kini sudah mulai normal lagi


Beberapa hewan juga masih banyak terdapat disekitar lokasi sebagai indikator bahwa lokasi ini masih cukup terjaga


Aliran air yang masih sangat jernih, dingin, dan segar melengkapi keindahan dari tempat ini


Melihat dan menikmati suasana di lembah ini membuat saya jadi teringat dengan sebuah program acara jalan-jalan di salah satu televisi swasta beberapa waktu lalu, saat itu hostnya (orang Indonesia) bepergian ke luar negeri (Singapore) dan dengan bangganya mereka menceritakan bahwa tempat ini (salah satu Mall di Singapore) sangat keren karena didalamnya mereka membuat air terjun buatan yang dilengkapi dengan pengaturan suhu buatan layaknya yang ada di aslinya, jadi tidak perlu capek-capek jalan atau berpanas-panas untuk menikmatinya, terkadang sempat terpikir apakah mereka (para host itu) tahu bahwa bumi nusantara kita sudah menyediakan yang aslinya secara gratis dan jauh lebih indah dari apapun yang pernah dibuat oleh manusia


Bahkan aliran air di grojogan mini ini saja masih sangat jernih, sampai-sampai buih yang keluar dari sela-sela bebatuan dan pantulan dari dasarnya masih berwarna biru jernih


Mungkin memang benar bahwa semakin sering intensitas kita melakukan kegiatan traveling maka lambat laun akan mengubah kita dari seorang yang pendiam menjadi seorang penutur yang cakap, karena kita dapat menceritakan pengalaman yang kita alami sendiri secara langsung dengan jujur dan penuh antusias, baik itu melalui lisan maupun tulisan

Selain itu dengan melakukan kegiatan traveling seperti ini yang menyatu dengan alam maka kita juga menjadi lebih banyak berpikir tentang hidup dan kehidupan, dan mengembalikan kemampuan dasar kita sebagai manusia untuk mempercayai kemampuan kaki kita untuk berjalan, kemampuan tangan kita untuk menggenggam bebatuan, serta kemampuan otak serta pikiran kita untuk mengantisipasi perubahan dan fenomena-fenomena yang terjadi di alam. Bagi kami melakukan traveling seperti ini (yang kata orang kok susah banget caranya) bukan untuk melarikan diri dari masalah-masalah kehidupan tetapi bagaimana menjaga supaya “arti hidup” itu tidak lepas dari diri dan pola pikir di keseharian kita



Day 3, (04/06/15) Saatnya Pulang

Setelah di hari kedua kami benar-benar off the bike alias tidak bersepeda sama sekali (selain supaya tidak jenuh juga lebih mudah dalam mencermati detail perjalanan) maka tibalah di hari ketiga ini kami harus bersiap untuk pulang, kembali ke hingar-bingar dan polusi perkotaan, tetapi setidaknya pada perjalanan kali ini kami telah membersihkan sebagian jiwa dan raga kami dari racun-racun fisik maupun mental yang ditimbulkan oleh “gaya hidup perkotaan dan modernisasi”, ibarat gelas yang sudah mulai kotor maka sudah saatnya kami membersihkannya supaya dapat digunakan lagi

Jemur-jemur sepeda yang basah karena kabut dan hujan


Tidak lupa mengangin-anginkan tenda sebelum mulai dipacking



Bagi kami awalnya mungkin kami hanya senang bersepeda dan menganggapnya sebagai aktivitas yang biasa saja tetapi setelah sekian lama kami menjalani dan memandang kehidupan ini dari atas sadel sepeda, lambat laun kami merasa bahwa ini bukan lagi sekedar tentang bersepeda saja, melainkan ini juga tentang kehidupan


Dan pastinya untuk kedepannya kami masih akan terus melanjutkan perjalanan-perjalanan seperti ini dengan lebih intens lagi, selain karena kami memang menyukainya juga karena inilah cara kami bertualang

Begitupun dengan tulisan-tulisan saya, ya saya akan terus menulis sesuai apa yang saya rasakan karena saya menyukainya dan sebagai pengingat akan apa yang sudah saya lalui, terlepas dari apakah itu menghasilkan sesuatu secara materi atau tidak, setidaknya walau sedikit tapi semoga tulisan-tulisan ini bisa menginspirasi kalian semua untuk memulai petualangan kalian sendiri dengan cara masing-masing (tidak harus dengan bersepeda juga tidak apa-apa, asalkan kalian dapat tetap menjaga kelestarian alam dan keindahannya) serta menyebarkan inspirasi positif dari petualangan tersebut kepada orang lain

Dan bagi kalian yang ingin menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi dalam bertualangnya maka yakinlah bahwa kalian bisa menciptakan cerita petualangan tersebut dengan menggunakan sepeda apapun, yang diperlukan hanya niat, mental, passion, dan latihan terus menerus untuk menjadi lebih baik dalam bidang yang kalian pilih (dan tidak lupa banyak membaca), tidak perlu minder karena brand, kecepatan yang lambat, menuntun saat tanjakan,jarak yang biasa-biasa saja, dan lainnya, karena ini adalah perjalanan dan petualangan kalian bukan mereka, lagipula seorang goweser sejati tidaklah dinilai dari hal-hal tersebut melainkan ia yang mampu menaklukkan egonya selama di perjalanan


Selamat bertualang :)