Showing posts with label Kotagede. Show all posts
Showing posts with label Kotagede. Show all posts

Thursday, 7 November 2024

GOWES BLUSUKAN KE MBULAK WILKEL, LERENG SENTONO, SITUS MAKAM RATU MALANG, DAN KOTAGEDE

Minggu, 3 November 2024

Setelah sekian lama tidak gowes dan mengupdate cerita di blog, nah di Hari Minggu pagi yang cerah ini saya mencoba Gowes Wisata iseng mencari rute baru yang belum pernah saya lewati, selain itu alasan lainnya adalah karena sepertinya saya mulai kehabisan spot-spot baru yang belum pernah saya review hehe… 😅 ternyata cukup sulit mencari lokasi baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, suasananya fresh alias ga rame-rame banget, minim tanjakan kalaupun harus melewati tanjakan paling tidak jangan yang curam banget elevasinya, murah sukur-sukur gratis tanpa retribusi, ada warung buat jajan dan istirahat, serta memiliki view atau keunikan yang menarik untuk diceritakan.


Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut barulah mulai mapping lokasi berdasarkan arah mata angin beserta poin plus minusnya, sebagai contoh jika kita mengeksplor arah Utara sebenarnya ini termasuk yang paling enak karena hanya saat berangkatnya saja yang butuh usaha untuk nanjak tipis-tipis, tetapi ketika pulang sudah enak karena rutenya jadi turunan, (capenya sekalian). Jika ke arah Timur ini yang termasuk paling menyebalkan karena berangkatnya silau terkena sinar matahari, pulangnya juga sama saja kalau kesorean, dalam artian capenya jadi dobel. Arah Barat sebenarnya 60-40, karena 60 persennya menyenangkan dengan rute yang cenderung lurus dan datar, hanya menanjak jika tujuan kita kearah perbukitan Menoreh, dan pulangnya 40 persen jadi membosankan karena jaraknya jadi jauh mengingat lokasi rumah saya ada di sisi Timur Kota Jogja. Sedangkan untuk arah Selatan, berangkatnya sih enak karena rute elevasinya menurun, tetapi saat pulang malah jadi cape karena rutenya menanjak tipis-tipis apalagi kalau cuaca sedang cerah-cerahnya, dijamin mateng dijalan.


Awal gowes kali ini sebenarnya hanya ingin menyusuri lorong-lorong gang labirin di daerah Kotagede saja, tetapi ditengah perjalanan kok rasanya sayang ya, masa gowes hari ini deket banget apalagi cuaca sedang mendukung, akhirnya tujuan pun berubah, saya mulai mengarahkan kayuhan menuju ke wilayah Pleret melewati Kantor Kecamatan Banguntapan terus ke Selatan. Oya gowes kali ini saya sama sekali tidak mengandalkan googlemaps, Strava, ataupun Komoot, jadi loss saja, hanya mengikuti naluri, menikmati setiap kayuhan dan keingin tahuan terhadap apa saja yang bakal ditemui disepanjang rute ini, sesekali asyik juga tidak bergantung kepada teknologi pemetaan atau berfokus pada pencatatan data statistik saat bersepeda (toh saya juga bukan atlet), jadi cukup nikmati perjalanan ini karena senang bersepeda.


Di sepanjang Jalan Pleret pagi hari ini sudah banyak penjaja makanan dan snack tradisional yang menggelar dagangannya, termasuk melihat aktivitas masyarakat sekitar yang sedang berolahraga ataupun yang baru mulai membuka tempat usahanya. Sebagian titik ruas jalan yang dulunya bergelombang dan rusak kini kondisinya sudah diperbaiki dan diaspal ulang, semoga kali ini kondisinya bertahan lama ya.


Sebelum mendekati Pasar Pleret saya sempat melihat ada papan penunjuk arah menuju ke lokasi wisata Mbulak Wilkel, kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke lokasi ini sejak masa-masa viralnya sampai kini sudah tidak begitu booming lagi, jadi yuk lah kita coba melihat seperti apa suasananya saat ini. Mbulak Wilkel sendiri sebenarnya hanyalah sebuah lokasi ruas jalan yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pohon tinggi yang berjejer, dengan ranting-ranting pohonnya yang melengkung dan seperti membentuk semacam lorong pohon, suasananya yang rindang dan teduh terlebih berada diantara hamparan persawahan warga menjadikan viewnya cukup menarik untuk dijadikan latar ber-swafoto.




Dikarenakan pada waktu itu mulai banyak orang luar yang ber-swafoto disepanjang ruas jalan tersebut, maka warga sekitar pun berinisiatif menata lokasi tersebut dengan membuat semacam gapura papan nama dan mendirikan gazebo-gazebo estetik supaya pengunjung dapat  beristirahat sembari menikmati kuliner yang dijajakan oleh warga sekitar, setidaknya hal ini dapat membantu perekonomian warga sekitarnya. Pagi ini suasana di Mbulak Wilkel sendiri  terbilang cukup sepi, hanya sesekali saya melihat rombongan pesepeda yang sedang beristirahat  di gazebo-gazebo yang ada di pinggir jalan, dan sebagian lagi hanya melintas saja.


Setelah melewati lorong pohon yang ada di Mbulak Wilkel, saya pun terus mengarahkan kayuhan kearah Timur sampai akhirnya tiba di lokasi berikutnya yaitu Lereng Sentono, lokasi ini bersebelahan dengan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang. Lereng Sentono sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi yang berada di bagian lereng bukit tempat Makam Ratu Malang berada, area kosong pada lereng ini dimanfaatkan dengan membuat semacam taman, pendopo, dan warung kuliner, sehingga pengunjung yang sedang berziarah atau mengunjungi Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang bisa beristirahat sejenak disini. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara atau kegiatan gathering bersama keluarga atau komunitas, kalian tinggal menghubungi pihak warga yang mengelolanya saja, untuk fasilitas parkir kendaraan juga sudah disediakan area yang cukup luas disekitarnya.








Dari Lereng Sentono dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang, saya mulai melanjutkan perjalanan melalui jalan desa melewati area persawahan warga dan kembali ke ruas jalan utama yang menuju ke Pasar Plered, saya pun berbelok ke arah Barat tepat di belakang area Pasar, dari situ kayuhan terus saya arahkan ke Barat sampai melewati sebuah pertigaan yang jalan normalnya yaitu berbelok ke kanan, sedangkan jalan yang satunya lagi kearah lurus dan sedikit menurun, saya pun memilih jalan yang lurus karena viewnya kok terlihat lebih menarik, dikejauhan terlihat ada sebuah banner usang dan mulai robek yang menunjukkan nama tempat ini dulunya adalah sebuah pemancingan, memang sih terlihat dari adanya beberapa kolam yang kini kondisinya sudah mengering, tempat ini dulunya pasti pernah menjadi sebuah pemancingan yang cukup ramai, entahlah mengapa kini kondisinya dibiarkan terbengkalai begitu saja.



Sambil menyusuri area pemancingan tersebut saya melihat ada sebuah jalan kecil berkonblock yang berada disepanjang sisi aliran sungai, beberapa orang juga saya lihat sedang memancing di sungai tersebut, sepertinya sejak area pemancingan tersebut sepi kini warga pun akhirnya memancing ikan dari sungai yang berada tepat disekitar area pemancingan ini.



Kondisi rute jalan ber-konblock ini sepertinya asyik juga untuk dijadikan rute blusukan sepeda dikarenakan suasananya masih sepi dan teduh sekali, saya pun menyusuri rute tersebut sampai dihadapkan kesebuah persimpangan, sebuah pertigaan dengan pilihan mau terus mengikuti jalan berkonblock yang cukup lebar atau mencoba memasuki jalur tanah yang cukup sempit.



Berhubung rasa penasaran saya lebih condong menyuruh untuk mengikuti ruas jalan tanah yang kecil tersebut akhirnya saya pun memilih untuk mencobanya,, kalaupun nanti jalannya ternyata buntu atau kondisinya makin tidak jelas toh tinggal putar balik angkat sepeda saja hehehe…



Ternyata jalan tanah tersebut tembus ke area jalan kecil plesteran yang mengikuti sepanjang aliran sungai tadi, setidaknya aman lah ya kan masih ada jalan, jadi coba ikuti terus saja jalan ini. Ujung dari jalan plesteran ini ternyata mentok di sekitar lokasi pintu air akhir, namun tepat di pintu air tersebut juga ada jembatan atau jalan penghubung untuk menyeberang ke sisi sebelahnya, jadi otomatis saya pun menyeberang lalu kembali ambil arah kiri mengikuti sepanjang aliran sungai sampai akhirnya ternyata jalan kecil ini tembus ke ruas jalan raya aspal utama yang berada di daerah Jejeran, tak jauh dari sekolah dan lapangan yang berada dekat dengan perempatan lampu merah Jejeran Jalan Imogiri Timur, dari sini saya pun sudah langsung hafal dan mengenali arahnya, baiklah kali ini saatnya kembali kearah pulang melalui Jalan Imogiri Timur.



Diperjalanan pulang sempat terbersit ide apa nanti sekalian coba dilewatin kearah Kotagede ya? Paling tidak rutenya kan searah dan sesuai seperti rencana awal hari ini, setidaknya coba untuk memasuki salah satu gang di wilayah Kotagede, dan gang yang paling terkenal adalah lokasi dimana Rumah Pesik berada, baiklan kita coba saja, begitu memasuki area Kotagede saya pun mulai masuk menuju arah Rumah Pesik dan mencoba masuk ke salah satu gang yang menuju ke Omah UGM, dari sana saya mencoba masuk dan mengikuti jalan yang ada saja, dan berputar-putar entah sampai mana, yang pasti karena lebar jalannya cukup sempit sehingga saat berpapasan dengan motor saya terpaksa harus berhenti dan meminggirkan sepeda sampai menempel ke tembok, seru sih tapi cukup ribed, untungnya gowes kali ini saya hanya seorang diri saja, entahlah jika gowes kali ini membawa rombongan, pastinya akan super ribed dan bikin macet hehe… setiap sudut di lorong labirin Kotagede itu menarik untuk dijadikan latar berfoto karena nuansa klasik tempo dulunya masih sangat terasa, deretan pintu dan jendela berarsitektur jaman dulu, tembok-tembok yang retak dan menampilkan batu batanya, semua terlihat sangat estetik sebagai latar berfoto.




Dan begitulah cerita Gowes Wisata hari ini, tanpa tujuan pasti, semua serba spontan (uhuuyy), tanpa campur tangan googlemaps dan aplikasi lainnya, seru dan mengasyikkan, just trust your instinct and let the curiosity be your guide


Sampai jumpa di cerita Gowes Wisata berikutnya

Sunday, 5 January 2014

Rumah Pesik dan Sejarah Kaum Kalang

Berada diantara sempitnya jalan yang menjadi penghubung antar kampung dan rumah warga di wilayah Kotagede, ada satu bangunan bergaya arsitektur kuno yang cukup besar, megah, sekaligus unik yang menarik perhatian saya, bangunan tersebut bernama Rumah Pesik



Jika dibandingkan dengan kondisi jalan didepannya yang rata-rata hanya mempunyai lebar sekitar 2m, maka keberadaan rumah ini sangatlah kontras. Sebuah rumah kuno yang besar dan megah didalam suatu lingkungan atau wilayah dengan jalan dan lorong-lorong yang sempit




Namun jangan bayangkan kondisi jalan yang sempit ini seperti sebuah hunian kumuh padat penduduk seperti yang sering kita lihat di kota-kota besar metropolitan lainnya. Kondisi jalan dan lorong-lorong sempit di Kotagede ini hampir semuanya terawat cukup baik. disisi kanan dan kiri jalan pun banyak berdiri bangunan kuno lainnya dengan gaya arsitekturnya yang cukup unik, yang tidak dapat ditemukan di wilayah lain Kota Yogyakarta


Bangunan-bangunan kuno yang besar dan megah serta merupakan heritage ini seperti menyuguhkan jejak kejayaan Kotagede di masa lalu. Jejak kejayaan Kaum Kalang yang di masa lalu memang merupakan sosok tekun dan berhasil dalam bidang ekonomi cukup memberi warna bagi sejarah perkembangan Kotagede.. Sehingga banyak masyarakat Yogyakarta yang menyebut bangunan-bangunan tersebut dengan sebutan Rumah Kalang, tempat tinggal Wong Kalang (dahulu, namun kini banyak yang telah kosong)

Rumah Pesik adalah salah satu bangunan yang menjadi daya tarik diantara sekian banyak bangunan kuno besar dan megah lainnya yang berada diwilayah Kotagede, di rumah milik Rudy J. Pesik (pemilik perusahaan DHL) inilah tokoh buruh yang kemudian menjadi Presiden Polandia (1990-1995) sekaligus penerima nobel perdamaian pada tahun 1993, Lech Walesa pernah tinggal (menginap). Sebagai bentuk kenangan akan hal itu maka didepan pintu masuk rumah terpasang prasasti bertanda tangan Walesa



Untuk lebih memahami keunikan Rumah Pesik serta bangunan kuno lainnya yang berada di Kotagede, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai Kaum Kalang (Wong Kalang), karena melalui kisah mereka jugalah, sejarah kejayaan Kotagede ini bermula dan berkembang. Hal ini sesuai dengan catatan dari Hubertus Johannes Van Mook (Lt. Gubernur Jend. Hindia Belanda) yang mengatakan bahwa daerah Kotagede dahulu merupakan tempat perdagangan yang ramai dan terbesar di Hindia Belanda

Sebutan Wong Kalang muncul karena pada jaman Sultan Agung mereka dikalangi (tempat tinggal mereka dipagari) sehingga terpisah dengan masyarakat lain. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tujuan dari pengalangan tersebut adalah karena mereka dijadikan hamba-hamba raja yang memiliki tugas khusus. Kemahiran mereka dalam membuat benda-benda dari kayu (mungkin ini ada kaitannya dengan asal mereka, Bali), menyebabkan orang Kalang diserahi tugas mendirikan bangunan-bangunan istana. Mereka membuat istana dan bahkan masjid untuk raja

Salah satu cerita tentang Kaum Kalang yang terkenal adalah sosok Prawirosoewarno, mungkin orang tidak akan mengenalnya, tapi bagi masyarakat Yogyakarta terutama yang telah menjadi “sesepuh”, sebutan “Bekele Tembong” mungkin akan lebih familiar dibenak mereka.

Prawirosoewarno atau lebih dikenal dengan sebutan “Bekele Tembong”, lahir di Kotagede, Yogyakarta pada tahun 1873. Ia lahir dari keturunan Brajasemito-Demang. Dengan latar belakang orangtuanya sebagai keturunan seorang pedagang sukses secara turun-temurun, serta mempunyai strata sosial yang tinggi, dimana mempunyai hubungan yang cukup penting dengan keluarga keraton, baik Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta (orang Kalang memang kaya, pebisnis yang handal dan ahli dalam seni membangun rumah, merekalah yang dipakai oleh Sultan untuk membangun keraton), Prawirosoewarno pun menjalankan bisnisnya dibantu dengan anaknya, Noerijah, di kawasan Tegalgendoe, Kotagede, Yogyakarta. Usaha bisnisnya antara lain adalah mengelola rumah gadai serta berdagang emas dan berlian

Alkisah “Bekele Tembong” adalah seorang Saudagar Kalang dari Kotagede yang hidup di era abad ke-19, yang membuat namanya menjadi istimewa adalah karena permintaan “Bekele Tembong” kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk memasang ubin rumahnya dengan menggunakan uang Gulden yang bergambar Ratu Belanda, tentu saja hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Hindia Belanda karena jika koin bergambar Ratu Belanda tersebut dijadikan ubin yang notabene fungsinya untuk diinjak, maka hal tersebut sama saja dianggap sebagai bentuk penghinaan kepada Ratu mereka, karena setiap orang yang berkunjung kerumah tersebut tentu saja secara otomatis akan menginjak ubin koin (gambar Ratu) tersebut.

Belanda pun kemudian berdalih bahwa koin tersebut boleh saja dijadikan ubin dengan syarat pemasangan koin tersebut harus secara vertikal, sehingga gambar sang ratu tidak akan terinjak. Disinilah letak kelicikan Belanda, karena dengan pemasangan koin secara vertikal tentunya akan membutuhkan jumlah koin yang lebih banyak jika dibandingkan dengan memasang koin secara horizontal

Walaupun pada akhirnya koin gulden tersebut tidak jadi digunakan sebagai ubin, namun cerita mengenai “Bekele Tembong” pun akhirnya diingat orang sebagai symbol perlawanan sekaligus “aroganisme” dari seorang Saudagar pribumi yang mampu membayar pegawai dari etnis Eropa, yang mana pada jaman itu hal tersebut merupakan suatu yang tidak lazim

Versi lain juga mengatakan bahwa Wong Kalang adalah orang (kaum) yang mempunyai ekor, namun sepertinya versi ini merupakan cerita isapan jempol saja, karena menurut pendapat lain menyebutkan bahwa mereka sengaja dikucilkan oleh masyarakat, mereka dianggap golongan rendah karena mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar. Ada yang menyebut bahwa pengucilan ini justru karena rasa iri atas keberhasilan orang-orang Kalang dibidang materi. Dahulu orang-orang Kalang menerapkan endogami (kawin diantara sesama mereka). Mungkin dari sinilah muncul cerita soal ekor tadi

Ada satu ritual menarik dari kelompok ini yaitu Kalang Obong, sebuah upacara pembakaran pakaian dari orang yang meninggal. Dulu upacara ini selalu dilaksanakan hingga akhirnya berhenti di tahun 1955 dengan alasan yang belum diketahui hingga saat ini. Tahun 1990 ada yang berusaha menghidupkan kembali tradisi ini dengan menyelenggarakan Kalang obong di Adipala, Cilacap, namun usaha tersebut lagi-lagi tidak ada kelanjutannya hingga kini

Di Jawa, orang Kalang tersebar hampir di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Komunitas Kalang ditemukan mulai dari Cilacap, Adipala, Gombong, Ambal, Karanganyar, Petanahan, Solo, Tulungagung, hingga Malang. Di utara Jawa, tercata di kota-kota seperti Tegal, Pekalongan, Kendal, Kaliwungu, Semarang, Demak, Pati, Cepu, Bojonegoro, Surabaya, Bangil, hingga Pasuruan terdapat komunitas Kalang

Tambahan sumber referensi :
- http://indonesiadalamkenangan.blogspot.com/2012/12/sejarah-samar-kaum-kalang.html
- http://misterikaumpinggiran.blogspot.com/2011/06/wong-kalang.html