Showing posts with label Jembatan. Show all posts
Showing posts with label Jembatan. Show all posts

Saturday, 10 May 2025

PANTAI DAN MUARA PANDANSIMO

Kamis, 24 April 2025.

Postingan perdana di Tahun 2025 ini hehe… maaf lama tidak update cerita, bukannya berarti sejak awal tahun saya tidak gowes-gowes lagi, melainkan karena gowesnya hanya seputaran rumah yang dekat-dekat saja, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang ga jelas jadinya belum mencari atau nemu spot menarik lainnya untuk diulas.


Nah kali ini waktunya untuk bertualang rada jauh sedikit mumpung cuacanya sedang bersahabat (tidak terlalu panas namun juga tidak mendung), tujuan kali ini adalah ke Pantai Pandansimo yang beberapa pekan terakhir ini sempat viral dan ramai dikunjungi oleh para goweser dan wisatawan umum, bukan karena sekedar pantainya saja melainkan karena disekitar area Pandansimo ini ada sebuah lokasi atau muara tempat mengalirnya air sungai sebelum menuju ke lautan, yang bernama Muara Pandansimo (dinamai seperti itu karena lokasinya memang di area Pantai Pandansimo)



Lokasi Muara Pandansimo sendiri mudah kalian cari di googlemaps karena sudah di-pin dengan nama “Muara Pandansimo”, sehingga bagi kalian yang ingin berkunjung ketempat ini kalian bisa dengan mudah mengikuti rutenya lewat googlemaps. Muara Pandansimo sendiri lebih tepatnya berada di Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Berjarak sekitar 32km dari Kota Yogyakarta ke arah Selatan.


Rute termudah menuju ke lokasi ini adalah melalui Jalan Bantul dan Jalan Srandakan, medannya dominan aspal halus dengan elevasi yang terbilang biasa saja (tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim), cukup ikuti petunjuk jalan dan peta, dengan lama perjalanan jika kalian gowes santai mungkin hanya sekitar 2 jam saja.


Sesampainya di pos TPR atau retribusi kalian sudah bisa melihat proses pembangunan Jembatan baru Pandansimo yang nantinya akan menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo, dengan total panjang jembatan sekitar 1,9km, saat tulisan ini dibuat proses pembangunan dan pengerjaan Jembatan tersebut masih berlangsung, diperkirakan proses pengerjaannya baru akan selesai pada pertengahan atau akhir Bulan Mei 2025.


Akses masuk menuju Pantai Pandansimo sendiri berada tepat sebelum jalur jalan jembatan, karena saya menggunakan sepeda kayuh alias gowes maka tidak ada retribusi yang dikenakan, baik itu pada pos TPR maupun di area pantainya sendiri.





Karakteristik ombak di Pantai Pandansimo sendiri sangat besar dan berbahaya untuk aktivitas berenang, sehingga bagi kalian yang berwisata ke pantai ini bersama keluarga diharapkan untuk selalu mengawasi anggota keluarga kalian yang masih kecil ya, dilarang untuk bermain air di bibir pantai karena ombak dan arus baliknya sangat kuat sehingga dikuatirkan terseret arus balik jika kalian bermain terlalu dekat dengan bibir pantai.


Kebanyakan  pengunjung yang datang ke Pantai Pandansimo ini adalah pemancing, mereka kerap datang sambil membawa peralatan memancingnya. Dan jika kalian ingin menuju ke lokasi Muara Pandansimo maka kalian cukup ikuti akses jalan kecil yang berada tepat dibelakang deretan warung-warung disekitar area pantai ini, akses jalannya sendiri hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, karena untuk kendaraan roda 4 nantinya ada beberapa titik dimana tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 dan medannya sangat sempit untuk melakukan putar balik kendaraan.






Setibanya dilokasi Muara Pandansimo pemandangannya sangat indah sekali, perpaduan yang unik antara hamparan rumput hijau yang rapi dengan aliran muara sungai serta penampakan bangunan Jembatan Pandansimo dikejauhan, jika kalian sedang beruntung terkadang beberapa warga sekitar lokasi juga kerap menggembalakan hewan ternaknya seperti kambing di area ini, sehingga menjadikannya sebagai bagian detail fotografi yang menarik.





Disekitar lokasi ini juga sudah tersedia toilet umum, hanya saja tidak ada warung yang menjual makan atau minuman disekitar sini sehingga disarankan untuk membawa bekal piknik kalian masing-masing, dan jangan lupa untuk membersihkan dan membawa pulang sisa sampah kalian ya, tetap jaga kebersihan lokasi ini, karena kalian pun berwisata ketempat ini juga untuk menikmati pemanadangannya kan? 








Bagi kalian yang suka memancing, penghobby fotografi, ataupun sekedar ingin mencari ketenangan sembari menikmati pemandangan serta ditimpali dengan suara deburan ombak pantai, maka Muara Pandansimo ini mungkin bisa kalian jadikan salah satu tujuan berwisata kalian di Jogja. Selamat berwisata

Thursday, 1 June 2023

JEMBATAN TALANG BOWONG

Selamat datang Bulan Juni, semoga kalian semua tetap dalam kondisi sehat ya.

Baiklah di postingan awal bulan ini kita akan mengulas sebuah tempat yang ringan-ringan saja karena tujuan gowes wisata kita kali ini adalah sebuah lokasi yang sebenarnya biasa saja, tidak ada kaitannya dengan spot wisata apapun, baik itu wisata sejarah, wisata budaya, maupun wisata alam (yang ini mungkin bisa dikaitkan mengingat lokasi disekitarnya memiliki view yang cukup menarik).




Jadi tujuan Gowes Wisata kita kali ini adalah sebuah Jembatan yang berlokasi di Jalan Raya Dusun Klepu, Banjar Arum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Propinsi DI Yogyakarta, namanya adalah Jembatan Talang Bowong. Kenapa Jembatan Talang Bowong ini menarik untuk diulas? Karena spot jembatan satu ini memiliki keterkaitan dengan para pesepeda yang kebetulan sedang melintas atau berwisata di daerah sekitar Nanggulan, yup jembatan yang sudah ada sejak Tahun 70-an ini dan sempat mengalami rehabilitasi sekitar Tahun 2019 dikenal juga sebagai salah satu spot yang sering dijadikan sebagai rest area atau tempat berkumpulnya para goweser disepanjang jalur Luna Maya, Nanggulan, Kulonprogo.




Jembatan yang merupakan penghubung dari 3 kapanewon yaitu kapanewon Nanggulan, kapanewon Girimulyo, dan kapanewon Kalibawang ini berfungsi juga sebagai jalur saluran irigasi utama dan penyuplai kebutuhan air yang diperlukan bagi lahan-lahan pertanian yang berada disekitarnya.




Seiring semakin populernya wilayah Nanggulan sebagai spot wisata yang menawarkan keindahan panorama area persawahan, tak ayal jalur yang berada disepanjang saluran irigasi selokan mataram ini pun juga semakin ramai dilintasi oleh para pesepeda, baik itu pesepeda individu, kelompok komunitas, maupun paket wisata bersepeda yang dikelola secara profesional oleh biro perjalanan, bahkan penamaan jalur ini menjadi jalur Luna Maya juga disebabkan karena sosok sang selebriti tersebut pernah bersepeda disepanjang jalur ini. Jika kalian mengikuti rute ini maka kalian akan disuguhi panorama area persawahan yang terhampar luas, selain itu jika cuaca kebetulan sedang cerah maka kalian juga bisa melihat penampakan Gunung Merapi dan Merbabu dikejauhan, dan tak hanya itu saja karena disepanjang jalur Luna Maya ini sebenarnya jika terus diikuti maka kalian juga bisa mampir kebeberapa spot wisata lainnya yang berada tidak begitu jauh dari jalur ini, antara lain Puncak Kleco, Bendung Kayangan, Pronosutan view, dan beberapa spot selfie lainnya yang sedang dibangun oleh beberapa pengelola tempat kuliner disekitar sini seperti Mahaloka Paradise, Geblek Pari, dan lainnya.




Disekitar lokasi Jembatan Talang Bowong sendiri saat ini juga sudah ada warung-warung semi permanen yang dibuat oleh warga sekitar sehingga sembari beristirahat melepas lelah kalian juga bisa menikmati aneka jajanan pasar, teh atau kopi hangat yang disajikan disini. Warung-warung ini buka setiap hari, namun saat weekend atau hari libur tiba bisa dipastikan lokasi disekitar jembatan ini saat pagi hari akan dipenuhi oleh para pesepeda, seru bukan?





Ketika saya iseng menyusuri rute ini mulai dari Jembatan Talang Bowong ke arah Patung Sapi, setibanya di dekat SD Negeri Kalisonggo saya pun mengarahkan sepeda saya menyeberangi selokan melintasi jalan desa yang agak rusak, kurang lebih sekitar 100 meter kemudian setelah melewati jembatan terhamparlah view pemandangan lain yang membuat saya berdecak kagum, disini saya  melihat pemandangan panorama akses jalan desa yang diapit oleh hamparan perkebunan tebu disepanjang sisi kiri dan kanannya, pemandangan ini semakin bertambah epic karena kebetulan tebu-tebu yang ada disini sedang berbunga, pokoknya wow bangetlah dan sangat sayang jika momen seperti ini tidak diabadikan oleh lensa kamera saya, terlebih lokasi ini sepertinya belum banyak diketahui oleh wisatawan, sehingga suasana disekitar spot ini masih sepi, saya pun menge-pin lokasi ini digooglemaps dengan keyword “Jalur Kebun Tebu Nanggulan”, sehingga bagi kalian yang penasaran dengan lokasi ini kalian bisa kesini dengan mengikuti rute yang ada di googlemaps.





Puas berfoto-foto dengan latar view pemandangan yang keren abis ini saya pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur selokan mataram ini sampai kemudian berbelok dan finish di Mahaloka Paradise yang saat itu sedang ramai oleh wisatawan.


Bagaimana apa kalian tertarik untuk berwisata atau bersepeda disepanjang Jalur Luna Maya, Jalur Kebun Tebu Nanggulan, dan Jembatan Talang Bowong ini? 🙂

Monday, 28 November 2022

WISATA WATU KAPAL

Minggu, 27 November 2022.

Akhirnya cuaca lumayan cerah juga di Hari Minggu pagi ini, artinya sekarang waktunya untuk ber-goweswisata hehe…😁 enaknya kemana ya hari ini?

Baiklah karena sepanjang Bulan November ini cuaca di Jogja selalu hujan (biasanya siang atau sore hari) maka lebih baik kali ini kita mencari tujuan dan rute yang tidak terlalu jauh dari basecamp goweswisata.

Berdasarkan hasil googling dan menyisir lokasi mana saja yang belum pernah saya tulis ceritanya sepertinya kali ini tujuan goweswisata kita yang cocok adalah menuju ke spot Wisata Watu Kapal yang berada di Karangwetan, Tegaltirto, Kecamatan Berbah, DI Yogyakarta (googlemaps “wisata watu kapal”). Sebenarnya spot ini sudah pernah saya kunjungi tetapi walau begitu ternyata saya belum pernah mengulas tentang tempat ini, jadi inilah moment yang tepat untuk kembali berkunjung sekaligus mengulas update terbaru suasana disekitar tempat ini.




Spot Wisata Watu Kapal sebenarnya adalah sebuah spot lokasi di Dusun Klenggotan yang berada dipinggir aliran Sungai Opak, keunikan dari tempat ini adalah bentuk dan formasi batuan yang ada disepanjang aliran sungai tersebut, konsepnya hampir sama dengan obyek wisata Lava Bantal yang berada tak begitu jauh dari tempat ini dan kebetulan memanfaatkan aliran Sungai yang sama juga (berhulu langsung dari Gunung Merapi dan bermuara di Pantai Selatan).





Kenapa dinamakan Watu Kapal (Watu=Batu), karena tepat ditengah aliran sungai ini terdapat sebuah batuan cukup besar yang sekilas bentuknya menyerupai sebuah kapal dengan bagian atas permukaan batu yang cukup datar, spot ini biasanya paling sering dijadikan latar untuk berswafoto para pengunjung.




Biasanya selain berswafoto dengan latar formasi batuan yang menarik, para pengunjung juga sering menggunakan aliran sungai ini untuk berenang dan kegiatan river tubing atau susur sungai menggunakan ban pelampung, namun jika kalian enggan untuk berbasah-basahan tidak perlu kuatir karena kalian tetap bisa menikmati suasana asri disekitar tempat ini bersama orang terdekat atau bahkan sendirian sembari menikmati aneka jajanan tradisional dan kuliner yang dijual di warung-warung didalam area ini. Fasilitas yang ada disini juga terbilang cukup memadai, mulai dari area parkir kendaraan yang cukup luas, toilet umum, Mushalla yang sedang dalam proses pembangunan, panggung, bangku-bangku taman, warung-warung kuliner, jungkat-jungkit, dan tentu saja spot berswafoto.



Akses menuju ke tempat ini juga terbilang cukup mudah dijangkau oleh kendaraan, jika kalian menggunakan kendaraan pribadi bermotor roda 4 maka kalian bisa melalui Jalan Jogja-Wonosari kearah Kids Fun, setibanya di perempatan Kids Fun kalian masih terus saja ke Timur sampai melewati Pasar Wage lalu belok ke kiri (Utara). Namun jika kalian menggunakan kendaraan roda dua maka ada alternatif jalan lainnya yaitu melewati Blok O Berbah, menggunakan rute yang sama jika kalian menuju ke Lava Bantal, hanya saja setelah kalian melewati SPBU dan Pabrik Sampoerna maka tepat diperempatan kalian tinggal belok ke kanan (Selatan) menuju kearah Wisata Alam Bumi Wangi Karangwetan dan Jembatan Gantung Kalijogo, nanti setelah menyeberangi Jembatan Gantung Kalijogo kalian tinggal belok ke kanan, ikuti jalan saja dan sampailah di spot Wisata Watu Kapal.


Wisata Watu Kapal sendiri pernah mencapai masa hitsnya sekitar Tahun 2020, ketika itu spot ini cukup viral dan ramai dikunjungi oleh berbagai komunitas pesepeda lokal setiap weekend, sejak mulai populer itulah warga sekitar lokasi ini pun akhirnya mulai menata dan menjadikan spot ini sebagai wisata alam baru dengan membuat fasilitas-fasilitas pendukung. Tak hanya itu saja, berkat kepopulerannya lokasi wisata watu kapal juga pernah dijadikan sebagai lokasi syuting film KKN Desa Penari yang menjadi film box office dan memecahkan rekor sebagai film horror lokal dengan jumlah penonton terbanyak (prestasi ini cukup fenomenal bagi film lokal terlebih dengan pemutarannya yang masih dimasa pandemi).


Sayangnya seiring dengan semakin banyaknya spot-spot wisata baru yang bermunculan, jumlah pengunjung wisata Watu Kapal ini saat ini tidaklah sebanyak seperti masa awal kepopulerannya, persaingan industri pariwisata yang cukup ketat di Jogja (baik itu yang dikelola oleh swasta pemodal besar, pemerintah, maupun swadaya oleh masyarakat sekitar) membuat beberapa obyek wisata harus berbagi capaian jumlah pengunjung, disatu sisi tentu saja hal ini cukup disayangkan bagi perekonomian warga sekitar lokasi yang berharap banyak dari adanya pembangunan spot wisata di desa mereka, tetapi disisi lain hal ini juga cukup menyenangkan bagi beberapa wisatawan yang tertarik berkunjung untuk menikmati ketenangan dan keasrian tempat ini tanpa terganggu dengan keriuhan atau padatnya jumlah pengunjung lainnya, selain juga baik untuk alam sekitarnya yang kembali asri dan terjaga tanpa tercemar oleh sampah sisa pengunjung “tidak teredukasi” yang membuang sampahnya secara sembarangan atau melakukan vandalism.


Usai dari “meninjau” kondisi terbaru Wisata Watu Kapal saya pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kearah Jembatan Gantung Kalijogo, melihat kemegahan Jembatan Gantung Kalijogo saat ini pikiran saya pun kembali teringat dengan masa ketika awal saya membantu warga sekitar membuat penitikan lokasi wisata alam bumi wangi karangwetan di googlemaps (post tentang Wisata Bumi Wangi Karangwetan bisa dibaca di postingan saya terdahulu), saat itu yang ada hanya sisa gerbang Jembatan Gantung lama yang putus akibat banjir besar yang melanda Jogja kala itu, kemudian setelah itu oleh warga sekitar dibuatlah jembatan sesek atau jembatan kecil dari bambu bersifat sementara yang setidaknya bisa digunakan untuk menyeberang, hingga akhirnya sekarang jembatan bambu tersebut sudah tidak ada dan berganti menjadi Jembatan Gantung Kalijogo yang bisa kita lihat saat ini.




Akses jalan menuju ke Watu Amben dan lokasi ke 3 Goa pun saat ini sudah tertutup oleh rimbunnya semak.




Mumpung cuaca masih cerah dan waktu juga terbilang masih pagi maka dari Karangwetan saya pun mencoba mengayuh pedal ini menuju kearah Goa Jepang Sentonorejo yang lokasinya berdekatan dengan Goa Sentono dan Candi Abang. Hari ini kebetulan sedang diadakan kerja bakti oleh warga sekitar disepanjang akses jalan menuju ke Goa Jepang. Setibanya di pintu masuk Goa Jepang suasana dan kondisi disini masih sama seperti dahulu, tetap sepi mungkin karena masih pagi (saya datang sekitar jam 8) atau mungkin juga karena wisata sejarah dirasa kurang menarik minat wisatawan atau kalah bersaing dengan spot wisata alam dan spot wisata buatan yang memiliki fasilitas spot swafoto instagram-able, tetapi setidaknya cukup senang juga melihat suasana disini tetap bersih dan terjaga. Baiklah kini saatnya kembali pulang dan membuat tulisan catatan perjalanan hari ini.





By the way kenapa saya tidak mampir sekalian ke Candi Abang, Goa Sentono, dan Lava Bantal sekalian? Jawabannya karena akses jalan menanjak menuju ke Candi Abang cukup licin dan basah akibat hujan di malam sebelumnya, mau gowes ada resiko terpeleset, mau menuntun juga sama saja, medannya licin dan rasanya cukup repot menuntun sepeda yang berat melewati jalanan berlumut, jadi mungkin lain kali saja saya mengupdate suasana terbaru dari lokasi-lokasi tersebut, untuk hari ini setidaknya saya sudah punya cerita untuk dibagi kepada kalian semua.


Sampai jumpa lagi di petualangan goweswisata berikutnya ya 🙂

Sunday, 16 August 2015

Jembatan Gantung Bawuran

(15/08/2015) Saatnya bertualang lagi hehe…, setelah hampir satu bulan sibuk merenovasi Basecamp Goweswisata maka saatnya mengembalikan stamina ke awal. Petualangan goweswisata kali ini pun sengaja saya pilih yang jaraknya dekat saja dulu, hitung-hitung sebagai pemanasan untuk petualangan berikutnya :)

Jembatan Bawuran, hmmm…apa yang menarik dari sebuah jembatan? Bukankah jembatan yang lain juga banyak tersebar dimana-mana? Lalu mengapa destinasi yang dipilih kali ini adalah Jembatan Bawuran?

Baiklah saya akan mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut satu persatu. Dimulai dari apa yang membuat Jembatan ini terlihat unik dan menarik di mata saya adalah karena struktur jembatan ini berupa jembatan gantung, yang notabene jumlah jembatan gantung sendiri masih belum terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah jembatan-jembatan masif atau konvensional, selain itu juga karena jaraknya yang relatif dekat (hanya 12km) dari Basecamp Goweswisata

Jembatan Bawuran atau masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan sebutan Jembatan Perak Bawuran dikarenakan jembatan yang melintas diatas aliran Sungai Opak tersebut berwarna perak. Menghubungkan Dusun Gunung Kelir dengan Desa Bawuran, lokasi tepatnya berada di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul DIY dengan koordinat 7°52'19.1"S 110°24'46.2"E

Peta atau panduan rute menuju lokasi Jembatan Bawuran


Patokan nomor 1, nantinya kalian akan melewati jembatan ini terlebih dahulu


Setibanya di perempatan (patokan nomor dua) ini ikuti saja tanda panah


Setelah menemui lapangan disisi kanan, tidak jauh dari situ ada jalan kecil (pertigaan) kekiri, maka sampailah kita di Jembatan Gantung Bawuran



Beberapa pelajar Sekolah Dasar yang tampaknya penasaran dengan sepeda-sepeda kami :)


Pemandangan di bawah jembatan yang melintasi Sungai Opak






Pembangunan Jembatan ini sendiri dilakukan pada akhir tahun 2014 dan diresmikan pada tanggal 15 Januari 2015 oleh Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat melalui kementerian ketenagakerjaan RI melalui program padat karya berbasis sumber daya lokal


Setelah Jembatan Perak ini selesai dan difungsikan, banyak masyarakat sekitar yang merasa terbantu karena mempermudah aktivitas dan perekonomian mereka ketika hendak menuju ke Pasar, para pelajar juga merasa senang karena mempersingkat jarak dari rumah mereka menuju sekolah, dengan kata lain berkat pembangunan jembatan gantung perak ini proses sosial, ekonomi, dan lainnya menjadi ikut terbantu karena kini mereka tidak harus berjalan memutar lebih jauh lagi



Jika dibandingkan dengan Jembatan Gantung Selopamioro yang sudah lebih dulu terkenal maka Jembatan Bawuran ini mempunyai panjang yang lebih pendek (mungkin hanya sepertiganya saja), perbedaan lainnya adalah jika Jembatan Gantung Selopamioro berwarna kuning, maka Jembatan Bawuran ini berwarna perak. Setidaknya selain fungsi utamanya sebagai akses penghubung antar desa, tidak jarang pada hari-hari libur lokasi jembatan ini juga dijadikan sebagai objek berfoto oleh beberapa pengunjung, hal ini juga didukung oleh pemandangan yang ada di sekitarnya yang masih alami dan aliran Sungai Opak yang relatif masih terjaga kebersihannya


Kamu sudah pernah berkunjung ke Jembatan ini? Tetap jaga kebersihan di sekitar lokasinya ya :), selamat bertualang dan kami dari Gowes Wisata mengucapkan selamat Dirgahayu ke-70 Negeriku Tercinta Indonesia Raya, jayalah selalu :)