Rabu, 17 Februari 2016,
Hari ini petualangan goweswisata kami mulai beranjak memasuki bab berikutnya, karena tepat di hari ke-63 ini kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada Pulau Sumbawa, semoga suatu saat kami dapat kembali lagi untuk menjelajahi pesona alam pulau indah ini dan bercengkrama dengan masyarakatnya yang sangat ramah dan telah banyak membantu kami selama bertualang disini, we will miss you all :)
Terimakasih kepada Mbak Henni dan keluarga yang telah banyak membantu kami selama berada di Kota Bima
Jadwal kapal Pelni KM. Leuser yang kami gunakan untuk bertolak dari Pelabuhan Bima menuju ke Pelabuhan Makassar rencananya akan berangkat sekitar pukul 10.00 WITA, oleh karena itu sedari pagi kami pun telah bersiap dan tiba di pelabuhan Bima lebih awal yaitu sekitar pukul 08.00 WITA
Setelah bertemu dengan Pak Arsyad di Pelabuhan untuk mengambil tiket over bagasi sepeda-sepeda kami, kami pun kemudian menunggu di ruang tunggu penumpang, sedangkan untuk mengangkut sepeda beserta seluruh barang bawaannya kami menggunakan jasa porter pelabuhan dengan biaya sebesar 100 ribu rupiah untuk 2 sepeda, jasa porter ini pada akhirnya terpaksa kami pilih karena akses masuk ke dalam kapal menggunakan tangga yang cukup sempit dimana sepeda harus digotong, dan tentunya ini bukanlah perkara yang mudah untuk menggotong 2 sepeda touring yang full loaded sambil berdesakan dengan para penumpang lainnya sembari menapaki anak tangga, jadi kami pikir ya sudahlah daripada menyiksa diri lebih baik menghemat tenaga dengan menggunakan jasa porter
Untungnya para porter yang kami gunakan juga sangat gesit, begitu KM. Leuser merapat di dermaga mereka dengan sigap langsung menggotong sepeda-sepeda kami masuk ke dalam kapal dan menaruhnya ditempat yang sangat strategis, tepat di pojok dekat pintu masuk sehingga kami tidak kebingungan untuk mencarinya
Didalam kapal Pelni ini para penumpang terbagi kedalam beberapa dek, dimana setiap deknya telah dilengkapi dengan kasur sederhana (matras senam berketebalan sekitar 10cm), maklumlah perjalanan laut ini akan memakan waktu tempuh yang cukup lama, kurang lebih sekitar 18 jam, oleh karena itu untuk mengusir kebosanan selama perjalanan disetiap deknya juga terdapat televisi, namun jika kalian ingin lebih nyaman lagi maka kalian juga dapat membayar ekstra untuk menikmati hiburan film box office dengan fasilitas ruang ber-AC. Sedangkan untuk fasilitas standartnya sendiri yang disediakan adalah toilet atau kamar mandi, ruang beribadah berupa masjid, dapur atau pantry untuk memesan makanan, dan jika malas untuk berjalan kaki menuju ke ruang pantry kalian tidak perlu kuatir karena ada beberapa penjual makanan nasi kotak dan minuman gelas yang selalu berkeliling ke setiap dek
Untunglah posisi kasur tempat kami beristirahat letaknya sangat strategis, yaitu berada di pojokan, sehingga posisi sepeda-sepeda kami tepat berada di hadapan kami dan tidak mengganggu jalur sirkulasi penumpang lainnya
Namanya juga Indonesia, dimana budaya ngaret telah mengakar sangat kuat, maka jika menurut jadwal di tiket yang kami pegang kapal seharusnya berangkat pukul 10 pagi, maka realitanya kapal baru bertolak pukul 2 siang (ngaretnya sampai 4 jam), untungnya di dalam kapal Pelni ini semua penumpang mendapat jatah makan (pagi-siang-malam) sehingga rasa kebosanan kami sedikit terobati setelah perut kenyang (tidak terlalu kenyang juga sih karena porsi makan siangnya terlalu sedikit menurut saya hehe)
Dikelas ekonomi ini tidak ada pemisahan gender, smoking atau non smoking, dan lainnya. Semua berbaur tumplek blek menjadi satu maklumlah kelas yang paling merakyat :), hal yang paling lucu dan menggelitik mungkin adalah ketika melihat para penumpang yang berada di deretan kasur diseberang kami (1 deret berisi 7 buah kasur), jika menilai sekilas secara penampilan fisik mereka mungkin kita akan merasa sedikit takut karena perawakan mereka semua seperti petinju dengan wajah yang seram, badan yang besar, dan berotot, mereka juga selalu berkumpul secara berkelompok, dan sejak sebelum kapal berangkat mereka selalu berdiskusi dengan kelompoknya menggunakan bahasa daerah yang secara samar saya artikan sepertinya mengenai pembagian uang (dan memang setelah itu mereka tampak membagi-bagikan uang kepada anggota kelompoknya) dengan kata lain intinya secara sekilas penampilan mereka semua terlihat seperti mafia atau gangster-gangster yang biasa kita saksikan di film-film
Namun benarlah kata pepatah yang mengatakan jangan menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja, karena setelah "acara bagi-bagi uang" tersebut mereka pun menyantap bekal yang mereka bawa sembari tersenyum dan menyapa kami, bahkan ada salah satu anggotanya yang sedari tadi celananya selalu tersangkut besi ranjang ketika bolak-balik dihadapan kami, padahal sebelumnya ia pun sudah tahu jika ada besi pada ranjang matras yang posisinya menjorok keluar ketika ia pertama kali tersangkut namun ia selalu menyalahkan posisi besi tersebut (padahal teman-temannya yang lain juga ada yang bolak-balik namun celananya tidak pernah tersangkut dibesi tersebut)
Selain itu ada juga anggota lainnya yang kepalanya agak botak ternyata membawa semacam minyak atau tonik penyubur rambut, dan ketika ia menggunakannya sembari menunggu kapal berangkat maka teman-temannya yang lain pun mengejeknya secara bercanda bahwa percuma saja pakai penyubur rambut
Setidaknya perilaku mereka ternyata tidak segarang penampilan fisiknya, bahkan menurut saya mereka justru lebih baik daripada segerombolan orang atau penumpang lainnya yang "ngakunya sih mahasiswa" lengkap dengan atribut jaket almamaternya tetapi dengan seenaknya merokok didalam kabin tanpa peduli jika didalam kabin tersebut juga terdapat anak-anak, bayi, ibu-ibu, dan orang-orang lainnya yang bukan perokok. Walaupun petugas keamanan kapal, petugas kebersihan, hingga pedagang makanan yang berkeliling sudah berkali-kali mengingatkan untuk tidak merokok didalam kabin dan menganjurkan untuk keluar dari kabin jika ingin merokok tetapi sepertinya telinga mereka sudah ditulikan oleh ego pribadi mereka, sungguh sangat disayangkan karena status "maha-siswa" yang mereka sandang nyatanya tidak serta merta menjadikan mereka sebagai manusia yang terpelajar
inilah salah satu sisi yang menarik jika kita traveling menggunakan transportasi umum yang merakyat, karena disini kita bisa melihat dan mengamati keunikan polah tingkah para penumpang lainnya, namun hal ini mungkin juga karena kebiasaan saya sebagai penulis yang suka mengamati detail selama perjalanan
Akhirnya saat ini satu-satunya kegiatan yang bisa kami lakukan untuk hari ini hanyalah menulis catatan perjalanan sembari menunggu KM. Leuser ini tiba dan merapat di Dermaga Pelabuhan Makassar keesokan harinya
Rasanya jantung jadi berdebar karena penuh dengan semangat dan keingintahuan, tidak sabar untuk merasakan petualangan baru setibanya di Bumi Celebes alias Pulau Sulawesi nanti, akan seperti apakah petualangan berikutnya? Apakah seseru seperti petualangan sebelumnya ataukah justru malah lebih seru? Ikuti terus petualangan goweswisata.blogspot.co.id ya :)
“Janganlah jadi seperti sebuah perahu yang ada di dalam botol di tepi pantai yang hanya bisa diam dan cuma bisa melihat dan bermimpi untuk mengarungi lautan yang luas”
Pengeluaran hari ini :
- porter 2 sepeda = Rp 100.000,-
Total = Rp 100.000,-
Total jarak tempuh hari ini = 3,58km
Showing posts with label Sumbawa. Show all posts
Showing posts with label Sumbawa. Show all posts
Tuesday, 17 April 2018
Tuesday, 3 April 2018
CHAPTER 33; PANTAI SONUMBE 2
Minggu, 14 Februari 2016
Masih tersisa beberapa hari lagi sebelum kami melanjutkan petualangan goweswisata.blogspot.co.id berikutnya menuju ke Sulawesi. Ternyata sudah 60 hari alias 2 bulan kami menjalani gaya hidup nomaden seperti ini, melihat dan merasakan Indonesia dengan bersepeda, jika diingat-ingat kembali sudah lumayan banyak peristiwa yang kami lalui, rasa senang dan susah datang dan pergi silih berganti layaknya putaran roda sepeda yang telah membawa kami bertualang hingga saat ini.
Hari ini rencananya kami akan bersepeda menuju ke wilayah Desa Kolo, dalam rangka pemanasan melatih stamina lagi sembari menikmati keindahan panorama pesisir pantainya, namun rencana tinggal rencana karena tepat disaat kami selesai mandi dan beres-beres ternyata Mbak Henni dan temannya mengajak kami untuk piknik bersama, yang mana ternyata tujuan mereka juga adalah ke Pantai yang ada di Desa Kolo, akhirnya kami semua pun berangkat menuju kesana dengan menggunakan sepeda motor (jika Tuhan memberikan “kemudahan” maka jangan ditolak, mubazir kalau kata para orangtua hehe)
Untuk menuju ke Desa Kolo yang jaraknya sekitar 18km arah Barat Laut dari pusat Kota Bima ini satu-satunya transportasi yang ada hanyalah dengan menggunakan kendaraan pribadi dikarenakan belum ada jalur angkutan umum yang menuju kesana, oya sebelum berangkat jangan lupa pastikan bahan bakar kendaraan bermotor kalian full ya karena tidak ada SPBU resmi di sepanjang rute ini
Mari isi bensin dulu di Pertamini
Dengan kontur jalan yang berbukit-bukit naik-turun rolling, walaupun derajat tanjakannya tidak separah ketika kami ke Desa Teta tetapi tetap saja membuat kami bersyukur perjalanan hari ini kami lakukan menggunakan sepeda motor (setidaknya kami dapat menghemat waktu, tenaga, dan stamina untuk petualangan berikutnya)
Disepanjang perjalanan mata kita akan dimanjakan dengan panorama pesisir pantai (yang sedikit pasirnya), kontur jalan, kondisi jalan yang halus dan sepi serta berkelok-kelok, PLTU, dan juga bukit serta pulau-pulau kecil yang ada disekitar perairannya, oya jangan lupa untuk berhati-hati saat mengemudi karena banyak hewan-hewan ternak seperti kambing atau sapi yang berkeliaran dan berbaring ditengah jalan dengan santainya
Begitu memasuki wilayah Desa Kolo tidak berapa lama kemudian medan jalan yang beraspal pun mulai berganti dengan medan berkerikil, terutama setelah melewati pesisir Pantai So Ati menuju ke Pantai So Numbe 2 yang menjadi tujuan kami kali ini
Untunglah kondisi jalan tanah yang berkerikil ini medannya tidak separah seperti ketika kami mengunjungi Pantai Lariti sehingga masih bisa dilalui dengan motor matic, deretan rumah-rumah panggung milik warga sekitar pun menjadi pemandangan khas yang seakan menyatu dengan alam sekitarnya
Akhirnya sampailah kami di Pantai So Numbe 2, pantai ini memiliki 2 jenis pasir pantai, yaitu hamparan pasir yang berwarna putih berada dekat dengan perairan, dan pasir berwarna hitam dibagian pinggirannya. Dengan karakter perairannya yang tenang menjadikan pantai ini masih tergolong aman untuk kegiatan snorkling, berenang, atau tempat rekreasi keluarga, namun disini belum banyak fasilitas yang dibangun, selain keberadaan beberapa berugak atau gazebo di pinggirnya, disekitar lokasi ini belum ada warung makan, toilet umum, penyewaan peralatan snorkling, banana boat, apalagi hotel atau resort layaknya sebuah obyek wisata pantai yang sudah populer dan dikelola dengan baik, bahkan karena ketiadaan tempat sampah disepanjang bibir pantai pun pada akhirnya menyebabkan banyak sampah sisa pengunjung yang berserakan diantara bebatuan tebing karang, semoga pihak terkait yang berwenang, masyarakat sekitar, serta para pengunjung segera sadar untuk mulai mengelola tempat ini dengan menyediakan fasilitas pendukung serta menjaga kebersihan pantai ini
Dibeberapa spot dekat bibir pantai juga terdapat cekungan-cekungan yang membentuk semacam kolam ikan mini dengan beberapa biota lautnya yang terbawa gelombang arus pantai, beberapa biota laut seperti rumput laut, ikan-ikan kecil, kepiting berbulu, kepiting berukuran sedang, keong, cacing laut, bintang laut, hingga bulu babi pun dengan mudahnya kita dapati di cekungan-cekungan seperti ini
Sementara Agit sedang asyik dengan kegiatan snorklingnya, saya pun berjalan kaki menyusuri sepanjang bibir pantai mencari detail unik untuk diabadikan, di dekat bibir pantai yang dipenuhi oleh bebatuan, saya pun baru menyadari jika bebatuan yang ada disini tidak hanya jenis bebatuan karang yang umum berada dipantai-pantai, melainkan juga terdapat beberapa bebatuan gunung yang sepertinya terlempar akibat letusan dahsyat Gunung Tambora yang terjadi dimasa lampau
100 tahun lagi kerang-kerang yang menempel dibebatuan ini bisa jadi fosil sejarah nih
Ini ikan apa ya? Ada kakinya dan bisa memanjat bebatuan
Pokoknya pantai ini cocok dan recommended banget buat kalian yang suka snorkeling
Semakin siang ternyata semakin banyak pengunjung yang datang ke pantai So Numbe 2 ini, mulai dari kelompok remaja-remaja hingga rombongan keluarga, beberapa bahkan ada yang membawa tenda serta grill untuk bakar ikan, sebelumnya saya memang sempat melihat ada beberapa tenda yang sepertinya sedang melakukan kegiatan camping, yang pasti Pantai So Numbe 2 yang kepopulerannya mulai naik sejak dijadikan lokasi syuting sebuah acara jalan-jalan di salah satu televisi swasta ini memang sangat cocok bagi para penyuka kegiatan outdoor dan wisata pantai, sembari camping dan snorkling disaat beristirahat kalian juga bisa memasak ikan segar yang banyak dijual oleh warga sekitar sebelum menuju lokasi pantai ini.
Sejauh ini belum ada tiket masuk atau biaya retribusi jika kalian ingin berkunjung ke pantai ini, tetapi tolong diingat, bukan karena kalian bisa bebas mengunjungi tempat ini secara gratis maka kalian pun bisa dengan seenaknya membuang atau meninggalkan sisa sampah kalian secara sembarangan ya, bawalah kantong plastik berukuran besar untuk membawa kembali sisa sampah kalian, dengan menjadi petualang yang cerdas dan beretika setidaknya kalian telah membantu menjaga kelestarian dan kebersihan Pantai So Numbe ini
Pengeluaran hari ini :
- belanja swalayan = Rp 30.500,-
Total = Rp 30.500,-
Masih tersisa beberapa hari lagi sebelum kami melanjutkan petualangan goweswisata.blogspot.co.id berikutnya menuju ke Sulawesi. Ternyata sudah 60 hari alias 2 bulan kami menjalani gaya hidup nomaden seperti ini, melihat dan merasakan Indonesia dengan bersepeda, jika diingat-ingat kembali sudah lumayan banyak peristiwa yang kami lalui, rasa senang dan susah datang dan pergi silih berganti layaknya putaran roda sepeda yang telah membawa kami bertualang hingga saat ini.
Hari ini rencananya kami akan bersepeda menuju ke wilayah Desa Kolo, dalam rangka pemanasan melatih stamina lagi sembari menikmati keindahan panorama pesisir pantainya, namun rencana tinggal rencana karena tepat disaat kami selesai mandi dan beres-beres ternyata Mbak Henni dan temannya mengajak kami untuk piknik bersama, yang mana ternyata tujuan mereka juga adalah ke Pantai yang ada di Desa Kolo, akhirnya kami semua pun berangkat menuju kesana dengan menggunakan sepeda motor (jika Tuhan memberikan “kemudahan” maka jangan ditolak, mubazir kalau kata para orangtua hehe)
Untuk menuju ke Desa Kolo yang jaraknya sekitar 18km arah Barat Laut dari pusat Kota Bima ini satu-satunya transportasi yang ada hanyalah dengan menggunakan kendaraan pribadi dikarenakan belum ada jalur angkutan umum yang menuju kesana, oya sebelum berangkat jangan lupa pastikan bahan bakar kendaraan bermotor kalian full ya karena tidak ada SPBU resmi di sepanjang rute ini
Mari isi bensin dulu di Pertamini
Dengan kontur jalan yang berbukit-bukit naik-turun rolling, walaupun derajat tanjakannya tidak separah ketika kami ke Desa Teta tetapi tetap saja membuat kami bersyukur perjalanan hari ini kami lakukan menggunakan sepeda motor (setidaknya kami dapat menghemat waktu, tenaga, dan stamina untuk petualangan berikutnya)
Disepanjang perjalanan mata kita akan dimanjakan dengan panorama pesisir pantai (yang sedikit pasirnya), kontur jalan, kondisi jalan yang halus dan sepi serta berkelok-kelok, PLTU, dan juga bukit serta pulau-pulau kecil yang ada disekitar perairannya, oya jangan lupa untuk berhati-hati saat mengemudi karena banyak hewan-hewan ternak seperti kambing atau sapi yang berkeliaran dan berbaring ditengah jalan dengan santainya
Begitu memasuki wilayah Desa Kolo tidak berapa lama kemudian medan jalan yang beraspal pun mulai berganti dengan medan berkerikil, terutama setelah melewati pesisir Pantai So Ati menuju ke Pantai So Numbe 2 yang menjadi tujuan kami kali ini
Untunglah kondisi jalan tanah yang berkerikil ini medannya tidak separah seperti ketika kami mengunjungi Pantai Lariti sehingga masih bisa dilalui dengan motor matic, deretan rumah-rumah panggung milik warga sekitar pun menjadi pemandangan khas yang seakan menyatu dengan alam sekitarnya
Akhirnya sampailah kami di Pantai So Numbe 2, pantai ini memiliki 2 jenis pasir pantai, yaitu hamparan pasir yang berwarna putih berada dekat dengan perairan, dan pasir berwarna hitam dibagian pinggirannya. Dengan karakter perairannya yang tenang menjadikan pantai ini masih tergolong aman untuk kegiatan snorkling, berenang, atau tempat rekreasi keluarga, namun disini belum banyak fasilitas yang dibangun, selain keberadaan beberapa berugak atau gazebo di pinggirnya, disekitar lokasi ini belum ada warung makan, toilet umum, penyewaan peralatan snorkling, banana boat, apalagi hotel atau resort layaknya sebuah obyek wisata pantai yang sudah populer dan dikelola dengan baik, bahkan karena ketiadaan tempat sampah disepanjang bibir pantai pun pada akhirnya menyebabkan banyak sampah sisa pengunjung yang berserakan diantara bebatuan tebing karang, semoga pihak terkait yang berwenang, masyarakat sekitar, serta para pengunjung segera sadar untuk mulai mengelola tempat ini dengan menyediakan fasilitas pendukung serta menjaga kebersihan pantai ini
Dibeberapa spot dekat bibir pantai juga terdapat cekungan-cekungan yang membentuk semacam kolam ikan mini dengan beberapa biota lautnya yang terbawa gelombang arus pantai, beberapa biota laut seperti rumput laut, ikan-ikan kecil, kepiting berbulu, kepiting berukuran sedang, keong, cacing laut, bintang laut, hingga bulu babi pun dengan mudahnya kita dapati di cekungan-cekungan seperti ini
Sementara Agit sedang asyik dengan kegiatan snorklingnya, saya pun berjalan kaki menyusuri sepanjang bibir pantai mencari detail unik untuk diabadikan, di dekat bibir pantai yang dipenuhi oleh bebatuan, saya pun baru menyadari jika bebatuan yang ada disini tidak hanya jenis bebatuan karang yang umum berada dipantai-pantai, melainkan juga terdapat beberapa bebatuan gunung yang sepertinya terlempar akibat letusan dahsyat Gunung Tambora yang terjadi dimasa lampau
100 tahun lagi kerang-kerang yang menempel dibebatuan ini bisa jadi fosil sejarah nih
Ini ikan apa ya? Ada kakinya dan bisa memanjat bebatuan
Pokoknya pantai ini cocok dan recommended banget buat kalian yang suka snorkeling
Semakin siang ternyata semakin banyak pengunjung yang datang ke pantai So Numbe 2 ini, mulai dari kelompok remaja-remaja hingga rombongan keluarga, beberapa bahkan ada yang membawa tenda serta grill untuk bakar ikan, sebelumnya saya memang sempat melihat ada beberapa tenda yang sepertinya sedang melakukan kegiatan camping, yang pasti Pantai So Numbe 2 yang kepopulerannya mulai naik sejak dijadikan lokasi syuting sebuah acara jalan-jalan di salah satu televisi swasta ini memang sangat cocok bagi para penyuka kegiatan outdoor dan wisata pantai, sembari camping dan snorkling disaat beristirahat kalian juga bisa memasak ikan segar yang banyak dijual oleh warga sekitar sebelum menuju lokasi pantai ini.
Sejauh ini belum ada tiket masuk atau biaya retribusi jika kalian ingin berkunjung ke pantai ini, tetapi tolong diingat, bukan karena kalian bisa bebas mengunjungi tempat ini secara gratis maka kalian pun bisa dengan seenaknya membuang atau meninggalkan sisa sampah kalian secara sembarangan ya, bawalah kantong plastik berukuran besar untuk membawa kembali sisa sampah kalian, dengan menjadi petualang yang cerdas dan beretika setidaknya kalian telah membantu menjaga kelestarian dan kebersihan Pantai So Numbe ini
Pengeluaran hari ini :
- belanja swalayan = Rp 30.500,-
Total = Rp 30.500,-
Saturday, 31 March 2018
CHAPTER 32; PANTAI AMAHAMI DAN PANTAI LAWATA
Jika pada chapter sebelumnya kami telah berkeliling menjelajah mencoba mencari keunikan yang dimiliki Kota Bima, maka selama seharian ini hingga 4 hari kedepan (09/02/2016 – 12/02/2016) kegiatan kami lebih banyak dihabiskan dengan menyusun dan mengatur ulang jadwal serta rute untuk perjalanan kami berikutnya
Disini kami dihadapkan dengan beberapa pilihan destinasi, antara lain kami bisa meneruskan perjalanan ke arah Timur melalui Sape untuk selanjutnya menyeberang menuju Labuan Bajo dan Flores, atau kami bisa sedikit turun ke arah Selatan dengan menyeberang menuju Pulau Sumba, atau malah bisa juga kearah Utara menuju Sulawesi dengan menyeberang menggunakan Kapal Pelni. Semua pilihan destinasi ini masing-masing memiliki nilai plus dan minusnya sendiri, oleh karena itu kami harus cermat mempelajari kelebihan serta kekurangan dari masing-masing destinasi tersebut yang mana pastinya kami juga harus menyesuaikan dengan budget anggaran perjalanan ini
Disatu sisi perjalanan yang semakin menuju ke arah Timur pastinya menawarkan keindahan panorama alam yang eksotis dan masih alami, namun konsekuensinya medan yang dihadapi pasti akan lebih berat dan sunyi, sehingga lagi-lagi faktor mental yang akan lebih banyak diuji, begitu pun jika kami menuju ke arah Selatan yaitu Pulau Sumba, kondisinya bisa dipastikan tidak akan jauh berbeda. Sebenarnya untuk faktor kondisi medan secara fisik tidaklah jauh berbeda dengan apa yang sudah pernah kami lalui sebelumnya, semua tanjakan pastinya akan terasa berat dan adegan mendorong sepeda pasti akan terus terjadi berulang-ulang, yang membedakan dan membuatnya terasa berat adalah suasana sepi dan minim perkampungan sehingga rasanya jarak yang harus ditempuh menjadi semakin jauh saja, apalagi bagi kami berdua yang lahir dan besar di lingkungan suasana perkotaan yang ramai, dimana hampir setiap bagian sudut kotanya selalu penuh sesak terisi oleh hunian, dimana hampir setiap 100 meter selalu ditemui minimarket Ind*m*rt dan Alf*m*rt yang berdiri berdampingan, maka ketika sekarang kami dihadapkan pada kondisi lingkungan yang sunyi, minim perkampungan, minim warung, dimana sepanjang perjalanan kami lebih banyak menjumpai sapi, kambing, dan kuda daripada berjumpa dengan manusianya di saat itulah mendadak alam bawah sadar kami mulai merindukan “peradaban kota besar” dengan segala hiruk pikuk dan kebisingannya, padahal ketika kami masih tinggal di kota besar terkadang kami malah menghindari semua itu dan justru mencari rute yang meminimalkan atau tidak bersinggungan dengan arus kendaraan bermotor, aneh tapi nyata terkadang suatu hal yang dulunya sering dihindari kini tiba-tiba mulai dirindukan dikala semua hal tersebut telah hilang.
Akhirnya setelah menimbang dan berdiskusi, kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju ke arah Utara, tepatnya petualangan kami berikutnya adalah menyeberang menuju ke Pulau Sulawesi
Ada beberapa hal yang membuat kami berdua memutuskan untuk menuju ke Sulawesi, antara lain karena Sulawesi terkenal dengan keindahan pantai-pantainya, selain itu di Sulawesi sendiri suasananya juga tidaklah terlalu sunyi karena disini terdapat Kota Makassar yang merupakan salah satu dari 5 Kota Besar yang ada di Indonesia, sehingga bisa dipastikan bahwa setidaknya kami bisa melepaskan rasa rindu terhadap suasana khas perkotaan dengan segala kebisingan dan kepadatannya
Untuk menuju ke Pulau Sulawesi kami pun mulai mencari info seputar jadwal penyeberangan kapal Pelni yang berangkat dari Pelabuhan Bima, untungnya kantor Pelni yang ada di Kota Bima ini berada tidak terlalu jauh dari kediaman Mbak Henni, kami pun langsung menuju ke kantor Pelni untuk bertanya-tanya sekaligus memesan tiket penyeberangannya.
Berdasarkan jadwal penyeberangan bulan ini yang tertera di papan informasi kantor Pelni, setidaknya ada dua kali penyeberangan yang dilakukan dari Pelabuhan Bima yang menuju ke Sulawesi, pilihan tujuannya bisa kalian pilih mau berhenti di Kota Makassar atau kalian bisa berhenti dan turun di Bau-bau, kami pun memilih pemberhentian yang berada di Kota Makassar
Harga tiket penyeberangan Kapal Pelni dari Pelabuhan Bima menuju ke Kota Makassar (Februari 2016) sebesar Rp 210.000,-/orang, sedangkan untuk sepeda dan bagasi dikenakan biaya sebesar Rp 300.000,-/ sepeda (lebih mahal tiket untuk sepedanya daripada untuk orangnya), sehingga untuk penyeberangan kali ini kami menghabiskan biaya sebesar Rp 1.020.000,- (rekor biaya penyeberangan termahal sepanjang perjalanan kami, karena kami harus membeli 2 tiket untuk orangnya, dan 2 tiket lagi untuk sepeda serta bagasinya), dengan pengeluaran sebesar ini berarti kami harus memperketat budget di perjalanan berikutnya, oya kami memilih menyeberang menggunakan jadwal kapal yang pertama yang rencananya akan berangkat sekitar 1 minggu lagi, sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih 1 minggu lagi itu enaknya ngapain ya? Biar tidak bosan lebih baik kami mencoba seru-seruan saja di Kota Bima ini, kira-kira ada destinasi unik apa lagi ya di Kota ini, yuk kita come on let’s find out
Pengeluaran hari ini :
- 2 tiket Pelni Bima-Makassar = Rp 420.000
- 2 tiket Pelni untuk sepeda+bagasi = Rp 600.000,-
- belanja pakaian = Rp 95.000,-
- 4 minuman gelas = Rp 4.000,-
- pulsa internet = Rp 55.000,-
- minuman gelas = Rp 5.000,-
- belanja swalayan = 24.500,-
- pos = Rp 66.000,-
- belanja swalayan = Rp 29.000,-
Total = Rp 1.119.000,-
===================================================
Akhirnya di hari ke 59 perjalanan kami (Sabtu,13 Februari 2016) kami pun mencoba untuk bersepeda keliling Kota Bima dengan melihat suasana di Pelabuhan Bima, tempat dimana nantinya kami akan berangkat menuju ke Sulawesi dari Pelabuhan ini, setelah itu kami kemudian menuju ke Pantai Amahami yang berada tidak jauh dari gerbang batas Kota Bima
Di Pantai Amahami ini jangan harap kalian bisa berenang atau bermain pasir di bibir pantainya layaknya pantai-pantai yang biasa kalian temui, karena di sepanjang garis pantai ini sama sekali tidak memiliki pasir di bibir pantainya, jadi di bagian bibir pantainya langsung berbatasan dengan turap pembatas
Walaupun tidak memiliki pasir pada bibir pantainya namun sebenarnya pantai ini memiliki air yang lumayan jernih lho, disini kalian bisa melihat barisan ikan-ikan kecil yang berenang atau bersembunyi di karang-karang dekat dinding turap pembatas sehingga tempat ini cocok untuk kegiatan memancing atau mencari ikan.
Namun sayangnya banyak dari pengunjung pantai ini yang masih belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dari tempat ini, di beberapa titik masih sering kita dapati sampah-sampah sisa makanan yang dibuang sembarangan, padahal disekitar area ini terdapat banyak tempat sampah, nah jika kalian berkunjung ke tempat ini jangan malas untuk membuang sisa sampah kalian pada tempatnya ya, yaitu di tong sampah, bukan di air laut ataupun diselipkan di pojok-pojok turap, jadilah traveler yang smart dan beretika, setuju?
Suasana di sekitar Pantai dan Taman Amahami, tidak ada kemacetan lazimnya sebuah obyek wisata
Perahu nelayan yang sedang mencari ikan
Suasananya cocok untuk mencari ketenangan dan melepas stress
Kalau kondisi perairan sedang tenang kalian juga bisa menyewa perahu nelayan untuk menuju ke pulau yang berada tengahnya (kalau tidak salah namanya Pulau Kambing)
Jika terus menyusuri garis pantai ini maka kalian akan tiba di Pantai Lawata yang suasananya lebih ramai karena disana telah disediakan fasilitas-fasilitas hiburan seperti perahu bebek dan taman bermain serta gazebo-gazebo untuk beristirahat
Kota Bima memang indah dan seperti julukannya yaitu Kota Tepian Air maka disini kalian bisa menikmati suasana pantai atau menyusuri garis pantainya. Walaupun tempat ini merupakan salah satu wilayah kota yang terbilang cukup ramai dan besar di Pulau Sumbawa secara keseluruhan, namun di Kota Bima ini juga masih terdapat banyak beberapa spot wisata alam yang masih alami dan belum rusak oleh eksploitasi atau modernisasi pembangunan, jadi disini kalian bisa memilih mau berwisata alam yang alami ataukah mau menikmati keramaian dan fasilitas perkotaan seperti area perniagaan dan kuliner, untuk sekedar hangout tidak perlu bingung karena ruang terbuka publik juga ada yaitu di Alun-alun Kota, mau berwisata budaya juga lengkap karena di sini kalian bisa melihat kegiatan pacuan kuda dimana yang menjadi para jokinya adalah anak-anak kecil, yang paling penting apapun kegiatan berwisata kalian tetap ingat untuk menjaga kebersihan, kelestarian tempat serta menghargai budaya masyarakat setempatnya ya
Pengeluaran hari ini :
- belanja swalayan = Rp 41.500,-
- jajan gorengan+minuman = Rp 10.000,-
- baso tusuk = Rp 3.000,-
- gorengan = Rp 6.000,-
Total = Rp 60.500,-
Total jarak tempuh hari ini : 21km
Disini kami dihadapkan dengan beberapa pilihan destinasi, antara lain kami bisa meneruskan perjalanan ke arah Timur melalui Sape untuk selanjutnya menyeberang menuju Labuan Bajo dan Flores, atau kami bisa sedikit turun ke arah Selatan dengan menyeberang menuju Pulau Sumba, atau malah bisa juga kearah Utara menuju Sulawesi dengan menyeberang menggunakan Kapal Pelni. Semua pilihan destinasi ini masing-masing memiliki nilai plus dan minusnya sendiri, oleh karena itu kami harus cermat mempelajari kelebihan serta kekurangan dari masing-masing destinasi tersebut yang mana pastinya kami juga harus menyesuaikan dengan budget anggaran perjalanan ini
Disatu sisi perjalanan yang semakin menuju ke arah Timur pastinya menawarkan keindahan panorama alam yang eksotis dan masih alami, namun konsekuensinya medan yang dihadapi pasti akan lebih berat dan sunyi, sehingga lagi-lagi faktor mental yang akan lebih banyak diuji, begitu pun jika kami menuju ke arah Selatan yaitu Pulau Sumba, kondisinya bisa dipastikan tidak akan jauh berbeda. Sebenarnya untuk faktor kondisi medan secara fisik tidaklah jauh berbeda dengan apa yang sudah pernah kami lalui sebelumnya, semua tanjakan pastinya akan terasa berat dan adegan mendorong sepeda pasti akan terus terjadi berulang-ulang, yang membedakan dan membuatnya terasa berat adalah suasana sepi dan minim perkampungan sehingga rasanya jarak yang harus ditempuh menjadi semakin jauh saja, apalagi bagi kami berdua yang lahir dan besar di lingkungan suasana perkotaan yang ramai, dimana hampir setiap bagian sudut kotanya selalu penuh sesak terisi oleh hunian, dimana hampir setiap 100 meter selalu ditemui minimarket Ind*m*rt dan Alf*m*rt yang berdiri berdampingan, maka ketika sekarang kami dihadapkan pada kondisi lingkungan yang sunyi, minim perkampungan, minim warung, dimana sepanjang perjalanan kami lebih banyak menjumpai sapi, kambing, dan kuda daripada berjumpa dengan manusianya di saat itulah mendadak alam bawah sadar kami mulai merindukan “peradaban kota besar” dengan segala hiruk pikuk dan kebisingannya, padahal ketika kami masih tinggal di kota besar terkadang kami malah menghindari semua itu dan justru mencari rute yang meminimalkan atau tidak bersinggungan dengan arus kendaraan bermotor, aneh tapi nyata terkadang suatu hal yang dulunya sering dihindari kini tiba-tiba mulai dirindukan dikala semua hal tersebut telah hilang.
Akhirnya setelah menimbang dan berdiskusi, kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju ke arah Utara, tepatnya petualangan kami berikutnya adalah menyeberang menuju ke Pulau Sulawesi
Ada beberapa hal yang membuat kami berdua memutuskan untuk menuju ke Sulawesi, antara lain karena Sulawesi terkenal dengan keindahan pantai-pantainya, selain itu di Sulawesi sendiri suasananya juga tidaklah terlalu sunyi karena disini terdapat Kota Makassar yang merupakan salah satu dari 5 Kota Besar yang ada di Indonesia, sehingga bisa dipastikan bahwa setidaknya kami bisa melepaskan rasa rindu terhadap suasana khas perkotaan dengan segala kebisingan dan kepadatannya
Untuk menuju ke Pulau Sulawesi kami pun mulai mencari info seputar jadwal penyeberangan kapal Pelni yang berangkat dari Pelabuhan Bima, untungnya kantor Pelni yang ada di Kota Bima ini berada tidak terlalu jauh dari kediaman Mbak Henni, kami pun langsung menuju ke kantor Pelni untuk bertanya-tanya sekaligus memesan tiket penyeberangannya.
Berdasarkan jadwal penyeberangan bulan ini yang tertera di papan informasi kantor Pelni, setidaknya ada dua kali penyeberangan yang dilakukan dari Pelabuhan Bima yang menuju ke Sulawesi, pilihan tujuannya bisa kalian pilih mau berhenti di Kota Makassar atau kalian bisa berhenti dan turun di Bau-bau, kami pun memilih pemberhentian yang berada di Kota Makassar
Harga tiket penyeberangan Kapal Pelni dari Pelabuhan Bima menuju ke Kota Makassar (Februari 2016) sebesar Rp 210.000,-/orang, sedangkan untuk sepeda dan bagasi dikenakan biaya sebesar Rp 300.000,-/ sepeda (lebih mahal tiket untuk sepedanya daripada untuk orangnya), sehingga untuk penyeberangan kali ini kami menghabiskan biaya sebesar Rp 1.020.000,- (rekor biaya penyeberangan termahal sepanjang perjalanan kami, karena kami harus membeli 2 tiket untuk orangnya, dan 2 tiket lagi untuk sepeda serta bagasinya), dengan pengeluaran sebesar ini berarti kami harus memperketat budget di perjalanan berikutnya, oya kami memilih menyeberang menggunakan jadwal kapal yang pertama yang rencananya akan berangkat sekitar 1 minggu lagi, sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih 1 minggu lagi itu enaknya ngapain ya? Biar tidak bosan lebih baik kami mencoba seru-seruan saja di Kota Bima ini, kira-kira ada destinasi unik apa lagi ya di Kota ini, yuk kita come on let’s find out
Pengeluaran hari ini :
- 2 tiket Pelni Bima-Makassar = Rp 420.000
- 2 tiket Pelni untuk sepeda+bagasi = Rp 600.000,-
- belanja pakaian = Rp 95.000,-
- 4 minuman gelas = Rp 4.000,-
- pulsa internet = Rp 55.000,-
- minuman gelas = Rp 5.000,-
- belanja swalayan = 24.500,-
- pos = Rp 66.000,-
- belanja swalayan = Rp 29.000,-
Total = Rp 1.119.000,-
===================================================
Akhirnya di hari ke 59 perjalanan kami (Sabtu,13 Februari 2016) kami pun mencoba untuk bersepeda keliling Kota Bima dengan melihat suasana di Pelabuhan Bima, tempat dimana nantinya kami akan berangkat menuju ke Sulawesi dari Pelabuhan ini, setelah itu kami kemudian menuju ke Pantai Amahami yang berada tidak jauh dari gerbang batas Kota Bima
Di Pantai Amahami ini jangan harap kalian bisa berenang atau bermain pasir di bibir pantainya layaknya pantai-pantai yang biasa kalian temui, karena di sepanjang garis pantai ini sama sekali tidak memiliki pasir di bibir pantainya, jadi di bagian bibir pantainya langsung berbatasan dengan turap pembatas
Walaupun tidak memiliki pasir pada bibir pantainya namun sebenarnya pantai ini memiliki air yang lumayan jernih lho, disini kalian bisa melihat barisan ikan-ikan kecil yang berenang atau bersembunyi di karang-karang dekat dinding turap pembatas sehingga tempat ini cocok untuk kegiatan memancing atau mencari ikan.
Namun sayangnya banyak dari pengunjung pantai ini yang masih belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dari tempat ini, di beberapa titik masih sering kita dapati sampah-sampah sisa makanan yang dibuang sembarangan, padahal disekitar area ini terdapat banyak tempat sampah, nah jika kalian berkunjung ke tempat ini jangan malas untuk membuang sisa sampah kalian pada tempatnya ya, yaitu di tong sampah, bukan di air laut ataupun diselipkan di pojok-pojok turap, jadilah traveler yang smart dan beretika, setuju?
Suasana di sekitar Pantai dan Taman Amahami, tidak ada kemacetan lazimnya sebuah obyek wisata
Perahu nelayan yang sedang mencari ikan
Suasananya cocok untuk mencari ketenangan dan melepas stress
Kalau kondisi perairan sedang tenang kalian juga bisa menyewa perahu nelayan untuk menuju ke pulau yang berada tengahnya (kalau tidak salah namanya Pulau Kambing)
Jika terus menyusuri garis pantai ini maka kalian akan tiba di Pantai Lawata yang suasananya lebih ramai karena disana telah disediakan fasilitas-fasilitas hiburan seperti perahu bebek dan taman bermain serta gazebo-gazebo untuk beristirahat
Kota Bima memang indah dan seperti julukannya yaitu Kota Tepian Air maka disini kalian bisa menikmati suasana pantai atau menyusuri garis pantainya. Walaupun tempat ini merupakan salah satu wilayah kota yang terbilang cukup ramai dan besar di Pulau Sumbawa secara keseluruhan, namun di Kota Bima ini juga masih terdapat banyak beberapa spot wisata alam yang masih alami dan belum rusak oleh eksploitasi atau modernisasi pembangunan, jadi disini kalian bisa memilih mau berwisata alam yang alami ataukah mau menikmati keramaian dan fasilitas perkotaan seperti area perniagaan dan kuliner, untuk sekedar hangout tidak perlu bingung karena ruang terbuka publik juga ada yaitu di Alun-alun Kota, mau berwisata budaya juga lengkap karena di sini kalian bisa melihat kegiatan pacuan kuda dimana yang menjadi para jokinya adalah anak-anak kecil, yang paling penting apapun kegiatan berwisata kalian tetap ingat untuk menjaga kebersihan, kelestarian tempat serta menghargai budaya masyarakat setempatnya ya
Pengeluaran hari ini :
- belanja swalayan = Rp 41.500,-
- jajan gorengan+minuman = Rp 10.000,-
- baso tusuk = Rp 3.000,-
- gorengan = Rp 6.000,-
Total = Rp 60.500,-
Total jarak tempuh hari ini : 21km
Saturday, 24 March 2018
CHAPTER 31; LAUT YANG TERBELAH DI PANTAI LARITI
Senin, 8 Februari 2016,
Belajar dari pengalaman sebelumnya dimana ketika kami baru pertama kali tiba dan selama berada serta melintasi beberapa wilayah di Pulau Sumbawa ini, ternyata ya kami memang benar-benar "hanya sekedar" melintasinya saja alias melewatkan beberapa keindahan dan keunikan yang dimiliki pulau ini, contohnya antara lain ketika kami melewatkan Pulau Kenawa padahal lokasinya ternyata sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano, kemudian melewatkan air terjun di wilayah Utan, lalu Pulau Bungin yang merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di dunia, Pulau Moyo dengan air terjun mata jitunya dikarenakan kendala cuaca serta tidak adanya penyeberangan akibat ombak yang masih tinggi, serta melewatkan Gili-gili yang ada disekitar perairan Teluk Saleh yang lagi-lagi karena faktor cuaca. Semua itu terlewatkan begitu saja karena minimnya informasi seputar lokasi wisata dan aktivitas sosial masyarakatnya yang belum banyak diulas di media sosial (mungkin juga karena selama ini Pulau Sumbawa hanya dianggap sebagai titik transit atau persinggahan sementara saja, karena secara geografis letak pulau ini berada atau diapit oleh 2 pulau lain yang sudah lebih dulu populer sebagai destinasi wisata dunia, yaitu Pulau Lombok di sebelah barat, dan Pulau Komodo di sebelah timurnya)
Oleh karena itulah begitu kami tiba di Kota Bima, kami pun mulai mencari informasi baik secara online maupun dengan bertanya langsung kepada Mbak Henni dan teman-teman travelernya seputar tempat, budaya, dan ragam aktivitas sosial masyarakatnya. Dan dari mereka-mereka pulalah saya jadi tahu istilah "kalemboade" yang sering digunakan oleh masyarakat di wilayah Dompu dan Bima yang artinya kurang lebih seperti berbesar hati atau seperti ungkapan "torang semua basaudara", intinya adalah seperti bhinneka tunggal ika, jadi disini budaya tolong-menolong secara ikhlas tanpa pamrih ternyata masih ada, dan biasanya mereka (pihak yang membantu) hanya tersenyum sembari mengatakan "tidak usah sungkan, kalemboade", ketika kita mengucapkan terimakasih karena tidak enak telah merepotkan mereka (mungkin kalau di Jawa hampir sama situasi penggunaan kata-katanya dengan “woles aja bro” atau “santai saja masbro”)
Dari hasil bertanya-tanya dan mengumpulkan berbagai informasi itulah akhirnya kami menemukan dan memutuskan untuk memilih Pantai Lariti sebagai salah satu destinasi "wajib" yang harus kami kunjungi selagi kami berada disini, mengapa harus Pantai Lariti? Memangnya apa yang istimewa dengan pantai yang satu ini, nah itulah yang ingin kami cari tahu secara langsung :)
Peta menuju lokasi Pantai Lariti
Pernahkah kalian berjalan ditengah laut? Atau pernahkah kalian mendengar kisah tentang terbelahnya Laut Merah di saat Nabi Musa dan pengikutnya dikejar oleh pasukan Firaun? Saat itu dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa laut merah pun mendadak terbelah, menciptakan sebuah jalan diantara tingginya dinding yang terbuat dari gelombang air laut sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat menyeberang, namun ketika pasukan Firaun mencoba mengikuti mereka melalui jalan tersebut tiba-tiba dinding yang tinggi dan terbuat dari gelombang air laut tersebut pun kembali menutup seluruh jalannya sehingga menenggelamkan seluruh pasukannya termasuk sang Firaun itu sendiri
Nah keistimewaan yang dimiliki oleh Pantai Lariti pun kurang lebih seperti itu. Pantai yang berada di Desa Soro, Kecamatan Lambu, wilayah Sape, Kabupaten Bima ini pada saat-saat tertentu (tergantung pasang-surut air lautnya) mempunyai keunikan dimana ketika air sedang pasang maka pemandangan disekitar pantai ini terlihat normal dan biasa saja layaknya sebuah pantai pada umumnya dengan beberapa pulau-pulau kecil yang terpisah oleh air laut dari pulau utamanya, namun ketika kondisi air sedang surut (biasanya pada pagi hari atau sore hari) maka antara pulau utama dengan pulau kecilnya akan tercipta sebuah jalan dari pasir sehingga kita dapat berjalan kaki menyeberang melalui jalan tersebut untuk menuju ke pulau kecilnya (fenomena ini sering disebut juga dengan istilah "moses miracle")
Di dunia hanya ada 2 pantai yang mempunyai fenomena unik seperti ini, selain Indonesia dengan Pantai Laritinya, negara lainnya adalah Korea, bedanya jika di Korea fenomena laut terbelah ini hanya terjadi sebanyak 2 kali dalam setahun dengan waktu yang relatif singkat, maka di Indonesia fenomena seperti ini terjadi setiap harinya, sehingga kita bisa kapan saja menikmati pesonanya (eh tidak kapan saja juga sih tergantung dari kondisi pasang-surut air lautnya, tetapi yang pasti fenomena tersebut tetap terjadi setiap hari, maka dari itu kalian patut bersyukur karena lahir dan besar di negara tercinta Indonesia Raya ini, Negara yang merupakan surganya traveling)
Karena dari Kota Bima menuju ke pantai ini medannya melalui bukit-bukit serta penuh tanjakan, maka tidak memungkinkan bagi kami untuk gowes kesana pergi-pulang dalam waktu 1 hari, oleh karena itulah atas saran dan bantuan dari Mbak Henni dan adiknya, hari ini mereka berdua meluangkan waktunya untuk mengantar kami menuju ke Pantai Lariti dengan mengendarai sepeda motor (berhubung saya dan Agit tidak bisa mengendarai sepeda motor maka saya pun dibonceng oleh adiknya Mbak Henni, sedangkan Agit dibonceng oleh Mbak Henni, maaf ya Mbak jadi ngerepotin hehe... :)
Dari Kota Bima kami tinggal mengikuti petunjuk arah yang menuju ke wilayah Sape, medan perbukitannya sendiri lebih panjang dan derajat kemiringannya juga lebih curam dan menanjak daripada di Nangatumpu, disepanjang wilayah perbukitan ini juga masih terdapat banyak monyet, biawak, dan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau, jadi hati-hati ketika mengemudi ya
Sambil melewati jalan yang berkelok-kelok menuju ke atas bukit kalian juga dapat menikmati view yang menakjubkan yaitu hamparan bukit-bukit diantara kabut, dibeberapa titik juga terdapat spot yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak, spot ini dilengkapi dengan kursi-kursi dari bambu
Jika kalian melewati rute ini saat musim penghujan maka kalian juga perlu berhati-hati terhadap bahaya longsor dari dinding bukit yang belum dibuat turap penahan, sehingga kalau ingin beristirahat lebih baik jangan terlalu dekat dengan dinding bukit.
Setelah melalui kontur perbukitan akhirnya sampai juga kami di wilayah Sape, jika ingin menuju ke Pantai Lariti patokan termudahnya adalah ketika kalian tiba disebuah perempatan (yang kalau lurus itu menuju ke Pelabuhan Sape) maka kalian tinggal belok ke kanan, nanti setelah pasar dan setibanya di Desa Soro ada bangunan PNPM Mandiri di sisi kanan, nah di seberangnya ada jalan masuk, tinggal masuk dan ikuti jalan saja (oya kondisi jalan masuknya saat saya kesana masih berupa jalan tanah berbatu, sehingga kalau cuaca sedang kering sih kondisinya aman, tapi kalau hujan maka siap-siap saja tersiksa), dari awal jalan masuk menuju ke lokasi pantainya sendiri jaraknya masih sekitar 4-5km jadi pastikan kondisi kendaraan anda prima terutama ban dan remnya)
Ketika mulai mendekati Pantai Lariti kalian akan melihat banyak tambak-tambak udang, berdasarkan info yang saya peroleh, lahan-lahan disekitar pantai pun telah dibeli oleh sebuah perusahaan tambak udang, oleh karena itulah jalan masuk menuju ke pantai sendiri sebenarnya juga menggunakan jalur akses milik perusahaan tambak, entahlah mengapa dari pihak pemerintah melalui suku dinas pariwisatanya tidak membuat fasilitas dan jalur akses yang nyaman, padahal Pantai Lariti sendiri mempunyai potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak kalah dengan destinasi wisata lainnya yang sudah lebih dulu populer
Akhirnya sampailah kami di Pantai Lariti ini, tepat disaat air sedang surut sehingga nampaklah jalan yang terbuat dari pasir pantai, membentang menuju ke pulau kecil yang berada tepat didepannya :)
Setidaknya kali ini kami bisa benar-benar menikmati keindahan Pulau Sumbawa, tidak sekedar melintas dan melewatkannya seperti yang sudah-sudah, apalagi fenomena unik seperti ini hanya ada di sini, di Pulau Sumbawa, sehingga sangat sayang untuk dilewatkan dalam perjalanan kami
Untuk naik ke bagian puncak dari pulau kecil yang ada di depannya kita harus membayar dua ribu rupiah per orang, cukup terjangkau dan aman di kantong bagi wisatawan lokal seperti kami, dari atas bukit yang ada di pulau kecil ini kita bisa melihat jalur jalan pasirnya secara jelas (sebenarnya tidak jauh dari pulau ini juga ada pulau lain tepat di sebelahnya yang juga memiliki fenomena "moses miracle" ini hanya saja durasi menutupnya air laut terjadi lebih cepat)
Kapal yang disediakan jika air laut menutup lebih cepat
Bersama Mbak Henni dan adiknya yang menjadi host sekaligus guide kami selama berada di Kota Bima
Pemandangan dari atas sini sangat awesome :)
Pulau kecil lainnya yang juga memiliki fenomena moses miracle
Bergegas menyeberang menuju Pulau utama sebelum jalannya tertutup oleh air pasang
Jadi masih ragu dan mikir-mikir untuk berwisata ke Pulau Sumbawa? Tidak perlu takut untuk berwisata kesini, segera atur jadwal liburan kalian dan mulai jadikan Pulau Sumbawa ini sebagai alternatif destinasi wisata kalian yang baru, jelajahi wilayahnya, nikmati pesona alamnya, rasakan keramahan masyarakatnya serta keunikan budayanya, dan yang paling penting "Kalemboade" :)
Pengeluaran hari ini :
- transport = Rp 50.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 30.000,-
- belanja swalayan = Rp 36.500,-
Total = Rp 116.500,-
Belajar dari pengalaman sebelumnya dimana ketika kami baru pertama kali tiba dan selama berada serta melintasi beberapa wilayah di Pulau Sumbawa ini, ternyata ya kami memang benar-benar "hanya sekedar" melintasinya saja alias melewatkan beberapa keindahan dan keunikan yang dimiliki pulau ini, contohnya antara lain ketika kami melewatkan Pulau Kenawa padahal lokasinya ternyata sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano, kemudian melewatkan air terjun di wilayah Utan, lalu Pulau Bungin yang merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di dunia, Pulau Moyo dengan air terjun mata jitunya dikarenakan kendala cuaca serta tidak adanya penyeberangan akibat ombak yang masih tinggi, serta melewatkan Gili-gili yang ada disekitar perairan Teluk Saleh yang lagi-lagi karena faktor cuaca. Semua itu terlewatkan begitu saja karena minimnya informasi seputar lokasi wisata dan aktivitas sosial masyarakatnya yang belum banyak diulas di media sosial (mungkin juga karena selama ini Pulau Sumbawa hanya dianggap sebagai titik transit atau persinggahan sementara saja, karena secara geografis letak pulau ini berada atau diapit oleh 2 pulau lain yang sudah lebih dulu populer sebagai destinasi wisata dunia, yaitu Pulau Lombok di sebelah barat, dan Pulau Komodo di sebelah timurnya)
Oleh karena itulah begitu kami tiba di Kota Bima, kami pun mulai mencari informasi baik secara online maupun dengan bertanya langsung kepada Mbak Henni dan teman-teman travelernya seputar tempat, budaya, dan ragam aktivitas sosial masyarakatnya. Dan dari mereka-mereka pulalah saya jadi tahu istilah "kalemboade" yang sering digunakan oleh masyarakat di wilayah Dompu dan Bima yang artinya kurang lebih seperti berbesar hati atau seperti ungkapan "torang semua basaudara", intinya adalah seperti bhinneka tunggal ika, jadi disini budaya tolong-menolong secara ikhlas tanpa pamrih ternyata masih ada, dan biasanya mereka (pihak yang membantu) hanya tersenyum sembari mengatakan "tidak usah sungkan, kalemboade", ketika kita mengucapkan terimakasih karena tidak enak telah merepotkan mereka (mungkin kalau di Jawa hampir sama situasi penggunaan kata-katanya dengan “woles aja bro” atau “santai saja masbro”)
Dari hasil bertanya-tanya dan mengumpulkan berbagai informasi itulah akhirnya kami menemukan dan memutuskan untuk memilih Pantai Lariti sebagai salah satu destinasi "wajib" yang harus kami kunjungi selagi kami berada disini, mengapa harus Pantai Lariti? Memangnya apa yang istimewa dengan pantai yang satu ini, nah itulah yang ingin kami cari tahu secara langsung :)
Peta menuju lokasi Pantai Lariti
Pernahkah kalian berjalan ditengah laut? Atau pernahkah kalian mendengar kisah tentang terbelahnya Laut Merah di saat Nabi Musa dan pengikutnya dikejar oleh pasukan Firaun? Saat itu dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa laut merah pun mendadak terbelah, menciptakan sebuah jalan diantara tingginya dinding yang terbuat dari gelombang air laut sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat menyeberang, namun ketika pasukan Firaun mencoba mengikuti mereka melalui jalan tersebut tiba-tiba dinding yang tinggi dan terbuat dari gelombang air laut tersebut pun kembali menutup seluruh jalannya sehingga menenggelamkan seluruh pasukannya termasuk sang Firaun itu sendiri
Nah keistimewaan yang dimiliki oleh Pantai Lariti pun kurang lebih seperti itu. Pantai yang berada di Desa Soro, Kecamatan Lambu, wilayah Sape, Kabupaten Bima ini pada saat-saat tertentu (tergantung pasang-surut air lautnya) mempunyai keunikan dimana ketika air sedang pasang maka pemandangan disekitar pantai ini terlihat normal dan biasa saja layaknya sebuah pantai pada umumnya dengan beberapa pulau-pulau kecil yang terpisah oleh air laut dari pulau utamanya, namun ketika kondisi air sedang surut (biasanya pada pagi hari atau sore hari) maka antara pulau utama dengan pulau kecilnya akan tercipta sebuah jalan dari pasir sehingga kita dapat berjalan kaki menyeberang melalui jalan tersebut untuk menuju ke pulau kecilnya (fenomena ini sering disebut juga dengan istilah "moses miracle")
Di dunia hanya ada 2 pantai yang mempunyai fenomena unik seperti ini, selain Indonesia dengan Pantai Laritinya, negara lainnya adalah Korea, bedanya jika di Korea fenomena laut terbelah ini hanya terjadi sebanyak 2 kali dalam setahun dengan waktu yang relatif singkat, maka di Indonesia fenomena seperti ini terjadi setiap harinya, sehingga kita bisa kapan saja menikmati pesonanya (eh tidak kapan saja juga sih tergantung dari kondisi pasang-surut air lautnya, tetapi yang pasti fenomena tersebut tetap terjadi setiap hari, maka dari itu kalian patut bersyukur karena lahir dan besar di negara tercinta Indonesia Raya ini, Negara yang merupakan surganya traveling)
Karena dari Kota Bima menuju ke pantai ini medannya melalui bukit-bukit serta penuh tanjakan, maka tidak memungkinkan bagi kami untuk gowes kesana pergi-pulang dalam waktu 1 hari, oleh karena itulah atas saran dan bantuan dari Mbak Henni dan adiknya, hari ini mereka berdua meluangkan waktunya untuk mengantar kami menuju ke Pantai Lariti dengan mengendarai sepeda motor (berhubung saya dan Agit tidak bisa mengendarai sepeda motor maka saya pun dibonceng oleh adiknya Mbak Henni, sedangkan Agit dibonceng oleh Mbak Henni, maaf ya Mbak jadi ngerepotin hehe... :)
Dari Kota Bima kami tinggal mengikuti petunjuk arah yang menuju ke wilayah Sape, medan perbukitannya sendiri lebih panjang dan derajat kemiringannya juga lebih curam dan menanjak daripada di Nangatumpu, disepanjang wilayah perbukitan ini juga masih terdapat banyak monyet, biawak, dan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau, jadi hati-hati ketika mengemudi ya
Sambil melewati jalan yang berkelok-kelok menuju ke atas bukit kalian juga dapat menikmati view yang menakjubkan yaitu hamparan bukit-bukit diantara kabut, dibeberapa titik juga terdapat spot yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak, spot ini dilengkapi dengan kursi-kursi dari bambu
Jika kalian melewati rute ini saat musim penghujan maka kalian juga perlu berhati-hati terhadap bahaya longsor dari dinding bukit yang belum dibuat turap penahan, sehingga kalau ingin beristirahat lebih baik jangan terlalu dekat dengan dinding bukit.
Setelah melalui kontur perbukitan akhirnya sampai juga kami di wilayah Sape, jika ingin menuju ke Pantai Lariti patokan termudahnya adalah ketika kalian tiba disebuah perempatan (yang kalau lurus itu menuju ke Pelabuhan Sape) maka kalian tinggal belok ke kanan, nanti setelah pasar dan setibanya di Desa Soro ada bangunan PNPM Mandiri di sisi kanan, nah di seberangnya ada jalan masuk, tinggal masuk dan ikuti jalan saja (oya kondisi jalan masuknya saat saya kesana masih berupa jalan tanah berbatu, sehingga kalau cuaca sedang kering sih kondisinya aman, tapi kalau hujan maka siap-siap saja tersiksa), dari awal jalan masuk menuju ke lokasi pantainya sendiri jaraknya masih sekitar 4-5km jadi pastikan kondisi kendaraan anda prima terutama ban dan remnya)
Ketika mulai mendekati Pantai Lariti kalian akan melihat banyak tambak-tambak udang, berdasarkan info yang saya peroleh, lahan-lahan disekitar pantai pun telah dibeli oleh sebuah perusahaan tambak udang, oleh karena itulah jalan masuk menuju ke pantai sendiri sebenarnya juga menggunakan jalur akses milik perusahaan tambak, entahlah mengapa dari pihak pemerintah melalui suku dinas pariwisatanya tidak membuat fasilitas dan jalur akses yang nyaman, padahal Pantai Lariti sendiri mempunyai potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak kalah dengan destinasi wisata lainnya yang sudah lebih dulu populer
Akhirnya sampailah kami di Pantai Lariti ini, tepat disaat air sedang surut sehingga nampaklah jalan yang terbuat dari pasir pantai, membentang menuju ke pulau kecil yang berada tepat didepannya :)
Setidaknya kali ini kami bisa benar-benar menikmati keindahan Pulau Sumbawa, tidak sekedar melintas dan melewatkannya seperti yang sudah-sudah, apalagi fenomena unik seperti ini hanya ada di sini, di Pulau Sumbawa, sehingga sangat sayang untuk dilewatkan dalam perjalanan kami
Untuk naik ke bagian puncak dari pulau kecil yang ada di depannya kita harus membayar dua ribu rupiah per orang, cukup terjangkau dan aman di kantong bagi wisatawan lokal seperti kami, dari atas bukit yang ada di pulau kecil ini kita bisa melihat jalur jalan pasirnya secara jelas (sebenarnya tidak jauh dari pulau ini juga ada pulau lain tepat di sebelahnya yang juga memiliki fenomena "moses miracle" ini hanya saja durasi menutupnya air laut terjadi lebih cepat)
Kapal yang disediakan jika air laut menutup lebih cepat
Bersama Mbak Henni dan adiknya yang menjadi host sekaligus guide kami selama berada di Kota Bima
Pemandangan dari atas sini sangat awesome :)
Pulau kecil lainnya yang juga memiliki fenomena moses miracle
Bergegas menyeberang menuju Pulau utama sebelum jalannya tertutup oleh air pasang
Jadi masih ragu dan mikir-mikir untuk berwisata ke Pulau Sumbawa? Tidak perlu takut untuk berwisata kesini, segera atur jadwal liburan kalian dan mulai jadikan Pulau Sumbawa ini sebagai alternatif destinasi wisata kalian yang baru, jelajahi wilayahnya, nikmati pesona alamnya, rasakan keramahan masyarakatnya serta keunikan budayanya, dan yang paling penting "Kalemboade" :)
Pengeluaran hari ini :
- transport = Rp 50.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 30.000,-
- belanja swalayan = Rp 36.500,-
Total = Rp 116.500,-
Subscribe to:
Posts (Atom)




































































