Showing posts with label Edu Wisata. Show all posts
Showing posts with label Edu Wisata. Show all posts

Wednesday, 17 May 2023

WISMA DJEMBRANASARI

Lanjutan dari postingan sebelumnya 🙂

Setelah puas berkeliling disekitar lokasi Rumah Putih Sarjanawiyata Kaliurang dan mengambil beberapa dokumentasi pribadi untuk keperluan bahan tulisan saya sepertinya sekarang saatnya untuk lanjut ke lokasi berikutnya yaitu Wisma Djembranasari (Djembranasari Heritage Village) yang sebelumnya tadi sudah saya lewati (masih sama-sama dilokasi kawasan wisata Kaliurang).



Jarak dari Rumah Putih Sarjanawiyata ke Wisma Djembranasari tidaklah begitu jauh, mungkin hanya sekitar 1 km saja. Sedikit informasi yang saya dapatkan mengenai bangunan Wisma Djembranasari yang berada tepat di seberang Taman Rekreasi Kaliurang dan bersebelahan dengan Villa Jaran Jingkrak ini adalah bangunan ini sudah lama dibiarkan dalam keadaan kosong dan terbengkalai walaupun secara tampilan fisik bangunan ini masih terlihat cukup bagus, bersih tanpa coretan vandalisme, dan kokoh.



Wisma Djembranasari diperkirakan dibangun sekitar Tahun 1950-an (7 Oktober 1956) jika merujuk kepada tulisan angka yang terdapat di dinding luar bangunan ini. Menganut gaya arsitektur art deco tepatnya aliran streamline moderne (populer di Eropa sekitar Tahun 1910-1930), bisa dilihat dari ciri bangunan 2 lantai ini yang penuh dengan unsur melengkung tidak simetris sehingga mengesankan tampilan modern di jamannya, selain itu penggunaan material atapnya berupa dak beton, bukan menggunakan atap genteng seperti rumah-rumah tropis pada umumnya. Penggunaan dak beton ini juga cukup fungsional dalam memberi bentuk estetik di bagian balkon atas dengan banyak jendela kaca yang sekilas terlihat seperti sebuah anjungan kapal, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian banyak orang yang juga menyebut bangunan ini sebagai Rumah Kapal dikarenakan bentuknya tersebut. Penggunaan plester batu kali sebagai unsur dekoratif pada dinding luar bangunan ini juga cukup memberi penegasan identitas bahwa bangunan ini sangat bergaya kolonial atau merupakan rumah lndis.




Mengapa bangunan seindah ini dibiarkan terbengkalai begitu saja padahal lokasinya sangatlah strategis? berada dikawasan wisata Kaliurang yang notabene merupakan salah satu kawasan wisata yang selalu ramai dan menjadi tujuan wisata favorit para wisatawan saat mereka berlibur ke Jogja terlebih ketika musim liburan ataupun setiap weekend tiba. Nah ternyata usut punya usut dari berbagai sumber, permasalahannya ada 2, yaitu pertama, menyangkut sengketa ahli waris, ya benar sekali dikarenakan status bangunan ini masih menjadi sengketa antara para ahli waris maka diambillah jalan tengah dengan cara menon-aktifkan fungsi bangunan ini, yang mana dulunya selain digunakan sebagai rumah peristirahatan, bangunan ini juga kerap disewakan sebagai penginapan bagi para wisatawan di Kaliurang, dan tak sebatas tempat menginap saja lho, dikarenakan keindahan tampilan bangunan ini jugalah pada sekitar Tahun 2013 lalu tempat ini juga pernah disewa dan dijadikan sebagai lokasi syuting film “Keluarga Tak Kasat Mata”.


Permasalahan kedua adalah, dikarenakan status sengketa waris yang tak kunjung selesai yang mengakibatkan dikosongkannya bangunan ini sehingga keadaannya menjadi tidak terurus akhirnya sekitar Tahun 2019 silam (tepatnya 14 Maret 2019) terjadilah tragedi yang sempat menghebohkan warga disekitar kawasan wisata Kaliurang ini dengan ditemukannya jasad seseorang yang sudah tewas dalam keadaan tergantung dibawah tangga didalam bangunan ini. penemuan jasad ini pun baru diketahui setelah kurang lebih satu minggu kemudian oleh penghuni villa lain yang letaknya berdekatan dengan Wisma Djembranasari, awalnya mereka merasa curiga karena mencium aroma busuk yang menyengat bersumber dari dalam bangunan Wisma Djembranasari ini, setelah dilaporkan kepada petugas yang berwenang dan dilakukan pemeriksaan barulah terungkap bahwa aroma bau busuk itu bersumber dari sosok jasad yang ditemukan sudah dalam keadaan tewas tergantung dibawah tangga dengan kondisi sudah membusuk dan penuh belatung.




Setelah kejadian tersebut akhirnya imej bangunan Wisma Djembranasari yang semula merupakan bangunan kolonial yang cantik pun mulai berubah menjadi wisma kosong terbengkalai yang angker, horor, dan berhubungan dengan hal supranatural, bekas lokasi ruangan penemuan jasad itupun akhirnya ditutup dengan pintu dan setelahnya bangunan Wisma ini selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci sampai saat ini, seakan menutup diri dari keramaian dan keceriaan dunia diluarnya. sungguh sangat disayangkan bukan? Entah sampai kapan nantinya tempat ini bisa kembali lagi menjadi sebuah bangunan cantik dan ceria yang penuh dengan kehangatan para penghuninya yang berbondong-bondong kembali datang untuk menginap disini sembari menikmati sejuknya hawa pegunungan dikawasan wisata Kaliurang.

Wednesday, 3 May 2023

EMBUNG PIAT UGM

Minggu, 30 April 2023.

Hi Sobat Gowes Wisata, tak terasa ya 2 bulan telah berlalu tanpa update informasi seputar lokasi wisata di website ini, maklumlah selama Bulan Ramadhan kemarin saya hanya melakukan aktivitas gowes yang ringan-ringan saja mencari takjil hehe… Nah kini setelah lebaran usai saatnya bagi kita untuk mulai pemanasan lagi membakar kolesterol jahat sisa opor ayam dan rendang serta memulihkan stamina termasuk melemaskan persendian yang sempat kaku, ayo yang semangat olahraganya jangan malas.


Untuk rute pemanasan kali ini enaknya sih mencari lokasi yang berjarak sedang saja kali ya, tidak terlalu jauh namun juga ga deket-deket amat, intinya yang penting bisa membiasakan diri lagi melatih refleks dan fleksibilitas postur badan saat bersepeda. Oleh karena itu tujuan kita kali ini adalah menuju ke Embung Piat UGM.



Embung Piat sendiri sebenarnya termasuk lokasi yang cukup baru karena embung ini baru mulai dibangun pada Tanggal 25 Mei 2002 dan selesai atau diresmikan pada Tanggal 20 Desember 2022. Nama Embung Piat sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Pusat Inovasi Agro Teknologi yang dikelola oleh pihak UGM, karena dilokasi ini selain difungsikan menjadi embung juga digunakan menjadi pusat penelitian dan pengembangan inovasi teknologi dibidang agro yang nantinya berguna untuk meningkatkan hasil pertanian.


Embung ini tepatnya berlokasi di Desa Kalitirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta. Akses menuju kelokasi ini juga cukup mudah dan bisa dilalui oleh semua kendaraan, kalian juga bisa melihat rutenya melalui googlemaps dengan keyword “Embung PIAT”,


Dengan mengambil konsep desain dan falsafah dari tokoh pewayangan Semar yang bisa dilihat mulai dari ornamen yang terukir pada gerbang pintu masuk embung hingga bentuk embung itu sendiri jika dilihat dari atas yang berbentuk kepala Semar, fungsi embung ini antara lain dibuat sebagai sarana atau wadah penampungan air baku untuk menunjang ketersediaan air selama musim kemarau yang dibutuhkan bagi lahan pertanian yang ada disekitar lokasi embung ini, selain itu keberadaan embung ini juga menarik minat warga sekitar atau pengunjung umum yang memanfaatkan area lokasi embung ini untuk berwisata dan berolahraga seperti jogging, bersepeda, bermain badminton ataupun sekedar berfoto-foto disekitar embung ini.





Beberapa fasilitas penunjang kegiatan wisata rekreasi pun juga sudah dibuat seperti adanya bangunan Mushalla, toilet umum, kursi-kursi taman, lampu-lampu penerangan bergaya klasik, tempat sampah, jogging track, ayunan, serta kandang rusa yang ada sisi bagian atas embung ini.





Sayangnya untuk masalah kuliner sampai saat ini belum ada tempat makan yang tersedia disekitar embung ini, jika kalian merasa lapar dan ingin mencari makan maka satu-satunya pilihan adalah kalian harus berjalan kaki cukup jauh keluar dari lokasi area embung ini terlebih dahulu menuju ke jalan raya umum dekat Pohon Beringin (kurang lebih sekitar 1-1,5km).


Walaupun begitu jika kalian ingin mencari spot kumpul-kumpul yang asyik atau sekedar berolahraga di pagi hari sembari menghirup udara sekitar yang masih sejuk dan asri maka lokasi Embung PIAT UGM ini cukup menarik dan pas bagi kalian, selain tempatnya bersih, masih banyaknya pepohonan besar yang rindang di sisi jalan dan akses pencapaian yang cukup mudah menjadikan Embung Piat menjadi salah satu spot wisata rekreasi yang cukup menarik, terutama dikalangan pesepeda saat hari Minggu pagi.




Bagi kalian yang ingin berkunjung ke tempat ini yang pasti tetap ingat untuk selalu menjaga kebersihan dari setiap lokasi wisata yang kalian kunjungi ya, jadilah wisatawan yang cerdas dan beretika, nah selamat berwisata. 🙂

Wednesday, 19 September 2018

CHAPTER 47; HUTAN MANGROVE MARGO MULYO

Masih di hari yang sama seperti pada chapter sebelumnya, jika tadi kita sudah puas berkeliling sekaligus belajar mengenai hewan reptil yaitu buaya di Penangkaran Buaya Teritip, maka kali ini kami kembali melanjutkan acara jalan-jalan di Kota Balikpapan dengan mengunjungi spot wisata berikutnya yaitu menuju ke kawasan konservasi Mangrove Margo Mulyo, seperti apa ya tempatnya? Yuk kita c’mon let’s go

Berlokasi di belakang sebuah Sekolahan, tepatnya SMUN 8, di Jalan AMD Gunung 4, RT 42, Kelurahan Margo Mulyo, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur, kawasan konservasi Mangrove seluas 16,8 ha yang pembuatannya diprakarsai oleh warga sekitar, yaitu Kelompok Tani Tepian Lestari bekerjasama dengan Balai Lingkungan Hidup pada Tahun 2006 ini, kini telah menjadi sebuah lokasi kawasan konservasi tumbuhan bakau yang sekaligus juga berfungsi sebagai kawasan taman kota, wisata alam, wisata pendidikan, tempat penelitian dan pengembangan, serta habitat bagi beberapa flora dan fauna seperti kepiting, burung raja udang, monyet bekantan, dan masih banyak lagi lainnya


Jika kalian ingin mengunjungi lokasi konservasi Mangrove Margo Mulyo yang berjarak sekitar 9 km dari pusat Kota Balikpapan ini, maka cara termudahnya selain menaiki kendaraan pribadi adalah kalian bisa naik ojek dari depan Pasar Inpres Kebun Sayur, dikarenakan sejauh ini belum ada angkutan umum yang rutenya melewati tempat ini

Nanti setibanya di depan SMUN 8 kalian hanya tinggal masuk saja melalui gang yang berada disamping gedung SMU tersebut, akses jalannya berupa jembatan kayu, oya ditempat ini belum ada tarif retribusi resmi yang dikenakan alias masih gratis, kalian hanya tinggal membayar seikhlasnya saja kepada warga yang memegang kunci masuk kawasan Mangrove ini, sedangkan untuk jam operasionalnya sendiri tempat ini buka mulai dari jam 08.00 – 17.30 WITA

Setelah Mas Danang memarkirkan kendaraannya disamping Gedung SMUN 8, kami berempat mulai menapaki jembatan kayu yang merupakan akses untuk masuk menuju ke kawasan konservasi Mangrove ini, namun begitu kami sampai di depan pintu masuknya ternyata pintu sudah dalam keadaan tetutup dan terkunci, padahal waktu masih menunjukkan sekitar pukul 16.00 WITA, memang sih kedatangan kami agak kesorean sehingga mungkin karena sudah sepi dan dikira tidak bakal ada pengunjung lagi akhirnya oleh warga yang bertugas menjaga pintunya pun ditutup, untungnya kali ini bukan hanya kami berempat saja yang datang ke kawasan mangrove ini, selain kami berempat tampak juga beberapa pengunjung lain yang sepertinya merupakan kelompok pengguna jasa tour travel, akhirnya salah seorang dari mereka yang sepertinya merupakan tour guidenya menelepon seseorang dan tak berapa lama kemudian datanglah seorang warga yang membawa kunci dan membuka pintu masuk kawasan ini, bersama-sama kami pun mulai memasuki kawasan mangrove Margo Mulyo ini




Dengan jalur sirkulasi berupa jembatan kayu yang diapit oleh tanaman bakau disepanjang sisinya kami pun mulai berkeliling masuk ke dalam kawasan ini, dibeberapa sudut akar bakau kami melihat beberapa kepiting kecil yang bergerak masuk kedalam liang-liang yang mereka buat, disini kami juga sempat melihat seekor monyet bekantan yang sedang asyik duduk di puncak salah satu pohon, namun karena keterbatasan fitur kamera kami tidak dapat mengambil gambarnya





Sayangnya dibeberapa titik kawasan ini masih banyak terlihat sampah yang tersangkut diakar-akar tanaman bakau, selain tidak sedap dipandang mata, keberadaan sampah-sampah yang semakin banyak ini dikuatirkan dapat mengganggu habitat flora dan fauna yang ada dikawasan ini, oleh karena itu jika kalian berwisata ke tempat ini tetap ingat untuk membantu menjaga kebersihannya ya, salah satunya dengan cara tidak membuang sampah secara sembarangan








Semakin masuk kedalam kawasan ini kami juga melihat ada beberapa pos dan menara pengawas yang sepertinya digunakan untuk kegiatan penelitian hewan-hewan dan ekosistem dikawasan ini, dan bagi kalian yang sedang asyik menyusuri kawasan ini sembari mendokumentasikan atau berselfie-ria tetap berhati-hati dan perhatikan jalan ya, supaya kepala kalian tidak terantuk dahan dan ranting pepohonan yang terkadang membentang rendah







Setelah puas berkeliling menyusuri dan mendokumentasikan pemandangan yang ada di kawasan mangrove Margo Mulyo, kini saatnya kami untuk kembali ke kost tempat kami menetap sementara di Kota Balikpapan, di perjalanan pulang kami sempat diajak berkeliling sejenak oleh Mas Danang melewati beberapa ruas jalan utama Kota Balikpapan, karakter dari sebuah kota modern industri hasil tambang tampak terasa, dengan ruas jalan yang lebar, rapi, dan bersih serta tidak begitu padat layaknya Jakarta, namun aktivitas dan semangat yang dimiliki warga kota ini dalam menjaga dan membangun wilayahnya terasa kuat, walaupun masih ada beberapa kekurangan seperti seringnya terjadi mati listrik dan sulitnya pasokan air namun seiring kerja keras yang dilakukan segenap elemen masyarakat dan pemerintah daerahnya niscaya kedepannya semua masalah-masalah tersebut pasti dapat teratasi, tak heran jika Kota Balikpapan pada akhirnya telah beberapa kali terpilih menjadi Kota Terbersih dan menyabet beberapa penghargaan bertaraf internasional

Ada cerita apa lagi di chapter berikutnya? terus ikuti kisah petualangan kami dan support terus petualangan goweswisata, bukan tidak mungkin kedepannya kalianlah yang akan terus melengkapi detail cerita ini seiring kalian memulai cerita perjalanan masing-masing, karena maybe Indonesia it’s not perfect but Indonesia is awesome for sure, jelajahi dan kenalilah negerimu serta cintailah negerimu, yuk kita bangun Indonesia menjadi lebih baik dan menjadi generasi yang memberi solusi, bukan menjadi generasi yang hanya bisa mencaci dan menyinyir :)

Saturday, 21 July 2018

PASAR KEBON EMPRING DAN BERLIAN BINTARAN

Kamis, 19 Juli 2018,
Halo pembaca setia goweswisata,com, kali ini petualangan goweswisata akan mengulas sebuah destinasi yang unik dan menarik, yaitu Pasar Kebon Empring. Lah kok jalan-jalannya ke Pasar? Emang ada apaan di Pasar ini? eitsss jangan sewot dulu karena di Pasar yang satu ini tempatnya dijamin asyik banget buat hangout, disini selain kalian bisa menikmati aneka jajanan dan kuliner tradisional yang ada, kalian juga bisa bermain dan berfoto di beberapa spot yang sengaja dibangun disekitar lokasi ini yang pastinya instagram-able banget deh, ga percaya? yuk kita let’s go

Pasar Kebon Empring dan Berlian Bintaran sebenarnya merupakan satu kesatuan yang berlokasi di Desa Bintaran Wetan, Kelurahan Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta.

Peta menuju lokasi Pasar Kebon Empring



Untuk menuju ke lokasi ini rute termudahnya adalah melalui Jalan Jogja-Wonosari, patokannya jika kalian start dari perempatan PLN Gedongkuning maka kalian tinggal menuju ke arah Timur sampai traffic light ringroad, lalu terus saja ke arah Timur melewati Museum Wayang sampai nanti tiba di perempatan Traffic light lagi (dimana kalau ke kanan mengarah ke Pleret, kalau ke ke kiri mengarah ke Berbah), nah kalian ambil yang lurus saja menuju Kids Fun, terus saja sampai perempatan traffic light Kids Fun, kemudian dari perempatan traffic light Kids Fun tersebut kalian masih terus lurus ke arah Timur sampai nantinya menyeberangi Jembatan Sungai Opak, nanti disisi kiri kalian ada Pasar dan diseberangnya (sisi kanan) ada Gapura masuk Desa Bintaran Kulon, masih terus ke Timur sedikit (sambil lihat sisi kanan) kira-kira dua belokan setelah gapura masuk Desa Bintaran Kulon tadi ada belokan masuk menuju Desa Bintaran Wetan, nah kalian tinggal menyeberang dan masuk ke Jalan tersebut, dari situ kira-kira 200 meter kemudian ada jalan masuk ke kiri, masuk saja dan tak lama kemudian sampailah kalian di lokasi Pasar Kebon Empring



Dilokasi Pasar Kebon Empring ini belum ada tarif retribusi yang dikenakan untuk para pengunjung, namun kalian juga bisa berpartisipasi membantu warga sekitar dalam mengembangkan fasilitas disekitar lokasi dengan cara menyumbang seikhlasnya melalui kotak amal yang berada tepat di depan Jembatan Gantung dikarenakan semua pembangunan fasilitas dilokasi ini dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar

Spot pertama yang langsung menarik perhatian begitu kita tiba di lokasi ini adalah keberadaan dua buah jembatan penghubung, jembatan pertama bernama Jembatan Cerewet, jembatan ini terbuat dari bambu dan biasanya digunakan oleh pengendara kendaraan roda dua untuk menyeberang secara bergantian, sedangkan jembatan kedua berupa sebuah Jembatan Gantung berwarna biru yang biasanya digunakan oleh pejalan kaki untuk menyeberang, namun demi keamanan dan keawetan jembatan ini maka jika kalian ingin menyeberang atau sekedar berfoto diatas Jembatan Gantung ini kalian hanya diperkenankan maksimal tiga orang selama berada di atas jembatan gantung. Keberadaan jembatan-jembatan ini awalnya difungsikan untuk menggantikan jembatan sebelumnya yang terbuat dari beton namun telah rubuh akibat terjangan banjir ketika Jogja dilanda Badai Cempaka beberapa waktu lalu, namun seiring waktu ternyata keberadaan dua buah jembatan ini pada akhirnya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung dan penikmat hobby fotografi

Jembatan Cerewet



Jembatan Gantung





Sisa Jembatan lama yang patah dan rusak sewaktu terkena banjir Badai Cempaka


Adapun mengenai nama Berlian Bintaran sendiri sebenarnya merupakan cakupan dari beberapa spot yang nantinya akan dikembangkan disekitar lokasi ini. Spot pertama yang saat ini masih menjadi prioritas utama dalam pengembangan adalah Pasar Kebon Empring, Pasar ini terbilang masih relatif baru yaitu baru beroperasi sekitar satu bulan sejak pertama kali lokasi ini dirapikan, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari warga, peresmian Pasar Kebon Empring sendiri baru akan dilakukan pada tanggal 1 Agustus 2018 nanti, awalnya lahan disekitar lokasi ini adalah kebun bambu, dan waktu itu masih banyak hewan-hewan seperti biawak dan ular kecil yang ditemukan, namun sejak tempat ini mulai dibersihkan, dirapikan, dan ditata sedemikian rupa maka perlahan keberadaan hewan-hewan liar tersebut pun sudah tidak ada lagi.




Warga sekitar pun menganggap tempat ini adalah sebuah Taman Bermain atau Pasar, oleh karena itu mereka sendiri pun bingung ketika banyak orang mengatakan Pasar Kebon Empring adalah sebuah tempat wisata. Menurut warga yang juga mengelola tempat ini konsep dari tempat ini adalah sebuah Pasar tradisional yang bernuansa desa, sehingga bagi para pengunjung yang ingin tahu atau merasakan suasana sebuah pasar di pedesaan ya kurang lebih seperti inilah keadaannya dan rupanya justru hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pengunjung, yaitu menikmati suasana pedesaan yang tenang dan sejuk serta menyatu dengan alam sekitarnya, kedepannya mungkin konsep tersebut juga akan dikembangkan lagi hingga menjadi sebuah Desa Wisata




Sejauh ini beberapa fasilitas yang sudah ada dan sedang dikembangkan di lokasi Pasar Kebon Empring ini adalah area parkir kendaraan, Toilet Umum, Mushalla, permainan ayunan, permainan jungkat-jungkit, beberapa gazebo, permainan bakiak, permainan egrang, tempat-tempat sampah, beberapa bangku dan meja, spot-spot foto unik, serta area jajanan dan kuliner





Bangunan Mushalla yang unik


Spot-spot foto yang keren banget :)







Biasanya tempat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan pada saat weekend, sedangkan untuk area jajanan dan kulinernya sendiri baru mulai beroperasi sekitar pukul 10 pagi hingga pukul 8 malam, nah bagi kalian yang ingin berwisata ke Pasar Kebon Empring ini kalian tidak perlu kuatir kelaparan karena beberapa sajian menu yang ada disini dijamin cukup memanjakan lidah dan tidak menguras isi dompet, kisaran harga makanan yang ada pun cukup bervariasi dan termahal adalah 10 ribu rupiah, sedangkan untuk minumannya sendiri rata-rata seharga tiga ribu rupiah. Beberapa jajanan kuliner yang ada disini antara lain adalah pecel lele, sego wader, sego wiwit, sego gurih, batagor, bakso, tempe mendoan, es kepal, es tebu, es dawet, minuman sachet, dan aneka jajanan pasar lainnya



Selain menawarkan suasana pedesaan kelebihan lainnya yang ditawarkan di Pasar Kebon empring ini adalah wisata edukasi berupa pengenalan dan belajar aksara Jawa, hal ini dilakukan untuk melestarikan ilmu dan budaya asli Jawa itu sendiri, terlebih saat ini banyak generasi muda asli Jogja atau mereka yang berdarah Jawa namun justru tidak bisa berbahasa Jawa, apalagi jika disuruh membaca atau menulis menggunakan aksara Jawa (contohnya saya sendiri hehe…)

Jika penataan Pasar Kebon Empring ini sudah selesai maka target pengembangan berikutnya dari konsep Berlian Bintaran adalah lokasi mini outbond yang berada disisi seberang sungai, dan spot terakhir yang nantinya juga akan dikembangkan adalah Bukit Berlian, dimana pada bukit ini nantinya akan dibuatkan dua buah jalur trekking yaitu tipe short track dan long track, selain itu bagi penikmat olahraga sepeda gunung ada kabar gembira untuk kalian semua karena nantinya dibukit ini juga akan dibuatkan jalur untuk bersepeda downhill

Selain itu menurut keterangan yang saya peroleh dari salah seorang pengurus tempat ini sebenarnya disekitar Bukit Berlian ini juga ada sebuah Goa bertipe tunnel atau lorong yang menembus ke bukit lainnya, namanya adalah Goa Belah namun akses untuk menuju ke lokasi Goa sementara ini belum dibuat dan dibuka.


Tidak jauh dari lokasi Pasar Kebon Empring ini sebenarnya juga terdapat obyek wisata sejarah lainnya yaitu situs Payak yang berupa situs petirtaan, dan Petilasan Songkendil, mungkin karena itulah konsep dari tempat ini dinamakan Berlian Bintaran karena layaknya sebuah berlian, kedepannya jika semua potensi dari tempat ini dimaksimalkan dan saling bersinergi maka kelak tempat ini pun akan dikenal dan bersinar layaknya sebuah berlian

Bagaimana seru kan Pasar yang satu ini? jadi kapan nih kalian berwisata ke Pasar Kebon Empring ini? yang pasti tetap jaga kebersihan dari setiap lokasi yang kalian kunjungi ya, selamat berwisata


Ps: terimakasih kepada Mas Isnawan, Mas Joko dan Seluruh warga Desa Bintaran Wetan yang telah berbagi informasi seputar Berlian Bintaran