Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Thursday, 7 November 2024

GOWES BLUSUKAN KE MBULAK WILKEL, LERENG SENTONO, SITUS MAKAM RATU MALANG, DAN KOTAGEDE

Minggu, 3 November 2024

Setelah sekian lama tidak gowes dan mengupdate cerita di blog, nah di Hari Minggu pagi yang cerah ini saya mencoba Gowes Wisata iseng mencari rute baru yang belum pernah saya lewati, selain itu alasan lainnya adalah karena sepertinya saya mulai kehabisan spot-spot baru yang belum pernah saya review hehe… 😅 ternyata cukup sulit mencari lokasi baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, suasananya fresh alias ga rame-rame banget, minim tanjakan kalaupun harus melewati tanjakan paling tidak jangan yang curam banget elevasinya, murah sukur-sukur gratis tanpa retribusi, ada warung buat jajan dan istirahat, serta memiliki view atau keunikan yang menarik untuk diceritakan.


Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut barulah mulai mapping lokasi berdasarkan arah mata angin beserta poin plus minusnya, sebagai contoh jika kita mengeksplor arah Utara sebenarnya ini termasuk yang paling enak karena hanya saat berangkatnya saja yang butuh usaha untuk nanjak tipis-tipis, tetapi ketika pulang sudah enak karena rutenya jadi turunan, (capenya sekalian). Jika ke arah Timur ini yang termasuk paling menyebalkan karena berangkatnya silau terkena sinar matahari, pulangnya juga sama saja kalau kesorean, dalam artian capenya jadi dobel. Arah Barat sebenarnya 60-40, karena 60 persennya menyenangkan dengan rute yang cenderung lurus dan datar, hanya menanjak jika tujuan kita kearah perbukitan Menoreh, dan pulangnya 40 persen jadi membosankan karena jaraknya jadi jauh mengingat lokasi rumah saya ada di sisi Timur Kota Jogja. Sedangkan untuk arah Selatan, berangkatnya sih enak karena rute elevasinya menurun, tetapi saat pulang malah jadi cape karena rutenya menanjak tipis-tipis apalagi kalau cuaca sedang cerah-cerahnya, dijamin mateng dijalan.


Awal gowes kali ini sebenarnya hanya ingin menyusuri lorong-lorong gang labirin di daerah Kotagede saja, tetapi ditengah perjalanan kok rasanya sayang ya, masa gowes hari ini deket banget apalagi cuaca sedang mendukung, akhirnya tujuan pun berubah, saya mulai mengarahkan kayuhan menuju ke wilayah Pleret melewati Kantor Kecamatan Banguntapan terus ke Selatan. Oya gowes kali ini saya sama sekali tidak mengandalkan googlemaps, Strava, ataupun Komoot, jadi loss saja, hanya mengikuti naluri, menikmati setiap kayuhan dan keingin tahuan terhadap apa saja yang bakal ditemui disepanjang rute ini, sesekali asyik juga tidak bergantung kepada teknologi pemetaan atau berfokus pada pencatatan data statistik saat bersepeda (toh saya juga bukan atlet), jadi cukup nikmati perjalanan ini karena senang bersepeda.


Di sepanjang Jalan Pleret pagi hari ini sudah banyak penjaja makanan dan snack tradisional yang menggelar dagangannya, termasuk melihat aktivitas masyarakat sekitar yang sedang berolahraga ataupun yang baru mulai membuka tempat usahanya. Sebagian titik ruas jalan yang dulunya bergelombang dan rusak kini kondisinya sudah diperbaiki dan diaspal ulang, semoga kali ini kondisinya bertahan lama ya.


Sebelum mendekati Pasar Pleret saya sempat melihat ada papan penunjuk arah menuju ke lokasi wisata Mbulak Wilkel, kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke lokasi ini sejak masa-masa viralnya sampai kini sudah tidak begitu booming lagi, jadi yuk lah kita coba melihat seperti apa suasananya saat ini. Mbulak Wilkel sendiri sebenarnya hanyalah sebuah lokasi ruas jalan yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pohon tinggi yang berjejer, dengan ranting-ranting pohonnya yang melengkung dan seperti membentuk semacam lorong pohon, suasananya yang rindang dan teduh terlebih berada diantara hamparan persawahan warga menjadikan viewnya cukup menarik untuk dijadikan latar ber-swafoto.




Dikarenakan pada waktu itu mulai banyak orang luar yang ber-swafoto disepanjang ruas jalan tersebut, maka warga sekitar pun berinisiatif menata lokasi tersebut dengan membuat semacam gapura papan nama dan mendirikan gazebo-gazebo estetik supaya pengunjung dapat  beristirahat sembari menikmati kuliner yang dijajakan oleh warga sekitar, setidaknya hal ini dapat membantu perekonomian warga sekitarnya. Pagi ini suasana di Mbulak Wilkel sendiri  terbilang cukup sepi, hanya sesekali saya melihat rombongan pesepeda yang sedang beristirahat  di gazebo-gazebo yang ada di pinggir jalan, dan sebagian lagi hanya melintas saja.


Setelah melewati lorong pohon yang ada di Mbulak Wilkel, saya pun terus mengarahkan kayuhan kearah Timur sampai akhirnya tiba di lokasi berikutnya yaitu Lereng Sentono, lokasi ini bersebelahan dengan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang. Lereng Sentono sendiri sebenarnya adalah sebuah lokasi yang berada di bagian lereng bukit tempat Makam Ratu Malang berada, area kosong pada lereng ini dimanfaatkan dengan membuat semacam taman, pendopo, dan warung kuliner, sehingga pengunjung yang sedang berziarah atau mengunjungi Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang bisa beristirahat sejenak disini. Lokasi ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara atau kegiatan gathering bersama keluarga atau komunitas, kalian tinggal menghubungi pihak warga yang mengelolanya saja, untuk fasilitas parkir kendaraan juga sudah disediakan area yang cukup luas disekitarnya.








Dari Lereng Sentono dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang, saya mulai melanjutkan perjalanan melalui jalan desa melewati area persawahan warga dan kembali ke ruas jalan utama yang menuju ke Pasar Plered, saya pun berbelok ke arah Barat tepat di belakang area Pasar, dari situ kayuhan terus saya arahkan ke Barat sampai melewati sebuah pertigaan yang jalan normalnya yaitu berbelok ke kanan, sedangkan jalan yang satunya lagi kearah lurus dan sedikit menurun, saya pun memilih jalan yang lurus karena viewnya kok terlihat lebih menarik, dikejauhan terlihat ada sebuah banner usang dan mulai robek yang menunjukkan nama tempat ini dulunya adalah sebuah pemancingan, memang sih terlihat dari adanya beberapa kolam yang kini kondisinya sudah mengering, tempat ini dulunya pasti pernah menjadi sebuah pemancingan yang cukup ramai, entahlah mengapa kini kondisinya dibiarkan terbengkalai begitu saja.



Sambil menyusuri area pemancingan tersebut saya melihat ada sebuah jalan kecil berkonblock yang berada disepanjang sisi aliran sungai, beberapa orang juga saya lihat sedang memancing di sungai tersebut, sepertinya sejak area pemancingan tersebut sepi kini warga pun akhirnya memancing ikan dari sungai yang berada tepat disekitar area pemancingan ini.



Kondisi rute jalan ber-konblock ini sepertinya asyik juga untuk dijadikan rute blusukan sepeda dikarenakan suasananya masih sepi dan teduh sekali, saya pun menyusuri rute tersebut sampai dihadapkan kesebuah persimpangan, sebuah pertigaan dengan pilihan mau terus mengikuti jalan berkonblock yang cukup lebar atau mencoba memasuki jalur tanah yang cukup sempit.



Berhubung rasa penasaran saya lebih condong menyuruh untuk mengikuti ruas jalan tanah yang kecil tersebut akhirnya saya pun memilih untuk mencobanya,, kalaupun nanti jalannya ternyata buntu atau kondisinya makin tidak jelas toh tinggal putar balik angkat sepeda saja hehehe…



Ternyata jalan tanah tersebut tembus ke area jalan kecil plesteran yang mengikuti sepanjang aliran sungai tadi, setidaknya aman lah ya kan masih ada jalan, jadi coba ikuti terus saja jalan ini. Ujung dari jalan plesteran ini ternyata mentok di sekitar lokasi pintu air akhir, namun tepat di pintu air tersebut juga ada jembatan atau jalan penghubung untuk menyeberang ke sisi sebelahnya, jadi otomatis saya pun menyeberang lalu kembali ambil arah kiri mengikuti sepanjang aliran sungai sampai akhirnya ternyata jalan kecil ini tembus ke ruas jalan raya aspal utama yang berada di daerah Jejeran, tak jauh dari sekolah dan lapangan yang berada dekat dengan perempatan lampu merah Jejeran Jalan Imogiri Timur, dari sini saya pun sudah langsung hafal dan mengenali arahnya, baiklah kali ini saatnya kembali kearah pulang melalui Jalan Imogiri Timur.



Diperjalanan pulang sempat terbersit ide apa nanti sekalian coba dilewatin kearah Kotagede ya? Paling tidak rutenya kan searah dan sesuai seperti rencana awal hari ini, setidaknya coba untuk memasuki salah satu gang di wilayah Kotagede, dan gang yang paling terkenal adalah lokasi dimana Rumah Pesik berada, baiklan kita coba saja, begitu memasuki area Kotagede saya pun mulai masuk menuju arah Rumah Pesik dan mencoba masuk ke salah satu gang yang menuju ke Omah UGM, dari sana saya mencoba masuk dan mengikuti jalan yang ada saja, dan berputar-putar entah sampai mana, yang pasti karena lebar jalannya cukup sempit sehingga saat berpapasan dengan motor saya terpaksa harus berhenti dan meminggirkan sepeda sampai menempel ke tembok, seru sih tapi cukup ribed, untungnya gowes kali ini saya hanya seorang diri saja, entahlah jika gowes kali ini membawa rombongan, pastinya akan super ribed dan bikin macet hehe… setiap sudut di lorong labirin Kotagede itu menarik untuk dijadikan latar berfoto karena nuansa klasik tempo dulunya masih sangat terasa, deretan pintu dan jendela berarsitektur jaman dulu, tembok-tembok yang retak dan menampilkan batu batanya, semua terlihat sangat estetik sebagai latar berfoto.




Dan begitulah cerita Gowes Wisata hari ini, tanpa tujuan pasti, semua serba spontan (uhuuyy), tanpa campur tangan googlemaps dan aplikasi lainnya, seru dan mengasyikkan, just trust your instinct and let the curiosity be your guide


Sampai jumpa di cerita Gowes Wisata berikutnya

Monday, 26 February 2024

MENCARI RUTE GOWES WISATA BLUSUKAN DARI CANDI SAMBISARI KE BENTENG JOLONTORO

Sabtu, 24 February 2024.

Hai..hai sobat Gowes Wisata, wah tak terasa sebentar lagi di Bulan Maret kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan alias bulan puasa, bagi kalian yang muslim biasanya nih nanti di bulan puasa beberapa dari kita yang melakukan ibadah puasa pasti merubah jadwal gowes rutinnya menjadi sore hari sekalian ngabuburit alias menunggu waktu berbuka, kalaupun ada yang tetap melakukan gowes di pagi hari biasanya jarak tempuh rutenya juga cenderung yang dekat-dekat saja.


Kali ini mumpung belum memasuki awal puasa sepertinya akan seru jika kita mencoba mencari rute gowes wisata yang agak blusukan alias yang meminimalisir penggunaan rute jalan raya utama, selain untuk menghindari lalu-lintas yang semrawut dan berbahaya, dengan melalui rute blusukan ini nilai plusnya adalah kita akan menikmati udara yang lebih bersih atau minim polusi, suasana tenang, serta mendapat bonus view pemandangan indah yang ada disepanjang rute tersebut.



Oya pada pencarian rute ini saya juga sekaligus melakukan tes record rute menggunakan aplikasi strava dan komoot, dengan terlebih dahulu saya menentukan dan mencari destinasi yang seru di hari sebelumnya melalui gmaps, selain itu gowes wisata kali ini juga saya manfaatkan untuk mencoba set-up kendaraan jelajah baru yang “mungkin” kedepannya akan lebih banyak saya gunakan saat mencari rute dan spot-spot baru yang unik dengan kondisi medan yang beragam (sepeda touring dignity velocity sementara di-istirahatkan dulu hehe…)


Baiklah tidak perlu berlama-lagi yuk kita let’s go, titik start pertama supaya lebih mudah akan saya mulai dari lokasi Candi Sambisari menuju ke titik akhir atau tujuan yaitu Benteng Jolontoro. Berdasarkan googlemaps (mode pejalan kaki) jarak tempuhnya sekitar 12km, sedangkan dari basecamp Gowes Wisata menuju ke Candi Sambisari sendiri berjarak sekitar 9km sehingga total jarak tempuh perjalanan ini nantinya dari titik A ke B kurang lebihnya sekitar 21-22km (dengan pertimbangan ada adegan nyasar sedikit), jadi metode recordnya kurang lebih seperti ini, panduan rute awal dari titik A ke B saya buat menggunakan googlemaps mode pejalan kaki, setelah rute terbentuk lalu saya buat beberapa titik cekpointnya di aplikasi komoot supaya saat record nanti hasil file GPX-nya mudah diunduh atau dishare ke device lain yang kompatibel gpsnya misalnya ke cyclocomp garmin, igpsport, atau bryton sehingga jika ada teman kita yang ingin mencoba rute tersebut maka mereka hanya tinggal mengikuti hasil file GPX yang sudah terekam dan terkoneksi ke cyclocomp tersebut, jadi tidak perlu repot membuka smartphone lagi untuk melihat peta online. Sedangkan aplikasi strava saya gunakan untuk me-record total semua jarak tempuh yang saya lalui mulai dari Basecamp Gowes Wisata hingga nanti kembali lagi atau rute loop pulang-pergi secara utuh, dengan kata lain seperti ini :


- Strava = rute loop utuh pulang pergi dari basecamp Gowes Wisata sampai kembali lagi.

- Komoot = saya bagi jadi 2, yang pertama start dari Candi Sambisari menuju Benteng Jolontoro, dan yang kedua dari Benteng Jolontoro menuju Basecamp Gowes Wisata

- Googlemaps = membuat patokan pedoman rute umum mode pejalan kaki dari Candi Sambisari menuju Benteng Jolontoro, walaupun dilapangan nanti pastinya rute ini akan berubah atau saya modifikasi tergantung sekiranya ada jalur lain yang asyik untuk dicoba tetapi tidak terbaca pada maps google.


Saatnya berangkat. Dari pintu gerbang Candi Sambisari kalian tinggal ikuti saja jalan tanah yang ada disisi kanan atau Timur Candi, medannya cukup asyik dan rindang karena banyak pepohonan sampai nantinya kalian bertemu persimpangan jalan aspal, ambil lurus saja, untuk lebih mudahnya kalian bisa ikuti peta atau file gpx yang sudah saya buat.



Nampang dulu sebelum blusukan

Track blusukan pertama

Jika jalur blusukan pertama adalah yang tadi sudah kalian lalui dipinggir area Candi Sambisari, maka track blusukan kedua adalah yang berada di wilayah kalasan sisi utara, medannya bisa kalian lihat dibawah ini, viewnya bagus dan suasananya tenang, tracknya sendiri juga cukup panjang. Ikuti saja jalur ini sampai mentok lalu ambil ke kanan atau Timur, disini rute yang kalian lalui kebanyakan adalah jalan desa sehingga jangan ugal-ugalan ya bersepedanya.









Jika kalian mengikuti peta gpx yang saya buat maka nantinya rute ini akan mengarah ke sisi utara dari Candi Prambanan, kalian akan melewati ex klinik randoegoenting (bisa juga mampir ke bekas cerobong Pabrik gula Randoegoenting jika kalian ingin berwisata sejarah)



Karena kebanyakan rute yang saya pilih dan lalui adalah jalan desa maka maklumi saja jika rutenya banyak belok-belok ya, pokoknya stick on the track/map karena hasil recordnya kebetulan tidak pake nyasar kok hehe…


Hingga akhirnya sampailah kita di Benteng Jolontoro, yang lokasi tepatnya berada di Dusun Padanjero, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.




Bangunan ini sendiri sebenarnya merupakan bekas saluran irigasi yang dibangun pada era kolonial, membentang dari Utara ke Selatan dan dahulu berfungsi untuk mengairi lahan persawahan dan area perkebunan tebu yang mana pada saat itu tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditas yang sangat berharga di pasar Eropa, tebu-tebu itu sendiri nantinya akan dikirim ke Pabrik Gula Gondangwinangoen di daerah Klaten. Di wilyah Yogyakarta sendiri pada masa itu cukup banyak pabrik-pabrik gula yang dibangun oleh kolonial oleh karena itu bangunan saluran irigasi semacam ini juga banyak ditemui dibeberapa pelosok wilayah Jogja, selain Jolontoro ini saluran bekas irigasi lainnya yang masih bisa kita jumpai dan cukup terawat adalah Buk Renteng yang berada di bagian Barat Jogja, tepatnya arah menuju Kulonprogo.




Nama Jolontoro sendiri asal katanya dari bahasa Jawa kuno yaitu “Jaladwara” yang berarti jalan air atau saluran air, seiring waktu dan penggunaan bahasa Jawa modern oleh warga sekitar bangunan ini juga kerap disebut dengan sebutan Plumpung Banyu atau pipa saluran air, dan karena sekilas sisa bangunan ini menyerupai sebuah tembok Benteng yang memiliki banyak gerbang akibat dari fasade lengkungan penopangnya maka akhirnya nama yang lebih populer untuk bangunan ini saat sekarang adalah Benteng Jolontoro.




Dahulu sistem pengairan pada saluran irigasi Benteng Jolontoro ini adalah dengan memompa air dari Kali Randukucir yang berada dibagian selatan Benteng Jolontoro, namun sekitar tahun 1960-an seiring perkembangan zaman dan dengan telah dibuatnya bendungan soronayan di Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo yang berada dibagian Utara Desa Joho dimana secara kontur topografi juga lebih tinggi dari wilayah selatannya maka secara otomatis proses pengaliran air sudah tidak memerlukan pompa lagi, yang mana hal ini juga berarti dapat lebih menghemat biaya pemeliharaan dan perawatan pompa, dan akhirnya saluran air Jolontoro pun tidak difungsikan lagi, keberadaannya yang kini hanya tersisa puing-puing ditengah area persawahan seakan hanya berdiri sebagai saksi bisu sejarah era kolonial dan kejayaan industri gula pada masanya




Walaupun sudah tidak utuh lagi namun keberadaan sisa saluran irigasi ini kini seakan menjelma menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang senang berburu lokasi foto yang unik dan estetik, jika cuaca sedang cerah dan hamparan persawahan sedang menghijau maka kita akan mendapati latar untuk berswafoto yang sangat menarik di lokasi ini. kemegahan sisa reruntuhan Benteng Jolontor yang berpadu secara harmonis dengan area persawahan serta penampakan Gunung Merapi dikejauhan seakan menjadi satu paket komplit sebagai latar belakang atau obyek fotografi.


Usai berfoto-foto mendokumentasikan bangunan Benteng Jolontoro dan beristirahat sejenak kini saatnya melanjutkan perjalanan kembali pulang, nah disini kalian akan menemui dan melalui track terakhir yang cukup panjang dan asyik karena melalui jalur tanah gravel sembari blusukan di jalan desa yang suasananya cukup rindang, cukup ikuti peta gpx hingga nantinya kalian akan keluar di ruas jalan raya utama jogja-klaten, tepatnya bagian Timur dari Candi Prambanan-Plaosan, dari sini kalian bisa memilih untuk kembali ke pusat Kota Jogja melalui ruas Jalan Raya Utama Jogja-Solo, atau melalui Jalan Prambanan-Piyungan.








Saya pun menyempatkan untuk sekedar mampir melewati lokasi Tobong Gamping Pelem Golek yang dahulu pernah saya kunjungi dan ulas, hanya saja saat ini keberadaannya sudah hilang alias sudah dirobohkan, hanya tersisa bagian pondasi dan bagian mulut Tobong saja, entahlah kedepannya area ini akan dibangun menjadi apa.




Dari bekas lokasi Tobong Gamping saya pun melanjutkan mengunjungi Candi Kalasan yang berada tak jauh dari lokasi bekas Tobong ini, cuaca yang sangat panas membuat saya enggan berlama-lama disekitar lokasi Candi Kalasan, setelah mengambil beberapa foto saya pun melanjutkan perjalanan pulang melalui Berbah hingga tembus ke Blok O.



Kurang lebih seperti itulah cerita perjalanan Gowes Wisata kali ini, bagi kalian yang penasaran dan ingin mencoba rute ini maka kalian bisa mem-follow :

- Strava : Gowes Wisata

- Komoot : Gowes Wisata


Kedepannya disetiap petualangan Gowes Wisata saya akan berusaha me-record setiap rute yang dilalui (tergantung kondisi baterai HP juga ya) supaya suatu saat kalian juga bisa mencobanya sendiri, kalian hanya tinggal mendownload file gpx dan menyambungkannya ke cyclocomp gps kalian. Semoga informasi kali ini bermanfaat untuk kalian semua ya, selamat ber-gowes wisata.


Monday, 19 June 2023

WATU NGELAK

Minggu, 18 Juni 2023.

Hai semuanya, tujuan Gowes Wisata minggu ini sebenarnya sudah terlintas sejak kemarin saya selesai mengulas tentang Mbulak Among Tani, jadi begini ceritanya, setelah saya mengunjungi Mbulak Among Tani pada minggu lalu nah sewaktu diperjalanan pulang setelah menyeberangi Jembatan Karangsemut saya melihat ada papan penunjuk arah menuju ke sebuah spot wisata lainnya yang bernama Watu Ngelak, sebenarnya sih bisa saja kemarin saya sekalian mampir dan membuat dokumentasi di tempat ini, namun berhubung saat itu baterai di camera pocket saya sudah lowbat jadinya saya memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan Gowes Wisata berikutnya saja (untuk yang bertanya kan masih ada kamera HP kok ga sekalian? Ya memang indicator baterai di HP memang masih lumayan, namun hasil foto menggunakan kamera hp ketika dipreview melalui laptop ternyata resolusinya tidaklah setajam seperti menggunakan kamera pocket, apalagi jika perbandingannya dengan kualitas hasil kamera DSLR atau Mirrorless), oleh karena itulah pada Hari Minggu ini akhirnya saya kembali melalui rute yang sama namun kali ini menuju ke Watu Ngelak.


Watu Ngelak sendiri tepatnya berada di Desa Wisata Puton, Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, untuk melihat rute lebih jelasnya kalian juga bisa mencarinya via googlemaps dengan keyword “Watu Ngelak”. Patokan termudahnya adalah jika kalian datang dari arah Utara maka sebelum Jembatan Karangsemut ada jalan masuk ke kanan, nah ambil jalan yang aspal mendatar (jangan yang menurun menuju ke Kali Opak), ikuti saja jalan aspal tersebut sampai melewati Gapura Desa Puton, nanti di pertigaan kalian tinggal belok ke kiri, ikuti jalan dan tak berapa lama sampailah kalian di obyek wisata Watu Ngelak.



Watu Ngelak sendiri menurut informasi yang saya dapatkan setelah googling ternyata memiliki nilai sejarah berkaitan dengan jejak sejarah perjalanan Sultan Agung yang berjalan kaki menyusuri Kali Opak sewaktu Beliau hendak menuju ke Laut Selatan (untuk cerita detail mengenai sejarahnya kalian bisa mencari dan membacanya di beberapa media online yang mengulas sejarah tempat ini, sudah banyak yang menulis kisahnya dengan gaya dan susunan kalimat yang sama sehingga akan terkesan copy paste jika saya menuliskannya kembali disini hehe…)



Disini saya hanya akan mengulas potensi wisata yang ada ditempat ini berdasarkan hasil pengamatan saya sebagai pengunjung umum yang datang berkunjung secara langsung. Begitu kalian memasuki spot wisata Watu Ngelak kalian akan langsung memasuki area parkir kendaraan yang cukup luas, di sisi bagian kanan yang dekat dengan gundukan batuan besar kalian juga akan melihat ada semacam panggung yang sepertinya diperuntukkan jika sewaktu-waktu diadakan acara disini. Papan nama tempat ini terlihat butuh penyegaran karena cat pada tulisan yang ada sudah mulai using, begitu pun pada banner informasi yang menceritakan sejarah tempat ini, terlihat sudah terkikis oleh cuaca dan waktu.


Fasilitas pendukung lainnya seperti washtafel untuk cuci tangan, toilet, warung, kursi-kursi kayu, tempat sampah, ayunan juga sudah ada, oya disini belum ada tarif retribusi resmi sehingga untuk masuk masih gratis atau seikhlasnya saja. Dan jika dilihat dari beberapa pengunjung yang datang ke tempat ini sepertinya lokasi ini juga merupakan salah satu spot favorit para pemancing, karena walau hari masih pagi sudah terlihat ada beberapa orang yang datang untuk memancing di spot favorit mereka masing-masing.



Mungkin jika kalian bukan penghobby kegiatan memancing melainkan hanya sebagai wisatawan umum yang datang berkunjung maka spot yang mungkin menjadi favorit untuk berswafoto disini adalah di bagian ujung dermaga, namun untuk mendapatkan hasil foto terbaik akan lebih baik jika berkunjung kesini saat sore hari, sebab jika kalian datang pada pagi hari maka pengambilan foto rasanya akan sedikit sulit untuk dilakukan dikarenakan cahaya matahari yang backlight.




Selain berswafoto di dermaga, aktivitas lainnya yang menarik untuk dilakukan adalah mencoba kegiatan susur sungai menggunakan perahu yang ada dengan tarif sebesar 5 ribu rupiah per orang, nantinya kalian akan diajak berkeliling menyusuri aliran Sungai Opak menggunakan perahu, tak perlu takut sebab saat kalian menaiki perahu kalian juga akan memakai safety jacket untuk keselamatan.


Selebihnya hanya tinggal penataan kembali tempat ini supaya terlihat lebih tertata dan bersih layaknya sebuah obyek wisata lain yang memanfaatkan keindahan pemandangan dan suasana pinggir sungai, selain itu mungkin juga perlu diperhatikan pembuatan pagar pembatas disepanjang pinggir sungai dan penyediaan akses ramp untuk menuju ke Dermaga untuk memudahkan pengunjung yang menggunakan kursi roda, dan jika memang nilai sejarahnya juga ingin diangkat maka sebaiknya dibuat papan informasi berisi cerita sejarahnya serta pemeliharaan tempat sejarah tersebut supaya terlihat menarik dan informatif.




Jika kalian berkunjung kesini jangan lupa tetap jaga kebersihan disekitar lokasi ya dan awasi anggota keluarga kalian terutama yang masih kecil supaya acara wisata kalian bisa tetap berlangsung aman dan ceria, selamat berwisata. 🙂