Showing posts with label Air Terjun. Show all posts
Showing posts with label Air Terjun. Show all posts

Tuesday, 29 October 2024

AIR TERJUN GRENJENGAN KEMBAR

Lanjutan dari postingan sebelumnya (maaf lama baru update ceritanya hehe… 😁)


Setelah selesai trekking tektok dari Gunung Andong dan berhubung waktu masih siang, sepertinya sayang jika perjalanan hari ini hanya selesai disini saja (lebih tepatnya sih sayang dengan biaya sewa kendarannya yang berlaku selama 1 hari full), maka petualangan berikutnya adalah mencari tempat wisata yang lokasinya masih seputaran dekat dengan Gunung Andong dan searah dengan rute kembali ke Jogja, dari hasil penelusuran via googlemaps yang di perbesar sampai maksimal supaya detail, akhirnya pilihan jatuh ke lokasi wisata Air Terjun Grenjengan Kembar, kan kayanya asyik tuh sehabis trekking yang melelahkan langsung lanjut bermain air dengan suasana yang alami.


Lokasi wisata Air Terjun Grenjengan Kembar sendiri tepatnya berada Dusun Citren, Desa Munewarang, Pakis Satap Kragilor, Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah.


Air terjun yang berada di hutan lereng Gunung Merbabu dan masih termasuk dalam bagian kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu ini suasananya terbilang masih alami, dikelilingi oleh deretan pepohonan pinus serta masih belum begitu ramai pengunjung, sayangnya beberapa fasilitas pendukung yang dahulu pernah dibangun kini kondisinya tampak tidak terawat. Oya saat sebelum memasuki rute trekking menuju ke lokasi air terjun ini jika kalian bingung setibanya di parkiran kendaraan (yang berada disamping rumah warga), kalian akan melihat gapura dengan tiga buah pintu gerbang seperti ini



Nah masuklah melalui pintu gerbang yang ada ditengah, karena jika kalian melalui pintu paling kanan yang menanjak itu nantinya akan menuju ke area pemakaman. Setelah masuk melalui pintu gerbang yang ditengah,  rute kalian akan diapit oleh dinding tinggi disisi kiri dan kanan yang ditumbuhi dan tertutup oleh tanaman rambat, saat siang hari suasananya sih cukup keren untuk foto-foto di lorong ini, tapi saat malam hari dan berkabut sepertinya lokasi lorong ini cukup mendukung untuk dijadikan latar film horror hehehe…



Terus saja ikuti jalan setapak sampai menyeberang jembatan, disini suara aliran air sudah mulai terdengar (tapi lokasi air terjunnya sendiri masih cukup jauh, jadi jangan terkecoh, jangan semangat dan tetap putus asa)



Dibeberapa titik rute ini kalian akan melewati deretan pepohonan bambu, awas hati-hati dengan kepala kalian supaya tidak terbentur, disarankan menggunakan sandal gunung atau sepatu kets ya supaya tidak terpeleset saat melewati jalan setapak ini.




Dan akhirnya mulai memasuki wilayah Hutan Pinus, sampai disini artinya lokasi air terjun sudah dekat, ayo semangat



Papan penunjuk selamat datang menuju lokasi air terjun grenjengan kembar yang sudah mulai lapuk


Selamat datang di lokasi wisata Air Terjun Grenjengan Kembar, coba perhatikan sejenak, suasananya benar-benar masih alami kan? Bagi kalian yang ingin berwisata ketempat ini disarankan pada saat peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, karena pada saat itu debit airnya masih cukup banyak dan jernih, jika kalian berkunjung saat musim hujan bisa dipastikan airnya akan meluap dan terlihat butek alias coklat karena adanya unsur tanah yang terbawa oleh aliran air yang cukup deras, begitupun jika kalian berkunjung saat musim kemarau debit airnya akan terlihat kecil, tidak deras dan melimpah.







Air terjun yang berada di ketinggian 1000mdpl ini memiliki beberapa tingkatan, dengan ketinggian tingkatan utama sekitar 12 meter, sayangnya disekitar lokasi ini belum tersedia fasilitas kamar mandi dan warung makanan, sehingga bagi kalian yang ingin bermain air harus pintar-pintar mencari lokasi untuk berganti pakaian.




Sangat menyenangkan dan menenangkan berada disekitar air terjun ini, karena selain bisa bermain air yang jernih dan segar, suasana disekitarnya juga terasa tenang dan damai, mendengar suara deburan air terjun sambil sesekali ditimpali oleh suara khas hewan dari dalam hutan, hawa disini pun terasa adem dan sejuk padahal saat kami berkunjung kesini cuaca di siang hari ini cukup cerah




Walaupun belum ada biaya retribusi dilokasi ini alias masih gratis namun tetap jaga kebersihan dan kelestarian tempat ini ya, jangan membuang sisa sampah makanan kalian secara sembarangan, serta jangan melakukan vandalisme dan tindakan asusila, tetap hargai dan jaga alam sekitarnya, jadilah wisatawan yang cerdas dan bijak karena bagaimanapun kalian juga datang untuk menikmati keindahan tempat ini kan? Oleh karena itu yuk kita jaga bersama keindahan air terjun ini.



Selamat berwisata dan tetap ikuti petualangan Gowes Wisata ya, karena kalian bisa mendapatkan banyak informasi seputar tempat wisata baik yang sedang hits maupun yang tersembunyi disini, follow juga instagram Gowes Wisata untuk untuk mendapatkan informasi terupdate seputar dunia pariwisata Indonesia

Sunday, 31 October 2021

ADA APA SAJA SIH DI SOROGEDUG? (dan sekitarnya)

Minggu, 31 Oktober 2021

Hai hai Sobat Goweswisata 🙂, well postingan kali ini jika dirunut sebenarnya merupakan spin-off petualangan gowes wisata terdahulu sewaktu mencari lokasi Goa Songkurang (yang tidak ketemu karena entahlah yang drop pin di googlemapsnya ternyata tidak akurat).


Jadi begini garis besar cerita petualangan hari ini, ayo cucu-cucu, anak-anak duduk yang rapih, sudah pada mandi kan? Bagus sudah wangy-wangy, simbah akan menceritakan sebuah kisah hehe… Ok, pernah ga sih kalian yang hobby bersepeda ini mengalami sebuah momen disuatu hari dimana kalian ingin bersepeda (terutama saat weekend) tapi bingung mau kemana? Mau ke lokasi yang mana? Pokoknya kalian merasa cuma ingin gowes saja, mengayuh pedal sepeda kalian menjelajah ke lokasi yang entahlah kalian sendiri juga belum tahu atau menentukan maunya kemana kali ini? pasti pernah dong ya (maksa 😅), nah begitupun yang saya rasakan hari ini, di Hari Minggu pagi dengan kisah yang tidak sedih (kata om Koes Plus), tidak terlalu cerah, berawan tapi tidak mendung gelap, ingin gowes tapi bingung mau kemana?.


Karena biasanya saat weekend seperti ini semua spot wisata pasti ruameeenya tumpah-ruah, baik itu pengunjungnya, abang penjaga parkirnya yang cengengesan karena berpikir wah cuan nih rame ajib, bapack-bapack dan ibu-ibu pedagang yang saling berlomba dengan semangat 45 menawarkan dagangannya, serta bocah-bocah yang dengan muka pasrahnya ikut saja (terserah deh orangtua mau ngajak kemana, begitu pikirnya) serta para remaja mas-mas dan mbak-mbak yang selain melihat dan menikmati obyek wisatanya juga dengan cermat saling memperhatikan pengunjung lainnya yang bening-bening (barangkali bisa dapat jodoh sembari berwisata).


Nah masalahnya kriteria spot wisata yang paling saya suka justru kebalikannya, dimana saya lebih suka mencari atau mengunjungi spot yang belum terlalu populer, tidak banyak orang, tempatnya asyik, aman, gratis, sukur-sukur ada warung jajanan, dan kalau bisa ga pake adegan nanjak hehe…😁 dan berdasarkan kriteria tersebut akhirnya saya pun mencoba bersepeda ke arah Timur tepatnya menuju wilayah Sorogedug? Kenapa? Karena sewaktu mencari Goa Songkurang saya sempat melihat ada bangunan-bangunan era kolonial yang terbengkalai dan setelah saya mencari tahu (bukan tempe atau bakwan) ternyata bangunan-bangunan tersebut adalah bagian dari kompleks rumah dinas pegawai Pabrik Tembakau Sorogedug. Bangunan Pabriknya sendiri masih ada dan sepertinya masih beroperasi sampai sekarang, hanya saja bangunan-bangunan rumah dinas pegawainya kini dalam kondisi memprihatinkan, terbengkalai dan rusak, serta ditumbuhi semak belukar dan ilalang yang cukup lebat disekitarnya.



Berdasarkan pengalaman saya biasanya spot-spot seperti itu pasti luput dari tujuan goweser pada umumnya, jadi bisa dipastikan bahwa lokasinya pasti sepi, cerita sejarahnya juga pasti ada seperti yang tadi saya jelaskan diatas, dan kebetulan juga saya belum pernah bersepeda keseputaran wilayah Sorogedug, jadi kira-kira ada apa saja sih di Sorogedug dan sekitarnya? Atau ada apa saja sih disepanjang petualangan kali ini?.


Dari basecamp goweswisata seperti biasa saya melalui rute favorit Blok O dengan pertimbangan tidak terlalu banyak kendaraan dibandingkan jika saya melalui rute jalan Jogja-Solo atau Jalan Jalan Jogja-Piyungan, nah dari sini saja sebenarnya ada beberapa spot wisata yang bisa kalian kunjungi, seperti Pasar Bantengan (disini kalian bisa supply logistik urusan perut supaya tidak kelaparan) kemudian ada situs Goa Seluman (dekat Pasar Bantengan yaitu sebuah pemandian era Kerajaan Mataram sama seperti situs Warungboto), kemudian di Utaranya ada Makam Patih Danuredjan, lanjut ke Timur arah Berbah ada Candi Klodangan yang letaknya tersembunyi dipersawahan, kemudian di pertigaan sebelum Pabrik Rokok kalian bisa kearah Selatan menuju Watu Kapal dan Watu Exotic, namun jika terus menuju ke Timur melewati Pabrik Rokok kalian bisa menuju Wisata Bumi Wangi Karangwetan, atau terus menuju Lava Bantal dan Embung Kalitirto, tak jauh dari sana juga ada wisata sejarah Goa Sentono-Candi Abang- dan Goa Jepang yang lokasinya saling berdekatan.


Setelah melewati Lava bantal dan tugu Bhinneka Tunggal Ika, ditambah sedikit rute belok-belok saya melihat sepertinya ada satu lagi lokasi Desa Wisata yang baru yaitu Desa Wisata Pengklik, namun karena tujuan kali ini (yang baru saja terpikir) adalah Sorogedug maka saya pun meneruskan perjalanan sampai bertemu perempatan bangunan TK-SD Kanisius kemudian ambil arah ke kanan menuju Sorogedug, hingga tibalah saya di depan bangunan Pabrik Tembakau Sorogedug yang  berlokasi di Sorogedug, Nogosari, Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta.



Tampak Pak penjaga Pabrik sedang menikmati sarapan pagi di pos jaganya, saya pun melewati bangunan Pabrik dan menuju deretan bangunan eks rumah dinasnya, setelah mencari spot yang aman untuk sepeda, saya pun mencoba mendokumentasikan suasana salah satu bangunan rumah dinas yang posisinya paling mudah diakses dan tidak terlalu tertutup oleh semak. Memiliki gaya arsitektur kolonial yang diadaptasi sesuai iklim dan budaya disini, bangunan ini sebenarnya cukup asyik jika masih terawat, memiliki teras depan, kemudian ruang tamu, ruang tengah dengan dua ruang kamar disalah satu sisinya, kemudian ruang belakang yang sepertinya diperuntukkan untuk ruang makan dan dapur, lalu ada ruangan lagi (mungkin kamar tidur), kamar mandi yang terletak di bagian luar belakang bersama satu ruang lagi diluarnya (mungkin untuk gudang), dan beberapa kamar mandi kecil yang terletak didekat gudang.







Sayangnya entah mengapa bangunan-bangunan ini kini tidak digunakan lagi, juga tidak direstorasi dan difungsikan atau disewakan, semua deretan bangunan-bangunan rumah dinas ini kondisinya nyaris sama terbengkalai, beberapa bagian atapnya juga miring dan bocor sehingga air hujan bisa masuk dan menggenangi bagian dalam rumah, yang mana semakin mempercepat rusaknya bangunan ini. Tampak juga beberapa warga menggunakan bagian depan teras untuk menyimpan hasil sawah dan beberapa kayu.


Setelah puas berkeliling mengamati kondisi bangunan rumah dinas ini saya pun melanjutkan perjalanan sampai mentok di pertigaan kemudian ambil arah ke kiri (karena kalau kekanan saya sudah pernah sewaktu mencari lokasi Goa Songkurang), setelah belok kiri kemudian ke kanan melewati perkampungan penduduk sampai akhirnya ternyata jalan ini tembusnya ke lokasi yang sama sewaktu saya nyasar mencari Goa Songkurang, ya sudah palimg tidak saya jadi tahu jalan ini tembusnya kemana, dari situ lanjut lagi mencoba menyusuri rute jalan yang belum pernah saya lalui sambil melihat suasana sekitar, melewati makam Sawo dan di pertigaan saya melihat ada papan penunjuk arah menuju Bukit Teletubbies.




Saya sih belum pernah ke Bukit Teletubbies, karena dari namanya saja sudah ketahuan kondisi medan rutenya yaitu bukit = tanjakan, tapi ya sudahlah coba ikuti saja papan penunjuk arahnya barangkali ada spot asik lainnya yang mendadak bisa saya temui disepanjang perjalanan.


Papan penunjuk arah Bukit Teletubbies mengarahkan saya melewati deretan warga yang sedang menggiling padi, tidak hanya satu titik saja, namun hampir disepanjang jalan tersebut dipenuhi warga yang sedang menggiling, menggelar, dan mengikat hasil panennya, setelah melewati mereka saya pun mencari mana papan penunjuk arah Bukit Teletubbies berikutnya, kok penunjuk arah yang ada sekarang berganti menjadi papan penunjuk arah menuju Obelix Hills, sepertinya itu merupakan dua tempat yang berbeda, dari kejauhan pun sebenarnya saya sudah bisa melihat lokasi Obelix Hills, karena tepat di atas bukit yang ada didepan saya ada semacam spot yang colourfull alias ramai, jadi pasti itu yang namanya Obelix Hills, akses menuju ke Obelix Hills sendiri sebenarnya sudah agak tertata, dibagian bawah bukit terdapat area parkir Bus besar untuk kemudian wisatawan bisa berganti menggunakan kendaraan shuttle seperti minibus elf untuk bisa sampai ke lokasi Obelix Hills, karena melihat derajat tanjakan dan lebar jalannya bisa dipastikan bahwa bus besar tidak akan bisa menanjak menuju lokasi.




Sebenarnya melihat tanjakannya sendiri saya sudah rada malas, karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya kriteria spot yang saya suka “kalau bisa” tidak pakai adegan nanjak hehe… Tepat sebelum tanjakan sebenarnya ada papan penunjuk arah menuju beberapa lokasi lainnya seperti Air Terjun Watu Penyu (saya malah baru dengar ada Air Terjun Watu Penyu, sepertinya yang dimaksud adalah Curug Kembar Jurang Gandul) karena saat saya mengecek googlemaps memang disekitar sini ada air terjun musiman namun namanya adalah Curug Kembar Jurang Gandul, kemudian ada situs Langgen, dan terakhir ada Mbelik Pereng.



Melihat nama-nama spot yang ada saya bisa mengira-ngira seperti apa tempatnya, Belik dan Air Terjun pasti merupakan satu kesatuan atau minimal lokasinya satu area, kemudian situs sejarah Langgen pasti suasananya kurang lebih mirip dengan lokasi penemuan situs sejarah lainnya, kalau disuruh memilih sih pastinya saya lebih memilih yang bernuansa alam (dan menghindari tanjakan) jadi saya coba saja deh melihat seperti apa sih Air Terjun Watu Penyu, dan ternyata benar sekali tebakan saya bahwa Air Terjun Watu Penyu sebenarnya adalah Curug Kembar Jurang Gandul, namun menurut warga sekitar kondisi Curug sedang asat karena aliran airnya bersumber dari debit curah hujan, sedangkan musim penghujan juga belum memasuki masa puncaknya, namun kata mereka kalau mau melihat Curugnya dari atas juga bisa, karena kalau dari bawah aksesnya masih sulit karena tidak bisa dilalui dengan sepeda, melainkan harus trekking.


Mendengar kata-kata “kalau mau lihat Curugnya dari atas juga bisa kok mas”, perasaan saya sudah tidak enak karena ini pasti haqul yakin rutenya adalah saya harus melalui tanjakan yang sedari awal sebisa mungkin saya hindari, dan ternyata benar saja rutenya adalah “nanti Mas nya lewat tanjakan yang itu kemudian ikuti jalan yang berbelok ke kanan dan kemudian ke kiri, nanti disisi kanan ada semacam Taman dan angkringan, nah dari situ sudah keliatan kok Curugnya”, huff ya sudahlah ini berarti mau tidak mau saya harus menanjak.



Dengan kombinasi antara gowes ngicik dan dorong akhirnya saya pun sampai juga di Taman yang dimaksud, setelah berbincang dengan Bapak penjaga angkringan saya pun bertanya “tanjakan ini kalau diteruskan sampai kemana Pak?”, “wah ini tembusnya sampai Jalan baru nglanggeran Mas, kalau mau diteruskan sampai poll juga bisa sampai Klaten”, jawab si Bapak, weew ternyata jauh  dan panjang juga ya ni tanjakan.




Setelah beristirahat, akhirnya saya pun memutuskan untuk saatnya kembali pulang karena selain malas meneruskan tanjakan dengan air minum yang sudah tiris, hari ini tujuan saya sebenarnya adalah karena ingin sekedar gowes saja, bukan diniatkan untuk mengeksplor suatu tempat seperti biasa, jadi hari ini sementara cukup sampai disini dulu, apalagi saat ini kalau siang biasanya cuaca di Jogja pasti hujan, jadi sampai bertemu lagi di petualangan berikutnya.



Tuesday, 3 July 2018

CURUG WATU SEWU

01 Juli 2018,
Kali ini petualangan goweswisata.com akan mencoba mengeksplorasi spot-spot wisata yang berada di sisi Selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul. Kira-kira spot wisata seperti apa saja ya yang ada namun belum terlalu populer di Kabupaten ini? yuk sama-sama kita cari tahu, let’s go :)

Sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dari Basecamp goweswisata menuju kearah Selatan melewati Perempatan Terminal Giwangan, dari situ perjalanan kami berdua masih terus menuju kearah Selatan melalui Jalan Imogiri Timur, suasana lalu lintas di sekitar ruas Jalan Imogiri Timur di pagi hari ini seperti biasa cukup padat, selain beberapa kendaraan bermotor milik pribadi Nampak juga beberapa rombongan bus-bus wisata yang mengarah ke Selatan, sepertinya tujuan mereka kalau tidak ke lokasi Makam Raja-raja di Imogiri pasti menuju ke lokasi wisata Kebun Buah Mangunan, sesekali kami juga berpapasan dengan rombongan pesepeda lokal yang melewati rute ini

Dengan kontur jalan yang cenderung lurus dan datar-datar saja maka perjalanan awal ini menjadi cukup mudah dan relatif cepat, entahlah apakah nanti kecepatannya akan sama pada saat pulang hehe…

Oya berdasarkan hasil googling pada malam sebelumnya maka di perjalanan kali ini kami sepakat akan kembali melanjutkan sebuah “perjalanan yang tertunda” beberapa waktu yang lalu, jadi begini kisahnya, sebenarnya sekitar Tahun 2013 lalu kami pernah mendengar jika ada sebuah lokasi air terjun alias Curug disekitar wilayah Imogiri, tepatnya di sekitar wilayah Giriloyo, namun keberadaan dari curug tersebut masih belum jelas dimana lokasi pastinya tetapi ancer-ancernya sih sebagian besar kami sudah mengerti, nah disaat kami sedang blusukan mencari keberadaan Curug tersebut tiba-tiba terjadilah masalah yang tidak diharapkan (ya iyalah mana ada orang yang mengharapkan terjadinya suatu masalah) yaitu rantai sepeda milik Agit tiba-tiba putus dan waktu itu saya juga sedang tidak membawa perlengkapan bengkel darurat, mana itu rantai putusnya pas dimedan menanjak pula, akhirnya demi kebaikan bersama perjalanan kala itu pun terpaksa kami hentikan, tertunda dan sempat terlupakan selama beberapa waktu hingga akhirnya kali ini kami berencana untuk menyelesaikannya

Peta menuju Curug Watu Sewu



Untuk menuju ke Giriloyo sendiri kami kembali melalui rute Jalan Imogiri Timur, nanti selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal belok ke kiri saja (untuk lebih mudahnya, selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal melihat sisi sebelah kiri jalan, nanti ada belokan ke kiri pertama, dari situ sebenarnya kalian juga sudah bisa menuju ke Giriloyo, namun kami memilih untuk belok ke kirinya pada belokan yang kedua dengan pertimbangan rutenya lebih mudah tidak terlalu banyak belok-belok)

Setelah belok kiri di belokan kedua nantinya kalian akan melewati bangunan Pustaka Desa Wukirsari, nah masih terus saja sampai nantinya kalian melihat percabangan jalan seperti ini


Bagi kalian yang kebetulan sedang berwisata dan mencari souvenir khas daerah maka di sekitar lokasi Desa Wisata ini kalian juga bisa sekalian mengunjunginya, disini banyak terdapat showroom maupun workshop tempat pembuatannya lho, barangkali kalian juga tertarik untuk belajar bagaimana cara pembuatannya, tinggal pilih saja mau ke Desa wisata yang mana, apakah ke Desa Wisata Pucung yang terkenal sebagai sentra produksi kerajinan wayang kulit, ataukah menuju ke Desa Wisata Giriloyo yang terkenal sebagai Sentra produksi kerajinan Batik Tulis, tetapi bagi kami berdua secara pribadi sebenarnya tepat dibawah papan petunjuk tersebut ada satu lagi penunjuk arah yang menarik minat kami yaitu adanya tulisan penunjuk arah menuju lokasi air terjun, walaupun disitu tidak ditulis apa nama air terjunnya tetapi sepertinya kali ini kami berada di “jalan yang benar”.

Kami pun kemudian mengambil percabangan jalan yang mengarah ke kanan alias menuju ke lokasi Sentra Batik Tulis Giriloyo, di sepanjang rute ini suasananya syahdu beneeerr, hamparan persawahan yang tersaji disepanjang sisi jalan, sesekali ditimpali kicauan burung yang beterbangan semakin menambah perasaan tenang disaat melalui rute ini


Disini kalian cukup mengikuti jalur aspal utama saja sampai nantinya kalian melewati gerbang masuk Desa Wukirsari, rutenya sedikit menanjak tetapi tidak terlalu ekstrim, dan akhirnya perjalanan kalian menuju ke lokasi air terjun akan semakin mendekat manakala kalian sudah tiba di lokasi Makam Sunan Cirebon (Pasarean Giriloyo) ini, tuh ada papan penunjuk arahnya, sayangnya bagi pengendara kendaraan bermotor roda 4 maka disinilah pemberhentian terakhir kalian untuk mencari lokasi parkir, dari sini kalian harus meneruskannya dengan berjalan kaki sampai menuju ke lokasi Curug atau Air Terjun 1000 Batu, sedangkan bagi pengendara kendaraan roda dua kalian masih bisa meneruskannya sampai ke atas dan memarkir kendaraan kalian di pekarangan rumah warga sekitar yang kini telah difungsikan sebagai lokasi parkir umum


Adegan nanjak dan dorong pastinya tetap ada pada episode kali ini hehe...:D


Dari lokasi parkir kendaraan kalian harus meneruskan sisa perjalanan menuju ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki dikarenakan medannya yang seperti ini, ayo semangat hitung-hitung olahraga sejenak, oya awas terpeleset karena di beberapa titik terdapat area yang sedikit licin.

Kalau kalian melihat percabangan seperti ini ambil yang arah lurus, nanjak


Nanti kalian akan melihat jalur pipa seperti ini, nah ambil arah ke kanan ikuti saja jalur pipanya



Dan akhirnya sampailah kami di lokasi Air Terjun Seribu Batu atau Curug Watu Sewu, dahulu dikenal juga dengan sebutan Curug Cengkehan dikarenakan lokasi Curug ini yang berada di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY


Disekitar lokasi Curug ini banyak terdapat bebatuan berukuran besar yang merupakan bebatuan hasil dari letusan Gunung Api Purba, dan mungkin karena banyaknya bebatuan tersebut pada akhirnya menjadikan lokasi air terjun ini sekarang disebut juga dengan sebutan Air Terjun 1000 Batu

Beberapa bebatuan berukuran besar yang saling bertindihan pada akhirnya menciptakan semacam Gua kecil seperti ini


Untuk menuju ke sumber aliran air terjunnya kita harus melangkah sedikit menuju ke bagian atas


Dan itu dia air terjunnya, aliran airnya tidak begitu deras dikarenakan cuaca yang memasuki musim kemarau, walaupun begitu air terjun ini tidak mengering karena sumber airnya yang berasal dari aliran air sungai



Dengan ketinggian air terjun sekitar 6 meter dan kedalaman pada kolam airnya sekitar sekitar 1 meter sepertinya jika memasuki musim penghujan nanti lokasi ini akan cukup asyik untuk dijadikan lokasi main air



Selain menikmati air terjunnya di sekitar lokasi ini terdapat beberapa spot yang cukup menarik untuk dijadikan lokasi berfoto lho, disini kalian bisa memanfaatkan bebatuan-bebatuan besar yang ada di lokasi ini untuk menciptakan karya fotografi


Sedikit tips bagi kalian yang hendak berwisata ke lokasi air terjun seribu batu ini :

- belum ada angkutan umum yang sampai benar-benar tiba dilokasi ini, sehingga dari Jembatan Karangsemut tadi kalian harus naik
ojek
- lebih baik mengenakan alas kaki berupa sandal gunung atau sepatu kets supaya aman
- membawa makanan dan minuman sendiri karena disekitar lokasi ini minim warung, namun jangan lupa untuk membawa pulang sisa
sampah kalian ya, jangan buang sampah sembarangan
- belum ada fasilitas toilet atau MCK disekitar lokasi, sehingga bagi kalian yang ingin nyebur atau basah-basahan maka kalian
bisa menumpang bilas dan bersih-bersih di kamar mandi milik warga sekitar
- jangan melakukan aksi vandalism yang alay seperti mencorat-coret bebatuan, membuang sampah sembarangan, dan berlaku asusila
ditempat ini
- belum ada biaya retribusi alias masih gratis, satu-satunya retribusi adalah biaya parkir kendaraan seikhlasnya (biasanya sih Rp
1.000,- untuk kendaraan roda dua)
- jangan kemalaman berada di sekitar lokasi ini karena belum ada penerangan disekitar jalur trekking

Nah kira-kira seperti itulah beberapa informasi mengenai lokasi wisata air terjun seribu batu di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kabupaten Bantul ini, semoga bisa membantu kalian semua yang sedang bingung menentukan enaknya ngebolang kemana yang murah meriah

Sampai jumpa di petualangan goweswisata.com berikutnya ya, kalau kalian suka dengan content-content kami maka kalian juga bisa mensubscribenya di akun Facebook Gowes Wisata atau di youtube channel kami :)

Tuesday, 20 March 2018

GROJOKAN LEDOK WARU

Minggu, 18 Maret 2018.
Kali ini tujuan goweswisata.blogspot.co.id adalah mencari curug atau air terjun atau grojokan atau apalah kalian biasa menyebutnya, intinya petualangan kali ini adalah mencari tempat yang bisa untuk bermain air.

Nah mengenai Grojokan Ledok Waru sendiri saya mendapat infonya dari sebuah grup komunitas backpacker yang ada disosial media, walaupun informasi mengenai keberadaan lokasi ini terbilang masih sangat minim, namun setidaknya ada sebuah petunjuk yang membuat perasaan “sepertinya saya tahu deh kira-kira dimana lokasinya” kembali membara, sedikit cluenya adalah tempat ini berada tidak jauh dari Pabrik Gula Gondang Winangun

Alasan lainnya mengapa saya tertarik untuk mencoba mengeksplor tempat ini adalah karena tempat ini memenuhi beberapa kriteria yang saya terapkan untuk bertualang secara santai, antara lain :

1. Tempatnya keren banget tapi belum terlalu populer (jadi kemungkinan besar masih alami)
2. Karena belum populer itulah maka bisa dipastikan jika tempat ini bebas biaya retribusi alias masih gratis
3. Lokasinya berada tidak terlalu jauh dari kediaman saya di Jogja, yaitu sekitar 24km saja
4. Rutenya tergolong mudah dan ga pake adegan nanjak-nanjak segala ayeeyyyy

Nah karena semua kriteria yang saya gunakan tersebut sepertinya terpenuhi maka dari itu Grojokan Ledok Waru here I come… :)

Cara paling mudah untuk menuju ke lokasi Grojokan Ledok Waru adalah jika kalian start dari Kota Jogja maka kalian hanya tinggal melalui jalan raya Jogja-Solo yang menuju kearah timur sampai nantinya kalian tiba di traffic light Pabrik Gula Gondang Winangun, dari traffic light tersebut kemudian kalian tinggal belok ke kiri (Utara), terus saja kira-kira 150 meter nanti ada gang masuk Desa Ledok disisi kanan, masuk saja dan tanya dimanakah lokasi Grojokan Ledok Waru atau Makam Ledok Dusun Gondang, nanti lokasi dari Grojokan Ledok Waru sendiri berada persis dibawah area komplek Makam

Peta menuju lokasi Grojokan Ledok Waru




Untunglah pada petualangan goweswisata.blogspot.co.id kali ini saya menggunakan sepeda lipat, karena untuk turun ke lokasi grojokannya jalurnya masih berupa undakan tangga dari tanah yang licin sehingga sepeda terpaksa harus digotong


Dan akhirnya saatnya menikmati keindahan dari Grojokan Ledok Waru yang berada di Desa Ledok, Kelurahan Gondang, Kecamatan Kebonarum, Klaten




Sepintas karakteristik dari Grojokan Ledok Waru sendiri mirip seperti obyek wisata Blue Lagoon di Sleman dan obyek wisata Lava Bantal di Berbah, karena dengan bentuk grojokannya yang berundak-undak dan memiliki semacam kolam di bagian tengahnya yang bisa dijadikan lokasi terjun bebas menjadikan tempat ini mirip dengan obyek wisata Blue Lagoon, sedangkan dari segi lokasinya yang berada persis dipinggir jalan menjadikan posisinya mirip dengan obyek wisata Lava Bantal, hanya saja secara pribadi saya lebih menyukai Grojokan Ledok Waru dibanding kedua tempat tadi karena disini suasananya masih sangat alami, dan jumlah undakan dari grojokannya sendiri juga lebih banyak dan bervariasi



Dari yang semula hanya saya sendiri yang berada di grojokan ini tak berapa lama kemudian datanglah beberapa warga sekitar yang hendak melakukan kerja bakti untuk membersihkan dan merapikan lokasi sekitar Grojokan Ledok Waru ini.



Menurut penuturan Pak Waluyo dan Pak Kamto yang merupakan warga Desa Ledok, Grojokan Ledok Waru sendiri sebenarnya dulu pernah direncanakan untuk dibuat sebagai lokasi wisata, namun sayangnya sejak tahun 90-an ide tersebut hanya sebatas menjadi wacana saja tanpa pernah direalisasikan, untungnya kini di era sosial media yang serba cepat dan internet yang semakin merata serta masih ditambah lagi dengan adanya kebijakan dari Pihak Pemkot Klaten yang mencanangkan gerakan bahwa setiap desa harus memiliki minimal satu obyek wisata maka Grojokan Ledok Waru pun kini mulai berbenah dan bersiap untuk dipublikasikan secara luas.



Untuk memulai semua itu tentunya dibutuhkan beberapa tahap, salah satu tahap yang sedang dikerjakan saat ini adalah dengan menggandeng pihak tim konsultan yang berasal dari Jogja, Klaten, dan Jakarta. Nantinya setelah semua urusan penataan disekitar lokasi sudah selesai maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab sekitar lokasi Grojokan Ledok Waru sendiri akan diserahkan kepada pihak desa, yang mana nantinya akan diurus bersama oleh warga dan pemuda-pemuda dari tiga desa yaitu Desa Ledok, Desa Karangasem, dan Desa Tegal.

Penataan dan pembangunan infrastruktur pendukung yang akan dilakukan nantinya akan meliputi pembukaan area parkir kendaraan yang rencananya akan dibuat di lokasi tanah kas desa, pelebaran akses jalan masuk supaya mobil dapat masuk (sementara ini bagi wisatawan yang ingin berkunjung dan menggunakan kendaraan roda 4 terpaksa memarkirkan kendaraannya disepanjang sisi jalan), pembuatan gazebo-gazebo dan bangku-bangku, pemasangan tempat sampah, pembuatan jembatan dari bambu, pemasangan pasak-pasak pagar pembatas dari bambu, pembangunan toilet umum dan penitipan barang, serta warung-warung, sementara untuk fasilitas pendukung wisata air ini nantinya bagi para pengunjung dapat menyewa ban-ban pelampung dan menikmati kegiatan susur sungai.




Walaupun nantinya akan dibuat beberapa fasilitas dan infrastruktur pendukung di sekitar lokasi, namun pihak desa meyakinkan bahwa semua pembangunan tersebut tidak akan sampai merusak kealamian Grojokan Ledok Waru, justru dengan menjadikan Grojokan Ledok Waru ini sebagai obyek wisata yang terbuka untuk umum maka secara tidak langsung warganya juga akan belajar beradaptasi dan berkembang menjadi kelompok sadar wisata yang merasa bertanggungjawab untuk terus menjaga kebersihan dan keindahan lokasi ini, sedangkan untuk retribusinya sendiri kemungkinan akan menggunakan karcis parkir untuk menghindari adanya oknum parkir liar, namun pihak desa berjanji untuk sedapat mungkin mengenakan tarif retribusi yang tergolong merakyat dan wajar

Sumber aliran air di Grojokan Ledok Waru sendiri berasal dari mata air yang ada di wilayah sekitar Gunung Merapi sehingga grojokan ini tidak pernah surut atau kering seperti curug-curug atau grojokan lainnya yang mengandalkan debit airnya dari air hujan, jadi bagi kalian yang ingin berwisata ketempat ini tidak perlu takut tidak bisa bermain air karena grojokannya kering, justru disaat musim kemarau biasanya air di Grojokan Ledok Waru ini menjadi jernih, oya kedalaman air disini juga relatif aman kok, bagian terdalam hanya berada disekitar kolam yang berada di undakan tengah dengan kedalaman sekitar 2 meter, selebihnya kedalaman air hanya berkisar sebatas paha orang dewasa saja.



Selain menikmati bermain air, disini kalian juga bisa melihat pemandangan hamparan sawah yang berada persis di sepanjang sisi aliran sungai ini, rencananya nanti dibeberapa titik juga akan ditanami pohon-pohon buah sehingga kalian juga bisa berwisata agro



Bagaimana sekarang bertambah lagi kan pilihan destinasi wisata liburan kalian? Jadi kapan kalian berkunjung ke Grojokan Ledok Waru? Kalau kalian berwisata kesini tetap ingat untuk menjaga kebersihan tempat ini ya, karena belum ada tong sampah di sekitar lokasi maka lebih baik kalian membawa plastik sendiri untuk mengumpulkan sisa sampah kalian dan membuangnya di tong sampah yang berada tidak jauh dari area makam, serta jangan merusak, mencorat-coret, dan melakukan perbuatan vandalisme lainnya ya, karena kalian datang untuk menikmati keindahannya maka alangkah lebih kerennya jika kalian pun bisa tetap menjaga keindahan tempat ini supaya semua bisa sama-sama menikmatinya