Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Tuesday, 7 November 2017

CHAPTER 18; SAYONARA PULAU BALI

Selasa, 12 Januari 2016
Tak terasa hari ini tepat 10 hari sudah kami berada di Pulau Bali, semenjak kami mulai menapakkan kaki di Pelabuhan Gilimanuk dan mulai menyusuri rute Selatan Pulau Bali banyak hal-hal dan pengalaman baru yang telah kami dapatkan, mulai dari keunikan budaya masyarakatnya, pemandangan indah yang kami lihat di sepanjang rute perjalanan ini, mencicipi sajian kuliner tradisionalnya, mencoba berbaur dengan pola aktivitas masyarakat setempat hingga rasa bingung kami ketika beradaptasi dengan perpindahan zona waktu dari WIB ke WITA, kini waktunya bagi kami untuk mulai melanjutkan lagi petualangan goweswisata.blogspot.co.id ini

Tujuan kami berikutnya adalah terus menuju kearah Timur, sekuat dan sesampainya , yup kami memang tidak mematokkan target pencapaian apapun karena bagi kami berdua inti kesenangan dari petualangan ini adalah apa yang kami alami di sepanjang perjalanan ini, the joy of the adventure is in the journey it self, yang terpenting adalah kami terus bergerak maju, walaupun perlahan tetapi perjalanan ini terus berlanjut

Mengawali start dari Kota Denpasar dengan kondisi badan yang sebenarnya kurang fit dikarenakan tidak kondusifnya zona istirahat yang kami gunakan (tetapi bagaimanapun juga kami tetap berterimakasih kepada Bli Krisna dan Keluarga yang berkenan membuka rumahnya bagi musafir seperti kami berdua :)) tetapi apapun itu pada akhirnya menjadi pengalaman dan membuka pikiran kami jika kedepannya nanti kami kembali membuka rumah singgah yang diperuntukkan bagi para petualang setidaknya kami juga harus mencoba ruang yang diperuntukkan bagi para guest tersebut, karena dengan mencobanya sendiri secara langsung maka kami dapat merasakan apakah kami merasa nyaman untuk beristirahat di dalam ruangan tersebut atau tidak, dititik ini kami kembali mendapat pelajaran bahwa untuk menjadi seorang host atau tuan rumah sebuah rumah singgah itu ternyata tidak mudah, ada tanggungjawab diposisi tersebut untuk memastikan jika mereka yang singgah akan kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan kondisi badan yang setidaknya lebih bugar daripada sebelumnya, karena bukankah inti dari sebuah rumah singgah adalah sebagai tempat persinggahan sementara bagi mereka-mereka yang sedang dalam perjalanan, bagi mereka-mereka para musafir yang sedang kelelahan dan membutuhkan sebuah tempat dimana mereka bisa beristirahat dan me-recovery stamina fisiknya supaya kembali bugar sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, dengan kata lain untuk menjadi tuan rumah atau seseorang yang berniat membuka rumahnya sebagai rumah singgah juga harus mempertimbangkan beberapa faktor, dikarenakan niat saja belumlah cukup, dan bukan berarti hanya karena seseorang memiliki ruang kosong dirumahnya maka sudah cukup untuk dijadikan sebuah tempat singgah, seseorang yang benar-benar ingin menjadi host tentunya akan belajar untuk memposisikan dirinya sebagai seorang guest terlebih dahulu sebelum ia pada akhirnya yakin untuk membuka rumahnya menjadi sebuah tempat singgah yang layak (sirkulasi udara yang baik dan kebutuhan air bersih yang cukup)

Setelah berpamitan kepada keluarga Bli Krisna kami kemudian mulai menyusuri ruas jalan Kota Denpasar di pagi hari yang seperti biasa dipadati oleh kendaraan bermotor yang saling “memamerkan” suara klakson kendaraannya masing-masing, berdasarkan peta yang saya pelajari semalam maka kami mengambil rute melalui ruas jalan propinsi menuju Pelabuhan Padangbai.

Cuaca yang cerah dan cenderung panas terik membuat kami mengayuh secara perlahan saja namun konstan untuk menghemat stamina, di sepanjang ruas jalan propinsi ini kondisi lalu lintasnya juga tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan kondisi lalu lintas di Kota Denpasar, beberapa papan penunjuk arah menuju lokasi-lokasi wisata juga banyak kami jumpai di sepanjang rute ini



Namun berkat sinar matahari yang terik hingga membuat kami berkeringat inilah kondisi badan kami yang awalnya kurang fit pada akhirnya justru perlahan mulai membaik, sepertinya racun-racun yang ada di tubuh turut keluar bersamaan dengan keringat, setidaknya hal ini merupakan awal perjalanan yang baik

Dengan rute yang cenderung lurus dan datar serta diterpa panasnya cuaca bali membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari mencari warung yang menjual makanan. Ketika sedang beristirahat makan siang beberapa kali kami sempat melihat penampakan petouring bersepeda lainnya (sepertinya petouring mancanegara) yang datang dari arah berlawanan dengan kami, tampaknya rute mereka dari Pulau Lombok dan setibanya di Pulau Bali mereka menuju kearah Barat. Salah seorang pengunjung warung makan ini sempat bertanya kepada kami berdua darimana asal kami dan hendak menuju kemana, ia juga bertanya kepada kami sudah berapa lama kami bertualang, sambil berbincang-bincang saya juga sekalian bertanya seputar rute menuju ke Pelabuhan Padangbai sekiranya masih jauh atau sudah dekat, setidaknya dengan begini saya juga jadi bisa mengatur manajemen waktu perjalanan

Setelah selesai makan dan ketika kami hendak melanjutkan perjalanan, bapak-bapak yang tadi berbincang dengan kami tiba-tiba memanggil dan membelikan kami dua buah botol air mineral berukuran 1,5liter sebagai bekal untuk perjalanan kami nantinya, ia juga berpesan untuk tetap hati-hati dan semoga selamat sampai di tujuan, terimakasih Pak :), terkadang hal-hal seperti inilah yang membuat perjalanan ini menjadi menarik, karena disini kita bisa melihat dan membuktikan sendiri secara langsung bahwa rasa kemanusiaan itu masih ada tanpa harus membeda-bedakan suku, agama dan ras, bahwa untuk menolong seseorang tidak selalu dibutuhkan alasan bukan? Help other peoples just because you want to, karena ketika kita menolong seseorang dikarenakan kita mengharapkan imbalan maka itu bukanlah suatu pertolongan melainkan sebuah bisnis

Sedikit demi sedikit akhirnya kayuhan ini semakin membawa kami mendekati Pelabuhan Padangbai, sebelum kami benar-benar sampai ke Pelabuhan dan mulai menyeberang ke Pulau Lombok kami memutuskan untuk membeli beberapa bekal perjalanan di sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari papan penunjuk arah menuju Pelabuhan Padangbai, dan disini pula kami menemui kejadian menarik lainnya yaitu ketika kami sedang memarkirkan sepeda-sepeda kami bersender ke tembok parkiran tiba-tiba ada salah seorang wisatawan mancanegara (bernama Sorin Mitrea) yang menghampiri kami berdua dengan penuh rasa senang,” hi Hello sorry do you speak bahasa?”, tanyanya kepada kami, “hi there, ya we speak bahasa and we can also speak English too, how are you?”, jawab saya, akhirnya saya pun berbincang-bincang dengannya sembari menunggu Agit yang sedang berbelanja bekal di dalam minimarket tersebut. Sorin bertanya apakah kami sedang melakukan perjalanan bersepeda, darimana asal kami, hendak menuju kemana, dan sudah berapa hari perjalanan,ternyata ia baru saja dari selesai berwisata ala backpackeran di Pulau Lombok, ia juga memberitahu kepada kami beberapa spot yang menurutnya luar biasa indah di Pulau Lombok (sembari mendengarkan penjelasannya terkadang saya berpikir kenapa justru mayoritas orang yang saya temui yang benar-benar menjelajah keindahan alam Indonesia dan keunikan budayanya justru adalah mereka yang berasal dari mancanegara, justru mereka-mereka inilah yang notabene bukan orang Indonesia justru tahu lebih banyak keunikan dan keindahan negeri ini lengkap dengan detail-detail perjalanan yang kebanyakan wisatawan domestic justru luput atau mengabaikannya) mungkin benar juga seperti salah satu quotes yang pernah saya baca bahwa ketika kita melakukan sebuah perjalanan atau petualangan ke sebuah tempat maka lihatlah tempat tersebut dari sudut pandang orang yang baru pertama kali berkunjung ke tempat itu maka disitulah kita akan melihat keindahan dan keunikan detail tempat tersebut, “if we all could see the world through the eyes of a child, we could see the magic in everything”.

Setelah Agit selesai berbelanja, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Pelabuhan Padangbai, Sorin pun juga berpamitan, ia hendak melanjutkan perjalanannya mengeksplor keindahan Pulau Bali, walaupun gaya perjalanan kami dan Sorin berbeda namun pada dasarnya tujuan kita semua adalah sama yaitu menikmati hidup dan menciptakan kenangan indah yang tertulis dalam buku kehidupan kita masing-masing, well goodbye my friend hope you enjoyed our country

“Aduuhhh, panas banget ini sadel”, kata saya spontan ketika hendak mulai mengayuh sepeda, padahal sepertinya cuma berhenti di parkiran 15 menit saja, dan sepertinya terik matahari di Pulau Bali terutama yang mendekati Pelabuhan Padangbai ini memang benar-benar panas luar biasa karena ketika saya melihat kearah cyclocomp cateye velo 7 saya tampaklah di bagian layarnya tiba-tiba menghitam, gosong kepanasan, nah lho, akhirnya saya pun melepas cyclocomp tersebut dan menaruhnya di dalam handlebar bag, dan tidak hanya sadel serta cyclocomp saja yang panas, karena ketika kami berhenti di traffic light pun ternyata bagian top tube juga terasa panas sekali, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan (ban bocor karena memuai) akhirnya kami pun sepakat untuk beristirahat dan berteduh dulu di bawah sebuah pohon besar sekalian mendinginkan sepeda-sepeda kami, sambil berteduh kami pun memeriksa sepeda-sepeda untuk melihat bagian mana saja yang terasa overheat, dan ternyata di bagian dalam handlebar milik agit memakan korban dari efek panasnya sinar matahari yaitu lipstiknya yang meleleh, nah kalian kira-kira saja seperti apa panasnya cuaca di sepanjang rute ini hehe…

Setelah dirasa cukup beristirahat dan sepeda juga sudah tidak terlalu panas lagi kami pun melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba juga di Pelabuhan Padangbai



Setelah membeli tiket di loket sebesar Rp 63.000,- per sepeda (sudah termasuk orangnya) kami pun menuju ke kapal ferry yang menuju Pulau Lombok, estimasi waktu tempuh penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai menuju Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok kira-kira sekitar 4 jam, di dalam kapal sepeda-sepeda kami senderkan di bagian pojok dekat dengan kamar mandi awak kabin, sedangkan kami berdua naik dan berkeliling ke bagian atas kapal


Sembari menunggu kapal berangkat kami pun berkeliling di bagian ruang penumpang dan melihat keindahan pemandangan di sekitar Pelabuhan Padangbai ini, walaupun biasanya kata-kata “Pelabuhan” cenderung berkonotasi dengan pantai yang jelek, laut yang kotor, dan segala macam keluhan lainnya namun hal ini tidak terdapat di sekitar Pelabuhan Padangbai, karena disini air lautnya justru terlihat bagus dan bergradasi, pemandangan sekitar Pelabuhan juga menarik, bahkan Pelabuhannya sendiri juga cukup bersih



Dan akhirnya sekitar pukul 2 siang kapal ferry yang kami naiki pun perlahan mulai berlayar meninggalkan Pulau Bali menuju ke Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok. Sayonara Pulau Bali semoga suatu saat nanti kami berkesempatan untuk kembali lagi mengeksplorasi sisi lain keindahan Pulau Dewata ini. Dan perjalanan petualangan goweswisata.blogspot.co.id ini pun kembali membuka chapter baru berikutnya dengan semakin menjauh menuju kearah Timur bagian Indonesia





Ini kedua kalinya kami melakukan penyeberangan menggunakan kapal ferry setelah sebelumnya kami menyeberang dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju ke Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali, kali ini suasana di dalam ruang tunggu penumpang tidak terlalu ramai jika dibandingkan saat kami menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali, oya disini kami juga ingin menyampaikan tips bagi kalian yang juga baru pertama kali menyeberang menggunakan kapal ferry, yaitu jika kalian melihat di bagian dalam kapal (dekat dengan ruang tunggu penumpang) ada sebuah ruangan yang berisi matras-matras senam, dan banyak orang atau penumpang lain yang terlihat tidur atau beristirahat menggunakan matras tersebut maka bacalah ini baik-baik, bahwa matras tersebut tidak disediakan secara gratis sebagai fasilitas untuk penumpang, yup itu artinya jika kalian ingin leha-leha tidur menggunakan matras-matras tersebut maka kalian harus merogoh kocek dan membayar sebesar 35 ribu rupiah per matras, dan sialnya bagi kalian yang belum tahu adalah tidak ada keterangan informasi apapun yang bertuliskan sewa matras tersebut, sehingga mungkin kalian akan menyangka bahwa matras tersebut disediakan secara gratis, bahkan saat kalian masuk ke ruangan tersebut pun tidak ada petugas yang memberitahu seputar “penyewaan” tersebut, nah barulah saat kalian menduduki matras tersebut sekonyong-konyong langsung deh ada orang yang menagih bayaran sewa matras tersebut, kan kampret namanya (bagi musafir gembel seperti kami rasanya uang 35 ribu rupiah lebih baik untuk beli makan)

Semakin mendekati Pulau Lombok cuaca mulai berubah menjadi mendung, kontras sekali jika diingat-ingat bahwa sebelumnya kami tersiksa dengan panasnya terik matahari di dekat Pelabuhan Padangbai kini cuaca mendadak menjadi mendung seperti mau hujan


Dan akhirnya di kejauhan mulai terlihat penampakan Pulau Lombok dan Pelabuhan Lembar, waktu sudah beranjak sore hari ketika perlahan kapal ferry ini mulai mendekati Pelabuhan Lembar, nampaknya kami harus sesegera mungkin membuat strategi untuk menemukan dimana tempat kami akan beristirahat malam ini, terlebih sepertinya tak lama lagi hujan akan segera turun





Segera setelah kapal merapat ke dermaga Pelabuhan Lembar dan kendaraan-kendaraan penumpang mulai bergerak keluar dari kapal, kami pun bergegas keluar dan mencari mushalla di area Pelabuhan Lembar, setelah selesai ibadah dan sedikit bersih-bersih kami pun mulai bergerak keluar dari area Pelabuhan Lembar, mendung semakin pekat menggelayut, tampaknya kami juga harus bergerak cepat mencari tempat untuk beristirahat sebelum kemalaman dan hujan


Walaupun terdengar sepele namun ada beberapa fenomena unik yang kami perhatikan sejak kami memulai perjalanan ini yaitu jika di Pulau Jawa banyak terdapat minimarket-minimarket modern seperti indomart dan alfamart yang biasanya selalu bersebelahan dan terhampar dimana-mana (bahkan di komplek perumahan saja ada), maka sepertinya semakin menuju kearah Timur ini keberadaan indomart semakin menghilang, dan berganti dengan hanya ada alfamart saja, begitupun dengan dunia perbankan, dimana jika di kota-kota besar mudah ditemukan atm dari 4 bank besar (BRI, BNI46, Mandiri, BCA) maka semakin kalian menjauh dari kota besar terlebih jika menuju kearah Timur maka atm yang paling banyak dijumpai adalah milik BNI46, kemudian BRI, lalu Mandiri, jangan harap ada BCA kecuali di bagian kotanya, sepertinya bank yang satu ini ogah berinvestasi di luar wilayah perkotaan (kalau kalian hanya mengandalkan atm 1 buah bank saja maka silahkan mumet, solusinya paling gunakan atm bersama).

Sejak keluar dari area Pelabuhan Lembar sebenarnya kami sempat melihat ada sebuah penginapan seperti losmen, namun karena saat itu jaraknya terbilang masih relatif dekat dari area Pelabuhan dan waktu juga masih sore maka yang terpikir dibenak kami adalah mencoba untuk terus maju menuju kearah Kota Mataram untuk selanjutnya mencari penginapan di sekitar daerah dekat bagian kotanya, namun ternyata tiba-tiba hujan mulai turun dan di sepanjang perjalanan kami tidak menjumpai ada bangunan penginapan lagi padahal jarak masih lumayan jauh (ok berarti pelajaran hari ini adalah jangan menunda-nunda kalau sedang bertualang, kalau sekiranya cuaca kurang bagus dan jarak ke tempat tujuan masih jauh maka begitu ada penginapan lebih baik langsung stop saja disitu baru kemudian besok lanjut lagi), akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dibawah derasnya guyuran hujan (setelah siangnya gowes panas-panasan, kini malamnya kami gowes hujan-hujanan), rute yang kami lalui terhitung cukup lengang dan minim penerangan, ditambah lagi hujan yang turun kali ini juga terhitung cukup deras sampai menyebabkan terjadi banjir di beberapa titik sehingga kami harus ekstra berhati-hati.

Ketika kami meminta ijin untuk bermalam di sebuah pos polisi ternyata jawaban dan kasusnya hampir sama dengan yang terjadi di daerah Wongsorejo, Jawa Timur, yah kami pun sudah hafal walaupun para petugas kepolisian tersebut berdalih macam-macam dengan mengatakan tinggal sedikit lagi jaraknya menuju ke Mataram (iya deket kalau naik kendaraan bermotor) intinya hanya mereka tidak mau repot, oleh karena itulah kami pun akhirnya memaksakan untuk meneruskan perjalanan menuju ke Kota Mataram dibawah derasnya guyuran hujan dan gelapnya malam, sampai akhirnya setibanya di pinggir kota (karena sepertinya daerah ini mulai terasa nuansa kota) saya melihat ada papan penanda sebuah tempat penginapan, ya sudahlah di coba saja terlebih karena ini sudah malam, hujan, dingin, ditambah kami kebasahan dan kelaparan, maka satu-satunya prioritas kami saat ini adalah mencari tempat bermalam dan tempat makan, semoga budgetnya masih ramah di kantong.

Setelah bertanya apakah masih ada kamar kosong dan berapa biaya sewa permalamnya, akhirnya kami pun sepakat untuk bermalam di tempat ini yaitu Hotel Kubayan, sebuah penginapan sederhana (walaupun namanya pakai kata “hotel”) dengan tarif 150rb/malam dengan fasilitas, ranjang double, kamar mandi dalam, TV, dan AC (tidak dapat sarapan), yah setidaknya cukup masuk dengan budget kami. Setelah meng-unpacking semua pannier ke dalam kamar dan bersih-bersih kini saatnya mencari makan malam (akhirnya setelah berjalan kaki ke depan mencari tukang makanan, satu-satunya yang kami temui adalah penjual nasi goreng ayam yang harganya hampir seperti harga resto, heran apanya sih yang bikin mahal perasaan rasanya juga tidak istimewa, porsinya juga standar, masih lebih enakan nasi goreng di daerah Rawamangun Jakarta Timur), tapi daripada kelaparan akhirnya kami pun memesan hanya sepiring saja kemudian dibagi dua, yang penting setelah ini tinggal tidur atau cemilin roti, dan besoknya baru cari makan lagi sambil menjelajahi Pulau 1000 Masjid ini, apa yang akan terjadi di petualangan berikutnya, tetap ikuti kisah petualangan kami ya

Pengeluaran Hari ini :

- 2 porsi makan siang nasi campur+es teh = Rp 30.000,-
- belanja indomart = Rp 9.200,-
- 2 tiket ferry Padangbai-Lembar = Rp 126.000,-
- sewa matras = Rp 35.000,-
- makan malam = Rp 24.000,-
- penginapan hotel kubayan = Rp 150.000,-/malam

Total = Rp 374.200,-

Total jarak tempuh hari ini : 65km

Tuesday, 24 October 2017

CHAPTER 17; GWK-TANJUNG BENOA

Sabtu, 9 Januari 2016
Setelah pada hari sebelumnya kami bersepeda keliling kota secara singkat sambil memetakan pola orientasi kota dan lokasi-lokasi obyek wisatanya maka dihari kedua di Denpasar ini kami memutuskan untuk sejenak off from the bicycle dan memilih untuk berwisata dengan menggunakan moda transportasi umum yang ada di Bali (sesekali menikmati menjadi turis hehe…).

Sebelumnya kami telah diberitahu oleh Bli Krisna bahwa di Bali (Denpasar) ada bus seperti trans jakarta atau trans jogja, masyarakat sekitar biasa menyebutnya bus sarbagita, bus dengan warna biru ini memiliki beberapa shelter pemberhentian, mirip sekali dengan trans jogja, bahkan ukuran busnya juga sama, sayangnya jumlah armadanya masih sangat sedikit (mungkin juga karena mayoritas warga Bali lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil). Sehingga walaupun hari ini adalah hari sabtu atau weekend namun jumlah penumpang yang menggunakan bus sarbagita tetap saja sangat sedikit, alasan lain mengapa masyarakat Bali enggan menggunakan bus sarbagita ini menurut kami adalah karena sistem pembayarannya yang tidak efektif, sistem pembayaran bus sarbagita ini masih belum menggunakan kartu yang terintegrasi untuk semua trayeknya sehingga setiap kali kita berganti shelter atau ketika turun dari bus dan menunggu di shelternya untuk berganti bus sarbagita trayek lainnya maka kita harus membayar lagi, sistem yang sedikit-sedikit harus bayar lagi ini lah yang membuat pengeluaran biaya transport menjadi lebih mahal, seandainya saja sistemnya dibuat seperti trans jogja yang menggunakan kartu terintegrasi dan kita hanya membayar sekali saja termasuk untuk berpindah trayek bus asalkan kita tidak keluar dari shelternya (keluar dari shelter pun terkadang tidak apa-apa, misalnya untuk ke toilet atau beli minum lalu kemudian kembali lagi ke shelter, itupun petugas jaganya masih memaklumi dan mengizinkan) mungkin masyarakat Bali akan beralih menggunakan bus sarbagita ini daripada harus terjebak kemacetan dengan kendaraan pribadinya masing-masing


Kali ini bus sarbagita yang kami naiki mengarah langsung ke GWK (Garuda Wisnu Kencana) yaitu sebuah monumen berbentuk patung berukuran raksasa yang menggambarkan sosok Dewa Wisnu sedang menunggangi burung Garuda, jika pembuatannya sudah selesai maka ukuran patung ini digadang-gadang akan mengalahkan patung liberty di Amerika, namun hingga saat ini pembuatannya belum rampung juga. Selain melihat patung Garuda Wisnu Kencana tersebut para pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali yang digelar di panggung yang ada disekitar lokasi patung



Satu hal yang membuat kami mengurungkan niat untuk masuk melihat patung GWK berukuran raksasa serta menyaksikan pementasan tari tradisional tersebut adalah selain patungnya juga belum jadi, juga dikarenakan faktor harga tiket masuknya, maklumlah bagi kami berdua harga tiket masuknya lumayan mahal sedangkan perjalanan kami juga masih panjang, masih banyak tempat-tempat yang kami tuju dan tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itulah kami menggunakan skala prioritas dalam mengatur dan mengalokasikan budget anggaran perjalanan ini, rasanya sayang untuk mengeluarkan biaya yang tergolong besar hanya untuk melihat sesuatu yang merupakan buatan manusia sedangkan masih banyak obyek wisata lainnya yang bisa kami kunjungi dengan biaya yang jauh lebih murah, beberapa bahkan gratis


Harga tiket masuk GWK per Januari 2016

Lokal dewasa : Rp 60.000,-
Lokal anak-anak : Rp 50.000,-

Asing dewasa/anak : Rp 100.000,-



Dan jika kalian ingin menggunakan latar patung GWK atau menyewa lokasi tersebut untuk pemotretan profesional maka kalian akan dikenakan biaya tambahan lagi, tetapi walaupun kami tidak jadi masuk dan melihat patung GWK tersebut secara langsung, kami tetap dapat berfoto dengan miniatur patung tersebut yang berada tidak jauh dari gerbang masuk (tak ada rotan akar pun jadi :))



Selepas dari GWK kami pun berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan feeder sarbagita (sejenis mobil Elf berwarna silver) yang mempunyai 2 trayek, yaitu menuju Tanjung Benoa, dan trayek satu lagi menuju Uluwatu, kami pun memilih untuk pergi ke Tanjung Benoa saja yang akhir-akhir ini sempat menjadi heboh dengan proyek reklamasi pantainya yang kontroversial karena mendapat tentangan dari para aktivis lingkungan. Dengan harga tiket angkot sebesar 3ribu rupiah per orang dan hanya kami berdua saja yang menjadi penumpangnya maka perjalanan kali ini serasa sedang naik angkutan travel pribadi hehe... kontur jalan yang naik turun dan seperti biasa dengan cuaca Bali yang sangat panas membuat kami bersyukur bahwa hari ini kami mengambil keputusan untuk berkeliling dengan menggunakan moda transportasi umum dan bukannya bersepeda


Sesampainya di Tanjung Benoa kami kemudian diturunkan dekat dengan Pantai Pandawa, pantai ini penuh dengan perahu-perahu milik warga lokal yang disewakan untuk berkeliling, beberapa dari mereka juga menawarkan kepada kami untuk ke pulau penyu dengan tarif 150ribu rupiah, dan tak hanya itu saja, disini kalian juga bisa menyewa motor boat atau sekedar berekreasi sambil naik banana boat, bagi yang ingin berlibur ke Tanjung Benoa dengan budget yang memadai jangan kuatir ada banyak penginapan disini (tetapi kebanyakan adalah Hotel bintang 3 keatas hehe...) sedangkan alfamart dan indomart juga cukup banyak disini





Akhirnya kami pun hanya berjalan kaki menyusuri bibir pantai Tanjung Benoa, kami tidak menyewa perahu untuk berkeliling ataupun pergi ke pulau penyu, selain karena faktor budget tadi juga karena kami kuatir jika kesorean dan angkot feeder sudah tidak ada lagi, karena jika angkot feeder sudah tidak ada maka opsi satu-satunya untuk kembali ke Denpasar hanyalah dengan menggunakan taksi yang biayanya sudah pasti mahal, oleh karena itu begitu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore kami pun bergegas untuk segera mencari dan menunggu angkutan feeder sarbagita tersebut, dan ternyata saat pulang kami pun kembali naik angkot feeder dengan supir yang sama seperti saat berangkat (supir angkotnya mikir kali ya ni orang-orang cepet amat maen di pantainya)

Dengan rute yang sama seperti saat kami berangkat, kini kami pun kembali berganti angkutan setibanya di GWK, dan mulai menunggu bus sarbagita untuk nantinya kami akan turun di alun-alun nol km lagi, setidaknya kini kami jadi merasakan dan tahu mengapa sangat sedikit warga Bali yang menggunakan moda transportasi umum dan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing, problem yang sama juga terjadi hampir diseluruh kota-kota besar lainnya di Indonesia, selain karena masih minimnya jumlah armada transportasi umum, daya jangkaunya yang belum merata, juga karena jam operasionalnya yang terbatas, sehingga ketidakpuasan masyarakat pengguna moda tranportasi umum itulah yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh beberapa pihak dengan menyediakan fasilitas kredit dan rental kendaraan dengan harga yang murah sehingga “dagangan” mereka laris manis, sedangkan dari sisi konsumen pada akhirnya mereka hanya menikmati kenyamanan semu dikarenakan mereka sendiri justru terjebak dengan tagihan bunga kredit, biaya operasional perawatan kendaraan dan kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan dari lingkaran roda permasalahan sistem transportasi seperti ini, entahlah apakah mereka menyadarinya atau tidak tetapi hal-hal seperti itu kini perlahan mulai merubah wajah Bali terutama bagian kotanya menjadi kota dengan lalu lintas yang semrawut dan semakin macet dari tahun ke tahun.

Pengeluaran hari ini :

- 2 botol air 1,5L = Rp 7.000,-
- 5 botol teh javana = Rp 15.000,-
- belanja swalayan tiara = Rp 31.500,-
- transport bus sarbagita kota-GWK = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi campur + es batu = Rp 13.000,-
- transport feeder GWK-Tanjung Benoa pp = Rp 12.000,-
- transport bus sarbagita GWK-Kota = Rp 7.000,-
- 2 porsi nasi+tempe orek+kentang = Rp 14.000,-

Total = Rp 113.500,-

Tuesday, 10 October 2017

CHAPTER 16; KETIKA TRADISIONAL DAN MODERN BERTEMU

Jumat, 8 Januari 2016
Selamat Pagi Kota Denpasar :) Akhirnya sampai juga kami di Kota ini, huff… siapa sangka jika petualangan yang awalnya hanya berupa sebuah ide gila ini pada akhirnya bisa terealisasi juga, bagi kami berdua hal ini terasa lebih istimewa lagi dikarenakan pada dasarnya kami berdua bukanlah seorang pesepeda touring yang kawakan, yah setidaknya hal ini membuktikan bahwa petualangan seperti ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh siapa saja selama ada niat, semangat, kemauan untuk terus belajar, dan usaha yang konsisten untuk mewujudkannya (faktor dana tentunya juga akan menentukan namun hal tersebut bersifat relatif karena tergantung bagaimana kita mengaturnya sesuai gaya perjalanan kita masing-masing).

Baiklah karena hari ini merupakan hari pertama kami berada di Kota Denpasar maka kami pikir lebih baik hari ini kami manfaatkan dengan bersepeda keliling kota saja dulu, ada beberapa alasan mengapa kami memilih untuk bersepeda keliling kota di hari pertama ini, antara lain karena hari ini merupakan Hari Jumat maka bagi saya pribadi tentunya waktu akan terpotong di siang hari untuk melakukan Ibadah Sholat Jumat, selain itu dengan bersepeda keliling kota setidaknya saya dapat belajar memetakan orientasi bentuk kotanya secara fleksibel tanpa bergantung kepada sarana transportasi umum (yang saya yakin pasti hanya akan melalui rute jalan raya utama saja), nah dengan menggunakan sepeda maka daya jelajah kami tentunya bisa menjangkau lokasi-lokasi yang tidak dilalui oleh tranportasi umum tadi.

Oya pada petualangan hari ini kami juga ditemani sekaligus dipandu oleh seorang teman pesepeda asli Bali yang sekaligus juga menjadi si empunya rumah yang kami tempati selama berada di Denpasar ini, yaitu Bli Khrisna, dan salah satu resiko jika memandu kami berdua adalah harap bersabar jika terdengar seruan "eh stop dulu sebentar, mau foto", maklum karena kapan lagi kami punya kesempatan seperti ini, sehingga mumpung kami sekarang sedang berada disini maka setiap ada momen yang unik langsung saja difoto dulu hehe... mungkin itu jugalah yang membuat waktu perjalanan petualangan goweswisata kami menjadi lambat :)

Sambil mengayuh sepeda menyusuri ruas jalan di Kota Denpasar ini saya selalu berpikir dan bertanya dalam hati, mengapa banyak orang, baik lokal maupun mancanegara yang berbondong-bondong selalu menjadikan Pulau Bali sebagai destinasi wisata utama mereka? Apa yang menjadikan Pulau Bali begitu populer dan terkenal hingga sampai ke level Internasional? Jika kita melihat di brosur-brosur wisata tentang Pulau Bali maka kita akan melihat bahwa kebanyakan berisi gambar-gambar keindahan panorama alamnya terutama Pantai dan keunikan budaya tradisionalnya yang hingga kini masih tetap bertahan ditengah derasnya gelombang modernisasi yang melanda Kota-kota besar yang ada di Indonesia, budaya tradisional tersebut seakan mampu melebur dengan modernisasi yang ada dengan baik tanpa saling menghilangkan identitasnya masing-masing, hal yang terjadi justru perpaduan unsur tradisional dan modern tersebut seakan menciptakan suatu identitas tersendiri dimana ketika masyarakat awam luar Bali melihatnya maka mereka akan langsung mengetahui bahwa hal itu merupakan gaya atau identitas dari Masyarakat Pulau Bali, Salah satu contohnya adalah di Kota Denpasar ini yang notabene merupakan salah satu dari Kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia, di Denpasar kita dapat melihat cerminan suasana khas perkotaan yang ditandai dengan banyaknya bangunan bertingkat, pusat-pusat perbelanjaan yang megah, gedung-gedung perkantoran, kemacetan lalu-lintas, dan hal-hal tipikal lainnya layaknya kota besar lain di Indonesia, namun walaupun begitu kita masih dapat mengenali karakter kota ini, bahwa kota ini merupakan kota yang ada di Pulau Bali, berbeda dengan Jakarta yang sudah kehilangan identitas masyarakat asli kotanya (Betawi) dan benar-benar menjelma menjadi bentuk identitas baru masyarakat kota megapolitan.



Dan identitas atau karakter masyarakat Pulau Bali yang tertuang dalam penataan orientasi Kota Denpasar itu sendiri tidak hanya dapat kita lihat dari bentuk fisik semata saja, melainkan ada ambience atau suasana khas yang terbentuk yang secara tidak langsung menegaskan bahwa ini adalah suasana khas Bali, sehingga saat kita berada di Kota Denpasar ini kita tidak akan teringat atau membandingkannya dengan suasana khas perkotaan Kota besar lainnya di Indonesia (bagi saya pribadi ketika saya berada di Denpasar ini saya langsung paham dan tidak membandingkannya dengan suasana kota lain, karena karakter Kota Denpasar ini seakan sudah menegaskan bahwa ini adalah sebuah kota di Pulau Bali, berbeda ketika kami berada di Gempol dan Bangil dimana seketika kami langsung teringat dengan suasana Kota Bekasi dan Tangerang), dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk membangun dan mempertahankan identitas atau karakter asli masyarakat setempat dan kemudian merangkum semua unsur tersebut kedalam penataan sebuah kota besar dimana biasanya hal itu cenderung rentan terhadap gempuran pengaruh budaya luar, namun setidaknya itu bukanlah hal yang tidak mungkin karena Kota Denpasar dan masyarakat Pulau Bali secara keseluruhan telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk tetap memegang teguh tradisi dan budayanya bahkan mampu bersinergi dengan modernisasi yang ada hingga pada akhirnya hal tersebut justru menjadi magnet pesona pariwisata Pulau ini


Tujuan kami yang pertama adalah menuju ke Alun-alun yang berada di titik nol km Kota Denpasar, suasana di Alun-alun ini seperti halnya di Alun-alun kota lainnya sangat ramai karena merupakan ruang terbuka publik, disini suasananya penuh dengan masyarakat yang berolahraga ataupun yang hanya sekedar duduk-duduk saja. Alun-alun yang berada tepat di depan rumah dinas Gubernur Bali ini memang memiliki suasana yang nyaman sebagai tempat berinteraksi antar warganya, dengan jalur pedestrian yang lebar, bersih dan teduh oleh rindangnya pepohonan serta adanya taman bermain untuk anak-anak kecil, jalur batu untuk refleksi kaki, bangku-bangku taman, hingga papan catur berukuran besar menjadikan kota ini mampu untuk memanusiakan warganya melalui penyediaan fasilitas publik yang nyaman dan aman, beberapa pecalang (penjaga keamanan tradisional Bali) juga tampak hilir mudik memantau dan memastikan situasi cukup aman bagi para pengunjung








Puas berkeliling alun-alun kami kemudian lanjut gowes lagi, kali ini tujuannya adalah menuju ke Pantai Kuta yang merupakan salah satu Obyek Wisata Pantai yang paling popular di Pulau Bali, ya wisata pantai memang merupakan salah satu daya tarik Pulau Bali, banyak wisatawan dari seluruh dunia yang datang mengunjungi Pulau Bali ini karena ingin menikmati keindahan pantai-pantainya.

Hanya dengan menyisiri ruas jalan terluar di pulau Bali saja kita sudah dapat melihat keindahan dari pantai-pantai tersebut, mau dimulai dari rute utara maupun selatan semua sama menariknya dengan keunikannya masing-masing, selain pantai sebenarnya Bali juga memiliki wilayah pegunungan dan suasana pedesaan namun sepertinya wilayah pantai masih menjadi alasan dan destinasi utama seseorang ketika berkunjung ke Bali

Untuk menuju ke Pantai Kuta kami hanya tinggal mengikuti Bli Krisna saja yang menjadi pemandu kami, karena dengan rute yang belok-belok membuat kami agak susah mengingat jalannya, tapi tenang saja karena papan petunjuk arah menuju ke Pantai Kuta juga cukup banyak dan mudah untuk diikuti sehingga kalian tidak perlu takut tersesat

Berkeliling Bali seperti ini memang lebih enak dengan menggunakan sepeda atau motor, karena jika kalian menggunakan mobil pribadi maka siap-siap saja untuk terjebak kemacetan, ditambah lagi akses untuk menuju ke beberapa spot wisata harus melalui jalan kecil yang seringkali hanya satu arah


Dan memang sepertinya sangat jarang orang-orang yang ada di Bali beraktivitas dengan berjalan kaki (kebanyakan justru turis asing yang senang berjalan kaki), mayoritas dari mereka lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, baik itu mobil maupun motor, hal ini menjadikan kondisi trotoar yang dibuat dengan cukup rapi ini menjadi sia-sia karena jarang digunakan oleh pejalan kaki, kebanyakan trotoar yang ada pada akhirnya malah sudah beralih fungsi dijadikan parkir kendaraan atau tempat berjualan oleh pedagang kaki lima.


Begitu mulai memasuki daerah Pantai Kuta suasananya sudah seperti di Australia karena saking banyaknya turis asing yang berseliweran, beberapa bahkan sambil membawa papan surfing. Cafe, bar, dan tempat penjualan souvenir khas Bali tampak memenuhi dan berderet sepanjang jalan, sayangnya dengan lebar ruas jalan yang tergolong kecil ini terlihat semakin semrawut karena dipinggirnya penuh oleh parkir motor sehingga kendaraan lain yang melalui jalan ini menjadi sedikit tersendat (mungkin akan lebih nyaman jika ruas jalan ini disterilkan dari kendaraan bermotor, dan hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki dan pesepeda saja)


Kami juga sempat mengambil foto di lokasi bekas ledakan bom Bali yang dulu sempat menghebohkan dan menarik perhatian dunia dikarenakan banyaknya korban tewas yang berasal negara lain dikarenakan dahsyatnya ledakan tersebut, untuk mengenang peristiwa ledakan bom bali tersebut kini dibuatlah monumen ground zero berisi nama-nama korban tewas beserta asal negara mereka sebagai penghormatan dan pengingat serta berharap peristiwa teror keji tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.


Disekitar kawasan ground zero ini juga terdapat kawasan lain yang menjadi magnet para traveler baik lokal maupun manca, terutama bagi mereka yang berbudget rendah atau minim, yaitu kawasan poppies lane, ya kawasan ini tak ubahnya seperti daerah Jalan Jaksa di Jakarta atau Jalan Prawirotaman di Yogyakarta karena biasanya bagi mereka yang mencari penginapan murah meriah di pusat kota Pulau Bali pasti akan langsung menuju ke kawasan ini, dan jika pintar menawar atau sedang beruntung maka penginapan seharga Rp 100.000,- per malam bisa kalian dapatkan disini, lumayan kan apalagi jika mengingat lokasinya yang sangat strategis dan dekat dengan Pantai Kuta

Pantai Kuta, salah satu pantai yang paling populer di Bali karena dengan pasir pantai yang halus serta ombak yang cukup tinggi menjadikan pantai yang paling dekat dengan pusat kota ini menjadi incaran para surfer dan wisatawan pecinta pantai lainnya, untuk masuk ke pantai ini kalian tidak dipungut bayaran alias gratis, kecuali jika kalian ingin menumpang mandi di toilet umum yang tersedia barulah ditarik bayaran. Oya sedikit saran jika kalian berkunjung ke pantai ini namun sedang malas bermain air maka cobalah membawa hammock karena disini ada banyak batang-batang pohon besar yang bisa kalian gunakan untuk memasang hammock, asyik bukan tidur-tiduran di atas hammock sambil dinaungi rimbunnya dedaunan serta semilir angin pantai :)



Mungkin salah satu hal yang sedikit mengganggu di pantai ini adalah kehadiran penjual-penjual souvenir seperti topi, kain Bali, serta penjual jasa pembuatan tattoo yang terkadang cukup memaksa dan terus mengikuti, untunglah kebanyakan dari penjual-penjual tersebut hanya merecoki wisatawan asing, sedangkan untuk wisatawan lokal sepertinya tidak dihiraukan oleh mereka (mungkin karena mereka sudah hapal dengan tabiat wisatawan lokal yang biasanya kalau menawar pasti kebangetan hehe...)


Karena ombak di wilayah Pantai Kuta ini cukup tinggi maka beberapa kali petugas penjaga pantai (life guard) berkeliling memantau dan mengingatkan para wisatawan yang sedang berenang supaya tidak terlalu ke tengah, jika kalian ingin belajar surfing maka pantai ini sangat cocok karena selain ramai, ketinggian dan kuat arusnya pun relatif masih aman untuk pemula




Kami pun tidak berlama-lama di Pantai Kuta karena setelah ini masih ada tujuan lainnya untuk hari ini yaitu daerah Legian dan pantai di Seminyak, dan karena hari ini adalah hari Jum'at maka saya pun mencari Masjid dulu untuk menunaikan ibadah Jum'at
Selepas ibadah Jum'at kini waktunya untuk meneruskan perjalanan, daerah Legian dan pantai di wilayah Seminyak pun menjadi target berikutnya. Oya sebelum ke wilayah Seminyak kami pun sempat ditraktir nasi campur ayam betutu oleh Bli Krisna, katanya kami harus mencoba mencicipi makanan khas Bali ini, terimakasih Bli :) jujur saja ini pertama kalinya bagi kami mencoba ayam betutu, untung saja Bli Krisna sebelumnya mengingatkan kami tentang pedasnya sambal mentah yang disediakan sehingga kami tidak mengambil terlalu banyak, maklum karena di Jawa, terutama wilayah Jogja sambalnya cenderung manis hehe :) kalau tidak diberitahu entahlah mungkin yang ada nantinya kami gowes sambil menahan sakit perut

Di Pantai Seminyak suasananya ternyata lebih "wow" lagi, bukan apa-apa, karakter pantainya sebenarnya hampir mirip dengan Pantai Kuta hanya di Seminyak ombaknya lebih tenang, nah yang bikin "wow" itu karena disini bertebaran Hotel-hotel berkelas dan pastinya bertarif super (mungkin harga sewa kamar dan fasilitasnya per malam sama dengan pengeluaran perjalanan kami sebulan hehe... kapan ya kami dapat sponsor kaya gitu, Amin dulu saja semoga doanya dikabulkan)




Bar dan cafe juga bertebaran di sepanjang pantai ini, jika wisatawan asing kebanyakan memesan bir dingin atau ice juice untuk mengobati dahaganya akibat terik dan panasnya sinar matahari disini, maka bagi kami yang notabene "orang kampung dengan budget terbatas" ini cukuplah dengan sebotol dingin teh javanna yang kami beli di minimarket sebelumnya, memang susah kalau seleranya sudah kadung "ndeso", sekalinya main ke tempat elit pasti bingung nyari tempat yang jual teh atau air mineral dengan harga murah
Di pantai Seminyak ini yang paling menarik untuk dijadikan obyek foto adalah deretan kursi dan payung pantai yang banyak disediakan oleh pemilik Bar (masa iya motretin turis yang sedang berjemur, yang ada malah dapat “tanda tangan” di pipi), asal tahu saja biaya sewa kursi dan payung tersebut berkisar 50 ribuan, sehingga jika kita benar-benar ingin bersantai duduk atau tiduran di kursi tersebut dan dinaungi teduhnya payung sambil memesan sebotol minuman layaknya turis maka setidaknya kita harus merogoh kocek sebesar Rp 200.000,- (jumlah yang cukup berarti bagi traveler irit seperti kami)






Setelah puas berfoto-foto, berjalan menyusuri pantai, serta beristirahat sejenak tahu-tahu jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, hmmm... cepat sekali waktu berlalu padahal matahari masih bersinar dengan terik seperti matahari jam 2 siang WIB, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang sebelum kesorean.

Sampai jumpa Pantai Seminyak, semoga suatu saat kami bisa kembali berkunjung kesini lagi :)


Kondisi lalu lintas di Bali sepertinya memang sudah terlanjur semrawut sehingga pada akhirnya semua orang menganggap kondisi tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi bagi kami berdua rasanya cukup mumet dan jengkel ketika melihat taksi yang suka berhenti mendadak, motor yang naik ke trotoar dan terkadang melawan arah, motor dan mobil yang sangat suka mengklakson seakan tidak mau mengalah atau mengantri, namun inilah dinamika konsekuensi dari pertumbuhan sebuah Kota besar, terlebih kota tersebut telah menjadi destinasi wisata populer sehingga pada akhirnya pembangunan fisik terus digencarkan tanpa memperhatikan atau mengimbanginya dengan pembangunan karakter, etika, dan budi pekerti manusianya. Semoga saja sebelum semuanya terlambat masyarakat disini mulai menyadari ada permasalahan krusial yang sedikit demi sedikit mulai membesar dan mengkristal menjadi faktor kebiasaan yang kedepannya justru akan menjadi problematika bagi masyarakat Bali sendiri

Pengeluaran hari ini :

- Belanja Indomart = Rp 27.000,-

Total = Rp 27.000,-

Total jarak tempuh hari ini : 32,26km