Showing posts with label Goa. Show all posts
Showing posts with label Goa. Show all posts

Monday, 6 June 2022

GOA JEPANG PENGKLIK MADUREJO

Sabtu, 4 Juni 2022

Masih dalam rangkaian Gowes Wisata Sejarah, kali ini kita akan berkunjung ke Goa Jepang yang berada di lereng Bukit Pengklik, Madurejo. Loh memangnya ada Goa Jepang disana? Nah sepertinya masih banyak yang belum tahu mengenai keberadaan Goa Jepang yang satu ini, memang sih tempat ini belum sepopuler Goa Jepang yang ada di Sentonorejo (dekat Candi Abang), atau Goa Jepang Surocolo, maupun Goa Jepang di Kaliurang, tetapi justru karena belum populer jadi marilah yuk kita sama-sama coba cari tahu (bukan tempe) 😁



Goa Jepang Pengklik Madurejo tepatnya berada di Dusun Pengklik, Beloran, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta. Untuk lokasi dan rute detailnya kalian juga bisa lihat di googlemaps dengan keyword “Wisata Pengklik Madurejo”.







Lokasinya sendiri sebenarnya berada tidak begitu jauh dari obyek wisata lain seperti Lava Bantal, Embung Tegaltirto, Goa Sentono, Candi Abang, dan Goa Jepang Sentonorejo. Menurut cerita masyarakat sekitar Goa Jepang Pengklik ini sebenarnya merupakan tembusan atau tersambung dengan Goa Jepang yang berada di wilayah Sentonorejo, hmmm… bisa jadi sih mengingat lokasinya yang sebenarnya tidak terlalu jauh, walaupun begitu Goa Jepang di Dusun Pengklik ini memiliki perbedaan dengan Goa Jepang yang berada di Sentonorejo, yaitu jika pintu masuk Goa Jepang di Sentonorejo berupa batuan tebing yang digali membentuk akses terowongan masuk, sedangkan untuk Goa Jepang Pengklik ini pintu masuk dan dinding depannya tersusun dari bata merah dan putih yang berbentuk melengkung setengah lingkaran pada bagian atasnya.





Menurut sejarahnya Goa ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Jepang era Perang Dunia II Tahun 1942, dimana pada waktu itu banyak warga sekitar Prambanan dan Piyungan yang harus menjadi korban saat proses pembuatan Goa ini akibat sistem kerja paksa atau Romusha yang dilakukan secara sadis oleh penjajah Jepang. Goa ini dibuat sebagai tempat pertahanan, pengintaian, dan penyusunan strategi oleh tentara Jepang pada waktu itu. Seperti lazimnya Goa Jepang yang lain, konstruksi Goa Jepang Pengklik ini juga memiliki lorong-lorong yang rumit dengan bukaan yang tidak terlalu lebar, terdapat sekitar 15 bukaan Goa namun sayangnya beberapa lorong saat ini dalam keadaan tertutup atau tertimbun oleh pasir dan tanah, serta terlalu beresiko untuk dilakukan penggalian lebih lanjut dikarenakan struktur yang rapuh, sehingga saat ini hanya tersisa satu pintu masuk terowongan saja yang bisa diakses, itu pun bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk masuk terlalu dalam, maksimal hanya sekitar 2-3 meter saja dengan alasan keamanan dan harus seijin warga terlebih dahulu.




Dibagian atas Bukit Pengklik ini juga terdapat Makam Abdi Dhalem Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang dibangun sekitar Tahun 1700-an, sehingga bagi kalian yang suka berwisata religi juga bisa mampir dan belajar mengenai sejarah Joga masa lalu.


Selain menonjolkan wisata sejarah berupa Goa Jepang, warga sekitar juga berusaha mempercantik dan menata lingkungan sekitar tempat ini dengan membuat beberapa fasilitas pendukung seperti bangku dan meja taman, tempat kuliner, tempat sampah, toilet umum, Mushalla, area bermain anak (sayangnya saat ini kondisinya kurang terawat), bangunan Pendopo (yang sedang dalam perbaikan karena sebelumnya sempat roboh terkena angin kencang), dan spot untuk berswafoto berupa jembatan bambu ditengah area persawahan.







Untuk akses masuknya sendiri tempat ini bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat, area parkir kendaraan juga sudah ada dan masih terus diperluas, sedangkan untuk tarif retribusi berkunjung ketempat ini sementara masih gratis, hanya ada kotak sumbangan seikhlasnya saja.








Jadi bagi kalian yang ingin mencari ketenangan sembari menikmati pemandangan dan suasana persawahan, sepertinya kalian harus coba main ke tempat ini, sambil berwisata sejarah kalian juga bisa berwisata modern dengan berswafoto ala instagramable disini, dan yang terpenting tetap jaga kebersihan dari setiap tempat wisata yang kalian kunjungi ya, selama ber-goweswisata 🙂





Wednesday, 29 December 2021

GOA BATU JONGGOL

Postingan ini merupakan kelanjutan dari petualangan Gowes Wisata sebelumnya di Goa Kalilingseng (ulasan lengkap mengenai Goa Kalilingseng bisa kalian baca tepat di postingan Bulan November).


Baiklah, jadi setelah selesai mengambil beberapa dokumentasi di Goa Kalilingseng kini saatnya lanjut lagi menuju lokasi target berikutnya yaitu Goa Batu Jonggol yang menurut keterangan warga sekitar berada tak jauh dari lokasi Goa Kalilingseng, nah berhubung sepertinya sayang jika dilewatkan jadi yuk lah kita sambangi sekalian 🙂


Goa Batu Jonggol tepatnya berlokasi di Dusun Gunung Pentul, Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta. Jaraknya kurang lebih 3km dari Goa Kalilingseng. Ada dua rute untuk menuju kesana, yaitu melalui jalan raya (tapi jadi agak muter-muter kalau dari Goa Kalilingseng), atau melalui jalan perkampungan (saya memilih lewat rute ini karena lebih dekat), kondisi rute di jalan perkampungan ini agak rusak dan berbatu sehingga kalian harus berhati-hati supaya tidak terpeleset saat menanjak (tenang tanjakannya tidak terlalu curam kok) 😁



Tepat usai tanjakan ada semacam pos dan dibawahnya terlihat warung kecil yang sepertinya menjual snack dan minuman, berhubung disini warung masih sangat jarang ditemui sedangkan perjalanan pulang nantinya juga masih jauh jadi saya pun membeli minuman untuk mengisi botol minum yang hampir kosong (harganya juga masih tergolong wajar kok),setelah istirahat sejenak saya pun kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai juga di pintu masuk menuju Goa Batu Jonggol


Suasana ditempat ini masih relatif sepi, saat saya berkunjung pun tidak ada pengunjung lainnya, bahkan di pintu masuk juga tidak ada yang menjaga, sepertinya tempat ini memang belum terlalu populer, padahal jika dilihat dari aksesnya sebenarnya cukup mudah karena berada tepat di pinggir jalan raya utama, selain itu fasilitas yang ada di tempat ini juga lebih rapi dan tertata jika dibandingkan dengan Goa Kalilingseng. Selain pos penjagaan juga ada toilet umum, lahan kosong untuk spot camping atau outbond, tangga, dan panggung yang biasa digunakan untuk pasar tradisional di hari-hari tertentu, sayangnya dibagian mulut Goa ini telah dihias dengan ornament buatan sehingga saat pertama kali melihatnya malah serasa hendak masuk ke wahana permainan di Taman Hiburan.





Goa ini sendiri berbentuk seperti lorong lurus dengan panjang sekitar 80 meter dan lebar 1,5 meter, ketinggian rongga dalam Goa sekitar 2 – 3,5 meter. Pada bagian tengah goa di pinggir sebelah kirinya terdapat cerukan seperti sumur dengan kedalaman sekitar 3 meter yang berfungsi sebagai resapan dan penampungan air saat musim penghujan karena dulunya Goa ini juga difungsikan sebagai jalur rel kereta lori untuk mengangkut hasil tambang mangan.






Berdasarkan sejarahnya Goa ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sekitar Tahun 1940 – 1941 di masa kolonial seorang Bos besar bernama Nyan Pieter Nyanvin memimpin pembuatan Goa tersebut, namun saat Jepang berkuasa di Indonesia penambangan mangan tersebut sempat terhenti, dan barulah di Tahun  1955 – 1958 aktivitas penambangan mulai kembali dilakukan. Sekitar Tahun 1960 – 1965 penambangan ini dikelola oleh seorang pemborong besar dari Cina, namun sejak isu komunisme dan peristiwa G30 SPKI maka aktivitas penambangan ini kembali terhenti dan tidak berlanjut lagi sampai sekarang, entahlah apa alasannya, apakah karena bahan tambang yang digali sudah habis ataukah ada faktor lainnya yang menyebabkan aktivitas penambangan ini tidak dilanjutkan lagi hingga saat ini.



Yang pasti keberadaan Tambang-tambang mangan ini telah menjadi saksi bisu sejarah perjuangan bangsa kita melawan penjajahan yang datang untuk menindas dan mengeksploitasi kekayaan sumberdaya alam yang kita miliki, oleh karena itu sebagai generasi penerus sudah sepatutnya kita bergerak untuk menjaga dan mengelola semua sumberdaya alam yang dimiliki oleh Negara ini untuk kemakmuran warganya, jangan sampai kita menjadi generasi yang buta akan sejarah bangsanya sendiri dan sebaliknya malah mengagungkan prestasi atau budaya bangsa lain.


Nah kurang lebih seperti itulah hasil petualangan Gowes Wisata kali ini di penghujung Tahun 2021, sebentar lagi kita akan merayakan Tahun Baru 2022, semoga di Tahun yang akan datang keadaan akan menjadi lebih baik lagi dan Pandemi Covid segera usai sehingga kita semua bisa beraktivitas dengan lebih maksimal, dan juga semoga Indonesia semakin hebat, karena kalian semua juga adalah orang-orang hebat diluar sana jadi yuk kita berkreasi dengan keahlian serta potensi apapun yang kalian kuasai.



sampai jumpa di petualangan Gowes Wisata berikutnya.

Tuesday, 30 November 2021

MENYUSURI JEJAK TAMBANG MANGAN ERA KOLONIAL DI GOA KALILINGSENG

Senin, 29 November 2021

Hai sobat goweswisata, apa kabarnya kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap penasaran dengan spot-spot menarik apa lagi yang akan saya ulas disini.


Untuk mengulas sebuah tempat yang sekiranya nanti akan menjadi spot wisata sebenarnya mudah saja, tinggal datang kunjungi-lihat-tulis-bagikan, apa lagi di Jogja ini terdapat banyak sekali obyek wisata yang tersebar merata hampir diseluruh Kabupatennya, baik itu spot wisata alam maupun spot wisata buatan. Namun tantangannya bagi saya disini adalah mencari tahu dimana saja lokasi-lokasi spot wisata yang belum populer atau viral, karena kalau sudah populer pastinya tempat tersebut akan ramai pengunjung sehingga susah untuk mendapatkan komposisi foto yang menarik dan detail, ditambah lagi jika tempat tersebut sudah ramai dan viral biasanya akan ada pungutan retribusi alias tidak gratis lagi masuknya 😅.


Nah di petualangan goweswisata kali ini saya akan mengajak kalian untuk menyusuri salah satu jejak bekas Tambang Mangan era Kolonial yang ada di Propinsi Yogyakarta, bernama Goa Kalilingseng yang berada di Dusun Ngruno, Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta. Untuk lebih jelasnya jika kalian penasaran dengan tempat ini dan ingin mengunjunginya secara langsung kalian bisa melihat rutenya di googlemaps dengan keyword “Kalilingseng Cave”.



Patokan termudahnya jika kalian start dari nol kilometer Jogja, kalian tinggal menuju kearah Barat melewati Terminal Ngabean dan terus ke Barat hingga menuju traffic light Ringroad kemudian belok ke kiri menuju Pasar Gamping dan ikuti Jalan Raya Jogja-Wates sampai melewati Jembatan Bantar dan Gapura Batas Wilayah masuk ke Kabupaten Kulonprogo, nanti jika sudah sampai traffic light di depan Markas Brimob belok ke kanan, naik melewati jembatan rel kereta api dan tower pemancar, kira-kira 20 meter kemudian ada jalan masuk ke kiri menuju area persawahan, nah masuk dan ikuti jalan (oya sementara rute yang saya jelaskan disini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ya), di rute ini nanti kalian bersisian dengan jalur kereta api, tak lama kemudian jalan akan menemui dua cabang yang terpisah oleh saluran air, nah ambil ke kanan, ikuti jalan sampai tiba di Balkondes Sentolo, masih terus sedikit nanti ada jalan masuk kecil ke kanan, masuk dan ikuti jalan sampai tembus ke jalan besar lalu ambil kearah kanan, dari sini kalian tinggal mengikuti jalan utama saja, kontur jalan disini agak rolling naik-turun, jadi jika kalian bersepeda harap siapkan stamina saja hehe…😁




Nanti kalian akan melewati SD Negeri Sentolo, SPBU, traffic light, masih terus saja melewati lapangan sampai tiba di sebuah perempatan dimana jika kalian ke kanan maka akan menuju ke Goa Kiskenda, Kedung Pendhut, air terjun sungai Mudal, dan lainnya, nah ambil arah yang lurus saja (jangan ke kanan), dengan rute yang masih rolling namun cukup sepi arahkan kendaraan kalian melewati SDN Tangkilan sampai nantinya tiba di perempatan yang menuju ke obyek wisata Waduk Sermo, Kalibiru, dan Konservasi alam Sermo, dari perempatan tersebut jika lurus maka kalian menuju ke Waduk Sermo, nah kali ini kita ambil yang kearah kiri


Setelah belok kiri coba buka googlemaps kalian dan ketikkan keyword “Goa Watu Jonggol”, nanti tepat di sisi kiri jalan kalian akan melihat lokasi Goa Watu Jonggol (mengenai spot wisata Goa Watu Jonggol saya akan membahasnya di postingan berikutnya supaya lebih enak dan terfokus ulasan dari masing-masing spot), jika kalian sudah sampai ke Goa Watu Jonggol coba lihat kembali googlemaps dan ketikkan keyword “Kalilingseng Cave”, lokasi antar kedua spot tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh, bedanya saat saya memulainya saya menemukan Goa Kalilingseng terlebih dahulu berkat “disasarkan” oleh googlemaps sewaktu mencari Goa Watu Jonggol yang mengarahkan saya melewati perkampungan dan belokan-belokan kecil yang hanya bisa dilalui sambil menuntun sepeda karena jalur yang kecil dan berlumut (RIP Googlemaps)




Lokasi Goa Kalilingseng sebenarnya cukup mudah terlihat karena berada tepat di pinggir jalan masuk Dusun Ngruno. Goa yang merupakan bekas Tambang Mangan di era kolonial pada Tahun 1894 ini dulunya merupakan salah satu Tambang Mangan terbaik selain Tambang di daerah Kliripan, bentuk Goa ini cenderung masih asli (tidak dihias aneh-aneh seperti Goa Watu Jonggol), memiliki panjang sekitar 200 meter yang kemungkinan masih bisa diteruskan lagi serta lebar sekitar 1,5 meter, Goa ini tidak dilengkapi penerangan didalamnya, sehingga kalian harus membawa senter sendiri jika ingin masuk ke dalam atau memakai jasa pemandu supaya lebih aman, oya disarankan untuk tidak memasuki Goa secara beramai-ramai karena semakin kedalam maka kadar oksigen juga akan semakin menipis, saat menyusuri bagian dalam Goa perhatikan kepala kalian supaya tidak terbentur  stalaktit yang menggantung di dinding atas Goa, beberapa kelelawar juga tampak beterbangan dengan barbar di dalam Goa.




Sebelum masuk ke dalam Goa, saya pun sempat bertanya soal jasa pemandu sembari minta ijin menitipkan sepeda kepada salah seorang warga yang kebetulan rumahnya berada tepat disamping lokasi Goa Kalilingseng (untuk catatan bahwa saat siang hari suasana di sekitar Dusun ini sepiiiiii banget, saya juga bingung kok ga ada orang yang lewat untuk padahal ingin nanya-nanya seputar Goa Kalilingseng ini) dan oleh si Bapak saya malah disuruh langsung masuk ke Goa saja sendirian (padahal di dalam Goa ada tulisan sebaiknya memakai jasa pemandu), untunglah peralatan di sepeda saya cukup lengkap karena saya selalu membawa survival kit seperti headlamp dan peluit, semua saya masukkan ke dalam waistbag sembari menyiapkan perlengkapan dokumentasi, setelah semua siap kini saatnya masuk kedalam Goa


Untuk masuk ke dalam Goa yang letaknya berada di bawah permukaan jalan ini untunglah sudah dibikin undakan anak tangga sehingga kita tidak perlu memanjat-manjat segala, rongga depan Goa tampak sedikit becek karena tetesan air dari stalaktit dan dinding atas Goa, semakin masuk ke bagian dalam terdapat tulisan yang mengingatkan untuk jangan lupa berdoa sebelum memasuki Goa dan sebaiknya memakai jasa pemandu untuk memasuki Goa, okelah karena saya disuruh masuk sendirian setidaknya saya sudah berdoa supaya situasi aman-aman saja didalam.




Dinding dalam Goa tampak berkilauan saat sinar dari headlamp saya menyoroti keadaan dalam Goa, rongga dalam Goa ini memiliki ketinggian sekitar 180cm sehingga didalam sini saya masih bisa berdiri tegak tanpa perlu membungkukkan badan, hanya di rongga dekat pintu keluar saja kalian harus membungkukkan badan supaya tidak terbentur dinding atas Goa, sesekali saya mencoba mematikan headlamp dan ternyata tanpa alat penerangan suasana sekitar dalam Goa benar-benar full black alias gelap total karena sinar dari pintu masuk Goa juga tidak sampai ke bagian dalamnya, ditambah lagi jalur Goa ini sedikit melengkung, beberapa titik dalam sisi Goa berbentuk seperti kursi yang bisa diduduki.



Semakin kedalam kalian harus berhati-hati tertabrak kelelawar yang beterbangan dengan barbarnya karena mungkin merasa terusik dengan nyala sinar lampu headlamp saya, pada ujung goa terdapat semacam cerukan seperti sumur berisi air yang memiliki kedalaman sekitar 20-30 meter sehingga harap untuk selalu berhati-hati saat melakukan cave tubing seperti ini ya (bagi yang menderita klaustrophobia dan takut akan gelap lebih baik tidak usah masuk sampai ke dalam).




Bahan baku mangan sendiri merupakan salah satu bahan yang berperan dalam proses indutri pembuatan baja, baterai, keramik, gelas kimia, porselen, dan korek api. Selain itu Mangan (Mn) yang berupa logam putih keperakan dengan nomor atom 25 pada tabel periodik juga dikenal sebagai logam paling melimpah ke-5 dalam kerak bumi, bahkan unsur mangan sendiri juga sangat bermanfaat dan diperlukan dalam tubuh kita


Setelah era kolonial usai keberadaan tambang ini sempat menghilang karena terkubur atau tertimbun tanah dari bukit yang berada diatasnya, namun sekitar Tahun 2016-2017 akhirnya ditemukan kembali oleh warga sekitar ketika melakukan kerja bakti dimana lapisan tanah yang menutupi mulut Goa tiba-tiba ambles dan saat diperiksa ternyata terdapat rongga seperti terowongan didalamnya, oleh karena itu setelah menghubungi instansi terkait dan diadakan pemeriksaan serta penggalian lebih lanjut akhirnya Goa ini pun mulai ditata menjadi tempat wisata sejarah dan obyek penelitian geologi oleh beberapa pihak akademisi


Sayangnya potensi wisata dari Goa Kalilingseng ini belum dioptimalkan oleh pihak terkait dan warga sekitar selain membuat semacam taman dan tulisan Goa Kalilingseng di bagian atas bukit, ke depannya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin memaksimalkan keberadaan spot wisata ini seperti pembuatan papan penunjuk arah menuju lokasi, papan keterangan informasi seputar Goa termasuk sejarahnya dan penjelasan mengenai bahan baku dari unsur Mangan itu sendiri, serta pemasangan penerangan dibagian dalam Goa, penyuluhan kegiatan sadar wisata terhadap warga sekitar, penyediaan area parkir, tempat sampah fasilitas-fasilitas penunjang lainnya serta evaluasi berkala terhadap ketahanan dan keamanan didalam Goa. Jika semua tahapan tersebut sudah dilakukan maka langkah berikutnya adalah mempromosikan lokasi tersebut menggunakan sosial media dan website, atau instansi terkait juga bisa membuat program dengan mengundang beberapa penggiat sosial media (travel influencer) untuk berkunjung dan membuat hasil karya dari hasil kunjungan tersebut baik berupa tulisan maupun visual gerak dan memberikan apresiasi terhadap hasil-hasil karya tersebut


Setidaknya melalui tulisan goweswisata kali ini kita semua termasuk saya sebagai penulis bisa semakin banyak belajar terhadap kekayaan sumberdaya alam, keunikan setiap daerah dengan semua potensinya, serta semakin bangga dan menghargai Negara ini dengan latar belakang sejarahnya, jangan sampai kita menjadi generasi atau bangsa yang buta terhadap sejarahnya sendiri. Nah untuk postingan berikutnya saya akan mengulas tentang Goa watu Jonggol yang letaknya berada tidak jauh dari Goa Kalilingseng ini, makanya tetap ikuti petualangan Gowes Wisata ya, baik itu di facebook, instagram, youtube, dan tentunya di website ini


Sampai jumpa di petualangan berikutnya, salam goweswisata 🙂

Wednesday, 22 September 2021

GOA PERMONI

Minggu, 19 September 2021

Setelah hampir 2 bulan (Juli-Agustus) absen gowes mencari spot wisata yang unik dikarenakan banyaknya spot wisata yang masih tutup akibat PPKM, kali ini saya akan kembali mengajak kalian semua untuk ber-goweswisata ke Goa Permoni seiring dengan menurunnya angka penderita Covid dan semakin kondusifnya situasi dimasa pandemi ini, jadi tanpa berlama-lama lagi yuk kita lets’go.


Pemandangan dari atas Jembatan Gayam


Si kuning action dulu 😁




Goa Permoni, mengapa dinamakan seperti itu? Jawabnya sangat mudah karena Goa ini berada tepat diatas Bukit Permoni, tepatnya secara administratif berada di Dusun Karangwuni, Padukuhan Blawong 1, Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Walaupun secara teritori sebenarnya letak Goa ini masuk kedalam wilayah Dusun Ngrombo atau Dusun Gambiran. Untuk rute lebih jelasnya menuju ke tempat ini kalian bisa mencarinya di googlemaps dengan keyword “Gua Permoni”.


Goa buatan yang terbentuk akibat aktivitas penambangan bukit gamping atau batu kapur ini sudah sejak lama ditinggalkan dan terbengkalai, padahal dulu sempat ada wacana atau program untuk menjadikan lokasi Goa Permoni ini sebagai Desa Wisata alam Wonderful of Permoni oleh warga sekitar, hal ini bisa terlihat dari adanya penataan dan pembangunan beberapa fasilitas infrastruktur pendukung seperti area bermain anak (ayunan dan prosotan), toilet umum, dan sebuah pendopo berukuran cukup luas yang berada di area parkir sebelum menuju ke lokasi Goa. Namun entah mengapa kini pengelolaannya tidak berlanjut sehingga semua fasilitas tersebut saat ini sebagian besar telah rusak dan terbengkalai.








Di wilayah sekitar Goa ini sebenarnya juga terkenal dengan kisah petilasan kuda sembrani milik Sultan Agung (untuk kisah detailnya mungkin bisa kalian cari dari berbagai sumber dan versi yang ada diinternet), yang pasti disekitar lokasi ini, tepatnya sebelum menuju lokasi Bukit Permoni ada sebuah batu besar yang memiliki lubang-lubang yang dipercaya sebagai bekas tapak atau landasan si kuda sembrani sebelum melakukan take off (eh kok jadi kaya pesawat) maksudnya sebelum si kuda melarikan diri dan terbang akibat kecerobohan dari penjaga kuda yang meninggalkan kandang dalam keadaan terbuka, menurut warga sekitar kini lubang-lubang bekas tapak kuda tersebut dijadikan semacam prosesi adat bagi anak kecil yang belum bisa atau baru belajar berjalan untuk kemudian ditetah atau dibimbing diatas batu bekas tapak tersebut supaya kelak anak tersebut menjadi orang yang memiliki kehidupan yang baik.





Selain batu petilasan tapak kuda sembrani, juga ada banyu tetes yaitu sebuah batu yang mengeluarkan air, dahulu air tersebut dipercaya digunakan untuk memberi minum si kuda sembrani, tapi saat saya mencari banyu tetes tersebut saya tidak menemukannya karena mungkin telah tertutup oleh semak-semak, kemudian juga ada watu panah berupa sebuah batu yang terbelah akibat lesatan panah Sultan Agung kala hendak mengejar si kuda sembrani yang lepas. Dibagian atas dari watu sembrani juga terdapat watu payung yang kini keberadaannya telah hilang akibat gempa besar yang melanda Jogja beberapa waktu silam.





Menurut kisahnya dahulu aktivitas penambangan bukit gamping ini dilakukan untuk menyuplai material yang dibutuhkan kala membuat Benteng Keraton Kotagede, karena seperti yang kita ketahui dahulu pusat pemerintahan Kerajaan Mataram berada disekitar kawasan Kotagede sebelum akhirnya dipindahkan ke pusat kota Jogja seperti sekarang. Uniknya proses membawa batuan hasil penambangan tersebut juga tidak dilakukan menggunakan kuda atau kendaraan, melainkan dengan cara diranting oleh orang satu persatu yang berjejer sepanjang jalan sampai ke lokasi tujuan (bayangkan berapa jumlah orang yang dibutuhkan untuk saling mengoper batuan tersebut sampai tiba di lokasi).










Yang menjadikan goa ini unik adalah karena bentuk interior didalam goa sebagai akibat bekas aktivitas penambangan, bentuknya sekilas seperti sarang alien di zaman prasejarah. Selain itu didalam Goa ini juga terdapat kolam yang airnya sangat dingin. Sumber air didalam kolam ini berasal dari mata air kecil yang ditemukan tanpa sengaja ketika penggalian dilakukan terlalu dalam, akibatnya air pun muncul dan terjebak diantara bebatuan hingga menggenang membentuk kolam. Oya sekedar pengingat untuk keselamatan kalian maka saya akan menjelaskan tentang pembagian kolam yang berada di dalam ruang Goa ini, jadi di dalam Goa ini terdapat 3 buah ruang yaitu ruang yang berada di sisi utara dimana kolam yang berada diruang ini dijadikan tempat memelihara ikan (walaupun ada ikannya tetapi ada larangan untuk menangkap ikan-ikan yang ada disini terkait adanya kepercayaan akan adanya ikan keramat atau ikan gaib berukuran besar), kemudian ruang tengah dimana kolamnya dulu sering dijadikan tempat berenang atau bermain air oleh anak-anak sekitar, dan yang terakhir adalah ruang yang berada paling selatan (yang kini ditutup oleh pagar jeruji), dibagian selatan ini jangan coba-coba untuk berenang karena kolam disini adalah yang terdalam, kedalamannya mungkin bisa mencapai lebih dari 5 meter, pada Tahun 2016 sempat terjadi peristiwa yang tragis di kolam ini, dimana ada dua anak yang tewas tenggelam saat sedang bermain air, oleh karena itulah sejak saat itu bagian sisi selatan ini sekarang ditutup.






Bagian dalam ruang sisi Utara.







Bagian dalam ruang sisi tengah


Lain halnya dengan bukit bekas penambangan lainnya seperti wisata Bukit Breksi yang saat ini semakin populer atau Bukit Tompak yang sekarang juga tengah dikembangkan, keberadaan Goa Permoni justru sebaliknya, suasana tempatnya yang terbengkalai dan sepi serta minimnya informasi yang menunjukkan bahwa ini adalah “bisa” menjadi spot wisata juga nyaris tidak terdengar, satu-satunya yang lekat dengan citra Goa ini adalah sebuah tempat yang horror, angker, atau singup kata orang Jawa. Padahal jika memang mau bisa saja tempat ini sekalian dijadikan sebuah spot wisata mistis, terlebih saat ini penggemar wisata mistis atau horor juga semakin banyak seperti yang dilakukan sebuah komunitas penggemar wisata horor yang mengunjungi lokasi bangunan-bangunan terbengkalai atau tempat-tempat yang sekiranya dianggap menyeramkan oleh kebanyakan orang, nyatanya tetap saja ada sebagian orang yang justru menikmati sensasinya, seiring waktu setelah tempat ini kembali ramai maka bisa dilakukan upaya-upaya untuk mengubah citra menyeramkan tersebut secara perlahan menjadi wisata religi kemudian wisata sejarah, dan terakhir barulah menjadi wisata alam dengan mulai kembali menata dan membenahi infrastruktur yang sudah ada.




Yang pasti bagi kalian yang penasaran dengan tempat ini silahkan datang langsung mengunjunginya, aksesnya cukup mudah bagi yang membawa kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak ada retribusi sama sekali sampai saat ini, namun tetap perhatikan untuk menjaga kebersihan sekitar lokasi dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan vandalisme, dan tidak melakukan perbuatan asusila. Jangan lupa membawa senter atau alat penerangan lainnya untuk melihat bagian dalam Goa, serta lotion anti nyamuk (maklum karena banyaknya semak maka nyamuknya juga cukup banyak), dan selalu ingat untuk berhati-hati karena masih minimnya fasilitas keselamatan serta suasana sekitar lokasi yang sejauh ini masih cukup sepi.






Semoga kedepannya Goa Permoni ini bisa semakin berkembang menjadi sebuah spot wisata yang lebih baik lagi dan terkelola. Hmmm… setelah ini kita kemana lagi ya? Tetap ikuti dan sampai jumpa di cerita petualangan goweswisata berikutnya.