Showing posts with label Candi. Show all posts
Showing posts with label Candi. Show all posts
Thursday, 19 February 2015
Candi Gebang
Ingin mengunjungi Candi-candi yang ada di Yogyakarta tetapi malas karena faktor lokasi yang umumnya berada jauh dari pusat kota?
Mungkin bagi sebagian orang yang baru pertama kali berkunjung ke Yogyakarta jika mendengar kata candi maka yang terlintas di benak mereka hanyalah Candi Borobudur dan Prambanan, tetapi di kota 1000 candi ini (saya menyebutnya seperti itu karena memang banyak sekali terdapat candi-candi, baik itu yang berukuran besar maupun candi-candi kecil yang ada dan tersebar di Yogyakarta) ternyata ada candi (yang walau tidak sepopuler Borobudur-Prambanan) tetapi berlokasi cukup dekat dengan pusat kota, yaitu Candi Gebang
Candi Gebang yang berlokasi di Dusun Gebang,Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman ini merupakan alternatif wisata Candi yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Patokannya jika ingin berkunjung kesini maka tinggal arahkan kendaraan ke Stadion Maguwoharjo, dari stadion nanti terus saja ke utara sampai perempatan kemudian belok kiri (barat) menyeberangi jembatan, dan tidak jauh dari situ nanti ada Indomart di sisi kiri jalan, sampingnya ada jalan masuk dengan papan penunjuk arah menuju lokasi candi, jangan kuatir petunjuk yang ada cukup jelas kok sehingga kita tinggal mengikuti saja
Bangunan candi seluas 27,56 m2 dan menempati lahan seluas 2260 m2 ini berada cukup terpencil dengan dikelilingi persawahan milik warga di sekitarnya, jika kita berkunjung pada hari libur maka untuk masuk ke areal candi kita harus membayar retribusi sebesar Rp 2000,- sedangkan untuk hari biasa tidak ada biaya retribusi alias gratis, cukup mengisi buku tamu saja
Kali ini ternyata juga banyak pengunjung yang datang bersepeda :)
Papan informasi candi yang cukup lengkap
Candi Gebang pertama kali ditemukan pada bulan November tahun 1936 oleh penduduk setempat. Awalnya yang ditemukan adalah arca Ganesha, kemudian dengan merujuk pada hasil temuan tersebut diadakan penggalian lebih lanjut oleh instansi terkait. Berdasarkan hasil penelitian itu diketahui bahwa arca tersebut tidak berdiri sendiri namun merupakan bagian dari suatu bangunan, dari hasil penggalian tersebut ditemukan reruntuhan bangunan yang terdiri dari atap candi, sebagian kecil tubuh, dan sebagian kaki yang masih utuh. Selanjutnya mulai dilakukan proses rekonstruksi dengan menggunakan beberapa batu pengganti untuk menggantikan batuan penyusun yang rusak. Pemugaran Candi Gebang dilakukan pada tahun 1937 sampai dengan tahun 1939 dan dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. V.R. Von Romondt
Candi beraliran Hindu ini dapat diketahui dengan adanya arca Ganesha serta Lingga dan Yoni yang terdapat di dalam bilik candi. Selain itu berdasarkan bentuk kaki candi yang mempunyai proporsi tinggi menunjukkan bahwa Candi Gebang berasal dari periode yang tua sekitar abad ke VIII – IX (730-800M), menurut Van Romondt, Candi Gebang yang kecil tersebut berdiri pada masa awal Jawa Tengah
Lingga dan Yoni yang berada di dalam bilik candi
Arca Ganesha
Salah satu keistimewaan candi ini yaitu tidak ditemukannya tangga masuk menuju ke dalam bilik candi, kemungkinan tangga masuk terbuat dari kayu atau bahan lain yang mudah rusak sehingga sampai sekarang tidak ditemukan kembali, keistimewaan lainnya adalah titik pusat candi yang bertepatan dengan titik pusat halaman candi
Bangunan Candi Gebang menghadap kearah timur. Di dalam bangunan terdapat Yoni, di kiri-kanan pintu masuk terdapat relung dengan arca Nandiswara, sedangkan relung yang seharusnya berisi arca Mahakala terlihat kosong, di sebelah barat terdapat relung yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas sebuah Yoni, Ganesha sendiri disebut juga Vighnecvara yang bertugas menghilangkan semua rintangan
Pada bagian puncak atap candi terdapat lingga yang di tempatkan di atas bantalan seroja, dan di bagian luarnya terdapat relief berbentuk kepala manusia
Mengunjungi suatu lokasi wisata sejarah seperti ini tentunya akan lebih berarti jika kita mengetahui sejarahnya sehingga kita dapat menarik pelajaran tentang sejarah peradaban bangsa ini, dan tentunya dengan proses belajar seperti ini (berkunjung langsung) juga akan lebih menarik jika dibandingkan dengan hanya membaca dari buku-buku sejarah atau mendengar didalam kelas. Jika generasi saat ini sudah tidak mau peduli lagi terhadap sejarah peradaban bangsanya sendiri lalu apa yang kelak kita ajarkan kepada generasi penerus berikutnya, ataukah kita nantinya hanya menjadi generasi penerus bangsa tanpa identitas?
Friday, 12 December 2014
Candi Ijo
Candi Ijo hmmmm... bagi para goweser yang berdomisili di Yogyakarta pastinya sudah tidak asing lagi dengan nama dan lokasi Candi yang satu ini, tetapi bukan karena bangunan candinya semata yang membuat candi ini begitu terkenal, melainkan karena lokasi candi ini berada di ketinggian yang "aduhai" hehe. Ya, Candi Ijo memang merupakan salah satu candi di Yogyakarta yang lokasinya berada di dataran paling tinggi sehingga untuk menuju kesana para goweser harus melalui medan menanjak yang cukup menguras tenaga dan membutuhkan stamina fisik serta dengkul yang prima
Candi yang berlokasi di Dukuh Grobyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berada di lereng Barat sebuah bukit yang masih merupakan perbukitan Batur Agung dengan ketinggian rata-rata 375 mdpl. Jika kita baru mendengar namanya tentu kita mengira Candi Ijo adalah sebuah candi yang dindingnya berwarna hijau atau ditumbuhi lumut sehingga berwarna hijau, namun ternyata penamaan Candi Ijo dikarenakan candi ini berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo, nama ini tertulis dalam Prasasti Poh berangka tahun 906M berbahasa Jawa Kuno, dalam penggalan "...anak wanua i wuang hijo..." (anak desa, orang Ijo)
Untuk menuju Candi ini jika kita start dari tengah kota maka bisa melalui Jalan Jogja-Solo sampai Prambanan kemudian belok ke kanan melewati rel kereta terus keselatan arah Jalan Jogja-Piyungan (sama dengan arah menuju Candi Ratu Boko), atau jika kita gowes bisa juga memotong melalui Blok O hingga tembus di Jalan Jogja-Piyungan, rutenya cenderung datar, rute menanjak hanya akan kita temui saat kita sudah dekat menuju lokasi candi (jalan menanjak kira-kira sepanjang 2km)
Untuk memberikan gambaran seperti apa tanjakannya silahkan simak foto-foto berikut ini, yang membedakan dengan tanjakan lainnya hanyalah jika biasanya medan tanjakan itu dibuat berputar supaya memudahkan pengendara, maka tanjakan yang menuju Candi Ijo ini langsung lurus, lempeng poll, sehingga "sakitnya tuh disini-->tunjuk dengkul", oya jika ingin mencoba gowes kesini lebih baik bawa minum dan snack dari rumah karena sepanjang tanjakan sepi warung alias jarang ada yang jualan
Gowes dengan full loaded panniers memang "sesuatu banget" hehe...
Istirahat sebentar di Masjid
Lanjut lagi (mana jalannya rusak pula, mau zigzag juga susah)
Dan akhirnya...
Pemandangan yang bisa kita nikmati di sekitar lokasi candi
Dataran tempat kompleks utama candi memiliki luas sekitar 0,8ha, namun diduga kompleks percandian ini aslinya jauh lebih luas karena disekitar lokasi candi utama dan candi perwara masih banyak ditemukan bebatuan candi dan artefak yang masih dalam proses penggalian dan belum selesai direkonstruksi
Beberapa bebatuan dan artefak candi yang belum selesai direkonstruksi
Candi Hindu yang berada 4 km arah tenggara dari Candi Ratu Boko ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan abad ke-11 zaman Kerajaan Medang periode Mataram. Secara keseluruhan, kompleks percandian ini merupakan teras-teras berundak, dimana kompleks percandian utama berada pada sisi timur yang merupakan sisi tertinggi, sekaligus juga mengikuti kontur bukit. Dibagian ini ada Candi Induk (satu telah dipugar), candi pengapit, dan candi perwara. Candi Induk yang sudah selesai dipugar menghadap ke barat. Di hadapannya berjajar tiga candi perwara menghadap ke timur (ke arah candi induk) yang dibangun untuk memuja Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Syiwa). Ketiga candi kecil ini memiliki ruangan didalamnya dan terdapat jendela kerawangan berbentuk belah ketupat di dindingnya. Atap candi perwara ini terdiri atas tiga tingkatan yang dimahkotai barisan ratna. Pada bilik Candi perwara yang tengah terdapat arca lembu Andini (kendaraan Dewa Syiwa)
Candi perwara
Bilik pada Candi Perwara Selatan
Bilik pada Candi Perwara Tengah
Bilik pada Candi Perwara Utara
Relief yang terdapat pada dinding luar Candi Perwara
Sedangkan pada candi induk sendiri terdapat ruang dalam yang pada bagian tengah dinding sisi utara, timur, dan selatan masing-masing terdapat sebuah relung yang diapit oleh pahatan pada dinding. Pahatan tersebut menggambarkan sepasang apsara yang terkesan terbang menuju ke arah relung. Tepat di tengah ruangan terdapat Lingga dan Yoni yang disangga oleh figur ular sendok (pada mitos Hindu, hewan ini melambangkan penyangga bumi), penyatuan lingga dan yoni melambangkan kesatuan antara Syiwa dan Parwati shaktinya.
Candi Induk
Lingga dan Yoni yang terdapat pada bilik candi utama
Tambahan sumber referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ijo
Tuesday, 10 June 2014
Candi Plaosan
Candi Plaosan
Candi dan Yogyakarta, jika diibaratkan sepintas seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, ya jika kita mengunjungi Propinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah maka keberadaan Candi seakan menjadi ciri khas obyek wisata sejarah yang lekat dengan imej kota ini
Dan seperti kebanyakan wisatawan umum lainnya, maka Candi-candi yang kerap menjadi destinasi tujuan wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah Candi Prambanan serta Candi Borobudur yang keduanya memang sudah lebih dulu terkenal dengan kemegahan dan legenda yang mengiringinya, namun sayang sekali jika kita kemudian hanya mengunjungi kedua candi tersebut lalu balik ke hotel atau penginapan, karena jika kita mau menjelajah lebih jauh lagi ternyata tidak jauh dari lokasi Candi Prambanan dan Candi Sewu sebenarnya masih terdapat beberapa candi lain yang keindahannya tidak kalah dari kedua candi yang sudah terkenal itu, salah satunya adalah Candi Plaosan yang berada sekitar 1 km ke arah timur laut Candi Sewu dan Candi Prambanan
Candi Plaosan yang berlokasi di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia ini dikenal juga oleh warga sekitar dengan sebutan Candi Kembar karena memang terdiri dari dua buah Candi utama yang bentuknya sama persis
Untuk menuju ke lokasi candi ini pun sebenarnya relatif mudah, jika kita dari arah Jogja maka tinggal melalui jalan Jogja-Solo hingga ketemu Gapura perbatasan-terminal Prambanan, dan lampu merah Prambanan, terus saja sekitar 100m sampai lampu merah berikutnya lalu belok kiri (utara) terus saja sampai melewati kolam renang rekreasi, nanti pas diperempatan Kantor Dinas Purbakala Prambanan tinggal belok kanan (timur), tidak jauh dari situ maka akan terlihat bangunan Candi induk yang berdiri dengan harmonis berpadu hamparan areal persawahan warga sekitar
Pada bulan Oktober tahun 2003 di kompleks dekat Candi Perwara Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M, terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 x 2,2 cm berisi tulisan dalam bahasa sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa kuno. Menurut Tjahjono Prasodjo, seorang epigraf yang ditugasi membacanya, prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan
Pendapat tersebut juga berdasarkan isi Prasasti Sri Kahulunan (842M)menyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan dukungan suaminya. Oleh karena itu menurut De Casparis seorang sejarawan asing, Sri Kahulunan sendiri adalah gelar dari Pramoddhyawardhani, putri Raja Samarattungga dari wangsa Syailendra.
Sang Putri yang memeluk agama Buddha ini kemudian menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang memeluk agama Hindu, oleh karena itu bentuk bangunan Candi ini merupakan perpaduan dari gaya Hindu-Buddha
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah Ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan, karena menurut Anggraeni seorang pemerhati sejarah, masa pemerintahan Rakai Pikatan terlalu singkat untuk dapat membangun Candi sebesar dan semegah Candi Plaosan. Rakai Pikatan sendiri diyakini membangun Candi Perwara setelah masa pembangunan candi utamanya
Selain prasasti kepingan emas tersebut juga terdapat prasasti yang ditulis diatas batu di Candi Perwara baris pertama yang mengindikasikan bahwa bangunan tersebut adalah pemberian dari bawahan sang Raja
Kompleks Candi Plaosan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Kompleks Candi Plosan Lor yang berada disisi Utara, dan kompleks Candi Plaosan Kidul yang berada disisi Selatan. Kedua kompleks tersebut terpisahkan oleh jalan aspal penduduk
Kompleks Candi Plaosan Lor sendiri memiliki dua buah Candi utama dengan ketinggian sekitar 21 meter yang posisinya berada di Utara dan Selatan. Relief yang terdapat di Candi utara berupa tokoh-tokoh wanita, sedangkan candi induk di selatannya memiliki relief tokoh-tokoh pria, selain itu juga terdapat 116 stupa dan 50 buah Candi Perwara di kompleks candi ini, serta parit kuno buatan yang mengelilinginya dengan lebar sekitar 10 m dan kedalaman rata-rata 2,5 m
Deretan Candi Perwara yang mengelilingi kedua candi induk layaknya pasukan prajurit yang melindungi junjungannya
Pintu masuk menuju bilik Candi Perwara
Relief yang terdapat pada badan Candi Perwara
Siluet Candi Perwara
Kedua candi induk tersebut menghadap kebarat dan masing-masing dikelilingi oleh pagar yang membentang dan memisahkan kedua candi tersebut, namun disekiling pagar juga terdapat akses yang saling menghubungkan kedua candi induk tersebut. Didepan pintu masuk candi induk tersebut juga terdapat gerbang berupa gapura Paduraksa yang menjadi pintu masuk dari pagar yang mengelilingi candi tersebut
Pada bangunan candi induk sendiri terdiri dari enam buah ruangan yang terdiri dari tiga ruang bawah, dan tiga ruang atas yang terpisah oleh lantai kayu (saat ini ruang dan lantai atas sudah tidak ada, namun dapat dilihat adanya jendela dan relung-relung tempat menaruh balok kayu sebagai penampang lantai atas, seperti halnya yang terdapat juga di Candi Sari), ruang-ruang pada lantai atas tersebut diperkirakan dahulu digunakan untuk menaruh relic dan benda-benda yang disucikan
Pada masing-masing bilik ruang bawah terdapat tiga patung atau arca Dhyani Boddhasatva (tetapi arca Buddha dari tembaga yang terletak ditengah saat ini sudah tidak ada)sehingga jumlah total arca Buddha di ruang bawah yaitu 6 buah
Relief yang terdapat dalam bilik candi utama
Relief yang terdapat pada candi utara kompleks Candi Plaosan Lor
Relief yang terdapat pada Candi Selatan kompleks Candi Plaosan Lor
Dibagian utara dari candi induk terdapat bangunan terbuka yang disebut Mandapa dengan arah hadap ke barat, hal ini dapat diketahui dari adanya pipi tangga di sisi barat bangunan tersebut
kompleks Candi Plaosan Lordikelilingi oleh pagar luar berukuran 460 m x 290 m, sedangkan pagar dalam yang mengelilingi kedua candi induk berkuran 440 m x 270 m
Dua pasang arca Dwarapala juga turut menghiasi bagian depan dari candi induk kompleks plaosan lor,sepasang berada di candi induk utara dan sepasang lagi didepan candi selatan, arca dwarapala tersebut berada di sisi barat sesuai dengan arah hadap candi
Candi sisi Selatan pada kompleks Candi Plaosan Lor
Kompleks candi Plaosan Kidul
Dengan mengunjungi tempat wisata bersejarah seperti ini maka secara tidak langsung kita juga telah menjaga kelestarian budaya negeri kita, jadi tunggu apa lagi kenali dan cintai Negeri-mu
cat : jangan lupa menjaga tempat ini dengan tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ya
karena Indonesia itu indah dan dunia tidak sesempit google maps hehe, jadi mulai dan ciptakan petualanganmu sendiri :)
Candi dan Yogyakarta, jika diibaratkan sepintas seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, ya jika kita mengunjungi Propinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah maka keberadaan Candi seakan menjadi ciri khas obyek wisata sejarah yang lekat dengan imej kota ini
Dan seperti kebanyakan wisatawan umum lainnya, maka Candi-candi yang kerap menjadi destinasi tujuan wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah Candi Prambanan serta Candi Borobudur yang keduanya memang sudah lebih dulu terkenal dengan kemegahan dan legenda yang mengiringinya, namun sayang sekali jika kita kemudian hanya mengunjungi kedua candi tersebut lalu balik ke hotel atau penginapan, karena jika kita mau menjelajah lebih jauh lagi ternyata tidak jauh dari lokasi Candi Prambanan dan Candi Sewu sebenarnya masih terdapat beberapa candi lain yang keindahannya tidak kalah dari kedua candi yang sudah terkenal itu, salah satunya adalah Candi Plaosan yang berada sekitar 1 km ke arah timur laut Candi Sewu dan Candi Prambanan
Candi Plaosan yang berlokasi di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia ini dikenal juga oleh warga sekitar dengan sebutan Candi Kembar karena memang terdiri dari dua buah Candi utama yang bentuknya sama persis
Untuk menuju ke lokasi candi ini pun sebenarnya relatif mudah, jika kita dari arah Jogja maka tinggal melalui jalan Jogja-Solo hingga ketemu Gapura perbatasan-terminal Prambanan, dan lampu merah Prambanan, terus saja sekitar 100m sampai lampu merah berikutnya lalu belok kiri (utara) terus saja sampai melewati kolam renang rekreasi, nanti pas diperempatan Kantor Dinas Purbakala Prambanan tinggal belok kanan (timur), tidak jauh dari situ maka akan terlihat bangunan Candi induk yang berdiri dengan harmonis berpadu hamparan areal persawahan warga sekitar
Pada bulan Oktober tahun 2003 di kompleks dekat Candi Perwara Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M, terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 x 2,2 cm berisi tulisan dalam bahasa sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa kuno. Menurut Tjahjono Prasodjo, seorang epigraf yang ditugasi membacanya, prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan
Pendapat tersebut juga berdasarkan isi Prasasti Sri Kahulunan (842M)menyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan dukungan suaminya. Oleh karena itu menurut De Casparis seorang sejarawan asing, Sri Kahulunan sendiri adalah gelar dari Pramoddhyawardhani, putri Raja Samarattungga dari wangsa Syailendra.
Sang Putri yang memeluk agama Buddha ini kemudian menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang memeluk agama Hindu, oleh karena itu bentuk bangunan Candi ini merupakan perpaduan dari gaya Hindu-Buddha
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah Ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan, karena menurut Anggraeni seorang pemerhati sejarah, masa pemerintahan Rakai Pikatan terlalu singkat untuk dapat membangun Candi sebesar dan semegah Candi Plaosan. Rakai Pikatan sendiri diyakini membangun Candi Perwara setelah masa pembangunan candi utamanya
Selain prasasti kepingan emas tersebut juga terdapat prasasti yang ditulis diatas batu di Candi Perwara baris pertama yang mengindikasikan bahwa bangunan tersebut adalah pemberian dari bawahan sang Raja
Kompleks Candi Plaosan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Kompleks Candi Plosan Lor yang berada disisi Utara, dan kompleks Candi Plaosan Kidul yang berada disisi Selatan. Kedua kompleks tersebut terpisahkan oleh jalan aspal penduduk
Kompleks Candi Plaosan Lor sendiri memiliki dua buah Candi utama dengan ketinggian sekitar 21 meter yang posisinya berada di Utara dan Selatan. Relief yang terdapat di Candi utara berupa tokoh-tokoh wanita, sedangkan candi induk di selatannya memiliki relief tokoh-tokoh pria, selain itu juga terdapat 116 stupa dan 50 buah Candi Perwara di kompleks candi ini, serta parit kuno buatan yang mengelilinginya dengan lebar sekitar 10 m dan kedalaman rata-rata 2,5 m
Deretan Candi Perwara yang mengelilingi kedua candi induk layaknya pasukan prajurit yang melindungi junjungannya
Pintu masuk menuju bilik Candi Perwara
Relief yang terdapat pada badan Candi Perwara
Siluet Candi Perwara
Kedua candi induk tersebut menghadap kebarat dan masing-masing dikelilingi oleh pagar yang membentang dan memisahkan kedua candi tersebut, namun disekiling pagar juga terdapat akses yang saling menghubungkan kedua candi induk tersebut. Didepan pintu masuk candi induk tersebut juga terdapat gerbang berupa gapura Paduraksa yang menjadi pintu masuk dari pagar yang mengelilingi candi tersebut
Pada bangunan candi induk sendiri terdiri dari enam buah ruangan yang terdiri dari tiga ruang bawah, dan tiga ruang atas yang terpisah oleh lantai kayu (saat ini ruang dan lantai atas sudah tidak ada, namun dapat dilihat adanya jendela dan relung-relung tempat menaruh balok kayu sebagai penampang lantai atas, seperti halnya yang terdapat juga di Candi Sari), ruang-ruang pada lantai atas tersebut diperkirakan dahulu digunakan untuk menaruh relic dan benda-benda yang disucikan
Pada masing-masing bilik ruang bawah terdapat tiga patung atau arca Dhyani Boddhasatva (tetapi arca Buddha dari tembaga yang terletak ditengah saat ini sudah tidak ada)sehingga jumlah total arca Buddha di ruang bawah yaitu 6 buah
Relief yang terdapat dalam bilik candi utama
Relief yang terdapat pada candi utara kompleks Candi Plaosan Lor
Relief yang terdapat pada Candi Selatan kompleks Candi Plaosan Lor
Dibagian utara dari candi induk terdapat bangunan terbuka yang disebut Mandapa dengan arah hadap ke barat, hal ini dapat diketahui dari adanya pipi tangga di sisi barat bangunan tersebut
kompleks Candi Plaosan Lordikelilingi oleh pagar luar berukuran 460 m x 290 m, sedangkan pagar dalam yang mengelilingi kedua candi induk berkuran 440 m x 270 m
Dua pasang arca Dwarapala juga turut menghiasi bagian depan dari candi induk kompleks plaosan lor,sepasang berada di candi induk utara dan sepasang lagi didepan candi selatan, arca dwarapala tersebut berada di sisi barat sesuai dengan arah hadap candi
Candi sisi Selatan pada kompleks Candi Plaosan Lor
Kompleks candi Plaosan Kidul
Dengan mengunjungi tempat wisata bersejarah seperti ini maka secara tidak langsung kita juga telah menjaga kelestarian budaya negeri kita, jadi tunggu apa lagi kenali dan cintai Negeri-mu
cat : jangan lupa menjaga tempat ini dengan tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ya
karena Indonesia itu indah dan dunia tidak sesempit google maps hehe, jadi mulai dan ciptakan petualanganmu sendiri :)
Subscribe to:
Posts (Atom)








































































