Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts

Tuesday, 7 July 2026

RUTE BLUSUKAN GOWES WISATA DARI JOGJA KE WADUK ROWO JOMBOR KLATEN

Sabtu, 4 Juli 2026

Tak terasa sudah memasuki pertengahan Tahun 2026, setelah sekian lama disibukkan dengan padatnya rutinitas harian kini saatnya sesekali refreshing sembari menjaga semangat menjelajah dan memuaskan rasa penasaran terhadap hal-hal baru, salah satunya dengan mencari rute atau jalur bersepeda yang anti-mainstream hehehe… 😁


Tujuan Gowes Wisata kita kali ini ini yaitu kearah Timur, sesekali coba berwisata ke wilayah tetangga dari Jogja, yaitu Klaten, tepatnya ke obyek wisata Bendungan atau Waduk Rowo Jombor. Nah karena tujuan akhir atau titik finishnya sudah ditentukan yaitu Waduk Rowo Jombor maka tantangannya sekarang adalah mencari rute untuk menuju kesana, tentunya melalui jalur yang tidak biasa alias anti-mainstream, lewat mana ya? Yuk kita coba cari rutenya


Dari Basecamp Gowes Wisata (seputar JEC) cara termudah pastinya adalah melalui jalur aspalan biasa dulu (Jalan Raya Jogja-Solo) sampai tiba di pertigaan lampu merah Candi Prambanan (lampu merah timurnya perbatasan wilayah Jogja-Jawa Tengah), rute ini dipilih dengan pertimbangan untuk menghemat waktu dan tenaga, karena mayoritas kondisi jalur berupa medan aspal dan familiar arahnya (meminimalisir terbuangnya waktu akibat nyasar).


Setibanya di Traffic Light Candi Prambanan kemudian kalian tinggal menyeberang dan masuk mengikuti jalan yang ada disepanjang sisi rel kereta api ke arah Timur, lalu menyeberangi rel hingga tiba di Stasiun Banaran. Dari Stasiun Banaran ikuti saja jalan beraspal ke arah Selatan, melewati pemakaman dan masih terus ke Selatan sampai mentok tiba di pertigaan. Kemudian belok ke kiri dan ikuti jalan sampa tiba dii jembatan yang sekaligus merupakan akses masuk menuju ke Dusun Pereng Wetan. Masuk melalui gerbang desa dan tak berapa lama kemudian sampailah di pertigaan gerbang masuk menuju ke spot wisata Galpentjil Heritage (Warung Ndeso).




Dari sini kalian tinggal masuk menuju ke Galpentjil dan ikuti jalan melewati pemakaman kemudian nanjak sedikit sampai jalan desa, setelah menanjak lalu belok ke kiri dan terus saja ikuti jalan desa sampai kalian tiba di kondisi jalan seperti ini



Dari titik ini kondisi rutenya berupa kerikil lepas dan jalur tanah, cukup mengasyikkan untuk pengguna sepeda MTB atau Gravel (dan sangat menyiksa bagi pengguna sepeda lipat dan roadbike)



Tapi tenang saja selepas jalur tanah tadi kita akan kembali bertemu jalur aspal, ambil kearah kiri (Timur) ikuti jalan beraspal sampai nantinya kalian akan melewati Bumi Perkemahan Lindu Gedhe, dan masih terus ke Timur



Suasana disepanjang jalur ini relatif lebih sepi daripada jika kalian melewati jalan utama (Jalan Raya Jogja-Solo), sehingga kalian bisa bersepeda dengan lebih santai dan tidak terlalu banyak polusi, oya sedikit saran dari saya jika kalian ingin mencoba rute ini akan lebih baik jika kalian persiapkan minum dan snack seperlunya, karena semakin kearah Timur, terlebih saat mulai memasuki medan offroad single track nantinya maka keberadaan warung pun akan semakin sulit ditemui (yang pasti tidak ada warung disepanjang jalur single track) persiapkan juga kondisi sepeda dan jangan lupa membawa toolkit darurat, ban dalam cadangan serta pompa untuk mengantisipasi jika terjadi kendala teknis diperjalanan



Satu-satunya poin plus pada rute kali ini adalah terdapat beberapa gazebo, pos ronda, dan beberapa titik yang bisa dijadikan tempat beristirahat sesaat, setidaknya lumayanlah untuk sejenak berteduh dari sengatan matahari atau hujan jika cuaca sedang tidak mendukung



Setibanya di gapura Dukuh Soka, Desa Kragilan, Gantiwarno Kalten ini kalian tinggal menyeberangi jembatan yang berada persis didepannya dan ikuti jalan ke Timur (kanan) mengikuti jalan yang berada disepanjang sisi sungai




Patokannya cukup ikuti saja jalur yang ada disepanjang aliran sungai (yang kondisinya agak mengering) ini, hanya saja semakin ke Timur maka kondisi beberapa jalurnya berubah menjadi jalur tanah single track seperti ini, cukup  teduh dan pastinya sepi karena rute ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja (itu pun sangat jarang ada yang melewati jalur ini). Namun justru karena sepi inilah maka suasana disepanjang jalur ini sangat estetik untuk dijadikan sebagai latar berswafoto, kombinasi dari teduhnya suasana dijalur ini dan vegetasi yang ada disekitarnya menjadi perpaduan yang harmonis, sangat sayang jika kalian tidak mendokumentasikannya






Sayangnya di titik tertentu (saya tidak tahu persisnya di dusun mana karena tidak ada informasi penanda nama Dusun), ada jembatan yang kondisinya putus dan sedang diperbaiki, sehingga disini saya harus sedikit memutar balik dan mencari alternatif rute yang sekiranya bisa tersambung dengan jalur berikutnya



Untungnya tak jauh dari lokasi jembatan putus tersebut saat saya coba memutar balik ada jalan potong masuk ke perkampungan warga, jadi saya coba mengikuti jalan tersebut dengan berpatokan mengikuti rute yang searah dengan aliran sungai tersebut, jalan potong dadakan ini juga bisa jadi kesempatan bagi kalian untuk mencari warung jika kalian kehausan atau sekedar mencari camilan.



Akhirnya setelah melewati dan menikmati halusnya kondisi medan beraspal untuk sesaat kini saatnya kita kembali blusukan melalui jalur offroad yang dimulai saat kalian melewati jembatan ini (kondisi jembatannya sendiri sebenarnya cukup mencemaskan karena mengalami penurunan konstruksi, untungnya aliran sungainya sedang surut)




Pada jalur ini beberapa kali saya sempat sedikit tersesat karena disorientasi arah dan adanya percabangan jalan, jadi terpaksa saya coba satu-persatu hingga akhirnya memutuskan untuk memilih jalur yang sekiranya saya yakin terlihat benar (menurut keyakinan dan feeling saya hehehe…), kemudian sampailah saya di lokasi yang sepertinya merupakan area pasar lokal yang diadakan menurut hari pasaran Jawa (kalau tidak salah Pasar Legi), dimana saat saya tiba kebetulan kondisinya sedang kosong, hanya tampak beberapa gerobak dan los pasar yang kosong, dan saya gunakan untuk beristirahat sejenak



Setelah dirasa cukup beristirahat saya pun kembali melanjutkan perjalanan, tinggal ikuti saja jalan desa ini, oya sepertinya desa ini juga menjadi sentra produksi genteng dan kerajinan tembikar tanah liat karena terdapat banyak tungku dan genteng-genteng hasil produksi yang sedang dijemur. Sesekali saya berhenti sejenak untuk melihat posisi rute terkini melalui googlemaps dan terlihat ada semacam persinggungan jalan (2 jalan menjadi 1) yang salah 1 nya bisa menjadi jalan potong langsung menuju ke area Waduk Rowo Jombor, oke berarti patokannya cukup ikuti jalan desa ini sampai menemui percabangan atau persinggungan jalan ini lalu putar balik sedikit dan langsung ambil arah kiri kemudian lurus saja


Dan akhirnya sampailah saya di area Waduk Rowo Jombor, tinggal berkeliling mencari area penanda tulisan nama lokasi untuk digunakan sebagai latar dokumentasi perjalanan ini. Disekeliling area Waduk ini banyak terdapat warung kuliner yang menyajikan beragam aneka menu, beberapa bahkan membuka usaha kulinernya dalam bentuk warung apung yang unik untuk menarik para wisatawan yang ingin mencoba merasakan sensasi berwisata kuliner diatas perahu.




Waduk atau Bendungan Rowo Jombor sendiri dahulu merupakan area perkampungan yang berada di dataran rendah, dan sering tergenang air saat musim penghujan tiba, oleh karena itu semasa pemerintahan kolonial Belanda sekitar Tahun 1856 akhirnya perkampungan tersebut direlokasi dan bekas wilayahnya diubah serta dibangun menjadi waduk, dengan fungsi awal sebagai sarana irigasi untuk mengairi lahan-lahan persawahan yang ada didesa-desa sekitarnya.


Waduk Rowo Jombor sendiri tepatnya berada di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Berada sekitar 8km ke arah Tenggara dari pusat Kota Klaten. Waduk ini memiliki kedalaman kurang lebih 4,5m dengan beberapa titik mengalami sedimentasi. Dengan luas 198 hektar dan menampung sekitar 4 juta meter kubik air. Pada Tahun 2025 lalu dilakukan revitalisasi disekitar kawasan Waduk ini, dengan menata dan mengoptimalkan area waduk selain sebagai sarana irigasi juga menjadi kawasan wisata yang aman bagi pengunjung


Kawasan Waduk ini buka setiap hari selama 24jam, hanya saja operasional warung dan wisatanya biasanya dimulai pada pukul 09.00 sampai 21.00 WIB. Tidak ada tiket masuk untuk mengunjungi lokasi ini alias gratis, kalian hanya cukup membayar tarif parkir untuk kendaraan saja yaitu sebesar 2-3ribu rupiah untuk motor, dan 5 ribu rupiah untuk mobil. Disini selain bersantai menikmati panorama dan suasana sekitar Waduk, kalian juga bisa memancing, berwisata kuliner, wisata perahu dengan tarif 10 ribu rupiah per orang, naik speedboat dengan tarif 50 ribu sampai 80 ribu per kapal, atau mengelilingi waduk (berjarak 5,6 sampai 7,5km tergantung rute) menggunakan kereta kelinci (kereta odong-odong).


Di pagi hari biasanya kawasan disekliling area waduk ini sering dijadikan lokasi untuk jogging atau bersepeda, sedangkan waktu terbaik untuk mengabadikan keindahan panorama landscapenya adalah sore hari menjelang matahari terbenam. Beberapa kendala yang masih dihadapi hingga saat ini adalah pembersihan area sedimentasi supaya tidak terjadi pendangkalan dan penurunan kualitas air, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari sisa sampah pengunjung yang dibuang sembarangan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar.





Kurang lebih inilah cerita catatan perjalanan bersepeda Gowes Wisata kali ini, semoga bisa menjadi referensi tambahan bagi kalian yang sedang merencanakan agenda liburan atau petualangan bersepeda tetapi masih bingung mau kemana, Nah Waduk Rowo Jombor mungkin bisa kalian jadikan opsi pilihan destinasi wisata liburan kali ini, yang pasti tetap ingat untuk selalu menjaga kebersihan dari setiap lokasi wisata yang kalian kunjungi ya, selamat berwisata 🙂


Note : untuk kalian yang penasaran dan ingin mencoba rute ini bisa follow :

Via Komoot : Gowes Wisata

Via Strava   : Gowes Wisata


Disarankan menggunakan sepeda MTB atau Gravel

Monday, 26 February 2024

MENCARI RUTE GOWES WISATA BLUSUKAN DARI CANDI SAMBISARI KE BENTENG JOLONTORO

Sabtu, 24 February 2024.

Hai..hai sobat Gowes Wisata, wah tak terasa sebentar lagi di Bulan Maret kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan alias bulan puasa, bagi kalian yang muslim biasanya nih nanti di bulan puasa beberapa dari kita yang melakukan ibadah puasa pasti merubah jadwal gowes rutinnya menjadi sore hari sekalian ngabuburit alias menunggu waktu berbuka, kalaupun ada yang tetap melakukan gowes di pagi hari biasanya jarak tempuh rutenya juga cenderung yang dekat-dekat saja.


Kali ini mumpung belum memasuki awal puasa sepertinya akan seru jika kita mencoba mencari rute gowes wisata yang agak blusukan alias yang meminimalisir penggunaan rute jalan raya utama, selain untuk menghindari lalu-lintas yang semrawut dan berbahaya, dengan melalui rute blusukan ini nilai plusnya adalah kita akan menikmati udara yang lebih bersih atau minim polusi, suasana tenang, serta mendapat bonus view pemandangan indah yang ada disepanjang rute tersebut.



Oya pada pencarian rute ini saya juga sekaligus melakukan tes record rute menggunakan aplikasi strava dan komoot, dengan terlebih dahulu saya menentukan dan mencari destinasi yang seru di hari sebelumnya melalui gmaps, selain itu gowes wisata kali ini juga saya manfaatkan untuk mencoba set-up kendaraan jelajah baru yang “mungkin” kedepannya akan lebih banyak saya gunakan saat mencari rute dan spot-spot baru yang unik dengan kondisi medan yang beragam (sepeda touring dignity velocity sementara di-istirahatkan dulu hehe…)


Baiklah tidak perlu berlama-lagi yuk kita let’s go, titik start pertama supaya lebih mudah akan saya mulai dari lokasi Candi Sambisari menuju ke titik akhir atau tujuan yaitu Benteng Jolontoro. Berdasarkan googlemaps (mode pejalan kaki) jarak tempuhnya sekitar 12km, sedangkan dari basecamp Gowes Wisata menuju ke Candi Sambisari sendiri berjarak sekitar 9km sehingga total jarak tempuh perjalanan ini nantinya dari titik A ke B kurang lebihnya sekitar 21-22km (dengan pertimbangan ada adegan nyasar sedikit), jadi metode recordnya kurang lebih seperti ini, panduan rute awal dari titik A ke B saya buat menggunakan googlemaps mode pejalan kaki, setelah rute terbentuk lalu saya buat beberapa titik cekpointnya di aplikasi komoot supaya saat record nanti hasil file GPX-nya mudah diunduh atau dishare ke device lain yang kompatibel gpsnya misalnya ke cyclocomp garmin, igpsport, atau bryton sehingga jika ada teman kita yang ingin mencoba rute tersebut maka mereka hanya tinggal mengikuti hasil file GPX yang sudah terekam dan terkoneksi ke cyclocomp tersebut, jadi tidak perlu repot membuka smartphone lagi untuk melihat peta online. Sedangkan aplikasi strava saya gunakan untuk me-record total semua jarak tempuh yang saya lalui mulai dari Basecamp Gowes Wisata hingga nanti kembali lagi atau rute loop pulang-pergi secara utuh, dengan kata lain seperti ini :


- Strava = rute loop utuh pulang pergi dari basecamp Gowes Wisata sampai kembali lagi.

- Komoot = saya bagi jadi 2, yang pertama start dari Candi Sambisari menuju Benteng Jolontoro, dan yang kedua dari Benteng Jolontoro menuju Basecamp Gowes Wisata

- Googlemaps = membuat patokan pedoman rute umum mode pejalan kaki dari Candi Sambisari menuju Benteng Jolontoro, walaupun dilapangan nanti pastinya rute ini akan berubah atau saya modifikasi tergantung sekiranya ada jalur lain yang asyik untuk dicoba tetapi tidak terbaca pada maps google.


Saatnya berangkat. Dari pintu gerbang Candi Sambisari kalian tinggal ikuti saja jalan tanah yang ada disisi kanan atau Timur Candi, medannya cukup asyik dan rindang karena banyak pepohonan sampai nantinya kalian bertemu persimpangan jalan aspal, ambil lurus saja, untuk lebih mudahnya kalian bisa ikuti peta atau file gpx yang sudah saya buat.



Nampang dulu sebelum blusukan

Track blusukan pertama

Jika jalur blusukan pertama adalah yang tadi sudah kalian lalui dipinggir area Candi Sambisari, maka track blusukan kedua adalah yang berada di wilayah kalasan sisi utara, medannya bisa kalian lihat dibawah ini, viewnya bagus dan suasananya tenang, tracknya sendiri juga cukup panjang. Ikuti saja jalur ini sampai mentok lalu ambil ke kanan atau Timur, disini rute yang kalian lalui kebanyakan adalah jalan desa sehingga jangan ugal-ugalan ya bersepedanya.









Jika kalian mengikuti peta gpx yang saya buat maka nantinya rute ini akan mengarah ke sisi utara dari Candi Prambanan, kalian akan melewati ex klinik randoegoenting (bisa juga mampir ke bekas cerobong Pabrik gula Randoegoenting jika kalian ingin berwisata sejarah)



Karena kebanyakan rute yang saya pilih dan lalui adalah jalan desa maka maklumi saja jika rutenya banyak belok-belok ya, pokoknya stick on the track/map karena hasil recordnya kebetulan tidak pake nyasar kok hehe…


Hingga akhirnya sampailah kita di Benteng Jolontoro, yang lokasi tepatnya berada di Dusun Padanjero, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.




Bangunan ini sendiri sebenarnya merupakan bekas saluran irigasi yang dibangun pada era kolonial, membentang dari Utara ke Selatan dan dahulu berfungsi untuk mengairi lahan persawahan dan area perkebunan tebu yang mana pada saat itu tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditas yang sangat berharga di pasar Eropa, tebu-tebu itu sendiri nantinya akan dikirim ke Pabrik Gula Gondangwinangoen di daerah Klaten. Di wilyah Yogyakarta sendiri pada masa itu cukup banyak pabrik-pabrik gula yang dibangun oleh kolonial oleh karena itu bangunan saluran irigasi semacam ini juga banyak ditemui dibeberapa pelosok wilayah Jogja, selain Jolontoro ini saluran bekas irigasi lainnya yang masih bisa kita jumpai dan cukup terawat adalah Buk Renteng yang berada di bagian Barat Jogja, tepatnya arah menuju Kulonprogo.




Nama Jolontoro sendiri asal katanya dari bahasa Jawa kuno yaitu “Jaladwara” yang berarti jalan air atau saluran air, seiring waktu dan penggunaan bahasa Jawa modern oleh warga sekitar bangunan ini juga kerap disebut dengan sebutan Plumpung Banyu atau pipa saluran air, dan karena sekilas sisa bangunan ini menyerupai sebuah tembok Benteng yang memiliki banyak gerbang akibat dari fasade lengkungan penopangnya maka akhirnya nama yang lebih populer untuk bangunan ini saat sekarang adalah Benteng Jolontoro.




Dahulu sistem pengairan pada saluran irigasi Benteng Jolontoro ini adalah dengan memompa air dari Kali Randukucir yang berada dibagian selatan Benteng Jolontoro, namun sekitar tahun 1960-an seiring perkembangan zaman dan dengan telah dibuatnya bendungan soronayan di Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo yang berada dibagian Utara Desa Joho dimana secara kontur topografi juga lebih tinggi dari wilayah selatannya maka secara otomatis proses pengaliran air sudah tidak memerlukan pompa lagi, yang mana hal ini juga berarti dapat lebih menghemat biaya pemeliharaan dan perawatan pompa, dan akhirnya saluran air Jolontoro pun tidak difungsikan lagi, keberadaannya yang kini hanya tersisa puing-puing ditengah area persawahan seakan hanya berdiri sebagai saksi bisu sejarah era kolonial dan kejayaan industri gula pada masanya




Walaupun sudah tidak utuh lagi namun keberadaan sisa saluran irigasi ini kini seakan menjelma menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang senang berburu lokasi foto yang unik dan estetik, jika cuaca sedang cerah dan hamparan persawahan sedang menghijau maka kita akan mendapati latar untuk berswafoto yang sangat menarik di lokasi ini. kemegahan sisa reruntuhan Benteng Jolontor yang berpadu secara harmonis dengan area persawahan serta penampakan Gunung Merapi dikejauhan seakan menjadi satu paket komplit sebagai latar belakang atau obyek fotografi.


Usai berfoto-foto mendokumentasikan bangunan Benteng Jolontoro dan beristirahat sejenak kini saatnya melanjutkan perjalanan kembali pulang, nah disini kalian akan menemui dan melalui track terakhir yang cukup panjang dan asyik karena melalui jalur tanah gravel sembari blusukan di jalan desa yang suasananya cukup rindang, cukup ikuti peta gpx hingga nantinya kalian akan keluar di ruas jalan raya utama jogja-klaten, tepatnya bagian Timur dari Candi Prambanan-Plaosan, dari sini kalian bisa memilih untuk kembali ke pusat Kota Jogja melalui ruas Jalan Raya Utama Jogja-Solo, atau melalui Jalan Prambanan-Piyungan.








Saya pun menyempatkan untuk sekedar mampir melewati lokasi Tobong Gamping Pelem Golek yang dahulu pernah saya kunjungi dan ulas, hanya saja saat ini keberadaannya sudah hilang alias sudah dirobohkan, hanya tersisa bagian pondasi dan bagian mulut Tobong saja, entahlah kedepannya area ini akan dibangun menjadi apa.




Dari bekas lokasi Tobong Gamping saya pun melanjutkan mengunjungi Candi Kalasan yang berada tak jauh dari lokasi bekas Tobong ini, cuaca yang sangat panas membuat saya enggan berlama-lama disekitar lokasi Candi Kalasan, setelah mengambil beberapa foto saya pun melanjutkan perjalanan pulang melalui Berbah hingga tembus ke Blok O.



Kurang lebih seperti itulah cerita perjalanan Gowes Wisata kali ini, bagi kalian yang penasaran dan ingin mencoba rute ini maka kalian bisa mem-follow :

- Strava : Gowes Wisata

- Komoot : Gowes Wisata


Kedepannya disetiap petualangan Gowes Wisata saya akan berusaha me-record setiap rute yang dilalui (tergantung kondisi baterai HP juga ya) supaya suatu saat kalian juga bisa mencobanya sendiri, kalian hanya tinggal mendownload file gpx dan menyambungkannya ke cyclocomp gps kalian. Semoga informasi kali ini bermanfaat untuk kalian semua ya, selamat ber-gowes wisata.