Showing posts with label Gunung Kidul. Show all posts
Showing posts with label Gunung Kidul. Show all posts

Sunday, 17 May 2015

Bikecamping @Embung Nglanggeran

(14/05/15) Bulan Mei tahun ini sepertinya menjadi bulan favorit saya, mengapa? karena di Bulan Mei tahun ini ada banyak tanggal merahnya dengan kata lain saatnya liburan ayyeeeyyy….:)

Setelah melihat kalender ternyata ada waktu libur yang lumayan panjang dan asyik yaitu dari tanggal 14-17 Mei (sebenarnya tanggal 15 nya sih hari kejepit nasional, tapi ya sudahlah bablas saja anggap saja libur hehe…) nah berhubung waktu 4 hari yang tersedia untuk liburan itu sangat memuaskan maka enaknya merencanakan agenda gowes kemana ya? Setelah dirembuk bersama maka diputuskan kalau agenda goweswisata kali ini adalah mengadakan Bikecamping lagi, tetapi Bikecamping kemana? Hmmmm… jika pada bikecamping sebelumnya kami sudah pernah mencoba wilayah utara (Kali kuning) dan wilayah Selatan (Pantai Glagah Indah) maka sekarang saatnya mencoba wilayah Timur, setelah browsing di internet tentang camping ground di Yogyakarta, khususnya yang ada di wilayah Timur maka kami pun menemukan lokasi yang rasanya sesuai dan kebetulan kami juga belum pernah kesana, baiklah tujuan bikecamping kali ini berarti adalah di Embung Nglanggeran, tepatnya berada di Padukuhan Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi DIY, koordinat GPS (S7°50'50.0" E110°32'48.0")

Sebelum hari-H, kami pun mulai mempersiapkan lagi perlengkapan camping untuk dipacking kedalam pannier dan tidak lupa juga mengecek kondisi sepeda. Setelah semua dirasa cukup maka saatnya beristirahat dan bersiap untuk memulai perjalanan esoknya

Peserta bikecamping kali ini hanyalah kami berdua saja (saya dan pasangan saya, Agitya Andiny) dikarenakan rekan-rekan yang lain kebetulan sedang sibuk dengan agenda liburannya masing-masing

Mengawali start sekitar jam 06.30 WIB dari Basecamp Goweswisata di Gedongkuning, kami mengambil rute melalui Jalan Jogja-Wonosari. Rute awal yang cenderung flat membuat perjalanan ini terasa santai hingga akhirnya tanpa terasa kami sudah tiba di trafficlight yang tepat berada sebelum memulai medan menanjak menuju Bukit Hargodumilah alias Bukit Bintang hingga Patuk nantinya

Saatnya bersiap, tanjakan sudah menanti


Sejak pagi sudah banyak bus-bus wisata dan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil yang melintasi jalur ini, sepertinya libur panjang kali ini juga dimanfaatkan oleh orang-orang untuk berwisata ke daerah Gunungkidul (terlebih sejak mulai banyaknya publikasi di media-media tentang berbagai potensi wisata yang terdapat di wilayah Gunungkidul), dengan kondisi lalu-lintas yang cukup ramai ini maka kami harus ekstra hati-hati saat menggowes ditambah lagi beban dari keseluruhan pannier yang kami bawa menjadikan medan tanjakan ini terasa semakin berat

Kurang lebih seperti inilah penampakan “kendaraan tempur” kami


Setelah gowes melalui medan tanjakan (dan banyak istirahatnya hehe…), sampailah kami di Pos Polisi Patuk, dititik ini kami beristirahat dan makan siang dulu sembari mengumpulkan energi untuk nanti menghadapi tanjakan berikutnya. Setelah beristirahat sekitar 1 jam maka saatnya lanjut gowes lagi, dari perempatan Pos Polisi Patuk kami berbelok ke kiri mengikuti penunjuk arah menuju Gunung Api Purba melewati Desa Ngoro-oro dimana terdapat banyak tower-tower relay pemancar milik beberapa stasiun televisi

Beristirahat lagi sejenak di pelataran sebuah Masjid


Sampai juga di titik lokasi tower-tower relay pemancar


Tampak Gunung Api Purba sudah terlihat dari lokasi sekitar tower


Berhubung viewnya bagus maka adegan foto-foto narsis pun dilakukan hehe…(terimakasih ya buat bapak pekerja bangunan yang sudah berbaik hati membantu memotret kami berdua)


Tidak jauh dari lokasi tower-tower ini nantinya kita akan menemui pertigaan UPT Puskesmas, nah belok ke kanan jika ingin menuju ke Gunung Api Purba (disekitar pertigaan ini juga ada obyek wisata lainnya yaitu Jurug Gedhe, arahnya belok ke kiri masuk menuju jalan kecil cor)

Medannya masih harus menanjak lagi euy


Untungnya penunjuk arahnya cukup jelas di setiap belokan sehingga kita tinggal mengikuti saja arah yang ditunjukkan. Sesampainya di Gunung Api Purba tampak parkiran kendaraan pribadi dan bus wisata sudah memadati tempat ini (dilokasi ini sebenarnya juga terdapat camping ground, hanya saja karena lokasinya yang berada di atas gunung dan mempertimbangkan faktor kesulitan membawa sepeda dengan semua panniernya, maka kami memutuskan menuju ke lokasi camping ground yang berada di Embung Nglanggeran saja karena lokasinya yang dibawah serta memungkinkan untuk membawa sepeda hingga ke lokasi camping groundnya)


Setelah membayar tiket masuk dan ijin untuk camping (untuk hari biasa dikenakan tarif 15rb/orang, sedangkan untuk hari libur seperti long weekend kali ini dikenakan tarif 20rb/orang) kami pun masih harus berjalan menuntun sepeda sejauh 800 meter (karena kontur medannya yang masih rusak parah, menanjak, dan susah untuk gowes)

Serius ini papan rambunya? OMG…speechless seketika


Sambil mendorong sepeda lalu istirahat, dorong lagi istirahat lagi, akhirnya sampai juga kami di tempat yang “agak” mendatar, untungnya pemandangan sekitar yang bagus di sepanjang perjalanan menjadi obat rasa lelah kami menuju kesini



Dan untuk menuju ke lokasi camping groundnya tentu saja….masih harus menanjak lagi hehe (ketawa stress), tetapi sepertinya dari pihak pengelola yang berjaga di pos retribusi sudah memberitahukan kepada petugas lainnya mengenai kedatangan kami yang mengendarai sepeda dan hendak camping, sehingga setibanya kami di titik ini ada seorang petugas yang membantu kami mendorong sepeda (salut untuk koordinasi dari pihak pengelola untuk membantu para pengunjung tempat ini, dan tidak “meremehkan” kedatangan kami-kami yang hanya bersepeda), bahkan kami juga diberitahu lokasi sekretariatnya (tidak jauh dari tempat parkir kendaraan bermotor) jika kami ingin beristirahat, mencari makan, atau sekedar mencharger ponsel

Lokasi camping ground berada di titik teratas dari area embung, tetapi kita juga diperbolehkan untuk mendirikan tenda di dekat gazebo-gazebo yang berada di sekitar lokasi embung, kami pun kemudian memilih untuk mendirikan tenda di titik teratas saja yang memang sudah khusus disediakan sebagai lokasi camping


Saat kami mulai mendirikan tenda ada beberapa pengunjung lainnya yang bertanya tentang prosedur ijin camping serta ketersediaan rental peralatan camping di tempat ini (berarti informasi seputar fasilitas camping ground masih kurang terpromosikan di tempat ini, sayang sekali padahal lokasi dan fasilitas pendukung yang tersedia seperti toilet, tempat makan, dan listrik sudah cukup memadai)


Bahkan beberapa pengunjung juga berfoto dengan latar belakang tenda dan sepeda-sepeda kami hehe…


Menjelang pukul 19.00 WIB kerumunan pengunjung yang semula memadati obyek wisata Embung Nglanggeran ini berangsur-angsur berkurang, dari keterangan petugas di lapangan rata-rata pengunjung mulai ramai datang sejak pagi hari untuk mengambil pemandangan sunrise hingga senja untuk mengambil suasana sunset, setelah itu mereka pulang

Untungnya kali ini cuaca cukup bersahabat (tidak seperti waktu kami bikecamping di Pantai Glagah Indah dahulu), selain itu keberadaan pohon dan bebatuan besar juga cukup melindungi tenda kami dari angin, untuk penerangan pun jangan kuatir karena lampu taman yang ada di sekitar camping ground dan embung juga dinyalakan sehingga tidak terlalu gelap, baiklah saatnya beristirahat dulu, selamat malam :)


(15/05/15) Selamat pagi semua :) sayangnya langit tampak berawan sejak semalam sehingga milky way dan pemandangan sunrise menjadi tidak terlihat, tapi tidak apa-apa karena kami memang bukan sunrise dan sunset hunter, lagipula ada pemandangan lainnya yang tidak kalah menakjubkan dari sunrise yaitu lautan kabut yang menyelimuti desa-desa yang berada di bawah lokasi Embung Nglanggeran

Segarnya udara pagi yang bebas polusi


Lautan Kabut yang menyelimuti disekitar lokasi Embung Nglanggeran



Indahnya hidup ini, suasana yang tenang, kicau burung dan udara segar, pemandangan yang indah, it’s paradise



Suasana disekitar lokasi ini memang masih sangat alami terbukti dari burung-burung yang beterbangan bebas, kami bahkan mengamati banyak burung-burung berwarna biru (entahlah apa namanya) yang saling berkejaran dan bermain bebas diantara pepohonan

Kalimat-kalimat bijak pepatah Jawa yang banyak terdapat di sekitar lokasi


Mumpung masih sepi belum ada pengunjung, maka saatnya melakukan foto-foto konyol



Love is everywhere even during our cycling trip


Abaikan handuk yang masih nempel di kepala :)


Sekarang saatnya berjalan-jalan mengitari Embung Nglanggeran


Sekedar informasi tambahan bahwa Embung adalah istilah yang biasa digunakan oleh orang Jawa untuk menyebut kolam atau telaga buatan yang berfungsi sebagai sarana pengairan, begitupun halnya dengan Embung Nglanggeran ini, sejak diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 19 Februari 2013 lalu, embung yang dulunya merupakan sebuah bukit bernama Gunung Gandu ini kemudian dipotong lalu dikeruk untuk dijadikan telaga buatan yang kemudian digunakan untuk mengairi kebun buah yang ada di sekitarnya, untuk sumber air dari embung ini selain berupa tadah hujan juga berasal dari mata air Sumber Sumurup yang berada di Gunung Nglanggeran

Panorama embung nglanggeran di pagi hari dengan lautan kabut yang berada disekitarnya



Didalam embung ini juga terdapat ikan-ikan nila kecil, oleh karena itu pengunjung tidak diperbolehkan untuk mandi, berenang, dan melempar apapun kedalam embung, sehingga cukup dengan menikmati pemandangan dan suasana sekitar embung saja sudah mengasyikkan kok (kalau mau membuat foto-foto romantis atau pre wedding dengan pasangan juga bisa)

Gazebo-gazebo yang ada disekitar embung sebagai tempat beristirahat pengunjung






Embung dengan latar belakang Gunung Api Purba


Semakin siang maka pengunjung sudah mulai berdatangan, saatnya kami mulai beres-beres untuk melanjutkan perjalanan pulang, setidaknya bikecamping kali ini berjalan dengan lancar, sukses dan aman. Setelah urusan packing beres dan tidak lupa mandi dulu supaya segar di perjalanan, kini saatnya pulang dan merencanakan petualangan goweswisata berikutnya

Berfoto dulu sebelum pulang


Sebenarnya masih banyak obyek wisata lainnya di sekitar lokasi ini, suatu saat kami pasti akan kembali lagi dan menjelajahinya satu persatu


Terimakasih sudah mengikuti petualangan goweswisata kali ini, ayo saatnya ciptakan petualanganmu sendiri

Sunday, 1 March 2015

Desa Wisata Jurug Taman Sari

(28/02/15), Masih meneruskan petualangan GowesWisata mencari lokasi-lokasi wisata tersembunyi di Yogyakarta, kali ini saya dan seorang rekan yaitu Ayub Firman Sakti mencoba bersepeda ke arah timur, tepatnya ke daerah sekitar Patuk, Gunung Kidul

Sebenarnya saya sudah lama tahu tentang nama desa wisata ini ketika dahulu melakukan agenda gowes ke Wanagama (lihat post terdahulu), saat sedang menunggu rekan-rekan yang lain di perempatan Patuk ada penanda arah menuju Desa Wisata Jurug Taman Sari, saat melihat nama tersebut “Jurug” hmmm…saya sudah menebak pastinya tempat ini berhubungan dengan air terjun, tetapi karena waktu itu tujuan kami adalah Hutan Wisata Wanagama maka penjelajahan menuju desa wisata ini tertunda dulu hingga akhirnya sekarang saatnya saya mencoba menjelajahi seperti apa sih Desa Wisata Jurug Taman Sari ini

Start dari Basecamp goweswisata sekitar pukul 07.30 WIB, sepeda kami arahkan melewati kantor PLN Gedongkuning kemudian belok ke kiri menuju Jalan Jogja-Wonosari terus saja kearah timur. Awal perjalanan masih terasa santai karena rute jalan yang datar, melewati tempat bermain Kids Fun di dekat Piyungan masih terus saja sampai tiba di traffic light sebelum akhirnya mulai memasuki tanjakan menuju Patuk

Entah kenapa semua rute tanjakan dari dulu selalu terlihat menyebalkan di mata saya (juga di dengkul saya) hehe…walaupun jika nanti berhasil menyelesaikan tanjakan tersebut pastinya kita juga bakal menikmati bonus pemandangan yang indah, tapi ya itu tadi semua tanjakan tetap terlihat jahanam di mata saya, baiklah saatnya atur shifting, konsentrasi, atur nafas, nyanyi-nyanyi sendiri juga boleh dalam hati supaya tidak kesal saat gowes :)

Gowes menanjak sambil celingak-celinguk mencari spot yang asik buat istirahat sebentar (ga ngitung berapa kali ya tadi berhenti untuk istirahat) pokoknya kalau nafas mulai terasa ngos-ngosan langsung istirahat, kan bukan atlet sayanya (alasan), setelah beberapa kali istirahat akhirnya ( kami istirahat lagi bwahahaha) di rest area tepat di dekat gerbang perbatasan Gunung Kidul (namanya saja rest area, berarti kita memang disuruh berhenti untuk beristirahat kan), di rest area yang baru dibuat ini telah disediakan beberapa gazebo dan bangku taman sehingga bagi beberapa pengguna jalan yang merasa letih setelah menempuh tanjakan Patuk bisa istirahat dulu di tempat ini


Ternyata wilayah sekitar Patuk juga telah dijadikan wisata geopark



Dari rest area kemudian kami lanjut gowes lagi sampai tiba di perempatan bukit Patuk, dari perempatan ini tinggal belok ke kanan ikuti penunjuk arah menuju Desa Wisata Jurug Taman Sari, setelah belok kanan nanti ada pertigaan ambil ke kiri, setelah itu ambil jalan yang menurun (ikuti penunjuk arah), tetapi jangan senang dulu dengan jalan yang menurun karena bisa dipastikan akan bertemu tanjakan lagi. Benar saja, setelah turunan tadi jalan mulai menanjak hingga tiba di perempatan tanpa penunjuk arah menuju Desa Wisata Jurug Taman Sari, supaya para pembaca tidak bingung, dari perempatan ini lurus saja ikuti jalan sampai ketemu pertigaan kemudian belok kanan, ikuti saja jalan yang turun-naik-turun-naik tersebut

Papan penunjuk arah di perempatan Patuk, 2km? hmmmm...sepertinya bakal lebih jauh


Di perempatan ini lurus saja ikuti jalan yang menurun


Di pertigaan ini belok ke kanan ikuti jalan yang menurun


Sehabis turunan tampaklah tanjakan :)



Kontur jalan yang turun-naik


Setelah melewati perjalanan yang berliku naik-turun-naik-turun, belok-belok, gabungan antara gowes dan menuntun sepeda akhirnya sampai juga di gerbang masuk Desa Wisata Jurug Taman Sari, tepatnya berada di Desa Semoyo, Patuk, Wonosari, GunungKidul, tapi jangan girang dulu karena untuk menuju lokasi air terjunnya sendiri masih “lumayan perjuangannya” baik jarak dan kondisi medannya



Dari gerbang tadi agak menanjak lalu pertigaan ambil kanan melewati sekolah dan pos retribusi


Untuk memasuki lokasi air terjun kita akan dikenai retribusi yang dikelola oleh warga setempat dengan biaya per orang sebesar Rp 2.000,- dan kendaraan (karena saya menggunakan sepeda maka hanya membayar Rp 1.000,-), kendaraan bermotor seperti mobil dapat diparkir tepat di dekat pos retribusi, sedangkan untuk motor dan sepeda dapat dibawa turun hingga ke lokasi parkir yang ada dibawah (untuk sepeda sebenarnya terserah saja mau diparkir di lokasi parkir atau dibawa hingga ke air terjun juga silahkan, tapi mengingat kondisi jalan setapak yang masih berupa tanah merah dan batuan licin, maka harus berhati-hati jika ingin membawa sepeda turun hingga lokasi air terjun, dan ingat nantinya juga harus menggotong sepeda lagi saat mau pulang hehe…)

Pertigaan dimana kalau ke kanan menuju terowongan, ke kiri menuju air terjun



Kondisi jalan yang masih berupa tanah merah dan bebatuan



Setibanya di tempat beristirahat tepat sebelum area air terjun, nantinya ada jalan ke kanan dan ke kiri, jika ke kiri berupa tangga setapak menurun itu menuju lokasi Jurug Gede atau disebut juga air terjun Lengkong Sari, dan air terjun Grejek-grejek, maka jalan yang ke kanan melewati jembatan bambu kecil itu menuju air terjun Banyu Semurup, disini kami mencoba menuju arah kanan dahulu, Air Terjun Banyu Semurup

Pos beristirahat yang "nantinya" kami jadikan tempat parkir sepeda (karena kecapean menuntun dan menggotong sepeda hehe)


Kondisi rute yang berupa jalan sempit dari tanah awalnya masih santai untuk menuntun sepeda, tetapi mulai menjadi tidak santai lagi ketika jalan tersebut menjadi undakan-undakan tangga dari tanah merah dan bebatuan, terkadang bahkan harus benar-benar mendorong atau mengangkat sepeda



Aliran air dari air terjun banyu semurup


Karena kondisi medan yang tertutup bebatuan besar akhirnya kami memutuskan untuk memarkir sepeda disini, untuk kemudian melanjutkan dengan trekking saja (tenang sepeda pasti aman disini karena medannya sendiri saja sudah menyulitkan untuk mendorong sepeda)


Rute trekking


Akhirnya Air Terjun Banyu Semurup



Ini air terjunnya, tidak begitu tinggi namun deras (dan sepertinya dalam)


Lokasi yang paling pas untuk mengamati pemandangan sekitar Air Terjun Banyu Semurup


Selepas dari Air Terjun Banyu Semurup saatnya kembali menjelajahi air terjun lainnya yang ada di lokasi ini (dan tentunya kembali mendorong sepeda). Akhirnya setelah tiba di pos istirahat yang tadi, kami pun memutuskan untuk memarkir sepeda disini saja, karena harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang nantinya. Kami kemudian berjalan menuruni anak tangga yang terbuat dari tanah merah dan bebatuan menuju air terjun lengkong sari dan grejek-grejek, sebenarnya secara keseluruhan tempat ini sudah lumayan tertata rapi, hal ini dapat terlihat dengan banyaknya gazebo dan bangku-bangku dari bambu untuk beristirahat serta penyediaan tempat sampah dan toilet namun entahlah selama seharian kami tidak melihat ada pengunjung lain yang datang ke tempat ini, sehingga selama hari ini pengunjung satu-satunya hanyalah kami dari goweswisata (tetapi menguntungkan karena kami jadi bebas membuat foto-foto dari berbagai angle hehe…)

Tujuan kedua adalah Air terjun Grejek-grejek, cukup ikuti penunjuk arah saja hingga tiba di aliran air (karena jalannya belum selesai dibuat) kemudian kita tinggal berjalan mencari rute sendiri menuju Air Terjun Grejek-grejek menapaki bebatuan yang ada di aliran air


Air terjun ini terdiri dari beberapa tingkat tetapi untuk menuju ke tingkat teratas tidak ada jalannya, satu-satunya cara adalah kita harus memanjat melalui sisi air terjun, walau hanya bisa sampai tingkat tengah saja tetapi sudah cukup untuk membuat foto-foto dokumentasi




Tidak lupa narsis-narsis dulu buat bukti perjalanan hehe...:)



Setelah puas menikmati keindahan Air Terjun Grejek-grejek maka sebagai tujuan akhir tentu saja Air Terjun Lengkong Sari atau disebut juga Jurug Gede yang sepertinya menjadi primadona utama dari keseluruhan tempat ini

Air Terjun Lengkong Sari atau Jurug Gede


Air terjun ini mempunyai 1 aliran air yang cukup deras sedangkan yang lainnya tidak begitu deras, entahlah bagaimana dengan kedalamannya karena air yang berwarna kehijauan membuat dasar dari kedungnya tidak terlihat



Beristirahat di tempat ini sungguh nyaman karena banyaknya pepohonan sehingga aliran udara disekitar lokasi terasa sejuk ditambah dengan suara air benar-benar cocok untuk relaksasi. Keasyikan beristirahat tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB hadewww jangan sampai kesorean pulangnya karena biasanya saat sore hari arus lalu-lintas di jalan Jogja-Wonosari penuh dengan bus dan truck yang menuju dan dari arah Patuk

Perjuangan pulang pun masih berat karena kami masih harus menggotong sepeda sampai tiba di lokasi parkiran, dan masih harus menempuh tanjakan hingga menuju perempatan Patuk (karena jalan yang tadinya menurun saat menuju ke desa wisata ini kini otomatis berubah menjadi tanjakan), dan akhirnya sampai juga di perempatan pos polisi Patuk (walau dengan beberapa kali beristirahat hehe…)

Di perjalanan pulang menuruni Patuk kami pun sempat berhenti untuk mengabadikan beberapa landmark yang ada di sekitar lokasi ini dan tentunya mengambil beberapa foto pemandangan yang nampak dari Bukit Bintang (sebuah spot yang cukup populer di tempat ini karena dari sini kita bisa melihat panorama Jogja dari ketinggian)

Baru tahu kalau sekarang dibuat penanda seperti ini :D


Panorama Kota Jogja dari atas Bukit Bintang, Patuk




Setidaknya kini para pembaca jadi tahu jika ingin mencari lokasi wisata alternatif yang masih alami atau mungkin bagi pecinta main air dan penghobby kegiatan adventure, jika kalian melewati Patuk tidak ada salahnya berkunjung ke tempat ini, karena dengan biaya retribusi yang cukup terjangkau setidaknya kalian bisa menikmati tiga keindahan air terjun dengan karakternya yang berbeda-beda satu sama lain dan berada dalam satu lokasi, serta jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan dari tempat ini karena tempat sampah pun sudah banyak tersedia di sekitar lokasi ini (jadi tidak ada alasan untuk buang sampah secara sembarangan hehe…)

Jika promosi pariwisata dari instansi terkait dilakukan secara maksimal, bukan tidak mungkin tempat ini kelak menjadi populer dan ramai dikunjungi (yang otomatis juga nantinya akan mengangkat perekonomian masyarakat sekitar lokasi), karena akses menuju lokasi desa wisata ini pun terbilang mudah, mungkin hanya dibutuhkan sedikit lagi penataan fasilitas pendukung dan perbaikan akses yang menuju air terjunnya saja sehingga memudahkan pengunjung saat melakukan trekking di lokasi dengan standar keamanan yang baik

Tips jika berkunjung ke lokasi ini :

- Lebih baik membawa atau menggunakan alas kaki berupa sepatu kets atau sandal gunung, karena untuk menuju masing-masing lokasi air terjun kita masih harus trekking dan sesekali memanjat bebatuan
- Ekstra waspada karena kondisi rute trekking yang cukup licin dan bebatuan yang berlumut
- Membawa minum dan makanan, karena warung terdekat berada di dekat pos retribusi dan di perumahan warga

Selamat berpetualang :)