Wednesday, 24 May 2017

CHAPTER 6; RUANG PUBLIK

Selasa, 22 Desember 2015,

Setelah melewati malam diruangan yang beraroma abu rokok, akhirnya oh akhirnya pagi hari pun datang juga, selamat datang udara pagi yang segar. Walaupun sebenarnya badan kami masih terasa sedikit lelah dan keinginan untuk melanjutkan tidur masih melekat namun hari ini kami harus tetap bangun pagi, kenapa? Karena nantinya di ruangan tempat kami beristirahat ini akan digunakan oleh para jurnalis untuk bekerja sehingga daripada ribed lebih baik kami saja yang pindah tempat sementara sekalian jalan-jalan melihat sekilas aktivitas di Kota Jombang ini.

Rencana hari ini adalah off from the bicycle, alias tidak bersepeda dulu karena toh di perjalanan ini kami pun terus menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama untuk berpindah antar kota sehingga supaya tidak jenuh dan bervariasi maka kali ini kami akan berjalan-jalan saja menggunakan kaki hehe…

Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, kemana dulu ya kira-kira enaknya, maklum karena biasanya jam-jam segini masih banyak tempat yang belum buka, beberapa tempat yang sudah pasti kami tuju antara lain adalah laundry untuk membersihkan pakaian-pakaian kotor (karena ditempat kami menumpang beristirahat kali ini ada sedikit kendala yaitu tidak adanya ruang untuk menjemur pakaian, namanya juga kantor) dan pasar tradisional untuk membeli beberapa bekal perjalanan besok.

Untungnya sambil berjalan kaki kali ini kami menemukan tempat laundry yang bisa mencuci 1 hari jadi sehingga kami tinggal mengambil besoknya sekaligus saat berangkat, ok berarti urusan laundry sudah beres, kini waktunya ke Pasar Tradisional mencari perbekalan.

Lokasi pasar yang tidak terlalu jauh dari Graha Media PWI (menurut kami) sebenarnya secara tidak langsung menjadikan akses pencapaian antar tempat di Kota ini terbilang mudah dan nyaman untuk berjalan kaki karena hampir di beberapa titik pasti terdapat taman-taman kota yang hijau dan penuh pepohonan, selain itu adanya jalur pembatas untuk pejalan kaki yang dinaungi rimbunnya pepohonan di sisi-sisinya menjadikan aktivitas berjalan kaki tidak terlalu berat dan panas di siang hari sekalipun (dengan catatan tidak sambil membawa beban yang berat), namun herannya tetap saja jarang ada yang berjalan kaki, mayoritas warganya pasti menggunakan kendaraan bermotor, beberapa masih ada yang menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi menuju tempat beraktivitasnya tetapi jumlah penggunanya masih kalah banyak dengan pengguna kendaraan bermotor (mungkin berbeda jika kebetulan sedang ada acara sepeda gembira hehe…)


Sesampainya di pasar tradisional suasana hiruk-pikuk antara penjual dan pembeli tampaknya menjadi pemandangan yang lumrah, sambil menunggu beberapa kios yang sedang bersiap untuk buka, kami pun mencari sarapan dulu, kali ini sepertinya menu nasi kuning yang dijajakan di angkringan pinggir jalan tampak menggoda, baiklah menu sarapan pagi ini berarti nasi kuning dan teh manis hangat dulu rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut.

Suasana di Pasar Tradisional



Perut sudah terisi, energy pun kembali penuh untuk berkeliling pasar dan mencari perbekalan, setelah semua daftar keperluan yang ada di list terpenuhi saatnya lanjut berkeliling sembari mencari tempat untuk beristirahat siang (karena saat siang hari seperti ini kami tidak mungkin bisa beristirahat di ruang yang kami gunakan untuk tidur semalam di Graha Media PWI dikarenakan ruang tersebut adalah ruang kerja para jurnalis).

Berjalan kaki di siang hari sambil menggotong belanjaan yang cukup berat ternyata sangat melelahkan apalagi kami tidak punya tempat tujuan untuk menghabiskan waktu menunggu sore, akhirnya beberapa kali kami beristirahat di pinggir jalan dan pos ronda sembari mengemil buah rambutan yang kami beli tidak jauh dari lokasi pasar tradisional tadi sambil berpikir enaknya mencari tempat beristirahat siang yang cukup nyaman dimana ya, tiba-tiba terbersitlah ide untuk beristirahat di Masjid saja sekalian menunggu waktu ibadah, daripada bingung mondar-mandir menenteng belanjaan lebih baik beristirahat siang di masjid saja.

Dan disinilah kami mendapat pengalaman berharga yang masih mempunyai “benang merah” dengan tulisan pada chapter sebelumnya, di saat kami sedang beristirahat di dalam masjid tersebut (kebetulan di dalam masjid tersebut di lengkapi dengan pendingin ruangan sehingga membuat suasana didalamnya terasa sejuk dan nyaman sekali) tiba-tiba usai menunaikan ibadah ada ibu-ibu yang bertanya asal dan tujuan kami, entahlah darimana beliau bisa mengetahui jika kami bukanlah warga sekitar Jombang, kami pun menjawab jika kami berasal dari Jakarta dan Bekasi namun berdomisili di Jogja, sedangkan tujuan kami adalah terus menuju kearah Timur sesampai dan sekuatnya kami saja, tanpa ada batasan waktu pasti karena di lapangan semua jadwal dapat berubah secara fleksibel, tidak ada misi apapun yang kami bawa karena perjalanan ini bersifat pribadi yaitu bagaimana perjalanan ini nantinya akan bernilai dalam hidup dan cara pandang kami terhadap kehidupan, Beliau pun bertanya di Jombang ini dimanakah kami tinggal sementara, kami pun menjawab sementara ini kami menumpang beristirahat di Graha Media PWI namun besoknya kami sudah akan melanjutkan perjalanan lagi, kepada Beliau juga kami saling bertukar cerita, ia bercerita tentang anaknya yang tinggal di pesantren dan kebetulan juga sedang berkelana menjelajah ke berbagai daerah, sehingga secara tidak langsung ia juga paham dan mengerti apa dan bagaimana yang kami rasakan dan pikirkan ketika membuat keputusan berkelana seperti ini, ia tidak memandang curiga ataupun rendah kepada kami yang jelas-jelas adalah “orang asing” dan tidak ada hubungan saudara sama sekali, bahkan ia pun menawarkan kepada kami sekiranya kami butuh tempat beristirahat maka kami di perbolehkan untuk menginap di rumah salah seorang saudaranya yang kebetulan mengelola sebuah Panti Asuhan, ia berkata mungkin tempatnya tidak terlalu luas namun setidaknya cukup nyaman untuk digunakan beristirahat, mungkin saat itu Beliau langsung teringat dengan anaknya yang sedang berkelana sehingga sebagaimana layaknya sosok orangtua yang bersifat “welas asih” terhadap anaknya maka ia pun menawarkan sebuah tempat persinggahan sementara kepada kami berdua.

Namun karena saat itu ego kami berdua adalah ingin secepatnya keluar dari Pulau Jawa (dan ditambah mood kami yang sedang agak kesal karena permasalahan “abu rokok” dan penggunaan ruang) maka dengan sopan kami pun menolaknya dengan alasan besok kami sudah akan berangkat lagi (keputusan ini menjadi salah satu hal yang kami sesali hingga kini karena bagaimanapun juga pastinya akan ada nilai kehidupan berharga lainnya yang dapat kami peroleh seandainya watu itu kami meng-iyakan tawaran beliau untuk tinggal sementara di Panti Asuhan yang dikelola oleh saudaranya, di satu sisi mungkin kami akan menjadi lebih menghargai hidup dengan melihat dan mendengar cerita dari semua yang ada di Panti Asuhan tersebut), tetapi ya sudahlah bagaimanapun juga keputusan itu kini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami berdua untuk mulai belajar melepaskan ego masing-masing dan mulai melihat semua hal dengan lebih luas dan terbuka lagi.

Seusai berbincang-bincang dengan kami, Beliau pun berpamitan sembari berpesan supaya tetap sehat dan berhati-hati di perjalanan, untuk sesaat ada perasaan nyaman yang masuk kedalam hati kami ketika mendengar pesan Beliau, pesan yang penuh ketulusan dan perhatian dari seseorang yang bukan dari orang pernah kami kenal sebelumnya.

Tak berapa lama kemudian ada sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon saya dari teman yang bekerja di Graha Media PWI bahwa kami bisa beristirahat di ruang atas yang baru saja di bersihkan (setidaknya tidak ada aroma asap rokok dan sirkulasi udara yang lancar itu pun sudah cukup bagi kami), sesampainya kembali di Graha Media kami pun langsung menuju ke ruang atas dan beristirahat, walaupun itu hanya ruang kosong dan beralaskan karpet tipis saja namun bagi kami berdua saat itu hal tersebut jauh lebih nyaman daripada ruang yang digunakan saat beristirahat semalam, selain ruang atas tersebut awalnya adalah sebuah ruang tidak terpakai dan berantakan namun setidaknya ruang tersebut bersifat jauh lebih privat sehingga cukup aman bagi barang-barang kami dan nyaman digunakan sebagai tempat beristirahat, selain itu pastinya bisa digunakan kapan saja tanpa perlu saling menunggu untuk bergantian menggunakan ruang

Bagi kami berdua secara pribadi pengalaman ini telah membuat kami belajar untuk kedepannya mempersiapkan diri lebih baik lagi ketika kami menjadi Host atau tuan rumah yang menyediakan atau menawarkan persinggahan sementara bagi orang-orang yang sedang berkelana dengan bersepeda, satu hal yang pasti adalah kami belajar untuk tidak melihat kriteria “ruang yang cukup” dari sudut pandang pemilik tempat saja, melainkan kini kami juga lebih mengerti tentang kriteria “ruang yang cukup” dari sisi sang pengguna, bahwa “ruang yang cukup” tersebut bukan saja berbicara tentang dimensi ruang yang terlihat atau aspek materi yang penting ada ruang untuk tidur semata, melainkan juga ada aspek sifat ruang (public atau privat) yang menekankan kenyamanan secara psikis bagi penggunanya, dan bagi kami berdua rasa lelah pada faktor psikis justru jauh lebih berbahaya dan secara tidak langsung turut mempengaruhi proses recovery yang dialami secara faktor fisik, dan itulah yang kini kami terapkan yaitu adanya respect terhadap privacy para guest baik itu dari sifat ruang maupun dari segi waktu yang dibutuhkan yaitu waktu dimana mereka ingin bersifat personal (mengeksplorasi suatu tempat sendirian atau beristirahat penuh) ataupun waktu ketika mereka ingin bersifat publik (bertukar pikiran, berbincang-bincang, hangout bersama, dan lainnya)
Setelah (akhirnya) bisa tidur siang, kini saatnya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menikmati Kota Jombang antara lain dengan melihat keindahan kota ini di malam hari, tempat yang tepat tentu saja adalah Alun-alun kota, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Graha Media sehingga kami pun cukup berjalan kaki saja. Suasana Alun-alun kota ini di malam hari cukup ramai, banyak warga yang datang bersama keluarganya maupun bersama teman-teman, tampak Masjid Agung Kota Jombang juga berdiri dengan megahnya di sekitar areal kompleks Alun-alun ini


Hiburan murah meriah bagi warga



Puas berkeliling Alun-alun dan menikmati makan malam kini sudah waktunya bagi kami untuk kembali ke Graha Media PWI, beristirahat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perjalanan lagi keesokan harinya, banyak pelajaran yang didapat selama tinggal di Kota ini, ada pengalaman yang menyenangkan dan ada juga yang kurang menyenangkan, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya namun semuanya sama-sama memberi pelajaran yang berharga dan semuanya telah menorehkan kenangan dalam catatan perjalanan hidup kami.

Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi kuning = Rp 7.000,-
- 2 gelas es teh manis = Rp 4.000,-
- Pasar Tradisional = Rp 38.500,-
- Laundry = Rp 13.000,-
- Minimarket = Rp 25.000,-
- Rambutan = Rp 5.000,-
- Pulsa = Rp 11.600,-
- 2 porsi nasi putih + 1 Mangkok soto = Rp 10.000,-
Total = Rp 114.100

Wednesday, 3 May 2017

CHAPTER 5; MELEPAS EGO

Senin, 21 Desember 2015,
Pengalaman pertama kali menginap di Kantor Polisi ternyata benar-benar terasa “nyaman”, maksud tanda kutip disini adalah secara suasana dan fasilitas sebenarnya tergolong cukup bagi kami yang kebutuhan utamanya hanyalah menumpang tidur dan mandi, dan dari segi keamanan tentu saja terjamin karena banyak petugas keamanan yang berjaga, selain itu adanya fasilitas kamar mandi serta diperbolehkan mengisi persediaan air minum juga merupakan suatu bonus yang diperlukan untuk perjalanan kami ini hehe… lalu apa yang menyebabkan saya memberi tanda kutip di kata “nyaman” adalah karena faktor banyak nyamuk di dalam bangunan yang kami tempati, bagi yang pernah merasakan betapa tersiksanya saat sudah ngantuk namun banyak suara dengung nyamuk yang melintas di sekitar telinga dan terkadang nyamuknya juga aktif banget main towal-towel di kulit orang hadeeehhh rasanya ingin nge-fogging itu nyamuk, sampai akhirnya kami baru bisa tidur sekitar pukul 2 pagi padahal besoknya kami sudah harus melanjutkan perjalanan ini (itu pun pada akhirnya kami tertidur karena sudah terlalu lelah dan kesal mengusir nyamuk)

Akhirnya pagi menjelang dan kini waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan. Setelah bersih-bersih dan mempacking semua barang (tidak lupa me-refill semua botol air minum hehe…) kami pun menuju ke pos petugas jaga untuk meminta kartu identitas kami, dan seperti biasa sesi dokumentasi pun kami lakukan untuk kenang-kenangan perjalanan ini (terimakasih Pak Asep, Pak Eko, Pak Nanang, dan semua petugas polisi lainnya di Kantor Polisi wilayah Saradan ini)


Selepas beranjak meninggalkan Kantor Polisi wilayah Saradan ini kami pun mulai menyusuri rute jalan melewati hutan jati seperti yang ada di wilayah Ngawi (oya sebelum kami berangkat, para petugas polisi juga berpesan supaya tidak ragu untuk meminta ijin bermalam di Kantor Polisi berikutnya di sepanjang rute perjalanan kami), tampak beberapa petugas polisi juga sedang berjaga di pos-pos polisi yang ada di sekitar rute hutan jati ini, ketika kami melintas mereka juga dengan ramah tersenyum dan melambai. Perlahan kami pun mulai keluar dari rute area hutan jati ini, setelahnya tampak kondisi jalan cukup bagus dan lenggang (minim warung), untunglah semua botol persediaan air minum kami sudah terisi penuh sehingga tidak ada masalah untuk tiba di kota berikutnya yaitu

Selamat datang Kota Nganjuk



Sekilas kota ini sebenarnya lebih condong sebagai kota perlintasan menuju kota besar berikutnya karena denyut aktivitas masyarakat di wilayah ini yang cenderung lebih tenang jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya yang pernah kami lewati, di wilayah ini selain cakupan kotanya tidak terlampau besar juga karena tidak ada kemacetan atau kebisingan layaknya yang terjadi di sebuah kota bisnis

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk beranjak keluar dari Kota Nganjuk ini, karena tujuan persinggahan kami berikutnya hari ini adalah Kota Jombang maka setidaknya kami harus bisa mengatur irama kayuhan kami supaya tidak terlalu sore tiba di Kota Jombang, disepanjang rute ini juga kami mulai merasakan sedikit bosan karena rute jalannya yang mayoritas datar, lurus, beraspal, tidak ada pemandangan alias yang tampak hanya pepohonan dan sawah yang kering disepanjang sisi jalan serta cuaca yang terik, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat sejenak sekaligus makan siang (yang harganya bersahabat pastinya), dan disinilah kami memutuskan untuk mengisi perut, alasannya kalian pasti tahu, coba cermati gambarnya baik-baik hehe…:)


Setelah selesai menyantap dua porsi soto babat dan tiga gelas es teh manis (apalagi harganya juga cukup membuat dompet ceria hohoho…) kami mulai melanjutkan kayuhan berikutnya, di beberapa papan petunjuk arah jalan tertulis bahwa Kota Jombang tinggal berjarak 2 km lagi namun anehnya sepertinya dari tadi kami mengayuh kok belum ada tanda-tanda adanya gapura bertuliskan selamat datang Kota Jombang, masa iya 2 km kok jauh banget rasanya (tips perjalanan berikutnya adalah jangan percaya dengan keterangan jarak di papan petunjuk arah, salah lokasi kali ya yang masang papannya)

Seorang teman yang berdomisili di Kota Jombang pun menghubungi kami untuk menanyakan dimanakah posisi kami saat ini, karena ia akan menunggu kami setibanya di Jombang nanti dan berikutnya ia akan memandu kami ke tempat dimana kami akan menumpang bermalam di Kota Jombang ini.

Dan akhirnya “2 km” (kata papan penunjuk arah yang ngaco tadi itu) pun terlalui juga, kami pun menunggu teman yang tadi sudah janjian untuk bertemu sebelumnya, sementara itu langit tampak sudah mulai mendung dan gerimis kecil, untunglah yang ditunggu pun akhirnya datang tidak lama kemudian, akhirnya bertiga kami pun mulai mengayuh ke tempat dimana kami akan menumpang beristirahat untuk hari ini yaitu di Graha Media PWI Jombang


Dilihat dari aktivitas yang nampak sepertinya bangunan ini berfungsi sebagai tempat beraktivitas para jurnalis, karena ada beberapa ruang yang digunakan untuk bekerja menulis artikel, siaran radio, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan dunia jurnalistik, saya pun lalu bertanya kira-kira dimanakah ruang yang dapat kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang, dan ternyata ruang yang bisa kami gunakan adalah ruang yang juga digunakan untuk bekerja para jurnalis dan ruang tersebut baru bisa kami gunakan setelah aktivitas para jurnalis itu selesai (sore hari) dan paginya ruang tersebut juga akan kembali digunakan untuk ruang kerja, nah lho lalu bagaimana ini? apa tidak saling mengganggu nantinya? Dengan kata lain kini kami harus menunggu para jurnalis itu selesai bekerja dulu barulah kami bisa menaruh barang-barang dan beristirahat, dengan kondisi badan yang lelah dan berkeringat tentu saja menunggu untuk bisa beristirahat menjadi hal terakhir yang paling tidak kami harapkan namun yah mau bagaimana lagi (sambil menunggu tentu saja saya sambil berkeliling untuk melihat apakah ada kemungkinan ruang lainnya yang tidak terpakai yang bisa kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang yang tidak mengganggu aktivitas dan rutinitas para pekerja yang menggunakan bangunan ini)

Sekitar pukul 5 sore akhirnya barulah kami bisa menaruh barang-barang kami dan bersih-bersih, namun keadaan tidaklah seperti yang kami duga karena ternyata di ruang yang kami gunakan untuk beristirahat itu banyak terdapat abu rokok, selain itu bau dari asap rokok tersebut juga terasa pekat sekali, mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah hal biasa namun bagi kami berdua yang notabene sama-sama bukan perokok dan tidak suka menghirup asap rokok tentu saja hal tersebut menjadi masalah, saat itu juga otomatis mood kami langsung drop antara ingin mencari tempat lain namun sudah kemalaman, mau pergi namun juga sudah lelah, yang ada di pikiran hanyalah mencari makan malam dan beristirahat, sehingga ketika teman kami mengajak beberapa temannya untuk bertemu dengan kami sekaligus mencari makan malam kami pun terpaksa menolaknya secara halus karena di satu sisi kami paham tentu saja sebagai tuan rumah pasti mereka ingin menunjukkan keindahan kotanya kepada para tamunya, hal tersebut tentu saja wajar dan kami juga senang-senang saja menerima tawarannya, nah alasan yang membuat kami menolaknya adalah karena kami ingin melihat keunikan kota ini di malam hari dengan berjalan kaki saja, selain lebih detail dengan berjalan kaki kami juga tidak perlu mencemaskan tentang keamanan sepeda-sepeda kami saat diparkir, namun mungkin karena mereka lebih memilih untuk berkeliling menggunakan sepeda daripada berjalan kaki akhirnya kami pun kemudian memutuskan untuk berkeliling berdua saja sekalian mencari makan malam

Bagi beberapa pihak mungkin menganggap kami sebagai tamu yang kurang sopan karena menolak ajakan dari sang tuan rumah, atau menganggap kami sebagai karakter “pilih-pilih tempat”, namun dari awal pun kami sudah menjelaskan jika kami melakukan perjalanan bersepeda seperti ini bukanlah semata-mata karena kami adalah seorang “pesepeda sejati”, yang kemana-mana menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, karena jujur saja kami pun juga senang berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum ketika berada di tempat yang baru kami singgahi, sekedar untuk merasakan bagaimana sistem dan kenyamanan transportasi umum yang ada dan juga untuk bisa menangkap detail keunikan kota tersebut dengan hanya berjalan kaki.

Setiap orang mempunyai cara dan gaya tersendiri untuk menikmati perjalanannya, ada yang sudah cukup puas dengan hanya melintasi suatu wilayah tertentu saja, namun ada juga yang merasa lebih puas jika tidak hanya sekedar melintas saja melainkan ia juga ingin merasakan sejenak menjadi bagian dari denyut kehidupan kota tersebut, dan itulah yang kami lakukan selama perjalanan ini yaitu mencoba menjadi bagian dari denyut aktivitas wilayah tersebut walaupun sesaat untuk kemudian kami rekam dalam ingatan dan tuangkan menjadi setiap bagian dari chapter perjalanan ini.

Bahkan saat jurnal perjalanan ini ditulis sejak awal hingga sepanjang perjalanan ini pun terkadang ada banyak penyesalan ketika masih banyak destinasi-destinasi lainnya yang terlewat begitu saja di sepanjang rute perlintasan kami hanya karena saat itu kami masih menuruti ego kami untuk bisa secepatnya keluar dari Pulau Jawa dan menyeberang ke Pulau-pulau lainnya, dan bukan hanya destinasi berupa lokasi saja yang terlewat melainkan pastinya ada banyak cerita dan nilai kehidupan lainnya yang turut terlewat karena kami mengejar ego berupa pencapaian lokasi, jarak dan waktu. Mungkin sudah saatnya bagi kami untuk perlahan belajar melepas ego ini dan mulai menikmati setiap cerita perjalanan dan petualangan berikutnya yang menanti kami kedepannya, karena setiap detail cerita dan pelajaran yang didapat dari perjalanan inilah yang nantinya akan menjadi kenangan yang paling berharga dalam hidup kami

Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto daging = Rp 10.000,-
- 3 gelas es teh manis =Rp 6.000,-
- 1 gelas es teh manis = Rp 3.000,-
- 2 porsi nasi goreng = Rp 16.000,-
- 2 gelas teh hangat = Rp 4.000,-
- Swalayan = Rp 18.400,-
- Buah Naga = Rp 5.500,-
Total = Rp 62.900,-

Total jarak tempuh hari ini = 62,25 km

Sunday, 23 April 2017

CHAPTER 4; SANG PENGAYOM MASYARAKAT

Minggu, 20 Desember 2015,

Minggu pagi merupakan waktu yang paling pas untuk beristirahat (bahasa asyiknya yaitu leyeh-leyeh kalau kata orang Jawa), trus nonton Doraemon, namun justru tepat di hari inilah waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh warga Dusun Trinil terutama kepada para pengurus Museum Trinil (Pak Agus, Pak Catur, Pak Sumadi dan Mas Tarmudji) yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap dan belajar banyak hal seputar dunia arkeologi, Museum, dan nilai kehidupan yang kami dapatkan dari orang-orang baik yang ada disini

Setelah (seperti biasa) menumpang mandi dirumah salah seorang pengurus, kami pun mulai mempacking semua panniers, cek… cek…cek… ok, tidak ada yang tertinggal, sembari berpamitan kami pun mendokumentasikan “acara foto bersama” hehe… oya disini ada hal menarik yang sampai sekarang masih terngiang diingatan kami berdua yaitu ketika kami mengucapkan terimakasih sekaligus bertanya alasan apa yang membuat Pak penjaga serta semua pengurus Museum mengijinkan kami menginap di dalam area Museum sedangkan kami berdua bukanlah pengunjung dalam artian spesifik yang benar-benar datang untuk berkunjung ke suatu obyek wisata, maksudnya kedatangan kami berdua ini sebenarnya kurang lebih sama seperti musafir yang sedang mencari tempat beristirahat sementara, oleh karena itulah ada rasa penasaran yang menggelitik benak kami untuk bertanya apa alasan yang membuat mereka percaya kepada kami (hari gini jarang-jarang lho ada orang yang benar-benar percaya kepada orang asing alias musafir atau pengembara, kalo kami ternyata maling Museum gimana hehe…), dan jawabannya wow sungguh bijak sekali, adem rasanya mendengar jawabannya, ia mengatakan seperti ini,” Mas, Mbak, kalau saya menolong orang itu pada dasarnya saya ikhlas-ikhlas saja semampu saya, saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa, biar Gusti Allah saja yang membalasnya, lagipula saya juga yakin kalau saya berbuat hal yang baik nantinya pasti anak-anak saya yang akan menerima hasilnya jika suatu saat mereka sedang dalam kesusahan, pasti nantinya ada hal baik yang akan memudahkan mereka”. Jadi intinya ia melakukan hal baik seperti ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri saja melainkan juga untuk orang lain (dalam hal ini anak-anak dan lingkungan sekitarnya), nah bayangkan pemikiran sesederhana itu ternyata masih ada dan kami dapatkan dari orang yang mungkin di mata masyarakat pada umumnya bukanlah sosok yang berpengaruh, ia hanyalah orang biasa dari kalangan ekonomi menengah, bukan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat professor, ia hanya sosok warga dusun sederhana biasa yang berprofesi sebagai seorang penjaga Museum dan petani, namun justru dengan jawaban seperti itulah maka ia terasa istimewa sekali bagi kami, sangat kontras dengan apa yang sering kami lihat di Media dan lingkungan masyarakat perkotaan dimana banyak orang yang berpendidikan tinggi namun bukannya mencerdaskan lingkungannya malah “minteri orang sekitarnya alias menipu”, ia pun bukanlah orang yang hidupnya berkecukupan tetapi mencukupkan dirinya dengan rejeki yang sudah menjadi haknya.


Disaat seperti inilah kadang membuat kami bertanya-tanya tentang sistem pendidikan seperti apakah yang berjalan di negeri ini, apakah sistem pendidikan yang membangun moral dan jiwa manusianya ataukah sistem pendidikan yang hanya membangun tampilan fisik atau raga manusianya, karena banyak orang-orang bertitel hebat diluar sana dengan sederet gelar akademis yang panjangnya kaya gerbong kereta api namun justru berakhir dalam bui karena tertangkap merugikan Negara dan mengambil hak orang lain, atau tidak membawa manfaat apapun bagi lingkungan sekitarnya, dan jujur saja di wilayah Dusun Trinil ini tidak ada bangunan sekolah yang mentereng dan mempunyai fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah yang ada kota besar, semua tatakrama dan nilai kehidupan yang dipegang masyarakat disini kebanyakan malah dibangun dan didapat dari lingkungan keluarganya masing-masing (kalau di kota besar malah kebalikannya, mayoritas lingkungan keluarga menyerahkan pendidikan anak kepada pihak luar seperti sekolah atau tempat les, sehingga orangtua hanya tahu beres saja, yang penting anak sudah sekolah dan harus pintar mengerti semuanya, dapat nilai bagus, lulus, dapat titel, dan lainnya) Hmmm… sesaat jadi teringat dengan lirik lagu Nasional kita yang mengatakan “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, dimana kata “Jiwa” berada diawal atau lebih dulu dibanding kata “Badan”, mungkin inilah yang dimaksud oleh sang penulis lirik supaya Indonesia nantinya menjadi Bangsa yang besar, semoga nantinya cita-cita besar itu dapat terwujud :)

Selepas keluar dari jalan masuk Dusun Trinil kami kembali harus melalui deretan Hutan Jati yang ada di sepanjang sisi jalan, kontur jalannya kebanyakan datar tetapi kondisinya hmmmm… ya begitu deh (tanpa saya jelaskan secara detail tentunya kalian sudah paham kan maksudnya hehe), cuaca hari ini pun cukup cerah, terlalu cerah malah alias panas terik, sehingga kami dihajar panas terik dari atas (sinar matahari) dan dari bawah (pantulan panas aspal) hingga akhirnya goodbye Kota Ngawi


Gara-gara cuaca panas yang aduhai tersebut akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi energi dengan makan siang (dirapel dengan sarapan), cara memilih menunya tentu saja dengan melihat deretan angka-angka yang ada di bagian kanan daftar menu terlebih dulu, kalau nominal angkanya bersahabat baru deh kami melihat ke keterangan yang ada di sebelah kirinya (alias nama menunya huehehe) akhirnya terpilihlah menu seperti ini jreng… jreng… (tuh liat karena judulnya petualangan bersepeda maka gelas minumnya saja sampai ada hubungannya dengan dunia persepedahan)


Setelah selesai makan harusnya energi kembali penuh (harusnya) tetapi yang ada malah jadi ngantuk, maklum cuacanya panas bener, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, selesai tidak selesai harus dikumpulkan (lho?), maksudnya the journey must go on, harus tetap dimulai gowesnya walau pelan yang penting bisa maju dikit-dikit sampai akhirnya…


Walau sudah memasuki Kabupaten Madiun tetapi kami memilih tidak masuk menuju Kotanya karena rutenya tidak searah dengan rute awal kami yang hendak menuju Saradan. Dan masih dalam episode ngantuk sebelumnya ditambah bonus cuaca yang panas akhirnya membuat kami beristirahat (lagi), daripada dipaksain ntar malah ngadat mending sesuka hati dan dengkul saja pola gowesnya hehe…


Karena kelamaan istirahat akhirnya menjelang sore hari kami baru tiba di Daerah Saradan, tepatnya sebelum memasuki kantor polisi Saradan yang dekat dengan perumahan tentara, tadinya kami hendak lanjut namun semakin sore ternyata lalu lintas di ruas jalan ini cukup berbahaya, selain karena ruas jalan yang sempit dan bergelombang juga karena banyak bus besar dan truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi kami juga tidak tahu seberapa panjang jarak ruas jalan yang melalui area hutan ini.

Melihat kondisi lalu lintas yang berbahaya dan waktu yang semakin sore menjelang maghrib akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di etape ini, tengok kiri-kanan mencari tempat yang pas untuk bermalam tapi tidak terlihat ada bangunan masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya sekiranya kami diijinkan bermalam atau mendirikan tenda di dekat kompleks perumahan tentara, namun karena tidak ada pihak yang bisa dimintai ijin dan daripada semakin malam akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba meminta ijin bermalam di kantor polisi Saradan yang kami lewati sebelumnya (yak putar arah lagi)

Sesampainya di kantor polisi jantung langsung berdegup kencang (maklum ini baru pertama kalinya kami mencoba minta ijin bermalam di kantor polisi yang lumayan besar seperti ini),kalau dulu mah ke kantor polisi biasanya cuma buat ngurus SKCK, untungnya ada polisi yang sempat melihat kami sewaktu melintas sebelumnya, ia pun bertanya asal dan tujuan kami, setelah menjelaskan asal dan tujuan kami serta maksud kedatangan kami untuk minta ijin bermalam, kami pun di perbolehkan menginap di salah satu bangunan bhayangkari yang biasa digunakan untuk mengurus administrasi warga. Buat yang sedang touring dan bingung tata cara minta ijin menginap di kantor polisi nah ini dia tipsnya ala goweswisata :

1. Datanglah ke kantor polisi yang menjadi tujuan menginap, jangan ke kantor yang lain
2. Pasang ekspresi senyum (walau jantung dag dig dug)
3. Tanya ke petugas jaga yang ada di bagian depan, jelaskan maksud kedatangan secara sopan, nanti petugas akan meminta kartu
identitas anda untuk disimpan diruang piket tapi bisa diambil lagi besok pagi saat kalian mau berangkat
4. Tanyalah diruang mana sekiranya kalian bisa menginap (biasanya sih di Mushalla atau di bangunan serbaguna kalau ada), jangan
lupa sekalian tanya kamar mandinya dimana
5. Bagi yang sedang touring berpasangan selain kartu identitas lebih baik jika kalian juga membawa fotocopy buku nikah, kalau
ada surat jalan lebih bagus tapi jika tidak ada juga tidak apa-apa (kami juga tidak pakai surat jalan kok)
6. Jangan nyampah diruangan yang kalian gunakan untuk tidur, tetap jaga kebersihan ya

Nah mudah kan caranya, dan jauh lebih aman dibandingkan jika kalian menginap di SPBU karena disini barang-barang kalian aman dijagain sama polisinya (bahkan sepeda-sepeda kami saja malah disuruh taruh didalam ruangan sekalian biar aman), selain itu boleh minta refill air minum pula hehe. Pokoknya segala kesan seram tentang sosok polisi seketika lenyap (tapi kurang tau kalau polisi di kota besar sama atau tidak, kalau polisi-polisi yang ada di daerah biasanya malah lebih baik dan asyik), disini kami juga diajak ngobrol dan makan oleh para polisinya, mereka justru tertawa saat kami bilang kirain polisi itu galak-galak, mereka bilang kalau di daerah mah beda mas, disini karena ruang lingkupnya kecil dan yang dilayani kebanyakan adalah masyarakat sekitar jadi pola yang diterapkan adalah ngemong atau menjadi pengayom warga, lagipula disini biasanya antar warga saling kenal karena sering bertemu, tapi kurang tau dengan pola yang diterapkan kepolisian di kota besar atau pusat.

Kantor Polisi Saradan


Bangunan tempat kami bermalam



Selain itu banyak pula anggota yang lain yang ujung-ujungnya malah curcol ketika bercerita tentang suka dukanya menjadi anggota polisi, terlebih dengan imej miring tentang polisi yang disebabkan kelakuan beberapa oknum kepolisian yang bertindak “nakal”, namun walaupun begitu hal tersebut tidak mengurangi kebanggaan dan tanggungjawab mereka saat memutuskan untuk menjadi petugas polisi yang ingin mengabdi dan melayani masyarakat, justru sebaliknya mereka yang benar-benar ingin bekerja dan mengayomi masyarakat kini berusaha keras menepis tudingan miring tersebut dengan benar-benar menjadi pengayom masyarakat, karena mereka percaya bahwa “oknum nakal” itu pasti ada di semua jenis profesi apapun itu, sedangkan pilihan untuk memegang teguh sumpah dan kode etik profesi berpulang kepada individu masing-masing, ia yang memilih apakah akan menjadi orang yang baik ataukah menjadi orang yang jahat, dan sebaik apapun profesi tersebut dijalankan pasti akan selalu ada pro dan kontra dari pihak-pihak luar yang melihatnya.

Beberapa anggota yang lain malah bercanda dengan menanyakan apakah kami berdua kabur dari rumah, sepertinya mereka tidak percaya jika kami berdua sudah menikah, yah beginilah resikonya punya wajah awet muda kyahahaha… mereka pun berkali-kali bertanya ini beneran gowes pake sepeda dari Jogja sampai sini, tidak numpang dimobil pick up atau bus, walah pak kalau bawaannya segini banyak, bus juga mikir-mikir buat kami tebengin gratis, dan berbagai pertanyaan standart lainnya seperti “apa tidak capek?”, ya jelas capek atuh, kalau cape ya istirahat dulu ntar baru lanjut lagi, kami kan bukan robot, bukan pula maniak gowes, kebetulan saja kami punyanya hanya sepeda, dan kami memang pingin jalan-jalan, piknik, tamasya, traveling tapi budgetnya terbatas, solusinya ya manfaatkan saja apa yang dipunya secara maksimal (dan mumpung usia serta tenaga masih sanggup), dan terbukti bertualang dengan cara seperti ini pada akhirnya membuat kami belajar banyak hal-hal baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang beraneka ragam, dan satu hal yang pasti perjalanan ini bukan hanya sekedar mengenai total jarak tempuh yang dilalui melainkan bagaimana perjalanan ini membawa perubahan terhadap cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan

Pengeluaran hari ini :
- Air Mineral 1,5L = Rp 5.200,-
- 2 Teh botol = Rp 5.000,-
- Toilet SPBU = Rp 2.000,-
- 2 porsi nasi sayur asem + 2 gorengan + 3 gelas es teh = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi sayur lodeh + 3 gelas es teh = Rp 16.000,-
- Roti = Rp 6.500,-
- 2 gelas teh manis = Rp 4.000,-
Total = Rp 52.700,-

Total jarak tempuh hari ini : 57,03km

Wednesday, 12 April 2017

CHAPTER 3; MUSEUM TRINIL


Jika kalian pernah tahu atau menonton sebuah film komedi box office berjudul “Night at Museum” yang dibintangi oleh Ben Stiller, dimana dalam film tersebut bercerita tentang seorang petugas jaga malam di sebuah Museum yang mengalami kejadian luar biasa dalam hidupnya saat ia mengetahui bahwa semua artifak sejarah yang ada didalam Museum yang dijaganya tersebut berubah menjadi hidup saat malam tiba, maka di malam kedua petualangan bersepeda kami, tiba-tiba ingatan tentang adegan dalam film tersebut kembali terlintas dalam pikiran.

Dengan suasana sekitar yang kurang lebih mirip dengan setting yang terjadi dalam film tersebut, yaitu saat ini kami bermalam di sebuah Museum yang menyimpan artefak dan fosil-fosil tulang belulang manusia serta hewan dari jaman prasejarah, tentunya akan sangat konyol sekali jika semua fosil tersebut kembali hidup seperti kejadian dalam film tersebut.

Setelah selesai bersih-bersih dan menggelar matras serta sleeping pad di pojok ruangan, sembari beristirahat saya pun menulis catatan singkat tentang apa saja yang terjadi diperjalanan hari ini, sedangkan diruang tengah tampak beberapa pekerja bangunan sedang asyik menonton tayangan televisi.

Jarum jam di dinding ruangan kantor menunjukkan pukul 8 malam, selagi asyik menulis seketika saya teringat jika malam ini perut kami belum terisi asupan makanan sedangkan sisa cemilan yang ada di pannier kami juga sudah habis, nah lho mana disekitar Museum juga tidak ada warung makan yang buka pula karena sudah malam. Untunglah disaat perut kami berdua sedang bersiap menggelar “orchestra kruyukan” tiba-tiba salah seorang pekerja bangunan menghampiri kami berdua sembari menawarkan makanan, Alhamdulillah benar-benar moment yang sangat tepat, ternyata Tuhan memang sangat penuh kasih terhadap hambanya yang tengah kelaparan ini.

Setelah perut terisi kini saatnya bagi kami untuk beristirahat, rencananya besok kami masih akan tetap berada di Museum Trinil ini, selain untuk memulihkan tenaga, kami juga ingin belajar tentang apa saja yang ada di Museum ini dan lokasi sekitarnya, baiklah selamat malam semua :)

Pagi menjelang diiringi sinar mentari yang perlahan mulai masuk kedalam ruangan kantor tempat kami menginap melalui sela-sela kisi jendela, huaaahhh… badan rasanya terasa segar setelah semalam tidur kami cukup nyenyak, baiklah saatnya beraktivitas mengisi hari ini, oya karena kamar mandi di bangunan kantor yang baru ini belum selesai proses finishingnya maka kami pun menumpang mandi dan mencuci baju di rumah salah seorang warga yang kebetulan juga bertugas menjadi pengurus museum.

Setelah proses bersih-bersih selesai kini saatnya menjelajahi area kompleks Museum Trinil ini dengan lebih leluasa dan jelas, area outbond yang kemarin rencananya menjadi tempat bermalam kami kini juga tampak lebih jelas (pantas saja kemarin kami diperbolehkan menginap di salah satu ruangan kantor karena fasilitas outbond dan camping ground yang ada belumlah selesai dibangun semuanya)


Secara garis besarnya area kompleks Museum Trinil ini terbagi menjadi beberapa zona, antara lain zona parkir kendaraan, zona aktivitas outbond dan bumi perkemahan yang sedang dibangun, bangunan kantor utama (termasuk ruang rapat tempat kami menginap, ruang tunggu, kamar mandi, janitor, dan 2 buah kamar sewa yang bisa digunakan bagi pengunjung yang ingin menginap), bangunan display Museum, Bangunan mushalla, pendopo, serta ruang laboratoriom dan audio visual yang saat kami berkunjung sedang dalam proses pembangunan supaya nantinya pengunjung dapat lebih tertarik untuk belajar tentang kegiatan arkeologi penemuan fosil dan sejarahnya.

Patung Gajah Purba yang menyambut pengunjung di pintu masuk area Museum


Bangunan Pendopo yang biasa digunakan sebagai tempat beristirahat


Bangunan Kantor Utama dimana kami menginap


Di ruang rapat inilah kami beristirahat


Bangunan Museum tempat display koleksi fosil


Seperti inilah isi bagian dalam ruang display Museum Trinil






Beberapa koleksi fosil yang dipamerkan





Kami juga dijelaskan mengenai awal proses penemuan fosil-fosil yang kini berada di dalam ruang display ini, kebanyakan penemuan fosil-fosil tersebut ditemukan oleh warga sekitar berada di aliran lembah Sungai Bengawan Solo Purba, sebagian masih tertimbun dalam tanah atau endapan lumpur namun ada juga yang berada di permukaan dalam bentuk fosil yang telah membatu. Oleh salah seorang warga bernama Wirodihardjo (lebih dikenal dengan sebutan Wirobalung) sejak tahun 1967 ia mengkoleksi dan menyimpan semua fosil temuannya tersebut dirumahnya, bahkan hampir sepertiga rumahnya terisi oleh fosil-fosil koleksinya, sehingga pada tahun 1980/1981 oleh Pemda setempat akhirnya didirikanlah sebuah Museum mini untuk menampung fosil-fosil koleksi Alm. Wirodihardjo tersebut, hingga akhirnya pada Tahun 1991 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur diresmikanlah Museum Trinil bertepatan dengan peringatan 100 tahun ditemukannya Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera berdiri tegak) oleh Eugene Dubois, seorang arkeolog asal Belanda yang hasil temuannya berupa fosil tulang paha, kepala dan berbagai fosil Binatang Prasejarah lainnya di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo Purba tersebut telah mendapatkan perhatian dari kalangan arkeolog internasional dan membuat nama Desa Trinil mendunia. Pembangunan Museum ini pun diharapkan dapat memberi manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, tempat rekreasi dan mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat sekitar

Setelah puas menjelajahi area kompleks Museum kini saatnya berjalan-jalan ke perkampungan yang ada di sekitar lokasi sembari mencari makan siang, di wilayah ini pula kami masih menemukan ada yang menjual nasi pecel seharga 3 ribu perak dan segelas teh manis hangat seharga 500 perak, yup kalian tidak salah membaca (dan saya juga tidak salah menulis hehe…) di tempat ini harganya bikin tercengang bayangkan ditahun 2015 ini masih ada tempat makan yang menjual segelas teh manis hangat seharga 500 perak, oohhh indahnya dunia hehe...:)

Suasana di dusun sekitar


Petuah bijak yang terpasang di dinding Masjid :)


Setelah makan “dengan bahagia”, kami lanjut lagi berjalan kaki santai menyusuri wilayah dusun sekitar, kehidupan disini masih sangat tenang (kelewat tenang malahan menurut saya alias sepiiii bingittt), ada sih beberapa warung tapi pembelinya ya tidak jauh dari anak-anak setempat, bagi beberapa pengunjung dari luar kota yang kebetulan ingin datang berkunjung ke Museum Trinil ini kalian mesti siap-siap membawa makanan dan minuman sendiri ya karena jarak antar warung disini lumayan jauh dan tidak ada angkot

Setidaknya perjalanan kali ini benar-benar membawa pengalaman baru dalam hidup kami berdua, mulai dari bertemu orang-orang baru, mempelajari hal-hal baru secara langsung, dan mulai percaya bahwa rencana Tuhan itu pasti indah hanya saja kita belum mengetahui akan seperti apa kejutan-kejutan berikutnya, namun yakinlah karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita

Besok saatnya memulai perjalanan dan petualangan baru berikutnya, apa yang akan terjadi kedepannya entahlah yang penting perjalanan ini belum akan berakhir, we still have a lot of stories to share, so keep following us

Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi sayur pecel + 2 gelas the manis + gorengan 6 buah = Rp 10.000,-
- 2 porsi soto ayam + 2 gelas es jeruk = Rp 16.000,-
- Air mineral 1,5L = Rp 5.000,-
Total = Rp 31.000,-

Tuesday, 3 January 2017

BENTENG VREDEBURG

Selamat Tahun Baru 2017 :) semoga di tahun yang baru ini segala sesuatunya akan menjadi lebih baik lagi.

Libur tahun baru pastinya identik dengan kegiatan berwisata, nah bagi kalian yang hendak mengunjungi Kota Yogyakarta namun masih bingung merencanakan mau kemana dan apa saja destinasi yang bisa dikunjungi di Yogyakarta mengingat di Propinsi Istimewa ini terdapat banyak sekali spot wisata yang sudah ada maupun yang baru bermunculan, coba deh masukkan Museum Benteng Vredeburg ke dalam susunan rencana perjalanan kalian selama berada di Yogyakarta.




Ada banyak alasan mengapa Museum Benteng Vredeburg harus dimasukkan kedalam susunan rencana perjalanan kalian, salah satunya adalah karena lokasi Museum ini yang sangat strategis. Museum Benteng Vredeburg berada di Jl. Ahmad Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122, dengan lokasinya yang ada di pusat kota yaitu tepat di titik nol km Kota Yogyakarta menjadikan akses untuk menuju Museum ini sangatlah mudah, jika kalian datang dengan menggunakan kereta api dari arah Stasiun Tugu, maka kalian tinggal berjalan kaki kearah Selatan menyusuri pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro sambil melihat dan merasakan suasana serta aktivitas perekonomian masyarakat sekitar, atau mencicipi aneka jajanan pasar yang ada di Pasar Beringharjo


Alasan lainnya berkaitan dengan keberadaan lokasi Museum ini yang strategis adalah disini selain berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa sekalian berkeliling ke berbagai spot lainnya yang ada tidak jauh dari lokasi Museum, antara lain Pasar Beringharjo yang letaknya bersebelahan di sisi utara Museum, di Pasar yang juga merupakan pasar tertua di Yogyakarta dan merupakan Bangunan Cagar Budaya ini kalian bisa menikmati aneka jajanan pasar dan makanan khas Jogja atau mencari souvenir seperti kreasi Batik dan lainnya. Selain itu bagi penggemar wisata belanja maka kalian juga bisa berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro untuk melihat dan mencari berbagai cenderamata khas Jogja. Dan jika kalian lelah sehabis berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro maka tidak perlu kuatir karena kini di sepanjang jalur pedestriannya telah disediakan banyak bangku-bangku untuk beristirahat.

Tidak hanya Pasar Beringharjo dan Malioboro saja yang menjadikan lokasi Museum Benteng Vredeburg ini strategis, karena tepat diseberang pintu masuk Benteng terdapat Bangunan Gedung Agung, yaitu bangunan yang kini digunakan sebagai Istana Presiden. Sedangkan diseberang Selatan Museum juga terdapat banyak bangunan Cagar Budaya bergaya arsitektur kolonial yang menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Dengan kata lain jika kalian mengunjungi Museum ini maka kalian juga bisa sekaligus menikmati banyak spot lainnya yang terdapat di sekitar area Benteng.



Dengan harga tiket masuk Museum yang relatif murah yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.000,- untuk anak-anak,serta jam buka Museum antara pukul 07.30 - 16.00 WIB kecuali pada hari senin dan hari libur nasional karena tutup maka tidak ada salahnya jika kalian menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat ini, selain sambil berekreasi kalian juga bisa sekaligus berwisata sejarah menambah pengetahuan dan wawasan

Benteng yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton awalnya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng Peristirahatan' kemudian berganti namanya pada tahun 1867, ketika di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg pun segera mengadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti 'Benteng Perdamaian'. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu





Didalam area Museum Benteng Vredeburg ini terdapat 2 bangunan utama yang berisi diorama dan foto-foto serta barang-barang peninggalan sejarah perjuangan para pahlawan bangsa ketika menghadapi masa penjajahan kolonial Belanda, yang menarik adalah disini juga disediakan fasilitas layar sentuh yang berisi keterangan singkat seputar diorama atau sejarah dari suatu peristiwa masa perang dahulu supaya pengunjung Museum mengerti apa yang terjadi di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran dimasa kini, terutama bagaimana menghargai hasil jerih payah para pejuang yang rela mengorbankan hidupnya supaya Indonesia bisa menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat sebagai satu kesatuan yang walau terdiri dari banyak suku, agama dan ras namun masing-masing bersedia berjuang dan melebur menjadi satu kesatuan.



Fasilitas layar sentuh yang berisi informasi peristiwa sejarah




Sculpture peristiwa ketika Ibu Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan






Disediakan juga game interaktif bagi pengunjung


Selain melihat isi bangunan utama dalam Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa berkeliling Benteng atau naik menyusuri tembok Pagar Benteng yang dahulu digunakan sebagai sebagai area patroli dan pertahanan


Saat ini bangunan Benteng Vredeburg sendiri selain digunakan sebagai Museum juga banyak digunakan sebagai latar pemotretan, karena dengan gaya arsitektur kolonialnya yang khas menjadikan banyak penikmat fotografi tertarik untuk mengabadikannya




Jadi tidak ada salahnya kan sesekali berwisata Museum? Karena dengan begini maka kita juga bisa belajar menghargai jasa para pejuang kemerdekaan, sekaligus juga kita akan tertantang untuk mengisi masa setelah kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan produktif, yang bisa menjadikan diri dan lingkungan sekitar kita lebih baik lagi