Kamis, 24 Desember 2015,
Fajar perlahan mulai menyingsing diufuk langit Kota Gempol, kami mulai terbangun sekitar pukul 04.30 WIB untuk menunaikan sholat subuh sekalian bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Sama halnya ketika kami menumpang menginap di kantor polsek Saradan, lagi-lagi nyamuk disini pun sama ganasnya alhasil semalaman saya pun jadi susah tidur, plak...plak..plak...hadeehhh nyamuknya pada seliweran dekat kuping, ngang...nging...ngang...nging. Sebenarnya didalam mushalla ada sebuah kipas angin dinding tetapi karena posisi kipas yang terlalu tinggi dan rasa kantuk yang membuat kami kurang konsentrasi saat hendak menyalakannya (kipas anginnya yang model pakai tali untuk menyalakannya) akhirnya saat kami hendak menarik tali kipas untuk menyalakannya eladalah kipas anginnya malah jatuh (nah lho mendadak langsung seger dah, langsung fokus ke cara benerinnya), mau dipasang lagi tapi karena letak paku gantungnya terlalu tinggi dan tidak adanya kursi (atau postur saya yang kurang tinggi) jadinya saya tidak bisa mengembalikan kipas ke posisinya semula, maaf ya pak polisi gara-gara kami kipasnya malah jadi jatuh deh hehe… tapi ga rusak kok cuma kita saja yang kurang tinggi buat masang itu kipas ke gantungannya
Sekitar pukul 06.00 WIB, setelah selesai mempacking semua barang dan mandi maka sekarang hanya tinggal mengambil KTP kami di meja jaga sekalian berpamitan mengucapkan terimakasih kepada petugas kepolisian sektor Gempol.
Sembari gowes kami juga mencoba menangkap detail dan merasakan suasana pagi serta denyut aktivitas masyarakat Kota Gempol, hmmm... Jam 7 pagi saja jalanan disini sudah mulai macet, motor, mobil pribadi, angkot, truk, semua jenis kendaraan komplit tumpah ruah berseliweran, berbeda sekali dengan suasana Kota Jombang yang meskipun skala kotanya lebih besar dan ramai namun situasinya masih lebih tertata daripada kondisi lalu lintas di Kota Gempol ini, hal ini mungkin juga dikarenakan banyaknya pabrik yang ada di sekitar wilayah ini, sekilas karakter Kota Gempol menurut saya sangat mirip dengan wilayah Karawang, Cibitung, atau Cikarang
Satu hal yang saya cermati disini adalah perilaku pengendara kendaraan bermotornya (terutama roda dua) yang tidak segan atau malu melawan arah, seakan semua itu adalah hal yang lumrah, sedangkan untuk kendaraan roda 4 nya mereka sepertinya punya hobby mengklakson, benar-benar perilaku berlalu lintas yang bebal dan menyebalkan (untuk sesaat saya merasa dejavu dengan suasana sewaktu masih tinggal di Jakarta, persis 11-12 parahnya dengan Jakarta dan sekitarnya).
Awannya kaya UFO bentuknya :)
Dari Gempol kami mengambil arah menuju Bangil dan Pasuruan, setibanya di Kota Pasuruan kondisi jalan sedikit ruwet, mungkin karena sebentar lagi akan menyambut hari raya Natal dan Tahun Baru. Tampak pos-pos polisi yang menggelar operasi lilin bertebaran dimana-mana dan sedang melakukan apel pagi dan simulasi pengamanan.
Selepas Bangil dan Pasuruan kami melanjutkan perjalanan menuju kota Probolinggo, jaraknya masih sekitar 31km lagi, entahlah apakah kami akan mencapai Kota Probolinggo hari ini ataukah memutuskan untuk beristirahat sebelum mencapai kotanya dan kembali melanjutkan perjalanan di keesokan harinya, karena cuaca hari ini yang sangat panas membuat badan menjadi cepat letih dan dehidrasi, hal ini membuat kami akhirnya beristirahat sejenak di sebuah rest area sambil menunggu cuaca panas agak mereda
Tanpa terasa waktu telah menunjukkan jam 1 siang, padahal kami masih menikmati istirahat di masjid yang teduh ini, namun mau tidak mau kami harus mulai melanjutkan gowes lagi, cuaca masih tetap terasa terik, walau tidak sepanas tadi tetapi kami harus terus melaju, perlahan tidak mengapa asalkan tetap konstan, hingga akhirnya di kejauhan mulai terlihat gerbang batas kota tanda kami mulai memasuki wilayah Kota Probolinggo.
Sekilas yang saya rasakan begitu memasuki kota ini adalah tata kotanya rapi sekali, dengan ruas jalan yang lebar lengkap dengan persimpangan dan yellow boxnya serta jalur pedestrian yang rapi, menunjukkan bahwa konsep pembangunan dan perencanaan kota ini telah terpikir dengan matang
Karena ini baru pertama kalinya kami berdua ke Kota Probolinggo sehingga walaupun melihat petunjuk di papan petunjuk arah namun masih ga mudeng dengan orientasi denah kotanya akhirnya kami pun memutuskan untuk bertanya di sebuah Pos Polantas yang ada di sebuah persimpangan.
“Permisi Pak kami mau numpang bertanya”, Kata kami kepada seorang petugas polisi yang sedang duduk di samping Pos Jaga, “kesini dulu kalian, ayo kesini kalau mau nanya, ayo sini istirahat dulu”, jawab Pak Polisi yang belakangan kami ketahui bernama Pak Ali, oleh Beliau kami malah diajak masuk ke dalam pos pantau untuk beristirahat (di dalam pos ternyata ada AC nya lho, huaaahh adem banget, jauh berbeda dengan panasnya perjalanan Gempol-Bangil-Pasuruan), “wah ada AC nya ya ternyata dalam pos” kata kami, “ya adalah memangnya pos polisi jaman dulu”, kata Pak Ali, hehe maklum pak kami kan belum pernah masuk ke dalam pos jaga lalu lintas, sambil bertanya asal dan tujuan kami beliau juga mentraktir es teh dan dibekali 2 buah botol air mineral 1,5L, terimakasih Pak Polisi :)
Oleh Pak Ali kami bahkan dianjurkan untuk beristirahat dan bermalam di kantor polres Probolinggo, akhirnya setelah kami tiba di kantor polres tersebut dan meminta ijin serta menjelaskan maksud kedatangan kami berdua, kami pun dipersilahkan untuk beristirahat dan bermalam di teras luar masjid polres probolinggo. Hal yang menarik disini adalah sepertinya semua polisi di polres probolinggo ini sangat rajin beribadah karena hampir setiap selesai sholat pasti langsung dilanjutkan dengan mengaji (yang lumayan panjang bacaannya) :) selain itu masjidnya pun bersih dan nyaman sekali
Setelah meng-unpacking semua barang dari sepeda dan mandi, semua barang kami titipkan dan taruh di dalam kamar takmir masjid supaya aman sehingga kini kami bebas untuk berjalan-jalan melihat keunikan kota ini
Oleh beberapa petugas kepolisian kami juga diberitahu arah menuju ke alun-alun kota dan Masjid Agung Probolinggo yang ternyata lokasinya tidak jauh dari kantor polres tempat kami menginap, hingga kami pun akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju ke Alun-alun kota
Seperti layaknya Alun-alun di kota lain yang merupakan ruang terbuka hijau, Alun-alun Kota Probolinggo sendiri juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat saling berinteraksi dan berolahraga. Dengan adanya hiasan air mancur di bagian tengahnya, monumen, beberapa pendopo, lapangan olahraga, serta rumah-rumahan untuk burung merpati, membuat para pengunjung baik tua-muda, laki-laki-perempuan, single ataupun berpasangan ramai berkunjung ke Alun-alun ini setiap harinya. Beberapa pedagang makanan hingga penjual jasa pembuatan tatoo hena juga turut menggelar dagangannya di luar pagar area Alun-alun
Satu hal yang terasa paling sulit bagi kami di wilayah Kota Probolinggo ini adalah mencari warung nasi dengan harga yang terjangkau, sejak tadi kami berjalan kaki, kami jarang melihat warung nasi yang buka, mungkin juga dikarenakan besok adalah hari libur Natal sehingga banyak warung makan yang tutup, sekalinya ada yang buka pun harganya membuat kami harus cermat menghitung budget, dan akhirnya untuk menghemat budget, kami pun hanya memesan sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis untuk di makan berdua sebelum kami kembali ke Masjid Polres untuk beristirahat.
Alun-alun Kota Probolinggo
Tidak lupa narsis dulu
Tampaknya Sang Pencipta benar-benar menjaga dan menyayangi kami berdua, terbukti walau sebenarnya perut kami masih lapar eh tiba-tiba selepas Sholat Isya berjamaah kami diundang oleh Pak Kapolres dan keluarganya untuk makan malam bersama-sama sekaligus dengan seluruh anggota polisi lain yang kebetulan ada di Masjid, maka jadilah kami kembali makan jilid kedua hehe...:)
Bakso, makanan yang satu ini sebenarnya merupakan salah satu makanan favorit Agit dari dulu, namun sejak perjalanan ini dimulai kami belum kesampaian untuk menyantap menu satu ini karena harganya yang cukup mahal (jika harus memilih maka kami lebih baik membeli dan makan nasi rames daripada bakso dengan budget yang sama), dan akhirnya keinginan yang lama terpendam tersebut kini terkabul juga, di rumah dinas Pak Kapolres kami disuguhi menu bakso lengkap dengan nasinya (Alhamdulillah cukup untuk menambah stamina gowes besoknya)
Setelah selesai makan kami pun kembali ke Masjid untuk menyiapkan perlengkapan tidur. Matras dan sleeping pad mulai kami gelar dan tiup. Sembari menyiapkan kami juga berdiskusi kira-kira bangun jam berapa ya keesokkan harinya, karena setelah adzan subuh jam 4 pagi biasanya langsung dilanjutkan dengan beberapa orang yang mengaji hingga jam 6 (alamat ga bisa tidur pules lagi setelah subuh)
Ya sudahlah kun fayakun saja apa yang akan terjadi, sebelum tidur saya masih menyempatkan untuk menulis kronologi yang terjadi hari ini sebagai pengingat, ketika sedang asyik menulis tiba-tiba ada seorang polisi muda bernama Bayu yang bertanya asal dan tujuan kami, setelah berbincang-bincang sebentar ia malah menawarkan kami berdua untuk bermalam saja dirumah dinasnya daripada tidur di teras masjid karena dikuatirkan kami malah tidak bisa beristirahat dengan nyaman karena kedatangan beberapa polisi yang keluar masuk masjid
Fasilitas rumah dinas yang diperuntukan bagi beberapa petugas polisi di polres Probolinggo ini berada tidak jauh dari area Masjid, secara tampilan luar bentuk bangunannya cukup sederhana namun bagi kami berdua yang selama beberapa hari ini hidup nomaden hal tersebut sudah merupakan sebuah kemewahan, kami tidur beralaskan matras yang empuk dan menikmati sejuknya pendingin ruangan (dan satu lagi yang terpenting adalah kali ini ruangan yang kami gunakan beristirahat bebas dari nyamuk)
Tempat beristirahat ternyaman selama perjalanan kami di Pulau Jawa :)
Setidaknya hingga hari ini kami lagi-lagi mendapat rejeki tak kasat mata berupa perlindungan dalam bentuk tempat bernaung, makanan, minuman, kesehatan, orang-orang baik yang kami temui dan berbagai kemudahan selama petualangan ini. Mungkin banyak orang yang menilai petualangan yang kami pilih merupakan sebuah hal yang sia-sia karena tidak ada nilai materi yang kami dapat, tetapi itu hanya terasa benar jika kalian menilai dari sudut pandang materialistik saja, jika orang mengatakan seakan kami berfoya-foya dan tidak menghasilkan materi selama perjalanan ini biarlah, itu hak semua pihak untuk menilainya, namun bagi kami berdua apa yang kami dapat dan kami berikan selama perjalanan ini jauh lebih berharga dari nilai materi yang ada di dunia ini, disini kami mendapat banyak ilmu, pengalaman hidup, nilai kehidupan, dan lainnya, kami bertukar kebaikan dan kepercayaan tanpa harus melalui sebuah kontrak tertulis bermaterai, kami juga belajar menghargai apa yang sudah kami dapat sehingga kami tidak menjadi orang yang selalu menuntut dan iri dengan kepunyaan orang lain, dan yang terpenting adalah kami sudah menghidupkan dan mewarnai cerita perjalanan hidup kami berdua.
Terimakasih kepada seluruh petugas kepolisian polres Probolinggo yang telah dengan ramahnya mengijinkan kami menginap padahal mereka juga tengah disibukkan menjaga keamanan kota serta mempersiapkan operasi lilin yang akan digelar sebentar lagi secara serentak, selamat bertugas dan semoga suatu saat kita dapat bersua lagi
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto ayam = Rp 12.000,-
- 2 gelas es teh manis = Rp 4.000,-
- 1 porsi nasi goreng = Rp 9.000,-
- 1 gelas es teh = Rp 2.500,-
Total = Rp 27.500,-
Total jarak tempuh hari ini : 65,37 km
Wednesday, 7 June 2017
CHAPTER 7; GEMPOL
Rabu, 23 Desember 2015,
Hari ini adalah saatnya bagi kami untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kearah Timur, sekitar pukul 06.00 WIB kami telah selesai mempacking semua perlengkapan ke atas sepeda, dan karena kebetulan teman saya yang bekerja di Graha Media PWI sedang bertugas keluar kota akhirnya kami pun hanya berpamitan melalui pesan singkat via telepon seluler saja
Suasana dan geliat aktivitas masyarakat Kota Jombang sudah mulai terasa di pagi hari ini, tampak beberapa pelajar dan masyarakat umum masih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi mereka, kami berdua pun turut menjadi bagian dari mobilitas tersebut, hanya saja kali ini mobilitas kami adalah untuk yang terakhir kalinya di kota ini karena kami mulai bergerak keluar menuju batas kota, mungkin di lain kesempatan kami akan datang lagi, sayonara Kota Jombang
Dari Grahamedia PWI Jombang kami mengambil rute melalui Ringin Contong yang merupakan sebuah tempat penampungan air yang dibangun pada zaman kolonialisme dan kini telah menjadi landmark Kota Jombang. Kondisi jalanan perlahan mulai terasa ramai di pagi hari ini, sesekali kami harus menyelip diantara deretan bus dan truk yang berjalan tersendat-sendat dikarenakan adanya keramaian di sekitar pasar dan beberapa pusat kegiatan masyarakat.
Di sepanjang rute menuju batas kota beberapa kali kami melihat adanya ruang terbuka hijau yang sepertinya dibuat tersebar di beberapa titik kota ini, seperti Kebon Rojo yang ada tak jauh dari alun-alun kota, serta Kebon Ratu yang berada dekat batas kota dan beberapa taman lainnya yang ada, membuat Kota ini menjadi kota dengan ruang terbuka hijau terbanyak yang pernah kami singgahi, betapa beruntungnya masyarakat yang berdomisili di kota ini karena pemerintah daerahnya telah berusaha membuat beberapa ruang terbuka sebagai wadah berinteraksi antar penghuninya supaya kota tersebut lebih humanis, dan menjadi sebuah kota yang ramah bagi penghuninya
Selepas Jombang rute kami berikutnya adalah menuju Mojokerto, tetapi nantinya kami tidak akan masuk ke dalam kotanya melainkan mengambil jalan potong melalui Mojosari. Di sepanjang jalan Jombang-Mojokerto ini kami sebenarnya melewati banyak lokasi-lokasi yang berhubungan dengan obyek wisata sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit seperti daerah Trowulan, candi-candi zaman Majapahit, vihara, dan lainnya, tetapi karena kami ingin mempersingkat waktu (dan lagi-lagi karena ego untuk bisa secepatnya keluar dari Pulau Jawa) maka pada akhirnya kami hanya melewatinya saja, dan tidak mengunjunginya satu persatu secara detail, disamping karena tujuan kami untuk hari ini masih cukup jauh, juga dikarenakan cuaca yang mulai mendung, dan benar saja tidak lama kemudian awan semakin gelap merata disertai dengan angin kencang, beberapa ranting pohon bahkan mulai berjatuhan, kami pun mulai menyiapkan dan memakai jas hujan kami masing-masing
Beristirahat sejenak sebelum menuju Mojosari
Beginilah penampakan "kendaraan tempur" kami
Hujan yang semula hanya rintik kini berubah semakin deras, banyak pengguna kendaraan bermotor roda dua yang menepi di pinggir jalan untuk berteduh, hal ini tentu saja membuat kondisi jalan menjadi lumayan lenggang, kami pun memanfaatkan situasi seperti ini dengan tetap mengayuh sepeda kami menembus derasnya hujan, setidaknya kini kami hanya bersaing dengan beberapa kendaraan roda 4 saja yang itu pun jumlahnya pun tidak terlalu banyak
Akhirnya selepas Mojosari hujan mulai berhenti, berganti dengan cuaca yang mulai cerah, kondisi ruas jalan yang tidak terlalu baik karena banyaknya lubang dan beberapa masih tertutup oleh genangan air membuat kami harus ekstra hati-hati supaya tidak terperosok ke dalam lubang yang lumayan dalam (dan banyak)
Mungkin karena sebelumnya kami nekat menerobos derasnya hujan dan kini harus berganti menghadapi teriknya sinar matahari ditambah lagi dengan suasana rute yang monoton, pada akhirnya membuat kami mulai mengantuk, namun ketika seorang pengendara motor yang awalnya hendak mengacungkan jempolnya saat melewati kami mendadak terjatuh tepat didepan kami dikarenakan ban depannya tergelincir masuk kedalam lubang jalan, sehingga ia tidak dapat menguasai kemudinya, alhasil kami pun spontan terkejut saat melihatnya terjatuh dan terseret sepanjang beberapa meter, motornya pun mengalami kerusakan, untunglah lalu lintas saat itu sepi sehingga ia tidak mengalami luka serius lebih lanjut, beberapa warga sekitar kemudian mencoba membantu menolong dan menepikan motornya, dan karena kejadian tersebutlah secara otomatis rasa kantuk kami mendadak hilang, berganti dengan rasa waspada, ya sudahlah sekarang gowesnya pelan-pelan saja supaya aman
Perlahan kami mulai memasuki wilayah Gempol, jarum jam pun menunjukkan sebentar lagi akan tiba waktu ibadah Ashar, ini menandakan bahwa kini waktunya bagi kami untuk mulai bersiap mencari tempat pemberhentian beristirahat malam ini. Kantor Polsek Gempol pun menjadi pilihan kami untuk menumpang menginap karena seperti yang sudah-sudah kami selalu dianjurkan oleh para polisi di polsek-polsek sebelumnya supaya jangan sungkan meminta ijin beristirahat di kantor polisi, selain keamanannya lebih terjaga daripada di SPBU juga karena polisi saat ini berusaha mencoba lebih dekat dengan masyarakat, supaya kesan bahwa kantor polisi itu "angker" kini perlahan mulai berganti dengan menampilkan sosok kepolisian sebagai sahabat, pelindung, dan pengayom masyarakat dalam arti yang sesungguhnya
Tempat bernaung hari ini adalah Polsek Gempol
Setelah melalui prosedur perijinan yang biasa dan menitipkan kartu identitas di pos jaga, kami pun dipersilahkan beristirahat di mushalla polsek untuk hari ini. Malamnya beberapa petugas polisi pun mengajak kami berbincang-bincang, bertukar cerita dan bercanda, ternyata memang benar petualangan ini telah membuat kami berdua banyak belajar hal-hal baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan setidaknya membuktikan bahwa masih banyak orang baik di luar sana, jika kalian belum menemukannya sampai saat ini maka kalian sajalah yang menjadi orang baik tersebut, karena mungkin diluar sana ada orang lain juga yang sedang membutuhkan orang-orang baik lainnya seperti kalian, oleh karena itu berbuat baiklah kepada siapa pun karena kebaikan yang kalian tanam akan berbuah kebaikan yang manis di masa yang akan datang dan dunia saat ini sedang membutuhkan banyak orang-orang yang seperti itu
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto lamongan = Rp 14.000,-
- 2 gelas es teh = Rp 5.000,-
- 2 buah naga = Rp 8.800,-
- 2 botol air mineral 1,5L = Rp 10.200,-
- 2 gelas es tebu + 1 botol = Rp 8.500,-
- belanja di minimarket = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi rames = Rp 10.000,-
Total = Rp 70.500,-
Total jarak tempuh hari ini : 65,12 km
Hari ini adalah saatnya bagi kami untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kearah Timur, sekitar pukul 06.00 WIB kami telah selesai mempacking semua perlengkapan ke atas sepeda, dan karena kebetulan teman saya yang bekerja di Graha Media PWI sedang bertugas keluar kota akhirnya kami pun hanya berpamitan melalui pesan singkat via telepon seluler saja
Suasana dan geliat aktivitas masyarakat Kota Jombang sudah mulai terasa di pagi hari ini, tampak beberapa pelajar dan masyarakat umum masih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi mereka, kami berdua pun turut menjadi bagian dari mobilitas tersebut, hanya saja kali ini mobilitas kami adalah untuk yang terakhir kalinya di kota ini karena kami mulai bergerak keluar menuju batas kota, mungkin di lain kesempatan kami akan datang lagi, sayonara Kota Jombang
Dari Grahamedia PWI Jombang kami mengambil rute melalui Ringin Contong yang merupakan sebuah tempat penampungan air yang dibangun pada zaman kolonialisme dan kini telah menjadi landmark Kota Jombang. Kondisi jalanan perlahan mulai terasa ramai di pagi hari ini, sesekali kami harus menyelip diantara deretan bus dan truk yang berjalan tersendat-sendat dikarenakan adanya keramaian di sekitar pasar dan beberapa pusat kegiatan masyarakat.
Di sepanjang rute menuju batas kota beberapa kali kami melihat adanya ruang terbuka hijau yang sepertinya dibuat tersebar di beberapa titik kota ini, seperti Kebon Rojo yang ada tak jauh dari alun-alun kota, serta Kebon Ratu yang berada dekat batas kota dan beberapa taman lainnya yang ada, membuat Kota ini menjadi kota dengan ruang terbuka hijau terbanyak yang pernah kami singgahi, betapa beruntungnya masyarakat yang berdomisili di kota ini karena pemerintah daerahnya telah berusaha membuat beberapa ruang terbuka sebagai wadah berinteraksi antar penghuninya supaya kota tersebut lebih humanis, dan menjadi sebuah kota yang ramah bagi penghuninya
Selepas Jombang rute kami berikutnya adalah menuju Mojokerto, tetapi nantinya kami tidak akan masuk ke dalam kotanya melainkan mengambil jalan potong melalui Mojosari. Di sepanjang jalan Jombang-Mojokerto ini kami sebenarnya melewati banyak lokasi-lokasi yang berhubungan dengan obyek wisata sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit seperti daerah Trowulan, candi-candi zaman Majapahit, vihara, dan lainnya, tetapi karena kami ingin mempersingkat waktu (dan lagi-lagi karena ego untuk bisa secepatnya keluar dari Pulau Jawa) maka pada akhirnya kami hanya melewatinya saja, dan tidak mengunjunginya satu persatu secara detail, disamping karena tujuan kami untuk hari ini masih cukup jauh, juga dikarenakan cuaca yang mulai mendung, dan benar saja tidak lama kemudian awan semakin gelap merata disertai dengan angin kencang, beberapa ranting pohon bahkan mulai berjatuhan, kami pun mulai menyiapkan dan memakai jas hujan kami masing-masing
Beristirahat sejenak sebelum menuju Mojosari
Beginilah penampakan "kendaraan tempur" kami
Hujan yang semula hanya rintik kini berubah semakin deras, banyak pengguna kendaraan bermotor roda dua yang menepi di pinggir jalan untuk berteduh, hal ini tentu saja membuat kondisi jalan menjadi lumayan lenggang, kami pun memanfaatkan situasi seperti ini dengan tetap mengayuh sepeda kami menembus derasnya hujan, setidaknya kini kami hanya bersaing dengan beberapa kendaraan roda 4 saja yang itu pun jumlahnya pun tidak terlalu banyak
Akhirnya selepas Mojosari hujan mulai berhenti, berganti dengan cuaca yang mulai cerah, kondisi ruas jalan yang tidak terlalu baik karena banyaknya lubang dan beberapa masih tertutup oleh genangan air membuat kami harus ekstra hati-hati supaya tidak terperosok ke dalam lubang yang lumayan dalam (dan banyak)
Mungkin karena sebelumnya kami nekat menerobos derasnya hujan dan kini harus berganti menghadapi teriknya sinar matahari ditambah lagi dengan suasana rute yang monoton, pada akhirnya membuat kami mulai mengantuk, namun ketika seorang pengendara motor yang awalnya hendak mengacungkan jempolnya saat melewati kami mendadak terjatuh tepat didepan kami dikarenakan ban depannya tergelincir masuk kedalam lubang jalan, sehingga ia tidak dapat menguasai kemudinya, alhasil kami pun spontan terkejut saat melihatnya terjatuh dan terseret sepanjang beberapa meter, motornya pun mengalami kerusakan, untunglah lalu lintas saat itu sepi sehingga ia tidak mengalami luka serius lebih lanjut, beberapa warga sekitar kemudian mencoba membantu menolong dan menepikan motornya, dan karena kejadian tersebutlah secara otomatis rasa kantuk kami mendadak hilang, berganti dengan rasa waspada, ya sudahlah sekarang gowesnya pelan-pelan saja supaya aman
Perlahan kami mulai memasuki wilayah Gempol, jarum jam pun menunjukkan sebentar lagi akan tiba waktu ibadah Ashar, ini menandakan bahwa kini waktunya bagi kami untuk mulai bersiap mencari tempat pemberhentian beristirahat malam ini. Kantor Polsek Gempol pun menjadi pilihan kami untuk menumpang menginap karena seperti yang sudah-sudah kami selalu dianjurkan oleh para polisi di polsek-polsek sebelumnya supaya jangan sungkan meminta ijin beristirahat di kantor polisi, selain keamanannya lebih terjaga daripada di SPBU juga karena polisi saat ini berusaha mencoba lebih dekat dengan masyarakat, supaya kesan bahwa kantor polisi itu "angker" kini perlahan mulai berganti dengan menampilkan sosok kepolisian sebagai sahabat, pelindung, dan pengayom masyarakat dalam arti yang sesungguhnya
Tempat bernaung hari ini adalah Polsek Gempol
Setelah melalui prosedur perijinan yang biasa dan menitipkan kartu identitas di pos jaga, kami pun dipersilahkan beristirahat di mushalla polsek untuk hari ini. Malamnya beberapa petugas polisi pun mengajak kami berbincang-bincang, bertukar cerita dan bercanda, ternyata memang benar petualangan ini telah membuat kami berdua banyak belajar hal-hal baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan setidaknya membuktikan bahwa masih banyak orang baik di luar sana, jika kalian belum menemukannya sampai saat ini maka kalian sajalah yang menjadi orang baik tersebut, karena mungkin diluar sana ada orang lain juga yang sedang membutuhkan orang-orang baik lainnya seperti kalian, oleh karena itu berbuat baiklah kepada siapa pun karena kebaikan yang kalian tanam akan berbuah kebaikan yang manis di masa yang akan datang dan dunia saat ini sedang membutuhkan banyak orang-orang yang seperti itu
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto lamongan = Rp 14.000,-
- 2 gelas es teh = Rp 5.000,-
- 2 buah naga = Rp 8.800,-
- 2 botol air mineral 1,5L = Rp 10.200,-
- 2 gelas es tebu + 1 botol = Rp 8.500,-
- belanja di minimarket = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi rames = Rp 10.000,-
Total = Rp 70.500,-
Total jarak tempuh hari ini : 65,12 km
Wednesday, 24 May 2017
CHAPTER 6; RUANG PUBLIK
Selasa, 22 Desember 2015,
Setelah melewati malam diruangan yang beraroma abu rokok, akhirnya oh akhirnya pagi hari pun datang juga, selamat datang udara pagi yang segar. Walaupun sebenarnya badan kami masih terasa sedikit lelah dan keinginan untuk melanjutkan tidur masih melekat namun hari ini kami harus tetap bangun pagi, kenapa? Karena nantinya di ruangan tempat kami beristirahat ini akan digunakan oleh para jurnalis untuk bekerja sehingga daripada ribed lebih baik kami saja yang pindah tempat sementara sekalian jalan-jalan melihat sekilas aktivitas di Kota Jombang ini.
Rencana hari ini adalah off from the bicycle, alias tidak bersepeda dulu karena toh di perjalanan ini kami pun terus menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama untuk berpindah antar kota sehingga supaya tidak jenuh dan bervariasi maka kali ini kami akan berjalan-jalan saja menggunakan kaki hehe…
Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, kemana dulu ya kira-kira enaknya, maklum karena biasanya jam-jam segini masih banyak tempat yang belum buka, beberapa tempat yang sudah pasti kami tuju antara lain adalah laundry untuk membersihkan pakaian-pakaian kotor (karena ditempat kami menumpang beristirahat kali ini ada sedikit kendala yaitu tidak adanya ruang untuk menjemur pakaian, namanya juga kantor) dan pasar tradisional untuk membeli beberapa bekal perjalanan besok.
Untungnya sambil berjalan kaki kali ini kami menemukan tempat laundry yang bisa mencuci 1 hari jadi sehingga kami tinggal mengambil besoknya sekaligus saat berangkat, ok berarti urusan laundry sudah beres, kini waktunya ke Pasar Tradisional mencari perbekalan.
Lokasi pasar yang tidak terlalu jauh dari Graha Media PWI (menurut kami) sebenarnya secara tidak langsung menjadikan akses pencapaian antar tempat di Kota ini terbilang mudah dan nyaman untuk berjalan kaki karena hampir di beberapa titik pasti terdapat taman-taman kota yang hijau dan penuh pepohonan, selain itu adanya jalur pembatas untuk pejalan kaki yang dinaungi rimbunnya pepohonan di sisi-sisinya menjadikan aktivitas berjalan kaki tidak terlalu berat dan panas di siang hari sekalipun (dengan catatan tidak sambil membawa beban yang berat), namun herannya tetap saja jarang ada yang berjalan kaki, mayoritas warganya pasti menggunakan kendaraan bermotor, beberapa masih ada yang menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi menuju tempat beraktivitasnya tetapi jumlah penggunanya masih kalah banyak dengan pengguna kendaraan bermotor (mungkin berbeda jika kebetulan sedang ada acara sepeda gembira hehe…)
Sesampainya di pasar tradisional suasana hiruk-pikuk antara penjual dan pembeli tampaknya menjadi pemandangan yang lumrah, sambil menunggu beberapa kios yang sedang bersiap untuk buka, kami pun mencari sarapan dulu, kali ini sepertinya menu nasi kuning yang dijajakan di angkringan pinggir jalan tampak menggoda, baiklah menu sarapan pagi ini berarti nasi kuning dan teh manis hangat dulu rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut.
Suasana di Pasar Tradisional
Perut sudah terisi, energy pun kembali penuh untuk berkeliling pasar dan mencari perbekalan, setelah semua daftar keperluan yang ada di list terpenuhi saatnya lanjut berkeliling sembari mencari tempat untuk beristirahat siang (karena saat siang hari seperti ini kami tidak mungkin bisa beristirahat di ruang yang kami gunakan untuk tidur semalam di Graha Media PWI dikarenakan ruang tersebut adalah ruang kerja para jurnalis).
Berjalan kaki di siang hari sambil menggotong belanjaan yang cukup berat ternyata sangat melelahkan apalagi kami tidak punya tempat tujuan untuk menghabiskan waktu menunggu sore, akhirnya beberapa kali kami beristirahat di pinggir jalan dan pos ronda sembari mengemil buah rambutan yang kami beli tidak jauh dari lokasi pasar tradisional tadi sambil berpikir enaknya mencari tempat beristirahat siang yang cukup nyaman dimana ya, tiba-tiba terbersitlah ide untuk beristirahat di Masjid saja sekalian menunggu waktu ibadah, daripada bingung mondar-mandir menenteng belanjaan lebih baik beristirahat siang di masjid saja.
Dan disinilah kami mendapat pengalaman berharga yang masih mempunyai “benang merah” dengan tulisan pada chapter sebelumnya, di saat kami sedang beristirahat di dalam masjid tersebut (kebetulan di dalam masjid tersebut di lengkapi dengan pendingin ruangan sehingga membuat suasana didalamnya terasa sejuk dan nyaman sekali) tiba-tiba usai menunaikan ibadah ada ibu-ibu yang bertanya asal dan tujuan kami, entahlah darimana beliau bisa mengetahui jika kami bukanlah warga sekitar Jombang, kami pun menjawab jika kami berasal dari Jakarta dan Bekasi namun berdomisili di Jogja, sedangkan tujuan kami adalah terus menuju kearah Timur sesampai dan sekuatnya kami saja, tanpa ada batasan waktu pasti karena di lapangan semua jadwal dapat berubah secara fleksibel, tidak ada misi apapun yang kami bawa karena perjalanan ini bersifat pribadi yaitu bagaimana perjalanan ini nantinya akan bernilai dalam hidup dan cara pandang kami terhadap kehidupan, Beliau pun bertanya di Jombang ini dimanakah kami tinggal sementara, kami pun menjawab sementara ini kami menumpang beristirahat di Graha Media PWI namun besoknya kami sudah akan melanjutkan perjalanan lagi, kepada Beliau juga kami saling bertukar cerita, ia bercerita tentang anaknya yang tinggal di pesantren dan kebetulan juga sedang berkelana menjelajah ke berbagai daerah, sehingga secara tidak langsung ia juga paham dan mengerti apa dan bagaimana yang kami rasakan dan pikirkan ketika membuat keputusan berkelana seperti ini, ia tidak memandang curiga ataupun rendah kepada kami yang jelas-jelas adalah “orang asing” dan tidak ada hubungan saudara sama sekali, bahkan ia pun menawarkan kepada kami sekiranya kami butuh tempat beristirahat maka kami di perbolehkan untuk menginap di rumah salah seorang saudaranya yang kebetulan mengelola sebuah Panti Asuhan, ia berkata mungkin tempatnya tidak terlalu luas namun setidaknya cukup nyaman untuk digunakan beristirahat, mungkin saat itu Beliau langsung teringat dengan anaknya yang sedang berkelana sehingga sebagaimana layaknya sosok orangtua yang bersifat “welas asih” terhadap anaknya maka ia pun menawarkan sebuah tempat persinggahan sementara kepada kami berdua.
Namun karena saat itu ego kami berdua adalah ingin secepatnya keluar dari Pulau Jawa (dan ditambah mood kami yang sedang agak kesal karena permasalahan “abu rokok” dan penggunaan ruang) maka dengan sopan kami pun menolaknya dengan alasan besok kami sudah akan berangkat lagi (keputusan ini menjadi salah satu hal yang kami sesali hingga kini karena bagaimanapun juga pastinya akan ada nilai kehidupan berharga lainnya yang dapat kami peroleh seandainya watu itu kami meng-iyakan tawaran beliau untuk tinggal sementara di Panti Asuhan yang dikelola oleh saudaranya, di satu sisi mungkin kami akan menjadi lebih menghargai hidup dengan melihat dan mendengar cerita dari semua yang ada di Panti Asuhan tersebut), tetapi ya sudahlah bagaimanapun juga keputusan itu kini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami berdua untuk mulai belajar melepaskan ego masing-masing dan mulai melihat semua hal dengan lebih luas dan terbuka lagi.
Seusai berbincang-bincang dengan kami, Beliau pun berpamitan sembari berpesan supaya tetap sehat dan berhati-hati di perjalanan, untuk sesaat ada perasaan nyaman yang masuk kedalam hati kami ketika mendengar pesan Beliau, pesan yang penuh ketulusan dan perhatian dari seseorang yang bukan dari orang pernah kami kenal sebelumnya.
Tak berapa lama kemudian ada sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon saya dari teman yang bekerja di Graha Media PWI bahwa kami bisa beristirahat di ruang atas yang baru saja di bersihkan (setidaknya tidak ada aroma asap rokok dan sirkulasi udara yang lancar itu pun sudah cukup bagi kami), sesampainya kembali di Graha Media kami pun langsung menuju ke ruang atas dan beristirahat, walaupun itu hanya ruang kosong dan beralaskan karpet tipis saja namun bagi kami berdua saat itu hal tersebut jauh lebih nyaman daripada ruang yang digunakan saat beristirahat semalam, selain ruang atas tersebut awalnya adalah sebuah ruang tidak terpakai dan berantakan namun setidaknya ruang tersebut bersifat jauh lebih privat sehingga cukup aman bagi barang-barang kami dan nyaman digunakan sebagai tempat beristirahat, selain itu pastinya bisa digunakan kapan saja tanpa perlu saling menunggu untuk bergantian menggunakan ruang
Bagi kami berdua secara pribadi pengalaman ini telah membuat kami belajar untuk kedepannya mempersiapkan diri lebih baik lagi ketika kami menjadi Host atau tuan rumah yang menyediakan atau menawarkan persinggahan sementara bagi orang-orang yang sedang berkelana dengan bersepeda, satu hal yang pasti adalah kami belajar untuk tidak melihat kriteria “ruang yang cukup” dari sudut pandang pemilik tempat saja, melainkan kini kami juga lebih mengerti tentang kriteria “ruang yang cukup” dari sisi sang pengguna, bahwa “ruang yang cukup” tersebut bukan saja berbicara tentang dimensi ruang yang terlihat atau aspek materi yang penting ada ruang untuk tidur semata, melainkan juga ada aspek sifat ruang (public atau privat) yang menekankan kenyamanan secara psikis bagi penggunanya, dan bagi kami berdua rasa lelah pada faktor psikis justru jauh lebih berbahaya dan secara tidak langsung turut mempengaruhi proses recovery yang dialami secara faktor fisik, dan itulah yang kini kami terapkan yaitu adanya respect terhadap privacy para guest baik itu dari sifat ruang maupun dari segi waktu yang dibutuhkan yaitu waktu dimana mereka ingin bersifat personal (mengeksplorasi suatu tempat sendirian atau beristirahat penuh) ataupun waktu ketika mereka ingin bersifat publik (bertukar pikiran, berbincang-bincang, hangout bersama, dan lainnya)
Setelah (akhirnya) bisa tidur siang, kini saatnya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menikmati Kota Jombang antara lain dengan melihat keindahan kota ini di malam hari, tempat yang tepat tentu saja adalah Alun-alun kota, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Graha Media sehingga kami pun cukup berjalan kaki saja. Suasana Alun-alun kota ini di malam hari cukup ramai, banyak warga yang datang bersama keluarganya maupun bersama teman-teman, tampak Masjid Agung Kota Jombang juga berdiri dengan megahnya di sekitar areal kompleks Alun-alun ini
Hiburan murah meriah bagi warga
Puas berkeliling Alun-alun dan menikmati makan malam kini sudah waktunya bagi kami untuk kembali ke Graha Media PWI, beristirahat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perjalanan lagi keesokan harinya, banyak pelajaran yang didapat selama tinggal di Kota ini, ada pengalaman yang menyenangkan dan ada juga yang kurang menyenangkan, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya namun semuanya sama-sama memberi pelajaran yang berharga dan semuanya telah menorehkan kenangan dalam catatan perjalanan hidup kami.
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi kuning = Rp 7.000,-
- 2 gelas es teh manis = Rp 4.000,-
- Pasar Tradisional = Rp 38.500,-
- Laundry = Rp 13.000,-
- Minimarket = Rp 25.000,-
- Rambutan = Rp 5.000,-
- Pulsa = Rp 11.600,-
- 2 porsi nasi putih + 1 Mangkok soto = Rp 10.000,-
Total = Rp 114.100
Setelah melewati malam diruangan yang beraroma abu rokok, akhirnya oh akhirnya pagi hari pun datang juga, selamat datang udara pagi yang segar. Walaupun sebenarnya badan kami masih terasa sedikit lelah dan keinginan untuk melanjutkan tidur masih melekat namun hari ini kami harus tetap bangun pagi, kenapa? Karena nantinya di ruangan tempat kami beristirahat ini akan digunakan oleh para jurnalis untuk bekerja sehingga daripada ribed lebih baik kami saja yang pindah tempat sementara sekalian jalan-jalan melihat sekilas aktivitas di Kota Jombang ini.
Rencana hari ini adalah off from the bicycle, alias tidak bersepeda dulu karena toh di perjalanan ini kami pun terus menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama untuk berpindah antar kota sehingga supaya tidak jenuh dan bervariasi maka kali ini kami akan berjalan-jalan saja menggunakan kaki hehe…
Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, kemana dulu ya kira-kira enaknya, maklum karena biasanya jam-jam segini masih banyak tempat yang belum buka, beberapa tempat yang sudah pasti kami tuju antara lain adalah laundry untuk membersihkan pakaian-pakaian kotor (karena ditempat kami menumpang beristirahat kali ini ada sedikit kendala yaitu tidak adanya ruang untuk menjemur pakaian, namanya juga kantor) dan pasar tradisional untuk membeli beberapa bekal perjalanan besok.
Untungnya sambil berjalan kaki kali ini kami menemukan tempat laundry yang bisa mencuci 1 hari jadi sehingga kami tinggal mengambil besoknya sekaligus saat berangkat, ok berarti urusan laundry sudah beres, kini waktunya ke Pasar Tradisional mencari perbekalan.
Lokasi pasar yang tidak terlalu jauh dari Graha Media PWI (menurut kami) sebenarnya secara tidak langsung menjadikan akses pencapaian antar tempat di Kota ini terbilang mudah dan nyaman untuk berjalan kaki karena hampir di beberapa titik pasti terdapat taman-taman kota yang hijau dan penuh pepohonan, selain itu adanya jalur pembatas untuk pejalan kaki yang dinaungi rimbunnya pepohonan di sisi-sisinya menjadikan aktivitas berjalan kaki tidak terlalu berat dan panas di siang hari sekalipun (dengan catatan tidak sambil membawa beban yang berat), namun herannya tetap saja jarang ada yang berjalan kaki, mayoritas warganya pasti menggunakan kendaraan bermotor, beberapa masih ada yang menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi menuju tempat beraktivitasnya tetapi jumlah penggunanya masih kalah banyak dengan pengguna kendaraan bermotor (mungkin berbeda jika kebetulan sedang ada acara sepeda gembira hehe…)
Sesampainya di pasar tradisional suasana hiruk-pikuk antara penjual dan pembeli tampaknya menjadi pemandangan yang lumrah, sambil menunggu beberapa kios yang sedang bersiap untuk buka, kami pun mencari sarapan dulu, kali ini sepertinya menu nasi kuning yang dijajakan di angkringan pinggir jalan tampak menggoda, baiklah menu sarapan pagi ini berarti nasi kuning dan teh manis hangat dulu rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut.
Suasana di Pasar Tradisional
Perut sudah terisi, energy pun kembali penuh untuk berkeliling pasar dan mencari perbekalan, setelah semua daftar keperluan yang ada di list terpenuhi saatnya lanjut berkeliling sembari mencari tempat untuk beristirahat siang (karena saat siang hari seperti ini kami tidak mungkin bisa beristirahat di ruang yang kami gunakan untuk tidur semalam di Graha Media PWI dikarenakan ruang tersebut adalah ruang kerja para jurnalis).
Berjalan kaki di siang hari sambil menggotong belanjaan yang cukup berat ternyata sangat melelahkan apalagi kami tidak punya tempat tujuan untuk menghabiskan waktu menunggu sore, akhirnya beberapa kali kami beristirahat di pinggir jalan dan pos ronda sembari mengemil buah rambutan yang kami beli tidak jauh dari lokasi pasar tradisional tadi sambil berpikir enaknya mencari tempat beristirahat siang yang cukup nyaman dimana ya, tiba-tiba terbersitlah ide untuk beristirahat di Masjid saja sekalian menunggu waktu ibadah, daripada bingung mondar-mandir menenteng belanjaan lebih baik beristirahat siang di masjid saja.
Dan disinilah kami mendapat pengalaman berharga yang masih mempunyai “benang merah” dengan tulisan pada chapter sebelumnya, di saat kami sedang beristirahat di dalam masjid tersebut (kebetulan di dalam masjid tersebut di lengkapi dengan pendingin ruangan sehingga membuat suasana didalamnya terasa sejuk dan nyaman sekali) tiba-tiba usai menunaikan ibadah ada ibu-ibu yang bertanya asal dan tujuan kami, entahlah darimana beliau bisa mengetahui jika kami bukanlah warga sekitar Jombang, kami pun menjawab jika kami berasal dari Jakarta dan Bekasi namun berdomisili di Jogja, sedangkan tujuan kami adalah terus menuju kearah Timur sesampai dan sekuatnya kami saja, tanpa ada batasan waktu pasti karena di lapangan semua jadwal dapat berubah secara fleksibel, tidak ada misi apapun yang kami bawa karena perjalanan ini bersifat pribadi yaitu bagaimana perjalanan ini nantinya akan bernilai dalam hidup dan cara pandang kami terhadap kehidupan, Beliau pun bertanya di Jombang ini dimanakah kami tinggal sementara, kami pun menjawab sementara ini kami menumpang beristirahat di Graha Media PWI namun besoknya kami sudah akan melanjutkan perjalanan lagi, kepada Beliau juga kami saling bertukar cerita, ia bercerita tentang anaknya yang tinggal di pesantren dan kebetulan juga sedang berkelana menjelajah ke berbagai daerah, sehingga secara tidak langsung ia juga paham dan mengerti apa dan bagaimana yang kami rasakan dan pikirkan ketika membuat keputusan berkelana seperti ini, ia tidak memandang curiga ataupun rendah kepada kami yang jelas-jelas adalah “orang asing” dan tidak ada hubungan saudara sama sekali, bahkan ia pun menawarkan kepada kami sekiranya kami butuh tempat beristirahat maka kami di perbolehkan untuk menginap di rumah salah seorang saudaranya yang kebetulan mengelola sebuah Panti Asuhan, ia berkata mungkin tempatnya tidak terlalu luas namun setidaknya cukup nyaman untuk digunakan beristirahat, mungkin saat itu Beliau langsung teringat dengan anaknya yang sedang berkelana sehingga sebagaimana layaknya sosok orangtua yang bersifat “welas asih” terhadap anaknya maka ia pun menawarkan sebuah tempat persinggahan sementara kepada kami berdua.
Namun karena saat itu ego kami berdua adalah ingin secepatnya keluar dari Pulau Jawa (dan ditambah mood kami yang sedang agak kesal karena permasalahan “abu rokok” dan penggunaan ruang) maka dengan sopan kami pun menolaknya dengan alasan besok kami sudah akan berangkat lagi (keputusan ini menjadi salah satu hal yang kami sesali hingga kini karena bagaimanapun juga pastinya akan ada nilai kehidupan berharga lainnya yang dapat kami peroleh seandainya watu itu kami meng-iyakan tawaran beliau untuk tinggal sementara di Panti Asuhan yang dikelola oleh saudaranya, di satu sisi mungkin kami akan menjadi lebih menghargai hidup dengan melihat dan mendengar cerita dari semua yang ada di Panti Asuhan tersebut), tetapi ya sudahlah bagaimanapun juga keputusan itu kini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami berdua untuk mulai belajar melepaskan ego masing-masing dan mulai melihat semua hal dengan lebih luas dan terbuka lagi.
Seusai berbincang-bincang dengan kami, Beliau pun berpamitan sembari berpesan supaya tetap sehat dan berhati-hati di perjalanan, untuk sesaat ada perasaan nyaman yang masuk kedalam hati kami ketika mendengar pesan Beliau, pesan yang penuh ketulusan dan perhatian dari seseorang yang bukan dari orang pernah kami kenal sebelumnya.
Tak berapa lama kemudian ada sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon saya dari teman yang bekerja di Graha Media PWI bahwa kami bisa beristirahat di ruang atas yang baru saja di bersihkan (setidaknya tidak ada aroma asap rokok dan sirkulasi udara yang lancar itu pun sudah cukup bagi kami), sesampainya kembali di Graha Media kami pun langsung menuju ke ruang atas dan beristirahat, walaupun itu hanya ruang kosong dan beralaskan karpet tipis saja namun bagi kami berdua saat itu hal tersebut jauh lebih nyaman daripada ruang yang digunakan saat beristirahat semalam, selain ruang atas tersebut awalnya adalah sebuah ruang tidak terpakai dan berantakan namun setidaknya ruang tersebut bersifat jauh lebih privat sehingga cukup aman bagi barang-barang kami dan nyaman digunakan sebagai tempat beristirahat, selain itu pastinya bisa digunakan kapan saja tanpa perlu saling menunggu untuk bergantian menggunakan ruang
Bagi kami berdua secara pribadi pengalaman ini telah membuat kami belajar untuk kedepannya mempersiapkan diri lebih baik lagi ketika kami menjadi Host atau tuan rumah yang menyediakan atau menawarkan persinggahan sementara bagi orang-orang yang sedang berkelana dengan bersepeda, satu hal yang pasti adalah kami belajar untuk tidak melihat kriteria “ruang yang cukup” dari sudut pandang pemilik tempat saja, melainkan kini kami juga lebih mengerti tentang kriteria “ruang yang cukup” dari sisi sang pengguna, bahwa “ruang yang cukup” tersebut bukan saja berbicara tentang dimensi ruang yang terlihat atau aspek materi yang penting ada ruang untuk tidur semata, melainkan juga ada aspek sifat ruang (public atau privat) yang menekankan kenyamanan secara psikis bagi penggunanya, dan bagi kami berdua rasa lelah pada faktor psikis justru jauh lebih berbahaya dan secara tidak langsung turut mempengaruhi proses recovery yang dialami secara faktor fisik, dan itulah yang kini kami terapkan yaitu adanya respect terhadap privacy para guest baik itu dari sifat ruang maupun dari segi waktu yang dibutuhkan yaitu waktu dimana mereka ingin bersifat personal (mengeksplorasi suatu tempat sendirian atau beristirahat penuh) ataupun waktu ketika mereka ingin bersifat publik (bertukar pikiran, berbincang-bincang, hangout bersama, dan lainnya)
Setelah (akhirnya) bisa tidur siang, kini saatnya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menikmati Kota Jombang antara lain dengan melihat keindahan kota ini di malam hari, tempat yang tepat tentu saja adalah Alun-alun kota, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Graha Media sehingga kami pun cukup berjalan kaki saja. Suasana Alun-alun kota ini di malam hari cukup ramai, banyak warga yang datang bersama keluarganya maupun bersama teman-teman, tampak Masjid Agung Kota Jombang juga berdiri dengan megahnya di sekitar areal kompleks Alun-alun ini
Hiburan murah meriah bagi warga
Puas berkeliling Alun-alun dan menikmati makan malam kini sudah waktunya bagi kami untuk kembali ke Graha Media PWI, beristirahat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perjalanan lagi keesokan harinya, banyak pelajaran yang didapat selama tinggal di Kota ini, ada pengalaman yang menyenangkan dan ada juga yang kurang menyenangkan, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya namun semuanya sama-sama memberi pelajaran yang berharga dan semuanya telah menorehkan kenangan dalam catatan perjalanan hidup kami.
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi kuning = Rp 7.000,-
- 2 gelas es teh manis = Rp 4.000,-
- Pasar Tradisional = Rp 38.500,-
- Laundry = Rp 13.000,-
- Minimarket = Rp 25.000,-
- Rambutan = Rp 5.000,-
- Pulsa = Rp 11.600,-
- 2 porsi nasi putih + 1 Mangkok soto = Rp 10.000,-
Total = Rp 114.100
Wednesday, 3 May 2017
CHAPTER 5; MELEPAS EGO
Senin, 21 Desember 2015,
Pengalaman pertama kali menginap di Kantor Polisi ternyata benar-benar terasa “nyaman”, maksud tanda kutip disini adalah secara suasana dan fasilitas sebenarnya tergolong cukup bagi kami yang kebutuhan utamanya hanyalah menumpang tidur dan mandi, dan dari segi keamanan tentu saja terjamin karena banyak petugas keamanan yang berjaga, selain itu adanya fasilitas kamar mandi serta diperbolehkan mengisi persediaan air minum juga merupakan suatu bonus yang diperlukan untuk perjalanan kami ini hehe… lalu apa yang menyebabkan saya memberi tanda kutip di kata “nyaman” adalah karena faktor banyak nyamuk di dalam bangunan yang kami tempati, bagi yang pernah merasakan betapa tersiksanya saat sudah ngantuk namun banyak suara dengung nyamuk yang melintas di sekitar telinga dan terkadang nyamuknya juga aktif banget main towal-towel di kulit orang hadeeehhh rasanya ingin nge-fogging itu nyamuk, sampai akhirnya kami baru bisa tidur sekitar pukul 2 pagi padahal besoknya kami sudah harus melanjutkan perjalanan ini (itu pun pada akhirnya kami tertidur karena sudah terlalu lelah dan kesal mengusir nyamuk)
Akhirnya pagi menjelang dan kini waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan. Setelah bersih-bersih dan mempacking semua barang (tidak lupa me-refill semua botol air minum hehe…) kami pun menuju ke pos petugas jaga untuk meminta kartu identitas kami, dan seperti biasa sesi dokumentasi pun kami lakukan untuk kenang-kenangan perjalanan ini (terimakasih Pak Asep, Pak Eko, Pak Nanang, dan semua petugas polisi lainnya di Kantor Polisi wilayah Saradan ini)
Selepas beranjak meninggalkan Kantor Polisi wilayah Saradan ini kami pun mulai menyusuri rute jalan melewati hutan jati seperti yang ada di wilayah Ngawi (oya sebelum kami berangkat, para petugas polisi juga berpesan supaya tidak ragu untuk meminta ijin bermalam di Kantor Polisi berikutnya di sepanjang rute perjalanan kami), tampak beberapa petugas polisi juga sedang berjaga di pos-pos polisi yang ada di sekitar rute hutan jati ini, ketika kami melintas mereka juga dengan ramah tersenyum dan melambai. Perlahan kami pun mulai keluar dari rute area hutan jati ini, setelahnya tampak kondisi jalan cukup bagus dan lenggang (minim warung), untunglah semua botol persediaan air minum kami sudah terisi penuh sehingga tidak ada masalah untuk tiba di kota berikutnya yaitu
Selamat datang Kota Nganjuk
Sekilas kota ini sebenarnya lebih condong sebagai kota perlintasan menuju kota besar berikutnya karena denyut aktivitas masyarakat di wilayah ini yang cenderung lebih tenang jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya yang pernah kami lewati, di wilayah ini selain cakupan kotanya tidak terlampau besar juga karena tidak ada kemacetan atau kebisingan layaknya yang terjadi di sebuah kota bisnis
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk beranjak keluar dari Kota Nganjuk ini, karena tujuan persinggahan kami berikutnya hari ini adalah Kota Jombang maka setidaknya kami harus bisa mengatur irama kayuhan kami supaya tidak terlalu sore tiba di Kota Jombang, disepanjang rute ini juga kami mulai merasakan sedikit bosan karena rute jalannya yang mayoritas datar, lurus, beraspal, tidak ada pemandangan alias yang tampak hanya pepohonan dan sawah yang kering disepanjang sisi jalan serta cuaca yang terik, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat sejenak sekaligus makan siang (yang harganya bersahabat pastinya), dan disinilah kami memutuskan untuk mengisi perut, alasannya kalian pasti tahu, coba cermati gambarnya baik-baik hehe…:)
Setelah selesai menyantap dua porsi soto babat dan tiga gelas es teh manis (apalagi harganya juga cukup membuat dompet ceria hohoho…) kami mulai melanjutkan kayuhan berikutnya, di beberapa papan petunjuk arah jalan tertulis bahwa Kota Jombang tinggal berjarak 2 km lagi namun anehnya sepertinya dari tadi kami mengayuh kok belum ada tanda-tanda adanya gapura bertuliskan selamat datang Kota Jombang, masa iya 2 km kok jauh banget rasanya (tips perjalanan berikutnya adalah jangan percaya dengan keterangan jarak di papan petunjuk arah, salah lokasi kali ya yang masang papannya)
Seorang teman yang berdomisili di Kota Jombang pun menghubungi kami untuk menanyakan dimanakah posisi kami saat ini, karena ia akan menunggu kami setibanya di Jombang nanti dan berikutnya ia akan memandu kami ke tempat dimana kami akan menumpang bermalam di Kota Jombang ini.
Dan akhirnya “2 km” (kata papan penunjuk arah yang ngaco tadi itu) pun terlalui juga, kami pun menunggu teman yang tadi sudah janjian untuk bertemu sebelumnya, sementara itu langit tampak sudah mulai mendung dan gerimis kecil, untunglah yang ditunggu pun akhirnya datang tidak lama kemudian, akhirnya bertiga kami pun mulai mengayuh ke tempat dimana kami akan menumpang beristirahat untuk hari ini yaitu di Graha Media PWI Jombang
Dilihat dari aktivitas yang nampak sepertinya bangunan ini berfungsi sebagai tempat beraktivitas para jurnalis, karena ada beberapa ruang yang digunakan untuk bekerja menulis artikel, siaran radio, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan dunia jurnalistik, saya pun lalu bertanya kira-kira dimanakah ruang yang dapat kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang, dan ternyata ruang yang bisa kami gunakan adalah ruang yang juga digunakan untuk bekerja para jurnalis dan ruang tersebut baru bisa kami gunakan setelah aktivitas para jurnalis itu selesai (sore hari) dan paginya ruang tersebut juga akan kembali digunakan untuk ruang kerja, nah lho lalu bagaimana ini? apa tidak saling mengganggu nantinya? Dengan kata lain kini kami harus menunggu para jurnalis itu selesai bekerja dulu barulah kami bisa menaruh barang-barang dan beristirahat, dengan kondisi badan yang lelah dan berkeringat tentu saja menunggu untuk bisa beristirahat menjadi hal terakhir yang paling tidak kami harapkan namun yah mau bagaimana lagi (sambil menunggu tentu saja saya sambil berkeliling untuk melihat apakah ada kemungkinan ruang lainnya yang tidak terpakai yang bisa kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang yang tidak mengganggu aktivitas dan rutinitas para pekerja yang menggunakan bangunan ini)
Sekitar pukul 5 sore akhirnya barulah kami bisa menaruh barang-barang kami dan bersih-bersih, namun keadaan tidaklah seperti yang kami duga karena ternyata di ruang yang kami gunakan untuk beristirahat itu banyak terdapat abu rokok, selain itu bau dari asap rokok tersebut juga terasa pekat sekali, mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah hal biasa namun bagi kami berdua yang notabene sama-sama bukan perokok dan tidak suka menghirup asap rokok tentu saja hal tersebut menjadi masalah, saat itu juga otomatis mood kami langsung drop antara ingin mencari tempat lain namun sudah kemalaman, mau pergi namun juga sudah lelah, yang ada di pikiran hanyalah mencari makan malam dan beristirahat, sehingga ketika teman kami mengajak beberapa temannya untuk bertemu dengan kami sekaligus mencari makan malam kami pun terpaksa menolaknya secara halus karena di satu sisi kami paham tentu saja sebagai tuan rumah pasti mereka ingin menunjukkan keindahan kotanya kepada para tamunya, hal tersebut tentu saja wajar dan kami juga senang-senang saja menerima tawarannya, nah alasan yang membuat kami menolaknya adalah karena kami ingin melihat keunikan kota ini di malam hari dengan berjalan kaki saja, selain lebih detail dengan berjalan kaki kami juga tidak perlu mencemaskan tentang keamanan sepeda-sepeda kami saat diparkir, namun mungkin karena mereka lebih memilih untuk berkeliling menggunakan sepeda daripada berjalan kaki akhirnya kami pun kemudian memutuskan untuk berkeliling berdua saja sekalian mencari makan malam
Bagi beberapa pihak mungkin menganggap kami sebagai tamu yang kurang sopan karena menolak ajakan dari sang tuan rumah, atau menganggap kami sebagai karakter “pilih-pilih tempat”, namun dari awal pun kami sudah menjelaskan jika kami melakukan perjalanan bersepeda seperti ini bukanlah semata-mata karena kami adalah seorang “pesepeda sejati”, yang kemana-mana menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, karena jujur saja kami pun juga senang berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum ketika berada di tempat yang baru kami singgahi, sekedar untuk merasakan bagaimana sistem dan kenyamanan transportasi umum yang ada dan juga untuk bisa menangkap detail keunikan kota tersebut dengan hanya berjalan kaki.
Setiap orang mempunyai cara dan gaya tersendiri untuk menikmati perjalanannya, ada yang sudah cukup puas dengan hanya melintasi suatu wilayah tertentu saja, namun ada juga yang merasa lebih puas jika tidak hanya sekedar melintas saja melainkan ia juga ingin merasakan sejenak menjadi bagian dari denyut kehidupan kota tersebut, dan itulah yang kami lakukan selama perjalanan ini yaitu mencoba menjadi bagian dari denyut aktivitas wilayah tersebut walaupun sesaat untuk kemudian kami rekam dalam ingatan dan tuangkan menjadi setiap bagian dari chapter perjalanan ini.
Bahkan saat jurnal perjalanan ini ditulis sejak awal hingga sepanjang perjalanan ini pun terkadang ada banyak penyesalan ketika masih banyak destinasi-destinasi lainnya yang terlewat begitu saja di sepanjang rute perlintasan kami hanya karena saat itu kami masih menuruti ego kami untuk bisa secepatnya keluar dari Pulau Jawa dan menyeberang ke Pulau-pulau lainnya, dan bukan hanya destinasi berupa lokasi saja yang terlewat melainkan pastinya ada banyak cerita dan nilai kehidupan lainnya yang turut terlewat karena kami mengejar ego berupa pencapaian lokasi, jarak dan waktu. Mungkin sudah saatnya bagi kami untuk perlahan belajar melepas ego ini dan mulai menikmati setiap cerita perjalanan dan petualangan berikutnya yang menanti kami kedepannya, karena setiap detail cerita dan pelajaran yang didapat dari perjalanan inilah yang nantinya akan menjadi kenangan yang paling berharga dalam hidup kami
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto daging = Rp 10.000,-
- 3 gelas es teh manis =Rp 6.000,-
- 1 gelas es teh manis = Rp 3.000,-
- 2 porsi nasi goreng = Rp 16.000,-
- 2 gelas teh hangat = Rp 4.000,-
- Swalayan = Rp 18.400,-
- Buah Naga = Rp 5.500,-
Total = Rp 62.900,-
Total jarak tempuh hari ini = 62,25 km
Pengalaman pertama kali menginap di Kantor Polisi ternyata benar-benar terasa “nyaman”, maksud tanda kutip disini adalah secara suasana dan fasilitas sebenarnya tergolong cukup bagi kami yang kebutuhan utamanya hanyalah menumpang tidur dan mandi, dan dari segi keamanan tentu saja terjamin karena banyak petugas keamanan yang berjaga, selain itu adanya fasilitas kamar mandi serta diperbolehkan mengisi persediaan air minum juga merupakan suatu bonus yang diperlukan untuk perjalanan kami ini hehe… lalu apa yang menyebabkan saya memberi tanda kutip di kata “nyaman” adalah karena faktor banyak nyamuk di dalam bangunan yang kami tempati, bagi yang pernah merasakan betapa tersiksanya saat sudah ngantuk namun banyak suara dengung nyamuk yang melintas di sekitar telinga dan terkadang nyamuknya juga aktif banget main towal-towel di kulit orang hadeeehhh rasanya ingin nge-fogging itu nyamuk, sampai akhirnya kami baru bisa tidur sekitar pukul 2 pagi padahal besoknya kami sudah harus melanjutkan perjalanan ini (itu pun pada akhirnya kami tertidur karena sudah terlalu lelah dan kesal mengusir nyamuk)
Akhirnya pagi menjelang dan kini waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan. Setelah bersih-bersih dan mempacking semua barang (tidak lupa me-refill semua botol air minum hehe…) kami pun menuju ke pos petugas jaga untuk meminta kartu identitas kami, dan seperti biasa sesi dokumentasi pun kami lakukan untuk kenang-kenangan perjalanan ini (terimakasih Pak Asep, Pak Eko, Pak Nanang, dan semua petugas polisi lainnya di Kantor Polisi wilayah Saradan ini)
Selepas beranjak meninggalkan Kantor Polisi wilayah Saradan ini kami pun mulai menyusuri rute jalan melewati hutan jati seperti yang ada di wilayah Ngawi (oya sebelum kami berangkat, para petugas polisi juga berpesan supaya tidak ragu untuk meminta ijin bermalam di Kantor Polisi berikutnya di sepanjang rute perjalanan kami), tampak beberapa petugas polisi juga sedang berjaga di pos-pos polisi yang ada di sekitar rute hutan jati ini, ketika kami melintas mereka juga dengan ramah tersenyum dan melambai. Perlahan kami pun mulai keluar dari rute area hutan jati ini, setelahnya tampak kondisi jalan cukup bagus dan lenggang (minim warung), untunglah semua botol persediaan air minum kami sudah terisi penuh sehingga tidak ada masalah untuk tiba di kota berikutnya yaitu
Selamat datang Kota Nganjuk
Sekilas kota ini sebenarnya lebih condong sebagai kota perlintasan menuju kota besar berikutnya karena denyut aktivitas masyarakat di wilayah ini yang cenderung lebih tenang jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya yang pernah kami lewati, di wilayah ini selain cakupan kotanya tidak terlampau besar juga karena tidak ada kemacetan atau kebisingan layaknya yang terjadi di sebuah kota bisnis
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk beranjak keluar dari Kota Nganjuk ini, karena tujuan persinggahan kami berikutnya hari ini adalah Kota Jombang maka setidaknya kami harus bisa mengatur irama kayuhan kami supaya tidak terlalu sore tiba di Kota Jombang, disepanjang rute ini juga kami mulai merasakan sedikit bosan karena rute jalannya yang mayoritas datar, lurus, beraspal, tidak ada pemandangan alias yang tampak hanya pepohonan dan sawah yang kering disepanjang sisi jalan serta cuaca yang terik, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat sejenak sekaligus makan siang (yang harganya bersahabat pastinya), dan disinilah kami memutuskan untuk mengisi perut, alasannya kalian pasti tahu, coba cermati gambarnya baik-baik hehe…:)
Setelah selesai menyantap dua porsi soto babat dan tiga gelas es teh manis (apalagi harganya juga cukup membuat dompet ceria hohoho…) kami mulai melanjutkan kayuhan berikutnya, di beberapa papan petunjuk arah jalan tertulis bahwa Kota Jombang tinggal berjarak 2 km lagi namun anehnya sepertinya dari tadi kami mengayuh kok belum ada tanda-tanda adanya gapura bertuliskan selamat datang Kota Jombang, masa iya 2 km kok jauh banget rasanya (tips perjalanan berikutnya adalah jangan percaya dengan keterangan jarak di papan petunjuk arah, salah lokasi kali ya yang masang papannya)
Seorang teman yang berdomisili di Kota Jombang pun menghubungi kami untuk menanyakan dimanakah posisi kami saat ini, karena ia akan menunggu kami setibanya di Jombang nanti dan berikutnya ia akan memandu kami ke tempat dimana kami akan menumpang bermalam di Kota Jombang ini.
Dan akhirnya “2 km” (kata papan penunjuk arah yang ngaco tadi itu) pun terlalui juga, kami pun menunggu teman yang tadi sudah janjian untuk bertemu sebelumnya, sementara itu langit tampak sudah mulai mendung dan gerimis kecil, untunglah yang ditunggu pun akhirnya datang tidak lama kemudian, akhirnya bertiga kami pun mulai mengayuh ke tempat dimana kami akan menumpang beristirahat untuk hari ini yaitu di Graha Media PWI Jombang
Dilihat dari aktivitas yang nampak sepertinya bangunan ini berfungsi sebagai tempat beraktivitas para jurnalis, karena ada beberapa ruang yang digunakan untuk bekerja menulis artikel, siaran radio, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan dunia jurnalistik, saya pun lalu bertanya kira-kira dimanakah ruang yang dapat kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang, dan ternyata ruang yang bisa kami gunakan adalah ruang yang juga digunakan untuk bekerja para jurnalis dan ruang tersebut baru bisa kami gunakan setelah aktivitas para jurnalis itu selesai (sore hari) dan paginya ruang tersebut juga akan kembali digunakan untuk ruang kerja, nah lho lalu bagaimana ini? apa tidak saling mengganggu nantinya? Dengan kata lain kini kami harus menunggu para jurnalis itu selesai bekerja dulu barulah kami bisa menaruh barang-barang dan beristirahat, dengan kondisi badan yang lelah dan berkeringat tentu saja menunggu untuk bisa beristirahat menjadi hal terakhir yang paling tidak kami harapkan namun yah mau bagaimana lagi (sambil menunggu tentu saja saya sambil berkeliling untuk melihat apakah ada kemungkinan ruang lainnya yang tidak terpakai yang bisa kami gunakan untuk beristirahat dan menaruh barang-barang yang tidak mengganggu aktivitas dan rutinitas para pekerja yang menggunakan bangunan ini)
Sekitar pukul 5 sore akhirnya barulah kami bisa menaruh barang-barang kami dan bersih-bersih, namun keadaan tidaklah seperti yang kami duga karena ternyata di ruang yang kami gunakan untuk beristirahat itu banyak terdapat abu rokok, selain itu bau dari asap rokok tersebut juga terasa pekat sekali, mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah hal biasa namun bagi kami berdua yang notabene sama-sama bukan perokok dan tidak suka menghirup asap rokok tentu saja hal tersebut menjadi masalah, saat itu juga otomatis mood kami langsung drop antara ingin mencari tempat lain namun sudah kemalaman, mau pergi namun juga sudah lelah, yang ada di pikiran hanyalah mencari makan malam dan beristirahat, sehingga ketika teman kami mengajak beberapa temannya untuk bertemu dengan kami sekaligus mencari makan malam kami pun terpaksa menolaknya secara halus karena di satu sisi kami paham tentu saja sebagai tuan rumah pasti mereka ingin menunjukkan keindahan kotanya kepada para tamunya, hal tersebut tentu saja wajar dan kami juga senang-senang saja menerima tawarannya, nah alasan yang membuat kami menolaknya adalah karena kami ingin melihat keunikan kota ini di malam hari dengan berjalan kaki saja, selain lebih detail dengan berjalan kaki kami juga tidak perlu mencemaskan tentang keamanan sepeda-sepeda kami saat diparkir, namun mungkin karena mereka lebih memilih untuk berkeliling menggunakan sepeda daripada berjalan kaki akhirnya kami pun kemudian memutuskan untuk berkeliling berdua saja sekalian mencari makan malam
Bagi beberapa pihak mungkin menganggap kami sebagai tamu yang kurang sopan karena menolak ajakan dari sang tuan rumah, atau menganggap kami sebagai karakter “pilih-pilih tempat”, namun dari awal pun kami sudah menjelaskan jika kami melakukan perjalanan bersepeda seperti ini bukanlah semata-mata karena kami adalah seorang “pesepeda sejati”, yang kemana-mana menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, karena jujur saja kami pun juga senang berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum ketika berada di tempat yang baru kami singgahi, sekedar untuk merasakan bagaimana sistem dan kenyamanan transportasi umum yang ada dan juga untuk bisa menangkap detail keunikan kota tersebut dengan hanya berjalan kaki.
Setiap orang mempunyai cara dan gaya tersendiri untuk menikmati perjalanannya, ada yang sudah cukup puas dengan hanya melintasi suatu wilayah tertentu saja, namun ada juga yang merasa lebih puas jika tidak hanya sekedar melintas saja melainkan ia juga ingin merasakan sejenak menjadi bagian dari denyut kehidupan kota tersebut, dan itulah yang kami lakukan selama perjalanan ini yaitu mencoba menjadi bagian dari denyut aktivitas wilayah tersebut walaupun sesaat untuk kemudian kami rekam dalam ingatan dan tuangkan menjadi setiap bagian dari chapter perjalanan ini.
Bahkan saat jurnal perjalanan ini ditulis sejak awal hingga sepanjang perjalanan ini pun terkadang ada banyak penyesalan ketika masih banyak destinasi-destinasi lainnya yang terlewat begitu saja di sepanjang rute perlintasan kami hanya karena saat itu kami masih menuruti ego kami untuk bisa secepatnya keluar dari Pulau Jawa dan menyeberang ke Pulau-pulau lainnya, dan bukan hanya destinasi berupa lokasi saja yang terlewat melainkan pastinya ada banyak cerita dan nilai kehidupan lainnya yang turut terlewat karena kami mengejar ego berupa pencapaian lokasi, jarak dan waktu. Mungkin sudah saatnya bagi kami untuk perlahan belajar melepas ego ini dan mulai menikmati setiap cerita perjalanan dan petualangan berikutnya yang menanti kami kedepannya, karena setiap detail cerita dan pelajaran yang didapat dari perjalanan inilah yang nantinya akan menjadi kenangan yang paling berharga dalam hidup kami
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto daging = Rp 10.000,-
- 3 gelas es teh manis =Rp 6.000,-
- 1 gelas es teh manis = Rp 3.000,-
- 2 porsi nasi goreng = Rp 16.000,-
- 2 gelas teh hangat = Rp 4.000,-
- Swalayan = Rp 18.400,-
- Buah Naga = Rp 5.500,-
Total = Rp 62.900,-
Total jarak tempuh hari ini = 62,25 km
Sunday, 23 April 2017
CHAPTER 4; SANG PENGAYOM MASYARAKAT
Minggu, 20 Desember 2015,
Minggu pagi merupakan waktu yang paling pas untuk beristirahat (bahasa asyiknya yaitu leyeh-leyeh kalau kata orang Jawa), trus nonton Doraemon, namun justru tepat di hari inilah waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh warga Dusun Trinil terutama kepada para pengurus Museum Trinil (Pak Agus, Pak Catur, Pak Sumadi dan Mas Tarmudji) yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap dan belajar banyak hal seputar dunia arkeologi, Museum, dan nilai kehidupan yang kami dapatkan dari orang-orang baik yang ada disini
Setelah (seperti biasa) menumpang mandi dirumah salah seorang pengurus, kami pun mulai mempacking semua panniers, cek… cek…cek… ok, tidak ada yang tertinggal, sembari berpamitan kami pun mendokumentasikan “acara foto bersama” hehe… oya disini ada hal menarik yang sampai sekarang masih terngiang diingatan kami berdua yaitu ketika kami mengucapkan terimakasih sekaligus bertanya alasan apa yang membuat Pak penjaga serta semua pengurus Museum mengijinkan kami menginap di dalam area Museum sedangkan kami berdua bukanlah pengunjung dalam artian spesifik yang benar-benar datang untuk berkunjung ke suatu obyek wisata, maksudnya kedatangan kami berdua ini sebenarnya kurang lebih sama seperti musafir yang sedang mencari tempat beristirahat sementara, oleh karena itulah ada rasa penasaran yang menggelitik benak kami untuk bertanya apa alasan yang membuat mereka percaya kepada kami (hari gini jarang-jarang lho ada orang yang benar-benar percaya kepada orang asing alias musafir atau pengembara, kalo kami ternyata maling Museum gimana hehe…), dan jawabannya wow sungguh bijak sekali, adem rasanya mendengar jawabannya, ia mengatakan seperti ini,” Mas, Mbak, kalau saya menolong orang itu pada dasarnya saya ikhlas-ikhlas saja semampu saya, saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa, biar Gusti Allah saja yang membalasnya, lagipula saya juga yakin kalau saya berbuat hal yang baik nantinya pasti anak-anak saya yang akan menerima hasilnya jika suatu saat mereka sedang dalam kesusahan, pasti nantinya ada hal baik yang akan memudahkan mereka”. Jadi intinya ia melakukan hal baik seperti ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri saja melainkan juga untuk orang lain (dalam hal ini anak-anak dan lingkungan sekitarnya), nah bayangkan pemikiran sesederhana itu ternyata masih ada dan kami dapatkan dari orang yang mungkin di mata masyarakat pada umumnya bukanlah sosok yang berpengaruh, ia hanyalah orang biasa dari kalangan ekonomi menengah, bukan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat professor, ia hanya sosok warga dusun sederhana biasa yang berprofesi sebagai seorang penjaga Museum dan petani, namun justru dengan jawaban seperti itulah maka ia terasa istimewa sekali bagi kami, sangat kontras dengan apa yang sering kami lihat di Media dan lingkungan masyarakat perkotaan dimana banyak orang yang berpendidikan tinggi namun bukannya mencerdaskan lingkungannya malah “minteri orang sekitarnya alias menipu”, ia pun bukanlah orang yang hidupnya berkecukupan tetapi mencukupkan dirinya dengan rejeki yang sudah menjadi haknya.
Disaat seperti inilah kadang membuat kami bertanya-tanya tentang sistem pendidikan seperti apakah yang berjalan di negeri ini, apakah sistem pendidikan yang membangun moral dan jiwa manusianya ataukah sistem pendidikan yang hanya membangun tampilan fisik atau raga manusianya, karena banyak orang-orang bertitel hebat diluar sana dengan sederet gelar akademis yang panjangnya kaya gerbong kereta api namun justru berakhir dalam bui karena tertangkap merugikan Negara dan mengambil hak orang lain, atau tidak membawa manfaat apapun bagi lingkungan sekitarnya, dan jujur saja di wilayah Dusun Trinil ini tidak ada bangunan sekolah yang mentereng dan mempunyai fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah yang ada kota besar, semua tatakrama dan nilai kehidupan yang dipegang masyarakat disini kebanyakan malah dibangun dan didapat dari lingkungan keluarganya masing-masing (kalau di kota besar malah kebalikannya, mayoritas lingkungan keluarga menyerahkan pendidikan anak kepada pihak luar seperti sekolah atau tempat les, sehingga orangtua hanya tahu beres saja, yang penting anak sudah sekolah dan harus pintar mengerti semuanya, dapat nilai bagus, lulus, dapat titel, dan lainnya) Hmmm… sesaat jadi teringat dengan lirik lagu Nasional kita yang mengatakan “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, dimana kata “Jiwa” berada diawal atau lebih dulu dibanding kata “Badan”, mungkin inilah yang dimaksud oleh sang penulis lirik supaya Indonesia nantinya menjadi Bangsa yang besar, semoga nantinya cita-cita besar itu dapat terwujud :)
Selepas keluar dari jalan masuk Dusun Trinil kami kembali harus melalui deretan Hutan Jati yang ada di sepanjang sisi jalan, kontur jalannya kebanyakan datar tetapi kondisinya hmmmm… ya begitu deh (tanpa saya jelaskan secara detail tentunya kalian sudah paham kan maksudnya hehe), cuaca hari ini pun cukup cerah, terlalu cerah malah alias panas terik, sehingga kami dihajar panas terik dari atas (sinar matahari) dan dari bawah (pantulan panas aspal) hingga akhirnya goodbye Kota Ngawi
Gara-gara cuaca panas yang aduhai tersebut akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi energi dengan makan siang (dirapel dengan sarapan), cara memilih menunya tentu saja dengan melihat deretan angka-angka yang ada di bagian kanan daftar menu terlebih dulu, kalau nominal angkanya bersahabat baru deh kami melihat ke keterangan yang ada di sebelah kirinya (alias nama menunya huehehe) akhirnya terpilihlah menu seperti ini jreng… jreng… (tuh liat karena judulnya petualangan bersepeda maka gelas minumnya saja sampai ada hubungannya dengan dunia persepedahan)
Setelah selesai makan harusnya energi kembali penuh (harusnya) tetapi yang ada malah jadi ngantuk, maklum cuacanya panas bener, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, selesai tidak selesai harus dikumpulkan (lho?), maksudnya the journey must go on, harus tetap dimulai gowesnya walau pelan yang penting bisa maju dikit-dikit sampai akhirnya…
Walau sudah memasuki Kabupaten Madiun tetapi kami memilih tidak masuk menuju Kotanya karena rutenya tidak searah dengan rute awal kami yang hendak menuju Saradan. Dan masih dalam episode ngantuk sebelumnya ditambah bonus cuaca yang panas akhirnya membuat kami beristirahat (lagi), daripada dipaksain ntar malah ngadat mending sesuka hati dan dengkul saja pola gowesnya hehe…
Karena kelamaan istirahat akhirnya menjelang sore hari kami baru tiba di Daerah Saradan, tepatnya sebelum memasuki kantor polisi Saradan yang dekat dengan perumahan tentara, tadinya kami hendak lanjut namun semakin sore ternyata lalu lintas di ruas jalan ini cukup berbahaya, selain karena ruas jalan yang sempit dan bergelombang juga karena banyak bus besar dan truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi kami juga tidak tahu seberapa panjang jarak ruas jalan yang melalui area hutan ini.
Melihat kondisi lalu lintas yang berbahaya dan waktu yang semakin sore menjelang maghrib akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di etape ini, tengok kiri-kanan mencari tempat yang pas untuk bermalam tapi tidak terlihat ada bangunan masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya sekiranya kami diijinkan bermalam atau mendirikan tenda di dekat kompleks perumahan tentara, namun karena tidak ada pihak yang bisa dimintai ijin dan daripada semakin malam akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba meminta ijin bermalam di kantor polisi Saradan yang kami lewati sebelumnya (yak putar arah lagi)
Sesampainya di kantor polisi jantung langsung berdegup kencang (maklum ini baru pertama kalinya kami mencoba minta ijin bermalam di kantor polisi yang lumayan besar seperti ini),kalau dulu mah ke kantor polisi biasanya cuma buat ngurus SKCK, untungnya ada polisi yang sempat melihat kami sewaktu melintas sebelumnya, ia pun bertanya asal dan tujuan kami, setelah menjelaskan asal dan tujuan kami serta maksud kedatangan kami untuk minta ijin bermalam, kami pun di perbolehkan menginap di salah satu bangunan bhayangkari yang biasa digunakan untuk mengurus administrasi warga. Buat yang sedang touring dan bingung tata cara minta ijin menginap di kantor polisi nah ini dia tipsnya ala goweswisata :
1. Datanglah ke kantor polisi yang menjadi tujuan menginap, jangan ke kantor yang lain
2. Pasang ekspresi senyum (walau jantung dag dig dug)
3. Tanya ke petugas jaga yang ada di bagian depan, jelaskan maksud kedatangan secara sopan, nanti petugas akan meminta kartu
identitas anda untuk disimpan diruang piket tapi bisa diambil lagi besok pagi saat kalian mau berangkat
4. Tanyalah diruang mana sekiranya kalian bisa menginap (biasanya sih di Mushalla atau di bangunan serbaguna kalau ada), jangan
lupa sekalian tanya kamar mandinya dimana
5. Bagi yang sedang touring berpasangan selain kartu identitas lebih baik jika kalian juga membawa fotocopy buku nikah, kalau
ada surat jalan lebih bagus tapi jika tidak ada juga tidak apa-apa (kami juga tidak pakai surat jalan kok)
6. Jangan nyampah diruangan yang kalian gunakan untuk tidur, tetap jaga kebersihan ya
Nah mudah kan caranya, dan jauh lebih aman dibandingkan jika kalian menginap di SPBU karena disini barang-barang kalian aman dijagain sama polisinya (bahkan sepeda-sepeda kami saja malah disuruh taruh didalam ruangan sekalian biar aman), selain itu boleh minta refill air minum pula hehe. Pokoknya segala kesan seram tentang sosok polisi seketika lenyap (tapi kurang tau kalau polisi di kota besar sama atau tidak, kalau polisi-polisi yang ada di daerah biasanya malah lebih baik dan asyik), disini kami juga diajak ngobrol dan makan oleh para polisinya, mereka justru tertawa saat kami bilang kirain polisi itu galak-galak, mereka bilang kalau di daerah mah beda mas, disini karena ruang lingkupnya kecil dan yang dilayani kebanyakan adalah masyarakat sekitar jadi pola yang diterapkan adalah ngemong atau menjadi pengayom warga, lagipula disini biasanya antar warga saling kenal karena sering bertemu, tapi kurang tau dengan pola yang diterapkan kepolisian di kota besar atau pusat.
Kantor Polisi Saradan
Bangunan tempat kami bermalam
Selain itu banyak pula anggota yang lain yang ujung-ujungnya malah curcol ketika bercerita tentang suka dukanya menjadi anggota polisi, terlebih dengan imej miring tentang polisi yang disebabkan kelakuan beberapa oknum kepolisian yang bertindak “nakal”, namun walaupun begitu hal tersebut tidak mengurangi kebanggaan dan tanggungjawab mereka saat memutuskan untuk menjadi petugas polisi yang ingin mengabdi dan melayani masyarakat, justru sebaliknya mereka yang benar-benar ingin bekerja dan mengayomi masyarakat kini berusaha keras menepis tudingan miring tersebut dengan benar-benar menjadi pengayom masyarakat, karena mereka percaya bahwa “oknum nakal” itu pasti ada di semua jenis profesi apapun itu, sedangkan pilihan untuk memegang teguh sumpah dan kode etik profesi berpulang kepada individu masing-masing, ia yang memilih apakah akan menjadi orang yang baik ataukah menjadi orang yang jahat, dan sebaik apapun profesi tersebut dijalankan pasti akan selalu ada pro dan kontra dari pihak-pihak luar yang melihatnya.
Beberapa anggota yang lain malah bercanda dengan menanyakan apakah kami berdua kabur dari rumah, sepertinya mereka tidak percaya jika kami berdua sudah menikah, yah beginilah resikonya punya wajah awet muda kyahahaha… mereka pun berkali-kali bertanya ini beneran gowes pake sepeda dari Jogja sampai sini, tidak numpang dimobil pick up atau bus, walah pak kalau bawaannya segini banyak, bus juga mikir-mikir buat kami tebengin gratis, dan berbagai pertanyaan standart lainnya seperti “apa tidak capek?”, ya jelas capek atuh, kalau cape ya istirahat dulu ntar baru lanjut lagi, kami kan bukan robot, bukan pula maniak gowes, kebetulan saja kami punyanya hanya sepeda, dan kami memang pingin jalan-jalan, piknik, tamasya, traveling tapi budgetnya terbatas, solusinya ya manfaatkan saja apa yang dipunya secara maksimal (dan mumpung usia serta tenaga masih sanggup), dan terbukti bertualang dengan cara seperti ini pada akhirnya membuat kami belajar banyak hal-hal baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang beraneka ragam, dan satu hal yang pasti perjalanan ini bukan hanya sekedar mengenai total jarak tempuh yang dilalui melainkan bagaimana perjalanan ini membawa perubahan terhadap cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan
Pengeluaran hari ini :
- Air Mineral 1,5L = Rp 5.200,-
- 2 Teh botol = Rp 5.000,-
- Toilet SPBU = Rp 2.000,-
- 2 porsi nasi sayur asem + 2 gorengan + 3 gelas es teh = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi sayur lodeh + 3 gelas es teh = Rp 16.000,-
- Roti = Rp 6.500,-
- 2 gelas teh manis = Rp 4.000,-
Total = Rp 52.700,-
Total jarak tempuh hari ini : 57,03km
Minggu pagi merupakan waktu yang paling pas untuk beristirahat (bahasa asyiknya yaitu leyeh-leyeh kalau kata orang Jawa), trus nonton Doraemon, namun justru tepat di hari inilah waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh warga Dusun Trinil terutama kepada para pengurus Museum Trinil (Pak Agus, Pak Catur, Pak Sumadi dan Mas Tarmudji) yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap dan belajar banyak hal seputar dunia arkeologi, Museum, dan nilai kehidupan yang kami dapatkan dari orang-orang baik yang ada disini
Setelah (seperti biasa) menumpang mandi dirumah salah seorang pengurus, kami pun mulai mempacking semua panniers, cek… cek…cek… ok, tidak ada yang tertinggal, sembari berpamitan kami pun mendokumentasikan “acara foto bersama” hehe… oya disini ada hal menarik yang sampai sekarang masih terngiang diingatan kami berdua yaitu ketika kami mengucapkan terimakasih sekaligus bertanya alasan apa yang membuat Pak penjaga serta semua pengurus Museum mengijinkan kami menginap di dalam area Museum sedangkan kami berdua bukanlah pengunjung dalam artian spesifik yang benar-benar datang untuk berkunjung ke suatu obyek wisata, maksudnya kedatangan kami berdua ini sebenarnya kurang lebih sama seperti musafir yang sedang mencari tempat beristirahat sementara, oleh karena itulah ada rasa penasaran yang menggelitik benak kami untuk bertanya apa alasan yang membuat mereka percaya kepada kami (hari gini jarang-jarang lho ada orang yang benar-benar percaya kepada orang asing alias musafir atau pengembara, kalo kami ternyata maling Museum gimana hehe…), dan jawabannya wow sungguh bijak sekali, adem rasanya mendengar jawabannya, ia mengatakan seperti ini,” Mas, Mbak, kalau saya menolong orang itu pada dasarnya saya ikhlas-ikhlas saja semampu saya, saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa, biar Gusti Allah saja yang membalasnya, lagipula saya juga yakin kalau saya berbuat hal yang baik nantinya pasti anak-anak saya yang akan menerima hasilnya jika suatu saat mereka sedang dalam kesusahan, pasti nantinya ada hal baik yang akan memudahkan mereka”. Jadi intinya ia melakukan hal baik seperti ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri saja melainkan juga untuk orang lain (dalam hal ini anak-anak dan lingkungan sekitarnya), nah bayangkan pemikiran sesederhana itu ternyata masih ada dan kami dapatkan dari orang yang mungkin di mata masyarakat pada umumnya bukanlah sosok yang berpengaruh, ia hanyalah orang biasa dari kalangan ekonomi menengah, bukan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat professor, ia hanya sosok warga dusun sederhana biasa yang berprofesi sebagai seorang penjaga Museum dan petani, namun justru dengan jawaban seperti itulah maka ia terasa istimewa sekali bagi kami, sangat kontras dengan apa yang sering kami lihat di Media dan lingkungan masyarakat perkotaan dimana banyak orang yang berpendidikan tinggi namun bukannya mencerdaskan lingkungannya malah “minteri orang sekitarnya alias menipu”, ia pun bukanlah orang yang hidupnya berkecukupan tetapi mencukupkan dirinya dengan rejeki yang sudah menjadi haknya.
Disaat seperti inilah kadang membuat kami bertanya-tanya tentang sistem pendidikan seperti apakah yang berjalan di negeri ini, apakah sistem pendidikan yang membangun moral dan jiwa manusianya ataukah sistem pendidikan yang hanya membangun tampilan fisik atau raga manusianya, karena banyak orang-orang bertitel hebat diluar sana dengan sederet gelar akademis yang panjangnya kaya gerbong kereta api namun justru berakhir dalam bui karena tertangkap merugikan Negara dan mengambil hak orang lain, atau tidak membawa manfaat apapun bagi lingkungan sekitarnya, dan jujur saja di wilayah Dusun Trinil ini tidak ada bangunan sekolah yang mentereng dan mempunyai fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah yang ada kota besar, semua tatakrama dan nilai kehidupan yang dipegang masyarakat disini kebanyakan malah dibangun dan didapat dari lingkungan keluarganya masing-masing (kalau di kota besar malah kebalikannya, mayoritas lingkungan keluarga menyerahkan pendidikan anak kepada pihak luar seperti sekolah atau tempat les, sehingga orangtua hanya tahu beres saja, yang penting anak sudah sekolah dan harus pintar mengerti semuanya, dapat nilai bagus, lulus, dapat titel, dan lainnya) Hmmm… sesaat jadi teringat dengan lirik lagu Nasional kita yang mengatakan “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, dimana kata “Jiwa” berada diawal atau lebih dulu dibanding kata “Badan”, mungkin inilah yang dimaksud oleh sang penulis lirik supaya Indonesia nantinya menjadi Bangsa yang besar, semoga nantinya cita-cita besar itu dapat terwujud :)
Selepas keluar dari jalan masuk Dusun Trinil kami kembali harus melalui deretan Hutan Jati yang ada di sepanjang sisi jalan, kontur jalannya kebanyakan datar tetapi kondisinya hmmmm… ya begitu deh (tanpa saya jelaskan secara detail tentunya kalian sudah paham kan maksudnya hehe), cuaca hari ini pun cukup cerah, terlalu cerah malah alias panas terik, sehingga kami dihajar panas terik dari atas (sinar matahari) dan dari bawah (pantulan panas aspal) hingga akhirnya goodbye Kota Ngawi
Gara-gara cuaca panas yang aduhai tersebut akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi energi dengan makan siang (dirapel dengan sarapan), cara memilih menunya tentu saja dengan melihat deretan angka-angka yang ada di bagian kanan daftar menu terlebih dulu, kalau nominal angkanya bersahabat baru deh kami melihat ke keterangan yang ada di sebelah kirinya (alias nama menunya huehehe) akhirnya terpilihlah menu seperti ini jreng… jreng… (tuh liat karena judulnya petualangan bersepeda maka gelas minumnya saja sampai ada hubungannya dengan dunia persepedahan)
Setelah selesai makan harusnya energi kembali penuh (harusnya) tetapi yang ada malah jadi ngantuk, maklum cuacanya panas bener, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, selesai tidak selesai harus dikumpulkan (lho?), maksudnya the journey must go on, harus tetap dimulai gowesnya walau pelan yang penting bisa maju dikit-dikit sampai akhirnya…
Walau sudah memasuki Kabupaten Madiun tetapi kami memilih tidak masuk menuju Kotanya karena rutenya tidak searah dengan rute awal kami yang hendak menuju Saradan. Dan masih dalam episode ngantuk sebelumnya ditambah bonus cuaca yang panas akhirnya membuat kami beristirahat (lagi), daripada dipaksain ntar malah ngadat mending sesuka hati dan dengkul saja pola gowesnya hehe…
Karena kelamaan istirahat akhirnya menjelang sore hari kami baru tiba di Daerah Saradan, tepatnya sebelum memasuki kantor polisi Saradan yang dekat dengan perumahan tentara, tadinya kami hendak lanjut namun semakin sore ternyata lalu lintas di ruas jalan ini cukup berbahaya, selain karena ruas jalan yang sempit dan bergelombang juga karena banyak bus besar dan truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi kami juga tidak tahu seberapa panjang jarak ruas jalan yang melalui area hutan ini.
Melihat kondisi lalu lintas yang berbahaya dan waktu yang semakin sore menjelang maghrib akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di etape ini, tengok kiri-kanan mencari tempat yang pas untuk bermalam tapi tidak terlihat ada bangunan masjid, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya sekiranya kami diijinkan bermalam atau mendirikan tenda di dekat kompleks perumahan tentara, namun karena tidak ada pihak yang bisa dimintai ijin dan daripada semakin malam akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba meminta ijin bermalam di kantor polisi Saradan yang kami lewati sebelumnya (yak putar arah lagi)
Sesampainya di kantor polisi jantung langsung berdegup kencang (maklum ini baru pertama kalinya kami mencoba minta ijin bermalam di kantor polisi yang lumayan besar seperti ini),kalau dulu mah ke kantor polisi biasanya cuma buat ngurus SKCK, untungnya ada polisi yang sempat melihat kami sewaktu melintas sebelumnya, ia pun bertanya asal dan tujuan kami, setelah menjelaskan asal dan tujuan kami serta maksud kedatangan kami untuk minta ijin bermalam, kami pun di perbolehkan menginap di salah satu bangunan bhayangkari yang biasa digunakan untuk mengurus administrasi warga. Buat yang sedang touring dan bingung tata cara minta ijin menginap di kantor polisi nah ini dia tipsnya ala goweswisata :
1. Datanglah ke kantor polisi yang menjadi tujuan menginap, jangan ke kantor yang lain
2. Pasang ekspresi senyum (walau jantung dag dig dug)
3. Tanya ke petugas jaga yang ada di bagian depan, jelaskan maksud kedatangan secara sopan, nanti petugas akan meminta kartu
identitas anda untuk disimpan diruang piket tapi bisa diambil lagi besok pagi saat kalian mau berangkat
4. Tanyalah diruang mana sekiranya kalian bisa menginap (biasanya sih di Mushalla atau di bangunan serbaguna kalau ada), jangan
lupa sekalian tanya kamar mandinya dimana
5. Bagi yang sedang touring berpasangan selain kartu identitas lebih baik jika kalian juga membawa fotocopy buku nikah, kalau
ada surat jalan lebih bagus tapi jika tidak ada juga tidak apa-apa (kami juga tidak pakai surat jalan kok)
6. Jangan nyampah diruangan yang kalian gunakan untuk tidur, tetap jaga kebersihan ya
Nah mudah kan caranya, dan jauh lebih aman dibandingkan jika kalian menginap di SPBU karena disini barang-barang kalian aman dijagain sama polisinya (bahkan sepeda-sepeda kami saja malah disuruh taruh didalam ruangan sekalian biar aman), selain itu boleh minta refill air minum pula hehe. Pokoknya segala kesan seram tentang sosok polisi seketika lenyap (tapi kurang tau kalau polisi di kota besar sama atau tidak, kalau polisi-polisi yang ada di daerah biasanya malah lebih baik dan asyik), disini kami juga diajak ngobrol dan makan oleh para polisinya, mereka justru tertawa saat kami bilang kirain polisi itu galak-galak, mereka bilang kalau di daerah mah beda mas, disini karena ruang lingkupnya kecil dan yang dilayani kebanyakan adalah masyarakat sekitar jadi pola yang diterapkan adalah ngemong atau menjadi pengayom warga, lagipula disini biasanya antar warga saling kenal karena sering bertemu, tapi kurang tau dengan pola yang diterapkan kepolisian di kota besar atau pusat.
Kantor Polisi Saradan
Bangunan tempat kami bermalam
Selain itu banyak pula anggota yang lain yang ujung-ujungnya malah curcol ketika bercerita tentang suka dukanya menjadi anggota polisi, terlebih dengan imej miring tentang polisi yang disebabkan kelakuan beberapa oknum kepolisian yang bertindak “nakal”, namun walaupun begitu hal tersebut tidak mengurangi kebanggaan dan tanggungjawab mereka saat memutuskan untuk menjadi petugas polisi yang ingin mengabdi dan melayani masyarakat, justru sebaliknya mereka yang benar-benar ingin bekerja dan mengayomi masyarakat kini berusaha keras menepis tudingan miring tersebut dengan benar-benar menjadi pengayom masyarakat, karena mereka percaya bahwa “oknum nakal” itu pasti ada di semua jenis profesi apapun itu, sedangkan pilihan untuk memegang teguh sumpah dan kode etik profesi berpulang kepada individu masing-masing, ia yang memilih apakah akan menjadi orang yang baik ataukah menjadi orang yang jahat, dan sebaik apapun profesi tersebut dijalankan pasti akan selalu ada pro dan kontra dari pihak-pihak luar yang melihatnya.
Beberapa anggota yang lain malah bercanda dengan menanyakan apakah kami berdua kabur dari rumah, sepertinya mereka tidak percaya jika kami berdua sudah menikah, yah beginilah resikonya punya wajah awet muda kyahahaha… mereka pun berkali-kali bertanya ini beneran gowes pake sepeda dari Jogja sampai sini, tidak numpang dimobil pick up atau bus, walah pak kalau bawaannya segini banyak, bus juga mikir-mikir buat kami tebengin gratis, dan berbagai pertanyaan standart lainnya seperti “apa tidak capek?”, ya jelas capek atuh, kalau cape ya istirahat dulu ntar baru lanjut lagi, kami kan bukan robot, bukan pula maniak gowes, kebetulan saja kami punyanya hanya sepeda, dan kami memang pingin jalan-jalan, piknik, tamasya, traveling tapi budgetnya terbatas, solusinya ya manfaatkan saja apa yang dipunya secara maksimal (dan mumpung usia serta tenaga masih sanggup), dan terbukti bertualang dengan cara seperti ini pada akhirnya membuat kami belajar banyak hal-hal baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang beraneka ragam, dan satu hal yang pasti perjalanan ini bukan hanya sekedar mengenai total jarak tempuh yang dilalui melainkan bagaimana perjalanan ini membawa perubahan terhadap cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan
Pengeluaran hari ini :
- Air Mineral 1,5L = Rp 5.200,-
- 2 Teh botol = Rp 5.000,-
- Toilet SPBU = Rp 2.000,-
- 2 porsi nasi sayur asem + 2 gorengan + 3 gelas es teh = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi sayur lodeh + 3 gelas es teh = Rp 16.000,-
- Roti = Rp 6.500,-
- 2 gelas teh manis = Rp 4.000,-
Total = Rp 52.700,-
Total jarak tempuh hari ini : 57,03km
Wednesday, 12 April 2017
CHAPTER 3; MUSEUM TRINIL
Jika kalian pernah tahu atau menonton sebuah film komedi box office berjudul “Night at Museum” yang dibintangi oleh Ben Stiller, dimana dalam film tersebut bercerita tentang seorang petugas jaga malam di sebuah Museum yang mengalami kejadian luar biasa dalam hidupnya saat ia mengetahui bahwa semua artifak sejarah yang ada didalam Museum yang dijaganya tersebut berubah menjadi hidup saat malam tiba, maka di malam kedua petualangan bersepeda kami, tiba-tiba ingatan tentang adegan dalam film tersebut kembali terlintas dalam pikiran.
Dengan suasana sekitar yang kurang lebih mirip dengan setting yang terjadi dalam film tersebut, yaitu saat ini kami bermalam di sebuah Museum yang menyimpan artefak dan fosil-fosil tulang belulang manusia serta hewan dari jaman prasejarah, tentunya akan sangat konyol sekali jika semua fosil tersebut kembali hidup seperti kejadian dalam film tersebut.
Setelah selesai bersih-bersih dan menggelar matras serta sleeping pad di pojok ruangan, sembari beristirahat saya pun menulis catatan singkat tentang apa saja yang terjadi diperjalanan hari ini, sedangkan diruang tengah tampak beberapa pekerja bangunan sedang asyik menonton tayangan televisi.
Jarum jam di dinding ruangan kantor menunjukkan pukul 8 malam, selagi asyik menulis seketika saya teringat jika malam ini perut kami belum terisi asupan makanan sedangkan sisa cemilan yang ada di pannier kami juga sudah habis, nah lho mana disekitar Museum juga tidak ada warung makan yang buka pula karena sudah malam. Untunglah disaat perut kami berdua sedang bersiap menggelar “orchestra kruyukan” tiba-tiba salah seorang pekerja bangunan menghampiri kami berdua sembari menawarkan makanan, Alhamdulillah benar-benar moment yang sangat tepat, ternyata Tuhan memang sangat penuh kasih terhadap hambanya yang tengah kelaparan ini.
Setelah perut terisi kini saatnya bagi kami untuk beristirahat, rencananya besok kami masih akan tetap berada di Museum Trinil ini, selain untuk memulihkan tenaga, kami juga ingin belajar tentang apa saja yang ada di Museum ini dan lokasi sekitarnya, baiklah selamat malam semua :)
Pagi menjelang diiringi sinar mentari yang perlahan mulai masuk kedalam ruangan kantor tempat kami menginap melalui sela-sela kisi jendela, huaaahhh… badan rasanya terasa segar setelah semalam tidur kami cukup nyenyak, baiklah saatnya beraktivitas mengisi hari ini, oya karena kamar mandi di bangunan kantor yang baru ini belum selesai proses finishingnya maka kami pun menumpang mandi dan mencuci baju di rumah salah seorang warga yang kebetulan juga bertugas menjadi pengurus museum.
Setelah proses bersih-bersih selesai kini saatnya menjelajahi area kompleks Museum Trinil ini dengan lebih leluasa dan jelas, area outbond yang kemarin rencananya menjadi tempat bermalam kami kini juga tampak lebih jelas (pantas saja kemarin kami diperbolehkan menginap di salah satu ruangan kantor karena fasilitas outbond dan camping ground yang ada belumlah selesai dibangun semuanya)
Secara garis besarnya area kompleks Museum Trinil ini terbagi menjadi beberapa zona, antara lain zona parkir kendaraan, zona aktivitas outbond dan bumi perkemahan yang sedang dibangun, bangunan kantor utama (termasuk ruang rapat tempat kami menginap, ruang tunggu, kamar mandi, janitor, dan 2 buah kamar sewa yang bisa digunakan bagi pengunjung yang ingin menginap), bangunan display Museum, Bangunan mushalla, pendopo, serta ruang laboratoriom dan audio visual yang saat kami berkunjung sedang dalam proses pembangunan supaya nantinya pengunjung dapat lebih tertarik untuk belajar tentang kegiatan arkeologi penemuan fosil dan sejarahnya.
Patung Gajah Purba yang menyambut pengunjung di pintu masuk area Museum
Bangunan Pendopo yang biasa digunakan sebagai tempat beristirahat
Bangunan Kantor Utama dimana kami menginap
Di ruang rapat inilah kami beristirahat
Bangunan Museum tempat display koleksi fosil
Seperti inilah isi bagian dalam ruang display Museum Trinil
Beberapa koleksi fosil yang dipamerkan
Kami juga dijelaskan mengenai awal proses penemuan fosil-fosil yang kini berada di dalam ruang display ini, kebanyakan penemuan fosil-fosil tersebut ditemukan oleh warga sekitar berada di aliran lembah Sungai Bengawan Solo Purba, sebagian masih tertimbun dalam tanah atau endapan lumpur namun ada juga yang berada di permukaan dalam bentuk fosil yang telah membatu. Oleh salah seorang warga bernama Wirodihardjo (lebih dikenal dengan sebutan Wirobalung) sejak tahun 1967 ia mengkoleksi dan menyimpan semua fosil temuannya tersebut dirumahnya, bahkan hampir sepertiga rumahnya terisi oleh fosil-fosil koleksinya, sehingga pada tahun 1980/1981 oleh Pemda setempat akhirnya didirikanlah sebuah Museum mini untuk menampung fosil-fosil koleksi Alm. Wirodihardjo tersebut, hingga akhirnya pada Tahun 1991 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur diresmikanlah Museum Trinil bertepatan dengan peringatan 100 tahun ditemukannya Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera berdiri tegak) oleh Eugene Dubois, seorang arkeolog asal Belanda yang hasil temuannya berupa fosil tulang paha, kepala dan berbagai fosil Binatang Prasejarah lainnya di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo Purba tersebut telah mendapatkan perhatian dari kalangan arkeolog internasional dan membuat nama Desa Trinil mendunia. Pembangunan Museum ini pun diharapkan dapat memberi manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, tempat rekreasi dan mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat sekitar
Setelah puas menjelajahi area kompleks Museum kini saatnya berjalan-jalan ke perkampungan yang ada di sekitar lokasi sembari mencari makan siang, di wilayah ini pula kami masih menemukan ada yang menjual nasi pecel seharga 3 ribu perak dan segelas teh manis hangat seharga 500 perak, yup kalian tidak salah membaca (dan saya juga tidak salah menulis hehe…) di tempat ini harganya bikin tercengang bayangkan ditahun 2015 ini masih ada tempat makan yang menjual segelas teh manis hangat seharga 500 perak, oohhh indahnya dunia hehe...:)
Suasana di dusun sekitar
Petuah bijak yang terpasang di dinding Masjid :)
Setelah makan “dengan bahagia”, kami lanjut lagi berjalan kaki santai menyusuri wilayah dusun sekitar, kehidupan disini masih sangat tenang (kelewat tenang malahan menurut saya alias sepiiii bingittt), ada sih beberapa warung tapi pembelinya ya tidak jauh dari anak-anak setempat, bagi beberapa pengunjung dari luar kota yang kebetulan ingin datang berkunjung ke Museum Trinil ini kalian mesti siap-siap membawa makanan dan minuman sendiri ya karena jarak antar warung disini lumayan jauh dan tidak ada angkot
Setidaknya perjalanan kali ini benar-benar membawa pengalaman baru dalam hidup kami berdua, mulai dari bertemu orang-orang baru, mempelajari hal-hal baru secara langsung, dan mulai percaya bahwa rencana Tuhan itu pasti indah hanya saja kita belum mengetahui akan seperti apa kejutan-kejutan berikutnya, namun yakinlah karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita
Besok saatnya memulai perjalanan dan petualangan baru berikutnya, apa yang akan terjadi kedepannya entahlah yang penting perjalanan ini belum akan berakhir, we still have a lot of stories to share, so keep following us
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi sayur pecel + 2 gelas the manis + gorengan 6 buah = Rp 10.000,-
- 2 porsi soto ayam + 2 gelas es jeruk = Rp 16.000,-
- Air mineral 1,5L = Rp 5.000,-
Total = Rp 31.000,-
Subscribe to:
Posts (Atom)

























































