Monday, 13 April 2015

Hutan Pinus Pengger

(12/04/15), Perjalanan GowesWisata kali ini sebenarnya agak melenceng dari tujuan awal yang sebenarnya direncanakan ke Curug Randusari hehe…:), tetapi karena memang sudah jadi kesepakatan bersama bahwa ciri khas Gowes Wisata adalah fleksibilitas dalam perjalanan yang artinya bahwa tujuan itu tidak selalu harus kaku dan kami juga menganut prinsip bahwa perjalanan itu sendiri juga sudah merupakan sebuah petualangan, maka kalau selama perjalanan tiba-tiba kami menemukan tempat yang rasanya menarik ya otomatis mampir dulu dan akhirnya berubah deh tujuannya, intinya kami menikmati setiap perjalanan bersepeda ini, tidak sekedar menikmati angka-angka jarum jam atau speedometer untuk dibanggakan

Kalau kita mengatakan ingin pergi ke Hutan Pinus atau bertanya dimanakah lokasi Hutan Pinus di Yogyakarta, sepertinya hampir semua orang sepakat memberi jawaban bahwa Hutan Pinus yang dituju pastilah Hutan Pinus Mangunan. Ya tidak salah juga sih karena di Yogyakarta sendiri memang Hutan Pinus yang sudah lebih dulu terkenal adalah Hutan Pinus Mangunan, tetapi sebenarnya ada Hutan Pinus lainnya di Yogyakarta yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif tempat wisata kegiatan outdoor yaitu Hutan Pinus Dlingo

Saya sudah pernah melewati dan mampir sebentar ke tempat ini saat melakukan goweswisata ke Air Terjun Curug Banyunibo Sanggrahan (lihat di post terdahulu), tetapi waktu itu saya tidak mengeksplor Hutan Pinus Dlingo ini karena tujuan awalnya memang ingin mencari dan penasaran terhadap Curug Banyunibo Sanggrahan, nah pada perjalanan kali inilah baru saya berkesempatan mencoba menjelajah isi Hutan Pinus Dlingo (sekarang namanya menjadi Hutan Pinus Pengger)

Untuk menuju ke lokasi Hutan Pinus Dlingo ini rutenya sama dengan rute ke Curug Banyunibo Sanggrahan. Dari Kota Yogyakarta tinggal arahkan kendaraan ke arah timur melalui Jalan Jogja-Wonosari hingga sampai diatas perempatan Bukit Patuk, dari perempatan pos polisi Patuk tersebut kemudian belok ke kanan dan ikuti jalan yang menanjak (jangan ambil arah turun menuju Jurug Taman Sari), untuk lebih mudahnya bisa dilihat pada peta dibawah ini

Rute menuju lokasi Hutan Pinus Pengger




Saat menanjak kita juga bisa melihat pemandangan Kota Yogyakarta dari atas ketinggian di sekitar lokasi ini


Jika dibandingkan dengan Bukit Bintang yang terkenal itu, saya lebih suka menikmati pemandangan dari atas sini karena selain tempatnya yang lebih tinggi, suasana di sekitarnya juga lebih tenang (tentu saja untuk naiknya sendiri juga dibutuhkan perjuangan yang lebih menantang hehe)



Setelah puas beristirahat dan foto-foto di sekitar lokasi ini kami pun kembali melanjutkan perjalanan melalui medan yang naik-turun hingga akhirnya sampailah kami di Hutan Pinus Pengger yang dikelola oleh Perhutani


Jika kalian membawa kendaraan bermotor maka kendaraan dapat diparkir tepat di depan areal Komplek Hutan Pinus ini setelah itu dapat dilanjutkan dengan trekking, tetapi karena kendaraan kami adalah sepeda maka kami bisa membawa sepeda kami masuk ke dalam area Hutan Pinus ini


Rimbunnya pepohonan pinus membuat udara disekitar lokasi menjadi sangat sejuk, tempat ini memang belum dirapikan seperti yang sudah ada di Hutan Pinus Mangunan mungkin itu juga salah satu alasan kenapa tempat ini belum populer, tetapi potensi wisata yang dimiliki oleh tempat ini saya rasa tidak kalah dengan Hutan Pinus Mangunan


Setelah saya menemukan spot untuk memarkir sepeda diantara rimbunnya pepohonan pinus maka sekarang waktunya untuk trekking. Saat sedang trekking pun saya sempat melihat burung kecil penghisap madu (seperti Kolibri) namun karena keterbatasan kamera pocket saya maka susah sekali untuk mengambil fotonya, tetapi setidaknya hal ini membuktikan bahwa area Hutan Pinus ini masih terjaga kealamiannya

Selain itu rupanya tidak hanya kami dari goweswisata yang datang berkunjung ke tempat ini pada hari ini tetapi juga ada dari tim survey Perhutani, saya pun sempat berbincang-bincang dengan mereka, ternyata kunjungan survey mereka adalah untuk perencanaan pengembangan kawasan Hutan Pinus ini kedepannya. Menurut mereka nantinya area Hutan Pinus Pengger ini juga akan disatukan konsep pengelolaannya seperti yang ada di Hutan Pinus Mangunan, perbaikan prasarana dan pengadaan fasilitas kamar mandi, keamanan, serta konsep outdoor recreation dan eduwisata juga akan diterapkan di kawasan ini, sehingga diharapkan area Hutan Pinus Pengger ini nantinya juga dapat berkembang seperti halnya yang sudah ada di Hutan Pinus Mangunan

Dan info yang paling menggembirakan menurut saya adalah nantinya tempat ini juga akan dilengkapi dengan spot area dan fasilitas untuk kegiatan camping, sehingga bagi para pecinta camping setidaknya nanti ada dua lokasi alternatif di sekitar wilayah Patuk yang bisa dijadikan tempat kalian untuk camping (yaitu disekitar gunung api purba ngelanggeran, dan satunya lagi nanti adalah disini Hutan Pinus Pengger), tidak lupa saya juga berpesan kepada Bapak-bapak dari Perhutani ini untuk membuat pos pengawasan supaya kedepannya tempat ini tidak disalahgunakan oleh pengunjung untuk melakukan hal-hal asusila ataupun perbuatan negatif lainnya

Disini saya juga menemukan satu spot yang paling asyik untuk menikmati pemandangan Kota Yogyakarta dan sekitarnya dari atas ketinggian, sepertinya jika tempat ini nantinya benar-benar jadi dikembangkan maka spot ini bisa menjadi primadona untuk berfoto-foto


Dari atas bongkahan batu besar sisa gunung api purba inilah saya bisa melihat dan menikmati pemandangan disekitar dari atas ketinggian, untuk naik ke atas batu ini mungkin agak sulit bagi yang tidak biasa memanjat hehe…dan sepertinya perlu berhati-hati karena belum ada pagar pembatas ataupun fasilitas keamanan lainnya

Saya sudah bisa membayangkan betapa enaknya nanti kalau lokasi camping ditempat ini sudah dipersiapkan, di malam harinya kita bisa melihat milkyway dengan jelas, dan di pagi harinya kita bisa melihat sunrise perbukitan dengan kabut yang masih menyelimuti lembah dibawahnya, bahkan jika cuaca bagus kita bisa melihat Gunung merapi dan perbukitan Menoreh seperti yang saya nikmati saat ini


Di kejauhan saya juga bisa melihat Bandara Adi Sucipto, lokasi gazebo grojogan Kali Bulan, serta hamparan perbukitan disekitarnya yang masih hijau, sangat kontras jika dibandingkan dengan masifnya pembangunan hotel, mall dan apartemen yang saat ini sepertinya sedang kejar target melanda dan menjadikan Kota Yogyakarta berubah menjadi hutan beton dengan semua problematika khas perkotaan (yang katanya modern)







Semoga nantinya kelak bagi para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan, serta pengunjung tempat ini bisa tetap menjaga dan melestarikan keindahan alam dari tempat-tempat seperti ini, karena masa depan dari bumi ini sangat tergantung dari bagaimana cara kita menjaga lingkungan dan mewariskan kekayaan alam bumi nusantara ini kepada generasi penerus berikutnya



Maukah kita tinggal di lingkungan yang penuh polusi udara, polusi suara, limbah industri dan rumah tangga yang mencemari dan meracuni sumber mata air serta aliran sungai, sampah visual disekeliling kita, hanya bisa melihat hijaunya pepohonan dan ragam satwa dalam bentuk gambar di buku-buku ensiklopedi semata, meracuni pikiran dengan debat-debat kosong dan berita fitnah di media? Sebelum semuanya terlambat setidaknya masih ada waktu untuk berbenah, saling mengingatkan, dan berubah, memulai perubahan tersebut dari diri kita sendiri hingga menjadi sebuah kebiasaan positif yang semoga kelak juga dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan perubahan positif bagi diri dan lingkungannya


Tips Jika Ingin berkunjung ke lokasi ini :

- Lokasi ini bisa dilalui oleh semua kendaraan (sepeda, motor, mobil, bus kecil)
- Untuk kendaraan bermotor bisa memarkir kendaraannya dibawah, tepat di bagian depan area komplek Hutan Pinus
- Lebih baik mengenakan celana panjang karena ada beberapa semak dan pohon berduri
- Lebih baik mengenakan sepatu kets atau sandal gunung karena jalur trekking berupa tanah merah
- Membawa makanan dan minuman sendiri (belum ada warung dan toilet di lokasi)
- Membawa kantong plastik untuk menaruh sisa sampah kalian dan buanglah sampah tersebut di tempat sampah yang ada di komplek perumahan warga sekitar (jangan buang sampah sembarangan termasuk puntung rokok)
- Tidak melakukan perbuatan vandalisme corat-coret di lokasi (hal tersebut hanya akan membuat kalian menjadi sekumpulan orang dungu yang sama sekali tidak keren, jika kalian punya otak dan mampu berpikir maka buatlah diri kalian keren dengen menginspirasi orang lain secara positif melalui coretan cerita perjalanan kalian di buku atau sosial media)
- Tidak melakukan perbuatan mesum dan asusila di lokasi
- Tidak merusak pepohonan pinus yang ada
- Berhati-hati di jalur trekking dan pinggir tebing karena belum ada pagar pembatas

My Destination is no longer a place, but a new way of seeing” - Marcel Proust –


Selamat berpetualang dan jagalah keindahan tempat yang kalian kunjungi :)

Thursday, 2 April 2015

Desa Wisata Kasongan

Late post (21/11/13), Post kali ini dalam rangka mencicil beberapa late post yang ternyata masih banyak tersimpan dalam harddisk saya hehe…:) (oya karena saat petualangan ini berlangsung cellphone saya masih tipe lama, jadi pada post kali ini tidak bisa membuat peta rutenya mohon dimaklumi)

Ketika saya memutuskan untuk hijrah total dari Jakarta ke Yogyakarta maka hal pertama yang saya lakukan (setelah beres-beres barang pindahan tentunya) adalah mencoba menjelajah dan menemukan hal-hal apa saja yang unik dan menarik dari Kota ini, yang sekiranya bisa membuat saya betah tinggal disini, dan menjelajah kota menggunakan sepeda adalah hal yang terasa paling pas karena saya bisa bebas pergi kemana saja tanpa harus tergantung dengan moda transportasi umum yang secara kualitas dan jumlah armadanya masih sangat minim (selain itu juga tidak perlu kuatir kehabisan bensin)

Setelah mulai bisa melihat orientasi tata kota Yogyakarta dan mapping beberapa tempat uniknya (lihat pada post terdahulu; Yogyakarta City), maka saatnya mencoba menjelajahi beberapa tempat sedikit keluar dari pusat kota berdasarkan rekomendasi beberapa teman yang notabene adalah warga asli Jogja, dan tujuan kali ini adalah Desa Wisata Kasongan

Desa wisata Kasongan, lengkapnya berada di wilayah Pedukuhan Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY. Sebelum benar-benar datang berkunjung ke tempat ini, sedikit gambaran yang saya tahu mengenai Desa wisata ini adalah sebagai sentra industri gerabah atau keramik tanah liat

Asal muasal berkembangnya daerah Kasongan

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Wikipedia,untuk mengetahui asal muasal berkembangnya wilayah Kasongan maka kita harus melihat dan merunutnya berdasarkan sejarah sejak jaman penjajahan Belanda di Indonesia, dimana dahulunya Kasongan merupakan wilayah persawahan milik penduduk desa di Selatan Yogyakarta. Alkisah di daerah persawahan milik salah satu warga tersebut ditemukan seekor kuda dalam keadaan mati yang diperkirakan milik Reserse Belanda, karena saat itu Belanda sangat kejam dalam menjajah bumi Jawa maka mengakibatkan timbulnya rasa ketakutan warga terhadap hal tersebut, oleh karena itu mereka (termasuk warga yang memiliki sawah disekitarnya) berbondong-bondong melepaskan hak tanahnya yang kemudian tidak diakuinya lagi

Karena banyaknya tanah yang bebas, maka penduduk desa lain segera mengakui tanah tersebut. Penduduk yang tidak memiliki tanah tersebut kemudian beralih profesi menjadi seorang pengrajin keramik yang awal mulanya hanya mengempal-ngempal tanah yang tidak pecah bila disatukan. Sebenarnya tanah tersebut hanya digunakan untuk mainan anak-anak dan perabot dapur saja, namun karena ketekunan dan tradisi yang turun temurun, lambat laun Kasongan akhirnya berkembang menjadi Desa Wisata kerajinan gerabah yang cukup terkenal

Sekitar tahun 1971-1972, Desa Wisata Kasongan mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sapto Hudoyo (seorang seniman besar Yogyakarta) membantu mengembangkan Desa Wisata Kasongan dengan membina masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai pengrajin gerabah untuk memberikan berbagai sentuhan seni yang dapat menambah nilai komersiil dari kerajinan gerabah yang dihasilkan. Keramik Kasongan sendiri kemudian mulai dikomersiilkan dalam skala besar oleh Sahid keramik sekitar tahun 1980an

Setelah mendapat sedikit gambaran mengenai Desa Wisata ini maka mulailah saya melakukan goweswisata ke daerah ini dengan mengendarai sepeda lipat yang dilengkapi tas pannier (untuk membawa bekal makan dan minum hehe), perlengkapan sudah siap jadi ayo mulai gowes

Dari basecamp goweswisata di jalan Babadan (dekat JEC), saya melalui jalan Kusumanegara kearah barat hingga sampai di perempatan sebelum Taman Pintar, belok ke kiri (selatan) melalui jalan Brigjen Katamso, terus saja sampai ketemu Ringroad selatan, dari Ringroad Selatan Jalan Parangtritis kemudian belok ke kanan (barat) hingga tiba di traffic light berikutnya belok kiri ke arah Jalan Bantul, ikuti jalan saja nanti pintu gerbang Desa Wisata Kasongan tepat berada di sisi kanan


Sebenarnya area di depan setelah kita masuk gapura adalah pengembangan atau perluasan dari area Desa Wisata Kasongan

Berbagai hasil kerajinan keramik yang dipamerkan disepanjang deretan toko


Masuk ke wilayah Kasongan awal sebelum mengalami perluasan


Suasana di dalam Desa Wisata ini, tampak berbagai keramik dengan berbagai ukuran dan bentuk memenuhi setiap sudut ruang pamer atau workshop



Penambahan detail motif atau ornament untuk meningkatkan nilai seni dan komersiil


Tidak hanya memproduksi gerabah atau keramik berupa guci atau kendi saja, melainkan juga patung-patung dalam berbagai bentuk dan ukuran


Limbah kulit telur ditangan seorang yang kreatif dapat dijadikan karya seni seperti ini




Hasil karya kerajinan keramik dari Desa Wisata Kasongan ini bahkan sudah menembus pasar luar negeri dan diminati oleh turis-turis eropa



Aktifitas warga Kasongan saat memproduksi keramik-keramik di Desa Wisata ini



Proses pewarnaan, keramik-keramik kecil seperti ini biasanya banyak dipesan untuk dijadikan souvenir pernikahan


Termasuk juga untuk patung-patung berukuran besar yang biasanya digunakan sebagai hiasan taman atau dekorasi dalam dan luar ruang


Warna-warni lampion


Dari dulu penasaran nama hewan ini apa ya? Saya sering lihat di Jogja tapi sampai sekarang tidak tahu namanya hehe…:)


Keramik-keramik dan berbagai hasil kerajinan desa wisata ini yang sudah siap untuk dikirim memenuhi permintaan pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar mancanegara


Selain datang berkunjung melihat-lihat atau membeli hasil kerajinan di Desa Wisata Kasongan ini, para pengunjung juga dapat mengikuti workshop cara membuat keramik-keramik sendiri dengan diajari oleh warga sekitar secara langsung dan intens, hal ini merupakan suatu pengalaman yang berbeda dan terbukti menarik minat para wisatawan baik lokal maupun manca, karena selain mereka menjadi tahu cara membuat dan menghasilkan karyanya sendiri, mereka juga dapat berinteraksi dengan warga sekitar.

Dari berbagai program yang kerap diadakan di Desa Wisata Kasongan ini diharapkan kedepannya semua pengembangan ini juga dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia warga sekitar, karena bagaimanapun juga peningkatan kualitas sumberdaya manusia jauh lebih penting dari sekedar peningkatan jumlah produksi hasil kerajinan itu sendiri

Jadi bagaimana sobat pembaca goweswisata, tertarik mengunjungi Desa Wisata Kasongan ini? Mungkin kalian ingin belajar membuat karya seni keramik sendiri atau memesan souvenir pernikahan (disini kalian juga bisa mendapat harga yang lebih murah lho), yang penting nikmati setiap petualangan kalian ya dan selamat berpetualang :)

Monday, 23 March 2015

Air Terjun Curug Siluwok

(19/03/15) Jika beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat post tentang Air Terjun Curug Sidoharjo, maka pada petualangan goweswisata kali ini saya kembali mencoba menjelajahi potensi dan keindahan alam lainnya yang masih tersembunyi di sekitar wilayah Samigaluh, Kulonprogo

Petualangan goweswisata kali ini hanya diikuti oleh kami berdua saja (saya dan pasangan saya, Agitya Andiny). Mengawali start dari basecamp goweswisata sekitar pukul 06.00 WIB, kami menempuh rute yang sama seperti ketika saya waktu dulu berkunjung ke Curug Sidoharjo (baca juga post terdahulu; Air Terjun Curug Sidoharjo)

Melalui Jalan Godean terus kearah Barat hingga tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan, kemudian belok ke kanan sampai tiba di traffic light perempatan Pasar Dekso, dari traffic light ini kami lalu mengambil arah kiri lurus saja ikuti jalan sampai nantinya tiba di gapura sisi kanan ada jalan kecil menuju arah Curug Sidoharjo

Peta menuju Lokasi Grojokan atau air terjun Curug Siluwok di Desa Keweron, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta




Keindahan alam yang terbentang di sepanjang perjalanan kami selepas perempatan traffic light Pasar Dekso


Jejeran perbukitan Menoreh dan hamparan persawahan milik warga seakan memanjakan mata kami di sepanjang perjalanan ini



Lokasi wisata lainnya yang terdapat di sepanjang perjalanan ini sepertinya cocok bagi kalian yang suka susur Goa, kalian bisa mencoba cave tubing di tempat ini, Goa Sriti (400 meter untuk menuju kesana tapi tanjakannya ehem…ehem..)


Keuntungan lainnya karena kami mengendarai sepeda adalah karena gaya bersepeda kami yang santai, tidak terlalu mengejar kecepatan (toh kami bukan atlet hehe…dan kalau terlalu cepat lalu apa yang mau di lihat? Angka speedometer? Lebih baik saya menikmati pemandangan di sepanjangan jalan saja) sehingga kami bisa melihat lebih detail apa saja yang ada di sepanjang jalur ini, salah satunya adalah kami menemukan “Grojokan atau air terjun mini” yang tidak bernama, sepintas jika dilihat dari pinggir jalan mungkin hanya terlihat seperti kucuran air biasa, tetapi saat saya melihat ke atasnya, wow ada curug yang lumayan indah dan tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan

Sepintas terlihat biasa saja dari pinggir jalan, sehingga jika kita berkendara terlalu cepat pastinya kita tidak akan menyadari keberadaan curug ini


Kami kemudian meminta izin dari pemilik rumah untuk memarkir sepeda, dan melanjutkan dengan trekking


Karena tidak ada jalan setapak menuju ke lokasi curug tersebut, dan satu-satunya jalan yang (menurut saya) bisa dilalui adalah dengan memanjat melalui pinggiran kandang kambing milik warga, maka itulah yang kami lakukan hehe…untungnya saya membawa sandal gunung

Dan inilah “Curug Mini” yang terletak di belakang kandang kambing tersebut (membuktikan sebuah ungkapan bahwa keindahan yang alami terkadang tersembunyi di balik sesuatu yang biasa saja, sehingga membutuhkan kemampuan melihat secara detail untuk menyingkap keindahan tersebut)



Kedung atau kolamnya juga tidak terlalu dalam tetapi licin, sangat nyaman dan segar untuk sekedar bermain air


Airnya juga masih sangat bersih dan dingin, terkadang hal sederhana seperti ini justru sulit kita dapatkan di perkotaan


Bisa sekalian buat bikin foto pre wedding hehe, alami, natural, tidak diatur-atur oleh fotografer, pokoknya sudah pasti benar-benar menceritakan kisah perjalanan kami tanpa settingan, dan gratis (kata terakhir ini selalu mempunyai magnet daya tarik tersendiri bagi saya)


Setelah puas bermain-main di Curug Mini tersebut, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada warga pemilik rumah, kami kemudian meminta izin untuk melanjutkan perjalanan kami


Setibanya di gapura penanda arah menuju Curug Sidoharjo, ikuti jalan saja yang naik-turun (banyakan naiknya) hingga nantinya tiba di pertigaan dimana ada papan penanda seperti ini


Jika ke kanan itu menuju ke arah Curug Sidoharjo, maka untuk menuju ke Curug Siluwok ambil ke arah sebaliknya yaitu ke kiri, ikuti jalan yang menanjak sekitar 100 meter nanti ada papan penanda arah menuju ke Curug Siluwok

Pemandangan yang menjadi penghibur di kala menanjak


Penanda arah yang masih swadaya masyarakat


Belok ke kanan dan ikuti jalan yang menanjak,cukup ikuti jalan utama yang terus menanjak saja


Karena derajat kemiringan tanjakan yang sungguh tidak manusiawi akhinya kami berinisiatif meminta izin kepada warga sekitar untuk memarkir sepeda kami di rumah salah seorang warga, dan selanjutnya akan kami teruskan dengan trekking saja

Foto ini dan berikutnya saat trekking saya dokumentasikan setelah kami pulang dari arah Curug Siluwok, karena saat menanjak membuat saya agak malas mengeluarkan kamera hehe…:)

Hujan yang turun sangat deras di perjalanan pulang


Ada cerita menarik dan berkesan yang saya dapatkan dari perjalanan ini, yaitu tentang betapa baik dan ramahnya warga yang berdomisili di sekitar wilayah ini, ketika kami hendak meminta izin kepada pemilik rumah untuk memarkir sepeda kami, serta-merta ia langsung menawarkan adakah yang bisa dibantu? Apakah kendaraan kami mengalami kerusakan? Dan hal tersebut secara spontan ia tawarkan tanpa sebelumnya melihat apakah kami mengendarai sepeda atau kendaraan lainnya, begitupun halnya ketika hujan tiba-tiba turun di saat kami masih berada di jalur trekking Curug Siluwok,saat itu saya sempat berpikir bahwa sepeda-sepeda yang tadi kami parkir pastinya basah kuyup oleh hujan, tetapi saat kami tiba di rumah warga tersebut untuk mengambil sepeda rupanya semua sudah dipindahkan ke tempat yang terlindung dari air hujan, sehingga sepeda, helm, dan peralatan kami lainnya tetap kering

Bagi kami hal-hal yang terlihat sederhana seperti itu seakan membuktikan bahwa masih ada kebaikan dan keramahan tanpa pamrih yang sejatinya merupakan identitas dari bangsa ini, yang sayangnya saat ini semakin tergerus oleh pengaruh negatif dari modernisasi dan kapitalisme, itulah hakikat kebaikan sejatinya, bukan karena mengharapkan sesuatu, karena jika melakukan kebaikan dengan dasar mendapat pamrih itu bukanlah berbuat kebaikan melainkan melakukan bisnis

Begitu pun setelah kami memarkir sepeda dan melanjutkan dengan berjalan kaki, saat menemui percabangan jalan berupa pertigaan, kami pun sempat bertanya tentang arah kepada salah seorang warga, dan saat ia tahu bahwa kami hendak menuju ke lokasi curug yang ternyata jaraknya masih cukup jauh dan menanjak, maka ia meminta salah seorang temannya untuk mengantar kami menggunakan sepeda motor, awalnya kami merasa bahwa jika jaraknya hanya sekitar 2km tidak apa-apa jika kami berjalan kaki karena bagi kami itu cukup dekat, tetapi karena temannya juga hendak menuju ke arah curug maka ia menawarkan untuk sekalian saja, akhirnya kami berboncengan bertiga sampai menuju titik parkir sebelum memasuki lokasi jalur trekking

Dari titik awal rute trekking hingga benar-benar sampai ke lokasi curug mungkin jaraknya masih sekitar 1 km melalui jalan tanah dan terkadang berbatu, penataan dan perbaikan jalur trekking masih terus dilakukan secara swadaya dan bergotong royong oleh warga sekitar setelah mereka usai mengerjakan kegiatan pertanian

Hujan deras dan kabut yang mulai turun saat kami pulang melalui jalur trekking



Jalan setapak di bibir jurang yang masih dalam tahap pengerjaan



Sampai akhirnya dari kejauhan kami mulai mendengar suara deburan air terjun dan mulai terlihat penampakan dari air terjun Curug Siluwok


Diatasnya pun juga terlihat masih ada air terjun lagi, tetapi belum ada jalan menuju kesana


Dan akhirnya sampailah kami di Air Terjun Curug Siluwok


Tampak beberapa warga sedang bergotong-royong membuat dan memperbaiki akses jalan menuju dan di sekitar lokasi Air Terjun Curug Siluwok


Untuk turun menuju ke lokasi airnya sementara masih harus memanjat bebatuan dan menuruni celah seperti ini


Air Terjun Curug Siluwok ini mempunyai ketinggian kurang lebih sama seperti Air Terjun Curug Sidoharjo, yang membedakan hanyalah di tempat ini masih lebih sepi dan kolamnya bisa digunakan untuk berenang


Dengan lokasi yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Curug Sidoharjo, hanya dibutuhkan beberapa perbaikan dan penataan fasilitas juga promosi atau publikasi maka kedepannya Curug ini diharapkan dapat membantu mengangkat perekonomian dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia warga sekitarnya


Dan tentunya bagi para wisatawan atau pengunjung pun diharapkan dapat bersikap bijaksana dalam menikmati keindahan alam dari tempat ini dengan tidak merusak (corat-coret), menjaga kebersihan (tidak buang sampah sembarangan) dan kealamian dari tempat ini, serta tidak melakukan perbuatan asusila ataupun hal negatif lainnya


Keindahan alam yang tersembunyi di balik perbukitan menoreh





Keceriaan anak-anak di sekitar wilayah ini saat menikmati bermain air, ya alam di sekitar mereka seakan telah menjadi tempat bermain dan berpetualang menemukan hal-hal baru yang menunggu untuk terungkap. Dan semoga kedepannya mereka tetap ingat dan menyadari bahwa antara manusia dan alam mempunyai ikatan yang saling membutuhkan sehingga tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan




Sebagai seorang penulis dari blog goweswisata, saya merasakan sendiri setelah melalui berbagai perjalanan bersepeda ini bagaimana pada akhirnya semua cerita perjalanan ini telah membawa perubahan terhadap pola pikir saya tentang arti hidup dan kehidupan

Mungkin saya belum pernah pergi ke suatu tempat yang orang-orang sering bilang sebagai “surga”, tetapi bagi saya secara pribadi “surga” bukanlah sekedar tempat atau lokasi saja, melainkan lebih dari itu, yaitu cara pandang kita, ya “surga” adalah state of mind, di saat saya merasa senang, kapanpun itu, dimanapun itu, dengan siapapun itu, maka saat itulah saya menemukan “surga” dalam hati dan pikiran saya, setiap orang mungkin mempunyai pemahaman dan kesenangan yang berbeda-beda, silahkan saja, tetapi bagi saya secara pribadi dalam setiap perjalanan ini saya melakukannya karena senang, termasuk ketika menulis semua catatan perjalanan ini itu pun saya lakukan karena saya merasa senang, tidak terikat dengan apa yang menjadi “standart kesenangan” versi orang lain, biarlah mereka menjalani apa yang disenanginya, karena perjalanan ini, ya gaya perjalanan ala goweswisata ini dengan segala warna-warninya (tidak terlalu peduli merk atau brand sepeda, banyak berhenti, foto-foto, tidak peduli target waktu, target kecepatan, kebanggaan akan jarak, dan lain-lain) telah membawa perubahan dalam diri saya untuk menikmati hidup :)

Selamat berpetualang dan temukan “surga” dalam hati dan pikiranmu


Note :
Terimakasih kepada seluruh warga Desa Keweron, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DIY yang telah sangat ramah menerima dan membantu kami selama perjalanan ini
Kepada Mas Aji yang dengan sukarela mengantarkan dan memandu kami hingga tiba di Air Terjun Curug Siluwok