Tuesday, 10 December 2019

WISATA BUMI WANGI KARANGWETAN

Minggu, 8 Desember 2019,
Di penghujung tahun 2019 ini Gowes Wisata akan mengulas tentang sebuah spot wisata baru di Yogyakarta, tepatnya berlokasi di Dusun Karangwetan, Kelurahan Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Nama tempat tersebut adalah Wisata Bumi Wangi Karangwetan (bagi kalian yang pernah berkunjung ke spot wisata alam Gunung Wangi Bangkel tentunya akan terasa tidak asing ketika mendengar nama tempat ini) ya, lokasinya sendiri berada tepat disisi Utara dari obyek wisata Gunung Wangi Bangkel, sehingga secara administratif walaupun kedua spot wisata tersebut letaknya bersebelahan namun ternyata masing-masing masuk kedalam wilayah kabupaten yang berbeda, dimana Gunung Wangi Bangkel masuk kedalam wilayah Kabupaten Bantul, sedangkan Wisata Bumi Wangi Karangwetan masuk kedalam wilayah Kabupaten Sleman.

Peta Lokasi Wisata Bumi Wangi Karangwetan



Rute termudah untuk menuju ke lokasi Bumi Wisata Karangwetan ini jika kalian start dari JEC (Jogja Expo Center) adalah ambil ke arah Timur, nanti setibanya di perempatan Blok O kalian masih terus saja ke Timur melalui Jalan Berbah menuju ke arah Paskhas, setelah melewati Paskhas AAU terus ikuti Jalan Berbah menuju ke arah Pabrik Rokok Sampoerna, selepas Pabrik Rokok kalian akan melewati Jembatan dan kurang lebih 200 meter kemudian akan bertemu perempatan, dimana jika kalian memilih arah yang lurus maka kalian akan menuju ke Lava Bantal, sedangkan jika belok ke kiri akan menuju ke Kalasan, Nah disini kalian tinggal belok ke kanan melalui jalan paving block dan lurus saja sampai mentok kemudian belok ke kiri hingga memasuki Gapura Dusun Karangwetan


Setelah melewati Gerbang Gapura Dusun Karangwetan nanti kalian akan melihat semacam perempatan seperti ini, patokannya adalah adanya Kandang Sapi yang berada tepat ditikungan perempatan tersebut (lihat Gambar)


Dititik ini kalian tinggal belok ke kanan ambil jalan cor beton yang menurun, nah sampailah kalian di spot Wisata Bumi Wangi Karangwetan





Dulunya area ini adalah lahan tidur milik Desa yang kerap dijadikan lokasi memancing, menggembala hewan ternak, ataupun akses warga untuk menyeberang menuju ke wilayah RT lain yang lokasinya terpisah oleh aliran Sungai Opak melalui Jembatan Gantung yang berada ditempat ini, namun semenjak kejadian banjir besar beberapa waktu lalu yang melanda Yogyakarta, tak ayal Jembatan Gantung yang menjadi akses penghubung warga ini pun akhirnya putus diterjang oleh derasnya luapan air Sungai Opak kala itu



Akibat banjir besar tersebut tak hanya Jembatan Gantung saja yang putus, beberapa fasilitas umum yang ada di sekitar lokasi seperti Pendopo dan MCK atau toilet umum juga porak poranda oleh ganasnya terjangan arus air Sungai Opak



Seakan tidak ingin berlama-lama meratapi lokasi sekitar yang porak poranda akibat kejadian tersebut, kini beberapa elemen masyarakat dan warga sekitar mulai kembali membangun dan menata area ini kembali sejak sekitar Bulan Oktober 2019, bahkan kali ini mereka memiliki konsep untuk mengembangkan area tersebut menjadi sebuah Desa Wisata atau Spot Wisata yang mana tujuannya selain untuk memberdayakan warga sekitar diharapkan nantinya tempat ini juga dapat mengangkat perekonomian wilayah tersebut, diharapkan sekitar pertengahan Tahun 2020 nanti pembangunan semua fasilitas infrastruktur pendukung di lokasi ini sudah selesai semuanya dan tempat ini akan mulai diresmikan

Warga sekitar secara swadaya bergotong-royong membangun dan menata lokasi ini




Beberapa fasilitas pendukung yang sedang dibangun dan kedepannya bisa kalian nikmati di tempat ini antara lain :
• Kantor Sekretariat
• Area Parkir Kendaraan
• Pendopo
• Musholla
• Toilet Umum / MCK
• Track Sepeda (Pump Track, Dirt Jump)
• Track Jeep Offroad
• Track ATV
• Pemancingan
• Area Gantangan Burung
• Camping Ground
• Area Kuliner Tradisional
• Taman Bermain Anak
• Wisata Outbond
• River Tubing
• Spot-spot Selfie

Track Sepeda yang sedang dalam proses pembuatan


Jembatan yang nantinya akan ditata menjadi salah satu spot selfie




Untunglah saat saya kesini aliran Sungai Opak sedang surut sehingga untuk menuju ke wilayah RT lainnya yang berada di sisi seberang Sungai saya hanya tinggal menyeberangi aliran Sungai saja, tidak perlu memutar melewati jalan desa lain yang cukup jauh


Oya pada kegiatan mengeksplor potensi Desa Wisata Karangwetan ini saya ditemani sekaligus dipandu oleh Bapak Purwanto selaku Ketua penggerak pemberdayaan warga, Beliau menjelaskan banyak hal seputar konsep perencanaan Wisata Bumi Wangi Karangwetan ini, termasuk potensi wisata alam yang berada dalam cakupan wilayah Dusun Karangwetan ini, dan yang menariknya adalah ternyata disini selain perencanaan dan pembangunan spot wisata artificial, ada juga beberapa potensi wisata alam yang tak kalah menarik untuk digarap dan dijelajahi terutama bagi kalian yang berjiwa petualang, spot-spot tersebut antara lain adalah spot Watu Amben, Watu Ondo, dan keberadaan tiga buah Goa Alam yang memiliki kisahnya masing-masing, baiklah mari kita ulas satu persatu

Setelah menyeberangi Sungai Opak, kita akan melihat area Taman Bermain Anak yang saat ini proses pembangunannya sudah cukup rapi, area ini dinamakan Lembah Sekar Wangi




Kemudian jika kita mengikuti ruas jalan yang berada disamping area Taman Bermain Lembah Sekar Wangi ini kita akan memasuki jalur trekking menuju destinasi berikutnya, yaitu Spot Watu Ondo (Batu Tangga), kenapa dinamakan Watu Ondo? Jawabannya sangat sederhana, yaitu karena formasi bebatuan yang ada dijalur trekking ini bentuknya menyerupai undakan anak tangga, undakan ini terbentuk secara alami, dan bagi kalian yang ingin menjajal jalur trekking ini sebaiknya gunakan alas kaki yang tepat seperti sepatu kets atau sandal gunung ya dikarenakan medannya yang menanjak dan cukup licin terlebih dikala musim hujan seperti saat ini, kedepannya jalur trekking ini juga akan dijadikan jalur jeep offroad sehingga bagi kalian yang tidak ingin capai mendaki maka kalian bisa menggunakan kendaraan 4WD untuk sampai dititik berikutnya

Memasuki jalur trekking (kedepannya akan ditambahkan papan penunjuk arah)




Inilah spot Watu Ondo




Setelah dari Watu Ondo kita akan menuju ke spot berikutnya yaitu keberadaan tiga buah Goa Alami, yaitu Goa Wangi, Goa Sumur, dan Goa Sabuk Alu. Mulai dari titik ini akses jalurnya sudah relatif rapi karena sudah dibuka dan dirapikan oleh seorang “penjaga” atau bisa kita sebut sebagai juru kuncinya area ini, yaitu seorang simbah yang dipanggil oleh warga sekitar dengan sebutan Mbah Guwo, konon Beliau sudah menetap seorang diri untuk mencari ketenangan hati di Puncak Bukit ini sejak tahun 2009 dengan hanya mendirikan sebuah tenda sederhana, hingga akhirnya Beliau dipercaya oleh warga sekitar untuk menjaga dan mengurusi area ini




Bertiga kami pun akhirnya menuju ke lokasi Goa pertama yaitu Goa Wangi. Mbah Guwo menjelaskan bahwa Goa ini memiliki dua bilik, dimana bilik pertama memiliki kedalaman sekitar 4 meter, dan bilik berikutnya memiliki kedalaman sekitar 6 meter.




Menurut Mitos, Goa ini dipercaya memiliki lorong-lorong ke 4 penjuru mata angin dimana masing-masing ujung lorong tersebut akan berakhir di Pantai Selatan, Gunung Lawu, Keraton, dan satu lagi saya agak lupa. Goa ini juga konon dulunya digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai tempat bermeditasi

Sejak akses pencapaian dan area sekitar Goa ini mulai dirapikan kini banyak orang yang menggunakan Goa Wangi ini sebagai tempat untuk bermeditasi, walaupun begitu tidak semua orang diizinkan untuk memasuki area Goa ini, selain dikarenakan faktor keamanan (karena semakin kedalam tentunya kadar oksigen juga akan semakin menipis), juga karena adanya faktor metafisik yang menjadi penghalang seseorang untuk memasukinya karena dikuatirkan alam bawah sadarnya tidak kuat atau rawan terkena “gangguan”.

Setelah Goa Wangi, kami pun lanjut menuju ke Goa kedua, yaitu Goa Sumur, dikarenakan bentuknya yang vertikal seperti sumur, menurut penuturan Mbah Guwo, dahulu Goa Sumur ini kerap dijadikan sebagai tempat berlindung dari kejaran penjajah, seperti halnya sebuah bunker, keberadaan Goa yang tersamar menjadikan orang-orang yang berlindung didalamnya sementara akan aman dari kejaran musuh, kini dibagian dalam Goa ini banyak terdapat hewan liar seperti landak yang menjadikan Goa ini sebagai sarangnya


Di sekitar lokasi Goa-goa ini juga terdapat bebatuan dan situs semacam sisa bangunan yang menurut para ahli sejarah dan akademisi diperkirakan berasal sejak zaman Majapahit, dan tidak jauh dari situs tersebut terlihat sebuah mulut Goa ketiga, yang dinamakan Goa Sabuk Alu, namun kini bagian dalam Goa tersebut sudah ditutup dikarenakan berbahaya jika ada yang ceroboh memasukinya, karakter Goa tersebut awalnya berupa lorong horizontal sejauh sekitar 20 meter lalu tiba-tiba masuk kebawah secara vertikal yang kedalamannya tidak diketahui




Usai melihat keberadaan ketiga Goa tersebut kami pun lanjut menyusuri jalan setapak menuju ke lokasi berikutnya yaitu Watu Amben (Amben = dipan, ranjang) yang berada didekat aliran sungai. Beberapa orang yang memiliki keyakinan kejawen terkadang menggunakan lokasi Watu Amben sebagai tempat untuk melakukan tapa kungkum



Batu datar inilah yang disebut Watu Amben


Melihat lokasi sekitar Watu Amben yang cukup tenang dan sunyi sepertinya tidaklah mengherankan jika beberapa orang melakukan meditasi disekitar lokasi ini, kira-kira setelah tempat ini dibuka untuk kegiatan susur sungai atau river tubing masih adakah orang yang melakukan meditasi dilokasi ini?



Terlepas dari apapun faktor mitos, keyakinan, sejarah, maupun wisata, alangkah baiknya jika kita sebagai pengunjung, wisatawan, ataupun traveler yang datang berkunjung ke tempat ini tetap menjaga tatakrama, sopan-santun, dan perilaku untuk tidak merusak (vandalism) atau mengotori tempat ini, karena kita datang untuk menikmati keindahannya bukan? Oleh karena itu seyogyanya lah kita juga turut menjaga tempat tersebut, jika kita menanam kebaikan kepada semua (manusia, hewan, alam) yakinlah suatu saat kita akan menuai hal yang baik juga, jadi tetap ingat untuk menjadi smart traveler ya



Terimakasih kepada seluruh warga Dusun Karangwetan (Bpk. Anang Sunu Aji selaku Kepala Dusun, Bpk. Purwanto selaku Ketua pemberdayaan warga, dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang telah membantu dan mensupport petualangan Gowes Wisata kali ini, kalian memang hebat

Update informasi seputar lokasi ini (09/08/2020)

Dilokasi ini sekarang sudah terdapat trek sepeda dirtjump bernama Kisik Trek. Trek ini sudah dilengkapi dengan beberapa obstacle serta starting point, bagi mereka yang ingin mencoba trek ini syaratnya adalah mengenakan atribut keselamatan seperti helm dan protector, selain itu juga diharapkan kesediaan para pesepeda untuk berdonasi secara sukarela yang nominalnya tidak ditentukan, berapapun jumlahnya, yang nantinya semua uang hasil donasi tersebut akan digunakan untuk pembangunan fasilitas dan pemeliharaan Kisik Trek ini

 

 

 

 

 

 

 

Dan bagi para penghobby kegiatan memancing juga pastinya akan senang karena disini juga terdapat area pemancingan dimana setiap bulannya diadakan lomba memancing untuk umum, beberapa jenis ikan seperti lele, nila, bawal, dan patin bisa kalian temukan disini, namun pastinya ada beberapa aturan dari pihak pengelola mengenai jenis ikan apa saja yang boleh dibawa pulang oleh peserta

 

 

Beberapa warung dan tempat bermain anak juga sudah ada dan masih terus dikerjakan pembangunannya, menjadikan lokasi ini benar-benar menjadi sebuah lokasi wisata keluarga yang nyaman

 

 

 

Menurut pihak Karangtaruna Desa Karangwetan untuk kedepannya tempat ini masih akan terus dikembangkan untuk beberapa fasilitas dan penataannya, seperti fasilitas MCK dan area camping ground serta area outbond. Jadi jika kalian ingin mencari lokasi wisata yang cocok untuk keluarga dengan jarak yang tidak terlalu lalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta sepertinya lokasi Wisata Bumi Wangi Karengwetan ini bisa kalian masukkan kedalam daftar tujuan kalian, selamat berwisata :)

Saturday, 20 October 2018

CHAPTER 48; TIME TO GO HOME

1 April 2016,
Tepat di hari ke-107 perjalanan bersepeda gowes wisata, akhirnya kami berdua memutuskan bahwa inilah saatnya untuk kembali pulang ke Yogyakarta, hal ini bukanlah sekedar candaan April Mop, keputusan untuk kembali pulang ke Jogja ini kami ambil dengan beberapa pertimbangan, faktor pertama adalah karena akan datangnya Bulan Ramadhan, dimana hal ini otomatis akan sangat mempengaruhi faktor berikutnya yaitu berubahnya pola perjalanan ini, karena kami harus mengatur ulang pola waktu dan jarak tempuh yang biasa kami lakukan selama ini dengan memperhitungkan faktor stamina selagi berpuasa, dan hal ini jelas akan sangat merepotkan, kemudian faktor terakhir yang paling penting adalah menyangkut faktor budget atau anggaran perjalanan, karena biasanya pada saat Bulan puasa harga-harga kebutuhan pokok akan sedikit meningkat, dan tak hanya harga kebutuhan pokok saja, harga transportasi (tiket kapal, bus, kereta api dan pesawat) biasanya juga akan melonjak terutama mendekati minggu terakhir bulan puasa atau menjelang Hari Raya Iedul Fitri

Atas dasar faktor-faktor tersebutlah akhirnya kami pun memutuskan untuk bersiap kembali pulang ke Yogyakarta sebelum memasuki Bulan Ramadhan. Beberapa persiapan pun segera kami lakukan mulai dari memesan tiket penerbangan secara online (karena jauh lebih murah), mempreteli sepeda-sepeda kami supaya lebih mudah dipacking kedalam kardus, dan menyortir beberapa barang bawaan yang sudah tidak kami gunakan lagi

Untungnya Mas Danang turut membantu kami menyiapkan semua hal ini dengan menyediakan kardus-kardus untuk mempacking sepeda kami serta membantu pemesanan tiket pesawat secara online sehari sebelumnya.


Bagi kami berdua hal ini jelas merupakan pengalaman baru, karena seingat saya terakhir kali saya naik pesawat adalah sewaktu SMU, mungkin kira-kira sudah 20 tahun yang lalu, sedangkan bagi Agit sendiri, naik pesawat adalah hal yang pertama kali baginya, jadi bayangkan saja bagaimana senangnya dia ketika mengetahui bahwa kami akan pulang menggunakan pesawat terbang, oleh sebab itu ketika sehari sebelumnya Mas Danang mengajak kami ke Bandara Sepinggan Balikpapan untuk menunjukkan (mengajari) kami berdua perihal prosedur yang harus kami lalui esok hari, kami pun seketika berasa menjadi “wong Ndeso” hehe…:)

Setelah puas berkeliling melihat Bandara Sepinggan yang merupakan Bandara terbaik di Indonesia ini kami pun segera kembali ke tempat Pak Topo untuk mulai melakukan packing sepeda-sepeda

Dan akhirnya tibalah hari keberangkatan kami, setelah kemarin kami sudah berpamitan kepada Mas Danang dan keluarganya, kini kamu pun berpamitan kepada Pak Topo yang telah banyak membantu sejak pertama kali kami tiba dan selama berada di Kota Balikpapan ini, kami pun diantarkan sampai ke Bandara Sepinggan oleh Beliau

Di Bandara Sepinggan ini kami mulai melakukan prosedur pertama yaitu menimbang semua bawaan kami yang ternyata hasilnya membuat kami terkejut, karena setelah ditimbang ternyata semua barang bawaan kami melebihi batas yang diperbolehkan (per orang hanya mendapat bebas bagasi untuk 20kg), atau dengan kata lain kami terkena over bagasi dan harus membayar kelebihan berat tersebut, kami pun juga harus mempacking ulang beberapa barang supaya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untungnya kami sudah tiba di Bandara ini jauh lebih awal daripada jadwal keberangkatan pesawat yang akan kami naiki sehingga kami tidak terlalu panik dan terburu-buru



Setelah selesai mempacking dan menimbang ulang semua bawaan serta membayar denda kelebihan bagasi kini kami hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan kami saja

Begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara jika pesawat yang kami naiki telah siap di landasan dan semua penumpangnya dipersilahkan untuk memasuki pesawat, kami pun bersiap untuk menaiki pesawat, dari balik jendela ruang tunggu kami juga sempat melihat barang bagasi penumpang lainnya yang sedang diatur masuk kedalam pesawat

Didalam pesawat para pramugari terlihat sibuk membantu penumpang mencari nomer bangkunya sembari menjelaskan prosedur keselamatan di dalam pesawat jika sewaktu-waktu terjadi kejadian darurat, kami pun mendengarkannya sambil melihat pemandangan dari balik jendela pesawat sampai akhirnya pesawat pun mulai take off menuju ke Yogyakarta

Waktu tempuh perjalanan menggunakan pesawat dari Kota Balikpapan menuju ke Kota Yogyakarta terbilang relatif singkat, yaitu hanya sekitar 45 menit sampai satu jam saja padahal jarak antara keduanya terpisah oleh pulau yang berbeda yaitu Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa, sewaktu pesawat mulai mengudara dan berada diketinggian kami sempat melihat daratan Pulau Kalimantan yang terlihat semakin mengecil ketika pesawat mulai melintasi lautan dan terbang semakin tinggi hingga berada diantara awan sampai kemudian pesawat mulai merendah begitu memasuki wilayah udara Pulau Jawa, dan mulai melakukan proses landing setibanya di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Ya, akhirnya kini kami telah sampai kembali di Kota awal dimana kami berdua memulai perjalanan bersepeda jarak jauh gowes wisata ini



Lalu apakah perjalanan dan petualangan bersepeda gowes wisata ini telah berakhir? Apakah semuanya telah selesai? Tentu saja tidak, karena sebuah petualangan yang sempurna tidak akan pernah berakhir, ia mungkin dapat dimulai namun ia tidak akan pernah berakhir, disaat satu seri petualangan telah usai selalu saja ada seri petualangan berikutnya untuk dimulai, selalu ada tempat dan keunikan-keunikan baru untuk dijelajahi dan diceritakan. Jika kalian menyukai cerita-cerita petualangan yang kami sajikan pada website goweswisata.com ini maka pastikan kalian tetap terus mengikuti dan mensupport petualangan kami dengan cara memfollow, like, subscribe ataupun sekedar comment pada akun sosial media yang kami kelola, karena semua hal tersebut menjadi “tenaga” dikala kami sedang lelah dan berusaha mencari serta menyajikan informasi-informasi seputar pariwisata kepada kalian semua :)

Pengeluaran hari ini :

- 2 tiket pesawat lion air = Rp 891.136,-
- taxi bandara balikpapan = Rp 60.000,-
- packing = Rp 70.000,-
- over bagasi = Rp 750.000,-
- 2 porsi makan = Rp 12.000,-
- minum+jajan = Rp 7.000,-

Total = Rp 1.790.136,-

Tuesday, 2 October 2018

MENIKMATI PESONA MERAPI DARI KALI TALANG

Senin, 24 September 2018,
Bagi kalian yang pernah atau berdomisili di Jogja pasti sudah tahu bagaimana cara menentukan orientasi arah selagi berada di Propinsi ini. Ya, di Propinsi yang istimewa ini memang sangat mudah membaca arah mata angin berdasarkan filosofi sumbu imajiner yang menjadi landasan penataan tata ruang kota, dan salah satu patokan termudah serta paling jelas adalah dengan melihat letak atau posisi Gunung Merapi, dimana letak Gunung berarti menunjukkan arah Utara

Jika kita kebetulan sedang berwisata di Jogja maka pembagian area wilayah berdasarkan mata angin ini secara tidak langsung juga dapat memudahkan kita dalam menentukan atau membuat itinerary destinasi wisata mana saja yang ingin kita kunjungi

Oleh karena itu pada petualangan goweswisata.com kali ini, saya akan mencoba mengajak kalian semua untuk berwisata ke sisi Utara Kota Jogja. Bagian Utara sendiri sudah pasti identik dengan Gunung Merapi, beberapa dari kalian juga pasti sudah pernah menikmati indahnya panorama yang ada di sekitar lereng Gunung Merapi

Jika biasanya wisatawan yang ingin menikmati keindahan panorama disekitar Gunung Merapi pasti melihatnya dari Obyek Wisata Kaliurang yang famous itu atau yang baru-baru ini mulai populer yaitu dari area Kalikuning, Plunyon, dan Kaliadem dimana disekitar kawasan tersebut juga terdapat gardu pandang, bunker evakuasi, dan Museum Mbah Maridjan, salah seorang Abdi Ndalem Keraton yang dipercaya menjadi juru kunci Merapi namun Beliau telah meninggal ketika terjadi erupsi Merapi dan semburan awan panas pada Tahun 2010 lalu

Nah sekarang kalian memiliki alternatif lokasi lainnya yang tidak kalah seru dan menarik untuk menikmati panorama keindahan Gunung Merapi, yaitu melalui wilayah Kali Talang.



Spot wisata Kali Talang sendiri tepatnya berlokasi di Desa Gondang, Dusun Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Walaupun secara administratif wilayah ini berada diluar Jogja, tepatnya sudah masuk ke dalam wilayah Klaten, namun karena letaknya yang berada tepat di perbatasan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta dengan Klaten, Propinsi Jawa Tengah, maka saya pun merasa lokasi ini bisa dijadikan spot wisata alternatif untuk menikmati keindahan panorama lembah dan lereng Merapi jika kalian sedang berlibur di Jogja

Untuk menuju ke spot wisata Kali Talang jika kalian start dari arah Kota Jogja maka kalian tinggal menuju kearah Candi Prambanan saja, nanti setibanya di traffic light Prambanan (Setelah Gapura perbatasan) kalian tinggal belok ke kiri (Utara) terus saja sampai pertigaan yang ada di belakang Candi Sewu, kemudian belok kiri dan lurus sampai mentok lalu belok Kanan (Utara), dari situ tinggal terus saja ke arah Utara


Dari titik ini kondisi jalannya sudah beraspal, terkadang halus namun terkadang masih terdapat beberapa lobang jalan yang rusak karena terlalu sering dilewati oleh truk-truk pengangkut pasir Merapi, lebar jalannya sendiri tidak terlalu lebar namun bisa untuk kendaraan roda 4 berpapasan, disini kalian juga harus berhati-hati dengan kendaraan truk-truk pengangkut pasir yang melaju dengan sangat cepat


Dengan pemandangan area persawahan dan perumahan warga di sepanjang sisi jalan, jika kalian jeli sebenarnya disepanjang rute ini juga terdapat beberapa spot wisata lainnya yang belum terlalu populer, seperti wisata Kali Opak 7 Bulan dan Sendang Joholanang




Untuk elevasinya sendiri, jika kalian pernah mengunjungi kawasan wisata Kali Kuning dan Kaliadem maka derajat tanjakannya kurang lebih seperti itu, bedanya hanya Spot wisata Kali Talang berada lebih tinggi dan lebih jauh dibandingkan dengan gardu pandang yang terdapat di wilayah Cangkringan, Kaliadem, jika kalian melihatnya melalui peta satelit maka pos pengamatan aktivitas Gunung Merapi yang berada di wilayah Kali Talang merupakan titik paling Utara atau yang paling mendekati area Merapi dan berada diketinggian sekitar 1200mdpl, elevasi terberat mungkin dimulai setelah melewati perempatan Sekolah Dasar yang berada di Kali Talang, selain karena derajat kemiringannya juga dikarenakan kontur jalannya yang rusak, saya pun beberapa kali mengombinasikan antara mengayuh dan mendorong di sepanjang perjalanan menuju ke spot wisata Kali Talang


Jangan ikuti panah, ambil yang arah Utara saja terus


Belok ikuti panahnya jika sudah sampai disini, nanti setelah perempatan SD belok ke kiri dan lurus ke Utara





Setibanya di Pos Pantauan Merapi 149.070 MHz Induk Balerante, selagi saya sedang “berjuang” mendorong sepeda tiba-tiba saya dihampiri oleh dua orang pengendara motor yang bertanya, “Ini Masnya mau kemana? Kok ga digowes saja, itu sudah tinggal sedikit lagi kok”, “Oh tadi sudah gowes kok Pak, ini ganti-ganti antara gowes dan dorong soalnya pegel”, Jawab saya. Setelah saling berkenalan akhirnya saya pun mengetahui bahwa Beliau-beliau ini ternyata adalah Peneliti Utama dari Kemendesa PDDT (Pak Djoko Puguh Wibowo dan Pak Mujianto) yang bersama-sama warga sekitar mulai mencoba mengembangkan potensi wisata yang ada di wilayah Kali Talang ini




Saya pun kemudian diajak beristirahat di rumah seorang warga yang menjadi ketua dari POKDARWIS Balerante (Kelompok Sadar Wisata) yaitu Pak Juanto, oleh mereka bertiga saya dijelaskan panjang lebar perihal awal mula penataan konsep wisata yang ada di wilayah Kali Talang ini, perbincangan ini menjadi kian seru karena dari kami masing-masing saling mengutarakan ide untuk pengembangan konsep wisata ini kedepannya, mulai dari ide pembangunan fasilitas pendukung, pemberdayaan masyarakat sekitar, hingga promosi spot wisata ini melalui media sosial

Saya pun sempat diajak berkeliling sebentar oleh Pak Mujianto menggunakan sepeda motornya ke beberapa titik dari spot wisata Kali Talang ini, “ayo Mas tak boncengin, jangan lupa dibawa kameranya, sepedanya dititip sini saja dulu supaya Masnya jadi tahu seperti apa karakter dari konsep wisata Kali Talang ini”, Kata Pak Mujianto sebelum mengajak saya berkeliling. “Untung pas banget Masnya datang, jadi nanti Masnya bisa bantu mempromosikan wisata Kali Talang ini lewat website dan akun sosial media, nanti warga sekitar juga tolong bantu diajarin ya Mas, soalnya Saya dan Pak Djoko harus kembali Ke Jakarta hari ini”, Ujar Pak Mujianto, “sipplah Pak nanti tak bantu sebisa saya lewat tulisan di website goweswisata.com”, Jawab Saya




Kali Talang sendiri memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan spot-spot wisata lainnya yang juga dijadikan sebagai tempat pengamatan aktivitas vulkanik Gunung merapi, disini selain menikmati wisata alam berupa keindahan panorama lembah dan lereng sekitar Gunung Merapi, kalian juga bisa belajar tentang ragam tanaman khas Merapi (ekowisata), salah satunya seperti pembudidayaan tanaman kopi dimana nantinya disekitar lokasi ini juga akan dijadikan sentra produksi kopi, selain itu bagi penikmat aktivitas olahraga sepeda gunung maka disini kalian bisa mencoba trek sepeda enduro dan downhill yang tersedia, trek sepeda ini juga telah dilengkapi dengan beberapa bridge, berm, dan gap, selain itu lintasannya sendiri juga merupakan tembusan dari trek sepeda downhill yang ada di daerah Klangon





Tidak hanya itu saja, kelebihan view Merapi yang bisa dilihat dari Kali Talang ini juga sangat indah dan strategis, karena di lokasi ini jika cuacanya sedang cerah dan Gunung Merapi tidak tertutup oleh kabut maka kalian bisa melihat rekahan kubah lava yang baru terbentuk. Walaupun wilayah Kali Talang ini termasuk dalam kawasan rawan bencana 3, namun melihat potensi wisata yang ada disekitar wilayah ini akhirnya sekitar Bulan September 2016 lalu warga sekitar melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Balerante Maju Makmur bekerjasama dengan Kemendesa PDDT (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi) akhirnya mulai mengoptimalkan potensi mitigasi dan wisata diwilayah ini sekaligus menggerakkan sektor ekonomi lokal



Selain menawarkan keindahan wisata alam, disini kalian juga bisa belajar mengenai hal-hal seputar pengamatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi di Pos Pengamatan Induk Balerante yang nantinya juga akan difungsikan sebagai Museum Erupsi Merapi dan sarana pendidikan, misalnya ciri-ciri apa saja yang menandakan bahwa status Gunung Merapi bisa dikategorikan menjadi waspada atau bahaya, serta alat-alat yang digunakan untuk mengukur getaran seismic. Pembangunan Museum ini nantinya juga akan diiringi dengan pembangunan Omah Batik Tradisional Balerante




Berbagai fasilitas pendukung spot wisata ini pun juga mulai dikembangkan seperti penataan area parkir kendaraan yang berdekatan dengan warung-warung jajanan (sayangnya sementara ini warung-warung jajanan hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu saja), toilet umum berjumlah 2 buah yang berada dibelakang bangunan warung, gazebo-gazebo, spot-spot swafoto (kedepannya nanti juga akan dibuat Taman Bunga Edelweiss yang berada tepat di tengah-tengah spot-spot selfie tersebut), dan tempat-tempat sampah, untuk fasilitas tempat ibadah seperti Mushalla sendiri belum ada dikarenakan lokasi spot wisata ini sebagian menyatu dengan area Taman Nasional Gunung Merapi oleh karena itu pembangunan fasilitas pendukung juga harus dibatasi supaya tidak sampai mengganggu kelestarian dari ekosistem Taman Nasional ini sendiri, salah satunya dengan tidak mendirikan fasilitas atau bangunan yang bersifat permanen atau berstruktur massif, bangunan masjid terdekat sendiri berada disekitar rumah warga dan ketua Pokdarwis





Bagi kalian yang ingin membuat acara kegiatan kelompok atau komunitas di spot wisata Kali Talang ini, kalian bisa menghubungi ketua Pokdarwis Balerante dan meminta ijin penyelenggaraan acara, untuk kegiatan camping disini juga disediakan lokasi camping ground dengan biaya 5 ribu rupiah per orang, namun karena disekitar spot wisata ini belum ada penyewaan tenda dan alat-alat outdoor maka kalian harus membawanya sendiri, tetapi khusus untuk kebutuhan makanan, jika kalian malas untuk memasak sendiri, kalian bisa membayar jasa warga untuk memasak dan mengantarkannya ke lokasi camping kalian masing-masing






Jadi kapan kalian berwisata ke Spot wisata Kali Talang ini? yuk kita bantu mensupport warga sekitar dalam mengembangkan lokasi wisata ini dengan cara mempromosikannya melalui akun sosial media kalian masing-masing, mudah kok cukup dengan menambahkan hashtag #kalitalang #balerante #wonderfulbalerante pada setiap foto yang kalian upload, ayo kita bersama-sama memajukan pariwisata Indonesia, karena kalau bukan kita lalu siapa lagi





Tips jika kalian ingin berwisata ke Spot Wisata Kali Talang:

- Belum ada angkutan umum yang sampai ke lokasi ini sehingga kalian harus menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan
- Akses menuju ketempat ini bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 dan roda dua (pastikan untuk mengecek kondisi kendaraan anda
sebelum berangkat, terutama bahan bakar)
- Tiket masuk ke tempat ini sementara masih sukarela (antara 2ribu-6ribu untuk kendaraan, namun jika kalian datang selain hari
Sabtu-Minggu maka biasanya gratis)
- Warung-warung jajanan hanya buka pada Hari Sabtu dan Minggu
- Beberapa lokasi swafoto sementara masih mengalami perbaikan sehingga kalian harus berhati-hati (terutama pada spot menara)
- Camping diperbolehkan dengan tarif 5ribu per orang, kalian hanya harus melapor ke Ketua Pokdarwis Balerante saja
- Jangan membuang sampah sembarangan, mencorat-coret, melakukan aksi vandalism dan perbuatan asusila

Ps : terimakasih kepada Pak Juanto (Ketua Pokdarwis Balerante, 0812-32317267 / 0853-28906867), Pak Djoko Puguh Wibowo dan Pak Mujianto (Peneliti Utama Kemendesa PDDT), serta seluruh warga Balerante, Kali Talang