Wednesday, 7 September 2016

CHAPTER 1; MEMULAI ADALAH HAL YANG PALING SULIT

Kamis, 17 Desember 2015,

Sebuah ide gila yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam benak kami tentang perjalanan bersepeda selama 1 tahun mengelilingi Indonesia kini sudah tiba saatnya untuk direalisasikan, mungkin terdengar muluk tetapi jangka waktu 1 tahun yang awalnya kami rencanakan bukanlah merupakan suatu hal yang baku, jika segala sesuatunya memungkinkan maka perjalanan bersepeda kali ini memang akan menghabiskan waktu selama satu tahun, tetapi pada prakteknya nanti kami yakin segala sesuatunya akan menjadi lebih fleksibel, oleh karena itulah rentang waktu satu tahun adalah batasan maksimal yang kami sepakati, tidak lebih dari itu, apalagi jika ternyata dalam jangka waktu kurang dari setahun tersebut kami sudah menemukan esensi perjalanan tentang apa arti hidup itu sebenarnya, maka saat itulah kami akan kembali pulang, membawa semua pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang kami peroleh, semua hal yang telah mengubah pola pikir serta cara pandang kami dalam memaknai hidup.

“Kamu yakin mau memulai ini?”, “Apa tidak berbahaya?”, “Nanti bagaimana makan dan tidurnya?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu semakin sering kami dengar mendekati hari H petualangan goweswisata, kami pun hanya bisa menjawab entahlah sembari tersenyum, karena kami pun memang tidak tahu akan seperti apa cerita petualangan ini kedepannya, jujur saja kami pun termasuk orang baru dalam dunia bersepeda jarak jauh seperti ini, kami sama awamnya dengan mayoritas pesepeda lainnya yang menjadikan kegiatan bersepedanya hanya sebagai sarana penyaluran hobby dan rekreasi, berawal dari sekedar bersepedakeliling komplek perumahan, lalu mulai berlanjut mencari obyek-obyek wisata baru yang tersembunyi, kemudian semakin berkembang dengan mulai melakukan bike overnight atau bikecamping, dimana jika sebelumnya kegiatan bersepeda kami lebih banyak bersifat one day trip lama kelamaan berkembang menjadi multiday trip, dan ternyata kami menyukainya karena ada rasa kebebasan didalamnya, ada perasaan senang karena perjalanan kami tidak diburu waktu sehingga kami tidak harus memforsir tenaga seharian, selain itu kami pun bisa lebih leluasa dalam menjelajahi setiap tempat yang kami singgahi, karena itulah bagaimana jika multiday trip yang awalnya hanya 2-3hari saja kini kami kembangkan menjadi multiday trip sesungguhnya, menjadi perjalanan bersepeda dalam rentang waktu satu tahun dengan cakupan tujuan persinggahan yang lebih luas lagi, apakah rasa kebebasan itu akan tetap sama ataukah berbeda? Apakah kami akan menikmati dan ketagihan ataukah membencinya? Apakah kami akan merindukan setiap jejak dan cerita perjalanan ini? Itulah yang akan kami coba cari tahu.

Sejak pagi mendung sudah tampak menggelayut di langit Kota Yogyakarta ini, sudah hampir 1 minggu sejak kami tiba di kota ini untuk mempersiapkan perjalanan goweswisata multiday trip traveling around Indonesia selalu saja setiap harinya turun hujan, terkadang hujan turun sejak pagi hari, kadang dari sore sampai malam hari, bahkan beberapa kali hujan pun turun hingga seharian, efeknya tentu saja membuat beberapa pakaian yang kami cuci menjadi susah kering.

Kami mengawali start petualangan ini dari daerah Maguwoharjo, tidak jauh dari Bandara Adi Sucipto, sekitar pukul 05.00 WIB kami sudah bangun dan mulai bersiap-siap, bagaimanapun kondisi cuaca nantinya apakah turun hujan atau tidak, kami telah sepakat bahwa hari inilah awal petualangan goweswisata akan dimulai.

Sebelum berangkat saatnya melakukan cek dan ricek kelengkapan barang bawaan sekali lagi, karena setelah pedal dikayuh maka tidak ada kata kembali lagi. Sepeda cek, Panniers cek, kebutuhan primer sandang, pangan, dan papan semua cek oke, huff… kini saatnya berdoa dan berpamitan kepada semua yang telah banyak membantu dan mensupport kami untuk memulai petualangan ini

“Hati-hati ya, semoga selamat selama perjalanan dan Tuhan selalu memberkati”, begitulah pesan yang disampaikan oleh salah seorang orangtua sahabat kami yang melepas keberangkatan kami berdua, terimakasih semua :), sambil mulai mengayuh sepeda kami pun sesekali menoleh ke belakang, melambaikan tangan sembari tersenyum, ada banyak cerita dan kenangan di kota ini sejak kami memutuskan hijrah dari Jakarta dan mulai menetap di Yogyakarta, kurang lebih 3,5 tahun sudah kami menetap di Provinsi Istimewa ini, kini saatnya bagi kami untuk keluar dari zona nyaman dan mulai belajar mengenal wilayah-wilayah lain di Indonesia, mengeksplor potensi diri kami danbelajar untuk terbuka terhadap hal-hal baru yang nantinya akan kami temui.

Untuk masalah perencanaan rute, karena kami terhitung masih baru dibidang ini maka rute yang kami pilih adalah melalui rute tengah melalui ruas Jalan Jogja-Solo dengan pertimbangan rute ini lebih banyak flatnya alias datar-datar saja hehe…

Untunglah sejak awal perjalanan ini cuaca lumayan bersahabat, tidak hujan namun juga tidak terik, hanya berawan saja sehingga membuat hawa menjadi agak dingin. Kondisi ruas Jalan Jogja-Solo pun tidak terlalu ramai hari ini, mungkin karena bulan ini di Yogyakarta sedang musim hujan sehingga membuat beberapa orang menjadi malas bepergian.

15 menit pertama adalah waktunya membiasakan diri mengendalikan sepeda yang dipenuhi panniers di bagian depan serta belakang. Setidaknya untuk masing-masing sepeda kami membawa tujuh buah tas, terdiri dari sepasang pannier depan, sepasang pannier belakang, handlebar bag, trunk bag, serta sebuah backpack yang kami letakkan di atas trunk bag, backpack sengaja kami bawa karena ada saatnya ketika kami sejenak off from the bike dan ingin berjalan kaki berwisata kota maka backpack bisa berfungsi untuk menaruh perlengkapan dan bekal di perjalanan.


Sedikit demi sedikit tanpa terasa kami sudah melewati batas wilayah Provinsi DIY dengan Jawa Tengah yang terletak didekat Candi Prambanan, karena sudah beberapa kali melewati lokasi ini maka segala sesuatunya masih terasa biasa saja bagi kami, lanjut gowes lagi dengan santai kali ini lokasi Pabrik Gula Gondangwinangun pun juga sudah terlewati, suasana masih terasa aman secara psikis karena kami juga sudah familiar dengan rute ini hingga sampai ke Kota Solo.

Goodbye Yogyakarta




Setibanya di pertigaan (akhir dari Jalan Jogja-Solo) menuju Kota Solo kami pun beristirahat siang sejenak di sebuah Masjid yang berada tidak jauh dari pertigaan tersebut, sambil beristirahat saya pun mulai merencanakan rute berikutnya karena pada perjalanan bikeovernight sebelumnya perjalanan terjauh yang pernah kami lakukan berdua hanyalah sampai di Kota Solo saja, sehingga bisa dikatakan disinilah zona nyaman kami berakhir, kami tidak tahu lagi akan seperti apa suasana di rute berikutnya, rasa ketidaktahuan inilah yang secara tidak langsung nantinya juga akan mempengaruhi kondisi psikis kami, tetapi ya sudahlah perjalanan harus terus berlanjut, tidak ada kata kembali, lagipula kami juga sudah berkomitmen untuk meneruskan petualangan ini.

Begitu memasuki gerbang Kota Solo maka langkah berikutnya adalah mencari informasi arah menuju Kota Sragen, hmmm… informasi penunjuk arah yang ada di Kota Solo ini benar-benar membingungkan dan semrawut, daripada tersesat lebih baik bertanya saja ke pengguna jalan lain kemana arah menuju Sragen, dan ternyata kondisi lebar ruas jalan dari Solo menuju Sragen lebih sempit (jika dibandingkan dengan lebar ruas Jalan Jogja-Solo) padahal ada banyak truk dan bus yang melintasi rute ini, disini jugalah kami mulai menghadapi beberapa ruas jalan yang agak menanjak (kesenangan saat jalan datar di sepanjang ruas Jalan Jogja-Solo tadi kini berakhir sudah), yah setidaknya lumayanlah untuk latihan mengendalikan sepeda full beban begini supaya kedepannya nanti kami terbiasa.



Dari kondisi jalan yang sebelumnya terhitung ramai kini perlahan mulai terasa sepi (untuk ukuran kondisi lalu lintas Pulau Jawa), tampak beberapa truk diparkir di sisi kiri jalan, beberapa dari para sopir dan kernet truk tersebut pun terlihat sedang beristirahat diwarung-warung yang ada disepanjang sisi jalan tersebut. Jam yang ada dicyclocomp sudah menunjukkan waktu Ashar, sesuai perencanaan rute maka ini berarti sudah waktunya bagi kami untuk mulai mencari tempat pemberhentian hari ini, sambil terus mengayuh mata kami pun juga sibuk mencari lokasi yang pas untuk beristirahat dan berhenti hari ini, dan herannya semakin susah saja mencari lokasi yang pas karena tidak banyak bangunan atau masjid yang ada di sepanjang perlintasan ini padahal hari sudah semakin sore dan dikejauhan langit juga sudah tampak semakin gelap tertutup oleh mendung, untunglah akhirnya kami melihat ada sebuah bangunan mushalla milik sebuah instansi pemerintah di daerah Masaran, lebih tepatnya sebuah Balai Nikah KUA Masaran, setelah bertanya dan meminta ijin untuk menumpang menginap semalam saja kami pun dipersilahkan untuk menginap di dalam mushalla, pak penjaga Mushalla pun sempat berbincang-bincang menanyakan asal dan tujuan kami, ia juga menyarankan untuk mengunci pintu mushalla jika kami sudah mau tidur supaya semuanya aman.


Setelah bersih-bersih (mandi dan mencuci baju), kini waktunya untuk mencari makan di angkringan yang berada tidak jauh dari Mushalla tempat kami menginap tersebut, untungnya harga makanannya pun masih terbilang wajar, seporsi nasi rames dan segelas teh hangat terasa nikmat sekali di perut. Setelah selesai makan, sekarang saatnya beristirahat memulihkan kondisi tubuh sebelum esoknya melanjutkan perjalanan kembali, setidaknya babak awal petualangan kami baru saja dimulai dan kami juga masih membiasakan diri untuk menghadapi kondisi apapun yang akan terjadi berikutnya, hikmah yang kami dapat pada hari ini adalah kami menjadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang kami miliki, mungkin di mata orang lain keadaan kami seakan terlihat seperti orang susah, sudah gowes jauh, tidur di mushalla tanpa kasur, makan seadanya, tetapi satu hal yang kami syukuri adalah setidaknya kami masih bisa makan hari ini dan diijinkan menginap oleh seseorang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya, bukankah bertemu dengan orang-orang baik serta menikmati makanan juga adalah salah satu bentuk rezeki yang harus disyukuri? Bagi saya pribadi pun ada nikmat satu lagi yang paling penting untuk disyukuri yaitu di perjalanan ini saya didampingi oleh seseorang yang kini telah menjadi bagian hidup saya, yang mau dan mampu menerima saya serta petualangan ini bersama-sama, seseorang yang bisa menjadi tempat berbagi cerita dan pengalaman ini kepada kalian semua, oleh karena itu jika kami berdua yang notabene bukanlah seorang profesional cycle tourer saja mampu memulainya maka yakinlah bahwa sebenarnya kalian pun juga bisa memulai cerita petualangan kalian sendiri. Yang paling penting kita juga harus mau belajar mempersiapkan segala sesuatunya sebelum memulai untuk meminimalkan resiko dan masalah ke depannya, sehingga tidaklah cukup jika kemudian kita menjadi latah ingin mencoba namun hanya bermodal niat dan nekat saja.


“Memulai merupakan hal yang paling sulit tetapi jika kita tidak pernah memulainya maka kita tidak akan pernah tahu sampai seberapa jauh kemampuan kita untuk melangkah dan seberapa menakjubkannya diri kita sebenarnya”.

Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi soto sapi+2 gelas teh manis = Rp 15.000,-
- 6 buah Roti = Rp 20.000,-
- 2 porsi makan malam+2 gelas teh hangat = Rp 15.000,-
Total = Rp 50.000,-

Total jarak tempuh hari ini :76,8km

Tuesday, 19 July 2016

Cara Merawat dan Memperbaiki Pedal Sepeda

Pedal sebagai salah satu dari sekian banyak komponen penyusun sebuah sepeda sebenarnya memegang peranan yang cukup penting namun entah mengapa keberadaannya paling sering terlupakan dalam segi perawatan

Sebuah pedal tidak hanya berfungsi sebagai pijakan kaki disaat kita mengayuh namun lebih dari itu kualitas dari sebuah pedal yang berfungsi secara “sehat” juga dapat menambah efektifitas dan efisiensi setiap kayuhan yang kita lakukan

Oleh karena itulah pemilihan serta perawatan sebuah pedal juga tidak boleh kita lupakan untuk menunjang kenyamanan kita saat sedang bersepeda, nah pada post kali ini Gowes Wisata akan berbagi ilmu dan mengajak sobat gowes semua untuk membedah komponen yang satu ini

Sekarang ini di pasaran sudah banyak beredar beragam jenis pedal yang seringkali “menggoda” mata dan dompet kita untuk melakukan upgrade, tidak salah memang jika upgrade tersebut kita lakukan untuk mengejar kenyamanan atau pada kasus pedal lama kita tersebut memang telah rusak dan sudah waktunya untuk diganti, namun bagaimana cara mengetahui pedal mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kita? atau benarkah pedal lama tersebut sudah tidak dapat diperbaiki lagi sehingga kita harus merogoh kocek dan menyiapkan budget untuk upgrade, bagaimana jika pedal lama tersebut sebenarnya masih dapat diperbaiki sehingga kita dapat menghemat budget, tentunya lumayan kan :) , nah sebelum terburu menjustifikasi pedal lama kita sudah rusak, yuk kita cek dulu pedal lama kita

Setelah sekian lama “disiksa” di segala medan dan cuaca, sebuah pedal tentunya memerlukan cek ulang. Untuk melakukan cek ulang tersebut pun kita tidak memerlukan terlalu banyak peralatan, cukup siapkan beberapa toolkit berikut :

1. Kunci L nomor 6
2. Kunci Sok nomor 8
3. Obeng (-)
4. Lap
5. Grease


Sudah siap? Nah sekarang lepaskan dulu masing-masing pedal dari crank dengan cara memutar as pedal menggunakan kunci pas nomor 15, putar kedua pedal tersebut kearah belakang

Setelah pedal terlepas dari crank, kini kita mulai tahapan membongkarnya


Pertama buka baut atau cover penutup as pedal (lihat tanda panah) menggunakan Kunci L nomor 6, putar berlawanan arah jarum jam



Setelah penutup tersebut terlepas, secara umum kira-kira beginilah penampakan bagian dalam selongsong body pedal


Dengan menggunakan obeng (-) yang kecil mulailah mencongkel ring (lihat panah 1), ring tersebut hanya penahan supaya as pedal tetap presisi, mulailah mencongkel pelan-pelan sampai ring tersebut lepas

Setelah ring tersebut berhasil dikeluarkan, langkah berikutnya adalah membuka mur (lihat panah 2) menggunakan kunci sok nomor 8 sembari menahan as pedal diujung satunya lagi menggunakan kunci L nomor 6 atau kunci pas nomor 15, putar kunci sok berlawanan arah jarum jam untuk pedal yang berada di sisi non drive side, sedangkan untuk pedal yang berada di sisi drive side putar kunci sok searah jarum jam

Setelah mur berhasil kita lepas, keluarkan batang as pedal dari body pedal lalu bersihkan menggunakan degreaser dan lap, bersihkan juga bagian dalam body pedal


Cek kondisi batang as pedal apakah ada penyok atau retak, jika sudah retak atau penyok berarti sudah waktunya untuk mengganti (meng-upgrade) pedal tersebut


Langkah selanjutnya keluarkan bearing dari dalam body pedal, untuk mengeluarkannya cukup disodok menggunakan obeng atau kunci L

Seringkali kita salah kaprah dalam hal bearing ini, tidak jarang kita mendengar seseorang bertanya “ini pedalnya sudah bearing belum?”, ketika ia hendak membeli pedal, perlu kita luruskan dan sepakati bersama bahwa arti dari bearing itu sendiri adalah pelor atau bola-bola kecil, banyak juga yang menyebutnya gotri.

Semua pedal tentu saja menggunakan bearing atau pelor atau gotri untuk mekanisme putarnya, yang membedakan hanyalah kondisi peletakkan bearing tersebut didalam body pedal, apakah Loose bearing alias tanpa penutup (bola-bola bearing ditaruh dan disusun mengelingi bagian dalam as roda tanpa ada pelindung atau cup penutupnya) ataukah sealed bearing (bola-bola bearing disusun dalam sebuah ring dan dilindungi oleh cup sealer atau penutup untuk menjaga atau meminimalisir kotoran yang masuk), pada contoh kali ini saya menggunakan sealed bearing (lihat gambar 08)


Tentu saja baik pedal sealed bearing maupun pedal Loose bearing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing sesuai dengan kebutuhan penggunanya, berikut ini kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis pedal tersebut :

Loose bearing,
Kelebihannya :
- Mudah untuk dibuka dan diperbaiki jika terjadi kerusakan pada salah satu ball bearingnya, cukup mengganti bola bearing yang rusak tesebut tanpa harus mengganti semua semua bolanya
- Harga pedal naked bearing cenderung lebih murah

Kekurangannya :
- Body pedal cenderung ringkih (umumnya terbuat dari plastik kualitas murah)
- Kotoran mudah masuk dan mengganggu putaran bola bearing sehingga pedal seringkali seret atau putarannya tidak lancar


Sealed bearing,
Kelebihannya :
- Body pedal umumnya terbuat dari material berkualitas baik (magnesium)
- Ball bearing lebih awet karena terlindung dari kotoran

Kekurangannya :
- Harga pedal sealed bearing cenderung mahal
- Sulit untuk membuka cup tempat bearing jika salah satu ball bearing terindikasi mengalami kerusakan (lebih mudah untuk mengganti semuanya atau satu set cup bearing sekaligus daripada harus membongkarnya, cukup ukur diameter dalam dan luar dari cup sealed bearing kemudian cari yang sama persis di toko yang menjual berbagai bearing)

Setelah semua isi bagian dalam pedal tersebut dikeluarkan, di cek, dan dibersihkan, kini kita tinggal memasang satu persatu bagian tersebut secara kebalikan prosesnya, sebelum memasukkan jangan lupa untuk mengolesi grease baru pada setiap bagian-bagian tersebut, setelah selesai kencangkan semua mur dan baut, putar pedal dan rasakan perbedaannya dengan kondisi sebelum dibersihkan, kini pedal kalian pun telah siap untuk “disiksa” lagi dan tentunya kalian juga telah berhemat :)


Semoga bermanfaat






Tuesday, 15 December 2015

1 Year on a Bicycle; Traveling Around Indonesia


“Selamat menempuh hidup baru”, “Selamat ya pernikahannya semoga terus langgeng dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah”, dan berbagai ucapan selamat yang lainnya terus mengalir dari orang-orang yang hadir di pernikahan kami.

Pada bulan November yang lalu, tepatnya tanggal 22 November 2015 kami memang melangsungkan acara pernikahan (itu juga sebabnya mengapa di Bulan November tidak ada post baru di blog ini, dikarenakan kami sedang sibuk mengurusi acara pernikahan ini, halaahhhh alasan saja hehe…)


Bagi beberapa teman dekat maupun orang-orang yang sudah sangat mengenal kami tentu sudah mulai menebak kira-kira setelah kami menikah pasti akan ada rencana gila berikutnya. Bayangkan saja dua orang pendiri goweswisata akhirnya menikah, bersatu dalam sebuah ikatan suci, mereka sama-sama hobby traveling dan bersepeda, lalu kesimpulannya…:)


Bagi kami sendiri ucapan dan kata-kata “selamat menempuh hidup baru” ini merupakan sebuah titik balik untuk benar-benar memulai kehidupan yang baru, kehidupan yang kami inginkan, kehidupan yang berjalan sesuai dengan sistem yang kami terapkan, bukan sebuah kehidupan yang merupakan tuntutan dari orang-orang lain mengenai bagaimana kami seharusnya menjalani hidup menurut versi mereka.



Hingga akhirnya ide untuk bertualang dengan menggunakan sepeda selama satu tahun mengelilingi Indonesia ini pun mulai mencapai tahapan realisasi, Ya, petualangan goweswisata 1 year on a bicycle traveling around Indonesia ini pun akhirnya menjadi pembuka pintu kehidupan kami yang baru sekaligus juga menjadi satu langkah besar bagi blog goweswisata ini untuk semakin berkembang kedepannya.



Saya yakin banyak diantara para pembaca yang bertanya-tanya apa yang membuat kami yakin untuk memilih jalan hidup seperti ini (atau mungkin malah mempertanyakan kewarasan kami berdua hehe…), baiklah untuk mempermudahnya maka saya akan mencoba menjelaskannya melalui model tanya-jawab (Q dan A) berikut ini:

Q : “Sebelumnya Selamat ya untuk pernikahan kalian, oya saya ingin bertanya apakah ide petualangan bersepeda selama setahun ini merupakan ide dadakan atau memang sudah menjadi rencana kalian sejak lama? Kira-kira sejak kapan kalian merencanakan ide ini?”

A : “Terimakasih atas ucapannya, baiklah disini saya akan menjelaskan mengenai ide 1 year on a bicycle traveling around Indonesia ini bukanlah sebuah ide dadakan yang seketika timbul begitu saja, untuk kapan pastinya ide ini tercetus saya kurang ingat tetapi pastinya ide ini awalnya timbul dan semakin mengkristal semenjak kami mulai beralih aliran dari sepeda XC ke sepeda touring, terlebih sejak kami mulai mencoba kegiatan bikecamping. Sejak itulah kegiatan bersepeda kami yang pada awalnya hanya 1 day trip lambat laun mulai menjadi multi day trip, hingga pada akhirnya kami mulai berpikir dan merasa bahwa dengan bersepeda multi day trip ini kami jadi mempunyai kebebasan untuk bereksplorasi di suatu lokasi dengan tidak terburu-buru waktu karena dikejar dengan kewajiban harus pulang sebelum kemalaman layaknya jika kita melakukan agenda gowes 1 hari, rasa kebebasan ini jugalah yang membuat proses membuat tulisan di blog ini menjadi lebih mengalir (bahkan kini kami juga sudah mulai membuat video pendek dari setiap perjalanan) sekaligus juga membuat proses recovery tubuh menjadi lebih maksimal setelah sebelumnya menempuh perjalanan berat menuju lokasi.”


Q : “Bagaimana kalian merencanakan alokasi budget untuk perjalanan ini?”

A : “Faktor budget memang menjadi pertanyaan lumrah yang ditanyakan setiap orang yang mengetahui tujuan perjalanan ini, banyak orang berpikir bahwa untuk mulai touring atau traveling maka harus dipastikan dulu bahwa sebelumnya kita harus mempunyai fix budget sendiri, anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah tetapi bagi kami jika beranggapan seperti itu maka kegiatan touring atau traveling hanya dapat dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah berkecukupan secara materi saja, lalu bagaimana dengan orang-orang yang ingin traveling tetapi dananya pas-pasan? Ada beberapa orang yang kemudian mencoba berhitung detail anggarannya dan mengatakan “wow budget yang kalian butuhkan pasti besar sekali mengingat kalian melakukan perjalanan ini berdua, budgetnya pun otomatis menjadi dua kali lipat”, baiklah jika memang ingin berhitung coba bandingkan semua perkiraan pengeluaran traveling tersebut dengan pengeluaran orang-orang yang tidak melakukannya, dengan pengeluaran mereka yang hanya diam dirumah saja, pasti tidak berbeda jauh, untuk pengeluaran makan maka kita (traveler dan non traveler) sama-sama perlu makan bukan? Untuk beberapa lokasi dengan biaya hidup yang cukup tinggi maka kami pun sudah mempersiapkannya dengan membawa kompor dan cooking set sendiri sehingga nantinya kami hanya berbelanja bahan dasar di pasar traditional saja untuk kemudian dimasak sendiri (sama kan dengan yang non traveler), untuk kebutuhan hunian maka kami pun membawa tenda, dan dari pengalaman kami sebelumnya terkadang ada saja pertolongan dari Tuhan melalui “perpanjangan tangannya” yaitu pemilik rumah yang dengan ramahnya mempersilakan kami menetap atau beristirahat sementara, selain itu masih banyak tempat-tempat lainnya dimana kalian juga bisa beristirahat secara gratis seperti SPBU dan PMI. Untuk biaya penyeberangan atau transport pun karena kami menggunakan sepeda maka secara otomatis kami tidak menggunakan alokasi anggaran bahan bakar layaknya jika menggunakan kendaraan bermotor, anggaran BBM yang tidak kami perlukan tersebut bisa kami alihkan untuk biaya penyeberangan, pengalihan besaran anggaran pun bisa kami dapat dari anggaran bulanan rumah seperti iuran listrik, PDAM, dan telepon (karena saat melakukan kegiatan traveling kita tidak menggunakan semua anggaran tersebut bukan? Terlebih karena kami sebelumnya hanya mengontrak rumah). Jadi sebenarnya besaran anggaran kami pun sama saja dengan besaran anggaran aktivitas dan rutinitas non traveler, bedanya hanyalah setiap hari kami melihat pemandangan baru, itu saja hehe…

Petualangan-petualangan seru yang menanti untuk dijalani




Q : Iya juga ya, jadi dengan kata lain sebenarnya kegiatan seperti ini juga bisa dilakukan oleh semua orangkah?

A : Yup, benar sekali, itulah yang sebenarnya mau kita coba beritahukan ke publik bahwa jika hanya berpikiran untuk menunggu sampai budget cukup lalu mau sampai kapan kalian melakukannya? Karena setelah batasan “cukup” tersebut terpenuhi selalu ada batasan “cukup” yang kedua, ketiga, dan seterusnya, ingat bahwa seiring waktu budget kalian mungkin semakin bertambah lebih dari cukup tetapi stamina dan kemampuan fisik kalian pun juga semakin berkurang dan melemah, jadi kalau ditanya kapan waktu yang paling tepat untuk melakukannya ya saat ini juga, saat kalian masih punya banyak energi dan semangat.
Banyak orang yang beralasan tidak bisa bepergian karena faktor dana dan waktu (karena kesibukan pekerjaannya), tetapi bahkan hingga setelah semua faktor tersebut terpenuhi pun (dana cukup dan waktu senggang) tetap saja mereka tidak melakukannya dan sibuk mencari alasan-alasan lainnya, saya pikir itu hanyalah karena rasa takut mereka untuk keluar dari zona kenyamanan, takut keluar dari lingkungan yang sudah dikenalnya ke lingkungan baru yang masih asing, wajar saja tetapi jika sudah berlebihan maka hal tersebut justru akan membuat kita tidak berkembang.



Q : ngomong-ngomong soal rasa takut, ada tidak ketakutan dari kalian sebelum memulai perjalanan ini?

A : tentu, jujur saja kami pun sampai sekarang merasa takut, karena kami tidak mengetahui bagaimana kondisi rute, situasi dan medan yang akan kami jumpai kedepannya, tetapi kami tidak membiarkan rasa takut tersebut menghalangi kami untuk mencoba melakukannya akan tetapi rasa takut tersebut justru kami ubah menjadi semacam peringatan waspada untuk lebih mempersiapkan dan mengantisipasi segala kemungkinan terburuk, rasa takut tersebut justru dibutuhkan untuk membuat perencanaan kami menjadi semakin detail




Q : Faktor apa yang membuat keinginan kalian semakin kuat untuk memulai perjalanan ini?

A : Yang paling utama adalah faktor dari dalam diri kami sendiri yaitu kebebasan, jika kita membaca sejarah peradaban manusia dari dulu hingga saat ini, maka sejak jaman dahulu pun banyak orang yang rela membayar mahal untuk kebebasannya, bahkan rela mengorbankan dirinya dan seluruh hartanya hanya supaya jiwanya mendapat kebebasannya, saat ini pun sebenarnya sama saja, banyak orang yang dilahirkan, bersekolah, bekerja, membayar semua tagihan, dan meninggal, walaupun secara materi mereka berkecukupan lantas apakah hal tersebut membuat jiwa mereka bebas? Sepertinya tidak juga, karena saat ia merasa bebas maka ia tidak akan bekerja dalam tekanan stress, tidak akan mengambil hak orang lain (menandakan bahwa pikirannya terpenjara dengan tuntutan orang lain tentang bagaimana seharusnya ia tampil di kehidupannya), justru saat ia mendapat kebebasannya maka ia akan bekerja dengan penuh semangat, senyum akan selalu menghiasi raut wajahnya, bicaranya akan penuh dengan keyakinan, sorot matanya pun akan berbinar karena ada passion didalamnya, karena ia tahu bahwa tolak ukur kebahagiaannya adalah kebebasan dirinya untuk memilih. Mendengarkan kata-kata orang lain berupa nasehat, himbauan, peringatan, informasi, dan lainnya memang penting tetapi kita juga harus bisa menyaring yang positifnya dan tidak membiarkan yang negatifnya memenjarakan pikiran kita, setidaknya kita juga harus jujur dalam menyuarakan apa yang kita pilih dan ingin kita jalani




Q : lalu mengapa kalian memilih melakukan perjalanan ini dengan bersepeda? Mengapa tidak menggunakan moda transportasi lainnya seperti mobil atau motor?

A : kami memilih menggunakan sepeda karena setelah sekian lama kami menekuni aktivitas ini, bersepeda telah mengajar banyak hal kepada kami tentang kehidupan. Dengan bersepeda kami dapat melihat lebih detail apa saja yang ada di sepanjang perjalanan kami nantinya, dengan bersepeda kami juga dapat berinteraksi dengan orang-orang dan masyarakat yang kami jumpai, merasakan hembusan angin yang sama dengan mereka, mencium aroma pepohonan dan tanah, serta panasnya terik mentari sama dengan yang mereka rasakan, yang mana semua itu tidak kami dapatkan jika kami menggunakan mobil atau bus karena dibatasi oleh kaca jendela, dan detail perjalanan yang luput dikarenakan kecepatan kendaraan bermotor. Dengan bersepeda kami jadi lebih mengingat mana kontur jalan yang tanjakannya membuat kami kelelahan atau mana yang derajat turunan curamnya membuat kami takut, bersepeda juga mengembalikan kepercayaan diri kami terhadap kemampuan kodrati manusia, bagaimana kami mempercayai kemampuan kaki kami untuk terus mengayuh dan melangkah, kemampuan tangan kami untuk menggenggam, kemampuan pola pikir kami untuk berpikir cepat dan menentukan pilihan arah yang harus kami ambil, kemampuan untuk beradaptasi terhadap faktor kondisi jalan, cuaca, hingga manusia dan budayanya. Hal-hal seperti itulah yang membuat kami memilih menggunakan sepeda untuk perjalanan ini (tentunya juga karena lebih mudah membawa semua perlengkapan kami dengan sepeda jika dibandingkan dengan berjalan kaki)

Q : Apakah kalian menggunakan sepeda yang didesain secara khusus untuk perjalanan ini?

A : entahlah, kami pun tidak tahu secara pasti apakah sepeda-sepeda kami adalah sepeda yang diperuntukkan untuk touring, karena selama kami merasa nyaman menggunakannya maka hal tersebut sudah cukup. Kami hanya melakukan beberapa penyesuaian yang sekiranya cocok untuk melakukan perjalanan ini seperti menambah rak depan-belakang, selebihnya hanya penyesuaian biasa dan perawatan saja. Sepeda milik saya hanya seharga sekitar 130 ribu rupiah yang saya beli melalui sebuah situs jual beli sepeda bekas, sedangkan sepeda istri saya juga saya dapatkan melalui iklan disitus tersebut seharga 350 ribu rupiah, biaya tambahan hanya kami keluarkan untuk mengganti beberapa parts yang sudah rusak dan melakukan repaint cat



Q : Apakah perjalanan ini juga disponsori oleh pihak-pihak lain?

A : Alhamdulillah sejak kami mempublish rencana perjalanan ini ada beberapa pihak yang tertarik mensupport perjalanan dan petualangan ini, sebagian dari mereka memang sudah mensupport sejak awal blog ini dibuat, dan sebagian lagi karena mereka sudah membaca konsep awal blog goweswisata, karakter dan visinya, dan setelah melalui proses wawancara maka mereka pun setuju untuk mensupport perjalanan ini dengan menyediakan beberapa perlengkapan yang kami butuhkan dan berbagai sistem kerjasama lainnya, di kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka ( #sulepbiciclepanniers #GidasApparel #PindonOutdoor ) atas support dan kerjasamanya

Q : Bagaimana konsep cerita perjalanan ini nantinya?

A : Perjalanan ini nantinya tidak hanya bercerita soal bersepeda saja, karena bagi kami berdua, sepeda hanyalah salah satu bentuk transportasi yang kami pilih. Ada beberapa cerita mengenai sepeda namun itu tidak menjadi fokus satu-satunya, jika keadaan lokasi memang tidak memungkinkan untuk membawa sepeda kesana maka sepeda akan kami parkir dan titipkan untuk kemudian kami akan lanjut berjalan kaki mengeksplor lokasi tersebut (karena ditakutkan juga akan merusak keindahan alam tersebut jika memaksakan membawa sepeda hingga ke lokasi), yang akan menjadi fokus paling utama dari perjalanan ini adalah konsep bersyukur, motivasi yang mungkin kami dapatkan dari orang-orang biasa tetapi ternyata mempunyai kisah hidup inspiratif yang luar biasa, keunikan tempat-tempat yang dianggap biasa oleh masyarakat sekitar tetapi terasa luar biasa dimata pendatang, keragaman budaya, pengalaman yang semoga semakin mengasah sisi spiritual kami terhadap Sang Pencipta, menyebarkan kebaikan dan motivasi untuk berani menggapai impian besar bagi siapapun yang kelak kami temui terlepas dari kondisi ekonomi dan sosialnya, intinya ini adalah cerita tentang kehidupan semacam“The book of life”, yang semoga juga bisa menginspirasi kalian semua untuk berani memilih dan menjalani kehidupan, mewujudkan impian tersebut menjadi nyata, karena di dunia ini tidak ada yang tak mungkin. Mereka di luar sana yang mengatakan hal tersebut tidak mungkin dilakukan hanyalah menunjukkan keterbatasan dan ketakutan mereka sendiri, bukan keterbatasan kalian, maka dari itu yakinlah dan beranilah keluar untuk menghidupkan impian kalian



Q : Baiklah saya kini telah paham tentang konsep perjalanan 1 year on a bicycle traveling around Indonesia ini, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk menjawab rasa penasaran kami ya, sukses terus goweswisata semoga tetap konsisten menyebarkan kebaikan dan motivasi ke seluruh penjuru Negeri Tercinta Indonesia Raya ini ya

A : Sama-sama, terimakasih juga telah membantu menjabarkan konsep perjalanan ini melalui tanya jawab yang rinci, semoga jawaban-jawaban dari kami cukup jelas dan bermanfaat


Sampai jumpa di petualangan berikutnya, jangan sungkan menyapa kami ya jika kalian melihat kami berdua di perjalanan :)

Sunday, 25 October 2015

Embung Tambakboyo


(24/10/15) Diantara sekian banyaknya jumlah embung (waduk) yang ada di Yogyakarta, keberadaan Embung Tambakboyo malah belum pernah kami kunjungi, padahal jika dibandingkan dengan embung-embung yang lain, justru Embung Tambakboyo inilah yang jarak dan lokasinya terbilang paling dekat dari pusat Kota Jogja.




Sebenarnya nama Embung Tambakboyo ini sendiri sudah sering kami dengar secara selintas, namun dikarenakan beberapa hal dan padatnya kesibukan sehari-hari membuat kami belum sempat berkunjung ke tempat ini, hingga akhirnya pada Hari Sabtu kemarin kami berencana melakukan goweswisata menuju lokasi ini untuk melihat dan merasakan suasana yang ada di sekitar lokasi untuk kemudian merangkumnya menjadi sebuah tulisan yang diharapkan dapat membantu para pembaca semua dalam memilih alternatif destinasi wisata yang ada di Yogyakarta.

Kesan pertama begitu datang dan melihat Embung ini adalah…ternyata luas sekali (jauh lebih luas dari Embung Nglangeran)



Lokasi dari Embung Tambakboyo tepatnya berada di Dusun Tambakboyo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY, dengan koordinat 7°45'18"S dan 110°24'50"E. Embung ini membendung aliran sungai Tambakboyo dan Sungai Buntung, serta berfungsi untuk mengairi wilayah Sleman dan Bantul.

Peta menuju lokasi Embung Tambakboyo


Selain sebagai sarana pengairan dan cadangan air PDAM di masa mendatang, keberadaan embung ini juga dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan piknik bagi warga sekitar maupun masyarakat umum. Jika kita datang pada pagi atau sore hari maka banyak kita temui warga yang berekreasi dan berolahraga (bersepeda maupun jogging) di tempat ini dengan memanfaatkan jalan inspeksi yang mempunyai panjang sekitar 1.769m dengan lebar 6m di sekeliling embung, selain itu bagi beberapa orang yang mempunyai hobby memancing, embung ini juga menjadi tempat favorit bagi mereka, karena disini terdapat banyak jenis ikan seperti ikan nila, ikan wader, ikan lele, ikan bawal, hingga ikan gurameh. Bibit-bibit ikan tersebut memang sudah disediakan dan ditabur oleh Pemda setempat sejak awal proses pembangunan Embung ini dilangsungkan (sejak tahun 2003 sampai tahun 2008), oleh karena itulah Embung Tambakboyo yang mempunyai luas 7,8 Ha dan mampu menampung volume air hingga 400.000 má¶Ÿ kini seakan telah menjadi magnet bagi masyarakat untuk sekedar melepas rasa penat, jenuh, dan stress akibat tekanan dan rutinitas hariannya. Hal lain yang menjadikan tempat ini layak untuk dikunjungi adalah faktor budget yang terjangkau untuk semua kalangan, ya, disini kalian (para pengunjung) bisa masuk secara gratis, satu-satunya biaya yang perlu dikeluarkan hanyalah tarif retribusi parkir sebesar Rp 2.000,- untuk sepeda motor, murah bukan :)

Masyarakat yang memanfaatkan keberadaan Embung ini sebagai tempat berekreasi


Jalan inspeksi dari konblok yang juga dijadikan jalur berolahraga



Suasana di beberapa sudut embung yang masih hijau


Pemandangan Embung Tambakboyo dilihat dari atas ketinggian





Bagi pengunjung luar Jogja yang kebetulan mampir dan ingin menghabiskan waktunya beberapa hari menginap di sekitar lokasi ini pun tidak perlu kuatir, karena di sekitar lokasi embung ini terdapat banyak penginapan, baik berupa homestay, guest house, maupun kost ekslusif yang bisa disewa harian hingga bulanan. Untuk urusan makanan dan jajanan pun disekitar embung kini telah terdapat beberapa warung dan tempat makan, sehingga tidak perlu kuatir dengan urusan perut…:) , mungkin beberapa hal penting yang perlu untuk diperhatikan jika kalian ingin berekreasi ke lokasi ini dengan membawa sanak saudara adalah untuk selalu menjaga aktivitas dari anak-anak yang masih kecil, karena dengan kedalaman embung yang sekitar 7m maka peran dan pengawasan orangtua terhadap keselamatan buah hatinya menjadi faktor yang paling utama sehingga kegiatan piknik tersebut bisa berlangsung dengan aman dan menyenangkan, dan satu lagi, tetap jaga kebersihan lingkungan sekitarnya ya, jangan membuang sampah sembarangan :)

Pintu air Embung Tambakboyo