Tuesday, 8 August 2017

CHAPTER 11; HARTA YANG PALING BERHARGA ADALAH KELUARGA


Ketika pertama kali mendengar kata “keluarga” hal yang pertama kali terpikirkan oleh kalian pastilah sebuah keluarga inti yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak. Hal tersebut tidaklah salah, secara pengertian harfiah maupun yuridis memang sebuah keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah dan lazimnya memang seperti itu.

Namun bagaimana dengan mereka yang sejak lahir telah ditinggal oleh sosok atau figur orang tua ataupun anak? Apakah hal tersebut lantas menjadikan dan membenarkan pandangan bahwa mereka tidak memiliki keluarga yang utuh? Apakah keluarga atau orang lain yang membesarkan, mencurahkan perhatian, dan menyayangi orang-orang seperti itu lantas sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi keluarga yang sebenarnya?

Jika memang pengertian keluarga hanya dibatasi oleh hal sesempit itu yaitu hanya mereka yang mempunyai hubungan darah langsung lantas bagaimana dengan kasus yang akhir-akhir ini marak terjadi dimana ada sosok Ayah yang memperkosa putrinya sendiri, seorang anak yang membunuh Ibunya, Ibu yang menjual anak gadisnya kepada lelaki hidung belang, perkelahian antar saudara kandung yang berujung kepada kematian salah satunya, apakah mereka salah jika pada akhirnya mereka pun merasa sudah tidak memiliki keluarga lagi, apakah istilah “keluarga” pada akhirnya hanya dibatasi oleh pandangan sesempit itu?

Hal ini pada akhirnya membawa pemikiran dan cara pandang baru bagi saya bahwa bagaimanapun juga istilah “keluarga” seharusnya lebih ditekankan oleh adanya rasa aman, nyaman, dan kedekatan secara emosional kepada seseorang, sebuah perasaan dimana kita merasa diterima, dihargai, disayangi, dan terlindungi jika kita ada didalamnya. Karena tanpa adanya kedekatan rasa emosional tersebut maka sebuah keluarga yang terbangun pada akhirnya seakan menjadi sebuah formalitas belaka, menjadi tameng atau etalase terhadap pandangan lingkungan sosial yang mengatakan bahwa sebuah keluarga yang lengkap adalah yang seperti itu.

Tanpa adanya kedekatan faktor emosional tersebut maka antar anggota keluarga seakan-akan hidup dalam dunianya masing-masing, tidak ada komunikasi yang terjalin diantara penghuninya, dan pada akhirnya rumah yang seharusnya menjadi wadah interaksi yang hangat bagi para penghuni didalamnya lambat laun menjadi sebuah rumah kosong tanpa jiwa, menjadi rumah “yang dingin” karena tidak dapat membuat penghuni didalamnya merasa betah apalagi nyaman.

Sudah bukan hal yang aneh lagi jika saat ini kita sering melihat ada sebuah “keluarga” yang utuh, terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak, namun masing-masing dari mereka seakan hidup dalam dunianya sendiri, tidak saling mengenal antar mereka, dan memaksakan bertahan hanya karena tuntutan sosial bahwa perceraian atau hidup sendiri adalah sebuah aib, secara fisik “keluarga” seperti itu memang terlihat layaknya sebuah keluarga normal yang lengkap dengan para anggota keluarganya, namun jika memang seperti itu maka hal tersebut tak ubahnya dengan individu yang hidup sendiri-sendiri namun terpaksa bernaung dalam sebuah wadah yang sama. Jika ada salah satu anggotanya yang terkena masalah maka anggota keluarga yang lain tidak akan melindunginya, justru sebaliknya ia akan bertindak menyalahkannya, bertahan dengan pemikiran bahwa “ia yang salah, saya yang benar” atau “itu deritanya dia, bukan masalah saya”, padahal jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena masalah maka seyogyanya hal tersebut menjadi cerminan bagi anggota keluarga yang lainnya mengapa hal tersebut bisa terjadi dalam keluarga? apa yang salah? dan bagaimana cara memperbaikinya?.

Memang dalam kehidupan sebenarnya tidak ada contoh keluarga yang sempurna tanpa permasalahan layaknya yang tertulis secara teori, dan kita pastinya juga sering membandingkan antara sistem yang ada di keluarga kita dengan sistem keluarga lainnya yang kita temui, masing-masing pasti ada poin plus dan minusnya, dan hal terberat adalah mengakui bahwa ada kekurangan dalam sistem keluarga yang kita bangun sendiri, namun justru dengan cara mengakui bahwa sistem keluarga yang kita terapkan belumlah sempurna maka kita akan menjadi lebih mudah untuk belajar menerima hal-hal lain yang positif dari sistem yang telah diterapkan oleh orang lainnya sehingga kedepannya kita dapat terus memperbaiki sistem yang akan kita terapkan dalam kehidupan keluarga kita sendiri sampai pada akhirnya menjadi sebuah karakter dan identitas dari keluarga kita.

Hal tersebut kini kami dapatkan setelah kami memutuskan untuk memulai petualangan ini, saat ketika pada akhirnya kami mulai berada jauh dari keluarga inti masing-masing, ke tempat dimana kami pun baru pertama kali kesana tanpa teman ataupun saudara yang kami kenal sebelumnya, saat ketika kini kami berdua mulai belajar membangun karakter dan sistem seperti apa yang kedepannya akan kami terapkan dalam kehidupan keluarga kami sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak-pihak lain ataupun rasa takut terhadap bagaimana lingkungan sosial nantinya memandang keluarga kami, karena kami bertujuan bahwa keluarga yang kami bangun ini bukanlah sekedar menjadi etalase yang menampilkan apa yang orang lain ingin lihat, melainkan karena kami ingin membangun keluarga ini untuk mencari ketenangan hidup dan saling melengkapi antar sesama anggotanya, dan kami telah belajar banyak hal dari apa yang telah kami temui selama perjalanan ini, tentang bagaimana kami merespek orang lain, tentang bagaimana kami tidak menilai orang lain hanya dari apa yang terlihat, tentang bagaimana kami belajar mempercayai orang lain dan menerima kepercayaan, tentang petuah-petuah dan nilai kehidupan dari siapapun yang kami temui tanpa memandang faktor gender, usia, status sosial ekonomi, dan lainnya, karena pelajaran tersebut bisa kita dapatkan dari mana saja dan dari siapa saja, terlebih dalam perjalanan ini kami hanya memiliki apa yang saat ini bisa kami bawa dan benar-benar butuhkan saja, kami telah berusaha melepaskan diri dari apa yang orang lain menginginkan kami untuk lakukan, karena saat ini kami memilih menjalani hidup untuk diri kami, dan jujur saja sekarang kami menyukainya dan lebih menikmatinya

“Harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara yang paling indah adalah keluarga”, sepenggal potongan lirik dari serial televisi keluarga cemara tersebut seakan membenarkan jika keluarga adalah hal terpenting dalam hidup (selain kenangan tentunya), karena pada akhirnya saat senja sudah menjelang tentunya kita berharap akan berakhir ditengah-tengah keluarga yang hangat, yang masing-masing terikat secara emosional, walaupun mungkin bagi beberapa orang yang sudah tidak memiliki keluarga secara hubungan darah lagi namun tentunya ia pastinya juga akan berharap bisa berakhir di tengah-tengah keluarga barunya yang ia pilih yang dapat menentramkan hatinya.

Sedangkan uang merupakan hal penting lainnya saat ini, dan banyak orang yang rela berbuat apa saja dengan segala cara (halal dan haram) bahkan kerja mati-matian dan mengorbankan kesehatannya hingga keluarganya hanya untuk mencari uang, namun saat kesehatannya direnggut maka mau tidak mau, suka tidak suka ia akan mengorbankan kembali seluruh uangnya untuk mendapatkan kesembuhannya padahal disaat yang sama ia pun juga sudah kehilangan waktu dalam hidupnya yang seharusnya untuk keluarga, sudah tak terhitung banyaknya jumlah keluarga yang hancur hanya karena salah satu anggotanya terobsesi dengan uang untuk mendapatkan prestise dan kekuasaan dilingkungan sosialnya, tapi perlu diingat bahwa ia mendewakan uangnya karena ia masih hidup untuk dipandang oleh orang lain, tapi jauh didalam hati dan pikirannya ia tetap merasa tidak tenang karena masih bingung apa tujuan hidupnya, apa yang ia cari sebenarnya dalam hidup dan kenapa ia masih merasa tidak menikmati hidupnya, ia takut pandangan masyarakat akan buruk kepadanya saat ia kehilangan semua hartanya, ia takut orang akan menjauh hanya karena ia tampil tidak sesuai dengan harapan lingkungan sosialnya, padahal uang bersifat netral, ia dapat menjadi hal yang baik jika digunakan untuk kebaikan (membantu orang, mendonasikan untuk menjaga alam sekitar, dan lainnya), dan uang juga bisa menjadi hal yang buruk bagi mereka yang serakah (kriminalitas, mengambil hak orang lain, dan lainnya), oleh karena itu bagi kami berdua kami pun selalu berusaha saling mengingatkan bahwa ya uang memang penting tapi mari kita jadikan ia tidak sepenting itu jika harus mengorbankan nilai hidup, masih ada hal-hal lain yang tidak dapat ditukar dengan uang berapapun nilainya (uang bisa membeli obat-obatan dan perawatan medis terbaik namun tetap saja ia tidak bisa membeli kesembuhan dan menghindari kematian)

Dan kini lucunya serta jujur saja pada akhirnya kami sudah tidak malu atau gengsi lagi untuk mengakui bahwa keluarga inti kami masing-masing sebelumnya bukanlah yang terbaik, orangtua kami bukanlah orangtua yang sempurna atau terunggul jika dibandingkan dengan orangtua atau keluarga lainnya, dan di Situbondo ini justru kami malah merasa nyaman berinteraksi dengan saudara-saudara jauh yang dahulu hanya saya temui saat saya masih kecil (biasanya saat mudik saja), mereka semua menerima siapa kami apa adanya tanpa embel-embel karena faktor orangtua kami, mereka telah menganggap sekarang kami adalah unit keluarga sendiri yang independen sehingga apa pun yang kami lakukan sekarang semata-mata adalah karena karakter kami memang seperti itu, saya pun juga tidak mau terlalu terlibat terhadap apa yang mungkin menjadi friksi diantara kedua orangtua kami dahulu tapi yang pasti disini saya hanya menegaskan bahwa hubungan diantara kita semua yang satu generasi ini semuanya baik-baik saja, masalah antar orangtua jangan sampai merusak hubungan antar sesama generasi berikutnya, mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan, mungkin benar juga bahwa terkadang masalah sebenarnya itu tidaklah terlalu rumit hanya saja pikiran kita bertahan bahwa itu adalah masalah yang rumit, sehingga pada akhirnya semua kerumitan itu hanya disebabkan oleh praduga kita sendiri (yang orang lain pun tidak memikirkannya)

Selama kami berada di Kota Situbondo ini (sekitar 6 hari) sambil menunggu momen pergantian tahun, kami cukup menikmati suasana kota ini, dengan karakter layaknya kota perlintasan (karena umumnya orang hanya melintas saja di kota ini saat mereka hendak ke Banyuwangi sebelum menyeberang ke Pulau Bali) suasana dan aktivitas masyarakat di kota ini tidak terlalu ramai, dengan ruas jalan dan jalur pedestrian yang lebar dan tertata rapih kota ini sebenarnya cukup nyaman untuk dijelajahi hanya dengan berjalan kaki saja, namun karena orang Indonesia sudah terkenal sebagai Negara dengan penduduk termalas untuk berjalan kaki maka kami pun jarang melihat ada warga lokal yang berjalan kaki atau bersepeda, bahkan untuk jarak dekat dibawah 1 km pun banyak masyarakat yang menggunakan motor.



Dan untungnya karena dari dulu kami memang sudah suka berjalan kaki maka disinipun bagi kami berjalan kaki 5km bukanlah suatu masalah, justru dengan berjalan kaki seperti ini kami jadi tahu banyak tempat-tempat jajanan yang murah dan enak hehe… antara lain seperti ada toko roti yang menjual roti-roti fresh from the oven dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1.500,- sampai Rp 10.000,-, kemudian harga segelas es tebu murni yang tergolong murah yaitu 2ribu rupiah per gelasnya, hingga adanya fasilitas wifi gratis di alun-alun kota. Mungkin kelemahan di kota ini bagi penggemar film adalah tidak adanya gedung bioskop (tapi sepertinya sekarang hal tersebut bukanlah masalah karena kalian hanya tinggal ke warnet saja untuk men-download film-film box office terbaru), selebihnya aktivitas perekonomian dan prasarana di kota ini tergolong cukup lengkap (bank, swalayan, terminal, pasar, rumah sakit, toko komputer dan elektronik, sekolah, kantor polisi yang cukup besar, pusat kuliner, alun-alun kota, kantor pos, dan lainnya).


Untuk fasilitas rekreasi umumnya masyarakat lokal sini bepergian ke obyek wisata Pantai Pasir Putih dan Pantai-pantai lainnya, selebihnya bagi mereka yang punya banyak waktu akan sekalian berlibur ke Banyuwangi, Jember, atau Pulau Bali. Sebenarnya mungkin 2 hari pun sudah cukup untuk sekedar berkeliling menikmati suasana kota ini, kami pun hanya dalam waktu singkat sudah mulai memahami orientasi kota dan seluk-beluk jalan potongnya, oleh karena itu sebagian besar waktu juga kami manfaatkan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudara lainnya yang berada di kota ini (kurang lebih ada 3 rumah saudara yang saya tahu yang ada di Kota Situbondo ini), dimana hampir semuanya tidak percaya dan kaget begitu tahu bagaimana kita bisa sampai ke Kota ini yaitu dengan bersepeda dari Yogyakarta, tapi begitu kita jelaskan bahwa walaupun terlihat jauh tapi toh tidak dalam semalam kita habiskan hanya untuk mengayuh non-stop melainkan ada waktu jeda beristirahat dan stay di beberapa tempat, namun walau “sepertinya mulai paham”, tapi mereka tetap bertanya bagaimana sampai terpikir ide untuk bersepeda dari Yogyakarta hingga sampai ke Situbondo ini dan seterusnya mau kemana lagi, dan setelah kami ceritakan semuanya mulai dari alasan kami melakukan petualangan ini sampai apa tujuan yang kami cari barulah mereka semua mengerti (kayanya)



Momen pergantian malam tahun baru pun kami habiskan dengan menikmati suasana alun-alun kota di malam hari sambil berkeliling ke pusat kuliner, melihat bagaimana antusiasme warga menikmati detik-detik menjelang pergantian tahun, serta kemeriahan panggung-panggung hiburan yang tersebar di beberapa titik di pusat kota.


Tentu saja malam tahun baru dari 2015 ke tahun 2016 ini akan menjadi momen pergantian tahun yang tak akan terlupakan bagi kami berdua, selain karena kami sedang bertualang tentunya karena di penghujung tahun ini kami mendapatkan banyak pelajaran, kenangan, dan tentu saja bertemu orang-orang yang kini sudah menjadi bagian dari keluarga kami, terimakasih untuk semua orang yang tanpa sadar telah mengajari kami sehingga kami dapat memetik hikmah pelajaran kehidupan dan terimakasih telah berbuat baik dan menerima kami menjadi bagian dari keluarga kalian semua, semoga suatu saat kita dapat bersua kembali, walaupun mungkin momen seperti ini tidak dapat terulang lagi namun setidaknya kalian semua telah menjadi bagian dari kenangan indah kami dalam hidup ini, selamat tahun baru dan selamat memulai lembaran cerita petualangan baru dalam hidup kalian, make sure it’ll be your best life stories ever

“Janganlah engkau royal menghamburkan uang untuk mendapatkan pujian dari orang lain, tapi berlaku kikir kepada keluargamu. Semua pujian diluar sana tidak lebih bernilai daripada kegembiraan sederhana di dalam keluargamu”

Saturday, 5 August 2017

CHAPTER 10; YOU CAN GO FASTER BUT WE CAN GO EVERYWHERE

Sabtu, 26 Desember 2015

Setelah pada malam harinya kami berbagi ruang dengan rombongan hiker dan berbincang-bincang dengan mereka, pada saat itu kami semua merasa nyaman karena bagaimanapun juga walau cara kami semua bertualang berbeda-beda namun tujuan kami semua sebenarnya sama yaitu menikmati hidup dan menciptakan kenangan. Salah satu dari mereka kebetulan juga seorang wanita, ia kemudian bertanya kepada Agit apa tidak berat bersepeda sambil membawa perlengkapan sebanyak itu, ia mengatakan sepertinya jika ia yang bersepeda pasti tidak bakal bisa maju karena sepertinya kok berat banget, jawaban yang sama juga dilontarkan oleh Agit ketika ia melihat tas carrier yang dibawa oleh wanita tersebut, dengan tas carrier sebesar dan sepenuh itu sepertinya kok terasa berat banget untuk dipanggul diatas pundak kemudian berjalan kaki, “wah enggak deh kalau saya harus berjalan sambil memanggul tas sebesar itu, yang ada tambah mini saya”, ujar Agit, yah semua memang pasti akan terasa berat dan sulit untuk dilakukan jika tidak sesuai dengan bidang atau pilihan kita masing-masing.

Sekitar pukul 07.00 WIB kami semua telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan masing-masing, para hiker tersebut telah menyewa sebuah pick up untuk menuju ke Gunung Argopuro, sedangkan kami tetap setia dengan transportasi andalan kami yaitu sepeda, sebelum berpisah kami pun tidak lupa berfoto bersama sebagai kenangan bagian dari perjalanan ini, salah seorang dari mereka bahkan memberi kami Buff sebagai hadiah


Dari Besuki menuju Situbondo suasana jalan cukup lengang, cuaca juga terlihat cerah, dengan kontur jalan yang cenderung datar kami pun cukup menikmati perjalanan ini hingga akhirnya ketika kami melihat semacam dermaga di pinggiran pantai, kami pun memutuskan berhenti sejenak untuk mengambil beberapa dokumentasi sekaligus beristirahat, toh dalam perjalanan ini kami tidak diburu target waktu maupun tujuan, karena seperti yang sudah pernah saya tulis pada chapter sebelumnya, disinilah kami benar-benar harus belajar untuk melepas ego dan mulai menikmati perjalanan ini




Tampak perahu-perahu nelayan yang sedang berlabuh


Ketika sedang asyik berkeliling mencari spot yang menarik untuk didokumentasikan saya melihat kerumunan kepiting-kepiting kecil yang ada di dekat dermaga, awalnya memang terlihat lucu, namun menjadi tidak lucu ketika sedang asyiknya mendekati mereka untuk difoto eh tiba-tiba dari dalam pasir ternyata bermunculanlah kepiting-kepiting kecil yang lain dalam jumlah besar dan mereka semua jadi mengejar hadeewww :p


Setelah puas berkeliling dan mengambil beberapa foto serta video kami pun mulai melanjutkan perjalanan lagi, kali ini rute kami persis mengikuti pinggiran garis pantai sampai kemudian akhirnya kami pun tiba di sebuah lokasi obyek wisata pantai yang cukup terkenal di Situbondo yaitu Pantai Pasir Putih, sambil mengayuh mata saya pun celingukan melihat daftar tarif masuk yang ada di depan loket masuk obyek wisata ini, wah harganya cukup mahal euy (bagi saya), saya lupa persisnya berapa tapi menurut analisa saya sepertinya tidak mungkin garis pantai sepanjang ini semuanya dipagar, pasti ada beberapa titik yang bebas tanpa pagar sehingga memungkinkan kita untuk bisa menikmati suasana Pantai Pasir Putih ini secara gratis (sebuah kata yang terdengar merdu di telinga saya hehe…), dan benar saja tidak berapa lama kemudian saya melihat sebuah spot yang memungkinkan untuk bisa menikmati pantai secara gratis, spot tersebut hanya dibatasi oleh pembatas jalan saja antara jalan raya dengan pinggiran pantai (mungkin agak susah untuk parkir atau berhenti jika kalian membawa kendaraan bermotor roda empat, tapi karena kendaraan kami hanyalah sepeda maka kami pun bisa bebas untuk berhenti dimana saja)

Dengan kendaraan bermotor You can go faster but by bicycle we can go everywhere


Hanya cukup melompati pembatas jalan saja kini kami pun sudah turun ke pinggiran Pantai Pasir Putih, dari titik ini pun sebenarnya jika kalian mau maka kalian hanya tinggal berjalan kaki saja untuk bisa masuk ke tempat yang sama dengan mereka yang masuk ke obyek wisata Pantai Pasir Putih ini melalui pintu loket tadi (tidak ada pagar pembatasnya)

Tuh buktinya, kami berada satu tempat dengan pengunjung obyek wisata ini, tapi kami masuk secara gratis :)


Hanya saja kalian harus berjalan kaki dari titik ini menuju ke titik yang ramai tersebut (dekat kok)



Justru dari titik awal tempat kami masuk tadi suasananya malah lebih sepi (cocok untuk berfoto)


Puas bermain-main air di lokasi obyek wisata Pantai Pasir Putih ini kini saatnya kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang rute ini sebenarnya pemandangannya cukup menarik untuk didokumentasikan (cukup instagramable lah) apalagi suasana jalanan juga tidak terlalu ramai (tapi kalau kalian menggunakan kendaraan bermotor pasti kalian akan melewatkan banyak detail pemandangan menarik yang ada di sepanjang rute ini karena kalian melewatinya terlalu cepat)



Salah satunya seperti spot yang ada berikut ini, karena jalan masuknya kecil pasti kalian tidak menyadarinya




Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Situbondo, di kota ini kebetulan saya mempunyai banyak saudara jauh, sehingga pada perjalanan kali ini kami pun berencana untuk sekalian sowan alias berkunjung ke rumah saudara-saudara yang lainnya untuk menjalin dan menjaga tali silaturahmi.

Pada chapter berikutnya kami akan membahas apa saja yang terjadi dan kami alami selama berada di Kota Situbondo ini karena kami berencana untuk stay sedikit lebih lama disini dengan pertimbangan karena sebentar lagi Tahun baru dan biasanya jalur penyeberangan ke Pulau Bali akan penuh serta harga-harga penginapan pasti naik maka lebih baik kami merayakan Tahun Baru di kota ini bersama dengan saudara-saudara jauh yang sudah lama tidak saya kunjungi, maka dari itu tetap ikuti terus keseruan kisah perjalanan goweswisata ini ya

Pengeluaran hari ini :
- Teh Javana = Rp 3.000,-
- Jajan = Rp 3.000,-
- Teh Botol = Rp 4.800,-
- 2 gelas es tebu = Rp 5.000,-
- 2 porsi mie ayam + 1 gelas es teh + 1 gelas es jeruk = Rp 14.000,-
- Swalayan = Rp 15.625,-
- SD card = 53.000,-
- Indomart = Rp 31.200,-
Total = Rp 129.625,-

Total jarak tempuh hari ini : 45 km

Saturday, 29 July 2017

BAGAIMANA MEMBANGUN SEPEDA TOURING DENGAN BUDGET TERBATAS


Melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda tentu terdengar seru dan mengasyikkan, namun apa memang benar seperti itu realitanya? Seringkali kita mendengar seseorang yang mengeluh saat touring dikarenakan seluruh badannya terasa pegal serta mengalami kram dibagian tubuh tertentu setelah ia bersepeda dengan durasi yang cukup lama. 

Ketika melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh tentunya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu diatas sepeda, oleh karena itu faktor kenyamanan yang terkait dengan lamanya durasi saat kita bersepeda menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan dengan cermat supaya perjalanan kita nantinya menjadi menyenangkan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan atau rasa trauma secara psikologis.

Lantas sepeda seperti apa yang paling cocok untuk kita? Pertanyaan seperti ini tidak hanya berlaku untuk sepeda touring saja, melainkan juga untuk semua jenis sepeda tergantung minat dan jenis aliran bersepeda yang kita sukai, baik itu touring, commuting, XC, downhill, AM, lowrider, gravel, folding bike, roadbike dan lainnya.

Tidak jarang kita melihat banyak pesepeda yang pada akhirnya membeli atau merakit sebuah sepeda tidak didasarkan kepada kebutuhannya, melainkan lebih banyak karena terpengaruh kata teman, trend, prestise, dan gaya. Yang mana pada akhirnya sepeda yang mereka bangun menjadi overbudget, terlihat bagus secara penampilan namun fungsinya tidak digunakan secara maksimal. Alih-alih menghabiskan dana hanya untuk mengejar tampilan, saya justru lebih menyarankan kepada mereka yang baru memulai atau ingin merakit sebuah sepeda untuk menggunakan anggarannya secara cermat sehingga sisa dana yang ada bisa digunakan untuk melengkapi faktor keamanan si pesepeda ataupun bisa digunakan sebagai tambahan dana selama melakukan perjalanan bersepeda itu nantinya.

Kebutuhan VS Keinginan

Merk-merk terkenal yang sering kita lihat menempel di sebuah sepeda touring seperti Surly, Bike Friday, Salsa, Koga, Velotraum, Comotion, Dahon, Tern ataupun pada perlengkapan pendukungnya seperti Ortlieb, Vaude, Arkel, Tubus, Schwalbe, Brooks memang merupakan produk-produk yang bagus dan telah teruji ketangguhannya, namun balik lagi kepada faktor kenyamanan pengguna yang sejauh ini mayoritas masih bersifat subjektif karena kenyamanan si pengguna A tentunya akan berbeda dengan kenyamanan pengguna B, maka disinilah kita benar-benar harus bisa meredam ego saat hendak membangun ataupun membeli sebuah sepeda touring dan perlengkapan pendukungnya, pada kasus ini kita harus benar-benar bertanya kepada diri sendiri apakah kita memang benar-benar “membutuhkan” merk-merk tersebut yang tentu saja telah teruji namun bernilai mahal secara materi ataukah hanya semata-mata karena kita “menginginkan” nilai prestise dari merk atau brand tersebut, apakah kebutuhan kita memang memerlukan ketangguhan dari brand tersebut (rute perjalanan, destinasi, durasi, iklim) ataukah sebenarnya hanya karena kita ingin sepeda yang kita bangun nantinya “terlihat layaknya sebuah sepeda touring pada umumnya”, ini akan sama halnya ketika kita memutuskan menggunakan atau membeli sebuah tenda 4 musim hanya sekedar untuk camping ceria di pinggir pantai selama 1 hari supaya saat difoto nantinya kita akan terkesan layaknya seorang petualang.

Memang semua keputusan tersebut akan berpulang kepada si pesepeda itu sendiri, karena di dunia ini memang ada beberapa orang yang memiliki budget tak terbatas dalam membangun sebuah sepeda dan ia memang membangun sepeda tersebut hanya karena nilai prestisenya saja (mungkin juga karena ia adalah seorang kolektor), yang mana hal tersebut secara tidak langsung akan mengangkat status sosialnya dalam sebuah komunitas, hal tersebut memang tidak salah dan sah-sah saja, namun ada juga orang yang memaksakan budget yang dimilikinya hanya karena faktor trend dan sebatas karena rasa “ingin” saja, yang pada akhirnya ketika sepeda tersebut sudah jadi dan di tes, ia merasa kurang nyaman saat menggunakannya namun karena sugesti “kata teman saya merk tersebut adalah yang terbaik”, maka ia akan memaksakan dirinya untuk tetap memakai atau berada dalam ketidaknyamanan tersebut sembari berpikir “mungkin memang begini ya rasanya menggunakan merk tersebut”, tidak nyaman tetapi terlihat keren di lingkungannya

Menggunakan sebuah produk dari brand terkenal yang telah teruji memang akan meminimalkan masalah selama dalam perjalanan nantinya, namun bukan berarti semua produk tersebut akan benar-benar bebas dari masalah, begitu pula sebaliknya ketika menggunakan produk dari brand-brand kelas menengah, beberapa dari produk tersebut nyatanya juga cukup tangguh selama pengujian di lapangan, ditambah lagi dengan adanya bonus berupa penghematan anggaran yang bisa kita gunakan selama perjalanan nantinya.

Banyak dari kita yang mungkin tersugesti untuk menggunakan brand yang sama dengan orang-orang tertentu yang sering kita lihat fotonya muncul dibeberapa majalah, forum diskusi, dan televisi. Karena ia telah melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh, kita merasa “oh mungkin inilah sepeda yang terbaik dan harganya juga tidak terlalu mahal”, bahkan mungkin karena terlalu mengidolakannya kita juga akan membangun sepeda touring kita nantinya dengan menggunakan brand dan tipe yang sama, warna cat yang sama, spek yang sama, bahkan semua tempelan stikernya juga akan diusahakan semirip mungkin (mungkin jika sang idola tersebut melihat sepeda-sepeda yang mirip dengan sepedanya tersebut ia juga akan bingung mencari yang mana sepeda miliknya yang asli), namun apakah hanya dengan menggunakan sepeda yang sama persis dengan sepeda idola kita maka serta merta menjadikan kita mempunyai cerita petualangan yang sama dengan orang tersebut? Tentu saja tidak karena walaupun kita menempuh perjalanan dengan rute yang sama atau bahkan menempuh perjalanan bersamanya tetap saja kita akan mempunyai cerita yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda, nilai cerita yang berbeda, dan cerita yang terbaik adalah cerita yang dihasilkan oleh mereka yang menikmati perjalanannya karena keinginan dirinya untuk menjelajah, bukan cerita yang dihasilkan oleh mereka yang berusaha menjadikan dirinya mirip dengan si penjelajah idolanya selama di perjalanan.

Jika kita mau bersabar dan jeli maka saat ini kita bisa mulai menyusun daftar kebutuhan dalam proyek membangun sebuah sepeda touring supaya nantinya alokasi anggaran yang dibutuhkan tidak terlalu membengkak hanya karena kita “lapar mata” saat hendak membeli beberapa parts, dengan berpegang kepada list yang kita buat ini maka kita akan bisa mengerem keinginan kita dan mulai memprioritaskan apa yang paling penting dan dibutuhkan nantinya. Berikut ini saya akan mulai merinci dan menjelaskan poin-poin plus dan minusnya dari beberapa parts dengan mengambil contoh dari sepeda yang kemarin saya rakit sendiri dan telah digunakan untuk bersepeda jarak “yang tidak terlalu” jauh :)

Basic frame yang saya gunakan untuk sepeda ini awalnya saya kurang tahu apa merknya (belakangan barulah saya ketahui bahwa ini adalah frame sepeda Dignity velocity buatan Taiwan), mungkin merk ini bukanlah merk terkenal dan familiar bagi para pelaku aktivitas touring bersepeda karena frame ini notabene adalah sebuah vintage bike , namun biarlah setidaknya justru hal tersebut menjadikan sepeda ini “anti mainstream” dengan yang lainnya.

Frame Dignity dengan nomor seri 94UC6722 (nomor seri terletak di bagian bawah tempat bottom bracket) ini saya dapatkan seharga 135 ribu rupiah (frame, fork, seatpost) melalui sebuah iklan yang terpasang di situs jual beli online, pada awalnya kondisinya terlihat mengenaskan dengan warna orange dari cat semprot murahan serta ditutupi decal stiker merk sepeda lain, namun satu hal yang menjadikan frame ini terlihat bernilai di mata saya adalah karena frame sizenya yang pas dengan postur tubuh saya, selain itu frame ini mempunyai lug atau sambungan yang berada di bagian headtube, serta antara seat tube dengan top tubenya, hal ini cukup menegaskan bahwa setidaknya frame ini bukanlah frame asal-asalan, dan masih ditambah lagi dengan adanya RD hanger yang terletak di bagian drop outnya, ternyata prediksi saya tidaklah salah ketika memilih frame ini karena saat saya mulai mengerok catnya ternyata material tubing yang digunakan adalah chromoly yang notabene banyak digunakan sebagai bahan dasar tubing pada sepeda-sepeda touring merk terkenal, kesimpulannya adalah saya mendapatkan harta karun sebagai “jembatan” untuk mulai mewujudkan impian saya menjelajah bumi nusantara ini





Setelah urusan frame selesai, maka hal terpenting berikutnya saat membangun sebuah sepeda touring adalah menentukan jenis rak seperti apa yang nantinya akan digunakan untuk meletakkan pannier-pannier.

Rak haruslah terbuat dari material yang kuat namun tidak terlalu berat, dimensi dan desainnya pun harus tepat supaya saat menggantungkan pannier nantinya pannier tidak mudah terlepas atau bergesekan dengan roda atau tumit kaki. Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka pilihan pun jatuh ke rak bekas citybike untuk digunakan sebagai rak belakang (karena untuk menahan beban manusia hingga lebih dari 50kg saja sudah terbukti kuat), rak ini terbuat dari bahan besi solid, tubingnya tidak terlalu besar sehingga dibeberapa bagiannya saya lilitkan selang aquarium dan lakban supaya saat pannier digantung ke tubing rak maka bagian pengait dari pannier tidak mudah terlepas, dan supaya pannier tidak menyentuh bagian roda maka saya pun memodifikasi rak tersebut di tukang las dengan membuat sayap samping sesuai dimensi pannier belakang (harga rak belakang bekas Rp 20.000,- , biaya las Rp 15.000,-)



Untuk rak depan saya menggunakan rak yang terbuat dari material besi hollow dan dicustom seperti model rak depan milik Surly, saya menyukai model rak seperti ini karena selain bisa untuk menggantungkan pannier di sisi kiri dan kanannya, bagian atas rak bisa saya gunakan untuk menaruh toolkit di perjalanan, sehingga ketika terjadi masalah teknis saya tidak perlu membongkar isi pannier, melainkan cukup membuka drybag tempat toolkit yang saya ikat di bagian atas rak.

Untuk rak depan model ini tantangannya adalah saya harus membuat plat sebagai tempat mengunci baut rak dengan fork (yang saya letakkan di bagian baut caliper V-brake) supaya posisinya tidak bergeser, dan karena fork saya mempunyai tubing yang besar maka untuk posisi kuncian tambahan rak terhadap fork saya menggunakan clamp berbentuk U, dengan 2 kuncian penahan ini (plat dan U-clamp) maka sekarang posisi rak benar-benar tidak bergeser lagi dan kuat.



Berikutnya adalah bagian penggerak, bagian ini mempunyai pengaruh vital terhadap stamina kita ketika menghadapi rute atau kontur jalan yang kurang mulus atau menanjak, jika bagian ini berfungsi secara maksimal maka akan sangat membantu sekali untuk menghemat stamina dan mempercepat laju sepeda.

Karena frame Dignity hanya mempunyai sistem rem untuk jenis V-brake atau Cantilever Brake (tidak di disain untuk discbrake) maka untuk freehub saya menggunakan shimano RM-70 yang kompatible dengan sprocket 7-8-9 speed dan memang diperuntukkan untuk sepeda dengan sistem rimsbrake tersebut, sejauh ini freehub shimano RM-70 dengan jumlah klik atau POE (point of engagement) berjumlah 16 tersebut terbukti cukup tangguh dan perputarannya juga lancar sehingga sangat membantu mengoptimalkan putaran roda


Sedangkan untuk Hub depannya saya menggunakan dynamo hub dari shimano dengan tipe DH-2N30-E 36 hole yang mampu menghasilkan arus listrik AC sebesar 6V-2,4W yang kemudian saya gunakan untuk menyalakan lampu depan, namun dengan terlebih dahulu membuat sebuah inverter untuk mengubah arus AC tersebut menjadi DC, keuntungan dari menggunakan dynamo hub adalah kita tidak perlu kuatir jika batere telepon genggam atau beberapa peralatan elektronik kita habis maka kita tinggal menyambungkannya ke inverter saja (tentu saja dengan memodifikasi rangkaian inverter tersebut supaya kebutuhan outputnya sesuai dan bisa untuk men-charge batere telepon genggam kita)

Namun selain nilai plus dari dynamo hub tersebut, juga ada beberapa kendala ketika kita memutuskan untuk menggunakannya, antara lain perputarannya tidak akan selancar jika kita menggunakan hub biasa, selain itu kita juga harus mengikir atau senai panjang spoke karena dynamo hub menggunakan spoke yang lebih pendek dari spoke yang digunakan pada umumnya, dan untuk menggunakannya kita harus membuat sebuah inverter untuk mengubah arus AC menjadi DC, di pasaran memang ada yang menjual inverter seperti e-werk atau biologic seperti yang terpasang pada sepeda Dahon TR namun harganya sangat mahal sehingga solusinya adalah kita harus membuatnya sendiri



Untuk rims, saya menggunakan Araya TM 840F 36 hole double wall yang mempunyai brake line pada sisi sampingnya sesuai dengan system rem V-brake yang saya gunakan, dengan harga yang cukup ekonomis (160rb sepasang), rims dan spoke stainless steel (80rb untuk seluruh wheelset) ini terbukti cukup tangguh untuk menopang seluruh beban sepeda serta perlengkapan yang saya bawa selama perjalanan



Perjalanan yang jauh tentunya membutuhkan ban luar serta ban dalam yang kuat dan awet, untuk itulah maka saya menggunakan ban dalam kingland (Rp 12.500/buah) yang mempunyai ketebalan cukup penuh, serta untuk ban luarnya saya menggunakan Maxxis Overdrive 26x1.75 yang mempunyai pelindung dari Kevlar pada sidewallnya (optimum puncture protection), sejauh ini fitur Kevlar tersebut telah terbukti sanggup menahan goresan dari karang-karang tajam sewaktu saya berada di Pantai Liang Dewa, Labangka, Pulau Sumbawa. Keunggulan lainnya dari ban luar Maxxis overdrive ini adalah ia mempunyai reflective line yang melingkar di sepanjang sidewallnya, sehingga bagi penikmat touring tentunya fitur ini cukup melindungi ketika kita sedang bersepeda di kegelapan.

Alasan lainnya saya memilih ban luar Maxxis overdrive yang harganya terbilang cukup menguras kantong ini (bagi saya) adalah saya lebih baik menggunakan ban yang sesuai dengan peruntukannya dan dengan fitur yang memang didesain sesuai dengan medan dan durasi perjalanan touring yang umumnya memakan waktu lama baik itu selama total waktu perjalanan maupun durasi selama mengayuh sepeda per harinya sepanjang perjalanan daripada saya asal memilih ban “yang penting murah” namun pada akhirnya sepanjang perjalanan saya malah direpotkan dengan urusan mengganti ban dalam yang bocor atau mengganti ban luar yang karetnya getas atau sobek, karena selain hal tersebut pastinya menyebalkan juga melelahkan serta membuat kita rugi waktu dan biaya, oleh karena itu setidaknya untuk memulai sebuah perjalanan kita tidak bisa hanya bermodal nekat asal jalan saja melainkan juga harus mulai belajar mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan kebutuhan kita dalam perjalanan nantinya (bertanya pada forum diskusi atau membaca review dari pengguna lainnya)



Untuk sistem percepatan saya menggunakan sprocket shimano CS-HG20 9speed 11-34T. Menurut saya 9 speed sangat ideal untuk kebutuhan touring karena dengan ratio gear yang lebar memudahkan kita ketika berhadapan dengan medan menanjak (selama tanjakannya tidak terlalu ekstrem), namun karena sprocket 9speed CS-HG20 ini berada dalam kelas entry level maka kelemahannya adalah ia cepat menjadi kotor, tentunya akan berbeda jika saya menggunakan sprocket 9speed lainnya yang masuk kelas diatasnya seperti seri deore atau SLX


Sementara pada bagian rear deraileurnya saya menggunakan deore tipe lama M592 (mungkin sekarang setara dengan alivio 9speed M3100), RD ini saya dapatkan melalui situs jual beli online dengan harga yang menurut saya terhitung worth it (500rb untuk FD dan RD sudah termasuk ongkos kirim), RD, FD, Shifter, Crank dan rantai sudah dari dulu saya gunakan sewaktu saya masih menggunakan sepeda MTB XC dan hingga sekarang tidak ada masalah teknis yang berarti pada semua komponen tersebut, semua masih berfungsi normal dan lancar, untuk rantai sendiri saya menggunakan KMC yang memiliki conector link supaya memudahkan ketika saya ingin melepas dan membersihkan rantai tanpa perlu menggunakan alat pemotong rantai


Untuk Crank saya menggunakan seri deore juga (FC-M590) dengan chainring 44-32-22T yang kemudian saya beri pelindung bashguard supaya ketika saya bersepeda menggunakan celana panjang tetap aman, dan ujung bawah celana tidak ikut terlilit masuk terjepit gerigi dari chainring.

Sedangkan untuk bottom bracketnya saya menggunakan model outer BB dimana perawatannya lebih mudah dan lebih awet, selain itu perputaran ball bearingnya juga lebih lancar dan terasa signifikan bedanya jika dibandingkan ketika saya masih menggunakan BB model kotak (kecuali jika BB model kotaknya seperti merk Token yang terkenal sangat loncer)


Pada bagian pedal saya menggunakan model flat pedal dari exustar yang bertapak lebar (sebenarnya ini merupakan pedal untuk sepeda BMX namun terasa sangat nyaman sekali saat dikayuh). Pedal ini telah saya gunakan sejak saya mulai pertama kali merakit sepeda MTB XC hingga sekarang (kurang lebih sudah saya gunakan selama 5 tahun lamanya di segala jenis medan) dan tidak ada masalah sama sekali


Untuk caliper rem Vbrake saya menggunakan merk Logan, merk ini sebenarnya terhitung merk biasa dan murah (30rb sudah termasuk caliper rem, pad, noodles, dan brake levernya) namun disini saya hanya menggunakan bagian caliper dan noodlesnya saja, selebihnya sudah saya ganti, untuk padnya saya menggunakan merk viva dan brake levernya saya menggunakan avid fr5. Selama saya melakukan perjalanan 107 hari keliling sebagian wilayah Indonesia saya hanya 1x mengganti pad rem belakang karena sudah mulai tipis (itupun setelah saya sudah memakainya jauh sebelum perjalanan jauh tersebut dimulai)


Selama touring tentunya waktu kita akan lebih banyak dihabiskan dengan mengayuh sepeda yang artinya sebagian besar waktu kita akan lebih banyak digunakan untuk duduk di atas sadel sepeda, oleh karena itulah komponen ini pun memegang peran penting yang menentukan kenyamanan kita selama bersepeda, jika pilihan kita tidak tepat maka biasanya kita akan mengalami rasa kram di sekitar bagian pantat atau selangkangan.

Disini pilihan saya jatuh kepada sadel WTB Volt karena beberapa alasan, alasan pertama adalah karena sadel ini saya dapatkan secara gratis hehe…, Sadel yang bertipe kecil atau slim ini secara fisik memang kurang cocok bagi pesepeda yang memiliki bokong yang lebar, alasan lainnya adalah karena sadel ini minim perawatan karena menggunakan kulit sintetik sehingga walau sedang diterpa hujan atau panas kita tidak perlu membungkus sadel tersebut dengan plastik



Kebutuhan touring lainnya yang vital bagi pesepeda tentu saja kebutuhan akan air minum supaya tidak terkena dehidrasi, oleh karena itulah rata-rata sepeda touring memiliki tempat untuk menaruh biddon atau botol minum yang berjumlah lebih dari 1 buah (kebanyakan memiliki 2-3 buah), namun bagaimana jika sepeda kita hanya memiliki 1 buah tempat untuk menaruh biddon saja? Tidak perlu kecewa karena dengan sedikit kreativitas maka kita bisa memodifikasi frame sepeda kita supaya bisa membawa 3 buah biddon sekaligus seperti yang saya lakukan, solusinya pun cukup mudah dan murah yaitu dengan menggunakan clamp yang biasa kita gunakan untuk mengikat selang gas, namun supaya frame kita tidak tergores maka ada baiknya sebelumnya kita melilitkan ban dalam bekas pada bagian frame dimana kita akan memasang clamp tersebut nantinya

Menurut saya pribadi frame sepeda yang hanya memiliki 1 buah tempat untuk meletakkan biddon justru lebih menarik karena untuk memasang biddon berikutnya kita akan lebih fleksibel untuk meletakannya pada posisi yang sesuai dengan yang kita inginkan




Dengan bobot sepeda yang lumayan berat (baik itu kosongan maupun saat membawa seluruh perlengkapan) tentunya membutuhkan kickstand yang mumpuni untuk menopang seluruh beban tersebut (solusi lainnya tentu saja dengan menyenderkan sepeda saat sedang berhenti), oleh karena itulah saya memodifikasi kickstand adjust yang saya gunakan supaya posisinya tidak bergeser turun dengan memberi clamp kecil pada posisi adjustnya



Ketika kita memutuskan untuk mulai membangun sepeda touring tentunya satu hal yang harus kita sadari konsekuensinya adalah sebagian besar waktu kita selama di perjalanan nantinya akan lebih banyak berada di atas sepeda, oleh karena itu posisi tubuh saat sedang bersepeda tentunya harus diusahakan senyaman mungkin untuk menghindari rasa lelah yang berlebihan atau kram

Posisi tubuh cyclist saat sedang bersepeda touring tentunya akan berbeda dengan posisi tubuh cyclist pada aliran sepeda downhill, XC maupun roadbike. Pada aliran sepeda touring posisi tubuh biasanya akan lebih tegak atau upright, tidak terlalu merunduk seperti pada aliran roadbike, kurang lebih hampir mirip dengan bersepeda commuting. Untuk mendapatkan posisi tubuh yang nyaman tersebut biasanya akan terasa sulit jika kita menggunakan basic frame yang memang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk touring, namun hal tersebut jangan terlalu dianggap sebagai alasan untuk tidak memulainya dengan apa yang sudah kita miliki sebelumnya, solusinya cukup gunakan stem yang bisa diadjust derajat ketinggiannya atau memakai fork ekstender dan handlebar tipe high rise, apalagi sekarang sudah banyak jenis dan model stem adjust yang ada dipasaran, kita tinggal memilih dan menyesuaikannya sesuai selera kita


Untuk pemilihan model handlebar sebenarnya tergantung selera karena saat ini banyak pilihan yang tersedia, kalian bisa menggunakan model flatbar, butterfly bar, drop bar, mustache bar, atau lainnya. Namun pastikan bahwa jenis handlebar yang kalian pilih memiliki banyak variasi cara mengenggamnya sehingga telapak dan pergelangan tangan kalian juga tidak cepat terasa kram, saya pun menggunakan jenis risebar yang saya beri bar end dibagian ujungnya sehingga saat tangan terasa pegal maka saya tinggal mengubah posisi cara mengenggamnya.

Selain itu panjang handlebar yang kalian pilih juga akan berpengaruh terhadap kenyamanan kalian selama di perjalanan nantinya, jika terlalu lebar atau terlalu kecil maka lengan dan pundak juga akan cepat mengalami rasa lelah, oleh karena itulah system trial dan error harus sering dicoba hingga mendapatkan posisi yang nyaman karena rasa kenyamanan setiap orang akan bersifat subyektif


Apa saja yang menempel di bagian kokpit atau handlebar akan bervariasi pada setiap cyclist sesuai dengan kebutuhannya, namun umumnya yang sudah pasti adalah komponen handgrip, brake lever, shifter, bel, handlebar bag, dan cyclocomp, sisanya bagi beberapa cyclist akan menambahkan GPS, tempat untuk menaruh kamera, dan pernak-pernik lainnya sesuai dengan karakter mereka masing-masing


Pada akhirnya besar kecilnya budget yang dibutuhkan untuk membangun sebuah sepeda touring yang siap digunakan nantinya akan sangat tergantung kepada list alokasi anggaran yang sudah kita susun sebelumnya, dan hal ini pun bukan merupakan sebuah hal yang mutlak bahwa untuk melakukan perjalanan kita membutuhkan sepeda A dengan perlengkapan B, karena banyak juga yang melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda mini, Unicycle atau sepeda roda 1, ataupun jenis penny farthing seperti yang digunakan oleh Thomas Stevens pada tahun 1884.

Apakah semua jenis sepeda tersebut bisa digunakan untuk melakukan perjalanan? Jawabannya tentu saja ya bisa, namun seiring waktu dan pengalaman nantinya kita akan mengetahui plus dan minus dari sepeda yang kita pilih untuk melakukan perjalanan tersebut, dan jika kita kreatif maka kita juga akan bisa meminimalkan apa yang menjadi kekurangan sepeda kita dengan solusi yang murah namun awet, setidaknya hal tersebut lebih baik daripada kita hanya menunggu sampai segala sesuatunya siap, karena jika hal tersebut kita lakukan maka kemungkinan besar kita akan selamanya terus menunggu dan tidak akan pernah memulai perjalanan tersebut, sepedanya mungkin sudah sangat siap namun mental cyclistnya yang tidak akan pernah siap dan terus berusaha mencari alasan untuk siap


Nah dengan semua penjelasan yang sudah saya paparkan diatas kira-kira bisakah kalian semua menebak berapa total biaya yang telah saya keluarkan untuk membangun sepeda touring ini?


Setelah saya melihat rincian list yang dulu saya gunakan ternyata total biaya yang saya keluarkan untuk membangun sepeda dignity ini adalah Rp 4.650.000,- semua sudah termasuk cat ulang, merakit, membangun wheelset, dan modifikasi ini itu, nah dengan total biaya tersebut ternyata kini saya telah memiliki sarana transportasi yang sudah bisa membawa saya menjelajah kemanapun saya mau dan hingga kini tidak mengalami masalah berarti, sebagian besar parts dan komponen masih digunakan dan berfungsi sama dengan saat awal saya merakitnya


Mahal atau tidaknya itu semua bersifat relatif tergantung kepada mereka yang menilai, namun bagi saya pribadi sepeda saya saat ini bernilai mahal karena nilai kenangan perjalanan yang sudah kami tempuh dan lalui bersama, nilai materinya mungkin tidak terlalu mahal namun nilai kenangannya tidak akan pernah sanggup ditebus dengan nilai materi sebesar apapun, karena kita mungkin bisa membeli barang atau hal materinya namun kita tidak akan pernah mampu membayar untuk membeli kenangan, dan kenangan atau ingatan tersebutlah yang membuat kita benar-benar menjadi manusia, kita mungkin bisa membaca atau mendengar cerita kenangan orang lain namun kenangan terbaik adalah semua dan setiap kenangan yang kita ciptakan dan alami sendiri

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Dalai Lama ketika Beliau ditanya oleh seseorang mengenai hal apa yang paling membingungkan di dunia ini, Beliau menjawab “Manusia”. Karena dia “mengorbankan” kesehatannya “hanya demi uang”, Lalu dia “mengorbankan uang” nya hanya demi “kesehatan”. Lalu dia “sangat khawatir” dengan “masa depannya”, sampai dia “tidak menikmati masa kini”; akhirnya dia “tidak hidup di masa depan atau masa kini”; dia “hidup seakan-akan tidak akan pernah mati”, lalu dia “mati” tanpa “benar-benar menikmati” apa itu “hidup”.

Oleh karena itu kini mulailah menciptakan cerita petualangan kalian masing-masing, dan karena nantinya cerita petualangan tersebut juga akan menjadi bagian dari cerita perjalanan hidup kalian maka kalian harus membuat cerita tersebut menarik dan berharga dalam hidup kalian, bukan tidak mungkin cerita tersebut juga dapat menginspirasi orang lain untuk mulai melakukan suatu hal yang fantastis dan positif dalam hidupnya, dan yakinlah bahwa apapun sepeda yang kalian pilih untuk mulai melakukan perjalanan ini pasti merupakan sepeda yang terbaik

Nb : penampakan set-up sepeda saya terkini (2023), ada perubahan konsep atau penggabungan antara gaya touring tradisional dengan bikepacking/gravel. Total dana yang telah dikeluarkan untuk sampai ke titik tampilan terkini adalah sekitar 6,5 - 6,6 juta rupiah (sudah termasuk dengan semua tas yang menempel disepeda) 🙂