Tuesday, 18 August 2015

Grojogan Kali Bulan

(17/08/15) Dirgahayu Republik Indonesia ke-70, jayalah selalu negeriku :)
Bertepatan dengan Dirgahayu RI kali ini kami melakukan goweswisata menuju ke Grojogan Kali Bulan yang berada di ketinggian sekitar 228mdpl dan berlokasi di Dusun Kaligatuk, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY.

Sebenarnya memang kurang tepat jika berkunjung ke Grojogan ini disaat musim kemarau karena hampir bisa dipastikan bahwa grojogan atau air terjun ini sedang kering, tetapi tidak apa-apalah karena tujuan goweswisata kali ini adalah untuk melakukan mapping rute dan meninjau lokasinya

Panduan rute menuju Grojogan Kali Bulan


Untuk menuju ke Grojogan Kali Bulan rutenya hampir sama dengan rute menuju ke Jembatan Bawuran (lihat post sebelumnya), bedanya hanyalah pada perempatan patokan kedua (lihat peta menuju Jembatan Bawuran), jika pada peta menuju Jembatan Bawuran kita berbelok ke kiri, maka untuk menuju ke Grojogan Kali Bulan cukup lurus saja ikuti jalan menuju ke tanjakan Cinomati, setidaknya sampai kita menemui pertigaan Desa Wonolelo ini



Di pertigaan ini ambil arah kiri menuju Dlingo atau Wonosari, sebenarnya kalau kita belok ke kanan juga ada air terjun lagi bernama Surup Ketek, tetapi kali ini kami memilih untuk mencoba menuju ke Grojogan Kali Bulan saja dulu

Mungkin akan menjadi tujuan berikutnya


Baiklah bersiap menghadapi jalur roller coaster :)


Setelah melalui medan roller coaster yang tidak terlalu parah, sampailah kami di pertigaan tanjakan Cinomati. Jika kita naik ke kanan maka akan menuju ke Hutan Pinus dan Puncak Becici, maka untuk menuju ke Grojogan Kali Bulan ikuti saja jalan sebelah kiri yang menurun


Terus ikuti jalan hingga nantinya akan sampai di wilayah RT 04, disinilah kita dapat menitipkan kendaraan di rumah warga


Setelah meminta izin kepada pemilik rumah dan menitipkan sepeda-sepeda kami, maka saatnya memulai trekking menuju ke lokasi grojogan dengan menaiki bukit yang terletak persis disamping rumah warga

Persiapkan mental dan fisik karena jalur menuju ke lokasinya sepertinya tidak akan mudah, terlebih di musim kemarau, guguran daun jati serta kondisi tanah berpasir membuat beberapa pijakan tangga menjadi mudah longsor serta licin



Kondisi jalan setapak yang dipenuhi guguran daun jati


Jika sudah sampai di pertigaan ini silahkan memilih apakah kalian mau beristirahat dulu di bangunan joglo (yang lumayan juga jaraknya) atau masih kuat untuk lanjut berjalan kaki menuju ke lokasi grojogan (kondisi jalurnya juga akan semakin sulit)


Kami pun memutuskan untuk langsung lanjut saja menuju ke lokasi grojogan, dan kira-kira beginilah perubahan kondisi jalurnya, harap berhati-hati karena tepat disamping jalan setapak adalah jurang


Sebenarnya dari titik ini grojogan sudah dapat terlihat, tetapi karena musim kemarau maka kondisinya menjadi kering, grojogan ini memang bersifat musiman karena mengandalkan air hujan sebagai sumber aliran airnya, mungkin pada musim kemarau seperti ini nama yang tepat untuk tempat ini bukanlah grojogan melainkan Tebing Kali Bulan hehe…:)

Lihat tanda panah tersebut? Nah kami akan menuju kesana (sudah terbayang kan jauhnya dan masih harus mendaki lagi)



Kondisi jalur trekking yang mulai naik, awalnya masih terasa mudah


Papan penanda berisi kata-kata yang sangat “memotivasi sekali”, biasanya yang seperti ini menandakan jika kondisi jalur berikutnya akan lebih berat


Dan benar saja, medan pendakian berikutnya hanya berupa undakan batu-batu kecil tertutup guguran daun jati dan pasir, serta tidak ada tali tambang atau pepohonan untuk berpegang. Menurut warga (sewaktu kami hendak menitipkan sepeda) dulunya disediakan tambang yang diikat di pohon-pohon sehingga memudahkan untuk berpegangan ketika mendaki dan juga supaya aman, tetapi kini tambang tersebut sudah tidak ada, hilang dicuri oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, oleh karena itulah kini kami harus ekstra berhati-hati untuk mendaki supaya tidak tergelincir, jika sampai tergelincir maka jurang sudah menanti hingga kedasar bukit (jika tahu akan menempuh kondisi medan yang seperti ini pasti saya sudah membawa trekking pole serta tali dan carrabiner sendiri)


Dengan mengandalkan beberapa akar pohon sebagai pijakan kami pun berhasil melewati medan yang satu ini, tetapi pendakian masih akan terus berlanjut

Kata-kata yang sangat “menghibur” sekali


Dari titik pendakian ini kami pun bisa melihat bangunan joglo peristirahatan yang ditemui saat awal trekking


Karena kondisi jalur yang semakin sulit (semua berpasir dan rawan longsor, serta tidak ada pepohonan maupun akar sebagai pijakan) membuat kami harus meninggalkan tas-tas kami di atas dan mulai mencoba untuk turun dengan cara merangkak pelan-pelan. Di atas sini selain tidak ada fasilitas apapun untuk keselamatan juga tidak ada seorang pun yang kami temui, hanya kami berdua saja, sehingga kami harus benar-benar ekstra waspada dan saling menjaga (mungkin saat harus menempuh kondisi berbahaya seperti inilah baru kami berpikir dan bertanya kepada diri kami sendiri masing-masing “why I’am doing this?”)


Untuk menuju ke dasar “Tebing” Kali Bulan pun harus memperhatikan dan mencari jalur yang relatif aman karena di beberapa titik kondisi pasirnya mudah longsor



Jika saja kondisinya tidak sekering dan segersang ini sepertinya tempat ini menyimpan potensi wisata petualangan yang cukup besar, namun tentunya perlu dibuat infrastruktur penunjang keselamatan bagi pengunjung. Karena dengan lokasinya yang cukup dekat (sekitar 17km) dari pusat kota, grojogan ini mungkin menjadi grojogan tertinggi yang ada di wilayah Bantul, selain itu pengunjung juga dapat melihat pemandangan berupa areal persawahan warga di sekitar bukit

Untuk naik dari dasar tebing justru jauh lebih sulit daripada ketika turunnya, karena setiap akan memijakkan kaki justru dasar pijakan berupa pasir tiba-tiba longsor, tidak ada jalan lain selain harus berjalan menghadap dan menempel ke tebing tersebut, dan juga menggunakan teknik berjalan menyamping seperti kepiting


Dan saat yang paling mendebarkan adalah bagaimana menuruni tebing curam berpasir ini tanpa adanya tali atau pijakan? Untuk mencegah tergelincir akhirnya saya terpaksa mencari sepotong kayu sisa pepohonan yang sudah mati dan dirasa cukup kuat, kemudian menggergajinya dan membuatnya menjadi trekking pole (untunglah di dalam tas saya selalu membawa pisau lipat dan EDC tools yang mempunyai fitur gergaji mini), saya pun kemudian merangkak turun duluan dengan menancapkan “trekking pole” tersebut yang berfungsi selain sebagai pegangan juga untuk membantu proses mengerem ketika harus meluncur di pasir

Akhirnya berkat “trekking pole” darurat tersebut kami pun bisa perlahan kembali menuruni jalur tersebut dengan aman dan selamat


Tips jika ingin berkunjung ke tempat ini :

- Datanglah saat musim hujan, karena kalau kalian berkunjung ke tempat ini saat musim kemarau maka yang kalian lihat hanyalah “Tebing Kali Bulan”
- Sepeda dan motor bisa dititipkan di perumahan warga, sedangkan untuk mobil maka bisa diparkir dekat masjid
- Membawa makanan dan minuman sendiri karena minim warung di sekitar lokasi (jangan lupa membawa kantong plastik untuk mengumpulkan sisa sampah kalian, jangan buang sampah sembarangan ya)
- Selama belum dibuat fasilitas atau infrastruktur penunjang keselamatan maka tempat ini sangat tidak cocok untuk lokasi wisata keluarga yang membawa anak kecil atau orang lanjut usia
- Harus ekstra berhati-hati saat trekking, jangan memaksakan diri untuk berselfie-ria supaya terkesan ala “My Trip My Adventure”, jika kalian celaka maka tidak hanya merugikan diri dan keluarga kalian melainkan juga dapat membuat tempat ini ditutup yang akhirnya merugikan penduduk sekitar
- Tidak melakukan vandalisme di sekitar lokasi (baik mencoret-coret maupun merusak)
- Lebih baik diusahakan dan disarankan mengerti dasar-dasar trekking dan climbing technique
- Membawa emergency kit atau survival tool untuk berjaga-jaga

Sunday, 16 August 2015

Jembatan Gantung Bawuran

(15/08/2015) Saatnya bertualang lagi hehe…, setelah hampir satu bulan sibuk merenovasi Basecamp Goweswisata maka saatnya mengembalikan stamina ke awal. Petualangan goweswisata kali ini pun sengaja saya pilih yang jaraknya dekat saja dulu, hitung-hitung sebagai pemanasan untuk petualangan berikutnya :)

Jembatan Bawuran, hmmm…apa yang menarik dari sebuah jembatan? Bukankah jembatan yang lain juga banyak tersebar dimana-mana? Lalu mengapa destinasi yang dipilih kali ini adalah Jembatan Bawuran?

Baiklah saya akan mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut satu persatu. Dimulai dari apa yang membuat Jembatan ini terlihat unik dan menarik di mata saya adalah karena struktur jembatan ini berupa jembatan gantung, yang notabene jumlah jembatan gantung sendiri masih belum terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah jembatan-jembatan masif atau konvensional, selain itu juga karena jaraknya yang relatif dekat (hanya 12km) dari Basecamp Goweswisata

Jembatan Bawuran atau masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan sebutan Jembatan Perak Bawuran dikarenakan jembatan yang melintas diatas aliran Sungai Opak tersebut berwarna perak. Menghubungkan Dusun Gunung Kelir dengan Desa Bawuran, lokasi tepatnya berada di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul DIY dengan koordinat 7°52'19.1"S 110°24'46.2"E

Peta atau panduan rute menuju lokasi Jembatan Bawuran


Patokan nomor 1, nantinya kalian akan melewati jembatan ini terlebih dahulu


Setibanya di perempatan (patokan nomor dua) ini ikuti saja tanda panah


Setelah menemui lapangan disisi kanan, tidak jauh dari situ ada jalan kecil (pertigaan) kekiri, maka sampailah kita di Jembatan Gantung Bawuran



Beberapa pelajar Sekolah Dasar yang tampaknya penasaran dengan sepeda-sepeda kami :)


Pemandangan di bawah jembatan yang melintasi Sungai Opak






Pembangunan Jembatan ini sendiri dilakukan pada akhir tahun 2014 dan diresmikan pada tanggal 15 Januari 2015 oleh Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat melalui kementerian ketenagakerjaan RI melalui program padat karya berbasis sumber daya lokal


Setelah Jembatan Perak ini selesai dan difungsikan, banyak masyarakat sekitar yang merasa terbantu karena mempermudah aktivitas dan perekonomian mereka ketika hendak menuju ke Pasar, para pelajar juga merasa senang karena mempersingkat jarak dari rumah mereka menuju sekolah, dengan kata lain berkat pembangunan jembatan gantung perak ini proses sosial, ekonomi, dan lainnya menjadi ikut terbantu karena kini mereka tidak harus berjalan memutar lebih jauh lagi



Jika dibandingkan dengan Jembatan Gantung Selopamioro yang sudah lebih dulu terkenal maka Jembatan Bawuran ini mempunyai panjang yang lebih pendek (mungkin hanya sepertiganya saja), perbedaan lainnya adalah jika Jembatan Gantung Selopamioro berwarna kuning, maka Jembatan Bawuran ini berwarna perak. Setidaknya selain fungsi utamanya sebagai akses penghubung antar desa, tidak jarang pada hari-hari libur lokasi jembatan ini juga dijadikan sebagai objek berfoto oleh beberapa pengunjung, hal ini juga didukung oleh pemandangan yang ada di sekitarnya yang masih alami dan aliran Sungai Opak yang relatif masih terjaga kebersihannya


Kamu sudah pernah berkunjung ke Jembatan ini? Tetap jaga kebersihan di sekitar lokasinya ya :), selamat bertualang dan kami dari Gowes Wisata mengucapkan selamat Dirgahayu ke-70 Negeriku Tercinta Indonesia Raya, jayalah selalu :)

Thursday, 23 July 2015

Benteng Keraton Yogyakarta

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya (walau telat hehe…), nah berhubung di bulan ini belum ada post yang baru dikarenakan sayanya lagi sibuk beres-beres rumah dan juga karena belum adanya rencana agenda goweswisata berikutnya maka dimulai dari nyicil late post dulu saja ya :)


Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa di Yogyakarta ini mempunyai beberapa bangunan peninggalan sejarah berupa Benteng, namun ada dua buah Benteng yang cukup terkenal yaitu Benteng Keraton dan Benteng Vredeburg, dimana yang satu dibuat pada masa kolonialisme Belanda yaitu Benteng Vredeburg, sedangkan yang satu lagi dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II yaitu Benteng Baluwerti (atau lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan Benteng Keraton)

Uniknya kedua buah benteng tersebut berada dilokasi yang berdekatan, yaitu sama-sama di titik nol kilometer Kota Yogyakarta. Ya, Sri Sultan membangun Benteng Keraton sebagai sudut benteng pertahanan Keraton Yogyakarta untuk melindungi masyarakat Jogja sekaligus juga untuk menjaga bangunan serta lingkungan Keraton, sedangkan pihak Belanda membuat Benteng Vredeburg untuk mengawasi aktivitas dan pergerakan keluarga Keraton Yogyakarta yang dikhawatirkan dapat mengancam eksistensi bangsa kolonial di tanah Jawa pada masa penjajahan

Namun sayangnya sisa-sisa bangunan Cagar Budaya Benteng Keraton ini di beberapa bagiannya kurang terawat, bahkan tepat di bagian depan sekeliling benteng kini mulai tertutup oleh bangunan-bangunan komersial, dan tidak hanya itu saja, beberapa bagian pun akhirnya kini telah hilang entah kemana tergerus modernisasi

Hal yang berbeda justru terjadi pada bangunan Benteng Vredeburg peninggalan Belanda. Benteng tersebut justru mengalami peremajaan dan terpelihara dengan baik, pengecatan dinding dalam dan luar benteng serta pemeliharaan taman yang berada disekitar Benteng juga telah dilakukan, alhasil sungguh miris rasanya melihat situasi yang saling bertolak belakang ini dimana sebuah peninggalan sejarah karya putra terbaik bangsa justru diabaikan, sedangkan peninggalan para penjajah justru dijaga dan dilestarikan, secara tidak langsung hal ini semakin memperjelas dan membuat saya mengerti mengenai sikap masyarakat kita sekarang ini yang terkadang bersikap lebih hormat dan sopan kepada turis asing daripada ke turis lokal, atau menganggap apapun yang berasal dari dunia barat selalu (pasti) lebih keren dibanding melestarikan atau menghargai keragaman budaya negeri sendiri, pola pikir hipokrit sepertinya merasuk terlalu dalam ke benak atau mindset masyarakat kita (dan juga para pemegang kebijakan di Republik ini)

Kali ini saya dan pasangan saya mencoba menyusuri sisa-sisa peninggalan sejarah Benteng Keraton ini dengan berjalan kaki, tidak bersepeda seperti biasanya dengan pertimbangan karena dengan berjalan kaki maka kami bisa leluasa naik ke atas benteng (setidaknya kami masih berusaha menghargai peninggalan sejarah bangsa ini dengan tidak memaksakan “harus” berfoto dengan sepeda-sepeda kami naik ke atas Benteng Keraton, hal ini terkadang juga menjadi perdebatan antara kami dengan beberapa goweser lainnya, dimana mereka menganggap kami terlalu kaku dengan peraturan, well…menurut saya apa salahnya mencoba menghargai peraturan yang ada di suatu tempat, karena setidaknya peraturan itu pun diciptakan untuk menjadikan tempat tersebut lebih baik bukan, apakah untuk dibilang sebagai seorang goweser sejati maka harus memaksakan diri untuk selalu berfoto dengan sepeda?) maka dari itulah mungkin karena kami memang bukanlah “goweser sejati” atau apapun itu yang menurut orang lain dikatakan hebat (dan kami tidak terlalu peduli) maka di setiap catatan perjalanan ini kami selalu berusaha beradaptasi dengan kultur, budaya, serta peraturan atau tradisi yang berlaku di daerah tersebut yang notabene pasti mempunyai nilai-nilai kearifan lokal untuk sebuah tujuan yang baik

Kembali menyusuri Benteng Keraton (jadi sedikit curcol hehe…), kami memulainya dari Gapura Plengkung Gading yang berada tepat di sisi selatan dari Alun-alun kidul, dari situ kami kemudian menyusuri akses yang ada di bagian atas Benteng ke sisi Timur sebelum kemudian lanjut berjalan kaki ke arah Barat hingga tiba di Pojok Beteng

Tangga naik menuju bagian atas Gapura Plengkung Gading


Bagian atas dari Gapura Plengkung Gading



Suasana dari atas Gapura Plengkung Gading menghadap ke Alun-alun Selatan


Pos pengintaian


Akses penghubung menuju pojok Benteng disisi Timur



Pojok Benteng yang berada di sisi Timur



Di pojok Benteng Timur ini juga terdapat semacam parit yang memisahkan tembok luar dengan bagian dalam Benteng




Pos pengintaian yang terdapat di hampir semua sudut Benteng


Lanjut ke Pojok Beteng Barat, pada bagian ini taman yang berada di luar tembok Benteng cukup terpelihara dengan baik, namun beberapa peninggalan seperti jam kuno yang ada di taman tersebut telah rusak dan tidak terawat, begitupun dengan kondisi cat pada dinding Benteng yang mulai mengelupas dimana-mana


Walaupun telah ada peringatan seperti ini tetapi tetap saja


Membuktikan tingkat buta huruf masih cukup tinggi (padahal disebut sebagai Kota Pelajar)


Sisi pojok Benteng Barat di sebelah Utara telah di cat ulang (seadanya) dan semoga pelaku vandalisme segera mendapat karmanya


Sebenarnya sungguh sangat disayangkan minimnya keberadaan papan informasi seputar keberadaan bangunan Benteng ini, karena kelak di kemudian hari generasi penerus berikutnya mungkin tidak akan pernah tahu fungsi Benteng ini, dan tidak menutup kemungkinan jika kedepannya mereka bahkan tidak akan pernah melihat fisik bangunan Benteng ini lagi yang mungkin saja akan hilang tergerus modernisasi

Banyak bangunan-bangunan Cagar Budaya yang ada di Yogyakarta ini yang keberadaannya seakan antara ada dan tiada, mereka ada tetapi terabaikan, sedangkan generasi berikutnya tumbuh menjadi generasi penerus yang tidak menghargai sejarah perjuangan bangsanya (terlihat dari banyaknya vandalisme corat-coret dan perusakan situs cagar budaya), dan biasanya setelah cagar budaya tersebut hilang, digusur, dialih fungsikan dan diliput oleh media barulah semua pihak berteriak saling mengecam dan menyalahkan, tetapi jika kalian, saya, dan kita semua tidak pernah mau belajar, berkunjung, atau menjaga peninggalan cagar budaya ini lalu kepada siapa lagi kita berharap akan adanya perubahan yang lebih baik? Pilihan ada di tangan kita semua, akankah kita bergerak untuk memulai perubahan yang lebih baik tersebut ataukah hanya terdiam dan menjadi generasi yang saling menyalahkan? Waktulah yang akan menjawabnya

“Dengan mengunjungi sebuah cagar budaya maka secara tidak langsung kita telah membantu melestarikan dan menjaga eksistensi tempat tersebut, jadi ayo berkunjung dan belajar”