07 Juli 2018,
Masih dalam edisi mencari spot-spot wisata baru di Kabupaten Bantul, nah kali ini petualangan goweswisata.com akan mengulas Puncak Sosok, yaitu sebuah spot wisata alam yang berada tidak jauh dari lokasi wisata Puncak Gebang yang sudah lebih dulu terkenal itu
Lokasi dari Puncak Sosok sendiri tepatnya berada di Dusun Jambon, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Jika sebelumnya kalian sudah pernah mengunjungi obyek wisata Puncak Gebang, maka untuk menuju ke Puncak Sosok ini kalian hanya tinggal berjalan sekitar 1 km kearah Utaranya saja
Peta lokasi Puncak Sosok
Kami mengawali perjalanan kali ini dengan start dari Basecamp Gowes Wisata sekitar pukul 7 pagi WIB menuju ke arah Selatan melewati Kantor PLN Gedongkuning dan masih terus ke Selatan menuju Kotagede sampai tiba di pertigaan Pasar Kotagede, dari pertigaan Pasar Kotagede tersebut kami lalu berbelok ke kiri (Timur) hingga tiba di perempatan Traffic light ringroad, dari perempatan ringroad kami masih terus mengarah ke Timur melewati Kantor Kecamatan Banguntapan sampai nantinya berbelok ke kanan (Selatan) pada sebuah pertigaan dimana jika kalian mengambil arah yang lurus maka akan mengarah ke Pasar Ngipik dan Embung Potorono.
Setelah berbelok ke kanan (Selatan) tersebut kalian hanya tinggal lurus saja mengikuti jalan Utama (Jalan Pleret) menuju ke arah Desa Bawuran, nantinya kalian akan melewati jembatan, dan tidak jauh dari jembatan tersebut kalian akan melihat sebuah perempatan, dari sini kalian masih terus lurus saja kearah Wonolelo, sesampainya di pertigaan yang menunjukkan arah Piyungan atau Wonolelo kalian ikuti jalan yang mengarah ke Wonolelo, terus saja sampai nantinya kalian melihat sebuah tebing yang sedang di tambang di sisi kiri kalian, sebenarnya disitu ada sebuah jalan masuk namun untuk lebih mudahnya maka kalian bisa terus sedikit ikuti jalan utama sampai melewati jembatan kecil dan jika kalian melihat Gudang pakan ternak UD. Tani Makmur disisi kiri jalan, maka tepat disampingnya ada sebuah komplek makam warga dan ada jalan masuk disampingnya, nah kalian bisa masuk melalui jalan tersebut, menyeberangi jembatan lagi lalu ambil arah ke kiri hingga tiba di pertigaan, dari situ kalian ambil yang ke kanan dan ikuti saja penunjuk jalan yang ada
Oya kondisi rute jalan menuju ke Puncak Sosok ini hanya bisa dilalui oleh satu buah kendaraan roda empat saja, sehingga jika kalian menggunakan mobil dan berpapasan maka salah satunya harus mengalah, namun supaya aman maka saya menyarankan untuk tidak menggunakan kendaraan roda 4, lebih baik kalian menggunakan kendaraan roda dua saja, untuk konturnya sendiri tentu saja dipastikan menanjak (namanya saja spot wisata Puncak Sosok), walaupun derajat kemiringannya tidak separah tanjakan obyek wisata Tebing Breksi namun tetap saja melelahkan bagi pesepeda, terlebih jalurnya sendiri juga lebih sempit dan sedikit berpasir
Setelah banyak adegan gowes ngicik dikombinasi dengan mendorong sepeda akhirnya kami sampai juga di lokasi wisata Puncak Sosok. Biasanya lokasi ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan pada akhir pekan, waktu terbaik untuk berkunjung ke spot wisata Puncak Sosok ini biasanya pada Sore hari karena dari atas ketinggian tempat ini kalian bisa menikmati indahnya pemandangan matahari yang mulai terbenam alias sunset
Sementara ini belum ada biaya retribusi resmi yang dikenakan untuk masuk ke lokasi ini, namun kalian bisa membantu warga sekitar dalam mengembangkan fasilitas disekitar lokasi dengan menyumbang seikhlasnya melalui kotak amal yang berada di depan area.
Upaya pengembangan dan pembenahan fasilitas pendukung disekitar lokasi wisata Puncak Sosok ini sampai sekarang masih terus dilakukan oleh warga sekitar, sejauh ini beberapa fasilitas pendukung yang telah tersedia di lokasi ini adalah pembangunan 3 buah Gazebo, 3 buah permainan jungkat-jungkit, 3 buah ayunan, beberapa kursi taman, Mushalla, 3 buah toilet umum, tempat-tempat sampah yang tersebar dibeberapa titik sekitar lokasi, kereta api mini untuk anak, Taman Kelinci dimana anak bisa belajar memberi makan langsung dan berinteraksi dengan kelinci, beberapa rumah burung merpati, layar besar untuk menikmati pertunjukan, beberapa warung-warung makan, spot foto dan stage act di pinggir tebing yang terbuat dari bambu, serta starting ramp untuk kegiatan bersepeda Downhill
Starting Ramp yntuk bersepeda Downhill
Kereta api mini untuk anak
Warung-warung makanan yang tersedia
Rumah-rumah burung merpati
Permainan jungkat-jungkit
Permainan ayunan
Spot foto di pinggir tebing
Tampak TPA Piyungan di bagian bawah spot Puncak Sosok
Dengan konsep sebuah Taman Hiburan Alam maka spot wisata Puncak Sosok ini sangat cocok untuk dijadikan salah satu pilihan tempat wisata bersama keluarga, hanya saja karena lokasinya yang berada di ketinggian dan merupakan area tebing maka pengawasan dari para orangtua kepada buah hatinya saat sedang rekreasi tetap mutlak diperlukan supaya semua pihak bisa merasa aman dan nyaman dalam menikmati suasana di tempat ini.
Nah sekarang bertambah lagi kan daftar destinasi pilihan liburan kalian selama di Yogyakarta, selamat berlibur dan tetap ikuti dan terus support petualangan goweswisata kami ya dengan cara mensubsribe dan like channel goweswisata di youtube dan Facebook :)
Monday, 9 July 2018
Tuesday, 3 July 2018
CURUG WATU SEWU
01 Juli 2018,
Kali ini petualangan goweswisata.com akan mencoba mengeksplorasi spot-spot wisata yang berada di sisi Selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul. Kira-kira spot wisata seperti apa saja ya yang ada namun belum terlalu populer di Kabupaten ini? yuk sama-sama kita cari tahu, let’s go :)
Sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dari Basecamp goweswisata menuju kearah Selatan melewati Perempatan Terminal Giwangan, dari situ perjalanan kami berdua masih terus menuju kearah Selatan melalui Jalan Imogiri Timur, suasana lalu lintas di sekitar ruas Jalan Imogiri Timur di pagi hari ini seperti biasa cukup padat, selain beberapa kendaraan bermotor milik pribadi Nampak juga beberapa rombongan bus-bus wisata yang mengarah ke Selatan, sepertinya tujuan mereka kalau tidak ke lokasi Makam Raja-raja di Imogiri pasti menuju ke lokasi wisata Kebun Buah Mangunan, sesekali kami juga berpapasan dengan rombongan pesepeda lokal yang melewati rute ini
Dengan kontur jalan yang cenderung lurus dan datar-datar saja maka perjalanan awal ini menjadi cukup mudah dan relatif cepat, entahlah apakah nanti kecepatannya akan sama pada saat pulang hehe…
Oya berdasarkan hasil googling pada malam sebelumnya maka di perjalanan kali ini kami sepakat akan kembali melanjutkan sebuah “perjalanan yang tertunda” beberapa waktu yang lalu, jadi begini kisahnya, sebenarnya sekitar Tahun 2013 lalu kami pernah mendengar jika ada sebuah lokasi air terjun alias Curug disekitar wilayah Imogiri, tepatnya di sekitar wilayah Giriloyo, namun keberadaan dari curug tersebut masih belum jelas dimana lokasi pastinya tetapi ancer-ancernya sih sebagian besar kami sudah mengerti, nah disaat kami sedang blusukan mencari keberadaan Curug tersebut tiba-tiba terjadilah masalah yang tidak diharapkan (ya iyalah mana ada orang yang mengharapkan terjadinya suatu masalah) yaitu rantai sepeda milik Agit tiba-tiba putus dan waktu itu saya juga sedang tidak membawa perlengkapan bengkel darurat, mana itu rantai putusnya pas dimedan menanjak pula, akhirnya demi kebaikan bersama perjalanan kala itu pun terpaksa kami hentikan, tertunda dan sempat terlupakan selama beberapa waktu hingga akhirnya kali ini kami berencana untuk menyelesaikannya
Peta menuju Curug Watu Sewu
Untuk menuju ke Giriloyo sendiri kami kembali melalui rute Jalan Imogiri Timur, nanti selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal belok ke kiri saja (untuk lebih mudahnya, selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal melihat sisi sebelah kiri jalan, nanti ada belokan ke kiri pertama, dari situ sebenarnya kalian juga sudah bisa menuju ke Giriloyo, namun kami memilih untuk belok ke kirinya pada belokan yang kedua dengan pertimbangan rutenya lebih mudah tidak terlalu banyak belok-belok)
Setelah belok kiri di belokan kedua nantinya kalian akan melewati bangunan Pustaka Desa Wukirsari, nah masih terus saja sampai nantinya kalian melihat percabangan jalan seperti ini
Bagi kalian yang kebetulan sedang berwisata dan mencari souvenir khas daerah maka di sekitar lokasi Desa Wisata ini kalian juga bisa sekalian mengunjunginya, disini banyak terdapat showroom maupun workshop tempat pembuatannya lho, barangkali kalian juga tertarik untuk belajar bagaimana cara pembuatannya, tinggal pilih saja mau ke Desa wisata yang mana, apakah ke Desa Wisata Pucung yang terkenal sebagai sentra produksi kerajinan wayang kulit, ataukah menuju ke Desa Wisata Giriloyo yang terkenal sebagai Sentra produksi kerajinan Batik Tulis, tetapi bagi kami berdua secara pribadi sebenarnya tepat dibawah papan petunjuk tersebut ada satu lagi penunjuk arah yang menarik minat kami yaitu adanya tulisan penunjuk arah menuju lokasi air terjun, walaupun disitu tidak ditulis apa nama air terjunnya tetapi sepertinya kali ini kami berada di “jalan yang benar”.
Kami pun kemudian mengambil percabangan jalan yang mengarah ke kanan alias menuju ke lokasi Sentra Batik Tulis Giriloyo, di sepanjang rute ini suasananya syahdu beneeerr, hamparan persawahan yang tersaji disepanjang sisi jalan, sesekali ditimpali kicauan burung yang beterbangan semakin menambah perasaan tenang disaat melalui rute ini
Disini kalian cukup mengikuti jalur aspal utama saja sampai nantinya kalian melewati gerbang masuk Desa Wukirsari, rutenya sedikit menanjak tetapi tidak terlalu ekstrim, dan akhirnya perjalanan kalian menuju ke lokasi air terjun akan semakin mendekat manakala kalian sudah tiba di lokasi Makam Sunan Cirebon (Pasarean Giriloyo) ini, tuh ada papan penunjuk arahnya, sayangnya bagi pengendara kendaraan bermotor roda 4 maka disinilah pemberhentian terakhir kalian untuk mencari lokasi parkir, dari sini kalian harus meneruskannya dengan berjalan kaki sampai menuju ke lokasi Curug atau Air Terjun 1000 Batu, sedangkan bagi pengendara kendaraan roda dua kalian masih bisa meneruskannya sampai ke atas dan memarkir kendaraan kalian di pekarangan rumah warga sekitar yang kini telah difungsikan sebagai lokasi parkir umum
Adegan nanjak dan dorong pastinya tetap ada pada episode kali ini hehe...:D
Dari lokasi parkir kendaraan kalian harus meneruskan sisa perjalanan menuju ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki dikarenakan medannya yang seperti ini, ayo semangat hitung-hitung olahraga sejenak, oya awas terpeleset karena di beberapa titik terdapat area yang sedikit licin.
Kalau kalian melihat percabangan seperti ini ambil yang arah lurus, nanjak
Nanti kalian akan melihat jalur pipa seperti ini, nah ambil arah ke kanan ikuti saja jalur pipanya
Dan akhirnya sampailah kami di lokasi Air Terjun Seribu Batu atau Curug Watu Sewu, dahulu dikenal juga dengan sebutan Curug Cengkehan dikarenakan lokasi Curug ini yang berada di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY
Disekitar lokasi Curug ini banyak terdapat bebatuan berukuran besar yang merupakan bebatuan hasil dari letusan Gunung Api Purba, dan mungkin karena banyaknya bebatuan tersebut pada akhirnya menjadikan lokasi air terjun ini sekarang disebut juga dengan sebutan Air Terjun 1000 Batu
Beberapa bebatuan berukuran besar yang saling bertindihan pada akhirnya menciptakan semacam Gua kecil seperti ini
Untuk menuju ke sumber aliran air terjunnya kita harus melangkah sedikit menuju ke bagian atas
Dan itu dia air terjunnya, aliran airnya tidak begitu deras dikarenakan cuaca yang memasuki musim kemarau, walaupun begitu air terjun ini tidak mengering karena sumber airnya yang berasal dari aliran air sungai
Dengan ketinggian air terjun sekitar 6 meter dan kedalaman pada kolam airnya sekitar sekitar 1 meter sepertinya jika memasuki musim penghujan nanti lokasi ini akan cukup asyik untuk dijadikan lokasi main air
Selain menikmati air terjunnya di sekitar lokasi ini terdapat beberapa spot yang cukup menarik untuk dijadikan lokasi berfoto lho, disini kalian bisa memanfaatkan bebatuan-bebatuan besar yang ada di lokasi ini untuk menciptakan karya fotografi
Sedikit tips bagi kalian yang hendak berwisata ke lokasi air terjun seribu batu ini :
- belum ada angkutan umum yang sampai benar-benar tiba dilokasi ini, sehingga dari Jembatan Karangsemut tadi kalian harus naik
ojek
- lebih baik mengenakan alas kaki berupa sandal gunung atau sepatu kets supaya aman
- membawa makanan dan minuman sendiri karena disekitar lokasi ini minim warung, namun jangan lupa untuk membawa pulang sisa
sampah kalian ya, jangan buang sampah sembarangan
- belum ada fasilitas toilet atau MCK disekitar lokasi, sehingga bagi kalian yang ingin nyebur atau basah-basahan maka kalian
bisa menumpang bilas dan bersih-bersih di kamar mandi milik warga sekitar
- jangan melakukan aksi vandalism yang alay seperti mencorat-coret bebatuan, membuang sampah sembarangan, dan berlaku asusila
ditempat ini
- belum ada biaya retribusi alias masih gratis, satu-satunya retribusi adalah biaya parkir kendaraan seikhlasnya (biasanya sih Rp
1.000,- untuk kendaraan roda dua)
- jangan kemalaman berada di sekitar lokasi ini karena belum ada penerangan disekitar jalur trekking
Nah kira-kira seperti itulah beberapa informasi mengenai lokasi wisata air terjun seribu batu di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kabupaten Bantul ini, semoga bisa membantu kalian semua yang sedang bingung menentukan enaknya ngebolang kemana yang murah meriah
Sampai jumpa di petualangan goweswisata.com berikutnya ya, kalau kalian suka dengan content-content kami maka kalian juga bisa mensubscribenya di akun Facebook Gowes Wisata atau di youtube channel kami :)
Kali ini petualangan goweswisata.com akan mencoba mengeksplorasi spot-spot wisata yang berada di sisi Selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul. Kira-kira spot wisata seperti apa saja ya yang ada namun belum terlalu populer di Kabupaten ini? yuk sama-sama kita cari tahu, let’s go :)
Sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dari Basecamp goweswisata menuju kearah Selatan melewati Perempatan Terminal Giwangan, dari situ perjalanan kami berdua masih terus menuju kearah Selatan melalui Jalan Imogiri Timur, suasana lalu lintas di sekitar ruas Jalan Imogiri Timur di pagi hari ini seperti biasa cukup padat, selain beberapa kendaraan bermotor milik pribadi Nampak juga beberapa rombongan bus-bus wisata yang mengarah ke Selatan, sepertinya tujuan mereka kalau tidak ke lokasi Makam Raja-raja di Imogiri pasti menuju ke lokasi wisata Kebun Buah Mangunan, sesekali kami juga berpapasan dengan rombongan pesepeda lokal yang melewati rute ini
Dengan kontur jalan yang cenderung lurus dan datar-datar saja maka perjalanan awal ini menjadi cukup mudah dan relatif cepat, entahlah apakah nanti kecepatannya akan sama pada saat pulang hehe…
Oya berdasarkan hasil googling pada malam sebelumnya maka di perjalanan kali ini kami sepakat akan kembali melanjutkan sebuah “perjalanan yang tertunda” beberapa waktu yang lalu, jadi begini kisahnya, sebenarnya sekitar Tahun 2013 lalu kami pernah mendengar jika ada sebuah lokasi air terjun alias Curug disekitar wilayah Imogiri, tepatnya di sekitar wilayah Giriloyo, namun keberadaan dari curug tersebut masih belum jelas dimana lokasi pastinya tetapi ancer-ancernya sih sebagian besar kami sudah mengerti, nah disaat kami sedang blusukan mencari keberadaan Curug tersebut tiba-tiba terjadilah masalah yang tidak diharapkan (ya iyalah mana ada orang yang mengharapkan terjadinya suatu masalah) yaitu rantai sepeda milik Agit tiba-tiba putus dan waktu itu saya juga sedang tidak membawa perlengkapan bengkel darurat, mana itu rantai putusnya pas dimedan menanjak pula, akhirnya demi kebaikan bersama perjalanan kala itu pun terpaksa kami hentikan, tertunda dan sempat terlupakan selama beberapa waktu hingga akhirnya kali ini kami berencana untuk menyelesaikannya
Peta menuju Curug Watu Sewu
Untuk menuju ke Giriloyo sendiri kami kembali melalui rute Jalan Imogiri Timur, nanti selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal belok ke kiri saja (untuk lebih mudahnya, selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal melihat sisi sebelah kiri jalan, nanti ada belokan ke kiri pertama, dari situ sebenarnya kalian juga sudah bisa menuju ke Giriloyo, namun kami memilih untuk belok ke kirinya pada belokan yang kedua dengan pertimbangan rutenya lebih mudah tidak terlalu banyak belok-belok)
Setelah belok kiri di belokan kedua nantinya kalian akan melewati bangunan Pustaka Desa Wukirsari, nah masih terus saja sampai nantinya kalian melihat percabangan jalan seperti ini
Bagi kalian yang kebetulan sedang berwisata dan mencari souvenir khas daerah maka di sekitar lokasi Desa Wisata ini kalian juga bisa sekalian mengunjunginya, disini banyak terdapat showroom maupun workshop tempat pembuatannya lho, barangkali kalian juga tertarik untuk belajar bagaimana cara pembuatannya, tinggal pilih saja mau ke Desa wisata yang mana, apakah ke Desa Wisata Pucung yang terkenal sebagai sentra produksi kerajinan wayang kulit, ataukah menuju ke Desa Wisata Giriloyo yang terkenal sebagai Sentra produksi kerajinan Batik Tulis, tetapi bagi kami berdua secara pribadi sebenarnya tepat dibawah papan petunjuk tersebut ada satu lagi penunjuk arah yang menarik minat kami yaitu adanya tulisan penunjuk arah menuju lokasi air terjun, walaupun disitu tidak ditulis apa nama air terjunnya tetapi sepertinya kali ini kami berada di “jalan yang benar”.
Kami pun kemudian mengambil percabangan jalan yang mengarah ke kanan alias menuju ke lokasi Sentra Batik Tulis Giriloyo, di sepanjang rute ini suasananya syahdu beneeerr, hamparan persawahan yang tersaji disepanjang sisi jalan, sesekali ditimpali kicauan burung yang beterbangan semakin menambah perasaan tenang disaat melalui rute ini
Disini kalian cukup mengikuti jalur aspal utama saja sampai nantinya kalian melewati gerbang masuk Desa Wukirsari, rutenya sedikit menanjak tetapi tidak terlalu ekstrim, dan akhirnya perjalanan kalian menuju ke lokasi air terjun akan semakin mendekat manakala kalian sudah tiba di lokasi Makam Sunan Cirebon (Pasarean Giriloyo) ini, tuh ada papan penunjuk arahnya, sayangnya bagi pengendara kendaraan bermotor roda 4 maka disinilah pemberhentian terakhir kalian untuk mencari lokasi parkir, dari sini kalian harus meneruskannya dengan berjalan kaki sampai menuju ke lokasi Curug atau Air Terjun 1000 Batu, sedangkan bagi pengendara kendaraan roda dua kalian masih bisa meneruskannya sampai ke atas dan memarkir kendaraan kalian di pekarangan rumah warga sekitar yang kini telah difungsikan sebagai lokasi parkir umum
Adegan nanjak dan dorong pastinya tetap ada pada episode kali ini hehe...:D
Dari lokasi parkir kendaraan kalian harus meneruskan sisa perjalanan menuju ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki dikarenakan medannya yang seperti ini, ayo semangat hitung-hitung olahraga sejenak, oya awas terpeleset karena di beberapa titik terdapat area yang sedikit licin.
Kalau kalian melihat percabangan seperti ini ambil yang arah lurus, nanjak
Nanti kalian akan melihat jalur pipa seperti ini, nah ambil arah ke kanan ikuti saja jalur pipanya
Dan akhirnya sampailah kami di lokasi Air Terjun Seribu Batu atau Curug Watu Sewu, dahulu dikenal juga dengan sebutan Curug Cengkehan dikarenakan lokasi Curug ini yang berada di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY
Disekitar lokasi Curug ini banyak terdapat bebatuan berukuran besar yang merupakan bebatuan hasil dari letusan Gunung Api Purba, dan mungkin karena banyaknya bebatuan tersebut pada akhirnya menjadikan lokasi air terjun ini sekarang disebut juga dengan sebutan Air Terjun 1000 Batu
Beberapa bebatuan berukuran besar yang saling bertindihan pada akhirnya menciptakan semacam Gua kecil seperti ini
Untuk menuju ke sumber aliran air terjunnya kita harus melangkah sedikit menuju ke bagian atas
Dan itu dia air terjunnya, aliran airnya tidak begitu deras dikarenakan cuaca yang memasuki musim kemarau, walaupun begitu air terjun ini tidak mengering karena sumber airnya yang berasal dari aliran air sungai
Dengan ketinggian air terjun sekitar 6 meter dan kedalaman pada kolam airnya sekitar sekitar 1 meter sepertinya jika memasuki musim penghujan nanti lokasi ini akan cukup asyik untuk dijadikan lokasi main air
Selain menikmati air terjunnya di sekitar lokasi ini terdapat beberapa spot yang cukup menarik untuk dijadikan lokasi berfoto lho, disini kalian bisa memanfaatkan bebatuan-bebatuan besar yang ada di lokasi ini untuk menciptakan karya fotografi
Sedikit tips bagi kalian yang hendak berwisata ke lokasi air terjun seribu batu ini :
- belum ada angkutan umum yang sampai benar-benar tiba dilokasi ini, sehingga dari Jembatan Karangsemut tadi kalian harus naik
ojek
- lebih baik mengenakan alas kaki berupa sandal gunung atau sepatu kets supaya aman
- membawa makanan dan minuman sendiri karena disekitar lokasi ini minim warung, namun jangan lupa untuk membawa pulang sisa
sampah kalian ya, jangan buang sampah sembarangan
- belum ada fasilitas toilet atau MCK disekitar lokasi, sehingga bagi kalian yang ingin nyebur atau basah-basahan maka kalian
bisa menumpang bilas dan bersih-bersih di kamar mandi milik warga sekitar
- jangan melakukan aksi vandalism yang alay seperti mencorat-coret bebatuan, membuang sampah sembarangan, dan berlaku asusila
ditempat ini
- belum ada biaya retribusi alias masih gratis, satu-satunya retribusi adalah biaya parkir kendaraan seikhlasnya (biasanya sih Rp
1.000,- untuk kendaraan roda dua)
- jangan kemalaman berada di sekitar lokasi ini karena belum ada penerangan disekitar jalur trekking
Nah kira-kira seperti itulah beberapa informasi mengenai lokasi wisata air terjun seribu batu di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kabupaten Bantul ini, semoga bisa membantu kalian semua yang sedang bingung menentukan enaknya ngebolang kemana yang murah meriah
Sampai jumpa di petualangan goweswisata.com berikutnya ya, kalau kalian suka dengan content-content kami maka kalian juga bisa mensubscribenya di akun Facebook Gowes Wisata atau di youtube channel kami :)
Thursday, 28 June 2018
CHAPTER 42; PAREPARE
Selamat datang di Kota Parepare, kali ini perjalanan goweswisata kami berdua telah sampai di salah satu kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang juga dikenal sebagai kota kelahiran mantan Presiden RI ke 3 yaitu Bapak Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.
Selama berada di Kota Parepare ini kami menetap di rumah salah seorang kenalan Mbak Darna yang juga merupakan seorang pesepeda lokal, nah berhubung ini adalah pertama kalinya bagi kami berdua menginjakkan kaki di kota ini maka yuk kita jelajahi keunikan dari kota Parepare ini
Secara geografis karakteristik dari Kota Parepare sendiri hampir sama seperti Kota Bima di Pulau Sumbawa, dimana pada bagian pinggir kota sebelah baratnya berbatasan langsung dengan pesisir pantai sehingga bagi kalian penikmat suasana laut tentunya tempat ini bakal menjadi salah satu lokasi favorit kalian untuk hangout bersama teman dan orang-orang terdekat, biasanya pada sore hari lokasi di sekitar pinggir pantai ini ramai dipenuhi oleh warga sekitar dan wisatawan yang ingin menikmati suasana sunset sembari berolahraga ataupun sekedar cuci mata dan berwisata kuliner
Namun yang menjadikan nama Kota Parepare ini semakin dikenal yaitu karena di Kota ini lahir seorang tokoh nasional yang juga merupakan mantan Presiden RI ke 3, yang mana Beliau juga merupakan seorang tokoh perintis kemajuan dunia dirgantara Indonesia melalui karya-karyanya, Beliau adalah Bapak Habibie, dan saking bangganya warga dikota ini terhadap salah satu putra terbaik daerah mereka tersebut maka tepat di Alun-alun kota yang juga berfungsi sebagai lapangan olahraga dan ruang terbuka publik ini dibangunlah sebuah Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, dimana kisah cinta Pak Habibie bersama Ibu Ainun semasa hidupnya sempat diangkat ke layar lebar beberapa waktu lalu
Tidak jauh dari Monumen Cinta Habibie Ainun juga terdapat obyek wisata sejarah lainnya yaitu Monumen Korban 40 ribu Jiwa yang dipersembahkan untuk para pahlawan kemerdekaan yang gugur ditembak oleh pasukan Wosterling di lokasi dimana sekarang monumen ini didirikan, peristiwanya sendiri dahulu terjadi pada Hari Kamis, Tanggal 14 Januari 1947, pukul 9 pagi. Melihat banyaknya jumlah korban jiwa yang jatuh pada peristiwa tersebut sungguh sebuah ironi jika saat ini kita justru melihat bagaimana sesama anak bangsa saling bertarung menjatuhkan satu sama lain hanya demi ego, harta, dan tahta, maka dari itu sebagai generasi penerus bangsa yang hanya tinggal mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini yuk kita sama-sama belajar menjadi manusia Indonesia yang lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi dengan permainan politik adu domba dari pihak-pihak lain yang mengatasnamakan agama serta faktor kesukuan, karena sesungguhnya Indonesia itu bukan hanya milik mereka yang mayoritas saja, melainkan Indonesia bisa tetap ada karena kesadaran dari masing-masing kita yang menyadari adanya semua perbedaan itu namun secara sukarela mengikatkan diri menjadi satu kesatuan dan saling melengkapi satu sama lain.
Setelah berkeliling melihat Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun dan Monumen Korban 40 ribu Jiwa, kini saatnya mengisi perut dulu, untuk urusan kuliner kalian tidak perlu kuatir karena di sekitar Monumen Korban 40 ribu Jiwa banyak terdapat tukang jajanan serta warung-warung makanan yang memiliki menu halal dengan harga yang terhitung cukup ramah di kantong, dan jika kalian ingin beribadah pun bagi kalian yang Muslim tidak perlu repot karena tepat di seberang Monumen Korban 40 ribu Jiwa terdapat sebuah Masjid yang cukup besar.
Sambil beristirahat dan menikmati jajanan kami pun mencoba sedikit mereview karakteristik kota ini, secara luas wilayah sebenarnya pusat-pusat keramaian dan aktivitas perekonomian warga sekitar banyak terpusat di sekitar ruas jalan utama yang berada di sekitar Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun serta yang berada disekitar kawasan Pelabuhan, namun dalam hal penataan dan suasana kotanya menurut kami sekilas hampir mirip dengan suasana di Kota Situbondo, Jawa Timur. Dan jangan salah walaupun disini kotanya tidak lebih besar atau seterkenal Kota Makassar namun dalam hal kebersihan kotanya maka Kota Parepare juga sempat meraih penghargaan Adipura lho
Oya bagi kalian penyuka wisata belanja ada satu lagi nih lokasi di Kota Parepare ini yang tidak boleh kalian lewatkan, yaitu Pasar Senggol. Eitttss jangan salah dulu walaupun namanya pasar namun pasar yang satu ini jauh berbeda dengan imej pasar yang biasanya identik dengan suasana kumuh, becek, kotor, dan bau. Di Pasar Senggol ini suasananya justru cukup tertata rapi dan nyaman, barang-barang yang dijajakan dipasar ini pun jenisnya cukup beragam, mulai dari pakaian anak, dewasa, pria dan wanita, mainan, aksesoris, sepatu, topi, bahkan sampai kuliner dan sayur mayur semua tersedia lengkap di tempat ini, namun jika kalian berencana berbelanja dipasar ini maka satu hal yang penting dan perlu kalian ketahui adalah jam buka atau operasional dari Pasar Senggol ini adalah mulai dari sore hari menjelang maghrib hingga malam hari, oleh karena itu jika kalian datang ke tempat ini pada pagi atau siang hari maka bisa dipastikan jika suasana di Pasar ini masih sepi alias belum buka, sedangkan untuk urusan harga maka seperti lazimnya sebuah pasar disini keahlian kalian dalam bernegosiasi harga sangat diperlukan
Kira-kira seperti itulah gambaran dan beberapa informasi mengenai Kota Parepare yang berhasil kami rangkum, semoga bisa membantu kalian semua dalam merencanakan perjalanan wisata ke tempat ini ya, dan jangan lupa untuk terus mengikuti kisah petualangan goweswisata kami berdua karena pada chapter berikutnya kita akan berwisata kematian jreng-jreeeng hehe… nah lho kok kematian dijadikan tempat wisata? Penasaran kira-kira kemana petualangan kami berikutnya? Nantikan di chapter berikutnya ya
Selama berada di Kota Parepare ini kami menetap di rumah salah seorang kenalan Mbak Darna yang juga merupakan seorang pesepeda lokal, nah berhubung ini adalah pertama kalinya bagi kami berdua menginjakkan kaki di kota ini maka yuk kita jelajahi keunikan dari kota Parepare ini
Secara geografis karakteristik dari Kota Parepare sendiri hampir sama seperti Kota Bima di Pulau Sumbawa, dimana pada bagian pinggir kota sebelah baratnya berbatasan langsung dengan pesisir pantai sehingga bagi kalian penikmat suasana laut tentunya tempat ini bakal menjadi salah satu lokasi favorit kalian untuk hangout bersama teman dan orang-orang terdekat, biasanya pada sore hari lokasi di sekitar pinggir pantai ini ramai dipenuhi oleh warga sekitar dan wisatawan yang ingin menikmati suasana sunset sembari berolahraga ataupun sekedar cuci mata dan berwisata kuliner
Namun yang menjadikan nama Kota Parepare ini semakin dikenal yaitu karena di Kota ini lahir seorang tokoh nasional yang juga merupakan mantan Presiden RI ke 3, yang mana Beliau juga merupakan seorang tokoh perintis kemajuan dunia dirgantara Indonesia melalui karya-karyanya, Beliau adalah Bapak Habibie, dan saking bangganya warga dikota ini terhadap salah satu putra terbaik daerah mereka tersebut maka tepat di Alun-alun kota yang juga berfungsi sebagai lapangan olahraga dan ruang terbuka publik ini dibangunlah sebuah Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, dimana kisah cinta Pak Habibie bersama Ibu Ainun semasa hidupnya sempat diangkat ke layar lebar beberapa waktu lalu
Tidak jauh dari Monumen Cinta Habibie Ainun juga terdapat obyek wisata sejarah lainnya yaitu Monumen Korban 40 ribu Jiwa yang dipersembahkan untuk para pahlawan kemerdekaan yang gugur ditembak oleh pasukan Wosterling di lokasi dimana sekarang monumen ini didirikan, peristiwanya sendiri dahulu terjadi pada Hari Kamis, Tanggal 14 Januari 1947, pukul 9 pagi. Melihat banyaknya jumlah korban jiwa yang jatuh pada peristiwa tersebut sungguh sebuah ironi jika saat ini kita justru melihat bagaimana sesama anak bangsa saling bertarung menjatuhkan satu sama lain hanya demi ego, harta, dan tahta, maka dari itu sebagai generasi penerus bangsa yang hanya tinggal mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini yuk kita sama-sama belajar menjadi manusia Indonesia yang lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi dengan permainan politik adu domba dari pihak-pihak lain yang mengatasnamakan agama serta faktor kesukuan, karena sesungguhnya Indonesia itu bukan hanya milik mereka yang mayoritas saja, melainkan Indonesia bisa tetap ada karena kesadaran dari masing-masing kita yang menyadari adanya semua perbedaan itu namun secara sukarela mengikatkan diri menjadi satu kesatuan dan saling melengkapi satu sama lain.
Setelah berkeliling melihat Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun dan Monumen Korban 40 ribu Jiwa, kini saatnya mengisi perut dulu, untuk urusan kuliner kalian tidak perlu kuatir karena di sekitar Monumen Korban 40 ribu Jiwa banyak terdapat tukang jajanan serta warung-warung makanan yang memiliki menu halal dengan harga yang terhitung cukup ramah di kantong, dan jika kalian ingin beribadah pun bagi kalian yang Muslim tidak perlu repot karena tepat di seberang Monumen Korban 40 ribu Jiwa terdapat sebuah Masjid yang cukup besar.
Sambil beristirahat dan menikmati jajanan kami pun mencoba sedikit mereview karakteristik kota ini, secara luas wilayah sebenarnya pusat-pusat keramaian dan aktivitas perekonomian warga sekitar banyak terpusat di sekitar ruas jalan utama yang berada di sekitar Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun serta yang berada disekitar kawasan Pelabuhan, namun dalam hal penataan dan suasana kotanya menurut kami sekilas hampir mirip dengan suasana di Kota Situbondo, Jawa Timur. Dan jangan salah walaupun disini kotanya tidak lebih besar atau seterkenal Kota Makassar namun dalam hal kebersihan kotanya maka Kota Parepare juga sempat meraih penghargaan Adipura lho
Oya bagi kalian penyuka wisata belanja ada satu lagi nih lokasi di Kota Parepare ini yang tidak boleh kalian lewatkan, yaitu Pasar Senggol. Eitttss jangan salah dulu walaupun namanya pasar namun pasar yang satu ini jauh berbeda dengan imej pasar yang biasanya identik dengan suasana kumuh, becek, kotor, dan bau. Di Pasar Senggol ini suasananya justru cukup tertata rapi dan nyaman, barang-barang yang dijajakan dipasar ini pun jenisnya cukup beragam, mulai dari pakaian anak, dewasa, pria dan wanita, mainan, aksesoris, sepatu, topi, bahkan sampai kuliner dan sayur mayur semua tersedia lengkap di tempat ini, namun jika kalian berencana berbelanja dipasar ini maka satu hal yang penting dan perlu kalian ketahui adalah jam buka atau operasional dari Pasar Senggol ini adalah mulai dari sore hari menjelang maghrib hingga malam hari, oleh karena itu jika kalian datang ke tempat ini pada pagi atau siang hari maka bisa dipastikan jika suasana di Pasar ini masih sepi alias belum buka, sedangkan untuk urusan harga maka seperti lazimnya sebuah pasar disini keahlian kalian dalam bernegosiasi harga sangat diperlukan
Kira-kira seperti itulah gambaran dan beberapa informasi mengenai Kota Parepare yang berhasil kami rangkum, semoga bisa membantu kalian semua dalam merencanakan perjalanan wisata ke tempat ini ya, dan jangan lupa untuk terus mengikuti kisah petualangan goweswisata kami berdua karena pada chapter berikutnya kita akan berwisata kematian jreng-jreeeng hehe… nah lho kok kematian dijadikan tempat wisata? Penasaran kira-kira kemana petualangan kami berikutnya? Nantikan di chapter berikutnya ya
Wednesday, 20 June 2018
CHAPTER 41; PAK DALEH
Setelah sebelumnya kami menetap cukup lama dan menikmati pola aktivitas sehari-hari masyarakat di Kota Makassar, tepatnya di wilayah Panaikang, maka hari ini sudah waktunya bagi kami untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah Utara Pulau Sulawesi
Setidaknya selama kami berada di Kota Makassar ini banyak pengalaman baru yang kami dapatkan, disini kami belajar untuk beradaptasi dengan budaya baru yang berbeda dengan tempat asal kami, mencicipi aneka jajanan khas dan wisata kulinernya, melihat dan mencoba meresapi nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa melalui obyek cagar budaya yang banyak tersebar disekitar wilayah ini, semua itu pada akhirnya membuka wawasan dan cara pandang kami terhadap bangsa ini, tentang bagaimana besarnya Indonesia baik itu dari segi luas wilayah maupun dari segi keanekaragaman budaya, sumberdaya alam, agama, dan lainnya. Setiap wilayahnya jelas memiliki perbedaan dan terpisah secara geografis namun entah bagaimana sejak dahulu hingga sampai saat ini kita semua masih saling menyatu, secara sadar dan sukarela kita saling mengikatkan diri satu sama lainnya dibawah satu nama yaitu Indonesia
Mungkin Indonesia bukanlah sebuah bangsa yang sempurna diantara sekian banyak bangsa dan Negara-negara lainnya di dunia, namun yang pasti Indonesia itu luar biasa, “maybe Indonesia is not perfect but Indonesia is awesome”, karena dari sekian banyak perbedaan tersebut kita sepakat untuk berikrar dalam persatuan dan menjadikan perbedaan itu untuk saling menguatkan satu sama lainnya, percaya atau tidak tetapi itulah faktanya, oleh karena itulah banyak pihak-pihak lain baik dari dalam maupun luar yang berusaha untuk mencerai-beraikan persatuan kita melalui politik adu domba yang ujung-ujungnya semua itu semata-mata untuk kekuasaan, karena pihak-pihak tersebut secara sadar mengakui dan takut jika bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri, maka dari itu sebagai generasi penerus dan putra-putri terbaik bangsa ini kita harus menjadi individu yang cerdas supaya tidak mudah terhasut dengan politik adu domba melalui isu atau sentimen-sentimen suku, agama, dan ras. Belajarlah dari sejarah perjuangan bangsa ini, ambil semangat kebangsaannya dan jangan pernah mengulangi kesalahannya
Setelah proses packing selesai, kami pun mengembalikan kunci kamar kepada pemilik kost serta berpamitan. Jalur dan kondisi aspal disekitar wilayah Panaikang ini sepertinya termasuk yang berkualitas bagus karena walaupun kami hanya mengayuh pelan tetapi putaran roda yang melintas dijalan raya ini terasa sangat enteng sekali, alhasil tanpa terasa kami pun sudah melewati wilayah Sudiang dan Maros
Selepas wilayah Maros cuaca mendung yang menggelayut akhirnya berubah menjadi hujan, kami pun menepi dan berteduh di salah satu bangunan kios yang terbengkalai, namun melihat kondisi awan yang sepertinya termasuk kategori hujan awet dan merata ini kami pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ketika hujan mulai mereda menjadi hanya tinggal gerimis kecil
Pemandangan di sepanjang rute selepas wilayah Maros ini sekilas mirip dengan rute Pantura jaman dahulu, medan aspal sesekali berganti dengan lintasan beton cor, pemandangan di sepanjang sisi jalan kebanyakan hanya berupa perkebunan, tanah kosong, dan rumah-rumah panggung milik warga, dengan jalur yang didominasi hanya lurus lempeng dan datar ini tak urung membuat kami berdua menjadi agak bosan dan mengantuk terlebih karena pemandangan di sepanjang sisi jalannya juga kurang menarik
Perlahan kami pun mulai memasuki gapura perbatasan wilayah Pangkep alias Pangkajene Kepulauan, kenapa dinamakan kepulauan? Karena disekitar wilayah Pangkajene ini terdapat beberapa pulau-pulau kecil di bagian pesisir pantainya, kami pun sempat melihat adanya dermaga-dermaga kecil milik warga sekitar yang menawarkan wisata perairan menggunakan perahu nelayan untuk berkeliling melintasi pulau-pulau kecil tersebut
Menjelang Adzan Dzuhur kami pun berhenti sejenak di sebuah Masjid yang berada di pinggir jalan, selain untuk beristirahat dan beribadah kami juga memanfaatkan waktu untuk mengisi perut sebelum kembali melanjutkan perjalanan, cuaca yang sedang “galau” alias gerimis-reda-gerimis-reda membuat kami berkali-kali memakai dan melepas jas hujan, tak jauh dari lokasi Masjid ini sebenarnya ada sebuah wahana rekreasi keluarga atau Theme Park namun saya lupa apa namanya, yang pasti di wahana ini saya melihat adanya jalur roller coaster dan bianglala, tapi kok sepi ya pengunjungnya, apa mungkin bukanya hanya pada malam hari saja
Sekitar pukul 1 siang kami kembali melanjutkan perjalanan kembali menyusuri jalur utama yang lurus-lurus saja, mungkin karena sebelumnya kami telah berkali-kali diguyur hujan dan kondisi cuaca yang tidak jelas “hujan-berhenti-hujan-berhenti” maka pada etape kali ini irama kayuhan sepeda kami berdua mulai menurun
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul tiga sore, Adzan Ashar pun mulai berkumandang melalui pengeras suara yang ada di surau-surau sekitar, saya pun mengecek jarak yang tersisa untuk menuju ke Kota Pare-pare, hmmm…jaraknya masih sekitar 80km lagi, sepertinya agak susah untuk dipaksakan selesai dalam satu hari ini karena Agit tampaknya sudah kelelahan (bagi saya pribadi sebenarnya jarak 80km ini masih bisa dipaksakan selesai dalam satu hari ini, namun karena perjalanan ini adalah perjalanan kami berdua maka saya pun enggan untuk memaksakannya daripada malah ngadat nantinya, bisa repot cuy)
Ketika sedang beristirahat inilah tiba-tiba kami didatangi oleh seorang bapak pengendara motor yang bertanya darimana dan hendak kemana tujuan kami, ketika kami menjawab hendak ke Pare-pare namun untuk hari ini sepertinya kami akan mencari tempat beristirahat seperti kantor polisi atau masjid atau pekarangan rumah warga ia pun menawarkan kepada kami untuk beristirahat dirumahnya yang kebetulan hanya berjarak sekitar 2km dari tempat kami beristirahat saat ini, dan untuk sesaat situasi canggung pun terjadi mengingat sebelumnya kami pernah punya pengalaman buruk di Pulau Lombok ketika ada seorang warga yang menawarkan tempatnya untuk beristirahat dengan harga sewa yang kebangetan, “ayo kalau mau ke tempat saya saja, rumah saya dekat kok hanya sekitar 2km dari sini, nanti ikuti motor saya saja”, kata sang Bapak pengendara motor yang belakangan kami ketahui bernama Pak Daleh ini, “eehhh ini beneran ga apa-apa pak kalau kami menumpang nginap sehari saja?”, tanya saya, “tidak apa-apa kok, mau menumpang sehari atau dua hari juga boleh”, jawab Pak Daleh, “oya Pak sebelumnya mohon maaf kalau kami kurang sopan tapi kami mau nanya ini nginepnya gratis atau kami harus bayar ya? Biar sama-sama enak saja”, tanya saya, “nginep mah gratis kok, saya ada rumah juga biasanya dipakai untuk nginep para pekerja ladang kalau pas lagi musim panen, nah karena bulan ini belum musim panen jadi sekarang tempatnya kosong, cuma ada saya berdua dengan ibu saya saja”, jawabnya
Akhirnya kami berdua pun sepakat untuk menumpang menginap hari ini di kediaman Pak Daleh, beliau pun memandu kami dengan sepeda motornya sampai tiba dirumahnya, lingkungan di sekitar kediaman Pak Daleh mayoritas warganya adalah petani, tidak jauh dari rumahnya juga terdapat lahan pertanian milik warga yang terhampar luas, rumah-rumah milik warga yang ada disekitar wilayah ini kebanyakan berupa rumah panggung dengan dinding berbahan seng, pada bagian bawah bangunan biasanya digunakan untuk garasi motor merangkap gudang peralatan pertanian, sedangkan untuk kamar mandi berada tepat di bagian depan pekarangannya
Kami pun menaruh semua barang bawaan kami di ruang tamu dekat dengan ruang televisi, sedangkan untuk sepeda-sepeda cukup ditaruh di garasi bilik bambu diruang bawah, “disini kita tidak ada yang masak karena orangnya hanya sedikit, jadi kebanyakan untuk makanan kita beli diluar, tapi kalau kalian mau memasak disitu ada dapur dan kompor juga bisa dipakai”, kata Pak Daleh
Setelah mandi dan bersih-bersih kami pun minta izin untuk ke depan sebentar mencari makan malam, satu-satunya warung makanan terdapat persis di seberang ruas jalan utama, sehingga kami harus berjalan kaki keluar dari wilayah perkampungan warga dulu, sambil menyantap makanan dengan menu seadanya yang disesuaikan dengan budget kami berdua, saya pun mendiskusikan rencana esok hari menuju Pare-pare
Seusai makan dan kembali ke kediaman Pak Daleh, saya pun berbincang-bincang dengan Pak Daleh yang “sepertinya sudah kecanduan merokok karena tidak berhenti-henti alias menyambung terus begitu rokok pertama habis langsung nyambung ke rokok berikutnya”, bagi saya yang notabene anti dengan asap dan aroma rokok ini tak urung perbincangan kali ini terasa cukup menyiksa mata dan pernapasan
“Dulu rumah ini belum besar seperti sekarang, saya kerja serabutan sampai keluar pulau dan nabung pelan-pelan kemudian pulang kampung untuk mengelola sawah, dan setelah rumah ini mulai jadi saya pun berpikir untuk apa rumah besar-besar kalau penghuninya hanya sedikit dan akhirnya rumah jadi terasa kosong, makanya sekarang setiap musim panen banyak pekerja-pekerja ladang dari luar wilayah ini yang menumpang nginap dirumah saya, toh mereka juga hanya pekerja musiman saja di sawah ini, daripada rumah besar tapi tidak bermanfaat lebih baik saya buka rumah ini bagi siapapun yang sedang membutuhkan, saya mungkin bukan orang pintar atau orang kaya tapi setidaknya saya bisa membantu dengan apa yang saya punya disisa umur saya”, ujar Pak Daleh ketika menuturkan awal mula ia membuka kediamannya bagi siapapun yang membutuhkan
Bahkan ketika kami berdua tadi sedang mencari warung makanan pun Pak Daleh bercerita jika tetangga-tetangganya banyak yang menanyakan mengenai siapa kami karena mereka melihat kedatangan kami berdua yang memakai sepeda kayuh dan membawa begitu banyak barang bawaan, kebanyakan dari mereka merasa was-was dan curiga untuk membuka rumahnya bagi orang asing yang tidak mereka kenal sebelumnya, sebenarnya saya pun memaklumi dan merasa pemikiran tersebut cukup wajar apalagi mengingat sebelumnya cukup banyak isu teroris yang berkembang di sekitar wilayah Sulawesi khususnya di daerah Poso, namun Pak Daleh menjelaskan kepada mereka semua jika kami berdua berasal dari Yogyakarta dan mengendarai sepeda kayuh selama beberapa bulan menuju beberapa pelosok nusantara untuk menulis pengalaman perjalanan, bagi beberapa orang pada umumnya ide perjalanan keliling nusantara saja sudah terasa aneh, apalagi jika berkelilingnya menggunakan sepeda kayuh, mungkin mereka menyangka jika kami berdua sudah gila hehe…namun biarlah toh semua penemuan-penemuan dan ide-ide hebat mayoritas berawal dari pemikiran orang-orang yang dianggap gila oleh orang-orang disekitarnya
Menjelang malam sambil menonton siaran televisi (yang menurut kami kualitas acara yang ditayangkannya semakin hari semakin menurun kualitasnya) saya pun mulai berpikir bahwa ternyata nilai-nilai kemanusiaan justru banyak saya dapatkan dari orang-orang yang secara tampilan fisik atau materi malah berasal dari mereka-mereka yang hidup jauh dari peradaban kota besar, dari mereka yang secara profesi bukanlah berasal dari profesi yang penuh prestise dan gemerlap, bukan dari mereka yang menempuh jenjang akademis dan meraih gelar berderet, melainkan justru dari mereka yang telah memiliki dan memahami arti hidupnya, dari mereka yang mengerti bahwa tidak perlu menjadi sebuah pohon besar yang menjulang sampai kelangit namun tidak bermanfaat bagi sekitarnya, melainkan cukup menjadi pohon yang walau tidak terlalu tinggi namun daunnya bisa meneduhi siapapun yang berada dibawahnya, batangnya bisa memberi oksigen dan kesejukan bagi siapapun yang bersender didekatnya, bagi mereka yang memiliki pemahaman bahwa selama hidupnya sebisa mungkin mereka menjadi layaknya mata air yang memberi penghidupan bagi sekitarnya bahkan walau nantinya mereka sudah tidak ada lagi, bukan malah menghasilkan air mata dari orang-orang yang dicurangi atau direnggut paksa apa yang telah menjadi haknya
Pendidikan bukannya tidak penting, namun jika sistem pendidikan yang dibangun hanya untuk mencetak manusia-manusia pintar yang nantinya minterin/menipu yang lain lalu apa gunanya, hanya untuk mencetak sarjana-sarjana hukum yang nantinya malah menggunakan kelemahan dari sistem hukum untuk menekan yang lemah, mencetak sarjana kedokteran untuk menciptakan virus baru kemudian membuat vaksinnya untuk dijual dengan harga tinggi, mencetak sarjana ekonomi yang menghalalkan dan meminimalkan modal sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, jika sudah seperti itu lalu apa makna dari deretan gelar akademis yang dicapai? mungkin benar seperti apa yang sedari dulu diucapkan bahkan ditulis pada penggalan lirik lagu kebangsaan kita bahwa untuk menciptakan dan menjadi sebuah bangsa yang besar maka sebaiknya kita harus membangun jiwanya terlebih dahulu sebelum membangun badannya, membenahi mentalitas manusianya terlebih dahulu sebelum berlomba meninggikan dan memoles tampilan luarnya, ahhh… di malam yang semakin larut ini justru pendidikan yang berharga kembali saya dapatkan di tempat ini, dari seorang Petani yang bernama Pak Daleh, semoga sehat selalu ya Pak (kalau bisa kurangin merokoknya) dan bisa terus menyebarkan kebaikan-kebaikan lainnya
Menjelang pagi rutinitas perjalanan yang biasa kami jalani mulai kembali kami lakukan, dari mulai mandi hingga proses packing serta berpamitan kepada Pak Daleh, hari ini kami hanya tinggal menghabiskan sisa jarak tempuh 80km menuju ke Kota Pare-pare, pemandangan dan kondisi rute pun tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, hal ini membuat hari ini kami jarang berhenti untuk berfoto, menurut rencana setibanya kami di Kota Pare-pare nanti akan ada beberapa teman pesepeda kenalan dari Mbak Darna yang akan menjemput dan menyediakan rumah singgah sementara yang bisa kami gunakan selama kami berada di Kota Pare-pare, dan akhirnya menjelang sore hari pun sampailah kami di gerbang perbatasan masuk menuju wilayah Kota Pare-pare, sebuah kota yang menjadi tempat kelahiran Presiden Republik Indonesia ke-3 yaitu Bapak Habibie, ada keunikan apa sajakah di Kota Pare-pare ini? tetap ikuti petualangan goweswisata kami berdua pada chapter berikutnya ya
Setidaknya selama kami berada di Kota Makassar ini banyak pengalaman baru yang kami dapatkan, disini kami belajar untuk beradaptasi dengan budaya baru yang berbeda dengan tempat asal kami, mencicipi aneka jajanan khas dan wisata kulinernya, melihat dan mencoba meresapi nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa melalui obyek cagar budaya yang banyak tersebar disekitar wilayah ini, semua itu pada akhirnya membuka wawasan dan cara pandang kami terhadap bangsa ini, tentang bagaimana besarnya Indonesia baik itu dari segi luas wilayah maupun dari segi keanekaragaman budaya, sumberdaya alam, agama, dan lainnya. Setiap wilayahnya jelas memiliki perbedaan dan terpisah secara geografis namun entah bagaimana sejak dahulu hingga sampai saat ini kita semua masih saling menyatu, secara sadar dan sukarela kita saling mengikatkan diri satu sama lainnya dibawah satu nama yaitu Indonesia
Mungkin Indonesia bukanlah sebuah bangsa yang sempurna diantara sekian banyak bangsa dan Negara-negara lainnya di dunia, namun yang pasti Indonesia itu luar biasa, “maybe Indonesia is not perfect but Indonesia is awesome”, karena dari sekian banyak perbedaan tersebut kita sepakat untuk berikrar dalam persatuan dan menjadikan perbedaan itu untuk saling menguatkan satu sama lainnya, percaya atau tidak tetapi itulah faktanya, oleh karena itulah banyak pihak-pihak lain baik dari dalam maupun luar yang berusaha untuk mencerai-beraikan persatuan kita melalui politik adu domba yang ujung-ujungnya semua itu semata-mata untuk kekuasaan, karena pihak-pihak tersebut secara sadar mengakui dan takut jika bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri, maka dari itu sebagai generasi penerus dan putra-putri terbaik bangsa ini kita harus menjadi individu yang cerdas supaya tidak mudah terhasut dengan politik adu domba melalui isu atau sentimen-sentimen suku, agama, dan ras. Belajarlah dari sejarah perjuangan bangsa ini, ambil semangat kebangsaannya dan jangan pernah mengulangi kesalahannya
Setelah proses packing selesai, kami pun mengembalikan kunci kamar kepada pemilik kost serta berpamitan. Jalur dan kondisi aspal disekitar wilayah Panaikang ini sepertinya termasuk yang berkualitas bagus karena walaupun kami hanya mengayuh pelan tetapi putaran roda yang melintas dijalan raya ini terasa sangat enteng sekali, alhasil tanpa terasa kami pun sudah melewati wilayah Sudiang dan Maros
Selepas wilayah Maros cuaca mendung yang menggelayut akhirnya berubah menjadi hujan, kami pun menepi dan berteduh di salah satu bangunan kios yang terbengkalai, namun melihat kondisi awan yang sepertinya termasuk kategori hujan awet dan merata ini kami pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ketika hujan mulai mereda menjadi hanya tinggal gerimis kecil
Pemandangan di sepanjang rute selepas wilayah Maros ini sekilas mirip dengan rute Pantura jaman dahulu, medan aspal sesekali berganti dengan lintasan beton cor, pemandangan di sepanjang sisi jalan kebanyakan hanya berupa perkebunan, tanah kosong, dan rumah-rumah panggung milik warga, dengan jalur yang didominasi hanya lurus lempeng dan datar ini tak urung membuat kami berdua menjadi agak bosan dan mengantuk terlebih karena pemandangan di sepanjang sisi jalannya juga kurang menarik
Perlahan kami pun mulai memasuki gapura perbatasan wilayah Pangkep alias Pangkajene Kepulauan, kenapa dinamakan kepulauan? Karena disekitar wilayah Pangkajene ini terdapat beberapa pulau-pulau kecil di bagian pesisir pantainya, kami pun sempat melihat adanya dermaga-dermaga kecil milik warga sekitar yang menawarkan wisata perairan menggunakan perahu nelayan untuk berkeliling melintasi pulau-pulau kecil tersebut
Menjelang Adzan Dzuhur kami pun berhenti sejenak di sebuah Masjid yang berada di pinggir jalan, selain untuk beristirahat dan beribadah kami juga memanfaatkan waktu untuk mengisi perut sebelum kembali melanjutkan perjalanan, cuaca yang sedang “galau” alias gerimis-reda-gerimis-reda membuat kami berkali-kali memakai dan melepas jas hujan, tak jauh dari lokasi Masjid ini sebenarnya ada sebuah wahana rekreasi keluarga atau Theme Park namun saya lupa apa namanya, yang pasti di wahana ini saya melihat adanya jalur roller coaster dan bianglala, tapi kok sepi ya pengunjungnya, apa mungkin bukanya hanya pada malam hari saja
Sekitar pukul 1 siang kami kembali melanjutkan perjalanan kembali menyusuri jalur utama yang lurus-lurus saja, mungkin karena sebelumnya kami telah berkali-kali diguyur hujan dan kondisi cuaca yang tidak jelas “hujan-berhenti-hujan-berhenti” maka pada etape kali ini irama kayuhan sepeda kami berdua mulai menurun
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul tiga sore, Adzan Ashar pun mulai berkumandang melalui pengeras suara yang ada di surau-surau sekitar, saya pun mengecek jarak yang tersisa untuk menuju ke Kota Pare-pare, hmmm…jaraknya masih sekitar 80km lagi, sepertinya agak susah untuk dipaksakan selesai dalam satu hari ini karena Agit tampaknya sudah kelelahan (bagi saya pribadi sebenarnya jarak 80km ini masih bisa dipaksakan selesai dalam satu hari ini, namun karena perjalanan ini adalah perjalanan kami berdua maka saya pun enggan untuk memaksakannya daripada malah ngadat nantinya, bisa repot cuy)
Ketika sedang beristirahat inilah tiba-tiba kami didatangi oleh seorang bapak pengendara motor yang bertanya darimana dan hendak kemana tujuan kami, ketika kami menjawab hendak ke Pare-pare namun untuk hari ini sepertinya kami akan mencari tempat beristirahat seperti kantor polisi atau masjid atau pekarangan rumah warga ia pun menawarkan kepada kami untuk beristirahat dirumahnya yang kebetulan hanya berjarak sekitar 2km dari tempat kami beristirahat saat ini, dan untuk sesaat situasi canggung pun terjadi mengingat sebelumnya kami pernah punya pengalaman buruk di Pulau Lombok ketika ada seorang warga yang menawarkan tempatnya untuk beristirahat dengan harga sewa yang kebangetan, “ayo kalau mau ke tempat saya saja, rumah saya dekat kok hanya sekitar 2km dari sini, nanti ikuti motor saya saja”, kata sang Bapak pengendara motor yang belakangan kami ketahui bernama Pak Daleh ini, “eehhh ini beneran ga apa-apa pak kalau kami menumpang nginap sehari saja?”, tanya saya, “tidak apa-apa kok, mau menumpang sehari atau dua hari juga boleh”, jawab Pak Daleh, “oya Pak sebelumnya mohon maaf kalau kami kurang sopan tapi kami mau nanya ini nginepnya gratis atau kami harus bayar ya? Biar sama-sama enak saja”, tanya saya, “nginep mah gratis kok, saya ada rumah juga biasanya dipakai untuk nginep para pekerja ladang kalau pas lagi musim panen, nah karena bulan ini belum musim panen jadi sekarang tempatnya kosong, cuma ada saya berdua dengan ibu saya saja”, jawabnya
Akhirnya kami berdua pun sepakat untuk menumpang menginap hari ini di kediaman Pak Daleh, beliau pun memandu kami dengan sepeda motornya sampai tiba dirumahnya, lingkungan di sekitar kediaman Pak Daleh mayoritas warganya adalah petani, tidak jauh dari rumahnya juga terdapat lahan pertanian milik warga yang terhampar luas, rumah-rumah milik warga yang ada disekitar wilayah ini kebanyakan berupa rumah panggung dengan dinding berbahan seng, pada bagian bawah bangunan biasanya digunakan untuk garasi motor merangkap gudang peralatan pertanian, sedangkan untuk kamar mandi berada tepat di bagian depan pekarangannya
Kami pun menaruh semua barang bawaan kami di ruang tamu dekat dengan ruang televisi, sedangkan untuk sepeda-sepeda cukup ditaruh di garasi bilik bambu diruang bawah, “disini kita tidak ada yang masak karena orangnya hanya sedikit, jadi kebanyakan untuk makanan kita beli diluar, tapi kalau kalian mau memasak disitu ada dapur dan kompor juga bisa dipakai”, kata Pak Daleh
Setelah mandi dan bersih-bersih kami pun minta izin untuk ke depan sebentar mencari makan malam, satu-satunya warung makanan terdapat persis di seberang ruas jalan utama, sehingga kami harus berjalan kaki keluar dari wilayah perkampungan warga dulu, sambil menyantap makanan dengan menu seadanya yang disesuaikan dengan budget kami berdua, saya pun mendiskusikan rencana esok hari menuju Pare-pare
Seusai makan dan kembali ke kediaman Pak Daleh, saya pun berbincang-bincang dengan Pak Daleh yang “sepertinya sudah kecanduan merokok karena tidak berhenti-henti alias menyambung terus begitu rokok pertama habis langsung nyambung ke rokok berikutnya”, bagi saya yang notabene anti dengan asap dan aroma rokok ini tak urung perbincangan kali ini terasa cukup menyiksa mata dan pernapasan
“Dulu rumah ini belum besar seperti sekarang, saya kerja serabutan sampai keluar pulau dan nabung pelan-pelan kemudian pulang kampung untuk mengelola sawah, dan setelah rumah ini mulai jadi saya pun berpikir untuk apa rumah besar-besar kalau penghuninya hanya sedikit dan akhirnya rumah jadi terasa kosong, makanya sekarang setiap musim panen banyak pekerja-pekerja ladang dari luar wilayah ini yang menumpang nginap dirumah saya, toh mereka juga hanya pekerja musiman saja di sawah ini, daripada rumah besar tapi tidak bermanfaat lebih baik saya buka rumah ini bagi siapapun yang sedang membutuhkan, saya mungkin bukan orang pintar atau orang kaya tapi setidaknya saya bisa membantu dengan apa yang saya punya disisa umur saya”, ujar Pak Daleh ketika menuturkan awal mula ia membuka kediamannya bagi siapapun yang membutuhkan
Bahkan ketika kami berdua tadi sedang mencari warung makanan pun Pak Daleh bercerita jika tetangga-tetangganya banyak yang menanyakan mengenai siapa kami karena mereka melihat kedatangan kami berdua yang memakai sepeda kayuh dan membawa begitu banyak barang bawaan, kebanyakan dari mereka merasa was-was dan curiga untuk membuka rumahnya bagi orang asing yang tidak mereka kenal sebelumnya, sebenarnya saya pun memaklumi dan merasa pemikiran tersebut cukup wajar apalagi mengingat sebelumnya cukup banyak isu teroris yang berkembang di sekitar wilayah Sulawesi khususnya di daerah Poso, namun Pak Daleh menjelaskan kepada mereka semua jika kami berdua berasal dari Yogyakarta dan mengendarai sepeda kayuh selama beberapa bulan menuju beberapa pelosok nusantara untuk menulis pengalaman perjalanan, bagi beberapa orang pada umumnya ide perjalanan keliling nusantara saja sudah terasa aneh, apalagi jika berkelilingnya menggunakan sepeda kayuh, mungkin mereka menyangka jika kami berdua sudah gila hehe…namun biarlah toh semua penemuan-penemuan dan ide-ide hebat mayoritas berawal dari pemikiran orang-orang yang dianggap gila oleh orang-orang disekitarnya
Menjelang malam sambil menonton siaran televisi (yang menurut kami kualitas acara yang ditayangkannya semakin hari semakin menurun kualitasnya) saya pun mulai berpikir bahwa ternyata nilai-nilai kemanusiaan justru banyak saya dapatkan dari orang-orang yang secara tampilan fisik atau materi malah berasal dari mereka-mereka yang hidup jauh dari peradaban kota besar, dari mereka yang secara profesi bukanlah berasal dari profesi yang penuh prestise dan gemerlap, bukan dari mereka yang menempuh jenjang akademis dan meraih gelar berderet, melainkan justru dari mereka yang telah memiliki dan memahami arti hidupnya, dari mereka yang mengerti bahwa tidak perlu menjadi sebuah pohon besar yang menjulang sampai kelangit namun tidak bermanfaat bagi sekitarnya, melainkan cukup menjadi pohon yang walau tidak terlalu tinggi namun daunnya bisa meneduhi siapapun yang berada dibawahnya, batangnya bisa memberi oksigen dan kesejukan bagi siapapun yang bersender didekatnya, bagi mereka yang memiliki pemahaman bahwa selama hidupnya sebisa mungkin mereka menjadi layaknya mata air yang memberi penghidupan bagi sekitarnya bahkan walau nantinya mereka sudah tidak ada lagi, bukan malah menghasilkan air mata dari orang-orang yang dicurangi atau direnggut paksa apa yang telah menjadi haknya
Pendidikan bukannya tidak penting, namun jika sistem pendidikan yang dibangun hanya untuk mencetak manusia-manusia pintar yang nantinya minterin/menipu yang lain lalu apa gunanya, hanya untuk mencetak sarjana-sarjana hukum yang nantinya malah menggunakan kelemahan dari sistem hukum untuk menekan yang lemah, mencetak sarjana kedokteran untuk menciptakan virus baru kemudian membuat vaksinnya untuk dijual dengan harga tinggi, mencetak sarjana ekonomi yang menghalalkan dan meminimalkan modal sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, jika sudah seperti itu lalu apa makna dari deretan gelar akademis yang dicapai? mungkin benar seperti apa yang sedari dulu diucapkan bahkan ditulis pada penggalan lirik lagu kebangsaan kita bahwa untuk menciptakan dan menjadi sebuah bangsa yang besar maka sebaiknya kita harus membangun jiwanya terlebih dahulu sebelum membangun badannya, membenahi mentalitas manusianya terlebih dahulu sebelum berlomba meninggikan dan memoles tampilan luarnya, ahhh… di malam yang semakin larut ini justru pendidikan yang berharga kembali saya dapatkan di tempat ini, dari seorang Petani yang bernama Pak Daleh, semoga sehat selalu ya Pak (kalau bisa kurangin merokoknya) dan bisa terus menyebarkan kebaikan-kebaikan lainnya
Menjelang pagi rutinitas perjalanan yang biasa kami jalani mulai kembali kami lakukan, dari mulai mandi hingga proses packing serta berpamitan kepada Pak Daleh, hari ini kami hanya tinggal menghabiskan sisa jarak tempuh 80km menuju ke Kota Pare-pare, pemandangan dan kondisi rute pun tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, hal ini membuat hari ini kami jarang berhenti untuk berfoto, menurut rencana setibanya kami di Kota Pare-pare nanti akan ada beberapa teman pesepeda kenalan dari Mbak Darna yang akan menjemput dan menyediakan rumah singgah sementara yang bisa kami gunakan selama kami berada di Kota Pare-pare, dan akhirnya menjelang sore hari pun sampailah kami di gerbang perbatasan masuk menuju wilayah Kota Pare-pare, sebuah kota yang menjadi tempat kelahiran Presiden Republik Indonesia ke-3 yaitu Bapak Habibie, ada keunikan apa sajakah di Kota Pare-pare ini? tetap ikuti petualangan goweswisata kami berdua pada chapter berikutnya ya
Tuesday, 5 June 2018
CHAPTER 40; LAST DAY IN MAKASSAR
Jika pada petualangan-petualangan sebelumnya kami berdua lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling mencari dan menikmati obyek wisata keindahan alam, maka di penghujung hari terakhir kami berada di Kota Makassar ini kami mencoba menyempatkan diri untuk sejenak bersantai menikmati suasana kota modern ini dengan berwisata menggunakan transportasi umumnya yaitu Bus Trans Mamminasata
Bus Trans Mamminasata ini tak ada bedanya dengan Bus Trans Jakarta, baik dari ukuran bus yang cukup besar (jauh lebih besar daripada Bus Trans Jogja maupun Bus Sarbagita di Bali) maupun sistem shelter busnya, hanya saja untuk sistem pembayarannya pada Bus Trans Mamminasata ini masih menggunakan sistem manual berupa karcis yang disobek, belum menggunakan sistem kartu yang terintegrasi. Dengan harga tiket sebesar lima ribu rupiah per penumpang untuk sekali jalan kami pikir tidak ada ruginya untuk mencoba berkeliling Kota Makassar menggunakan bus ini, jadi yuk kita let’s go tinggal duduk santai dan menikmati pemandangan di sepanjang rute trayek bus ini
Kami memulai perjalanan nge-bus ini dari shelter bus yang berada tepat di depan Mall Panakkukang, untuk menuju ke Mall ini kami harus berjalan kaki terlebih dulu dari tempat kost kami yang berada di daerah Panaikang melalui jalan pintas (Jalan Haji Kalla) dengan jarak yang “sebenarnya” cukup jauh terutama bagi kalian yang jarang berjalan kaki, namun karena kami berdua juga suka berjalan kaki maka jarak sekitar 3km ini tidaklah terlalu menjadi masalah
Dari shelter Mall Panakkukang Bus Trans Mamminasata yang kami tumpangi mulai bergerak melalui Jalan Boulevard dan Jalan A.P Pettarani menuju ke pusat kota, disepanjang rute ini kami bisa melihat suasana kemacetan khas kota besar, disisi jalannya tampak beberapa pusat perbelanjaan yang besar serta gedung-gedung tinggi, hmmm…suasananya benar-benar 11-12 dengan Kota Jakarta, beberapa ruas jalan yang dilalui oleh trayek bus ini sudah familiar dalam ingatan kami karena sebelumnya kami juga sudah pernah menyusuri rute jalan ini, gerimis kecil tampak mulai turun membasahi Kota Makassar, disaat seperti ini untunglah kali ini kami berkeliling menggunakan bus :)
Perlahan rute Bus Trans Mamminasata ini pun melewati lokasi wisata Benteng Fort Rotterdam dan Pantai Losari kemudian berbelok menuju kearah Barombong persis dengan rute yang kami lewati sewaktu kami bersepeda menuju ke Benteng Somba Opu, hanya saja kali ini pemberhentian Bus ini adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang menjadi terkenal karena didalamnya terdapat tempat rekreasi indoor terbesar yaitu Trans Studio Makassar, kami pun mencoba untuk turun dan melihat seperti apa sih Trans Studio yang terkenal itu
Dan ternyata “Mall nya gede amat yak”, begitulah kata-kata pertama yang terlintas dalam pikiran kami berdua (langsung deh mulai kumat udiknya hahaha…) maklumlah selama beberapa bulan terakhir ini pusat perbelanjaan yang rada lumayan besar yang kami kunjungi adalah Bolly di Kota Bima dan Hypermart yang ada di Kota Lombok, itupun keduanya cenderung biasa saja dan suasananya tidak semegah pusat perbelanjaan yang ada di Kota Makassar ini, suasana didalam Mall tempat Trans Studio ini berada mungkin hampir sama dengan suasana pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Senayan Jakarta, semua tennantnya terkesan ekslusif
Namun mungkin karena suasananya yang “terlalu” ekslusif itu pulalah pada akhirnya justru membuat Mall ini terlihat sepi pengunjung (padahal interior didalamnya megah dan bagus), hanya tampak beberapa orang pengunjung saja yang mengunjungi mall ini, hal serupa pun tampak di kawasan foodcourtnya, jika biasanya suasana foodcourt sebuah pusat perbelanjaan selalu tampak ramai maka disini bahkan suasana foodcourtnya juga tampak sepi padahal hari sudah menjelang siang
Setelah berkeliling mulai dari lantai teratas sampai ke ground floor pusat perbelanjaan ini akhirnya kami pun mengambil beberapa dokumentasi di bagian depan dari tempat rekreasi Trans Studio Makassar ini (mau masuk tapi tiketnya mahal akhirnya ya sudah cukup dengan berfoto saja untuk kenang-kenangan perjalanan), kini saatnya melanjutkan perjalanan nge-bus dengan menunggu bus Trans Mamminasata berikutnya datang
Setelah Bus Trans Mamminasata datang kami pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri beberapa ruas jalan Kota Makassar sampai akhirnya Bus kembali ke titik awal dimana kami memulai perjalanan ini yaitu di shelter Mall Panakkukang
Sejenak mengulas perjalanan kali ini kami menyimpulkan bahwa ternyata di Kota Makassar ini memiliki banyak sekali pusat-pusat perbelanjaan yang tergolong besar, mulai dari Mall Panakkukang (salah satu pusat perbelanjaan yang menjadi favorit kami berdua), Mall Ratulangi, Trans Studio Makassar, Mall Karebosi, Sejumlah Carefour, Hypermart, dan Lottemart yang tersebar dimana-mana, serta beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tadi sempat kami lewati, intinya jika kalian tipikal orang yang tidak bisa lepas dari suasana Kota Besar maka di Makassar ini kalian pasti senang karena disini kalian bisa travelling dengan nyaman dan mudah untuk mencari segala keperluan yang kalian butuhkan
Untuk mengakhiri hari ini kami berdua memutuskan untuk menikmati suasana didalam Mall Panakkukang, mengapa Mall ini menjadi favorit kami berdua? Jawabannya adalah karena suasana didalam Mall ini terkesan merakyat, Mallnya besar tetapi suasananya terkesan hangat dan merangkul hampir semua lapisan masyarakat, disini kalian bisa menemukan tempat makan dengan harga yang cukup terjangkau (10 ribu-an per porsi, lokasinya berada tepat didepan bioskop XXI) dengan suasana yang nyaman dan bersih, kemudian tenant-tennant yang ada disini pun tidak semuanya berasal dari produk-produk mahal, bahkan didalam Mall ini pun juga masih ditemui beberapa penjual CD dan DVD seperti yang ada di Mangga Dua Mall Jakarta serta penjual baju-baju yang deretan kiosnya mirip dengan yang ada di ITC, dan pada lantai teratasnya terdapat area hiburan yang jarang ada yaitu Ice Skating, dan tahukah kalian berapa tarif untuk bermain Ice Skating di Mall Panakkukang ini? tarif untuk bermain Ice Skating disini hanya 10 ribu rupiah saja, cukup terjangkau bukan, dan bagi kalian yang suka membaca, kalian tidak perlu kuatir karena tepat disamping area Ice Skating ini terdapat Toko Buku Gramedia yang cukup besar, untuk urusan membeli keperluan rumah pun disini juga terdapat Hypermart, Carrefour, ACE Hardware, dan Lottemart, kami pun memanfaatkan adanya keempat retail ini untuk saling membandingkan harga dan membeli perlengkapan yang kami butuhkan di keempat tempat yang berbeda ini (tergantung harga dari produk tersebut lebih murah di tempat yang mana)
Tanpa terasa malam pun mulai menjelang, ini adalah malam terakhir kami berada di Kota Makassar, mungkin suatu saat kami akan merindukan tempat ini (coba Mall Panakkukang ditukar saja dengan Ambarukmo Plaza di Jogja), merindukan suasana Kota Makassar dengan segala jajanan dan transportasi umumnya yang terbilang cukup lengkap (untuk urusan transportasi umum, Makassar memiliki kelebihan dalam hal dimensi bus Transnya yang besar, namun untuk sistem pembayarannya harus diakui jika Jakarta dan Jogja masih jauh lebih baik karena sudah menggunakan sistem kartu yang terintegrasi, sedangkan untuk transportasi feeder atau penghubungnya maka Bali masih yang terbaik karena kendaraan feedernya memiliki pemberhentian yang teratur dan memiliki tarif yang murah dengan jarak yang terhitung cukup jauh, sedangkan di Makassar dan Jakarta maka kendaraan feedernya masih berupa angkot yang suka ngetem sembarangan).
Jika saja semua pemangku kebijakan di setiap kota di Indonesia saling belajar satu dengan lainnya bukan tidak mungkin jika kedepannya maka tidak akan terjadi gap atau kesenjangan pembangunan yang terlalu jauh antara satu kota dengan kota lainnya, tidak perlu jauh-jauh beralasan untuk kunjungan kerja ke luar negeri jika ternyata pada akhirnya justru tidak ada hasil nyata dari hasil kunjungan kerja tersebut, karena didalam negeri sendiri saja sebenarnya juga ada banyak kelebihan dan prestasi yang bisa dipelajari dan diterapkan untuk masing-masing kotanya
Bus Trans Mamminasata ini tak ada bedanya dengan Bus Trans Jakarta, baik dari ukuran bus yang cukup besar (jauh lebih besar daripada Bus Trans Jogja maupun Bus Sarbagita di Bali) maupun sistem shelter busnya, hanya saja untuk sistem pembayarannya pada Bus Trans Mamminasata ini masih menggunakan sistem manual berupa karcis yang disobek, belum menggunakan sistem kartu yang terintegrasi. Dengan harga tiket sebesar lima ribu rupiah per penumpang untuk sekali jalan kami pikir tidak ada ruginya untuk mencoba berkeliling Kota Makassar menggunakan bus ini, jadi yuk kita let’s go tinggal duduk santai dan menikmati pemandangan di sepanjang rute trayek bus ini
Kami memulai perjalanan nge-bus ini dari shelter bus yang berada tepat di depan Mall Panakkukang, untuk menuju ke Mall ini kami harus berjalan kaki terlebih dulu dari tempat kost kami yang berada di daerah Panaikang melalui jalan pintas (Jalan Haji Kalla) dengan jarak yang “sebenarnya” cukup jauh terutama bagi kalian yang jarang berjalan kaki, namun karena kami berdua juga suka berjalan kaki maka jarak sekitar 3km ini tidaklah terlalu menjadi masalah
Dari shelter Mall Panakkukang Bus Trans Mamminasata yang kami tumpangi mulai bergerak melalui Jalan Boulevard dan Jalan A.P Pettarani menuju ke pusat kota, disepanjang rute ini kami bisa melihat suasana kemacetan khas kota besar, disisi jalannya tampak beberapa pusat perbelanjaan yang besar serta gedung-gedung tinggi, hmmm…suasananya benar-benar 11-12 dengan Kota Jakarta, beberapa ruas jalan yang dilalui oleh trayek bus ini sudah familiar dalam ingatan kami karena sebelumnya kami juga sudah pernah menyusuri rute jalan ini, gerimis kecil tampak mulai turun membasahi Kota Makassar, disaat seperti ini untunglah kali ini kami berkeliling menggunakan bus :)
Perlahan rute Bus Trans Mamminasata ini pun melewati lokasi wisata Benteng Fort Rotterdam dan Pantai Losari kemudian berbelok menuju kearah Barombong persis dengan rute yang kami lewati sewaktu kami bersepeda menuju ke Benteng Somba Opu, hanya saja kali ini pemberhentian Bus ini adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang menjadi terkenal karena didalamnya terdapat tempat rekreasi indoor terbesar yaitu Trans Studio Makassar, kami pun mencoba untuk turun dan melihat seperti apa sih Trans Studio yang terkenal itu
Dan ternyata “Mall nya gede amat yak”, begitulah kata-kata pertama yang terlintas dalam pikiran kami berdua (langsung deh mulai kumat udiknya hahaha…) maklumlah selama beberapa bulan terakhir ini pusat perbelanjaan yang rada lumayan besar yang kami kunjungi adalah Bolly di Kota Bima dan Hypermart yang ada di Kota Lombok, itupun keduanya cenderung biasa saja dan suasananya tidak semegah pusat perbelanjaan yang ada di Kota Makassar ini, suasana didalam Mall tempat Trans Studio ini berada mungkin hampir sama dengan suasana pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Senayan Jakarta, semua tennantnya terkesan ekslusif
Namun mungkin karena suasananya yang “terlalu” ekslusif itu pulalah pada akhirnya justru membuat Mall ini terlihat sepi pengunjung (padahal interior didalamnya megah dan bagus), hanya tampak beberapa orang pengunjung saja yang mengunjungi mall ini, hal serupa pun tampak di kawasan foodcourtnya, jika biasanya suasana foodcourt sebuah pusat perbelanjaan selalu tampak ramai maka disini bahkan suasana foodcourtnya juga tampak sepi padahal hari sudah menjelang siang
Setelah berkeliling mulai dari lantai teratas sampai ke ground floor pusat perbelanjaan ini akhirnya kami pun mengambil beberapa dokumentasi di bagian depan dari tempat rekreasi Trans Studio Makassar ini (mau masuk tapi tiketnya mahal akhirnya ya sudah cukup dengan berfoto saja untuk kenang-kenangan perjalanan), kini saatnya melanjutkan perjalanan nge-bus dengan menunggu bus Trans Mamminasata berikutnya datang
Setelah Bus Trans Mamminasata datang kami pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri beberapa ruas jalan Kota Makassar sampai akhirnya Bus kembali ke titik awal dimana kami memulai perjalanan ini yaitu di shelter Mall Panakkukang
Sejenak mengulas perjalanan kali ini kami menyimpulkan bahwa ternyata di Kota Makassar ini memiliki banyak sekali pusat-pusat perbelanjaan yang tergolong besar, mulai dari Mall Panakkukang (salah satu pusat perbelanjaan yang menjadi favorit kami berdua), Mall Ratulangi, Trans Studio Makassar, Mall Karebosi, Sejumlah Carefour, Hypermart, dan Lottemart yang tersebar dimana-mana, serta beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tadi sempat kami lewati, intinya jika kalian tipikal orang yang tidak bisa lepas dari suasana Kota Besar maka di Makassar ini kalian pasti senang karena disini kalian bisa travelling dengan nyaman dan mudah untuk mencari segala keperluan yang kalian butuhkan
Untuk mengakhiri hari ini kami berdua memutuskan untuk menikmati suasana didalam Mall Panakkukang, mengapa Mall ini menjadi favorit kami berdua? Jawabannya adalah karena suasana didalam Mall ini terkesan merakyat, Mallnya besar tetapi suasananya terkesan hangat dan merangkul hampir semua lapisan masyarakat, disini kalian bisa menemukan tempat makan dengan harga yang cukup terjangkau (10 ribu-an per porsi, lokasinya berada tepat didepan bioskop XXI) dengan suasana yang nyaman dan bersih, kemudian tenant-tennant yang ada disini pun tidak semuanya berasal dari produk-produk mahal, bahkan didalam Mall ini pun juga masih ditemui beberapa penjual CD dan DVD seperti yang ada di Mangga Dua Mall Jakarta serta penjual baju-baju yang deretan kiosnya mirip dengan yang ada di ITC, dan pada lantai teratasnya terdapat area hiburan yang jarang ada yaitu Ice Skating, dan tahukah kalian berapa tarif untuk bermain Ice Skating di Mall Panakkukang ini? tarif untuk bermain Ice Skating disini hanya 10 ribu rupiah saja, cukup terjangkau bukan, dan bagi kalian yang suka membaca, kalian tidak perlu kuatir karena tepat disamping area Ice Skating ini terdapat Toko Buku Gramedia yang cukup besar, untuk urusan membeli keperluan rumah pun disini juga terdapat Hypermart, Carrefour, ACE Hardware, dan Lottemart, kami pun memanfaatkan adanya keempat retail ini untuk saling membandingkan harga dan membeli perlengkapan yang kami butuhkan di keempat tempat yang berbeda ini (tergantung harga dari produk tersebut lebih murah di tempat yang mana)
Tanpa terasa malam pun mulai menjelang, ini adalah malam terakhir kami berada di Kota Makassar, mungkin suatu saat kami akan merindukan tempat ini (coba Mall Panakkukang ditukar saja dengan Ambarukmo Plaza di Jogja), merindukan suasana Kota Makassar dengan segala jajanan dan transportasi umumnya yang terbilang cukup lengkap (untuk urusan transportasi umum, Makassar memiliki kelebihan dalam hal dimensi bus Transnya yang besar, namun untuk sistem pembayarannya harus diakui jika Jakarta dan Jogja masih jauh lebih baik karena sudah menggunakan sistem kartu yang terintegrasi, sedangkan untuk transportasi feeder atau penghubungnya maka Bali masih yang terbaik karena kendaraan feedernya memiliki pemberhentian yang teratur dan memiliki tarif yang murah dengan jarak yang terhitung cukup jauh, sedangkan di Makassar dan Jakarta maka kendaraan feedernya masih berupa angkot yang suka ngetem sembarangan).
Jika saja semua pemangku kebijakan di setiap kota di Indonesia saling belajar satu dengan lainnya bukan tidak mungkin jika kedepannya maka tidak akan terjadi gap atau kesenjangan pembangunan yang terlalu jauh antara satu kota dengan kota lainnya, tidak perlu jauh-jauh beralasan untuk kunjungan kerja ke luar negeri jika ternyata pada akhirnya justru tidak ada hasil nyata dari hasil kunjungan kerja tersebut, karena didalam negeri sendiri saja sebenarnya juga ada banyak kelebihan dan prestasi yang bisa dipelajari dan diterapkan untuk masing-masing kotanya
Subscribe to:
Posts (Atom)






































































