Senin, 8 Februari 2016,
Belajar dari pengalaman sebelumnya dimana ketika kami baru pertama kali tiba dan selama berada serta melintasi beberapa wilayah di Pulau Sumbawa ini, ternyata ya kami memang benar-benar "hanya sekedar" melintasinya saja alias melewatkan beberapa keindahan dan keunikan yang dimiliki pulau ini, contohnya antara lain ketika kami melewatkan Pulau Kenawa padahal lokasinya ternyata sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano, kemudian melewatkan air terjun di wilayah Utan, lalu Pulau Bungin yang merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di dunia, Pulau Moyo dengan air terjun mata jitunya dikarenakan kendala cuaca serta tidak adanya penyeberangan akibat ombak yang masih tinggi, serta melewatkan Gili-gili yang ada disekitar perairan Teluk Saleh yang lagi-lagi karena faktor cuaca. Semua itu terlewatkan begitu saja karena minimnya informasi seputar lokasi wisata dan aktivitas sosial masyarakatnya yang belum banyak diulas di media sosial (mungkin juga karena selama ini Pulau Sumbawa hanya dianggap sebagai titik transit atau persinggahan sementara saja, karena secara geografis letak pulau ini berada atau diapit oleh 2 pulau lain yang sudah lebih dulu populer sebagai destinasi wisata dunia, yaitu Pulau Lombok di sebelah barat, dan Pulau Komodo di sebelah timurnya)
Oleh karena itulah begitu kami tiba di Kota Bima, kami pun mulai mencari informasi baik secara online maupun dengan bertanya langsung kepada Mbak Henni dan teman-teman travelernya seputar tempat, budaya, dan ragam aktivitas sosial masyarakatnya. Dan dari mereka-mereka pulalah saya jadi tahu istilah "kalemboade" yang sering digunakan oleh masyarakat di wilayah Dompu dan Bima yang artinya kurang lebih seperti berbesar hati atau seperti ungkapan "torang semua basaudara", intinya adalah seperti bhinneka tunggal ika, jadi disini budaya tolong-menolong secara ikhlas tanpa pamrih ternyata masih ada, dan biasanya mereka (pihak yang membantu) hanya tersenyum sembari mengatakan "tidak usah sungkan, kalemboade", ketika kita mengucapkan terimakasih karena tidak enak telah merepotkan mereka (mungkin kalau di Jawa hampir sama situasi penggunaan kata-katanya dengan “woles aja bro” atau “santai saja masbro”)
Dari hasil bertanya-tanya dan mengumpulkan berbagai informasi itulah akhirnya kami menemukan dan memutuskan untuk memilih Pantai Lariti sebagai salah satu destinasi "wajib" yang harus kami kunjungi selagi kami berada disini, mengapa harus Pantai Lariti? Memangnya apa yang istimewa dengan pantai yang satu ini, nah itulah yang ingin kami cari tahu secara langsung :)
Peta menuju lokasi Pantai Lariti
Pernahkah kalian berjalan ditengah laut? Atau pernahkah kalian mendengar kisah tentang terbelahnya Laut Merah di saat Nabi Musa dan pengikutnya dikejar oleh pasukan Firaun? Saat itu dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa laut merah pun mendadak terbelah, menciptakan sebuah jalan diantara tingginya dinding yang terbuat dari gelombang air laut sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat menyeberang, namun ketika pasukan Firaun mencoba mengikuti mereka melalui jalan tersebut tiba-tiba dinding yang tinggi dan terbuat dari gelombang air laut tersebut pun kembali menutup seluruh jalannya sehingga menenggelamkan seluruh pasukannya termasuk sang Firaun itu sendiri
Nah keistimewaan yang dimiliki oleh Pantai Lariti pun kurang lebih seperti itu. Pantai yang berada di Desa Soro, Kecamatan Lambu, wilayah Sape, Kabupaten Bima ini pada saat-saat tertentu (tergantung pasang-surut air lautnya) mempunyai keunikan dimana ketika air sedang pasang maka pemandangan disekitar pantai ini terlihat normal dan biasa saja layaknya sebuah pantai pada umumnya dengan beberapa pulau-pulau kecil yang terpisah oleh air laut dari pulau utamanya, namun ketika kondisi air sedang surut (biasanya pada pagi hari atau sore hari) maka antara pulau utama dengan pulau kecilnya akan tercipta sebuah jalan dari pasir sehingga kita dapat berjalan kaki menyeberang melalui jalan tersebut untuk menuju ke pulau kecilnya (fenomena ini sering disebut juga dengan istilah "moses miracle")
Di dunia hanya ada 2 pantai yang mempunyai fenomena unik seperti ini, selain Indonesia dengan Pantai Laritinya, negara lainnya adalah Korea, bedanya jika di Korea fenomena laut terbelah ini hanya terjadi sebanyak 2 kali dalam setahun dengan waktu yang relatif singkat, maka di Indonesia fenomena seperti ini terjadi setiap harinya, sehingga kita bisa kapan saja menikmati pesonanya (eh tidak kapan saja juga sih tergantung dari kondisi pasang-surut air lautnya, tetapi yang pasti fenomena tersebut tetap terjadi setiap hari, maka dari itu kalian patut bersyukur karena lahir dan besar di negara tercinta Indonesia Raya ini, Negara yang merupakan surganya traveling)
Karena dari Kota Bima menuju ke pantai ini medannya melalui bukit-bukit serta penuh tanjakan, maka tidak memungkinkan bagi kami untuk gowes kesana pergi-pulang dalam waktu 1 hari, oleh karena itulah atas saran dan bantuan dari Mbak Henni dan adiknya, hari ini mereka berdua meluangkan waktunya untuk mengantar kami menuju ke Pantai Lariti dengan mengendarai sepeda motor (berhubung saya dan Agit tidak bisa mengendarai sepeda motor maka saya pun dibonceng oleh adiknya Mbak Henni, sedangkan Agit dibonceng oleh Mbak Henni, maaf ya Mbak jadi ngerepotin hehe... :)
Dari Kota Bima kami tinggal mengikuti petunjuk arah yang menuju ke wilayah Sape, medan perbukitannya sendiri lebih panjang dan derajat kemiringannya juga lebih curam dan menanjak daripada di Nangatumpu, disepanjang wilayah perbukitan ini juga masih terdapat banyak monyet, biawak, dan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau, jadi hati-hati ketika mengemudi ya
Sambil melewati jalan yang berkelok-kelok menuju ke atas bukit kalian juga dapat menikmati view yang menakjubkan yaitu hamparan bukit-bukit diantara kabut, dibeberapa titik juga terdapat spot yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak, spot ini dilengkapi dengan kursi-kursi dari bambu
Jika kalian melewati rute ini saat musim penghujan maka kalian juga perlu berhati-hati terhadap bahaya longsor dari dinding bukit yang belum dibuat turap penahan, sehingga kalau ingin beristirahat lebih baik jangan terlalu dekat dengan dinding bukit.
Setelah melalui kontur perbukitan akhirnya sampai juga kami di wilayah Sape, jika ingin menuju ke Pantai Lariti patokan termudahnya adalah ketika kalian tiba disebuah perempatan (yang kalau lurus itu menuju ke Pelabuhan Sape) maka kalian tinggal belok ke kanan, nanti setelah pasar dan setibanya di Desa Soro ada bangunan PNPM Mandiri di sisi kanan, nah di seberangnya ada jalan masuk, tinggal masuk dan ikuti jalan saja (oya kondisi jalan masuknya saat saya kesana masih berupa jalan tanah berbatu, sehingga kalau cuaca sedang kering sih kondisinya aman, tapi kalau hujan maka siap-siap saja tersiksa), dari awal jalan masuk menuju ke lokasi pantainya sendiri jaraknya masih sekitar 4-5km jadi pastikan kondisi kendaraan anda prima terutama ban dan remnya)
Ketika mulai mendekati Pantai Lariti kalian akan melihat banyak tambak-tambak udang, berdasarkan info yang saya peroleh, lahan-lahan disekitar pantai pun telah dibeli oleh sebuah perusahaan tambak udang, oleh karena itulah jalan masuk menuju ke pantai sendiri sebenarnya juga menggunakan jalur akses milik perusahaan tambak, entahlah mengapa dari pihak pemerintah melalui suku dinas pariwisatanya tidak membuat fasilitas dan jalur akses yang nyaman, padahal Pantai Lariti sendiri mempunyai potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak kalah dengan destinasi wisata lainnya yang sudah lebih dulu populer
Akhirnya sampailah kami di Pantai Lariti ini, tepat disaat air sedang surut sehingga nampaklah jalan yang terbuat dari pasir pantai, membentang menuju ke pulau kecil yang berada tepat didepannya :)
Setidaknya kali ini kami bisa benar-benar menikmati keindahan Pulau Sumbawa, tidak sekedar melintas dan melewatkannya seperti yang sudah-sudah, apalagi fenomena unik seperti ini hanya ada di sini, di Pulau Sumbawa, sehingga sangat sayang untuk dilewatkan dalam perjalanan kami
Untuk naik ke bagian puncak dari pulau kecil yang ada di depannya kita harus membayar dua ribu rupiah per orang, cukup terjangkau dan aman di kantong bagi wisatawan lokal seperti kami, dari atas bukit yang ada di pulau kecil ini kita bisa melihat jalur jalan pasirnya secara jelas (sebenarnya tidak jauh dari pulau ini juga ada pulau lain tepat di sebelahnya yang juga memiliki fenomena "moses miracle" ini hanya saja durasi menutupnya air laut terjadi lebih cepat)
Kapal yang disediakan jika air laut menutup lebih cepat
Bersama Mbak Henni dan adiknya yang menjadi host sekaligus guide kami selama berada di Kota Bima
Pemandangan dari atas sini sangat awesome :)
Pulau kecil lainnya yang juga memiliki fenomena moses miracle
Bergegas menyeberang menuju Pulau utama sebelum jalannya tertutup oleh air pasang
Jadi masih ragu dan mikir-mikir untuk berwisata ke Pulau Sumbawa? Tidak perlu takut untuk berwisata kesini, segera atur jadwal liburan kalian dan mulai jadikan Pulau Sumbawa ini sebagai alternatif destinasi wisata kalian yang baru, jelajahi wilayahnya, nikmati pesona alamnya, rasakan keramahan masyarakatnya serta keunikan budayanya, dan yang paling penting "Kalemboade" :)
Pengeluaran hari ini :
- transport = Rp 50.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 30.000,-
- belanja swalayan = Rp 36.500,-
Total = Rp 116.500,-
Saturday, 24 March 2018
Tuesday, 20 March 2018
GROJOKAN LEDOK WARU
Minggu, 18 Maret 2018.
Kali ini tujuan goweswisata.blogspot.co.id adalah mencari curug atau air terjun atau grojokan atau apalah kalian biasa menyebutnya, intinya petualangan kali ini adalah mencari tempat yang bisa untuk bermain air.
Nah mengenai Grojokan Ledok Waru sendiri saya mendapat infonya dari sebuah grup komunitas backpacker yang ada disosial media, walaupun informasi mengenai keberadaan lokasi ini terbilang masih sangat minim, namun setidaknya ada sebuah petunjuk yang membuat perasaan “sepertinya saya tahu deh kira-kira dimana lokasinya” kembali membara, sedikit cluenya adalah tempat ini berada tidak jauh dari Pabrik Gula Gondang Winangun
Alasan lainnya mengapa saya tertarik untuk mencoba mengeksplor tempat ini adalah karena tempat ini memenuhi beberapa kriteria yang saya terapkan untuk bertualang secara santai, antara lain :
1. Tempatnya keren banget tapi belum terlalu populer (jadi kemungkinan besar masih alami)
2. Karena belum populer itulah maka bisa dipastikan jika tempat ini bebas biaya retribusi alias masih gratis
3. Lokasinya berada tidak terlalu jauh dari kediaman saya di Jogja, yaitu sekitar 24km saja
4. Rutenya tergolong mudah dan ga pake adegan nanjak-nanjak segala ayeeyyyy
Nah karena semua kriteria yang saya gunakan tersebut sepertinya terpenuhi maka dari itu Grojokan Ledok Waru here I come… :)
Cara paling mudah untuk menuju ke lokasi Grojokan Ledok Waru adalah jika kalian start dari Kota Jogja maka kalian hanya tinggal melalui jalan raya Jogja-Solo yang menuju kearah timur sampai nantinya kalian tiba di traffic light Pabrik Gula Gondang Winangun, dari traffic light tersebut kemudian kalian tinggal belok ke kiri (Utara), terus saja kira-kira 150 meter nanti ada gang masuk Desa Ledok disisi kanan, masuk saja dan tanya dimanakah lokasi Grojokan Ledok Waru atau Makam Ledok Dusun Gondang, nanti lokasi dari Grojokan Ledok Waru sendiri berada persis dibawah area komplek Makam
Peta menuju lokasi Grojokan Ledok Waru
Untunglah pada petualangan goweswisata.blogspot.co.id kali ini saya menggunakan sepeda lipat, karena untuk turun ke lokasi grojokannya jalurnya masih berupa undakan tangga dari tanah yang licin sehingga sepeda terpaksa harus digotong
Dan akhirnya saatnya menikmati keindahan dari Grojokan Ledok Waru yang berada di Desa Ledok, Kelurahan Gondang, Kecamatan Kebonarum, Klaten
Sepintas karakteristik dari Grojokan Ledok Waru sendiri mirip seperti obyek wisata Blue Lagoon di Sleman dan obyek wisata Lava Bantal di Berbah, karena dengan bentuk grojokannya yang berundak-undak dan memiliki semacam kolam di bagian tengahnya yang bisa dijadikan lokasi terjun bebas menjadikan tempat ini mirip dengan obyek wisata Blue Lagoon, sedangkan dari segi lokasinya yang berada persis dipinggir jalan menjadikan posisinya mirip dengan obyek wisata Lava Bantal, hanya saja secara pribadi saya lebih menyukai Grojokan Ledok Waru dibanding kedua tempat tadi karena disini suasananya masih sangat alami, dan jumlah undakan dari grojokannya sendiri juga lebih banyak dan bervariasi
Dari yang semula hanya saya sendiri yang berada di grojokan ini tak berapa lama kemudian datanglah beberapa warga sekitar yang hendak melakukan kerja bakti untuk membersihkan dan merapikan lokasi sekitar Grojokan Ledok Waru ini.
Menurut penuturan Pak Waluyo dan Pak Kamto yang merupakan warga Desa Ledok, Grojokan Ledok Waru sendiri sebenarnya dulu pernah direncanakan untuk dibuat sebagai lokasi wisata, namun sayangnya sejak tahun 90-an ide tersebut hanya sebatas menjadi wacana saja tanpa pernah direalisasikan, untungnya kini di era sosial media yang serba cepat dan internet yang semakin merata serta masih ditambah lagi dengan adanya kebijakan dari Pihak Pemkot Klaten yang mencanangkan gerakan bahwa setiap desa harus memiliki minimal satu obyek wisata maka Grojokan Ledok Waru pun kini mulai berbenah dan bersiap untuk dipublikasikan secara luas.
Untuk memulai semua itu tentunya dibutuhkan beberapa tahap, salah satu tahap yang sedang dikerjakan saat ini adalah dengan menggandeng pihak tim konsultan yang berasal dari Jogja, Klaten, dan Jakarta. Nantinya setelah semua urusan penataan disekitar lokasi sudah selesai maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab sekitar lokasi Grojokan Ledok Waru sendiri akan diserahkan kepada pihak desa, yang mana nantinya akan diurus bersama oleh warga dan pemuda-pemuda dari tiga desa yaitu Desa Ledok, Desa Karangasem, dan Desa Tegal.
Penataan dan pembangunan infrastruktur pendukung yang akan dilakukan nantinya akan meliputi pembukaan area parkir kendaraan yang rencananya akan dibuat di lokasi tanah kas desa, pelebaran akses jalan masuk supaya mobil dapat masuk (sementara ini bagi wisatawan yang ingin berkunjung dan menggunakan kendaraan roda 4 terpaksa memarkirkan kendaraannya disepanjang sisi jalan), pembuatan gazebo-gazebo dan bangku-bangku, pemasangan tempat sampah, pembuatan jembatan dari bambu, pemasangan pasak-pasak pagar pembatas dari bambu, pembangunan toilet umum dan penitipan barang, serta warung-warung, sementara untuk fasilitas pendukung wisata air ini nantinya bagi para pengunjung dapat menyewa ban-ban pelampung dan menikmati kegiatan susur sungai.
Walaupun nantinya akan dibuat beberapa fasilitas dan infrastruktur pendukung di sekitar lokasi, namun pihak desa meyakinkan bahwa semua pembangunan tersebut tidak akan sampai merusak kealamian Grojokan Ledok Waru, justru dengan menjadikan Grojokan Ledok Waru ini sebagai obyek wisata yang terbuka untuk umum maka secara tidak langsung warganya juga akan belajar beradaptasi dan berkembang menjadi kelompok sadar wisata yang merasa bertanggungjawab untuk terus menjaga kebersihan dan keindahan lokasi ini, sedangkan untuk retribusinya sendiri kemungkinan akan menggunakan karcis parkir untuk menghindari adanya oknum parkir liar, namun pihak desa berjanji untuk sedapat mungkin mengenakan tarif retribusi yang tergolong merakyat dan wajar
Sumber aliran air di Grojokan Ledok Waru sendiri berasal dari mata air yang ada di wilayah sekitar Gunung Merapi sehingga grojokan ini tidak pernah surut atau kering seperti curug-curug atau grojokan lainnya yang mengandalkan debit airnya dari air hujan, jadi bagi kalian yang ingin berwisata ketempat ini tidak perlu takut tidak bisa bermain air karena grojokannya kering, justru disaat musim kemarau biasanya air di Grojokan Ledok Waru ini menjadi jernih, oya kedalaman air disini juga relatif aman kok, bagian terdalam hanya berada disekitar kolam yang berada di undakan tengah dengan kedalaman sekitar 2 meter, selebihnya kedalaman air hanya berkisar sebatas paha orang dewasa saja.
Selain menikmati bermain air, disini kalian juga bisa melihat pemandangan hamparan sawah yang berada persis di sepanjang sisi aliran sungai ini, rencananya nanti dibeberapa titik juga akan ditanami pohon-pohon buah sehingga kalian juga bisa berwisata agro
Bagaimana sekarang bertambah lagi kan pilihan destinasi wisata liburan kalian? Jadi kapan kalian berkunjung ke Grojokan Ledok Waru? Kalau kalian berwisata kesini tetap ingat untuk menjaga kebersihan tempat ini ya, karena belum ada tong sampah di sekitar lokasi maka lebih baik kalian membawa plastik sendiri untuk mengumpulkan sisa sampah kalian dan membuangnya di tong sampah yang berada tidak jauh dari area makam, serta jangan merusak, mencorat-coret, dan melakukan perbuatan vandalisme lainnya ya, karena kalian datang untuk menikmati keindahannya maka alangkah lebih kerennya jika kalian pun bisa tetap menjaga keindahan tempat ini supaya semua bisa sama-sama menikmatinya
Kali ini tujuan goweswisata.blogspot.co.id adalah mencari curug atau air terjun atau grojokan atau apalah kalian biasa menyebutnya, intinya petualangan kali ini adalah mencari tempat yang bisa untuk bermain air.
Nah mengenai Grojokan Ledok Waru sendiri saya mendapat infonya dari sebuah grup komunitas backpacker yang ada disosial media, walaupun informasi mengenai keberadaan lokasi ini terbilang masih sangat minim, namun setidaknya ada sebuah petunjuk yang membuat perasaan “sepertinya saya tahu deh kira-kira dimana lokasinya” kembali membara, sedikit cluenya adalah tempat ini berada tidak jauh dari Pabrik Gula Gondang Winangun
Alasan lainnya mengapa saya tertarik untuk mencoba mengeksplor tempat ini adalah karena tempat ini memenuhi beberapa kriteria yang saya terapkan untuk bertualang secara santai, antara lain :
1. Tempatnya keren banget tapi belum terlalu populer (jadi kemungkinan besar masih alami)
2. Karena belum populer itulah maka bisa dipastikan jika tempat ini bebas biaya retribusi alias masih gratis
3. Lokasinya berada tidak terlalu jauh dari kediaman saya di Jogja, yaitu sekitar 24km saja
4. Rutenya tergolong mudah dan ga pake adegan nanjak-nanjak segala ayeeyyyy
Nah karena semua kriteria yang saya gunakan tersebut sepertinya terpenuhi maka dari itu Grojokan Ledok Waru here I come… :)
Cara paling mudah untuk menuju ke lokasi Grojokan Ledok Waru adalah jika kalian start dari Kota Jogja maka kalian hanya tinggal melalui jalan raya Jogja-Solo yang menuju kearah timur sampai nantinya kalian tiba di traffic light Pabrik Gula Gondang Winangun, dari traffic light tersebut kemudian kalian tinggal belok ke kiri (Utara), terus saja kira-kira 150 meter nanti ada gang masuk Desa Ledok disisi kanan, masuk saja dan tanya dimanakah lokasi Grojokan Ledok Waru atau Makam Ledok Dusun Gondang, nanti lokasi dari Grojokan Ledok Waru sendiri berada persis dibawah area komplek Makam
Peta menuju lokasi Grojokan Ledok Waru
Untunglah pada petualangan goweswisata.blogspot.co.id kali ini saya menggunakan sepeda lipat, karena untuk turun ke lokasi grojokannya jalurnya masih berupa undakan tangga dari tanah yang licin sehingga sepeda terpaksa harus digotong
Dan akhirnya saatnya menikmati keindahan dari Grojokan Ledok Waru yang berada di Desa Ledok, Kelurahan Gondang, Kecamatan Kebonarum, Klaten
Sepintas karakteristik dari Grojokan Ledok Waru sendiri mirip seperti obyek wisata Blue Lagoon di Sleman dan obyek wisata Lava Bantal di Berbah, karena dengan bentuk grojokannya yang berundak-undak dan memiliki semacam kolam di bagian tengahnya yang bisa dijadikan lokasi terjun bebas menjadikan tempat ini mirip dengan obyek wisata Blue Lagoon, sedangkan dari segi lokasinya yang berada persis dipinggir jalan menjadikan posisinya mirip dengan obyek wisata Lava Bantal, hanya saja secara pribadi saya lebih menyukai Grojokan Ledok Waru dibanding kedua tempat tadi karena disini suasananya masih sangat alami, dan jumlah undakan dari grojokannya sendiri juga lebih banyak dan bervariasi
Dari yang semula hanya saya sendiri yang berada di grojokan ini tak berapa lama kemudian datanglah beberapa warga sekitar yang hendak melakukan kerja bakti untuk membersihkan dan merapikan lokasi sekitar Grojokan Ledok Waru ini.
Menurut penuturan Pak Waluyo dan Pak Kamto yang merupakan warga Desa Ledok, Grojokan Ledok Waru sendiri sebenarnya dulu pernah direncanakan untuk dibuat sebagai lokasi wisata, namun sayangnya sejak tahun 90-an ide tersebut hanya sebatas menjadi wacana saja tanpa pernah direalisasikan, untungnya kini di era sosial media yang serba cepat dan internet yang semakin merata serta masih ditambah lagi dengan adanya kebijakan dari Pihak Pemkot Klaten yang mencanangkan gerakan bahwa setiap desa harus memiliki minimal satu obyek wisata maka Grojokan Ledok Waru pun kini mulai berbenah dan bersiap untuk dipublikasikan secara luas.
Untuk memulai semua itu tentunya dibutuhkan beberapa tahap, salah satu tahap yang sedang dikerjakan saat ini adalah dengan menggandeng pihak tim konsultan yang berasal dari Jogja, Klaten, dan Jakarta. Nantinya setelah semua urusan penataan disekitar lokasi sudah selesai maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab sekitar lokasi Grojokan Ledok Waru sendiri akan diserahkan kepada pihak desa, yang mana nantinya akan diurus bersama oleh warga dan pemuda-pemuda dari tiga desa yaitu Desa Ledok, Desa Karangasem, dan Desa Tegal.
Penataan dan pembangunan infrastruktur pendukung yang akan dilakukan nantinya akan meliputi pembukaan area parkir kendaraan yang rencananya akan dibuat di lokasi tanah kas desa, pelebaran akses jalan masuk supaya mobil dapat masuk (sementara ini bagi wisatawan yang ingin berkunjung dan menggunakan kendaraan roda 4 terpaksa memarkirkan kendaraannya disepanjang sisi jalan), pembuatan gazebo-gazebo dan bangku-bangku, pemasangan tempat sampah, pembuatan jembatan dari bambu, pemasangan pasak-pasak pagar pembatas dari bambu, pembangunan toilet umum dan penitipan barang, serta warung-warung, sementara untuk fasilitas pendukung wisata air ini nantinya bagi para pengunjung dapat menyewa ban-ban pelampung dan menikmati kegiatan susur sungai.
Walaupun nantinya akan dibuat beberapa fasilitas dan infrastruktur pendukung di sekitar lokasi, namun pihak desa meyakinkan bahwa semua pembangunan tersebut tidak akan sampai merusak kealamian Grojokan Ledok Waru, justru dengan menjadikan Grojokan Ledok Waru ini sebagai obyek wisata yang terbuka untuk umum maka secara tidak langsung warganya juga akan belajar beradaptasi dan berkembang menjadi kelompok sadar wisata yang merasa bertanggungjawab untuk terus menjaga kebersihan dan keindahan lokasi ini, sedangkan untuk retribusinya sendiri kemungkinan akan menggunakan karcis parkir untuk menghindari adanya oknum parkir liar, namun pihak desa berjanji untuk sedapat mungkin mengenakan tarif retribusi yang tergolong merakyat dan wajar
Sumber aliran air di Grojokan Ledok Waru sendiri berasal dari mata air yang ada di wilayah sekitar Gunung Merapi sehingga grojokan ini tidak pernah surut atau kering seperti curug-curug atau grojokan lainnya yang mengandalkan debit airnya dari air hujan, jadi bagi kalian yang ingin berwisata ketempat ini tidak perlu takut tidak bisa bermain air karena grojokannya kering, justru disaat musim kemarau biasanya air di Grojokan Ledok Waru ini menjadi jernih, oya kedalaman air disini juga relatif aman kok, bagian terdalam hanya berada disekitar kolam yang berada di undakan tengah dengan kedalaman sekitar 2 meter, selebihnya kedalaman air hanya berkisar sebatas paha orang dewasa saja.
Selain menikmati bermain air, disini kalian juga bisa melihat pemandangan hamparan sawah yang berada persis di sepanjang sisi aliran sungai ini, rencananya nanti dibeberapa titik juga akan ditanami pohon-pohon buah sehingga kalian juga bisa berwisata agro
Bagaimana sekarang bertambah lagi kan pilihan destinasi wisata liburan kalian? Jadi kapan kalian berkunjung ke Grojokan Ledok Waru? Kalau kalian berwisata kesini tetap ingat untuk menjaga kebersihan tempat ini ya, karena belum ada tong sampah di sekitar lokasi maka lebih baik kalian membawa plastik sendiri untuk mengumpulkan sisa sampah kalian dan membuangnya di tong sampah yang berada tidak jauh dari area makam, serta jangan merusak, mencorat-coret, dan melakukan perbuatan vandalisme lainnya ya, karena kalian datang untuk menikmati keindahannya maka alangkah lebih kerennya jika kalian pun bisa tetap menjaga keindahan tempat ini supaya semua bisa sama-sama menikmatinya
Monday, 12 March 2018
CHAPTER 30; THE VILLAGE WHERE THE SUN NEVER SHINE
Sabtu, 06 Februari 2016 – Minggu, 07 Februari 2016
Di hari Sabtu yang juga merupakan hari ke 52 petualangan bersepeda goweswisata.blogspot.co.id ini selama seharian penuh kami hanya berdiam di rumah Mbak Henni yang menjadi host kami selama berada di Kota Bima ini. Ngapain saja? Ga bosan? Kok ga jalan-jalan? Inginnya sih begitu tapi apalah daya karena jadwal untuk hari ini adalah mencuci semua pakaian kotor yang sudah menumpuk sejak start perjalanan kami mulai dari Plampang sampai tiba di Kota Bima, selesai mencuci dan menjemur kini tinggal menunggu semuanya kering, sambil menunggu seperti ini mah enaknya sekalian tidur siang hehe...setidaknya waktu seharian penuh ini harus dioptimalkan untuk mencicil semua "pekerjaan rumah" kami.
Dan akhirnya memasuki hari ke 53 (Minggu, 07/02/2016), sekarang semua pakaian yang kemarin kami cuci akhirnya sudah kering dan wangi, rasanya mengawali hari ini sungguh menyenangkan karena bisa mengenakan pakaian yang sudah bersih dan wangi (mengingat terkadang kami harus terus mengenakan pakaian yang sama selama berhari-hari dikarenakan belum menemukan waktu dan tempat yang pas untuk mencuci dan bersih-bersih)
Mumpung kali ini ada tempat untuk menaruh sepeda dan semua barang-barang dikediaman Mbak Henni, maka hari ini kami berencana untuk berjalan kaki saja, berkeliling dan melihat suasana Kota Bima.
Kota Bima yang dikenal sebagai Kota Tepian Air karena wilayahnya berada dekat dengan perairan (laut dan pelabuhan) sebenarnya cukup memungkinkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki atau bersepeda, dengan jarak antar pusat keramaian satu dengan yang lainnya tidak terlalu jauh sungguh mengherankan jika mayoritas masyarakat disini tidak suka berjalan kaki, padahal menurut kami dengan berjalan kaki seperti ini banyak detail yang bisa dilihat, namun entahlah sepertinya memang sudah menjadi "gaya hidup" yang lazim dan umum di hampir semua wilayah yang sudah kami lewati jika perlahan tapi pasti mulai ada ketergantungan pada setiap orang untuk menggunakan motor kemana pun mereka pergi (sekalipun jarak atau tujuannya terhitung dekat dan tidak membawa barang-barang berat, selain itu juga karena alasan "faktor prestise atau gaya")
Dari tempat kami menginap di rumah Mbak Henni kebetulan lokasinya juga sangat strategis, begitu keluar ke jalan besar sudah langsung berhadapan dengan GOR (namun anehnya lahan yang ada dekat dengan GOR justru dijadikan pangkalan truk sehingga secara tidak langsung menurut kami jadi sedikit mengurangi keindahan GOR itu sendiri)
Jika kita berjalan terus ke arah Barat maka kita akan menuju ke Alun-alun Kota Bima, sekilas bentuk Alun-alunnya mirip dengan Alun-alun di Kota Magelang, lengkap dengan patung kudanya (bedanya hanya di Magelang patung kudanya lengkap dengan penunggangnya, sedangkan disini yang ada hanya patung kudanya saja), oya yang unik di Alun-alun Kota Bima ini adalah ada sebuah ring tinju, ya kalian tidak salah baca dan saya juga tidak salah mengetik, tetapi disini memang ada ring tinju tepat di Alun-alun kotanya, apakah Kota Bima ini terkenal dengan olahraga tinjunya atau merupakan daerah penghasil bibit atlet cabang olahraga tinju entahlah saya pun kurang tahu.
Tidak jauh dari Alun-alun tersebut terdapat sebuah bangunan yang bentuknya nyaris sama dengan bangunan Bale Putih (Wisma Daerah) yang ada di Kota Sumbawa, menurut cerita dahulu ketika Raja Sumbawa ingin melamar putri dari Kesultanan Bima maka salah satu syarat yang diajukan oleh Ayahanda sang putri adalah sang Raja harus membuat bangunan istana yang bentuknya sama persis dengan yang ada di Bima, oleh karena itulah kini di Kota Bima dan Kota Sumbawa keduanya memiliki bangunan istana yang bentuknya sama persis. Saat ini bangunan istana yang ada di Kota Bima sendiri telah dialih fungsikan menjadi Museum bernama Museum Asi Mbojo
Selain Museum dan Alun-alun, hal lain yang bisa kalian lihat diseputaran wilayah Kota Bima antara lain adalah bangunan Masjid Agung, daerah perniagaan, Pantai Lawata, Pantai Amahami, dan Pantai Kalaki yang lokasinya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki hehe… (mendingan naik sepeda saja kalau mau muter-muter sampai sini), selain itu jika kalian berkunjung ke pantainya maka kalian pun juga bisa menyewa perahu milik nelayan sekitar untuk menyeberang ke sebuah pulau kecil yaitu pulau kambing yang lokasinya berada tidak jauh dari pantai
Dan karena Kota Bima berada dekat dengan tepian air, maka tidaklah mengherankan jika disini banyak sekali terdapat penjual ikan segar, hasil tangkapan ikan di wilayah ini tergolong melimpah ruah sehingga harga ikan-ikan yang dijual pun juga cukup murah
Usai berjalan-jalan keliling kota kami pun kembali ke rumah Mbak Henni karena cuaca tampak mulai mendung, dan benar saja tidak lama kemudian hujan pun mulai turun, untunglah kami sudah tiba kembali di rumah
Kira-kira sekitar jam 2 siang ditengah gerimis kecil yang masih turun, kami diajak oleh Mbak Henni dan temannya untuk pergi ke suatu tempat melihat obyek wisata air terjun yang masih belum populer, hmmm...air terjun dan hujan sepertinya bukanlah kombinasi yang tepat karena dari pengalaman yang sudah-sudah sewaktu kami masih berada di Jogja, mengunjungi air terjun disaat cuaca hujan maka hampir bisa dipastikan warna air terjunnya akan berubah menjadi coklat karena bercampur dengan tanah yang terbawa oleh aliran air, bagaimana dengan air terjun yang ini? Entahlah tetapi kami tidak terlalu berekspetasi tinggi, kun fayakun saja :)
Bertujuh dengan menggunakan 3 sepeda motor kami pun kemudian menuju ke arah Bandara, dan tidak jauh dari Bandara tepatnya disebuah perempatan kami pun berbelok ke kiri, nah disinilah keseruan berawal.
Gerimis yang turun sejak siang tadi perlahan mulai berubah menjadi sedikit lebih deras, apakah karena faktor cuaca ataukah karena pengaruh dari kabut yang mulai turun menutupi bukit yang berada dihadapan kami entahlah, yang pasti masing-masing dari kami mulai berhenti untuk mengenakan jas hujan, namun karena Agit tidak membawa jas hujannya akhirnya saya pun menyuruhnya untuk mengenakan jas hujan milik saya supaya ia tidak sakit, untungnya saat itu saya juga membawa jaket cadangan dari Naturehike yang diberikan oleh salah satu rekan pendukung perjalanan kami yaitu Pindon Outdoor, jadi ya sudah lebih baik sekalian di tes lapangan saja secara langsung. Walaupun fungsi sebenarnya dari jaket ini bukanlah jas hujan melainkan jaket anti UV dan windstopper, namun untunglah sifat materialnya yang water repellent setidaknya cukup membantu melindungi pakaian didalamnya dari kondisi basah total, selain itu jaket yang mempunyai tudung kepala ini juga dapat melindungi kepala dari terpaan air hujan secara langsung, terimakasih kepada Pindon Outdoor yang telah mensupport perjalanan kami dengan menyediakan outdoor gear yang berkualitas, dengan dimensi packing jaket yang hanya sebesar genggaman tangan tampaknya jaket ini berguna untuk menjadi jaket darurat disaat-saat tertentu, tidak hanya sebagai jaket anti UV saja melainkan juga dapat digunakan sebagai windstopper dan perlindungan dari nyamuk saat harus beristirahat di tempat yang "kurang nyaman" seperti sewaktu kami tiba di Pelabuhan Pototano yang lalu
Selesai mengenakan jaket masing-masing, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menembus hujan, disinilah saya bersyukur bahwa kami ke tempat ini tidak dengan menggunakan sepeda melainkan dengan dibonceng menggunakan motor (lagipula sepeda hanya salah satu dari sekian banyak sarana transportasi yang ada, kami pun tidak akan memaksakan untuk bersepeda jika kondisi medannya tidak memungkinkan), karena disini kami harus melalui kontur jalan yang terus menanjak dan berliku serta tidak terlalu lebar, selain itu masih ditambah dengan guyuran hujan serta kabut yang mulai turun, oya jangan samakan suasana menanjak disini sama dengan suasana menanjak di Pulau Jawa yang setidaknya masih terdapat warung-warung di pinggir jalannya, disini suasananya lebih sepi, tidak ada warung sama sekali, rumah-rumah penduduk pun baru ada begitu memasuki Desa Kaboro itupun jumlahnya tidak terlalu banyak, rumah-rumah yang ada disekitar sini mayoritas masih berbentuk rumah-rumah panggung seperti rumah-rumah yang ada di desa nelayan
Semakin ke atas medan tanjakannya juga semakin curam dan berkelok-kelok, hawa dingin dari hujan serta kabut yang menerpa juga cukup membuat jemari tangan menjadi sedikit kebas dan kram, motor-motor kami terus dipacu sampai akhirnya tiba di batas akhir jalan aspal. Tampaknya tujuan kami ke air terjun Desa Teta ini pun harus dibatalkan karena kondisi medan dan debit airnya yang tidak memungkinkan untuk dikunjungi dengan pertimbangan faktor keamanan
Dari hasil perbincangan dengan teman-teman Mbak Henni saya baru mengetahui jika di desa ini masyarakatnya masih berbicara menggunakan bahasa Bima kuno, sehingga ketika kita berbicara mereka paham apa yang kita ucapkan tetapi tidak sebaliknya, kita semua tidak paham dengan struktur bahasa yang mereka gunakan
Selain itu dahulu kala di desa yang bernama Desa Teta ini, orang-orang sering menyebut desa ini sebagai desa dimana matahari tidak pernah bersinar dikarenakan kondisinya yang tidak pernah tersentuh sinar matahari secara langsung, menurut orang-orang tua jaman dahulu, sebelum jalan aspal ini dibuat, suasana di Desa Teta ini tertutup oleh pepohonan jati yang menjulang tinggi hingga daun-daunnya menutupi desa dibawahnya, selain itu dengan lokasinya yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000mdpl juga menyebabkan kabut selalu turun menutupi wilayah ini setiap harinya, oleh karena itulah dikatakan bahwa sinar matahari tidak pernah bisa menembus wilayah desa ini
Kini setelah jalan aspal dibuat dan beberapa pohon telah dipangkas tetap saja sinar matahari tidak bisa lama menyinari wilayah desa ini, karena hampir setiap harinya kabut dan hujan selalu turun menutupi dan mengguyur desa ini
Untuk aktivitas sosial masyarakat di desa ini sendiri polanya kurang lebih hampir sama dengan suku anak dalam atau suku badui dalam, kebanyakan dari mereka hidup dengan cara beternak dan berladang, hanya sedikit dari mereka yang meneruskan untuk bersekolah, kebanyakan langsung bekerja membantu orangtuanya diladang sejak kecil.
Namun seiring zaman tampaknya kini modernisasi juga telah mulai menyentuh sebagian masyarakat disini, beberapa parabola dan tv kabel tampak terpasang di beberapa halaman rumah warganya, motor-motor pun juga telah ada dan digunakan untuk mengangkut hasil ladang, oya satu hal yang menarik adalah disini juga telah ada terminal busnya lho, bayangkan di tempat setinggi dan sepi seperti ini ternyata ada terminal busnya, ga ngebayangin jika naik busnya melewati tanjakan-tanjakan dan turunan-turunan curam seperti yang tadi kami lewati, dijamin semua penumpangnya pasti banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
Jika kalian ingin berkunjung ke desa ini maka pastikan kalian juga harus menjaga sikap dan sopan santun, mintalah ijin terlebih dahulu jika kalian hendak beristirahat di salah satu berugak (gazebo) yang ada di depan halaman rumah warga, jangan asal nyelonong saja karena warga disini tidak segan untuk menegur kalian jika berlaku tidak sopan
Dibalik semua keunikan dan keindahan pemandangan alamnya ternyata ditempat ini juga menyimpan kisah berbau spiritual atau klenik berupa kisah Desa Sambori yang hilang, menurut cerita ada orang-orang tertentu yang bisa melihat kemunculan Desa Sambori yang asli berupa sebuah wilayah hunian yang tertata rapi layaknya sebuah desa yang berada jauh didalam wilayah hutannya, namun anehnya tidak ada seorang manusia pun di desa tersebut, akan tetapi semua rumah-rumah yang ada di desa tersebut masih dalam keadaan yang rapi dan bersih serta berfungsi layaknya sebuah desa yang masih dihuni oleh penduduknya
Memang ada sebuah Desa juga bernama Sambori yang letaknya berada dekat dengan jalan beraspal, namun menurut penuturan beberapa orang, Desa Sambori yang asli adalah desa yang berada di dalam hutan dan dipercaya sebagai mitos sebuah desa yang hilang hingga sekarang
Terkadang kebenaran dari kisah-kisah tersebut memang masih menjadi misteri bagi kita yang "belum dapat" menyaksikan atau merasakan kebenarannya secara langsung, namun terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu terkadang hal-hal tersebut tetap dibutuhkan sebagai bagian dari nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ciri dan pegangan dalam mengatur dan menjaga keseimbangan hidup di dalam masyarakatnya, serta menjaga keselarasan antara manusia dengan alamnya
“The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”
Pengeluaran hari ini :
- 1 botol aqua 1,5L = Rp 6.000,-
- jajan roti+minuman gelas = Rp 5.000,-
- Sunlight = Rp 2.000,-
- belanja swalayan = Rp 154.700,-
- 2 keripik singkong = Rp 10.000,-
Total = Rp 177.700,-
Di hari Sabtu yang juga merupakan hari ke 52 petualangan bersepeda goweswisata.blogspot.co.id ini selama seharian penuh kami hanya berdiam di rumah Mbak Henni yang menjadi host kami selama berada di Kota Bima ini. Ngapain saja? Ga bosan? Kok ga jalan-jalan? Inginnya sih begitu tapi apalah daya karena jadwal untuk hari ini adalah mencuci semua pakaian kotor yang sudah menumpuk sejak start perjalanan kami mulai dari Plampang sampai tiba di Kota Bima, selesai mencuci dan menjemur kini tinggal menunggu semuanya kering, sambil menunggu seperti ini mah enaknya sekalian tidur siang hehe...setidaknya waktu seharian penuh ini harus dioptimalkan untuk mencicil semua "pekerjaan rumah" kami.
Dan akhirnya memasuki hari ke 53 (Minggu, 07/02/2016), sekarang semua pakaian yang kemarin kami cuci akhirnya sudah kering dan wangi, rasanya mengawali hari ini sungguh menyenangkan karena bisa mengenakan pakaian yang sudah bersih dan wangi (mengingat terkadang kami harus terus mengenakan pakaian yang sama selama berhari-hari dikarenakan belum menemukan waktu dan tempat yang pas untuk mencuci dan bersih-bersih)
Mumpung kali ini ada tempat untuk menaruh sepeda dan semua barang-barang dikediaman Mbak Henni, maka hari ini kami berencana untuk berjalan kaki saja, berkeliling dan melihat suasana Kota Bima.
Kota Bima yang dikenal sebagai Kota Tepian Air karena wilayahnya berada dekat dengan perairan (laut dan pelabuhan) sebenarnya cukup memungkinkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki atau bersepeda, dengan jarak antar pusat keramaian satu dengan yang lainnya tidak terlalu jauh sungguh mengherankan jika mayoritas masyarakat disini tidak suka berjalan kaki, padahal menurut kami dengan berjalan kaki seperti ini banyak detail yang bisa dilihat, namun entahlah sepertinya memang sudah menjadi "gaya hidup" yang lazim dan umum di hampir semua wilayah yang sudah kami lewati jika perlahan tapi pasti mulai ada ketergantungan pada setiap orang untuk menggunakan motor kemana pun mereka pergi (sekalipun jarak atau tujuannya terhitung dekat dan tidak membawa barang-barang berat, selain itu juga karena alasan "faktor prestise atau gaya")
Dari tempat kami menginap di rumah Mbak Henni kebetulan lokasinya juga sangat strategis, begitu keluar ke jalan besar sudah langsung berhadapan dengan GOR (namun anehnya lahan yang ada dekat dengan GOR justru dijadikan pangkalan truk sehingga secara tidak langsung menurut kami jadi sedikit mengurangi keindahan GOR itu sendiri)
Jika kita berjalan terus ke arah Barat maka kita akan menuju ke Alun-alun Kota Bima, sekilas bentuk Alun-alunnya mirip dengan Alun-alun di Kota Magelang, lengkap dengan patung kudanya (bedanya hanya di Magelang patung kudanya lengkap dengan penunggangnya, sedangkan disini yang ada hanya patung kudanya saja), oya yang unik di Alun-alun Kota Bima ini adalah ada sebuah ring tinju, ya kalian tidak salah baca dan saya juga tidak salah mengetik, tetapi disini memang ada ring tinju tepat di Alun-alun kotanya, apakah Kota Bima ini terkenal dengan olahraga tinjunya atau merupakan daerah penghasil bibit atlet cabang olahraga tinju entahlah saya pun kurang tahu.
Tidak jauh dari Alun-alun tersebut terdapat sebuah bangunan yang bentuknya nyaris sama dengan bangunan Bale Putih (Wisma Daerah) yang ada di Kota Sumbawa, menurut cerita dahulu ketika Raja Sumbawa ingin melamar putri dari Kesultanan Bima maka salah satu syarat yang diajukan oleh Ayahanda sang putri adalah sang Raja harus membuat bangunan istana yang bentuknya sama persis dengan yang ada di Bima, oleh karena itulah kini di Kota Bima dan Kota Sumbawa keduanya memiliki bangunan istana yang bentuknya sama persis. Saat ini bangunan istana yang ada di Kota Bima sendiri telah dialih fungsikan menjadi Museum bernama Museum Asi Mbojo
Selain Museum dan Alun-alun, hal lain yang bisa kalian lihat diseputaran wilayah Kota Bima antara lain adalah bangunan Masjid Agung, daerah perniagaan, Pantai Lawata, Pantai Amahami, dan Pantai Kalaki yang lokasinya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki hehe… (mendingan naik sepeda saja kalau mau muter-muter sampai sini), selain itu jika kalian berkunjung ke pantainya maka kalian pun juga bisa menyewa perahu milik nelayan sekitar untuk menyeberang ke sebuah pulau kecil yaitu pulau kambing yang lokasinya berada tidak jauh dari pantai
Dan karena Kota Bima berada dekat dengan tepian air, maka tidaklah mengherankan jika disini banyak sekali terdapat penjual ikan segar, hasil tangkapan ikan di wilayah ini tergolong melimpah ruah sehingga harga ikan-ikan yang dijual pun juga cukup murah
Usai berjalan-jalan keliling kota kami pun kembali ke rumah Mbak Henni karena cuaca tampak mulai mendung, dan benar saja tidak lama kemudian hujan pun mulai turun, untunglah kami sudah tiba kembali di rumah
Kira-kira sekitar jam 2 siang ditengah gerimis kecil yang masih turun, kami diajak oleh Mbak Henni dan temannya untuk pergi ke suatu tempat melihat obyek wisata air terjun yang masih belum populer, hmmm...air terjun dan hujan sepertinya bukanlah kombinasi yang tepat karena dari pengalaman yang sudah-sudah sewaktu kami masih berada di Jogja, mengunjungi air terjun disaat cuaca hujan maka hampir bisa dipastikan warna air terjunnya akan berubah menjadi coklat karena bercampur dengan tanah yang terbawa oleh aliran air, bagaimana dengan air terjun yang ini? Entahlah tetapi kami tidak terlalu berekspetasi tinggi, kun fayakun saja :)
Bertujuh dengan menggunakan 3 sepeda motor kami pun kemudian menuju ke arah Bandara, dan tidak jauh dari Bandara tepatnya disebuah perempatan kami pun berbelok ke kiri, nah disinilah keseruan berawal.
Gerimis yang turun sejak siang tadi perlahan mulai berubah menjadi sedikit lebih deras, apakah karena faktor cuaca ataukah karena pengaruh dari kabut yang mulai turun menutupi bukit yang berada dihadapan kami entahlah, yang pasti masing-masing dari kami mulai berhenti untuk mengenakan jas hujan, namun karena Agit tidak membawa jas hujannya akhirnya saya pun menyuruhnya untuk mengenakan jas hujan milik saya supaya ia tidak sakit, untungnya saat itu saya juga membawa jaket cadangan dari Naturehike yang diberikan oleh salah satu rekan pendukung perjalanan kami yaitu Pindon Outdoor, jadi ya sudah lebih baik sekalian di tes lapangan saja secara langsung. Walaupun fungsi sebenarnya dari jaket ini bukanlah jas hujan melainkan jaket anti UV dan windstopper, namun untunglah sifat materialnya yang water repellent setidaknya cukup membantu melindungi pakaian didalamnya dari kondisi basah total, selain itu jaket yang mempunyai tudung kepala ini juga dapat melindungi kepala dari terpaan air hujan secara langsung, terimakasih kepada Pindon Outdoor yang telah mensupport perjalanan kami dengan menyediakan outdoor gear yang berkualitas, dengan dimensi packing jaket yang hanya sebesar genggaman tangan tampaknya jaket ini berguna untuk menjadi jaket darurat disaat-saat tertentu, tidak hanya sebagai jaket anti UV saja melainkan juga dapat digunakan sebagai windstopper dan perlindungan dari nyamuk saat harus beristirahat di tempat yang "kurang nyaman" seperti sewaktu kami tiba di Pelabuhan Pototano yang lalu
Selesai mengenakan jaket masing-masing, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menembus hujan, disinilah saya bersyukur bahwa kami ke tempat ini tidak dengan menggunakan sepeda melainkan dengan dibonceng menggunakan motor (lagipula sepeda hanya salah satu dari sekian banyak sarana transportasi yang ada, kami pun tidak akan memaksakan untuk bersepeda jika kondisi medannya tidak memungkinkan), karena disini kami harus melalui kontur jalan yang terus menanjak dan berliku serta tidak terlalu lebar, selain itu masih ditambah dengan guyuran hujan serta kabut yang mulai turun, oya jangan samakan suasana menanjak disini sama dengan suasana menanjak di Pulau Jawa yang setidaknya masih terdapat warung-warung di pinggir jalannya, disini suasananya lebih sepi, tidak ada warung sama sekali, rumah-rumah penduduk pun baru ada begitu memasuki Desa Kaboro itupun jumlahnya tidak terlalu banyak, rumah-rumah yang ada disekitar sini mayoritas masih berbentuk rumah-rumah panggung seperti rumah-rumah yang ada di desa nelayan
Semakin ke atas medan tanjakannya juga semakin curam dan berkelok-kelok, hawa dingin dari hujan serta kabut yang menerpa juga cukup membuat jemari tangan menjadi sedikit kebas dan kram, motor-motor kami terus dipacu sampai akhirnya tiba di batas akhir jalan aspal. Tampaknya tujuan kami ke air terjun Desa Teta ini pun harus dibatalkan karena kondisi medan dan debit airnya yang tidak memungkinkan untuk dikunjungi dengan pertimbangan faktor keamanan
Dari hasil perbincangan dengan teman-teman Mbak Henni saya baru mengetahui jika di desa ini masyarakatnya masih berbicara menggunakan bahasa Bima kuno, sehingga ketika kita berbicara mereka paham apa yang kita ucapkan tetapi tidak sebaliknya, kita semua tidak paham dengan struktur bahasa yang mereka gunakan
Selain itu dahulu kala di desa yang bernama Desa Teta ini, orang-orang sering menyebut desa ini sebagai desa dimana matahari tidak pernah bersinar dikarenakan kondisinya yang tidak pernah tersentuh sinar matahari secara langsung, menurut orang-orang tua jaman dahulu, sebelum jalan aspal ini dibuat, suasana di Desa Teta ini tertutup oleh pepohonan jati yang menjulang tinggi hingga daun-daunnya menutupi desa dibawahnya, selain itu dengan lokasinya yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000mdpl juga menyebabkan kabut selalu turun menutupi wilayah ini setiap harinya, oleh karena itulah dikatakan bahwa sinar matahari tidak pernah bisa menembus wilayah desa ini
Kini setelah jalan aspal dibuat dan beberapa pohon telah dipangkas tetap saja sinar matahari tidak bisa lama menyinari wilayah desa ini, karena hampir setiap harinya kabut dan hujan selalu turun menutupi dan mengguyur desa ini
Untuk aktivitas sosial masyarakat di desa ini sendiri polanya kurang lebih hampir sama dengan suku anak dalam atau suku badui dalam, kebanyakan dari mereka hidup dengan cara beternak dan berladang, hanya sedikit dari mereka yang meneruskan untuk bersekolah, kebanyakan langsung bekerja membantu orangtuanya diladang sejak kecil.
Namun seiring zaman tampaknya kini modernisasi juga telah mulai menyentuh sebagian masyarakat disini, beberapa parabola dan tv kabel tampak terpasang di beberapa halaman rumah warganya, motor-motor pun juga telah ada dan digunakan untuk mengangkut hasil ladang, oya satu hal yang menarik adalah disini juga telah ada terminal busnya lho, bayangkan di tempat setinggi dan sepi seperti ini ternyata ada terminal busnya, ga ngebayangin jika naik busnya melewati tanjakan-tanjakan dan turunan-turunan curam seperti yang tadi kami lewati, dijamin semua penumpangnya pasti banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
Jika kalian ingin berkunjung ke desa ini maka pastikan kalian juga harus menjaga sikap dan sopan santun, mintalah ijin terlebih dahulu jika kalian hendak beristirahat di salah satu berugak (gazebo) yang ada di depan halaman rumah warga, jangan asal nyelonong saja karena warga disini tidak segan untuk menegur kalian jika berlaku tidak sopan
Dibalik semua keunikan dan keindahan pemandangan alamnya ternyata ditempat ini juga menyimpan kisah berbau spiritual atau klenik berupa kisah Desa Sambori yang hilang, menurut cerita ada orang-orang tertentu yang bisa melihat kemunculan Desa Sambori yang asli berupa sebuah wilayah hunian yang tertata rapi layaknya sebuah desa yang berada jauh didalam wilayah hutannya, namun anehnya tidak ada seorang manusia pun di desa tersebut, akan tetapi semua rumah-rumah yang ada di desa tersebut masih dalam keadaan yang rapi dan bersih serta berfungsi layaknya sebuah desa yang masih dihuni oleh penduduknya
Memang ada sebuah Desa juga bernama Sambori yang letaknya berada dekat dengan jalan beraspal, namun menurut penuturan beberapa orang, Desa Sambori yang asli adalah desa yang berada di dalam hutan dan dipercaya sebagai mitos sebuah desa yang hilang hingga sekarang
Terkadang kebenaran dari kisah-kisah tersebut memang masih menjadi misteri bagi kita yang "belum dapat" menyaksikan atau merasakan kebenarannya secara langsung, namun terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu terkadang hal-hal tersebut tetap dibutuhkan sebagai bagian dari nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ciri dan pegangan dalam mengatur dan menjaga keseimbangan hidup di dalam masyarakatnya, serta menjaga keselarasan antara manusia dengan alamnya
“The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”
Pengeluaran hari ini :
- 1 botol aqua 1,5L = Rp 6.000,-
- jajan roti+minuman gelas = Rp 5.000,-
- Sunlight = Rp 2.000,-
- belanja swalayan = Rp 154.700,-
- 2 keripik singkong = Rp 10.000,-
Total = Rp 177.700,-
Subscribe to:
Posts (Atom)

































































