Wednesday, 12 April 2017
CHAPTER 3; MUSEUM TRINIL
Jika kalian pernah tahu atau menonton sebuah film komedi box office berjudul “Night at Museum” yang dibintangi oleh Ben Stiller, dimana dalam film tersebut bercerita tentang seorang petugas jaga malam di sebuah Museum yang mengalami kejadian luar biasa dalam hidupnya saat ia mengetahui bahwa semua artifak sejarah yang ada didalam Museum yang dijaganya tersebut berubah menjadi hidup saat malam tiba, maka di malam kedua petualangan bersepeda kami, tiba-tiba ingatan tentang adegan dalam film tersebut kembali terlintas dalam pikiran.
Dengan suasana sekitar yang kurang lebih mirip dengan setting yang terjadi dalam film tersebut, yaitu saat ini kami bermalam di sebuah Museum yang menyimpan artefak dan fosil-fosil tulang belulang manusia serta hewan dari jaman prasejarah, tentunya akan sangat konyol sekali jika semua fosil tersebut kembali hidup seperti kejadian dalam film tersebut.
Setelah selesai bersih-bersih dan menggelar matras serta sleeping pad di pojok ruangan, sembari beristirahat saya pun menulis catatan singkat tentang apa saja yang terjadi diperjalanan hari ini, sedangkan diruang tengah tampak beberapa pekerja bangunan sedang asyik menonton tayangan televisi.
Jarum jam di dinding ruangan kantor menunjukkan pukul 8 malam, selagi asyik menulis seketika saya teringat jika malam ini perut kami belum terisi asupan makanan sedangkan sisa cemilan yang ada di pannier kami juga sudah habis, nah lho mana disekitar Museum juga tidak ada warung makan yang buka pula karena sudah malam. Untunglah disaat perut kami berdua sedang bersiap menggelar “orchestra kruyukan” tiba-tiba salah seorang pekerja bangunan menghampiri kami berdua sembari menawarkan makanan, Alhamdulillah benar-benar moment yang sangat tepat, ternyata Tuhan memang sangat penuh kasih terhadap hambanya yang tengah kelaparan ini.
Setelah perut terisi kini saatnya bagi kami untuk beristirahat, rencananya besok kami masih akan tetap berada di Museum Trinil ini, selain untuk memulihkan tenaga, kami juga ingin belajar tentang apa saja yang ada di Museum ini dan lokasi sekitarnya, baiklah selamat malam semua :)
Pagi menjelang diiringi sinar mentari yang perlahan mulai masuk kedalam ruangan kantor tempat kami menginap melalui sela-sela kisi jendela, huaaahhh… badan rasanya terasa segar setelah semalam tidur kami cukup nyenyak, baiklah saatnya beraktivitas mengisi hari ini, oya karena kamar mandi di bangunan kantor yang baru ini belum selesai proses finishingnya maka kami pun menumpang mandi dan mencuci baju di rumah salah seorang warga yang kebetulan juga bertugas menjadi pengurus museum.
Setelah proses bersih-bersih selesai kini saatnya menjelajahi area kompleks Museum Trinil ini dengan lebih leluasa dan jelas, area outbond yang kemarin rencananya menjadi tempat bermalam kami kini juga tampak lebih jelas (pantas saja kemarin kami diperbolehkan menginap di salah satu ruangan kantor karena fasilitas outbond dan camping ground yang ada belumlah selesai dibangun semuanya)
Secara garis besarnya area kompleks Museum Trinil ini terbagi menjadi beberapa zona, antara lain zona parkir kendaraan, zona aktivitas outbond dan bumi perkemahan yang sedang dibangun, bangunan kantor utama (termasuk ruang rapat tempat kami menginap, ruang tunggu, kamar mandi, janitor, dan 2 buah kamar sewa yang bisa digunakan bagi pengunjung yang ingin menginap), bangunan display Museum, Bangunan mushalla, pendopo, serta ruang laboratoriom dan audio visual yang saat kami berkunjung sedang dalam proses pembangunan supaya nantinya pengunjung dapat lebih tertarik untuk belajar tentang kegiatan arkeologi penemuan fosil dan sejarahnya.
Patung Gajah Purba yang menyambut pengunjung di pintu masuk area Museum
Bangunan Pendopo yang biasa digunakan sebagai tempat beristirahat
Bangunan Kantor Utama dimana kami menginap
Di ruang rapat inilah kami beristirahat
Bangunan Museum tempat display koleksi fosil
Seperti inilah isi bagian dalam ruang display Museum Trinil
Beberapa koleksi fosil yang dipamerkan
Kami juga dijelaskan mengenai awal proses penemuan fosil-fosil yang kini berada di dalam ruang display ini, kebanyakan penemuan fosil-fosil tersebut ditemukan oleh warga sekitar berada di aliran lembah Sungai Bengawan Solo Purba, sebagian masih tertimbun dalam tanah atau endapan lumpur namun ada juga yang berada di permukaan dalam bentuk fosil yang telah membatu. Oleh salah seorang warga bernama Wirodihardjo (lebih dikenal dengan sebutan Wirobalung) sejak tahun 1967 ia mengkoleksi dan menyimpan semua fosil temuannya tersebut dirumahnya, bahkan hampir sepertiga rumahnya terisi oleh fosil-fosil koleksinya, sehingga pada tahun 1980/1981 oleh Pemda setempat akhirnya didirikanlah sebuah Museum mini untuk menampung fosil-fosil koleksi Alm. Wirodihardjo tersebut, hingga akhirnya pada Tahun 1991 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur diresmikanlah Museum Trinil bertepatan dengan peringatan 100 tahun ditemukannya Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera berdiri tegak) oleh Eugene Dubois, seorang arkeolog asal Belanda yang hasil temuannya berupa fosil tulang paha, kepala dan berbagai fosil Binatang Prasejarah lainnya di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo Purba tersebut telah mendapatkan perhatian dari kalangan arkeolog internasional dan membuat nama Desa Trinil mendunia. Pembangunan Museum ini pun diharapkan dapat memberi manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, tempat rekreasi dan mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat sekitar
Setelah puas menjelajahi area kompleks Museum kini saatnya berjalan-jalan ke perkampungan yang ada di sekitar lokasi sembari mencari makan siang, di wilayah ini pula kami masih menemukan ada yang menjual nasi pecel seharga 3 ribu perak dan segelas teh manis hangat seharga 500 perak, yup kalian tidak salah membaca (dan saya juga tidak salah menulis hehe…) di tempat ini harganya bikin tercengang bayangkan ditahun 2015 ini masih ada tempat makan yang menjual segelas teh manis hangat seharga 500 perak, oohhh indahnya dunia hehe...:)
Suasana di dusun sekitar
Petuah bijak yang terpasang di dinding Masjid :)
Setelah makan “dengan bahagia”, kami lanjut lagi berjalan kaki santai menyusuri wilayah dusun sekitar, kehidupan disini masih sangat tenang (kelewat tenang malahan menurut saya alias sepiiii bingittt), ada sih beberapa warung tapi pembelinya ya tidak jauh dari anak-anak setempat, bagi beberapa pengunjung dari luar kota yang kebetulan ingin datang berkunjung ke Museum Trinil ini kalian mesti siap-siap membawa makanan dan minuman sendiri ya karena jarak antar warung disini lumayan jauh dan tidak ada angkot
Setidaknya perjalanan kali ini benar-benar membawa pengalaman baru dalam hidup kami berdua, mulai dari bertemu orang-orang baru, mempelajari hal-hal baru secara langsung, dan mulai percaya bahwa rencana Tuhan itu pasti indah hanya saja kita belum mengetahui akan seperti apa kejutan-kejutan berikutnya, namun yakinlah karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita
Besok saatnya memulai perjalanan dan petualangan baru berikutnya, apa yang akan terjadi kedepannya entahlah yang penting perjalanan ini belum akan berakhir, we still have a lot of stories to share, so keep following us
Pengeluaran hari ini :
- 2 porsi nasi sayur pecel + 2 gelas the manis + gorengan 6 buah = Rp 10.000,-
- 2 porsi soto ayam + 2 gelas es jeruk = Rp 16.000,-
- Air mineral 1,5L = Rp 5.000,-
Total = Rp 31.000,-
Tuesday, 3 January 2017
BENTENG VREDEBURG
Selamat Tahun Baru 2017 :) semoga di tahun yang baru ini segala sesuatunya akan menjadi lebih baik lagi.
Libur tahun baru pastinya identik dengan kegiatan berwisata, nah bagi kalian yang hendak mengunjungi Kota Yogyakarta namun masih bingung merencanakan mau kemana dan apa saja destinasi yang bisa dikunjungi di Yogyakarta mengingat di Propinsi Istimewa ini terdapat banyak sekali spot wisata yang sudah ada maupun yang baru bermunculan, coba deh masukkan Museum Benteng Vredeburg ke dalam susunan rencana perjalanan kalian selama berada di Yogyakarta.
Ada banyak alasan mengapa Museum Benteng Vredeburg harus dimasukkan kedalam susunan rencana perjalanan kalian, salah satunya adalah karena lokasi Museum ini yang sangat strategis. Museum Benteng Vredeburg berada di Jl. Ahmad Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122, dengan lokasinya yang ada di pusat kota yaitu tepat di titik nol km Kota Yogyakarta menjadikan akses untuk menuju Museum ini sangatlah mudah, jika kalian datang dengan menggunakan kereta api dari arah Stasiun Tugu, maka kalian tinggal berjalan kaki kearah Selatan menyusuri pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro sambil melihat dan merasakan suasana serta aktivitas perekonomian masyarakat sekitar, atau mencicipi aneka jajanan pasar yang ada di Pasar Beringharjo
Alasan lainnya berkaitan dengan keberadaan lokasi Museum ini yang strategis adalah disini selain berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa sekalian berkeliling ke berbagai spot lainnya yang ada tidak jauh dari lokasi Museum, antara lain Pasar Beringharjo yang letaknya bersebelahan di sisi utara Museum, di Pasar yang juga merupakan pasar tertua di Yogyakarta dan merupakan Bangunan Cagar Budaya ini kalian bisa menikmati aneka jajanan pasar dan makanan khas Jogja atau mencari souvenir seperti kreasi Batik dan lainnya. Selain itu bagi penggemar wisata belanja maka kalian juga bisa berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro untuk melihat dan mencari berbagai cenderamata khas Jogja. Dan jika kalian lelah sehabis berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro maka tidak perlu kuatir karena kini di sepanjang jalur pedestriannya telah disediakan banyak bangku-bangku untuk beristirahat.
Tidak hanya Pasar Beringharjo dan Malioboro saja yang menjadikan lokasi Museum Benteng Vredeburg ini strategis, karena tepat diseberang pintu masuk Benteng terdapat Bangunan Gedung Agung, yaitu bangunan yang kini digunakan sebagai Istana Presiden. Sedangkan diseberang Selatan Museum juga terdapat banyak bangunan Cagar Budaya bergaya arsitektur kolonial yang menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Dengan kata lain jika kalian mengunjungi Museum ini maka kalian juga bisa sekaligus menikmati banyak spot lainnya yang terdapat di sekitar area Benteng.
Dengan harga tiket masuk Museum yang relatif murah yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.000,- untuk anak-anak,serta jam buka Museum antara pukul 07.30 - 16.00 WIB kecuali pada hari senin dan hari libur nasional karena tutup maka tidak ada salahnya jika kalian menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat ini, selain sambil berekreasi kalian juga bisa sekaligus berwisata sejarah menambah pengetahuan dan wawasan
Benteng yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton awalnya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng Peristirahatan' kemudian berganti namanya pada tahun 1867, ketika di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg pun segera mengadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti 'Benteng Perdamaian'. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu
Didalam area Museum Benteng Vredeburg ini terdapat 2 bangunan utama yang berisi diorama dan foto-foto serta barang-barang peninggalan sejarah perjuangan para pahlawan bangsa ketika menghadapi masa penjajahan kolonial Belanda, yang menarik adalah disini juga disediakan fasilitas layar sentuh yang berisi keterangan singkat seputar diorama atau sejarah dari suatu peristiwa masa perang dahulu supaya pengunjung Museum mengerti apa yang terjadi di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran dimasa kini, terutama bagaimana menghargai hasil jerih payah para pejuang yang rela mengorbankan hidupnya supaya Indonesia bisa menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat sebagai satu kesatuan yang walau terdiri dari banyak suku, agama dan ras namun masing-masing bersedia berjuang dan melebur menjadi satu kesatuan.
Fasilitas layar sentuh yang berisi informasi peristiwa sejarah
Sculpture peristiwa ketika Ibu Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan
Disediakan juga game interaktif bagi pengunjung
Selain melihat isi bangunan utama dalam Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa berkeliling Benteng atau naik menyusuri tembok Pagar Benteng yang dahulu digunakan sebagai sebagai area patroli dan pertahanan
Saat ini bangunan Benteng Vredeburg sendiri selain digunakan sebagai Museum juga banyak digunakan sebagai latar pemotretan, karena dengan gaya arsitektur kolonialnya yang khas menjadikan banyak penikmat fotografi tertarik untuk mengabadikannya
Jadi tidak ada salahnya kan sesekali berwisata Museum? Karena dengan begini maka kita juga bisa belajar menghargai jasa para pejuang kemerdekaan, sekaligus juga kita akan tertantang untuk mengisi masa setelah kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan produktif, yang bisa menjadikan diri dan lingkungan sekitar kita lebih baik lagi
Libur tahun baru pastinya identik dengan kegiatan berwisata, nah bagi kalian yang hendak mengunjungi Kota Yogyakarta namun masih bingung merencanakan mau kemana dan apa saja destinasi yang bisa dikunjungi di Yogyakarta mengingat di Propinsi Istimewa ini terdapat banyak sekali spot wisata yang sudah ada maupun yang baru bermunculan, coba deh masukkan Museum Benteng Vredeburg ke dalam susunan rencana perjalanan kalian selama berada di Yogyakarta.
Ada banyak alasan mengapa Museum Benteng Vredeburg harus dimasukkan kedalam susunan rencana perjalanan kalian, salah satunya adalah karena lokasi Museum ini yang sangat strategis. Museum Benteng Vredeburg berada di Jl. Ahmad Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122, dengan lokasinya yang ada di pusat kota yaitu tepat di titik nol km Kota Yogyakarta menjadikan akses untuk menuju Museum ini sangatlah mudah, jika kalian datang dengan menggunakan kereta api dari arah Stasiun Tugu, maka kalian tinggal berjalan kaki kearah Selatan menyusuri pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro sambil melihat dan merasakan suasana serta aktivitas perekonomian masyarakat sekitar, atau mencicipi aneka jajanan pasar yang ada di Pasar Beringharjo
Alasan lainnya berkaitan dengan keberadaan lokasi Museum ini yang strategis adalah disini selain berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa sekalian berkeliling ke berbagai spot lainnya yang ada tidak jauh dari lokasi Museum, antara lain Pasar Beringharjo yang letaknya bersebelahan di sisi utara Museum, di Pasar yang juga merupakan pasar tertua di Yogyakarta dan merupakan Bangunan Cagar Budaya ini kalian bisa menikmati aneka jajanan pasar dan makanan khas Jogja atau mencari souvenir seperti kreasi Batik dan lainnya. Selain itu bagi penggemar wisata belanja maka kalian juga bisa berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro untuk melihat dan mencari berbagai cenderamata khas Jogja. Dan jika kalian lelah sehabis berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro maka tidak perlu kuatir karena kini di sepanjang jalur pedestriannya telah disediakan banyak bangku-bangku untuk beristirahat.
Tidak hanya Pasar Beringharjo dan Malioboro saja yang menjadikan lokasi Museum Benteng Vredeburg ini strategis, karena tepat diseberang pintu masuk Benteng terdapat Bangunan Gedung Agung, yaitu bangunan yang kini digunakan sebagai Istana Presiden. Sedangkan diseberang Selatan Museum juga terdapat banyak bangunan Cagar Budaya bergaya arsitektur kolonial yang menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Dengan kata lain jika kalian mengunjungi Museum ini maka kalian juga bisa sekaligus menikmati banyak spot lainnya yang terdapat di sekitar area Benteng.
Dengan harga tiket masuk Museum yang relatif murah yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.000,- untuk anak-anak,serta jam buka Museum antara pukul 07.30 - 16.00 WIB kecuali pada hari senin dan hari libur nasional karena tutup maka tidak ada salahnya jika kalian menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat ini, selain sambil berekreasi kalian juga bisa sekaligus berwisata sejarah menambah pengetahuan dan wawasan
Benteng yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton awalnya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng Peristirahatan' kemudian berganti namanya pada tahun 1867, ketika di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg pun segera mengadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti 'Benteng Perdamaian'. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu
Didalam area Museum Benteng Vredeburg ini terdapat 2 bangunan utama yang berisi diorama dan foto-foto serta barang-barang peninggalan sejarah perjuangan para pahlawan bangsa ketika menghadapi masa penjajahan kolonial Belanda, yang menarik adalah disini juga disediakan fasilitas layar sentuh yang berisi keterangan singkat seputar diorama atau sejarah dari suatu peristiwa masa perang dahulu supaya pengunjung Museum mengerti apa yang terjadi di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran dimasa kini, terutama bagaimana menghargai hasil jerih payah para pejuang yang rela mengorbankan hidupnya supaya Indonesia bisa menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat sebagai satu kesatuan yang walau terdiri dari banyak suku, agama dan ras namun masing-masing bersedia berjuang dan melebur menjadi satu kesatuan.
Fasilitas layar sentuh yang berisi informasi peristiwa sejarah
Sculpture peristiwa ketika Ibu Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan
Disediakan juga game interaktif bagi pengunjung
Selain melihat isi bangunan utama dalam Museum Benteng Vredeburg, kalian juga bisa berkeliling Benteng atau naik menyusuri tembok Pagar Benteng yang dahulu digunakan sebagai sebagai area patroli dan pertahanan
Saat ini bangunan Benteng Vredeburg sendiri selain digunakan sebagai Museum juga banyak digunakan sebagai latar pemotretan, karena dengan gaya arsitektur kolonialnya yang khas menjadikan banyak penikmat fotografi tertarik untuk mengabadikannya
Jadi tidak ada salahnya kan sesekali berwisata Museum? Karena dengan begini maka kita juga bisa belajar menghargai jasa para pejuang kemerdekaan, sekaligus juga kita akan tertantang untuk mengisi masa setelah kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan produktif, yang bisa menjadikan diri dan lingkungan sekitar kita lebih baik lagi
Monday, 26 December 2016
TEBING BREKSI
(25/12/2016) Bertepatan Dengan libur Natal kali ini yang jatuh di Hari Minggu, kami mencoba melakukan test ride sepeda lipat masing-masing dengan melakukan gowes wisata ke obyek wisata baru yang sedang popular yaitu Taman Tebing Breksi.
Lokasi Taman Tebing Breksi
Alasan pemilihan menggunakan sepeda lipat pun sebenarnya masih berhubungan dengan hobby kami yang suka traveling, dimana jika sepeda lipat yang kami gunakan saat ini ternyata cukup nyaman dan tangguh untuk dibawa dan digunakan saat bepergian maka kedepannya mungkin kami akan menggunakannya lagi supaya mobilitas di destinasi yang kami tuju juga akan menjadi lebih fleksibel
Taman Tebing Breksi sendiri sebenarnya dulu sudah pernah saya lewati saat melakukan goweswisata ke Candi Ijo, namun dahulu lokasi ini belumlah sepopuler seperti sekarang. Terlebih saat ini di Yogyakarta sendiri semakin banyak obyek wisata baru yang bermunculan yang dibuat oleh warga sekitar dengan menata lingkungan sekitarnya secara kreatif menjadi semacam Desa Wisata ataupun dengan mempercantik spot yang ada disekitarnya terutama yang memiliki keindahan panorama alam
Lokasi Tebing Breksi berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, tempat ini sendiri diresmikan sebagai tempat wisata umum pada tanggal 30 Mei 2015 lalu oleh Gubernur DIY. Untuk menuju kesana kita bisa memilih melalui Jalan Berbah atau Jalan Jogja-Solo yang mengarah menuju Prambanan lalu belok ke Selatan di Traffic light setelah jembatan atau sebelum Gapura Perbatasan Jogja-Jawa Tengah, panduan rutenya juga terbilang mudah karena kalian juga bisa mencarinya menggunakan fitur peta yang ada di smartphone atau GPS
Selain berkunjung ke Tebing Breksi, disini kalian juga bisa sekalian mengunjungi obyek-obyek wisata lainnya yang ada di sekitar lokasi ini, karena disepanjang rute menuju Tebing Breksi ini sendiri ada beberapa spot wisata lainnya seperti Candi Ijo, Batu Papal, Candi Barong, dan situs Arca Gupolo.
Untuk kondisi jalannya sendiri lebih baik kalian melakukan persiapan dan pengecekan kendaraan terlebih dahulu sebelum berangkat dikarenakan medannya lumayan menanjak curam, dan dengan lebar jalan yang hanya muat untuk dua buah kendaraan roda empat yang berpapasan serta terdapat beberapa titik jalan yang mengalami kerusakan maka akan lebih aman dan tenang jika kendaraan yang kalian gunakan berada pada kondisi yang prima terutama bagian remnya.
Di lokasi Tebing Breksi ini tidak ada tiket masuk, kalian hanya perlu membayar untuk retribusi parkir saja (motor Rp 2.000,- dan mobil Rp 5.000,-), dan karena kami berdua menggunakan sepeda maka seperti biasa tentu saja digratiskan hehe…
Bagian tersulit dari rute menuju Tebing Breksi ini tentu saja pada bagian tanjakannya, jarak tanjakannya sendiri sekitar 2km dari mulai bawah hingga menuju lokasi Tebing Breksi, sedangkan jika kalian ingin sekalian mengunjungi Candi Ijo yang berada di lokasi atasnya lagi, maka kalian tinggal berjalan kaki saja sekitar 200m
Antrian kendaraan yang hendak memasuki lokasi Taman Tebing Breksi
Spot parkir kendaraan yang cukup luas
Kesan awal yang saya dapat ketika menggunakan sepeda lipat untuk menanjak adalah di beberapa titik jalan yang memiliki derajat kemiringan cukup curam maka lebih baik bagian handlepost diturunkan supaya posisi tubuh menjadi menunduk, hal ini untuk mengurangi posisi roda depan terangkat, memang merepotkan karena harus berulangkali mengubah setting ketinggian handlepost sesuai kontur jalan yang dilalui tetapi setidaknya demi faktor keamanan maka repot sedikit tidak mengapa, solusi bagi kalian yang tidak ingin repot adalah dengan menuntun sepedanya atau meloading sepedanya ke kendaraan pick up yang lewat hehe…
Taman Tebing Breksi sendiri awalnya adalah lokasi penambangan batu Breksi, tebing batu ini sendiri sejatinya sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu terbentuk dari endapan abu vulkanik gunung api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul, namun karena bentuk tebing bebatuannya yang berwarna putih dan cukup tinggi membentang layaknya sebuah Benteng maka banyak wisatawan setempat yang tertarik untuk berfoto sebelum mereka mengunjungi Candi Ijo, oleh karena itulah kemudian warga disekitar lokasi ini berinisiatif untuk mencoba mengembangkan dan menata lokasi ini menjadi sebuah destinasi wisata yang baru dengan membuat ukiran-ukiran pada dinding tebing dan membuat semacam bangku-bangku yang membentuk lingkaran mengelilingi sebuah panggung pertunjukan yang biasa digunakan untuk mementaskan acara kesenian
Ukiran-ukiran yang dibuat pada dinding tebing
Karena kami berkunjung pada musim libur Natal dan Tahun Baru maka beginilah situasinya, ramai sekali
Dari atas Tebing Breksi kita bisa melihat view panorama Kota Jogja dan Bayangan Gunung Merapi
Bangku-bangku dan panggung yang digunakan saat ada pementasan acara kesenian (Tlatar Seneng)
Salah satu bentuk ukiran yang ada di dinding tebing
Bahkan disediakan pula spot yang khusus untuk berfoto
Ayo 1.. 2.. 3.. senyum.. cekrek
Setelah puas mengambil beberapa foto ditempat ini, kami pun beranjak untuk pulang karena hari semakin beranjak siang dan panas. Di perjalanan pulang kami pun tidak lupa menyempatkan untuk mampir ke Situs Arca Gupolo karena penasaran seperti apa tempatnya
Dalam lokasi Situs Arca Gupolo ini berisi 3 buah Patung atau Arca, terdiri dari dua buah arca orang yang sedang duduk bersila (seperti arca Buddha), dan satu lagi arca manusia yang berdiri tegak dengan menggenggam senjata tombak trisula (seperti arca Dewa pada Candi-candi Hindu), sayangnya di sekitar lokasi ini tidak ditemui keterangan informasi apapun mengenai keberadaan arca-arca tersebut, satu-satunya informasi yang ada hanyalah papan penanda bahwa lokasi ini merupakan cagar budaya
Setelah selesai berkeliling di sekitar Situs Arca Gupolo ini kini saatnya kembali pulang dan menulis catatan gowes hari ini, apakah tantangan sudah berakhir? Tentu saja tidak, tantangan berikutnya adalah menuruni rute yang memiliki derajat kemiringan curam ini hehe… hmm… sepertinya sepeda lipat ini bisa dipertimbangkan untuk dibawa menjelajah destinasi-destinasi berikutnya, hanya saja perlu penyesuaian sedikit lagi, namun untuk menjelajah di medan-medan yang sulit dan keras sepertinya memang sepeda berukuran roda 26” memang yang paling sesuai, namun apapun jenis sepedanya petualangan goweswisata pastinya masih akan terus berlanjut, simak terus petualangan kami ya :)
Lokasi Taman Tebing Breksi
Alasan pemilihan menggunakan sepeda lipat pun sebenarnya masih berhubungan dengan hobby kami yang suka traveling, dimana jika sepeda lipat yang kami gunakan saat ini ternyata cukup nyaman dan tangguh untuk dibawa dan digunakan saat bepergian maka kedepannya mungkin kami akan menggunakannya lagi supaya mobilitas di destinasi yang kami tuju juga akan menjadi lebih fleksibel
Taman Tebing Breksi sendiri sebenarnya dulu sudah pernah saya lewati saat melakukan goweswisata ke Candi Ijo, namun dahulu lokasi ini belumlah sepopuler seperti sekarang. Terlebih saat ini di Yogyakarta sendiri semakin banyak obyek wisata baru yang bermunculan yang dibuat oleh warga sekitar dengan menata lingkungan sekitarnya secara kreatif menjadi semacam Desa Wisata ataupun dengan mempercantik spot yang ada disekitarnya terutama yang memiliki keindahan panorama alam
Lokasi Tebing Breksi berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, tempat ini sendiri diresmikan sebagai tempat wisata umum pada tanggal 30 Mei 2015 lalu oleh Gubernur DIY. Untuk menuju kesana kita bisa memilih melalui Jalan Berbah atau Jalan Jogja-Solo yang mengarah menuju Prambanan lalu belok ke Selatan di Traffic light setelah jembatan atau sebelum Gapura Perbatasan Jogja-Jawa Tengah, panduan rutenya juga terbilang mudah karena kalian juga bisa mencarinya menggunakan fitur peta yang ada di smartphone atau GPS
Selain berkunjung ke Tebing Breksi, disini kalian juga bisa sekalian mengunjungi obyek-obyek wisata lainnya yang ada di sekitar lokasi ini, karena disepanjang rute menuju Tebing Breksi ini sendiri ada beberapa spot wisata lainnya seperti Candi Ijo, Batu Papal, Candi Barong, dan situs Arca Gupolo.
Untuk kondisi jalannya sendiri lebih baik kalian melakukan persiapan dan pengecekan kendaraan terlebih dahulu sebelum berangkat dikarenakan medannya lumayan menanjak curam, dan dengan lebar jalan yang hanya muat untuk dua buah kendaraan roda empat yang berpapasan serta terdapat beberapa titik jalan yang mengalami kerusakan maka akan lebih aman dan tenang jika kendaraan yang kalian gunakan berada pada kondisi yang prima terutama bagian remnya.
Di lokasi Tebing Breksi ini tidak ada tiket masuk, kalian hanya perlu membayar untuk retribusi parkir saja (motor Rp 2.000,- dan mobil Rp 5.000,-), dan karena kami berdua menggunakan sepeda maka seperti biasa tentu saja digratiskan hehe…
Bagian tersulit dari rute menuju Tebing Breksi ini tentu saja pada bagian tanjakannya, jarak tanjakannya sendiri sekitar 2km dari mulai bawah hingga menuju lokasi Tebing Breksi, sedangkan jika kalian ingin sekalian mengunjungi Candi Ijo yang berada di lokasi atasnya lagi, maka kalian tinggal berjalan kaki saja sekitar 200m
Antrian kendaraan yang hendak memasuki lokasi Taman Tebing Breksi
Spot parkir kendaraan yang cukup luas
Kesan awal yang saya dapat ketika menggunakan sepeda lipat untuk menanjak adalah di beberapa titik jalan yang memiliki derajat kemiringan cukup curam maka lebih baik bagian handlepost diturunkan supaya posisi tubuh menjadi menunduk, hal ini untuk mengurangi posisi roda depan terangkat, memang merepotkan karena harus berulangkali mengubah setting ketinggian handlepost sesuai kontur jalan yang dilalui tetapi setidaknya demi faktor keamanan maka repot sedikit tidak mengapa, solusi bagi kalian yang tidak ingin repot adalah dengan menuntun sepedanya atau meloading sepedanya ke kendaraan pick up yang lewat hehe…
Taman Tebing Breksi sendiri awalnya adalah lokasi penambangan batu Breksi, tebing batu ini sendiri sejatinya sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu terbentuk dari endapan abu vulkanik gunung api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul, namun karena bentuk tebing bebatuannya yang berwarna putih dan cukup tinggi membentang layaknya sebuah Benteng maka banyak wisatawan setempat yang tertarik untuk berfoto sebelum mereka mengunjungi Candi Ijo, oleh karena itulah kemudian warga disekitar lokasi ini berinisiatif untuk mencoba mengembangkan dan menata lokasi ini menjadi sebuah destinasi wisata yang baru dengan membuat ukiran-ukiran pada dinding tebing dan membuat semacam bangku-bangku yang membentuk lingkaran mengelilingi sebuah panggung pertunjukan yang biasa digunakan untuk mementaskan acara kesenian
Ukiran-ukiran yang dibuat pada dinding tebing
Karena kami berkunjung pada musim libur Natal dan Tahun Baru maka beginilah situasinya, ramai sekali
Dari atas Tebing Breksi kita bisa melihat view panorama Kota Jogja dan Bayangan Gunung Merapi
Bangku-bangku dan panggung yang digunakan saat ada pementasan acara kesenian (Tlatar Seneng)
Salah satu bentuk ukiran yang ada di dinding tebing
Bahkan disediakan pula spot yang khusus untuk berfoto
Ayo 1.. 2.. 3.. senyum.. cekrek
Setelah puas mengambil beberapa foto ditempat ini, kami pun beranjak untuk pulang karena hari semakin beranjak siang dan panas. Di perjalanan pulang kami pun tidak lupa menyempatkan untuk mampir ke Situs Arca Gupolo karena penasaran seperti apa tempatnya
Dalam lokasi Situs Arca Gupolo ini berisi 3 buah Patung atau Arca, terdiri dari dua buah arca orang yang sedang duduk bersila (seperti arca Buddha), dan satu lagi arca manusia yang berdiri tegak dengan menggenggam senjata tombak trisula (seperti arca Dewa pada Candi-candi Hindu), sayangnya di sekitar lokasi ini tidak ditemui keterangan informasi apapun mengenai keberadaan arca-arca tersebut, satu-satunya informasi yang ada hanyalah papan penanda bahwa lokasi ini merupakan cagar budaya
Setelah selesai berkeliling di sekitar Situs Arca Gupolo ini kini saatnya kembali pulang dan menulis catatan gowes hari ini, apakah tantangan sudah berakhir? Tentu saja tidak, tantangan berikutnya adalah menuruni rute yang memiliki derajat kemiringan curam ini hehe… hmm… sepertinya sepeda lipat ini bisa dipertimbangkan untuk dibawa menjelajah destinasi-destinasi berikutnya, hanya saja perlu penyesuaian sedikit lagi, namun untuk menjelajah di medan-medan yang sulit dan keras sepertinya memang sepeda berukuran roda 26” memang yang paling sesuai, namun apapun jenis sepedanya petualangan goweswisata pastinya masih akan terus berlanjut, simak terus petualangan kami ya :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
























































