Saturday, 11 October 2014

Gear Review : Sulep Handlebar Bag


Pada kategori gear review kali ini, saya akan mencoba mereview salah satu produk inovasi terbaru dari brand Sulep. Mungkin bagi para penggiat sepeda touring sendiri sudah sering melihat bahkan menggunakan handlebar bag atau tas yang diletakkan pada handlebar

Ya, keberadaan handlebar bag tidak saja menjadi aksesoris penghias handlebar semata, melainkan juga mempunyai fungsi yang cukup vital jika kita akan atau sedang melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh, karena biasanya kita akan menaruh barang-barang yang paling sering diakses pada handlebar bag tersebut (misalnya passport, dompet, cellphone, notes, dan lainnya) sehingga ketika kita sedang beristirahat atau berhenti sesaat untuk makan, tidur, atau jalan-jalan, maka kita hanya tinggal melepas handlebar bag itu saja, tanpa perlu melepas semua panniers yang menempel pada sepeda kita

Namun seperti apakah handlebar bag yang sesuai untuk digunakan bersepeda jarak jauh? di forum-forum jual-beli online lokal kita banyak menemukan beberapa seller yang juga menjual handlebar bag dengan kisaran harga antara 90ribu hingga 150ribu, dan dengan sistem pengait pada handlebar hanya menggunakan velcro, apakah itu sudah cukup?

Cukup atau tidaknya sangat bergantung kepada kebutuhan pesepeda itu sendiri, bagi saya pribadi, handlebar bag dengan sistem kaitan menggunakan velcro tidaklah nyaman karena dengan beban yang kita taruh pada handlebar bag tersebut ditambah dengan gaya gravitasi serta kontur rute yang tidak selalu mulus, maka tidak jarang posisi handlebar akan menjadi merunduk (walaupun awalnya kita sudah mengeset secara tegak lurus terhadap posisi lantai), selain itu proses ketika kita akan melepas atau memasang handlebar bag itu kembali akan menjadi sesuatu hal yang cukup menyita waktu dan merepotkan karena kita harus memasang kembali strap velcronya

Selain itu umumnya kualitas material luar pada handlebar bag seperti itu tidak cukup mumpuni terhadap cuaca, terutama ketika hujan, oleh karena itu berdasarkan hasil diskusi dengan pihak produsen dan proses trial and error maka produsen brand Sulep akhirnya mengeluarkan inovasi produk terbarunya yang cukup membantu dan mengakomodir keperluan dari para penggiat bersepeda jarak jauh yaitu sebuah handlebar bag

Secara umum maka saya akan menjabarkan terlebih dahulu spesifikasi dari handlebar bag ini :

- Bahan 1682D mix Terpaulin
- terdiri dari 2 buah side pocket jaring dibagian luar, 1 kompartemen utama (didalamnya terdapat 2 buah saku, 1 buah saku rahasia, serta 1 buah saku lagi pada sisi atasnya), serta 1 buah saku pada bagian luar
- ada tempat plastik mika untuk menaruh peta atau kertas-kertas yang bisa dilepas (menggunakan velcro)
- pada paket handlebar bag ini juga sudah termasuk rain cover dan shoulder strap
- Braket menggunakan material full aluminium yang di coating hitam doff
- Untuk memperkuat braket supaya tidak turun akibat beban maka disertakan sling kawat baja
- Maksimal beban yang diizinkan adalah 3kg (sudah termasuk dengan beban tas tersebut)


Ketika saya menerima kiriman Handlebar bag ini, kesan pertama saya terhadap tas ini adalah tas ini cukup meyakinkan dengan bentuk yang tidak terkesan murahan atau asal jadi, braket yang kokoh, serta kualitas material luar yang cukup bagus untuk menahan panas dan hujan ringan

baiklah kini saatnya kita lihat dan bongkar secara lebih mendetail. Tas ini mempunyai dimensi p=21cm, l=14cm,dan t=18cm sehingga bisa menampung muatan sebesar 5 Liter (tetapi ingat untuk memperhatikan batasan berat maksimal yang diijinkan oleh produsen untuk menjaga keamanan dan keawetan produk tersebut). Dengan bobot kosong sekitar 900 gram tanpa menyertakan coverbag dan shoulder strap (mungkin sekitar 1 kg jika semua itu dimasukkan), maka kita juga harus benar-benar selektif untuk memilih perlengkapan yang ingin kita masukkan kedalam tas tersebut

Side pocket dari bahan jaring cukup untuk menaruh beberapa snack (coklat) atau menggantung kacamata, serta menaruh raincovernya sehingga mudah untuk dipasang jika sewaktu-waktu hujan turun pada saat kita sedang bersepeda

pada saku depan menggunakan velcro untuk pengunciannya, dimensinya cukup untuk menaruh shoulderstrap, lampu sepeda atau beberapa benda kecil lainnya


pada bagian atas, ada plastik mika yang bisa digunakan untuk menaruh peta atau catatan-catatan kertas lainnya, dan bisa dilepas-pasang karena menggunakan velcro untuk melekatkannya



bagian belakang tempat braket pada tas


Beralih kebagian dalam, pada sisi atas ada saku ritsleting yang bisa digunakan untuk menaruh koin receh, uang kecil, atau memory card camera


dibagian kompartemen utamanya juga ada 2 buah saku yang bisa digunakan untuk menaruh cellphone serta toolkit compact, selain itu jika kita mau juga ada saku rahasia untuk menaruh passport atau uang ( sebenarnya saku ini hanyalah bagian dari sistem pada tas ketika kita ingin membongkar braket pada sisi belakang atau ketika ingin membersihkan tas)namun dapat juga dimanfaatkan sebagai saku rahasia

2 buah saku pada bagian kompartemen utama


saku rahasia untuk menaruh passport atau uang


sistem pemasangan braket pada sisi tas juga sangat sederhana, sehingga tidak terlalu repot ketika kita ingin memperbaiki atau mengencengkan baut-bautnya, dan juga dilapis dengan styrofoam serta lapisan keras yang melingkar hingga kebagian bawah, sehingga tas menjadi kokoh (walau otomatis juga menjadi menambah beban)

saku rahasia ketika kita buka semua ritsletingnya


sistem pemasangan plat braket pada sisi tas


plat braket pada sisi tas jika dilepas


Lanjut lagi ke bagian braket pada handlebar, menggunakan material full aluminium yang dicoating hitam doff sehingga terlihat rapi dan kuat



Dengan sistem pengait dan braket seperti ini maka sistem lepas-pasang handlebar bag ini menjadi sangat mudah dan efisien, sistem penggunaan sling kawat juga menjadi pembuktian bahwa handlebar ini dibuat dengan perencanaan yang matang (dan dilakukan oleh orang yang suka bersepeda juga) karena biasanya penggunaan sling kawat seperti ini hanya dapat kita temukan pada beberapa produsen handlebar bag yang sudah mempunyai nama besar dalam penyediaan perlengkapan touring bersepeda seperti brand Ortlieb dan Vaude, namun tentu saja faktor harganya juga terkadang menajdi kendala dan terasa memberatkan bagi kita yang baru akan mulai menyukai kegiatan bersepeda touring


Dari hasil tes singkat saya terhadap brand lokal ini, handlebar bag sulep sudah cukup mengakomodir untuk keperluan para penggiat bersepeda touring dan dengan harga yang cukup bersahabat jika dibandingkan dengan kualitasnya, tetapi tentunya tes ini juga masih akan terus berlanjut dan hasilnya juga akan terus diupdate pada post ini

good job Sulep, go on with your innovasion, can't hardly wait for the next innovasion

recommended product, all reviewed by @goweswisata and still tested independently

note :

shoulder strap yang disertakan pada handlebar ini berukuran sangat kecil dan tanpa disertai bantalan pada bagian pundak, sehingga mungkin akan terasa tidak nyaman ketika kita mengalungkannya di pundak, sehingga untuk menambah kenyamanan maka kita bisa membuat sendiri shoulder strap menggunakan bantalan busa pada bagian pundak (dalam hal ini saya akhirnya menggunakan shoulder strap dari tas laptop yang tidak terpakai)

Cara pemasangan sling kawat pada Sulep Handlebar Bag :

1. Pasang Clamp U dan braket pada handlebar (jangan lupa untuk melapisi handlebar dengan karet ban dalam bekas terlebih dahulu untuk mencegah lecet pada handlebar), posisikan braket tepat ditengah-tengah handlebar


2. Posisikan braket pada posisi mendongak keatas terlebih dahulu, kira-kira pada sudut 45-60 derajat dari lantai


3. Masukkan ring dan baut pada clamp U, tetapi jangan dikencangkan (sekedar terpasang saja dahulu)


4. Masukkan selang, kawat dan ring pada lubang teratas yang terdapat disisi braket, kemudian lingkarkan keluar (atas handlebar)


5. Kemudian lingkarkan ke bagian bawah stem, (lihat contoh gambar), lalu ke atas handlebar lagi dan masukkan ke lubang teratas pada braket sisi seberangnya. Tarik kencang kawat kearah luar


6. Pastikan kawat dalam keadaan kencang kemudian masukkan pengunci kawat, lalu kencangkan



7. Masukkan sisa kawat ke lubang bawah pada sisi braket (lihat contoh gambar)


8. Kemudian lingkarkan kawat kebagian atas stem lalu arahkan kebagian bawah handlebar lagi (lihat arah pemasangan pada gambar)


9. Masukkan kawat ke lubang bawah sisi braket, dan tarik kearah luar, kemudian kencangkan

10. Dalam keadaan kawat kencang, masukkan lagi pengunci kawat dan kencangkan penguncinya


11. Untuk merapihkan sisa kawat bisa dilingkarkan ke sisi braket atau dipotong


12. Setelah itu tekan braket hingga kawat menjadi tegang, sambil menahan braket lalu kencangkan semua baut pada clamp U nya. Selesai

Sunday, 28 September 2014

Kali Kuning (Part. II)

Kali Kuning bagaimana kabarnya ya kini? setelah sekian lama sejak terakhir kali saya berkunjung ketempat ini beberapa bulan yang lalu bersama rekan-rekan goweswisata yang lainnya. Kali ini saya mencoba mengunjungi tempat ini lagi sendiri saja, sekaligus dalam rangka latihan gowes nanjak dengan membawa beban hehe...

Peta menuju lokasi ini


Buat yang ingin tahu elevasinya :)


Perbandingan antara kecepatan gowes saya dengan elevasinya :P


Mengawali start secara kesiangan (sekitar jam 09.15 WIB) dari basecamp Goweswisata. Kali ini saya menggunakan sepeda touring dengan basic geometri dari frame sepeda MTB jadul yang sudah saya ganti beberapa partsnya supaya nyaman dan sesuai dengan kebutuhan serta postur tubuh saya, tidak lupa pada malam sebelumnya saya juga telah menyiapkan panniers saya dengan bawaan standart yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan untuk melakukan perjalanan jauh bersepeda, yah hitung-hitung sekalian latihan gowes membawa beban menempuh medan menanjak dan juga kesempatan untuk melakukan test ride beberapa product dari sponsor untuk kemudian saya review :)

Kali ini saya memilih rute yang full aspal, melalui Jalan Kaliurang terus kearah utara, hingga tiba di pertigaan sebelum terminal Pakem, saya mengambil arah kanan menuju Cangkringan-Kaliadem. Ternyata gowes nanjak di siang hari yang cerah sambil membawa beban seberat kira-kira 20kg (Pannier depan seberat 6kg, Pannier belakang 10kg, serta trunk bang 4kg) itu sangat wuaaaahhh sekali hehe, kecepatan gowes nanjak ke arah Pakem yang biasanya bisa saya tempuh dalam waktu sekitar 1 jam saja jika tanpa membawa beban akhirnya molor menjadi sekitar 1,5jam, intinya kali ini gowes santai saja hehe...:) di perjalanan pun saya sempat bertemu beberapa goweser yang sepertinya baru pulang dari arah Pakem serta mendapat tatapan penuh rasa heran dari beberapa pengendara dan orang-orang yang melihat bawaan pada sepeda saya (mungkin disangkanya orang ga ada kerjaan kali ya, gowes siang hari, nanjak, dan membawa bawaan seperti orang pindah rumah)


Dari pertigaan tersebut ikuti jalan utama serta rambu penanda kearah kaliadem saja, rambunya cukup jelas sehingga tidak akan tersesat. Mendekati pos penjagaan tiket menuju area Kali Kuning tanjakannya terasa sangat panjang dan semakin aduhai saja, sehingga setiap 100m saya terpaksa beristirahat dulu, ambil nafas serta minum (untunglah saya membawa bekal roti dan pisang), menyiapkan tenaga dan semangat untuk menanjak lagi. Disini akhirnya barulah terasa fungsinya menggunakan shifting yang ringan, walau kecepatan menjadi lambat dengan kayuhan gear ringan tidak apa-apa asalkan sepeda bisa terus konstan kecepatannya

Setelah melewati pos penjagaan tiket (karena saya bersepeda jadi masuknya gratis hehe) masih harus nanjak lagi sekitar 300m hingga kemudian ada petunjuk dusun Plunyon di sisi kiri, masuk dan ikuti jalan utama saja hingga tiba di pertigaan, ambil yang lurus menanjak saja maka sampailah di lahan parkir area perkemahan Kali Kuning



Masuk menuju areal perkemahan dan outbond activity Kali Kuning


Karena saya melakukan gowes kali ini pada hari Rabu, maka tempat ini sangat sepi sekali, tidak ada pengunjung lain selain saya, sehingga saya bisa bebas menjelajah dan mengambil dokumentasi foto tanpa ada gangguan sama sekali, benar-benar serasa menemukan tempat baru yang masih belum terjamah



Tanggul-tanggul yang dibuat untuk menahan aliran lahar dingin dari Gunung Merapi


Kondisi jembatan yang sepertinya butuh perbaikan demi keamanan




Hmm...udara yang segar, pemandangan yang serba hijau, serta aliran air yang dingin dan jernih. Kali Kuning masih sama seperti waktu pertama kali saya berkunjung ke tempat ini, bedanya hanya waktu dulu suasana terasa ramai oleh pengunjung karena saya mengunjunginya pada musim liburan sekolah dan di hari Minggu, kali ini Kali Kuning serasa milik saya pribadi :)sangat sunyi dan damai





Terkadang dalam kesunyian seperti inilah kita bisa memaknai arti hidup dan kehidupan yang kita jalani







Sayangnya terdapat corat-coret vandalisme pada beberapa batuan yang dilakukan oleh beberapa pengunjung yang merasa bahwa mungkin eksistensi dengan cara yang bodoh seperti itu terlihat keren bagi mereka (bagi yang ingin berkunjung kesini dan merasa bahwa dirinya petualang atau pecinta alam, maka usahakan agar kalian mengunjungi dan meninggalkan tempat ini dengan tidak meninggalkan apapun selain jejak dan foto dokumentasi ya), lebih baik bawalah kantong plastik sendiri untuk menampung sisa sampah yang mungkin kalian tinggalkan dan buanglah sampah-sampah tersebut di tempat yang memang sudah seharusnya, atau bawalah pulang sampah kalian sendiri sehingga keasrian dan keindahan tempat ini tetap terjaga, karena alasan kalian mengunjungi tempat ini pun juga karena ingin menikmati keindahannya kan?





Inilah alasan yang membuat saya terus mengayuh pedal menjelajahi berbagai tempat indah di muka bumi ini



Setelah puas beristirahat dan bermain air, maka tibalah waktunya untuk beranjak pulang. Paling tidak diperjalanan kali ini telah membuktikan bahwa apapun sepeda yang digunakan sebenarnya bisa membawa kita mencapai setiap tujuan yang kita inginkan. Terkadang banyak orang yang terlalu banyak alasan bahwa sepedanya kurang ini-itu dan lain-lain yang pada akhirnya membuat mereka menjadi ragu untuk melakukan perjalanan bersepeda. Sepeda saya hanyalah sepeda besi biasa dengan bawaan seberat kurang lebih 20kg namun dengannya saya telah melakukan perjalanan mengunjungi berbagai tempat menarik yang kemudian saya rangkum dan disajikan pada blog goweswisata ini :) jadi tunggu apa lagi mulailah bersepeda dan ciptakan sendiri petualanganmu

Friday, 12 September 2014

Supergirl from Spain


Namanya Cristina Brugarolas Villa, namun cukup panggil dia Bru, ia berasal dari Spanyol, cukup sulit untuk mengingat namanya ketika saya pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya, kisah lengkapnya akan saya ceritakan dibawah ini :)

Lazimnya yang terjadi di Indonesia, di Negara yang mayoritas penduduknya muslim ini, setelah perayaan Iedul Fitri atau lebaran maka akan ada acara kumpul-kumpul keluarga atau Syawalan. Saat itu saya mendapat undangan untuk menghadiri acara Syawalan yang diselenggarakan oleh salah satu sanak famili saya di Jogja, dan karena satu-satunya alat transportasi yang saya punya hanyalah sepeda maka saya pun bersepeda dari rumah menuju rumah saudara yang menjadi tempat diselenggarakannya acara Syawalan tersebut

Setibanya disana (setelah nyasar sedikit) dan tampaknya kepagian hehe...saya pun memarkir sepeda dan beristirahat di teras belakang rumah saudara saya, dan saat itulah saya melihat sosok wanita bule muda yang ada dirumah tersebut. Awalnya saya mengira mungkin dia adalah istri dari salah seorang saudara saya, dan dia pun tampak hilir mudik di dalam rumah, sesekali juga berbicara dengan beberapa orang saudara (pakde) yang belum saya kenal juga (maklum saya termasuk yang jarang menghadiri acara-acara keluarga seperti ini)

Tak lama dia pun keluar dan melihat-lihat suasana sekitar, saya pun iseng menyapa dan bertanya siapakah dia? setelah berkenalan (dengan namanya yang panjang tersebut), terlebih ketika tidak ada yang "berani" menemani untuk menjelaskan kepadanya mengenai acara ini dan tentang Yogyakarta secara umumnya, dan karena dia pun tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, jadi saya pun akhirnya menjadi penerjemah sekaligus menjadi guide dadakan yang menjelaskan setiap pertanyaan yang ingin diketahuinya (hmmm...mengherankan kenapa kebanyakan orang Indonesia yang walaupun mereka telah mempelajari bahasa asing atau bahasa inggris di sekolahnya tapi selalu merasa takut atau tidak siap ketika harus mempraktekan dalam kasus sebenarnya tentang apa yang sudah mereka pelajari sebelumnya)

Saya pun menjelaskan tentang makna dari acara Syawalan tersebut serta beberapa pertanyaan darinya tentang Yogyakarta serta Indonesia pada umumnya. Setelah acara Syawalan tersebut selesai, kami kemudian bertukar nomor contact dan saya memandunya untuk kembali menuju Jogja (ternyata saat itu dia ke Indonesia dalam rangka mengajar drama di sebuah sekolah di Jogja untuk beberapa bulan)

Beberapa kali kami saling menyapa melalui sms maupun messenger, dan mengatur jadwal bertemu (ia ingin sekali mencoba bersepeda dan menjelajah lokasi wisata tersembunyi yang banyak tersebar di wilayah Jogja), namun karena faktor kesibukan baik dari dia maupun saya jugalah yang terkadang membuat jadwal tersebut selalu tidak pas

Setelah beberapa lama (mungkin sekitar 3 minggu) kemudian ia menghubungi saya dan mengatakan apakah saya mempunyai waktu luang untuk bertemu dan menemaninya bersepeda sebelum batas waktu visanya habis dan ia harus pulang ke negaranya, baiklah saya pun lalu mengatur jadwal dan waktu yang pas untuk menemaninya

Akhirnya kami pun bertemu kembali (walau awalnya ada sedikit kesalahpahaman tentang lokasi, dimana saya menunggunya di depan Carefour Ambarukmo Plaza, dan dia menunggu saya di depan Carefour arah Bandara), dan dia datang dengan merasa bersalah karena membuat saya menunggu 1 jam, tapi sudahlah, saya pun mengatakan untuk santai saja dan lebih baik kita nikmati hari ini dengan senang, dan lupakan kesalahpahaman tersebut (terkadang sebuah senyuman akan membuat hari ini menjadi lebih baik untuk semua)

Baiklah, setibanya dirumah saya, dimana dua orang rekan goweswisata lainnya sudah menungu untuk ikut menemani. Saya bertanya kepada Bru kira-kira dia ingin menggunakan sepeda yang mana. Kemudian setelah pemilihan sepeda sudah selesai, saya pun mengatur koordinasi barisan saat gowes nantinya, dimana saya akan menjadi Road Captain, dan rekan lainnya akan menjadi Sweeper

Karena sejak awal Bru ingin melihat air terjun, maka saya pun berinisiatif menawarkan Luweng Sampang untuk menjadi tujuan gowes kali ini, dengan pertimbangan rute yang dilalui tidak melalui jalur menanjak (karena umumnya rute menuju setiap air terjun pasti menanjak), memang agak jauh tapi rutenya lebih aman, cenderung flat

Dari Basecamp goweswisata, kami menuju arah Blok O (disini Bru sempat terlihat canggung ketika melakukan shifting, serta posisi sadel yang diturunkan karena ia merasa posisi sadel serta seatpost terlalu tinggi), oleh karena itu salah seorang rekan goweswisata sempat ragu apakah Bru mampu untuk gowes sejauh itu menuju Luweng Sampang, tapi saya bilang coba saja dulu, kalau toh tidak kuat nanti tinggal diatur rute tujuan alternatifnya

dan diluar dugaan ternyata kemampuan kayuhan Bru sangat cepat, awalnya saya sempat berpikir mungkin karena masih awal sehingga tenaga juga masih segar, tapi Bru mengatakan bahwa ia terbiasa gowes cepat supaya tidak pegal (saya juga mengakui terkadang gowes yang terlalu pelan justru malah membuat kaki dan tangan menjadi cepat lelah), sampai di Jembatan Gemblung kami sempat mampir sebentar dan saya menjelaskan tentang lokasi ini kepada Bru



Lanjut Gowes lagi, kecepatan kayuhan Bru tetap stabil dan cepat (saat ini saya pun mulai menyadari bahwa mungkin ia memang sudah terbiasa bersepeda), akhirnya tim gowes kali ini yang berjumlah 4 orang (saya, Bru, Rian, dan Agit) mulai terpecah menjadi dua grup, karena perbedaan kecepatan kayuhan, dimana saya dan Bru berada didepan, sedangkan Agit dan Rian tertinggal jauh di belakang, untunglah rian bisa menjadi seorang sweeper yang baik karena walaupun sebenarnya ia mampu mengejar saya dan bru, namun ia konstan berada dibelakang menjaga agit yang berada didepannya yang tampaknya sudah mencapai kecepatan maksimal gowesnya dengan menggunakan sepeda lipat

Air Terjun Luweng Sampang yang kini mengering


Binatang apa ya ini?


Miss Cristina Brugarolas Villa, supergirl with beautiful smile :)



Istirahat sembari menunggu cuaca tidak terlalu panas lagi



Saya pun merasa dan mengakui kalau sejauh ini, selama saya melakukan gowes maka Bru menjadi satu-satunya wanita yang bisa mengimbangi kecepatan gowes saya (dimana kami masing-masing juga gowes dengan membawa beban sekitar 4-5kg di rak boncengan sepeda) dan dia bisa mengimbangi kecepatan kayuhan saya tanpa dipaksakan (karena nafasnya juga stabil), dan itu terjadi disepanjang perjalanan ini, bahkan hingga kami semua beranjak pulang dan tiba kembali di basecamp goweswisata.


Setibanya di basecamp pun ia tidak langsung beristirahat, melainkan melakukan cooling down dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya kembali, karena ada farewell party yang diadakan oleh rekan-rekan kerjanya sebelum ia pulang kembali ke Negara asalnya


Benar-benar wanita perkasa, oleh karena itu judul post kali ini adalah Supergirl from Spain tampaknya tepat untuk menggambarkan tentang dirinya

Selamat Jalan Bru, semoga kelak suatu saat kita bisa bertemu kembali :) Gracias sudah berbagi cerita tentang kebudayaan dari negaramu, paling tidak jika kelak kau ingin kembali ke Indonesia atau mungkin berkelana ke Negara lain, kau tetap mempunyai teman-teman dari Indonesia, dan ada suatu nilai lebih yaitu ilmu dan kebaikan yang kau tinggalkan untuk murid-murid dan orang-orang lain yang telah kau kenal selama kau berada di Indonesia