Hmmm...di Bulan Maret ini banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan, dan juga hal-hal baru serta menarik yang saya alami. Semua kisah ini terangkum dalam petualangan traveling bulan ini bersama teman-teman backpacker dari Jerman dan Jakarta yang kebetulan singgah di Homebase Gowes Wisata selama mereka berada di Yogyakarta
Alfred K (Jakarta), Kaspar, Imge Tak, dan Carolin Broemmel (Jerman) adalah teman-teman baru yang turut memberi warna serta cerita dalam catatan perjalanan dan petualangan Gowes Wisata di blog ini.
Ya, dari merekalah saya mendapatkan hal-hal baru, pengalaman seru, lucu, dan berbagi kisah, cara pandang mereka terhadap dunia traveling, kebiasaan dan budaya di tempat asal mereka. Intinya sangat banyak kisah yang terjadi walaupun mereka hanya sempat singgah di Yogyakarta selama 1 minggu saja
Dari pengalaman saya selama menemani mereka jalan-jalan di Yogyakarta, saya mendapati bahwa umumnya masyarakat lokal kita masih merasa kagum dengan para wisatawan asing, entahlah apakah rasa kekaguman itu disebabkan karena kita memang terkenal dengan budaya ramah-tamahnya, ataukah karena ada sedikit rasa minder dan kurang percaya diri jika berhadapan dengan wisatawan asing, khususnya dari Eropa
Masyarakat kita (terutama pedagang, jasa guide, pengusaha kuliner) cenderung lebih ramah kepada wisatawan asing daripada wisatawan domestik, hal ini mungkin disebabkan karena mereka beranggapan bahwa turis dari eropa identik dengan orang kaya, sehingga para turis tersebut terkadang tidak segan memberikan uang tip atau tidak menawar terlalu banyak ketika bertransaksi, hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan karakter wisatawan lokal yang banyak menawar (dengan sadis) ketika bertransaksi, sehingga membuat para pedagang menjadi kesal
Kaspar got a haircut at a local barbershop (you can't get situation like this if you get travel with the travel agent)
Hal lain yang menurut saya lucu adalah banyaknya masyarakat lokal yang ingin berfoto bersama turis asing (khususnya Eropa), hal tersebut saya alami ketika kami berkunjung ke Keraton Yogyakarta, saat itu kebetulan juga sedang ada study tour yang dilakukan oleh sebuah sekolah, entah mengapa, tetapi sewajarnya jika kita berkunjung ke sebuah lokasi wisata tentunya kita akan mengabadikan obyek-obyek wisata menarik yang ada di lokasi tersebut, dengan keindahan arsitektur, alam, atau budayanya. Namun beberapa siswa sekolah tersebut justru ingin berfoto bersama teman-teman dari Jerman tersebut, sontak saja Carolin, Gaspar, dan Imge tak kuasa menolak dan dengan ramahnya melayani permintaan mereka, seperti seorang selebritis yang sibuk meladeni permintaan foto bersama dengan para penggemarnya...:)
"awalnya hanya satu orang saja, lalu teman-teman mereka mendekat dan kemudian bergantian ingin berfoto bersama, lalu tiba-tiba secara cepat menjadi kerumunan orang-orang yang ingin berfoto bersama. Awalnya mungkin terasa aneh, tetapi kami memaklumi bahwa mungkin karena orang melihat kami berbeda, walau hal tersebut membuat kami menjadi tidak bebas menikmati atau mengambil foto dari obyek wisata tersebut, tetapi yah itulah hal yang menarik jika kamu mengunjungi suatu Negara dengan beragam karakter dan budaya dari masyarakatnya", kata Kaspar dan Imge
Menurut mereka, mungkin hal tersebut karena masyarakat melihat mereka berbeda dengan orang-orang lokal pada umumnya. Ya, dengan postur tubuh yang cenderung lebih tinggi, rambut pirang, bahasa, dan kulit putih memang menjadikan mereka berbeda dengan ciri fisik masyarakat kita pada umumnya, walaupun semua itu juga disebabkan karena perbedaan ras dan faktor genetik yang dimiliki masing-masing individu
Masyarakat kita pun walau sebenarnya mereka ingin mencoba berinteraksi dengan para teman-teman dari Negara lain, tetapi kebanyakan dari mereka masih merasa malu dan takut salah jika berbicara menggunakan Bahasa Inggris (walaupun Kaspar, Imge, dan Carolin memakluminya), karena mereka tahu bahwa masyarakat kita tidak menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Inggris memang hanya diajarkan di sekolah dan tempat-tempat kursus, walaupun sebagian dari mereka sudah tahu teori dan Grammar yang digunakan, tetapi jika berhadapan atau bercakap-cakap langsung dengan para turis asing, seketika rasa gugup dan canggung langsung membuat buyar semua teori tersebut, dan akhirnya memang Bahasa Tarzan menjadi bahasa yang lebih ampuh ketika kita berbincang-bincang dengan para turis asing tersebut
Selain itu saya pun kemudian memaklumi mengapa banyak wisatawan, terutama dari Eropa yang senang ketika berkunjung ke Indonesia. Pertama, tentunya karena perbedaan kurs mata uang antara mata uang Euro dengan Rupiah, faktor lainnya adalah karena menurut mereka di Indonesia matahari selalu bersinar sepanjang hari. Di Jerman sendiri, musim panas terkadang hanya dapat mereka nikmati selama dua bulan saja, disaat musim panas itulah mereka baru dapat menikmati pantai-pantai, tetapi karena semua orang ingin pergi dan menikmati pantai saat musim panas maka suasana di pantai pun menjadi penuh sesak. Dan disaat musim dingin, dengan suhu yang dapat mencapai -16 derajat celcius, otomatis mereka hanya dapat berjalan-jalan di bibir pantai saja karena sebagian dari pantai menjadi beku
Coba kita bandingkan dengan kondisi di Indonesia, dengan matahari yang selalu bersinar cerah membuat tidak akan terjadi pembekuan pada air laut sehingga kita bebas bermain ke pantai kapan saja kita mau, dan dengan banyaknya jumpah pantai (tidak mengherankan, karena itulah kita disebut negara kepulauan) maka jika satu pantai dirasa menjadi terlalu penuh, maka kita dapat pindah ke bagian pantai yang lain
Selain itu kondisi tanah di Bumi nusantara ini terkenal sangat subur, hal ini terjadi karena banyaknya Gunung Api yang ada di seluruh wilayah Indonesia, dimana ketika terjadi erupsi pada Gunung Berapi tersebut maka akan memuntahkan mineral-mineral dari perut bumi yang bermanfaat bagi tanah, yang kelak dapat membuat tanah di sekitar wilayah tersebut menjadi subur (begitulah di setiap bencana yang terjadi tentunya ada hikmah yang dapat dipetik, di setiap kesulitan pasti ada kemudahan)
Carolin dan Alfred melihat lahan persawahan dan aktivitas para petani
"Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman", ya, sepenggal bait lirik dari musisi Koes Plus tersebut seakan menjadi penegas bahwa Bumi Nusantara tercinta kita ini dianugrahi dengan kondisi geografis dan kekayaan alam yang banyak terhampar luas. Bahkan teman-teman backpacker asal Jerman tersebut juga mengakuinya, mereka bahkan mengabadikan foto dari Jantung Pisang, Pohon Pepaya, Rambutan, Durian, dan beragam tanaman buah lainnya, karena di Negeri asal mereka, semua tanaman tersebut tidak dapat tumbuh dikarenakan kondisi tanah serta iklim yang tidak sesuai, oleh karena itu mereka terpaksa harus meng-impor buah-buahan tersebut dari beberapa negara di Amerika Latin serta Asia. Sangat kontras dengan di Indonesia dimana mayoritas dari masyarakat justru menanam tanaman dan pohon-pohon buah tersebut di pekarangan mereka masing-masing sehingga jika sudah tiba musim buah, maka kita hanya tinggal memetik saja langsung dari pohonnya yang tentunya gratis dan bebas dari bahan-bahan pengawet sehingga kualitas vitamin dan gizi yang terkandung didalamnya tentunya akan terasa lebih segar dan higienis
Menikmati suasana santai dengan Kaspar dan Imge
Disaat kita memuja peradaban bangsa dan negara lain, dan cenderung bergaya kebarat-baratan yang bahkan melebihi dari orang barat itu sendiri, kita lupa bahwa sebenarnya sejak dari dulu kita sudah mempunyai identitas jati diri bangsa sendiri yang terkenal sebagai negara agraris, negara bahari, serta negara kepulauan. Sungguh sebuah ironi jika di negara agraris ini kita sampai harus meng-impor beras, gula, bawang, cabai, dan lainnya dari negara lain padahal lahan pertanian terhampar luas di negeri ini. Sebagai negara bahari pun kita sampai harus men-impor garam, padahal hamparan pantai dan lautan dengan segala kekayaan dan keindahannya menyediakan apa yang kita butuhkan
Justru terkadang orang-orang dari Negara lainlah yang menyayangkan jika Indonesia sampai harus mengalami keterpurukan seperti ini, yang sebagian besar justru disebabkan karena perilaku masyarakatnya sendiri. Carolin sendiri merasa heran mengapa sangat sedikit Orang Indonesia yang suka berjalan kaki, walaupun tujuan mereka sebenarnya relatif dekat, tetapi masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan bermotor dengan asap polusinya yang mengotori lingkungan dan membuat iklim menjadi semakin panas
Saya pun merasa bahwa kita mengagumi Eropa karena melihat kondisi lingkungannya yang tertata rapi, dan tidak adanya kemacetan, serta iklim atau kualitas udara yang lebih baik. Tetapi mereka bisa seperti itu karena pemerintahnya pun membatasi penggunaan kendaraan bermotor dengan aturan yang ketat, serta memfasilitasi para pejalan kaki dan pesepeda sehingga orang menjadi nyaman ketika menggunakan sepeda atau berjalan kaki sebagai kebiasaan sehari-harinya, yang dalam jangka panjang tentunya akan mengurangi kemacetan dan membuat kondisi lingkungan menjadi tertata dengan kualitas udara menjadi lebih baik
Kita pun bisa seperti itu, mengadopsi hal-hal yang baik tanpa harus meninggalkan identitas jati diri bangsa dengan dalih modernisasi menjadi negara industri (yang tidak didukung sistem pengolahan limbahnya). Para turis umumnya datang kesini karena mereka ingin melihat keindahan alamnya, kekayaan ragam budaya yang dimilikinya, aktivitas masyarakat lokal, sejarah serta keramahan masyarakatnya. Bukan ingin melihat jumlah mall yang terus meningkat, bukan untuk diracuni dengan asap dari knalpot dan dengan bisingnya raungan motor-motor yang digunakan oleh para bocah yang masih mencari identitas dirinya, menikmati keindahan dari pepohonan yang ada dan bukannya merusak pohon-pohon tersebut dengan menempelkan iklan atau spanduk-spanduk berbau kampanye politik dan hal-hal matrealistis lainnya
Mahalnya tiket masuk Candi Prambanan (baik bagi turis asing maupun lokal) membuat kami tidak kehabisan akal supaya bisa tetap menikmati petualangan ini
Saat kebutuhan dasar kita mulai tergantung kepada pasar, bukannya kepada alam, maka sejak itulah tanpa kita sadari kita mulai menjadi kurang menghargai alam, merusaknya perlahan-lahan supaya bisa mendapatkan apa yang disediakan oleh pasar, bahkan kita mungkin menjadi tidak menyadari bahwa disekitar kita terdapat "harta berharga" yang nilainya melebihi angka materi yang bisa kita bayangkan, karena "harta" tersebut menyediakan kesehatan, ketenangan pikiran, dan nilai-nilai filosofis yang dapat dijadikan pegangan untuk kita kedepannya tentang bagaimana mengelola Bumi Nusantara ini, yang sejak dulu telah menjadi semacam kearifan lokal bangsa ini ketika kita mampu menjadi bangsa yang besar dan bermartabat di hadapan negara-negara lain
Tidak ada kata terlambat jika kita mau berbenah memberesi semua permasalahan yang mendera bangsa ini, jangan hanya menggantungkan semua harapan kepada sosok pemimpin atau pemerintah, tetapi kita pun bisa memulainya dan membuat perubahan yang lebih baik untuk kelak diwarisi kepada anak-cucu kita. Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri, ketika satu orang secara perlahan namun pasti dapat mempengaruhi yang lainnya untuk menjadi lebih baik dan bijak dalam mengelola lingkungan dan kekayaan baik alam maupun budaya yang dimiliki negara tercinta ini, Indonesia
Some testimonial from our friends :
Kaspar and Imge Tak (Germany)
Gaspar : "We arived at Yogya without having a clue and found a really nice home ! Thanks for all the help and the room and showing us some secret locations. We really enjoyed our day, Jogja is a nice place to visit if you come from Jakarta and it has so much to discover. Thanks again"
Imge Tak : "Thank you for opening your home for us and making our rather spontaneous trip to Yogya so unforgetable ! We saw the secret places and made the pay-free photos thanks to you. Take care !"
Carolin Broemmel an Alfred Kosasih
Carolin : "Terimakasih for sharing all the beautiful moments with us and welcome us so warmly ! It was really awesome days spent together with you and Agitya at Sultan's Palace and water castle and yesterday on the secret beaches and temple. Now I understand why you move from Jakarta to Yogya. All the best for you and hopefully see you one day again, maybe in Germany, than we can exchange and I will welcome you and Agitya"
Alfred : "Thanks for accept me and others in your house and companion and take us to see a beautiful place, see you an GBU always"
Monday, 17 March 2014
Tuesday, 11 March 2014
Pantai Kukup
Pantai Kukup
Koordinat 8°8'1"S 110°33'15"E
Lihat Peta Lokasi Pantai Kukup Gunungkidul Yogyakarta di peta yang lebih besar
Pada post kali ini, Team Gowes Wisata masih berpetualang di daerah Gunung Kidul menemani teman-teman Backpacker asal German dan Jakarta yang ingin mengeksplor obyek-obyek wisata di Yogyakarta serta mencoba mengenal dan menjelajahi indahnya kekayaan alam Negeri ini, terutama wisata pantai daerah Gunung Kidul yang perlahan tapi pasti mulai dikenal oleh masyarakat luas (berkat para travel blogger seperti kami hehe...) karena keindahan Pantai dengan perbedaan karakter yang dimiliki oleh masing-masing Pantai tersebut
berpetualang bersama : Kaspar, Carol, Agit, dan Imge (saya dan Seorang rekan asal Jakarta yaitu Alfred sedang mengabadikan momen petualangan ini melalui kamera masing-masing)
Ini masih di Indonesia lho...:)
Pantai Kukup sendiri terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari (sekitar 1 km di sebelah timur Pantai Baron). Dengan rute dan akses yang sama seperti halnya ketika kami hendak menuju ke Pantai Drini. Pantai Kukup sendiri berada dalam satu kompleks deretan pantai-pantai lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Drini, Pantai Sundak, Pantai Siung, Pantai Wediombo, dan lainnya
Tebing batu karang yang terkikis oleh deburan ombak
Mungkin jika sebelumnya kita pernah mencoba googling atau melihat gambar-gambar tentang Pantai Tanah Lot yang terkenal di Bali, maka Pantai Kukup di daerah Gunung Kidul ini juga mempunyai kemiripan dengan Tanah Lot, yaitu dengan adanya pulau karang yang terletak tidak jauh dari bibir pantai, dan dihubungkan dengan sebuah jembatan. Pada bagian atas Pulau karang tersebut terdapat sebuah gazebo, dari atas Pulau dan gazebo tersebut kita bisa mengamati keindahan Pantai Kukup
Pantai yang juga kaya dengan biota lautnya ini dapat terlihat dari adanya para penjual ikan hias air laut yang menggelar akuarium sederhana di Pantai ini, beragam ikan seperti ikan buntal dan ikan-ikan lainnya yang berwarna-warni terlihat berenang dengan anggun dan bersembunyi diantara bebatuan karang-karang kecil
Bahkan teman-teman backpacker asal German ini terlihat takjub dengan keindahan alam yang kita miliki
Dengan arus ombak yang cukup besar dan dengan daya hisap yang kuat maka bagi para wisatawan yang datang sebaiknya berhati-hati jika ingin berenang, awasilah teman dan keluarga anda (terlebih jika anda membawa anak kecil)
Hamparan pasir Pantai yang berwarna putih dengan suasana pantai yang tenang dan bersih (memang sudah seharusnya tetap seperti itu) seakan merupakan obat pelepas rasa penat
Ketenangan dan kedamaian seperti inilah yang saat ini merupakan hal yang mulai langka dan susah didapatkan, terlebih jika sebelumnya kita terbiasa dengan lingkungan perkotaan
Pantai ini juga sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menggelar upacara sedekah laut atau disebut Labuhan, yang diadakan setiap bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Jika anda berniat untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama atau mempunyai waktu berlibur yang cukup, maka jangan lupa agendakan jadwal anda untuk melihat proses ritual yang termasuk dalam wisata budaya ini
Deburan ombak yang menghantam bebatuan karang dan hempasan ombak di bibir pantai seakan menjadi obat bagi pikiran dan jiwa
Bagaimana menurut anda? mungkin Pantai-pantai yang berada di wilayah Gunung Kidul, Propinsi DIY ini bisa menjadi tujuan liburan anda berikutnya...:)
Koordinat 8°8'1"S 110°33'15"E
Lihat Peta Lokasi Pantai Kukup Gunungkidul Yogyakarta di peta yang lebih besar
Pada post kali ini, Team Gowes Wisata masih berpetualang di daerah Gunung Kidul menemani teman-teman Backpacker asal German dan Jakarta yang ingin mengeksplor obyek-obyek wisata di Yogyakarta serta mencoba mengenal dan menjelajahi indahnya kekayaan alam Negeri ini, terutama wisata pantai daerah Gunung Kidul yang perlahan tapi pasti mulai dikenal oleh masyarakat luas (berkat para travel blogger seperti kami hehe...) karena keindahan Pantai dengan perbedaan karakter yang dimiliki oleh masing-masing Pantai tersebut
berpetualang bersama : Kaspar, Carol, Agit, dan Imge (saya dan Seorang rekan asal Jakarta yaitu Alfred sedang mengabadikan momen petualangan ini melalui kamera masing-masing)
Ini masih di Indonesia lho...:)
Pantai Kukup sendiri terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari (sekitar 1 km di sebelah timur Pantai Baron). Dengan rute dan akses yang sama seperti halnya ketika kami hendak menuju ke Pantai Drini. Pantai Kukup sendiri berada dalam satu kompleks deretan pantai-pantai lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Drini, Pantai Sundak, Pantai Siung, Pantai Wediombo, dan lainnya
Tebing batu karang yang terkikis oleh deburan ombak
Mungkin jika sebelumnya kita pernah mencoba googling atau melihat gambar-gambar tentang Pantai Tanah Lot yang terkenal di Bali, maka Pantai Kukup di daerah Gunung Kidul ini juga mempunyai kemiripan dengan Tanah Lot, yaitu dengan adanya pulau karang yang terletak tidak jauh dari bibir pantai, dan dihubungkan dengan sebuah jembatan. Pada bagian atas Pulau karang tersebut terdapat sebuah gazebo, dari atas Pulau dan gazebo tersebut kita bisa mengamati keindahan Pantai Kukup
Pantai yang juga kaya dengan biota lautnya ini dapat terlihat dari adanya para penjual ikan hias air laut yang menggelar akuarium sederhana di Pantai ini, beragam ikan seperti ikan buntal dan ikan-ikan lainnya yang berwarna-warni terlihat berenang dengan anggun dan bersembunyi diantara bebatuan karang-karang kecil
Bahkan teman-teman backpacker asal German ini terlihat takjub dengan keindahan alam yang kita miliki
Dengan arus ombak yang cukup besar dan dengan daya hisap yang kuat maka bagi para wisatawan yang datang sebaiknya berhati-hati jika ingin berenang, awasilah teman dan keluarga anda (terlebih jika anda membawa anak kecil)
Hamparan pasir Pantai yang berwarna putih dengan suasana pantai yang tenang dan bersih (memang sudah seharusnya tetap seperti itu) seakan merupakan obat pelepas rasa penat
Ketenangan dan kedamaian seperti inilah yang saat ini merupakan hal yang mulai langka dan susah didapatkan, terlebih jika sebelumnya kita terbiasa dengan lingkungan perkotaan
Pantai ini juga sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menggelar upacara sedekah laut atau disebut Labuhan, yang diadakan setiap bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Jika anda berniat untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama atau mempunyai waktu berlibur yang cukup, maka jangan lupa agendakan jadwal anda untuk melihat proses ritual yang termasuk dalam wisata budaya ini
Deburan ombak yang menghantam bebatuan karang dan hempasan ombak di bibir pantai seakan menjadi obat bagi pikiran dan jiwa
Bagaimana menurut anda? mungkin Pantai-pantai yang berada di wilayah Gunung Kidul, Propinsi DIY ini bisa menjadi tujuan liburan anda berikutnya...:)
Labels:
Gunung Kidul,
Wisata Pantai,
Yogyakarta
Location:
Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
Thursday, 6 March 2014
Pantai Drini
Di Bulan Maret ini tanpa diduga Gowes Wisata mendapat kunjungan dari beberapa rekan penjelajah (traveler) lainnya yang ingin mencoba berpetualang ala backpacker di Jogja, sehingga terciptalah petualangan spontan seperti berikut ini, silahkan menikmati kisah kami...:)
Semua berawal ketika salah seorang rekan gowes dari Komunitas sepeda kaskus regional Jakarta tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ke HP saya yang memberitahu bahwa ia bersama seorang temannya yang berasal dari Jerman hendak menuju Yogyakarta. Setelah saling berbalas sms dan menginformasikan waktu keberangkatan serta tujuan atau agenda yang direncanakan selama mereka di Yogya maka saya pun kemudian menyarankan kepada mereka untuk singgah dan menetap dirumah saya saja sementara mereka berkunjung dan berkeliling Jogja (lumayan untuk menghemat pengeluaran mereka hehe...)
Akhirnya setelah mereka sampai di Jogja, ternyata mereka membawa teman traveler lain yang secara kebetulan mereka temui di Stasiun Kereta Api di Jakarta dengan tujuan yang sama yaitu menuju Yogyakarta, sehingga jumlah total semua traveler menjadi 4 orang (1 orang dari Jakarta, dan 3 orang dari Jerman), sesampainya mereka di Jogja maka dimulailah penyusunan ulang agenda petualangan kali ini dengan pembagian agenda berdasarkan hari dan tema tujuan, untuk tujuan Wisata Pantai sendiri berlangsung pada hari kedua, terhitung sejak mereka tiba di Yogyakarta
Pantai Drini
Koordinat: 8°8'20"S 110°34'43"E
Mengapa saya memilihkan petualangan ke Pantai Drini kepada mereka? padahal jika seorang Turis datang ke Jogja, umumnya mereka akan langsung memilih untuk menuju Pantai Parangtritis (Sudah dibahas di post terdahulu) jika memang agenda mereka adalah melihat pantai dan bermain air
Alasan pertama tentu saja karena Pantai Parangtritis saya rasa sudah terlalu umum dan populer, sehingga jika kita berkunjung kesana dan melihat lokasi tersebut penuh dengan orang maka akan terasa terlalu ramai dan kurang nyaman (padahal lokasi tersebut menjadi ramai karena promosi yang dilakukan oleh para travel blogger, salah satunya seperti blog saya ini hehe...)
Pantai yang penuh dengan pengunjung tentunya juga akan berimbas kepada kebersihan tempat tersebut, Ya, rupanya masih banyak orang (pengunjung) yang belum sadar untuk menjaga kebersihan dari lokasi yang mereka kunjungi, padahal mereka berkunjung ke suatu tempat karena ingin menikmati keindahan dari tempat tersebut, apakah tempat yang penuh dengan sampah tetap terlihat indah di mata mereka? entahlah...
Namun sejujurnya alasan lain mengapa saya memilih Pantai Drini sebagai tujuan kali ini adalah karena saya pun belum pernah kesana hehe...Saya hanya mendengar dan membaca dari blog para travel blogger lain yang mengatakan bahwa Pantai Drini masih tergolong sepi pengunjung dan memiliki air yang jernih serta suasana tenang, sehingga sangat aman dan menyenangkan untuk bermain air dan berenang di Pantai ini. Selain itu rute menuju Pantai Drini pun terbilang cukup jauh (walau mudah untuk diikuti karena rambu penunjuk arah cukup banyak dan jelas) dan sangat menantang jika ditempuh menggunakan sepeda karena untuk menuju kesana kita harus melalui jalan Jogja-Wonosari dan melewati tanjakan Pathuk (yang tinggi tanjakannya sudah sangat terkenal dalam meruntuhkan semangat para penggowes)
setelah menempuh tanjakan Pathuk, kita hanya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama, ambil arah menuju ke Kota Wonosari, nanti kita akan melihat beberapa rambu penunjuk jalan yang menunjukkan berbagai lokasi Pantai, Goa serta Air terjun (Wilayah Gunung Kidul memang terkenal dengan keindahan alamnya seperti deretan kompleks Pantai yang memukau dengan ciri keunikannya masing-masing, Goa, dan Air terjun)
Pantai Drini sendiri berada dalam satu komplek dengan deretan Pantai lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Siung, Pantai Wediombo, dan pantai-pantai lainnya.
Setelah melewati gerbang kompleks pantai dan membayar retribusi sebesar Rp 10.000,-/orang maka kita bisa langsung memilih hendak menuju ke pantai yang mana terlebih dahulu (disetiap pantai kita masih akan dikenai biaya retribusi parkir mobil lagi sebesar Rp 5.000,- benar-benar Indonesia sekali, dimana-mana selalu akan dijumpai pungutan retribusi)
akhirnya setelah menempuh jalan yang berliku, turun-naik, dan berkelok-kelok sampailah kami di Pantai Drini, tepatnya berada di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi DIY. Begitu kami melihat pantai ini, fokus perhatian saya langsung tertuju kepada sebuah pulau karang yang cukup besar dan berada tidak jauh dari bibir pantai, masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan pulau karang Drini
Mengapa Pulau karang tersebut langsung menyedot perhatian saya? karena Pulau karang tersebut membelah Pantai Drini menjadi dua bagian dengan karakter yang saling bertolak belakang. Sisi Timur memiliki arus yang tenang dan bagian Barat yang memiliki arus yang deras, hal ini menjadikan Pantai Drini seolah menjadi sebuah pantai yang memiliki karakter ganda, selain itu diatasnya juga terdapat mercusuar. Konon di pulau karang tersebut juga banyak ditumbuhi tanaman santigi (Pemhis Acidula), atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya Drini yang bagian kayunya berkhasiat sebagai penangkal racun ular berbisa, namun kini tak ada lagi Pohon Drini, yang ada hanyalah Pandan Laut (Pandanus Tectorius) yang memenuhi setiap jengkal tanahnya, bersaing dengan rerumputan liar
Selain itu tidak jauh dari Pulau karang tersebut (tepat didepannya) terbentuk sebuah laguna dengan aliran arus yang saling berlawanan, karena derasnya ombak dari lautan sisi barat terhalang oleh pulau karang tersebut, sehingga disekitar laguna tersebut sangat nyaman digunakan untuk berendam atau bermain body rafting seperti ini hehe...
laguna yang berada tepat didepan Pulau Karang
Saatnya bermain body rafting
Sisi Timur Pantai dengan arus yang tenang
Air yang jernih dengan hamparan pasir pantai yang halus adalah kombinasi yang sesuai, welcome to my paradise
Disekitar bibir Pantai pun banyak terdapat Gazebo-gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai-santai sembari meminum Es Kelapa atau menikmati hidangan yang disajikan oleh warung-warung di sekitar lokasi
Dengan karakter arus yang tenang, maka sisi Timur pantai ini cukup aman digunakan untuk berenang dan bermain air oleh keluarga yang membawa anak kecil
Deretan karang-karang yang berada di sisi Timur
Disekitar karang ini banyak terdapat ikan-ikan kecil serta kepiting, sayangnya beberapa pengunjung membawa semacam jaring kecil untuk menangkap ikan-ikan tersebut, padahal alangkah lebih indahnya jika ikan-ikan tersebut tetap dibiarkan berenang dengan bebas di habitat alaminya (karena kalau kemudian kita menangkapnya kemudian untuk apa? seandainya kita ingin memeliharanya pun tidak bisa, karena ikan-ikan tersebut hanya dapat hidup di air laut, bukan air tawar)
Dinding karang yang terkikis oleh deburan ombak sehingga membentuk semacam terowongan
Bahkan jika kita jeli melihat deretan karang ini maka akan tercipta framing alami yang dapat dimanfaatkan oleh para penghoby fotografi untuk membuat hasil foto seperti ini...:)
Foto suasana awal
Kemudian tambahkan unsur lain (reka adegan diperankan oleh model, sebut saja namanya mawar...halaahh)
Edit sana-sini, tambah ini-itu bisa menjadi seperti ini
masih belum puas? edit lagi dan taraaaaaa... terimakasih mister Adobe Photoshop
Suasana Pantai Drini yang masih alami memang membuat semua yang mengunjunginya menjadi betah berlama-lama
Pantai Drini memang masih belum seterkenal seperti pantai-pantai lainnya yang berada dalam satu kompleks dengan pantai ini seperti Pantai Baron, Kukup, dan Krakal, namun dengan keindahan dan karakter khas yang dimiliki oleh Pantai ini saya yakin kelak Pantai ini dapat menjadi atau bahkan lebih terkenal dari Pantai-pantai yang sudah lebih dikenal sebelumnya
Selain itu juga terdapat beberapa fakta menarik seputar Pantai ini, dikisahkan Sungai Bengawan Solo dulunya bermuara di laut selatan. Tepatnya di Pantai Sadeng dan Drini yang sekarang ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul, karena terjadinya peristiwa geologi dengan terdesaknya lempeng Australia yang mengakibatkan wilayah pantai selatan jawa menjadi terangkat. Sisa-sisa karang terangkat menjadi bukit kapur yang mengakibatkan aliran Sungai Bengawan Solo beralih ke arah utara mengalir nun jauh sampai Gresik. Situs aliran purba Bengawan Solo sendiri masih bisa dilihat di kawasan Pantai Drini
Tips jika kita ingin menuju ke Pantai Drini :
- lokasi Pantai ini bisa ditempuh dengan menggunakan semua jenis kendaraan roda 4 dan roda dua (silahkan menggunakan sepeda jika ingin mencoba sampai sejauh mana kekuatan dengkul dan nafas anda), karena akses menuju ke lokasi ini sudah diaspal cukup halus
- rute jika kita start dari Kota Jogja maka bisa melalui jalan Jogja-Wonosari, terus saja menuju Kota Wonosari (melewati tanjakan bukit bintang-Pathuk) nanti akan terlihat rambu penunjuk jalan yang cukup jelas dan mudah diikuti
- Harus tetap waspada karena kondisi jalan dengan medan yang berliku dan berkelok-kelok serta lebar jalan yang tergolong sempit
- Jangan lupa menggunakan sunblock jika tidak ingin kulit terbakar sengatan matahari
- Bawa baju ganti dan peralatan mandi karena suasana di Pantai ini sangat menggoda pengunjung untuk berenang (tenang saja di lokasi ini tersedia banyak kamar mandi yang terdapat di warung-warung sekitar lokasi)
- Untuk para turis asing, jika ingin berganti pakaian usahakan jangan langsung di tempat umum, carilah tempat seperti kamar mandi untuk mengganti pakaian, karena anda tentu tidak ingin difoto secara diam-diam ketika berganti pakaian (berenanglah dengan memakai t-shirt atau tanktop karena bikini terlihat vulgar bagi masyarakat dan pengunjung lokal)
- Jangan membuang sampah sembarangan, bawalah tas plastik untuk menampung sementara sampah-sampah anda (jagalah kebersihan tempat ini)
- Usahakan tidak menangkap ikan-ikan yang berenang disekitar karang (jagalah kelestarian lingkungan)
Bagaimana masih kurangkah alasan untuk tidak mencintai Negeri ini? sedangkan para turis mancanegara saja sudah mengakui akan keindahan dan kekayaan alam yang banyak dimiliki oleh Bumi Nusantara ini, jadi marilah kunjungi Indonesia yang sudah terkenal dengan peringatan "Dangerously Beautiful" ini, tunggu apalagi mulailah mengenali Negerimu dan mencintai negerimu :)
Tambahan sumber referensi :
- http://kotajogja.com/wisata/index/Pantai-Drini
Semua berawal ketika salah seorang rekan gowes dari Komunitas sepeda kaskus regional Jakarta tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ke HP saya yang memberitahu bahwa ia bersama seorang temannya yang berasal dari Jerman hendak menuju Yogyakarta. Setelah saling berbalas sms dan menginformasikan waktu keberangkatan serta tujuan atau agenda yang direncanakan selama mereka di Yogya maka saya pun kemudian menyarankan kepada mereka untuk singgah dan menetap dirumah saya saja sementara mereka berkunjung dan berkeliling Jogja (lumayan untuk menghemat pengeluaran mereka hehe...)
Akhirnya setelah mereka sampai di Jogja, ternyata mereka membawa teman traveler lain yang secara kebetulan mereka temui di Stasiun Kereta Api di Jakarta dengan tujuan yang sama yaitu menuju Yogyakarta, sehingga jumlah total semua traveler menjadi 4 orang (1 orang dari Jakarta, dan 3 orang dari Jerman), sesampainya mereka di Jogja maka dimulailah penyusunan ulang agenda petualangan kali ini dengan pembagian agenda berdasarkan hari dan tema tujuan, untuk tujuan Wisata Pantai sendiri berlangsung pada hari kedua, terhitung sejak mereka tiba di Yogyakarta
Pantai Drini
Koordinat: 8°8'20"S 110°34'43"E
Mengapa saya memilihkan petualangan ke Pantai Drini kepada mereka? padahal jika seorang Turis datang ke Jogja, umumnya mereka akan langsung memilih untuk menuju Pantai Parangtritis (Sudah dibahas di post terdahulu) jika memang agenda mereka adalah melihat pantai dan bermain air
Alasan pertama tentu saja karena Pantai Parangtritis saya rasa sudah terlalu umum dan populer, sehingga jika kita berkunjung kesana dan melihat lokasi tersebut penuh dengan orang maka akan terasa terlalu ramai dan kurang nyaman (padahal lokasi tersebut menjadi ramai karena promosi yang dilakukan oleh para travel blogger, salah satunya seperti blog saya ini hehe...)
Pantai yang penuh dengan pengunjung tentunya juga akan berimbas kepada kebersihan tempat tersebut, Ya, rupanya masih banyak orang (pengunjung) yang belum sadar untuk menjaga kebersihan dari lokasi yang mereka kunjungi, padahal mereka berkunjung ke suatu tempat karena ingin menikmati keindahan dari tempat tersebut, apakah tempat yang penuh dengan sampah tetap terlihat indah di mata mereka? entahlah...
Namun sejujurnya alasan lain mengapa saya memilih Pantai Drini sebagai tujuan kali ini adalah karena saya pun belum pernah kesana hehe...Saya hanya mendengar dan membaca dari blog para travel blogger lain yang mengatakan bahwa Pantai Drini masih tergolong sepi pengunjung dan memiliki air yang jernih serta suasana tenang, sehingga sangat aman dan menyenangkan untuk bermain air dan berenang di Pantai ini. Selain itu rute menuju Pantai Drini pun terbilang cukup jauh (walau mudah untuk diikuti karena rambu penunjuk arah cukup banyak dan jelas) dan sangat menantang jika ditempuh menggunakan sepeda karena untuk menuju kesana kita harus melalui jalan Jogja-Wonosari dan melewati tanjakan Pathuk (yang tinggi tanjakannya sudah sangat terkenal dalam meruntuhkan semangat para penggowes)
setelah menempuh tanjakan Pathuk, kita hanya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama, ambil arah menuju ke Kota Wonosari, nanti kita akan melihat beberapa rambu penunjuk jalan yang menunjukkan berbagai lokasi Pantai, Goa serta Air terjun (Wilayah Gunung Kidul memang terkenal dengan keindahan alamnya seperti deretan kompleks Pantai yang memukau dengan ciri keunikannya masing-masing, Goa, dan Air terjun)
Pantai Drini sendiri berada dalam satu komplek dengan deretan Pantai lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Siung, Pantai Wediombo, dan pantai-pantai lainnya.
Setelah melewati gerbang kompleks pantai dan membayar retribusi sebesar Rp 10.000,-/orang maka kita bisa langsung memilih hendak menuju ke pantai yang mana terlebih dahulu (disetiap pantai kita masih akan dikenai biaya retribusi parkir mobil lagi sebesar Rp 5.000,- benar-benar Indonesia sekali, dimana-mana selalu akan dijumpai pungutan retribusi)
akhirnya setelah menempuh jalan yang berliku, turun-naik, dan berkelok-kelok sampailah kami di Pantai Drini, tepatnya berada di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi DIY. Begitu kami melihat pantai ini, fokus perhatian saya langsung tertuju kepada sebuah pulau karang yang cukup besar dan berada tidak jauh dari bibir pantai, masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan pulau karang Drini
Mengapa Pulau karang tersebut langsung menyedot perhatian saya? karena Pulau karang tersebut membelah Pantai Drini menjadi dua bagian dengan karakter yang saling bertolak belakang. Sisi Timur memiliki arus yang tenang dan bagian Barat yang memiliki arus yang deras, hal ini menjadikan Pantai Drini seolah menjadi sebuah pantai yang memiliki karakter ganda, selain itu diatasnya juga terdapat mercusuar. Konon di pulau karang tersebut juga banyak ditumbuhi tanaman santigi (Pemhis Acidula), atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya Drini yang bagian kayunya berkhasiat sebagai penangkal racun ular berbisa, namun kini tak ada lagi Pohon Drini, yang ada hanyalah Pandan Laut (Pandanus Tectorius) yang memenuhi setiap jengkal tanahnya, bersaing dengan rerumputan liar
Selain itu tidak jauh dari Pulau karang tersebut (tepat didepannya) terbentuk sebuah laguna dengan aliran arus yang saling berlawanan, karena derasnya ombak dari lautan sisi barat terhalang oleh pulau karang tersebut, sehingga disekitar laguna tersebut sangat nyaman digunakan untuk berendam atau bermain body rafting seperti ini hehe...
laguna yang berada tepat didepan Pulau Karang
Saatnya bermain body rafting
Sisi Timur Pantai dengan arus yang tenang
Air yang jernih dengan hamparan pasir pantai yang halus adalah kombinasi yang sesuai, welcome to my paradise
Disekitar bibir Pantai pun banyak terdapat Gazebo-gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai-santai sembari meminum Es Kelapa atau menikmati hidangan yang disajikan oleh warung-warung di sekitar lokasi
Dengan karakter arus yang tenang, maka sisi Timur pantai ini cukup aman digunakan untuk berenang dan bermain air oleh keluarga yang membawa anak kecil
Deretan karang-karang yang berada di sisi Timur
Disekitar karang ini banyak terdapat ikan-ikan kecil serta kepiting, sayangnya beberapa pengunjung membawa semacam jaring kecil untuk menangkap ikan-ikan tersebut, padahal alangkah lebih indahnya jika ikan-ikan tersebut tetap dibiarkan berenang dengan bebas di habitat alaminya (karena kalau kemudian kita menangkapnya kemudian untuk apa? seandainya kita ingin memeliharanya pun tidak bisa, karena ikan-ikan tersebut hanya dapat hidup di air laut, bukan air tawar)
Dinding karang yang terkikis oleh deburan ombak sehingga membentuk semacam terowongan
Bahkan jika kita jeli melihat deretan karang ini maka akan tercipta framing alami yang dapat dimanfaatkan oleh para penghoby fotografi untuk membuat hasil foto seperti ini...:)
Foto suasana awal
Kemudian tambahkan unsur lain (reka adegan diperankan oleh model, sebut saja namanya mawar...halaahh)
Edit sana-sini, tambah ini-itu bisa menjadi seperti ini
masih belum puas? edit lagi dan taraaaaaa... terimakasih mister Adobe Photoshop
Suasana Pantai Drini yang masih alami memang membuat semua yang mengunjunginya menjadi betah berlama-lama
Pantai Drini memang masih belum seterkenal seperti pantai-pantai lainnya yang berada dalam satu kompleks dengan pantai ini seperti Pantai Baron, Kukup, dan Krakal, namun dengan keindahan dan karakter khas yang dimiliki oleh Pantai ini saya yakin kelak Pantai ini dapat menjadi atau bahkan lebih terkenal dari Pantai-pantai yang sudah lebih dikenal sebelumnya
Selain itu juga terdapat beberapa fakta menarik seputar Pantai ini, dikisahkan Sungai Bengawan Solo dulunya bermuara di laut selatan. Tepatnya di Pantai Sadeng dan Drini yang sekarang ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul, karena terjadinya peristiwa geologi dengan terdesaknya lempeng Australia yang mengakibatkan wilayah pantai selatan jawa menjadi terangkat. Sisa-sisa karang terangkat menjadi bukit kapur yang mengakibatkan aliran Sungai Bengawan Solo beralih ke arah utara mengalir nun jauh sampai Gresik. Situs aliran purba Bengawan Solo sendiri masih bisa dilihat di kawasan Pantai Drini
Tips jika kita ingin menuju ke Pantai Drini :
- lokasi Pantai ini bisa ditempuh dengan menggunakan semua jenis kendaraan roda 4 dan roda dua (silahkan menggunakan sepeda jika ingin mencoba sampai sejauh mana kekuatan dengkul dan nafas anda), karena akses menuju ke lokasi ini sudah diaspal cukup halus
- rute jika kita start dari Kota Jogja maka bisa melalui jalan Jogja-Wonosari, terus saja menuju Kota Wonosari (melewati tanjakan bukit bintang-Pathuk) nanti akan terlihat rambu penunjuk jalan yang cukup jelas dan mudah diikuti
- Harus tetap waspada karena kondisi jalan dengan medan yang berliku dan berkelok-kelok serta lebar jalan yang tergolong sempit
- Jangan lupa menggunakan sunblock jika tidak ingin kulit terbakar sengatan matahari
- Bawa baju ganti dan peralatan mandi karena suasana di Pantai ini sangat menggoda pengunjung untuk berenang (tenang saja di lokasi ini tersedia banyak kamar mandi yang terdapat di warung-warung sekitar lokasi)
- Untuk para turis asing, jika ingin berganti pakaian usahakan jangan langsung di tempat umum, carilah tempat seperti kamar mandi untuk mengganti pakaian, karena anda tentu tidak ingin difoto secara diam-diam ketika berganti pakaian (berenanglah dengan memakai t-shirt atau tanktop karena bikini terlihat vulgar bagi masyarakat dan pengunjung lokal)
- Jangan membuang sampah sembarangan, bawalah tas plastik untuk menampung sementara sampah-sampah anda (jagalah kebersihan tempat ini)
- Usahakan tidak menangkap ikan-ikan yang berenang disekitar karang (jagalah kelestarian lingkungan)
Bagaimana masih kurangkah alasan untuk tidak mencintai Negeri ini? sedangkan para turis mancanegara saja sudah mengakui akan keindahan dan kekayaan alam yang banyak dimiliki oleh Bumi Nusantara ini, jadi marilah kunjungi Indonesia yang sudah terkenal dengan peringatan "Dangerously Beautiful" ini, tunggu apalagi mulailah mengenali Negerimu dan mencintai negerimu :)
Tambahan sumber referensi :
- http://kotajogja.com/wisata/index/Pantai-Drini
Labels:
Gunung Kidul,
Wisata Pantai,
Yogyakarta
Location:
Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)


















































