Saturday, 27 February 2021

KAPAN KITA HARUS MENGGANTI RANTAI?

Hi sobat goweswisata, masih pada suka gowes kan? Jangan bosan ya 😁

Dipostingan kali ini saya akan membahas tips dan trick seputar sepeda (kayanya sudah lama saya ga bikin ulasan tentang ini 😁) supaya sepeda kita tetap awet dan tidak rewel, biar kita sepedahannya bisa tetap enjoy


Kapan Kita Harus Mengganti Rantai Sepeda?

===================================


Terkadang banyak dari kita yang menyepelekan soal komponen satu ini, yaitu rantai sepeda, secara umum yang paling sering kita lakukan biasanya hanya membersihkan dan melumasinya, pokoknya selama rantai belum putus artinya masih ok lah (hayo ngaku pasti banyak dari kalian yang berpikiran seperti itu 😁)


Tapi apa benar seperti itu?


Tentu saja tidak. Rantai yang belum putus belum tentu menandakan kondisi rantai tersebut masih bagus, lalu bagaimana untuk mengetahui kondisi rantai kita masih bagus atau tidak dan kapan kita harus menggantinya?


Kondisi paling umum dan gampang terlihat biasanya ketika rantai kita sudah penuh karat, tentu saja dengan kondisi seperti itu sudah sepantasnya kita menggantinya


Nah bagaimana dengan rantai yang terlihat masih "cukup ok", bagaimana kita mengeceknya?


Langkah pertama, kalian setidaknya harus memiliki 3 alat : pemotong rantai/chain cutter, chain checker, dan tang pembuka connector link (jika rantai kalian menggunakan connector link)


Kemudian ukur rantai kalian menggunakan chain checker, jika chain checker nyemplung dengan mudah itu artinya rantai kalian sudah melar dan saatnya diganti (lihat gbr dibawah)


Namun jika chain checker masih belum nyemplung sepenuhnya maka kondisi rantai masih cukup baik untuk digunakan


Nah bagaimana kasusnya jika chain checker sudah nyemplung full tapi rantai tidak diganti? Efeknya tentu saja sbb:

- shifting menjadi agak kasar

- dalam jangka panjang dapat menyebabkan teeth pada chainring, sprocket dan pulley rd menjadi cepat habis


Jika kalian ingin mengganti rantai maka jangan lupa sesuaikan jenis rantai dengan jumlah gear yang digunakan (rantai 6,7,8speed, rantai 9speed, rantai 10speed, atau rantai 11speed), kemudian ukur panjang rantai yang dibutuhkan sesuai rumusan (lingkarkan rantai pada chainring dan sprocket terbesar, kemudian tambah 2 link)



Jika ukuran panjang rantai sudah sesuai, jangan lupa sebelum rantai baru akan dipasang gunakan kesempatan ini untuk membersihkan sprocket dan pulley rd dari kotoran menggunakan degreaser supaya putaran menjadi ringan dan rantai juga awet


Berikutnya tinggal pasang rantai seperti biasa, dan coba shifting sesuai aturan shifting, lakukan penyesuaian secukupnya, dan sepeda pun kembali fit siap digunakan 🙂


Nb : penyebab rantai cepat melar antara lain :

- kualitas rantai yang jelek

- rantai sering menerima beban tarik yg besar

- sering dipakai menanjak dan shifting saat menanjak

- sering menggunakan ratio besar/berat


Jadi kedepannya tetap lakukan maintenance (membersihkan dan melumasi rantai) secara rutin untuk memperpanjang lifetime rantai ya


Semoga tips kali ini berguna 🙂

Tuesday, 26 January 2021

THE UNFINISHED EXPLORATION

 

Minggu, 24 Januari 2021,

Halo sobat goweswisata dan para penikmat dunia jalan-jalan, apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat ya, terlebih dimasa pandemic seperti sekarang ini. Hmmm… gimana nih, apa kalian merasa bosan karena harus mengurangi kegiatan diluar rumah dan menjalankan work from home selama kurang lebih hampir setahun ini, apalagi beberapa tempat wisata juga sementara sedang ditutup atas himbauan dari Pemerintah untuk mengurangi aktivitas apapun yang berpotensi menimbulkan penumpukan massa atau keramaian, walau rada bête tapi kalian harus tetap patuh ya, liburan atau berwisata sih boleh dan sah-sah saja selama kalian tetap menjalankan protokol kesehatan dan membatasi jumlah orang yang ingin kalian ajak, dan untuk sementara waktu hindari bepergian ke lokasi wisata yang sedang viral karena dapat dipastikan bahwa apapun yang sedang viral biasanya cenderung ramai pengunjung, nah kalian kan tidak mau sehabis berwisata eh malah jadi sakit akibat tertular penyakit. Terus solusinya bagaimana dong? Mana ada tempat wisata yang sepi? Eeehh… jangan salah tempat-tempat menarik yang masih sepi dan asri pastinya selalu ada, hanya dibutuhkan kejelian dan kesabaran untuk mencarinya, seperti yang saya lakukan kali ini

 

Petualangan kali ini bermula karena saya sedang bosan akibat kelamaan dirumah dan ingin mencari ide untuk postingan terbaru di blog goweswisata ini, iseng-iseng googling dengan keyword “lokasi wisata sekitar Berbah Yogyakarta” dan terus scroll sampai akhirnya saya melihat ada sebuah lokasi yang kelihatannya menarik karena belum ada artikel yang mengulasnya, yaitu Goa Songkurang

 

 

Berdasarkan penelusuran via googlemaps ada dua lokasi yang bernama sama yaitu Goa Songkurang, walau nama daerah dan area lokasinya hampir sama namun rute dan poin penitikannya berbeda, nah lho mau ikut rute yang mana duluan nih, okelah kita coba rute pertama dulu ya

 

Poin penitikan yang pertama berada di daerah Jonggalan, rutenya kalau dari JEC cukup mudah, kita hanya kearah Timur melalui Berbah searah dengan rute yang menuju lokasi Lava Bantal,  dari situ kemudian terus menuju arah Sorogedug dan Desa Sawo, Setibanya di Desa Sawo kemudian menuju ke Dusun Watubalik dan ikuti jalan yang menanjak kurang lebih sepanjang 1,5km menuju Dusun Gunungcilik, rute tanjakannya sebenarnya tidak terlalu parah hanya saja karena panjang dan cukup licin maka saya memilih untuk menuntun saja, yah anggap saja sedang trekking sembari mendorong sepeda, toh hanya 1,5km ini, tidak terlalu jauh lah ya

 

Pabrik tembako di kawasan Sorogedug





 
 
Ambil atau ikuti rute jalan yang menanjak

 


 


 


 


 

Sesekali berhenti untuk melihat googlemaps, menurut si peta katanya lokasi hanya tinggal 500 meter lagi, okelah lanjut dorong dan gowes. Anehnya walaupun menurut peta Mbah google lokasinya tinggal 500 meter lagi tapi dari beberapa warga sekitar yang saya jumpai dan saya tanya, tidak ada satupun dari mereka yang tahu keberadaan Goa Songkurang, boro-boro tahu lokasinya wong mendengar nama Goa Songkurang saja mereka belum pernah, padahal logikanya kalau ada spot wisata yang unik disekitar lokasi tersebut pastinya warga sekitar harusnya tahu dong, karena kan lumayan kalau diberdayakan dan dikelola oleh warga desa pasti bisa menambah pemasukan kas desa, jadi agak ragu sebenarnya ini Goa beneran adakah? Fotonya sih ada di google tapi apa benar lokasinya sesuai dengan penitikan di peta?

 

Satu persatu penanda patokan lokasi yang ada di peta mulai ketemu, mulai dari nama Dusun hingga Mushalla, tapi setelah bangunan Mushalla dimana harusnya ada jalan masuk kekanan, tapi setelah saya cari dan puterin tetap tidak ada, nanya ke warga sekitar lagi-lagi tetap tidak ada yang tahu, akhirnya saya putuskan untuk lanjut menanjak dengan pemikiran bahwa difoto yang ada digoogle terlihat penampakan mulut Goa dengan karakter bebatuan dan aliran air yang sepertinya sama dengan bebatuan aliran air atau Kali, berarti disini saya hanya harus mencari aliran air dan mengikuti kemana aliran tersebut, entah keatas atau kebawah

 


Hingga akhirnya saya melihat ada jembatan dengan debit air yang hanya sedikit, sepertinya aliran air ini mengandalkan ketersediaan airnya kepada curah air hujan, namun karakter bebatuannya sepertinya agak berbeda dengan yang ada di internet, akhirnya saya coba untuk menanjak lagi sampai akhirnya terlihat ada sebuah jembatan lagi dengan debit air yang lagi-lagi sedikit tetapi karakteristik bebatuannya cukup mirip dengan bebatuan Goa Songkurang yang ada di internet, nah ini mesti menyusuri ke atas atau kebawah ya? Kalau harus trekking lalu enaknya sepeda ditaruh dimana ya supaya aman

 




Akhirnya sepeda saya parkir di lahan yang ada dekat jembatan dan saya mencoba untuk sedikit menyusuri keatas, oya bagi kalian yang ingin mencoba kegiatan seperti ini seorang diri pastikan perlengkapan keamanan yang kalian bawa cukup ya, disini saya memakai sepatu untuk kegiatan outdoor/hiking dengan pertimbangan sepatu seperti ini setidaknya multifungsi untuk segala medan, kemudian saya juga membawa senter, drybag, beberapa toolkit survival dan peluit, semua saya masukkan kedalam waist bag bersama dengan peralatan dokumentasi, jadi sekali lagi utamakan keamanan dan keselamatan ya, jangan hanya sekedar mengejar foto yang instagramable namun mengabaikan faktor keselamatan

 

Sesampainya dibagian atas saya tetap tidak melihat ada tanda-tanda lokasi Goa, sepertinya rute penitikan Goa Songkurang pada googlemaps kali ini salah, walaupun begitu perjalanan kali ini tidaklah terlalu sia-sia karena disekitar lokasi ini justru saya menemukan beberapa spot yang memiliki view yang cukup menarik, seperti aliran air ini yang jika debit curah hujannya sedang banyak maka akan tercipta semacam grojokan, suasana sekitarnya pun cukup asri dengan dikelilingi banyak tumbuhan hijau

 





Kesimpulannya, rute penitikan Goa Songkurang pertama yang ada di googlemaps kali ini sepertinya salah, namun masih ada rute kedua yang akan saya coba jelajahi di postingan berikutnya

 

Tempat-tempat indah yang tersembunyi pastinya selalu ada, mereka hanya menunggu untuk ditemukan oleh orang-orang yang memiliki rasa penasaran dan haus akan petualangan, dan mungkin kalian adalah salah satu dari orang-orang tersebut

Saturday, 3 October 2020

BUKIT TOMPAK, PIYUNGAN

 

Sabtu, 26 September 2020

Akhirnya mulai mengupdate cerita petualangan lagi seperti yang sudah dijanjikan pada post sebelumnya yaitu The Unfolding Journey, yang artinya terhitung sejak post kali ini dan post-post berikutnya cerita petualangan goweswisata.blogspot.com akan lebih banyak didominasi dengan menggunakan sepeda lipat 😎

Nah pada episode kali ini petualangan dimulai dengan acara kesiangan alias baru mulai start sekitar jam 9.30 WIB dikarenakan harus beres-beres basecamp dulu hehe… penentuan rute tujuan pun baru terpikir pada pagi hari karena bingung mencari spot yang belum pernah didatangi dan belum terlalu populer, akhirnya diputuskan untuk mulai mencoba mengeksplorasi wilayah sekitar Piyungan-Jalan Wonosari karena akhir-akhir ini banyak spot-spot baru disekitar wilayah tersebut yang mulai viral di media sosial seperti Gunung Wangi Bangkel, Pasar Kebon Empring, Watu Kapal, gerbang langit, situs sejarah Payak,, dan lainnya.

Untuk menuju ke spot Bukit Tompak sendiri sebenarnya rutenya cukup mudah, di googlemaps pun sudah tercatat lokasinya jadi kalian hanya tinggal mengikuti saja, namun patokan mudahnya adalah kalian tinggal menuju ke jalan Jogja-Wonosari dan ikuti jalan tersebut kearah Timur (arah menuju Kidsfun), dari perempatan traffic light kidsfun masih terus ke Timur melewati Pasar Wage, Papan penanda Pasar Kebon Empring, dan Papan penanda situs Payak, sampai nantinya kalian melewati jembatan aliran sungai di dusun Kabregan, sehabis jembatan tersebut ada gapura jalan masuk kearah Selatan, nah masuk ke Selatan dan ikuti jalan aspal sampai mentok lalu belok kanan dan ikuti jalan saja nanti mulai terlihat jalurnya agak menanjak, nah selamat menanjak

 


Akses menuju ke lokasi Bukit Tompak sendiri sampai terakhir saya kunjungi hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua (motor dan sepeda), untuk kendaraan roda empat sayangnya sementara masih belum bisa dilalui karena jalurnya hanya muat satu kendaraan roda empat serta medan yang menanjak

 


Oya bagi kalian yang bersepeda ke tempat ini jangan lupa untuk mengisi botol minum kalian ya karena warung terdekat hanya ada di awal tanjakan dan di lokasi parkir kendaraan Bukit Tompak, terlebih saat kesini saya sudah kesiangan sehingga air minum di botol 650ml pun tanpa sadar sudah habis tepat saat saya tiba dilokasi Bukit Tompak

 


Bukit Tompak sendiri tepatnya berlokasi di Jalan Sumur Bandung, Dusun Ngelosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta.

Lokasi ini sebenarnya sudah mulai dirapikan sejak tahun 2017 lalu dan sampai sekarang masih dalam tahap perbaikan akses dan pengadaan fasilitas pendukung. Untuk tiket masuk ke lokasi ini pun sementara masih bersifat sukarela

Beberapa fasilitas pendukung yang sudah tersedia di lokasi Bukit Tompak sendiri antara lain adalah adanya Gazebo-gazebo untuk beristirahat tepat diatas puncak Bukit, serta sebuah pendopo yang berada di dekat lokasi parkir kendaraan, selain itu juga telah ada warung, Toilet Umum, Tempat-tempat sampah, dan beberapa spot foto yang menarik. Untuk menuju ke Puncak Bukit pun telah tersedia tangga yang dibuat dari hasil memahat dinding bukit, oya setibanya di puncak Bukit sebisa mungkin kalian tetap harus berhati-hati karena di beberapa titik masih belum terdapat pagar pembatas, oleh karena itu jika kalian mengajak sanak family yang masih kecil jangan lupa untuk selalu diawasi ketika bermain ya demi keamanan dan kenyamanan bersama, dan yang tak kalah pentingnya adalah tetap menjaga kebersihan sekitar lokasi dan tidak melakukan aksi vandalisme ya

 


Sekilas tempat ini mengingatkan saya akan spot wisata Tebing Breksi yang sudah lebih dulu populer, bedanya hanya di Bukit Tompak ini penataannya masih belum serapi Tebing Breksi yang sudah dihias dengan ukiran-ukiran pada dinding tebingnya dan lebih tertata layaknya sebuah spot wisata yang sudah terkenal. Namun jika kalian mencari suasana yang lebih asri dan natural maka Bukit Tompaklah tempatnya, dari atas puncak bukit ini kalian bisa melihat pemandangan persawahan disekitarnya sembari menikmati semilir angin yang berhembus. Waktu terbaik untuk berkunjung ke tempat ini adalah pada sore hari dimana kalian bisa menikmati pemandangan matahari terbenam, sayangnya di sepanjang akses tanjakan yang menuju kelokasi ini belum semuanya dilengkapi lampu penerang jalan sehingga bagi pesepeda dan pemotor harus ekstra berhati-hati jika kalian pulang kemalaman melalui jalur ini

 


Nah kurang lebih seperti itulah sekilas laporan pandangan mata dari goweswisata.blogspot.com tentang Bukit Tompak saat ini, kedepannya pastinya tempat ini akan lebih bagus dan tertata lagi, baik itu dari keadaan dan fasilitas pendukung disekitar lokasi maupun dalam hal perbaikan rute akses pencapaiannya, jadi kapan kalian berwisata kesini?

 

Jangan lupa tetap ikuti cerita petualangan goweswisata ya, untuk versi cerita pendeknya kalian juga bisa mengikuti di Instagram @goweswisata atau di Facebook Page Gowes Wisata, karena melalui sosial media kita dapat saling berbagi dan mensupport pariwisata di sekitar kita, sampai jumpa di petualangan berikutnya