Saturday, 3 October 2020

BUKIT TOMPAK, PIYUNGAN

 

Sabtu, 26 September 2020

Akhirnya mulai mengupdate cerita petualangan lagi seperti yang sudah dijanjikan pada post sebelumnya yaitu The Unfolding Journey, yang artinya terhitung sejak post kali ini dan post-post berikutnya cerita petualangan goweswisata.blogspot.com akan lebih banyak didominasi dengan menggunakan sepeda lipat 😎

Nah pada episode kali ini petualangan dimulai dengan acara kesiangan alias baru mulai start sekitar jam 9.30 WIB dikarenakan harus beres-beres basecamp dulu hehe… penentuan rute tujuan pun baru terpikir pada pagi hari karena bingung mencari spot yang belum pernah didatangi dan belum terlalu populer, akhirnya diputuskan untuk mulai mencoba mengeksplorasi wilayah sekitar Piyungan-Jalan Wonosari karena akhir-akhir ini banyak spot-spot baru disekitar wilayah tersebut yang mulai viral di media sosial seperti Gunung Wangi Bangkel, Pasar Kebon Empring, Watu Kapal, gerbang langit, situs sejarah Payak,, dan lainnya.

Untuk menuju ke spot Bukit Tompak sendiri sebenarnya rutenya cukup mudah, di googlemaps pun sudah tercatat lokasinya jadi kalian hanya tinggal mengikuti saja, namun patokan mudahnya adalah kalian tinggal menuju ke jalan Jogja-Wonosari dan ikuti jalan tersebut kearah Timur (arah menuju Kidsfun), dari perempatan traffic light kidsfun masih terus ke Timur melewati Pasar Wage, Papan penanda Pasar Kebon Empring, dan Papan penanda situs Payak, sampai nantinya kalian melewati jembatan aliran sungai di dusun Kabregan, sehabis jembatan tersebut ada gapura jalan masuk kearah Selatan, nah masuk ke Selatan dan ikuti jalan aspal sampai mentok lalu belok kanan dan ikuti jalan saja nanti mulai terlihat jalurnya agak menanjak, nah selamat menanjak

 


Akses menuju ke lokasi Bukit Tompak sendiri sampai terakhir saya kunjungi hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua (motor dan sepeda), untuk kendaraan roda empat sayangnya sementara masih belum bisa dilalui karena jalurnya hanya muat satu kendaraan roda empat serta medan yang menanjak

 


Oya bagi kalian yang bersepeda ke tempat ini jangan lupa untuk mengisi botol minum kalian ya karena warung terdekat hanya ada di awal tanjakan dan di lokasi parkir kendaraan Bukit Tompak, terlebih saat kesini saya sudah kesiangan sehingga air minum di botol 650ml pun tanpa sadar sudah habis tepat saat saya tiba dilokasi Bukit Tompak

 


Bukit Tompak sendiri tepatnya berlokasi di Jalan Sumur Bandung, Dusun Ngelosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta.

Lokasi ini sebenarnya sudah mulai dirapikan sejak tahun 2017 lalu dan sampai sekarang masih dalam tahap perbaikan akses dan pengadaan fasilitas pendukung. Untuk tiket masuk ke lokasi ini pun sementara masih bersifat sukarela

Beberapa fasilitas pendukung yang sudah tersedia di lokasi Bukit Tompak sendiri antara lain adalah adanya Gazebo-gazebo untuk beristirahat tepat diatas puncak Bukit, serta sebuah pendopo yang berada di dekat lokasi parkir kendaraan, selain itu juga telah ada warung, Toilet Umum, Tempat-tempat sampah, dan beberapa spot foto yang menarik. Untuk menuju ke Puncak Bukit pun telah tersedia tangga yang dibuat dari hasil memahat dinding bukit, oya setibanya di puncak Bukit sebisa mungkin kalian tetap harus berhati-hati karena di beberapa titik masih belum terdapat pagar pembatas, oleh karena itu jika kalian mengajak sanak family yang masih kecil jangan lupa untuk selalu diawasi ketika bermain ya demi keamanan dan kenyamanan bersama, dan yang tak kalah pentingnya adalah tetap menjaga kebersihan sekitar lokasi dan tidak melakukan aksi vandalisme ya

 


Sekilas tempat ini mengingatkan saya akan spot wisata Tebing Breksi yang sudah lebih dulu populer, bedanya hanya di Bukit Tompak ini penataannya masih belum serapi Tebing Breksi yang sudah dihias dengan ukiran-ukiran pada dinding tebingnya dan lebih tertata layaknya sebuah spot wisata yang sudah terkenal. Namun jika kalian mencari suasana yang lebih asri dan natural maka Bukit Tompaklah tempatnya, dari atas puncak bukit ini kalian bisa melihat pemandangan persawahan disekitarnya sembari menikmati semilir angin yang berhembus. Waktu terbaik untuk berkunjung ke tempat ini adalah pada sore hari dimana kalian bisa menikmati pemandangan matahari terbenam, sayangnya di sepanjang akses tanjakan yang menuju kelokasi ini belum semuanya dilengkapi lampu penerang jalan sehingga bagi pesepeda dan pemotor harus ekstra berhati-hati jika kalian pulang kemalaman melalui jalur ini

 


Nah kurang lebih seperti itulah sekilas laporan pandangan mata dari goweswisata.blogspot.com tentang Bukit Tompak saat ini, kedepannya pastinya tempat ini akan lebih bagus dan tertata lagi, baik itu dari keadaan dan fasilitas pendukung disekitar lokasi maupun dalam hal perbaikan rute akses pencapaiannya, jadi kapan kalian berwisata kesini?

 

Jangan lupa tetap ikuti cerita petualangan goweswisata ya, untuk versi cerita pendeknya kalian juga bisa mengikuti di Instagram @goweswisata atau di Facebook Page Gowes Wisata, karena melalui sosial media kita dapat saling berbagi dan mensupport pariwisata di sekitar kita, sampai jumpa di petualangan berikutnya

Thursday, 30 July 2020

THE UNFOLDING JOURNEY


Halo pembaca setia goweswisata.blogspot.com, apa kabarnya kalian semua, lama sudah kita tidak bersua (dengan kata lain lama sudah saya tidak mengupdate blog ini hehe…)

Baiklah terhitung mulai dari post kali ini goweswisata akan mempersembahkan seri petualangan terbaru yang memiliki konsep “The Unfolding Journey”, yang artinya perjalanan yang masih terus berlanjut, nah pertanyaannya mengapa diberi judul The Unfolding Journey?

Ada beberapa alasan yang membuat saya memilih konsep dan judul seperti ini, antara lain tentu saja karena petualangan yang sebenarnya tidak akan pernah berhenti, seseorang yang berjiwa petualang pastinya akan terus mencari tantangan baru, mencari rute, lokasi, dan jawaban dari setiap pertanyaan tentang dunia dan kehidupan yang berkelebat dibenaknya, dan untuk memenuhi rasa keingin tahuan tersebut maka ia akan terus berkelana, entah itu bersama teman seperjalanan maupun sendiri saja. Seperti halnya yang dikatakan oleh Ralph Waldo Emerson bahwa semua petualangan tidak akan pernah berhenti atau selesai, tidak ada kata finish, tidak ada tujuan akhir yang mutlak karena tujuan berikutnya mungkin saja berada diseberang sungai sana, atau tersembunyi dibalik deretan perbukitan dan pegunungan tinggi, bahkan mungkin ada didaratan seberang berikutnya


Alasan lainnya tentu saja berkaitan dengan alat transportasi yang saya gunakan, tenang saja seperti nama blog ini yaitu goweswisata, maka petualangan berikutnya pun saya masih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama (selain kedua kaki saya tentunya), yang membedakan hanyalah jenis sepeda yang digunakan saja

Jika pada petualangan-petualangan sebelumnya saya lebih banyak menggunakan sepeda berukuran roda 26”, baik itu jenis MTB maupun sepeda touring seperti sepeda Dignity Velocity yang saya gunakan ketika melakukan touring beberapa waktu yang lalu, nah pada petualangan berikutnya saya melakukan pergantian suasana dengan menggunakan sepeda lipat berukuran roda 20” yaitu Foldx Platinum

Mengapa sepeda lipat? Alasan paling utama tentu saja karena kepraktisannya saat melakukan mix transportasi (walaupun pada kenyataannya saya lebih banyak melakukan gowes full hingga ke tujuan daripada melakukan mix transportasi dengan loading menggunakan kendaraan bermotor atau transportasi umum), namun untuk berjaga-jaga tidak ada salahnya memiliki keuntungan tambahan menggunakan jenis transportasi yang fleksibilitasnya tinggi seperti sepeda lipat

Lalu mengapa roda 20”? bukan roda 16” atau 22”? seperti halnya roda 26” pada jenis sepeda MTB maka jawaban mengapa saya menggunakan sepeda lipat roda 20” karena ketersediaan ban (luar dan dalam) dipasaran dan disetiap wilayah umumnya lebih banyak roda 20”, yang mana hal tersebut akan sangat membantu jika suatu saat saya mengalami kendala seperti ban bocor atau sobek. Selain itu ukuran 20” juga lebih fleksibel disegala medan dan situasi, ketika sepeda sedang dilipat ukurannya tidak terlalu besar, dan ketika menempuh rute yang memiliki kondisi jalan rusak setidaknya masih sedikit lebih nyaman jika dibandingkan menggunakan ukuran roda yang lebih kecil seperti 16”

Walaupun peruntukan sepeda lipat seperti yang saya gunakan saat ini lazimnya diperuntukkan untuk medan perkotaan atau commuting namun karena saya menyukai bersepeda sembari berwisata maka lagi-lagi settingan pada seli saya pun saya sesuaikan dengan karakter dan gaya bersepeda saya, dengan kata lain menganut konsep touring, mengedepankan kenyamanan, daya tahan, dan fungsi (bisa kalian lihat pada foto berikut)


Jika diantara kalian ada yang bertanya mengapa saya menggunakan frame aluminium alloy dan bukan steel atau chromoly yang kerap digunakan pada jenis sepeda khusus touring pada umumnya, jawabannya sangat sederhana karena hanya sepeda inilah yang harganya masuk budget saya ketika saya membelinya, apakah frame alloy kuat untuk diajak melakukan perjalanan jauh dengan rute aneh-aneh seperti yang biasa saya lakukan? Entahlah, karena setiap sepeda apapun material framenya suatu saat pasti akan mengalami masa fatique juga, jadi mari sama-sama kita cari tahu sekuat apakah sepeda lipat frame alloy ini menemani saya untuk melakukan petualangan berikutnya, setidaknya sebelum saya pada akhirnya memutuskan untuk meminang seli ini saya telah melakukan sedikit research mengenai sepeda lipat, mulai dari kualitas pengelasan, system lipatan/ hinge clampnya, fleksibilitas parts/komponen seperti ukuran seatpost, handlepost, ketersediaan lubang bidon, jenis rem yang digunakan (oya pada foldx platinum ada satu keuntungan yang saat ini sulit didapat pada frame seli lainnya, yaitu kita dapat memilih apakah mau menggunakan rem Vbrake atau discbrake untuk roda belakangnya).


Sampai pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa sepeda ini layak untuk dibeli, setelah itu saya hanya melakukan penambahan memasang rak depan dan belakang supaya mudah untuk membawa pannier, selebihnya hanya menambah beberapa aksesoris yang mendukung kenyamanan dan keamanan (seperti lampu sepeda, spion, bel, handgrip, sadel per, tas sadel dan tas frame, ban ukuran 20x1.75, pedal flat, dan grupset 9speed)

Kini sepeda telah siap, saatnya menorehkan catatan perjalanan lagi (baik itu mengulang beberapa spot yang dulu pernah saya lakukan maupun mencoba mencari spot-spot baru lainnya yang belum populer)


Bagi kalian yang baru saja mulai mencoba hobby bersepeda dan ingin menekuninya, jangan lupa untuk tetap tertib berlalu-lintas ya, dan jaga kebersihan serta kelestarian dari tempat-tempat yang kalian kunjungi, dan yang terpenting nikmatilah setiap kayuhanmu dan yakinlah bahwa apapun jenis sepeda yang kalian gunakan pastinya itulah sepeda yang terbaik karena kalian telah memilihnya menjadi teman perjalanan kalian, jadi ayo mulai cerita petualangan kalian dan sampai jumpa di petualangan The Unfolding Journey berikutnya

“I Want to see the world. Follow a map to its edges, and keep going. Forgo the plans, trust my instincts. Let curiousity be my guide. I want to change hemispheres. Sleep with unfamiliar stars. And let the journey unfold before me”

Tuesday, 10 December 2019

WISATA BUMI WANGI KARANGWETAN

Minggu, 8 Desember 2019,
Di penghujung tahun 2019 ini Gowes Wisata akan mengulas tentang sebuah spot wisata baru di Yogyakarta, tepatnya berlokasi di Dusun Karangwetan, Kelurahan Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Nama tempat tersebut adalah Wisata Bumi Wangi Karangwetan (bagi kalian yang pernah berkunjung ke spot wisata alam Gunung Wangi Bangkel tentunya akan terasa tidak asing ketika mendengar nama tempat ini) ya, lokasinya sendiri berada tepat disisi Utara dari obyek wisata Gunung Wangi Bangkel, sehingga secara administratif walaupun kedua spot wisata tersebut letaknya bersebelahan namun ternyata masing-masing masuk kedalam wilayah kabupaten yang berbeda, dimana Gunung Wangi Bangkel masuk kedalam wilayah Kabupaten Bantul, sedangkan Wisata Bumi Wangi Karangwetan masuk kedalam wilayah Kabupaten Sleman.

Peta Lokasi Wisata Bumi Wangi Karangwetan



Rute termudah untuk menuju ke lokasi Bumi Wisata Karangwetan ini jika kalian start dari JEC (Jogja Expo Center) adalah ambil ke arah Timur, nanti setibanya di perempatan Blok O kalian masih terus saja ke Timur melalui Jalan Berbah menuju ke arah Paskhas, setelah melewati Paskhas AAU terus ikuti Jalan Berbah menuju ke arah Pabrik Rokok Sampoerna, selepas Pabrik Rokok kalian akan melewati Jembatan dan kurang lebih 200 meter kemudian akan bertemu perempatan, dimana jika kalian memilih arah yang lurus maka kalian akan menuju ke Lava Bantal, sedangkan jika belok ke kiri akan menuju ke Kalasan, Nah disini kalian tinggal belok ke kanan melalui jalan paving block dan lurus saja sampai mentok kemudian belok ke kiri hingga memasuki Gapura Dusun Karangwetan


Setelah melewati Gerbang Gapura Dusun Karangwetan nanti kalian akan melihat semacam perempatan seperti ini, patokannya adalah adanya Kandang Sapi yang berada tepat ditikungan perempatan tersebut (lihat Gambar)


Dititik ini kalian tinggal belok ke kanan ambil jalan cor beton yang menurun, nah sampailah kalian di spot Wisata Bumi Wangi Karangwetan





Dulunya area ini adalah lahan tidur milik Desa yang kerap dijadikan lokasi memancing, menggembala hewan ternak, ataupun akses warga untuk menyeberang menuju ke wilayah RT lain yang lokasinya terpisah oleh aliran Sungai Opak melalui Jembatan Gantung yang berada ditempat ini, namun semenjak kejadian banjir besar beberapa waktu lalu yang melanda Yogyakarta, tak ayal Jembatan Gantung yang menjadi akses penghubung warga ini pun akhirnya putus diterjang oleh derasnya luapan air Sungai Opak kala itu



Akibat banjir besar tersebut tak hanya Jembatan Gantung saja yang putus, beberapa fasilitas umum yang ada di sekitar lokasi seperti Pendopo dan MCK atau toilet umum juga porak poranda oleh ganasnya terjangan arus air Sungai Opak



Seakan tidak ingin berlama-lama meratapi lokasi sekitar yang porak poranda akibat kejadian tersebut, kini beberapa elemen masyarakat dan warga sekitar mulai kembali membangun dan menata area ini kembali sejak sekitar Bulan Oktober 2019, bahkan kali ini mereka memiliki konsep untuk mengembangkan area tersebut menjadi sebuah Desa Wisata atau Spot Wisata yang mana tujuannya selain untuk memberdayakan warga sekitar diharapkan nantinya tempat ini juga dapat mengangkat perekonomian wilayah tersebut, diharapkan sekitar pertengahan Tahun 2020 nanti pembangunan semua fasilitas infrastruktur pendukung di lokasi ini sudah selesai semuanya dan tempat ini akan mulai diresmikan

Warga sekitar secara swadaya bergotong-royong membangun dan menata lokasi ini




Beberapa fasilitas pendukung yang sedang dibangun dan kedepannya bisa kalian nikmati di tempat ini antara lain :
• Kantor Sekretariat
• Area Parkir Kendaraan
• Pendopo
• Musholla
• Toilet Umum / MCK
• Track Sepeda (Pump Track, Dirt Jump)
• Track Jeep Offroad
• Track ATV
• Pemancingan
• Area Gantangan Burung
• Camping Ground
• Area Kuliner Tradisional
• Taman Bermain Anak
• Wisata Outbond
• River Tubing
• Spot-spot Selfie

Track Sepeda yang sedang dalam proses pembuatan


Jembatan yang nantinya akan ditata menjadi salah satu spot selfie




Untunglah saat saya kesini aliran Sungai Opak sedang surut sehingga untuk menuju ke wilayah RT lainnya yang berada di sisi seberang Sungai saya hanya tinggal menyeberangi aliran Sungai saja, tidak perlu memutar melewati jalan desa lain yang cukup jauh


Oya pada kegiatan mengeksplor potensi Desa Wisata Karangwetan ini saya ditemani sekaligus dipandu oleh Bapak Purwanto selaku Ketua penggerak pemberdayaan warga, Beliau menjelaskan banyak hal seputar konsep perencanaan Wisata Bumi Wangi Karangwetan ini, termasuk potensi wisata alam yang berada dalam cakupan wilayah Dusun Karangwetan ini, dan yang menariknya adalah ternyata disini selain perencanaan dan pembangunan spot wisata artificial, ada juga beberapa potensi wisata alam yang tak kalah menarik untuk digarap dan dijelajahi terutama bagi kalian yang berjiwa petualang, spot-spot tersebut antara lain adalah spot Watu Amben, Watu Ondo, dan keberadaan tiga buah Goa Alam yang memiliki kisahnya masing-masing, baiklah mari kita ulas satu persatu

Setelah menyeberangi Sungai Opak, kita akan melihat area Taman Bermain Anak yang saat ini proses pembangunannya sudah cukup rapi, area ini dinamakan Lembah Sekar Wangi




Kemudian jika kita mengikuti ruas jalan yang berada disamping area Taman Bermain Lembah Sekar Wangi ini kita akan memasuki jalur trekking menuju destinasi berikutnya, yaitu Spot Watu Ondo (Batu Tangga), kenapa dinamakan Watu Ondo? Jawabannya sangat sederhana, yaitu karena formasi bebatuan yang ada dijalur trekking ini bentuknya menyerupai undakan anak tangga, undakan ini terbentuk secara alami, dan bagi kalian yang ingin menjajal jalur trekking ini sebaiknya gunakan alas kaki yang tepat seperti sepatu kets atau sandal gunung ya dikarenakan medannya yang menanjak dan cukup licin terlebih dikala musim hujan seperti saat ini, kedepannya jalur trekking ini juga akan dijadikan jalur jeep offroad sehingga bagi kalian yang tidak ingin capai mendaki maka kalian bisa menggunakan kendaraan 4WD untuk sampai dititik berikutnya

Memasuki jalur trekking (kedepannya akan ditambahkan papan penunjuk arah)




Inilah spot Watu Ondo




Setelah dari Watu Ondo kita akan menuju ke spot berikutnya yaitu keberadaan tiga buah Goa Alami, yaitu Goa Wangi, Goa Sumur, dan Goa Sabuk Alu. Mulai dari titik ini akses jalurnya sudah relatif rapi karena sudah dibuka dan dirapikan oleh seorang “penjaga” atau bisa kita sebut sebagai juru kuncinya area ini, yaitu seorang simbah yang dipanggil oleh warga sekitar dengan sebutan Mbah Guwo, konon Beliau sudah menetap seorang diri untuk mencari ketenangan hati di Puncak Bukit ini sejak tahun 2009 dengan hanya mendirikan sebuah tenda sederhana, hingga akhirnya Beliau dipercaya oleh warga sekitar untuk menjaga dan mengurusi area ini




Bertiga kami pun akhirnya menuju ke lokasi Goa pertama yaitu Goa Wangi. Mbah Guwo menjelaskan bahwa Goa ini memiliki dua bilik, dimana bilik pertama memiliki kedalaman sekitar 4 meter, dan bilik berikutnya memiliki kedalaman sekitar 6 meter.




Menurut Mitos, Goa ini dipercaya memiliki lorong-lorong ke 4 penjuru mata angin dimana masing-masing ujung lorong tersebut akan berakhir di Pantai Selatan, Gunung Lawu, Keraton, dan satu lagi saya agak lupa. Goa ini juga konon dulunya digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai tempat bermeditasi

Sejak akses pencapaian dan area sekitar Goa ini mulai dirapikan kini banyak orang yang menggunakan Goa Wangi ini sebagai tempat untuk bermeditasi, walaupun begitu tidak semua orang diizinkan untuk memasuki area Goa ini, selain dikarenakan faktor keamanan (karena semakin kedalam tentunya kadar oksigen juga akan semakin menipis), juga karena adanya faktor metafisik yang menjadi penghalang seseorang untuk memasukinya karena dikuatirkan alam bawah sadarnya tidak kuat atau rawan terkena “gangguan”.

Setelah Goa Wangi, kami pun lanjut menuju ke Goa kedua, yaitu Goa Sumur, dikarenakan bentuknya yang vertikal seperti sumur, menurut penuturan Mbah Guwo, dahulu Goa Sumur ini kerap dijadikan sebagai tempat berlindung dari kejaran penjajah, seperti halnya sebuah bunker, keberadaan Goa yang tersamar menjadikan orang-orang yang berlindung didalamnya sementara akan aman dari kejaran musuh, kini dibagian dalam Goa ini banyak terdapat hewan liar seperti landak yang menjadikan Goa ini sebagai sarangnya


Di sekitar lokasi Goa-goa ini juga terdapat bebatuan dan situs semacam sisa bangunan yang menurut para ahli sejarah dan akademisi diperkirakan berasal sejak zaman Majapahit, dan tidak jauh dari situs tersebut terlihat sebuah mulut Goa ketiga, yang dinamakan Goa Sabuk Alu, namun kini bagian dalam Goa tersebut sudah ditutup dikarenakan berbahaya jika ada yang ceroboh memasukinya, karakter Goa tersebut awalnya berupa lorong horizontal sejauh sekitar 20 meter lalu tiba-tiba masuk kebawah secara vertikal yang kedalamannya tidak diketahui




Usai melihat keberadaan ketiga Goa tersebut kami pun lanjut menyusuri jalan setapak menuju ke lokasi berikutnya yaitu Watu Amben (Amben = dipan, ranjang) yang berada didekat aliran sungai. Beberapa orang yang memiliki keyakinan kejawen terkadang menggunakan lokasi Watu Amben sebagai tempat untuk melakukan tapa kungkum



Batu datar inilah yang disebut Watu Amben


Melihat lokasi sekitar Watu Amben yang cukup tenang dan sunyi sepertinya tidaklah mengherankan jika beberapa orang melakukan meditasi disekitar lokasi ini, kira-kira setelah tempat ini dibuka untuk kegiatan susur sungai atau river tubing masih adakah orang yang melakukan meditasi dilokasi ini?



Terlepas dari apapun faktor mitos, keyakinan, sejarah, maupun wisata, alangkah baiknya jika kita sebagai pengunjung, wisatawan, ataupun traveler yang datang berkunjung ke tempat ini tetap menjaga tatakrama, sopan-santun, dan perilaku untuk tidak merusak (vandalism) atau mengotori tempat ini, karena kita datang untuk menikmati keindahannya bukan? Oleh karena itu seyogyanya lah kita juga turut menjaga tempat tersebut, jika kita menanam kebaikan kepada semua (manusia, hewan, alam) yakinlah suatu saat kita akan menuai hal yang baik juga, jadi tetap ingat untuk menjadi smart traveler ya



Terimakasih kepada seluruh warga Dusun Karangwetan (Bpk. Anang Sunu Aji selaku Kepala Dusun, Bpk. Purwanto selaku Ketua pemberdayaan warga, dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang telah membantu dan mensupport petualangan Gowes Wisata kali ini, kalian memang hebat

Update informasi seputar lokasi ini (09/08/2020)

Dilokasi ini sekarang sudah terdapat trek sepeda dirtjump bernama Kisik Trek. Trek ini sudah dilengkapi dengan beberapa obstacle serta starting point, bagi mereka yang ingin mencoba trek ini syaratnya adalah mengenakan atribut keselamatan seperti helm dan protector, selain itu juga diharapkan kesediaan para pesepeda untuk berdonasi secara sukarela yang nominalnya tidak ditentukan, berapapun jumlahnya, yang nantinya semua uang hasil donasi tersebut akan digunakan untuk pembangunan fasilitas dan pemeliharaan Kisik Trek ini

 

 

 

 

 

 

 

Dan bagi para penghobby kegiatan memancing juga pastinya akan senang karena disini juga terdapat area pemancingan dimana setiap bulannya diadakan lomba memancing untuk umum, beberapa jenis ikan seperti lele, nila, bawal, dan patin bisa kalian temukan disini, namun pastinya ada beberapa aturan dari pihak pengelola mengenai jenis ikan apa saja yang boleh dibawa pulang oleh peserta

 

 

Beberapa warung dan tempat bermain anak juga sudah ada dan masih terus dikerjakan pembangunannya, menjadikan lokasi ini benar-benar menjadi sebuah lokasi wisata keluarga yang nyaman

 

 

 

Menurut pihak Karangtaruna Desa Karangwetan untuk kedepannya tempat ini masih akan terus dikembangkan untuk beberapa fasilitas dan penataannya, seperti fasilitas MCK dan area camping ground serta area outbond. Jadi jika kalian ingin mencari lokasi wisata yang cocok untuk keluarga dengan jarak yang tidak terlalu lalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta sepertinya lokasi Wisata Bumi Wangi Karengwetan ini bisa kalian masukkan kedalam daftar tujuan kalian, selamat berwisata :)